tugas mandiri ikm

of 64 /64
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia adalah meningkatnya usia harapan hidup (UHH) manusia Indonesia. Hampir setiap tahunnya negara Indonesia selalu menempati peringkat keempat dunia, untuk kategori penduduk orang berusia lanjut terbanyak di dunia yaitu setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Hal itu didorong dengan keberhasilan pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan nasional telah mewujudkan hasil yang positif diberbagai bidang, yaitu adanya kemajuan ekonomi, perbaikan lingkungan hidup terutama dibidang kesehatan sehingga dapat meningkatkan umur harapan hidup manusia. Sehat merupakan hak azasi setiap manusia. Sehat adalah keadaan dimana fisik, mental, dan sosial dalam keadaan baik tidak hanya terbebas dari penyakit. Menurut UU Kes 23/1992, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial, yang memungkinkan setiap orang hidup produkif secara sosial dan ekonomi. Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk. Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah 1

Author: muji-hartiningsih

Post on 22-Nov-2015

129 views

Category:

Documents


7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangSalah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia adalah meningkatnya usia harapan hidup (UHH) manusia Indonesia. Hampir setiap tahunnya negara Indonesia selalu menempati peringkat keempat dunia, untuk kategori penduduk orang berusia lanjut terbanyak di dunia yaitu setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Hal itu didorong dengan keberhasilan pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan nasional telah mewujudkan hasil yang positif diberbagai bidang, yaitu adanya kemajuan ekonomi, perbaikan lingkungan hidup terutama dibidang kesehatan sehingga dapat meningkatkan umur harapan hidup manusia.

Sehat merupakan hak azasi setiap manusia. Sehat adalah keadaan dimana fisik, mental, dan sosial dalam keadaan baik tidak hanya terbebas dari penyakit. Menurut UU Kes 23/1992, kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial, yang memungkinkan setiap orang hidup produkif secara sosial dan ekonomi.

Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk. Dengan semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah penduduk lanjut usia terus meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, yang dimaksud dengan lanjut usia adalah penduduk yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas.

Selain itu menteri kesehatan RI telah menetapkan program jangka menengah tahun 20102014 yang disusun dalam sebuah rencana strategis Depkes. Pembangunan kesehatan yang dilaksanakan saat ini juga mengacu pada Undang-undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025 dengan member perhatian khusus pada penduduk yang renatan yaitu salah satunya usia lanjut. Visi Rencana Strategis yang ingin dicapai Depkes adalah Masyarakat Yang Mandiri dan Berkeadilan. Visi ini dituangkan menjadi 4 misi yaitu (1) Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani, (2) Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan, (3) menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan, serta (4) Menciptakan tata kelola keperintahan yang baik.Pendekatan yang harus dilakukan dalam melaksanakan program kesehatan adalah pendekatan keluarga dan masyarakat serta lebih memprioritaskan upaya memelihara dan menjaga yang sehat semakin sehat serta merawat yang sakit agar menjadi sehat. Oleh karena itu berbagai upaya harus dilaksanakan untuk mengatasi masalah ini dengan baik, diantaranya dengan meningkatkan cakupan, keterjangkauan dan mutu pelayanan kesehatan, khususnya untuk penduduk usia lanjut. Salah satu bentuk kegiatan yang perlu digalakkan agar tujuan dimaksud dapat lebih cepat dicapai adalah mendorong pembentukan dan pemberdayaan berbagai Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat khususnya usia lanjut. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebagai salah satu pelayanan kesehatan tingkat masyarakat harus digerakkan untuk mencapai dusun sehat. Posyandu merupakan pos pelayanan kesehatan dasar yang pada hakekatnya merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Kegiatan Posyandu adalah kegiatan dari dan oleh dan untuk masyarakat, sehingga pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana menjadi tanggung jawab bersama terutama masyarakat sekitar. Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan. Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya.

Berdasarkan SPM 2012 yang berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang telah ditetapkan target pelayanan pra usila dan usila sebesar 70%. Namun data Puskesmas salaman periode Januari-maret tahun 2012 didapatkan cakupan pelayanan pra usila dan usila dengan persentase 50,96% dan pencapaian yaitu 72,80% dari target Kabupaten Magelang. Kemudian data Desa Salaman periode Januari-maret 2012 didapatkan hasil jumlah usila dan prausila yang datang ke posyandu sebanyak orang 70 (cakupan 6,25%) dari sasaran bulan berjalan orang. Hasil ini menunjukkan pencapaian sebesar 8,9 % yang masih dibawah dari target dinas kesehatan yaitu sebesar 70%.

1.2 Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang di atas, dirumuskan sebuah masalah yaitu apakah yang menyebabkan rendahnya cakupan pelayanan pra usila dan usila di Desa Salaman?

