bab i revisi 1.docx

Download BAB I revisi 1.docx

Post on 23-Dec-2015

215 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUANA.Latar Belakang Masalah Globalisasi ekonomi tidak pernah lepas dari peran besar Amerika Serikat sebagai negara yang memiliki perekonomian terbesar di dunia yang tentunya memiliki peran yang besar pula dalam perekonomian dunia. Peran besar Amerika Serikat dalam perekonomian dunia dimulai sejak pasca perang dunia kedua hingga sekarang, hal ini diindikasikan oleh peran Amerika Serikat dalam membentuk organisasi-organisasi ekonomi dunia seperti IMF (International Monetary Fund), World Bank, dan GATT (General Agreements on Tarrifs and Trade) yang kemudian menjadi WTO (World Trade Organization). Sejalan dengan peran besar Amerika Serikat di dalam perekonomian dunia, krisis finansial yang terjadi di Amerika Serikat berdampak luas dan memicu terjadinya krisis ekonomi global. Krisis finansial atau keuangan yang terjadi di Amerika Serikat telah berkembang menjadi masalah yang sangat serius dan berimplikasi kepada perekonomian negara-negara lain di dunia baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung. Keadaan perekonomian dunia yang saat ini saling terintegrasi satu sama lain menciptakan keadaan yang interconected atau saling berkaitan satu sama lain yang memungkinkan hal tersebut dapat terjadi. Dalam siklus ekonomi, krisis adalah sesuatu yang sudah lazim terjadi, tak terkecuali bagi negara dengan ekonomi yang kuat dan besar seperti Amerika Serikat. Sejarah tentang krisis perekonomian Amerika Serikat dapat dilihat dari peristiwa great depression yang terjadi pada dasawarsa 1930an. Berawal dari peristiwa jatuhnya bursa saham New York yang berimplikasi kepada kehancuran perekonomian dunia baik negara industri maupun negara berkembang. Volume perdagangan internasional berkurang drastis, begitu pula dengan pendapatan perseorangan, pendapatan pajak, harga, dan keuntungan. Pada masa itu dapat terlihat bagaimana krisis yang berawal terjadi di Amerika Serikat membawa pengaruh yang cukup signifikan bagi perekonomian dunia, padahal pada masa itu keterkaitan ekonomi dunia tidak sebesar seperti sekarang, dimana belum didukung oleh kemajuan teknologi dan informasi. Pada tahun 2007, Krisis ekonomi kembali mengguncang Amerika Serikat. Keputusan Alan Greenspan yang merupakan pimpinan tertinggi The Fed atau bank sentral Amerika Serikat untuk menurunkan tingkat suku bunga sebagai upaya meningkatkan atau memompa laju pertumbuahan ekonomi di Amerika Serikat setelah krisis dot.com yang sebelumnya melanda mengakibatkan investasi tumbuh dalam besaran yang signifikan di Amerika Serikat. Sektor-sektor yang dapat menghasilkan keuntungan dalam investasi dijadikan lahan yang dipilih oleh para investor untuk menanamkan modal, salah satunya adalah bisnis perumahan. Besarnya minat investor terhadap bisnis perumahan di Amerika Serikat dikarenakan margin keuntungan yang diberikan bisnis ini terus meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini membawa bisnis properti di negara tersebut menjadi bisnis yang berkembang dengan pesat. euphoria bisnis properti ini menciptakan bubble dimana harga suatu aset atau dalam hal ini perumahan, naik jauh diatas harga yang seharusnya. Kebanyakan krisis dimulai dari terciptanya bubble.[footnoteRef:1] [1: Nouriel Roubini and Stephen Mihm, Crisis Economics: A Crash Course In The Future Of Finance, (New York: The Penguin Press, 2010), hal. 17.]

Perkembangan pesat bisnis properti ini memicu peningkatan jumlah penawaran kredit untuk membeli rumah sebagai usaha untuk memasarkan produk perumahan. Akan tetapi, masalahnya pemberian kredit bukan hanya diberikan kepada orang-orang yang memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk melunasi kredit yang disebut golongan prime, kredit juga diberikan kepada orang-orang yang secara finansial tidak memadai untuk mendapatkan kredit yaitu orang-orang dengan kemampuan finansial rendah, yang dikenal sebagai peminjam NINJA yaitu peminjam dengan No Income, No Job and no Assets.[footnoteRef:2] Mereka ini disebut sebagai golongan subprime. Pemberian kredit ini dilakukan oleh lembaga-lembaga perkreditan properti di Amerika Serikat yang memberikan kelonggaran persyaratan kredit kepada golongan subprime, yang dibarengi dengan penetapan bunga yang tinggi. [2: Nouriel Roubini and Stephen Mihm, op. cit. hal. 65.]