1.3Tujuan 1.3.1 Tujuan umumMengetahui penyebab rendahnya cakupan pelayanan pra usila dan usila Desa Salaman, Kecamatan Magelang. 1.3.2 Tujuan khusus1. Mengetahui data umum Dusun Kauman Desa Salaman , Kecamatan Salaman.1. Mengidentifikasi penyebab rendahnya cakupan pelayanan pra usila dan usila di Dusun Kauman desa Salaman, Kecamatan Salaman. 1. Menganalisa penyebab masalah yang muncul dalam pelaksanaan Posyandu pra usila dan usila di Dusun Kauman Desa Salaman, Kecamatan Salaman.1. Mencari alternatif pemecahan masalah pelaksanaan Posyandu pra usila dan usila di Dusun Kauman Desa Salaman, Kecamatan Salaman.1.4 Manfaat1.4.1 Manfaat bagi PuskesmasSebagai data dasar evaluasi kegiatan posyandu pra usila dan usila serta sebagai bahan masukan untuk peningkatan pelayanan Posyandu pra usila dan usila. 1.4.2 Manfaat bagi masyarakat Masyarakat lebih mengetahui kegiatan yang ada di Posyandu Lansia. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kegiatan posyandu lansia. 1.5 Metodologi PenelitianPengumpulan data dilakukan di Dusun Kauman,Desa Salaman, Kecamatan Salaman. Kabupaten Magelang pada tanggal 15 mei 2012. Jenis data adalah data primer. Data primer adalah data yang diperoleh melalui observasi atau wawancara langsung. Data primer dari kegiatan ini diperoleh dengan cara mendatangi dan memberikan kuesioner kepada 20 orang pra usila dan usila, selain itu juga dilakukan wawancara kepada kader dan bidan desa.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2. 1. PengetahuanPengetahuan adalah merupakan hasil dari Tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yaitu: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui pendidikan, pengalaman orang lain, media massa maupun lingkungan (Notoatmodjo, 2003).Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku setiap hari, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan fakta yang mendukung tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2003).Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil dari pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai (Drs. Sidi Gazalba). Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu knowledge. Dalam encyclopedia of philosophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (knowledgement is justified true beliefed).Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran. Dengan demikian, pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.Dalam kamus filsafat, dijelaskan bahwa pengetahuan (knowledge) adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam peristiwa ini yang mengetahui (subjek) memilliki yang diketahui (objek) di dalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketehui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif.Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru dalam diri orang tersebut menjadi proses berurutan :1. Awarenes, dimana orang tersebut menyadari pengetahuan terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).2. Interest, dimana orang mulai tertarik pada stimulus.3. Evaluation, merupakan suatu keadaan mempertimbangkan terhadap baik buruknya stimulus tersebut bagi dirinya.4. Trial, dimana orang telah mulai mecoba perilaku baru.5. Adaptation, dimana orang telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan kesadaran dan sikap.

2.1.2. Tingkat PengetahuanNotoatmodjo mengemukakan yang dicakup dalam domain kognitif yang mempunyai enam tingkatan, pengetahuan mempunyai tingkatan sebagai berikut (Notoatmodjo, 2003) :1. Tahu (Know) Kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari, dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Cara kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain : menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasikan dan mengatakan.2. Memahami (Comprehension) Kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.3. Aplikasi (Aplication) Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan sebagai pengguna hukum-hukum, rumus, metode, prinsip-prinsip dan sebagainya.4. Analisis (Analysis) Universitas Sumatera UtaraKemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek dalam suatu komponenkomponen, tetapi masih dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti kata kerja mengelompokkan, menggambarkan, memisahkan.5. Sintesis (Sinthesis) Kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian dalam bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada. 6. Evaluasi (Evaluation) Kemampuan untuk melakukan penelitian terhadap suatu materi atau objek tersebut berdasarkan suatu cerita yang sudah ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang sudah ada (Notoatmodjo, 2003).2.1.3. Pengukuran PengetahuanPengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang tentang isi materi yang akan diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalamam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas (Notoadmojo, 2003)a. Tingkat pengetahuan baik bila skor > 75%-100% b. Tingkat pengetahuan cukup bila skor 60%-75% c. Tingkat pengetahuan kurang bila skor < 60%

2.2 Perilaku2.2.1 Defenisi PerilakuMenurut Notoatmodjo (2003) perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Menurut Robert kwick (1974) perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati bahkan dapat dipelajari. Menurut Ensiklopedia Amerika perilaku diartikan sebagai suatu aksi dan reaksi organisme terhadap lingkungannya. Skiner (1938) seorang ahli psikologi merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar).

2.3 Definisi Posyandu Lansia Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia yang merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannya. Posyandu lansia merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan bersumber daya masyarakat atau/UKBM yang dibentuk oleh masyarakat berdasarkan inisiatif dan kebutuhan itu sendiri khususnya pada penduduk usia lanjut.

2.3.1 Tujuan penyelenggaraan Posyandu Lansia Tujuan pembentukan posyandu lansia secara garis besar antara lain :a. Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan lansia di masyarakat, sehingga terbentuk pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan lansiab. Mendekatkan pelayanan dan meningkatkan peran serta masyarakat dan swasta dalam pelayanan kesehatan disamping meningkatkan komunikasi antara masyarakat usia lanjut2.3.2 Sasaran Sasaran pelaksanaan pembinaan Kelompok Usia Lanjut, terbagi dua yaitu1. Sasaran langsung Kelompok pra usia lanjut (45-59 tahun) Kelompok usia lanjut (60 atau lebih ) Kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi, yaitu usia lebih dari 70 tahun atau usia lanjut berumur 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan1. Sasaran tidak langsung Keluarga dimana usia lanjut berada Masyarakat di lingkungan usia lanjut Organisasi sosial yang bergerak dalam pembinaan usia lanjut Petugas kesehatan yang melayani kesehatan usia lanjut Petugas lain yang menangani Kelompok Usia Lanjut Masyarakat luas 2.3.3 Jenis Pelayanan Kesehatan Jenis pelayanan kesehatan yang dapat diberikan kepada usia lanjut di kelompok sebagai berikut:1. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari meliputi kegiatan dasar dalam kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya.1. Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional dengan menggunakan pedoman metode 2 (dua) menit.1. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan dicatat pada grafik indeks masa tubuh (IMT).1. Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi selama satu menit.1. Pemeriksaan hemoglobin menggunakan talquist, sahli atau cuprisulfat1. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula (diabetes mellitus)1. tPemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit ginjal.1. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan pada pemeriksaan butir 1 hingga 7.1. Penyuluhan Kesehatan. Penyuluhan bisa dilakukan di dalam maupun di luar kelompok dalam rangka kunjungan rumah dan konseling kesehatan dan gizi sesuai dengan masalah kesehatan yang di hadapi oleh individu dan atau Kelompok Usia Lanjut1. Kunjungan rumah oleh kader disertai petugas bagi anggota Kelompok Usia Lanjut yang tidak datangm dalam rangka kegiatan perawatan kesehatan masyarakat1. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi lanjut usia serta menggunakan bahan makanan yang berasal dari daerah tersebut1. kegiatan olah raga seperti senam lanjut usia, gerak jalan santai untuk meningkatkan kebugaran. Kecuali kegiatan pelayanan kesehatan seperti diuraikan diatas, kelompok dapat melakukan kegiatan non kesehatan di bawah bimbingan sektor lain, contohnya kegiatan kerohanian, arisan, kegiatan ekonomi produktif, forum diskusi, penyaluran hobi dan lain-lain2.3.4 Sarana dan Prasarana Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan di posyandu lansia, dibutuhkan, sarana dan prasarana penunjang, yaitu: 1. tempat kegiatan (gedung, ruangan atau tempat terbuka)1. meja dan kursi1. alat tulis1. buku pencatatan kegiatan (buku register bantu)1. Kia Usia Lanjut, yang berisi: timbangan dewasa, meteran pengukuran tinggi badan, stetoskop, tensimeter, peralatan laboratorium sederhana, thermometer1. Kartu Menuju Sehat (KMS) Usia Lanjut1. Buku Pedoman Pemeliharaan Kesehatan (BPPK) Usia Lanjut

2.2.6 Mekanisme Pelayanan Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang prima terhadap usia lanjut di kelompokan mekanisme pelaksanaan kegiatan yang sebaiknya digunakan adalah system 5 tahapan (5 meja) sabagai berikut:

1. Tahap Pertama: pendaftaran anggota Kelompok Usia Lanjut sebelum pelaksanaan pelayanan1. Tahap Kedua: pencatatan kegiatan sehari-hari yang dilakukan usila, serta penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan1. Tahap Ketiga: pengukuran tekanan darah, pemeriksaan kesehatan, dan pemeriksaan status mental 1. Tahap Keempat: pemeriksaan air seni dan kadar hemoglobin (laboratorium sederhana)1. Tahap Kelima: pemberian penyuluhan dan konseling 2.3.7 Pembinaan dan Evaluasi Pembinaan Pengelolaan dan penyelenggaraan kegiatan kelompok usia lanjut sebagai suatu bentuk pemberdayaan masyarakat, sangat tergantung dari peran masyarakat atau kelompok usia lanjut itu sendiri. Pembinaan yang dilakukan berupa asistensi kepada masyarakat dan kelompok usia lanjut dengan menggunakan prinsip kemitraan artinya dalam pelaksanaan pembinaan masyarakat dan kelompok usia lanjut sebagai mitra petugas yang secara bersama-sama menganalisis dan memecahkan dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki kelompok.