Suku bunga yang tinggi yang dikenakan kepada peminjam subprime yang memiliki kemampuan bayar yang rendah mengakibatkan peminjam subprime mengalami kesulitan dalam membayar cicilan kredit yang dibebankan dengan bunga yang cukup tinggi tadi, sedangkan penghasilan atau kemampuan finansial yang dimiliki rendah, sehingga terjadi kegagalan didalam pembayaran utang atau kredit yang mengakibatkan kredit macet, kemudian memicu terjadinya krisis finansial atau krisis subprime mortgage di Amerika Serikat. Muncul pertanyaan, apakah lembaga-lembaga perkreditan properti itu tidak menyadari resiko yang mereka ambil ketika memberi kelonggaran persyaratan kredit kepada golongan subprime yang akan menyebabkan kredit macet dan mereka merugi? Kredit rumah yang diberikan lembaga kreditur kepada peminjam subprime selain dikenakan bunga yang tinggi yang merupakan sumber keuntungan, rumah yang dibeli juga dijadikan sebagai jaminan peminjaman. Strategi lembaga kreditur tersebut adalah ketika peminjam subprime tidak mampu membayar maka jaminan akan disita dan kemudian akan dijual kembali kepada pembeli lainnya dengan proyeksi harga rumah yang terus naik sehingga akan tetap diperoleh keuntungan dari penjualan rumah tersebut. Akan tetapi yang terjadi tidak seperti itu, kegagalan bayar atau kredit macet yang terjadi dalam skala yang besar mengakibatkan masalah finansial yang rumit, yang kemudian memicu kemerosotan ekonomi. Kemudian yang terjadi adalah pecahnya bubble perumahan, dimana hal ini memicu atau mengakibatkan merosotnya harga perumahan secara drastis, sehingga ketika lembaga kreditur ingin menjual kembali rumah yang disita dari peminjam yang tidak mampu membayar tersebut, harga properti tengah merosot, sehingga bukan keuntungan yang didapat melainkan kerugian yang berlipat ganda. Lima tahun sebelum dunia dihebohkan oleh kehancuran bisnis properti di Amerika Serikat, seorang pakar ekonomi terkemuka dunia yang juga pemenang hadiah Nobel, Joseph E. Stiglitz pernah mengingatkan adanya indikasi tidak sehat terhadap perkembangan ekonomi di Amerika Serikat. Ia melihat akan ada masalah dengan suku bunga rendah yang diberlakukan di sana, terlalu bergantungnya pertumbuhan ekonomi AS pada bisnis properti dan pengaturan industri keuangan yang longgar. Ketiga hal itu dikhawatirkan akan menjadi pemicu kebangkrutan ekonomi negara itu, dan mungkin juga akan merembet ke negara-negara lainnya.[footnoteRef:3] [3: Krisis Global dan Penyelamatan Sistem Perbankan Indonesia, Bank Indonesia, Jakarta, 2010, ]

Apa yang pernah diingatkan oleh Stiglitz sebelumnya kemudian menjadi kenyataan, satu persatu lembaga investasi keuangan atau bank investment di Amerika Serikat berguguran yang disebabkan oleh masalah kredit perumahan yang macet serta pecahnya gelembung atau bubble perumahan yang berakibat merosotnya harga perumahan, sehingga menyebabkan krisis finansial. Dimulai dengan dijualnya bank investasi Bear Stearn kepada JP Morgan Chase dengan harga yang murah yaitu sebesar 236 juta US dolar, pada tanggal 16 maret 2008 yang kesepakatan tersebut diprakarsai oleh Federal Reserve atau bank sentral Amerika Serikat.[footnoteRef:4] Kemudian, Pada tanggal 7 september 2008, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengambil alih salah satu perusahaan raksasa pembiayaan perumahan di Amerika Serikat, yaitu Freddie Mac dan Fannie Mae, sekaligus menjamin utang setiap institusi itu masing-masing hingga sebesar 100 miliar US dolar.[footnoteRef:5] [4: Kronologi Krisis Finansial AS, detik finance, 22 September 2008, , tanggal akses 27 Januari 2011, 10:00 am.] [5: Ibid.]

Di pertengahan sampai dengan akhir bulan september, beberapa kejadian yang menggambarkan tentang jatuhnya lembaga-lembaga finansial raksasa seperti Lehman Brothers yang mendaftarkan proteksi kebangkrutan, serta upaya pemerintah Amerika Serikat untuk menyelamatkan perekonomian negara tersebut dengan mengumumkan rencana penyelamatan krisis finansial senilai 700 miliar US dolar, dan upaya The Fed yang merupakan bank sentral Amerika Serikat yang juga sebagai lender of last resort yaitu pemberi bantuan kepada bank-bank yang mengalami kesulitan likuiditas dan menekan laju inflasi. Krisis finansial yang terjadi dikarenakan kredit macet dan pecahnya gelembung atau bubble perumahan yang menyebabkan keruntuhan lembaga-lembaga keuangan dan investasi rakasasa di Amerika Serikat memicu terjadinya pengetatan likuiditas, sehingga kredit untuk usaha menjadi sangat sulit diperoleh. Hal ini tentunya membuat banyak bisnis atau usaha di Amerika Serikat mengalami kesulitan sehingga banyak perusahaan dengan terpaksa melakukan efisiensi, salah satu cara yang ditempuh adalah dengan merampingkan karyawan sehingga terjadi gelombang pemutusan hubungan kerja. Sebagai contoh, dua perusahaan otomotif terbesar di Amerika Serikat, General Motor dan Ford melakukan PHK terhadap banyak karyawan dan tenaga kerjanya. Ketika terjadi pemutusan hubungan kerja, otomatis masyarakat yang terkena PHK tersebut akan kehilangan pendapatannya dan hal ini akan menyebabkan menurunnya konsumsi rumah tangga yang pada akhirnya akan menurunkan daya beli masyarakat secara keseluruhan. Penurunan daya beli masyarakat yang terjadi secara signifikan akan memicu terjadinya krisis ekonomi di Amerika Serikat. Gambaran sederhana ini, berusaha menjelaskan bagaimana terjadinya krisis finansial di Amerika Serikat akan menyebabkan kontraksi terhadap perekonomian di negara tersebut secara keseluruhan yang kemudian akan memicu terjadinya krisis ekonomi, dan seperti itulah keadaan yang terjadi di Amerika Serikat. Berita mengenai tumbangnya lembaga-lembaga keuangan dan investasi ra