EvaluasiUntuk melakukan evaluasi secara baik dan akurat diperlukan beberapa indikator. Indikator yang dimaksud meliputi input, proses, output. Selain itu dalam penyusunan indikator harus memenuhi unsur SMART (Spesific, measurable, Achievable, Reliable, Time bound). Spesifik artinya indikator yang diusulkan bersifat khusus. Terukur artinya indikator yang diusulkan dapat diukur. Mudah didapat artinya indikator yang diusulkan optimis dapat dicapai. Terpercaya artinya indikator tersebut dapat dipercaya. Waktu tertentu artinya adanya kurun waktu yang jelas.Disamping persyaratan diatas, hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan: Indikator bersifat dinamis, artinya dapat berubah sesuai dengan perkembangan/ keadaan. Mudah diperoleh, artinya dapat diamati, tersedia informasi/datanya. Beragam, artinya adanya perbedaan antara unit yang diamati.Sehubungan dengan hal tersebut diatas, ditetapkan beberapa indikator yang dapat dijadikan bahan untuk mengevaluasi tingkat perkembangan kegiatan usia lanjut di bidang kesehatan, sebagai berikut:1. Frekuensi pertemuan atau pelaksanaan kegiatan selama satu tahun1. Kehadiran kader1. Pelayanan kesehatan: 2. Cakupan penimbangan (berat badan dan tinggi badan) (CB) yaitu presentase usia lanjut anggota kelompok yang ditimbang berat badan serta diukur tinggi badanCara penghitungan: CB = A x 100% B X C

Keterangan: CB: Cakupan penimbanganA: Jumlah usia lanjut anggota kelompok yang ditimbang berat badan serta diukur tinggi badan dalam setahunB: Jumlah anggota kelompokC: Frekuensi pertemuan pertahun2. Cakupan pemeriksaan laboratorium sederhana (urine dan darah/Hb) (CL)Didalam buku petunjuk pengisian KMS usia lanjut tertulis bahwa pemeriksaan laboratorium dilakukan setiap 3 bulan sekali. Mengingat keterbatasan sarana dan prasarana yang ada, maka untuk mengetahui strata kelompok usia lanjut dilakukan perhitungan sebagai berikut:Cakupan pemeriksaan laboratorium sederhana (urine dan darah/Hb) (CL) yaitu presentase jumlah usia lanjut anggota kelompok yang mendapat pemeriksaaan laboratorium sederhana (urine dan darah/Hb) minimal 1 kali dalam setahunCara penghitungan : CL = A x 100% B

Keterangan: CL: Cakupan pemeriksaan laboratorium sederhana (urine dan darah/Hb)A: Jumlah usia lanjut anggota kelompok yang diperiksa laboratorium sederhana (urine dan darah/Hb) minimal 1 kali dalam setahunB: Jumlah anggota kelompok2. Cakupan hasil pemeriksaan kesehatan (CK) yaitu presentase jumlah usia lanjut anggota kelompok yang mendapat pemeriksaaan kesehatan (termasuk pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan status mental) dalam setahun. Cara penghitungan sama seperti cakupan penimbangan (berat badan dan tinggi badan)2. Cakupan penyuluhan (CP) yaitu presentase jumlah usia lanjut anggota kelompok yang mendapat penyuluhan dalam setahun. Cara penghitungan sama seperti cakupan penimbangan (berat badan dan tinggi badan)1. Senam usia lanjutFrekuensi pelaksanaan senam usia lanjut selama satu tahun1. Kegiatan sektor terkait antara lain:1. Pengajian/ pendalaman agama untuk kelompok usia lanjut1. Diskusi atau pertemuan ceramah (pertanian, tenaga kerja, dll)1. Usaha ekonomi produktif1. Rekreasi, dll1. Tersedianya dana untuk penyelenggaraan kegiatan kelompok usia lanjutTingkat perkembangan Kelompok Usia Lanjut dapat digolongkan menjadi empat tingkat sebagai berikut :1. Kelompok Usia Lanjut Pratama1. Kelompok yang belum mantap.1. Kegiatan terbatas dan tidak rutin setiap bulan (frekuensi < 8 kali).1. Kader aktif terbatas1. Perlu dukungan dana dari Pemerintah1. Kelompok Usia Lanjut Madya1. Kelompok yang telah berkembang1. Kegiatan hampir setiap bulan (paling sedikit 8 kali setahun)1. Jumlah kader aktif > 3 orang1. Cakupan program 50%

1. Perlu dukungan dana dari Pemerintah1. Kelompok Usia Lanjut Purnama1. Kelompok yang sudah mantap1. Kegiatan lengkap (paling sedikit 10 kali setahun)1. Kegiatan tambahan diluar kesehatan1. Cakupan program 60%1. Kelompok Usia Lanjut Mandiri1. Kegiatan secara teratur dan mantap1. Kegiatan tambahan yang beragam1. Cakupan program/kegiatan baik1. Memiliki Dana Sehat dan JPKM yang mantap

BAB IIIKERANGKA PENELITIAN

LINGKUNGANFisikKependudukanSosial BudayaSosial EkonomiKebijakan

PROSESCakupan pelayanan Prausila & usila di Dusun Kauman RT 02Rendahnya cakupan pelayanan prausila dan usila di dusun Kauman Rt 02

INPUTMan 1 Bidan, 2 kaderMoneyswadaya masyarakatMethod 5 mejaMaterial 2 rumah penduduk,Machinetimbangan, tensimeter, stetoskop

Rendanhya jumlah Prausila & usila di Dusun Kauman yang datang ke posyandu lansiaKurangnya pemahaman lansia akan kegiatan di posyandu lansiaKurangnya minat lansia untuk memeriksakan diri ke posyandu

Gambar 3.2 kerangka konsep

Pengetahuan bidan,kader, prausila dan usila Kurangnya kegiatan di posyanduJadwal posyandu lansiaKurangnya pengetahuan tentang posyandu lansiaRendahnya Cakupan pelayanan Prausila & usila di Dusun Kauman Rt 0222

BAB 1VMETODE PENELITIAN

Pengumpulan data dilakukan di Dusun Kauman, Kecamatan Salaman. Kabupaten Magelang pada tanggal 15 mei 2012. Jenis data adalah data primer. Data primer adalah data yang diperoleh melalui observasi atau wawancara langsung. Data primer dari kegiatan ini diperoleh dengan cara mendatangi dan memberikan kuesioner kepada 20 orang pra usila dan usila, selain itu juga dilakukan wawancara kepada kader dan bidan desa. Data yang diperoleh kemudian diolah secara deskriptif untuk selanjutnya dilakukan identifikasi masalah, kemudian dianalisa penyebab masalah dengan berdasar pendekatan sistem, yaitu dengan melihat input, proses, dan output. Kemudian ditentukan penyebab yang paling mungkin, selanjutnya ditentukan alternatif pemecahan masalahnya. Kemudian ditetapkan pemecahan masalah yang yang paling mungkin dilaksanakan secara efektif dan efisien.Data didapatkan dari hasil wawancara yang langsung ditujukan kepada bidan desa (Ibu Rina), para kader, dan masyarakat prausila-usila Dusun Kauman Desa Salaman Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang. Sedangkan data sekunder didapat dari data Standar Pelayanan Minimal (SPM) Puskesmas Salaman. Data yang didapat diolah secara deskriptif dengan siklus pemecahan masalah sebagai berikut :IV.1Batasan JudulLaporan kegiatan ini berjudul Rencana Peningkatan Cakupan Program Posyandu Pra Usila dan Usila di Desa Salaman Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang Evaluasi Manajemen Program Puskesmas Salaman Periode Januari-Maret 2012 memiliki pengertian sebagai berikut:0. Rencana Peningkatan Cakupan: Rencana untuk meningkatkan total hasil kegiatan yang dilakukan perbulan yang kemudian dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan.0. Cakupan: presentase hasil perbandingan antara jumlah lansia yang mendapatkan pelayanan di posyandu lansia dengan jumlah seluruh lansia yang ada di wilayah tersebut.0. Program :Kegiatan yang terstruktur and mempunyai suatu tujuan0. Posyandu: Suatu wadah komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari Keluarga Berencana dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan teknis dari petugas kesehatan dan keluarga. Berencana yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini.0. Pra usia lanjut (usila): Adalah seseorang yang berusia antara 45-59 tahun. 0. Usia lanjut (usila): Adalah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.0. Desa Salaman: Adalah salah satu desa di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. 0. Kecamatan Salaman: Adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa tengah 0. Kabupaten Magelang: Adalah salah satu kabupaten di propinsi Jawa Tengah 0. Evaluasi: Adalah suatu penilaian terhadap sebuah kegiatan setelah kegiatan tersebut dilaksanakan. 0. Manajemen: Pengaturan suatu program/kegiatan untuk mencapai suatu tujuanPuskesmas: Unit pelayanan kesehatan tingkat kecamatan yang merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah dalam menangani masalah kesehatan.

IV.2 Definisi Operasional Posyandu lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu yang sudah disepakati, yang digerakkan oleh masyarakat dimana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan Posyandu lansia merupakan pengembangan dari kebijakan pemerintah melalui pelayanan kesehatan bagi lansia yang penyelenggaraannya melalui program Puskesmas dengan melibatkan peran serta para lansia, keluarga, tokoh masyarakat dan organisasi sosial dalam penyelenggaraannyaCakupan adalah presentase hasil perbandingan antara jumlah Prausila & Usila yang datang ke posyandu di Dusun Kauman dibagi jumlah Prausila & usila yang ada di dusun Kauman.pertanyaan yang terlampir d kuesioner ada 10 pertanyaan, yang diantaranya 1-6 pertanyaan meliputi tentang pengetahuan posyandu prausila dan usila dan pertanya 7-10 tentang perilaku prausila dan usila terhadap posyadu tersebut.

Batasan Operasional0. Pra usia lanjut (usila): Adalah seseorang yang berusia antara 45-59 tahun. 0. Usia lanjut (usila): Adalah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih.

IV.3 Ruang Lingkup Kegiatan1. Lingkup lokasi: Dusun Kauman desa Salaman, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang.1. Lingkup waktu: Januari-maret 20121. Lingkup sasaran: Cakupan pelayanan pra usila dan usila1. Lingkup metode: Kuesioner, wawancara, pencatatan, dan pengamatan1. Lingkup materi: Evaluasi kegiatan Posyandu pra usila dan usila di Desa salaman periode Januari-maret 2012.

IV.4 Kriteria Eksklusi dan InklusiKriteria InklusiBidan, kader, prausila dan usila di dusun kauman.Kriteria Eksklusi Prausila & Usila Dusun Kauman yang tidak ada di rumah

BAB VHASIL PENELITIAN

V.1. PROFIL DESA SALAMANV.1.1. SEJARAH DESA

Desa salaman secara administrative termasuk dalam wilayah Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Terletak di sebelah barat kantor Kecamatan Salaman dengan jarak 500 meter dari kantor Kecamatan Salaman.Desa Salaman merupakan pintu gerbang selatan daerah wisata Candi Borobudur dari arah Purworejo.Salaman mempunyai makna Perdamaian atau Keselamatan, nama tersebut diambil dari nama salah satu sesepuh yang ada di wilayah Salaman yaitu Simbah Kyai ABDUSSALAM beliau dimakamkan di Dusun Brengkel I RT 02/05 Desa Salaman.Bunderan adalah sejarah untuk Desa Salaman dimana dahulu terdapat Tugu pada pertigaan Jalan Raya Magelang Purworejo dan Purworejo Borobudur yang sampai sekarang istilah Bunderan masih dipakai walaupun Tugu tersebut sudah tidak ada.Adapun Kepala Desa yang pernah menjabat:Kepala Desa I: MALIKI dari Dusun NusupanKepala Desa II: SLEPO dari Dusun SocoKepala Desa III: BADAWI dari Dusun Brengkel IKepala Desa IV: ATMODIHARDJO dari Dusun Brengkel IKepala Desa V: DULRAHMAN dari Dusun KaumanKepala Desa VI: ATMODIHARDJO dari Dusun Brengkel IKepala Desa VII: SOEHARTO dari Dusun Nusupan Dari Tahun 1983 1991Kepala Desa VIII: M A CHOIRUDIN dari Dusun Brengkel II Dari Tahun 1991 1998Kepala Desa IX: M A CHOIRUDIN dari Tahun 1998- 2007Kepala Desa X: H. TOAT SUBAKTI dari Dusun Soco

Dari Tahun 2007 sekarang

V. 1. 2. KONDISI GEOGRAFISDesa Salaman merupakan salah satu desa di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang yang berbatasan dengan:- sebelah utara: Desa Kebonrejo dan Desa Sidomulyo- sebelah timur: Desa Ngadirejo- sebelah selatan: Desa Menoreh- sebelah barat: Desa KalisalakSecara geografis terletak pada 70 34 34 sampai dengan 70 35 02 LS dan 1100 07 41 sampai dengan 1100 09 07 BT.

V. 1. 3. LUAS WILAYAH1. Luas Wilayah:Luas wilayah Desa Salaman 134,498 Ha, yang terbagi menjadi 6 Dusun dengan 13 RW dan 54 RT meliputi:Tabel 3. Luas Wilayah Desa SalamanNODUSUNRWRTKETERANGAN

1Nusupan212

2Soco210

3Brengkel I310

4Brengkel II26

5Gadean26

6Kauman29

2. Permukaan Lahan:Tabel 4. Permukaan LahanNOPERUNTUKANLUAS (Ha)KET

1Pertanian subur57,004

2Pertanian sedang7

3Pertanian tandus6

4Irigasi13

5Lain-lainPekarangan, Bangunan dan lain-lain : 55, 045 Ha

Lahan sawah: 64,22 Ha Irigasi Setengah Sederhana: 27% Irigasi Teknis: 36%Lahan bukan sawah: 55,045 Ha Tegalan: 20% Sisanya digunakan untuk Jalan dan Makam

V. 1. 4. JUMLAH PENDUDUK1. Jumlah Kepala Keluarga: 1,330 KK2. Jumlah penduduk menurut jenis kelamin Laki-laki: 2.101 orang

Perempuan: 2.183 orang

1. Jumlah penduduk menurut DusunTabel 5. Jumlah penduduk menurut DusunNODUSUNJenis Kelamin

Laki-LakiPerempuan

1Nusupan436468

2Soco425413

3Brengkel I4875-7

4Brengkel II245255

5Gadean210210

6Kauman298330

4. Jumlah penduduk menurut pemeluk agama per 1 Januari 2011Agama Islam : 4.296 orangAgama Kristen: 126 orangAgama Katholik: 78 orangAgama Hindu: - orangAgama Buddha: 1 orangTOTAL: 4.501 orang1. Jumlah penduduk menurut mata pencaharian

Tabel 6. Jumlah penduduk menurut mata pencaharianNOMATA PENCAHARIANJUMLAHKET

1PNSPNS, TNI, POLRI, Pensiunan: 532

2ABRI/POLRI

3Pensiunan

4Petani774

5Swasta140

6Pedagang211

7Jasa (angkutan)23

8Tukang86

9Peternakan183

10Perikanan28

11Kerajinan13

12Lain-lain2456

1. Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikanTabel 7. Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikanNOTINGKATANJUMLAHKET

1Tidak tamat SD129

2Tamat SD1100

3Tamat SLTP604

4Tamat SLTA634

5Tamat D14

6Tamat D26

7Tamat D320

8Tamat S146

9Tamat S27

10Tamat S3

11Belum sekolah734

2. Jumlah penduduk menurut penderita cacatTabel 8. Jumlah penduduk menurut penderita cacatNOPENDERITAJUMLAHKET

1Tubuh1

2Rungu1

3Mental2

V. 1. 5. KONDISI BANGUNAN DAN SARANA UMUM1. Balai Desa: 1 buah, luas 18 x 14 m22. Kantor Desa: 1 buah, luas 13 x 6 m23. Pasar: -4. Tempat Ibadah

Tabel 9. Tempat ibadah Desa SalamanNOTEMPAT IBADAHJUMLAHKET

1Masjid7

2Mushola10

3Gereja-

V.1.1 Data Dusun Kauman Jumlah kepala keluarga : 1.330 kepala keluarga Penduduk dusun : pria : 298 jiwa, wanita : 330 jiwa Angka kelahiran : 18 Angka kematian : 11 Warga yang menikah : 32

Pada tanggal 15 mei 2012, telah dilakukan survei mengenai pengetahuan para Pra Usila dan Usila di Dusun Kauman RT 02 desa salamam. Karena keterbatasan waktu, sampel yang diambil adalah para Pra Usila dan Usila yang berada di dusun Kauman. Kuisioner dibuat dengan pertanyaan terstruktur tentang pengetahuan pra usila dan usila tentang fungsi dan kegiatan posyandu, perilaku dan sikap pra usila terhadap kegiatan posyandu serta faktor-faktor yang mempengaruhi tidak optimalnya pelaksanaan kegiatan posyandu lansia sehingga berkurangnya minat mereka terhadap posyandu lansia. Data responden sebagai berikut:Tabel 5.8 Data responden

Usia:Pra UsilaUsila

10 orang10 orang

PekerjaanBekerjaTidak Bekerja

50%50%

Sebagian pekerjaan mereka adalah guru, selain itu pedagang.dan sebagian besar pendidikan mereka lulusan SLTP.

V.2 Hasil Survey V.2.1 Hasil kuesioner

KUESIONER USILANama: Umur:Pekerjaan:Pendidikan:1. Apakah anda tahu tentang posyandu lansia?a. Tahu b. Tidak tahu 2. Adakah posyandu lansia di tempat anda?a. Ada b. Tidakc. Tidak Tahu3. Apakah posyandu yang ada cukup jauh dicapai? a. yab. Tidak 4. Apakah kegiatan-kegiatan di posyandu lansia? (boleh lebih dari 1)a. Pemeriksaan kegiatan sehari-hari, b. status mental c. Kriteria :Ya=1 1 jawaban = 1Tidak tahu = 0timbang badan d. ukur tinggi badan e. ukur tekanan darahf. Periksa darah (hemoglobin) dan uring. Penyuluhan/konseling h. pemberian makanan tambahan i. senam lansia j. Tidak tahu5. Apaka di posyandu lansia melakukan pengobatan?a. Yab. tidak6. Apakah anda tau informasi mengenai posyandu lansia ?a. yab. tidak7. Apakah anda pernah datang ke posyandu lansia ?a. Yab. tidak8. Mengapa anda belum pernah datang ke posyandu lansia ? ( bagi yang tidak pernah datang)a) Tidak tahub) Tahu tapi malasc) Keterbatasan fisikd) Tidak ada waktue) Lain-lain9. Apakah anda rutin datang ke posyandu ?a. Yab. Tidak10. Mengapa anda tidak rutin dating ke posyandu ? (Bagi yang tidak rutin datang )a. Tidak ada kehadiran dokterb. tidak ada waktu

Pengetahuan

Tabel 5.8 daftar perhitungan kuesioner

PertanyaanRESPONDEN

12345678910

11101110111

21101110111

31101110111

41101110111

51110001101

61100010101

Jumlah jawaban responden6614451646

PertanyaanRESPONDEN

11121314151617181920

10000000000

20000010010

30000010010

40000000000

50000000000

60000000000

Jumlah jawaban responden0000010000

Keterangan tingkat pengetahuan responden : Pengetahuan baik : 10-8Pengetahuan cukup baik: 7-5Pengetahuan kurang baik: 5-3Tidak mengetahui:0-2Kesimpulan :Pengetahuan baik: 0%Pengetahuan cukup baik: 0,5 %Pengetahuan kurang baik:2 %Tidak tahu:60%

Perilaku

PertanyaanRESPONDEN

12345678910

71101110111

81001010001

91001000000

Jumlah jawaban responden3103120112

PertanyaanRESPONDEN

11121314151617181920

70000000000

80000000000

90000000000

Jumlah jawaban responden0000000000

Keterangan : Perilaku aktif: 3Perilaku kurang aktif: 1-2Perilaku tidak aktif: 0Kesimpulan :Perilaku aktif: 10 %Perilaku kurang aktif: 25 %Perilaku tidak aktif: 65 %

Dari hasil survei didapatkan terdapatnya responden sebanyak 60% yang tidak mengetahui adanya posyandu yang ditujukan untuk lansia, yang mereka ketahui posyandu itu hanya untuk bayi dan balita. Kemudian dapat disimpulkan pula kurangnya penyuluhan baik secara kelompok maupun perorangan mengenai kesehatan lansia. Adapun beberapa alasan responden tidak menghadiri kegiatan posyandu lansia selain ketidaktahuan adanya posyandu lansia adalah tidak hadirnya dokter pada posyandu, tidak adanya waktu, dan responden masih merasa sehat sehingga tidak perlu datang ke posyandu lansia. Hal ini dapat dikarenakan kurangnya pengetahuan bahwa kegiatan di posyandu lansia tidak hanya kegiatan pengobatan.

Alasan responden yang pernah datang namun sekarang tidak datang lagi ke posyandu lansia dikarenakan tidak ada pengobatan yang diberikan di posyandu. Alasan lainnya adalah tidak mempunyai waktu untuk hadir di kegiatan posyandu dikarenakan harus menunggui dagangannya, adanya anak kecil yang dititipkan (mengurus cucu) sehingga tidak dapat meninggalkan rumah.

V.2.2Hasil Wawancara dengan kader Kader yang aktif di posyandu Usila di dusun Kauman berjumlah 2 orang. Wawancara dilakukan pada masing-masing kader saat kegiatan posyandu berlangsung. Dari 2 kader yang diwawancarai, mereka mengatakan bahwa posyandu lansia ini memakai sistem 5 meja yaitu pendaftaran, penimbangan, pencatatan, pengobatan, dan penyuluhan Pada saat meja I, pendaftaran, lansia yang datang mendaftarkan dirinya. Untuk lansia yang baru pertama kali hadir, maka diperlukan data diri yang lebih lengkap. Setelah meja I, dilanjutkan ke meja II, penimbangan. Pada meja II, ditimbang berat badan lansia, diukur tinggi badan, dan tekanan darah. Pengukuran tinggi badan tidak selalu dilakukan dikarenakan tinggi badan relatif menetap, sehingga hanya diukur pada lansia yang baru pertama kali hadir di posyandu. Di posyandu lasia ini terdapat 1 buah timbangan, 1 buah tensi meter beserta stetoskop, dan sebuah pengukur tinggi badan. Kondisi alat-alat tesebut masih baik, dan dapat digunakan. Namun bila jumlah lansia yang hadir banyak, jumlah tensimeter yang hanya satu, menjadi kendala yang cukup berarti.

Setelah meja kedua, dilanjutkan ke meja III yaitu pencatatan. Para lansia tersebut menyerahkan kartu menuju sehatnya. Bila lansia tersebut tidak mempunyai kartu menuju sehat dikarenakan baru pertama kali datang ke posyandu tersebut maka akan diberikan yang baru. Pencatatan dilakukan di dua tempat yaitu di kartu menuju sehat lansia dan buku khusus pencatatan. Namum bila lansia tersebut tidak membawanya, maka akan dicatat di buku pencatatan kemudian pada pertemuan berikutnya, pengukuran yang lalu dipindahkan di kartu menuju sehat. Pada meja IV, dilakukan pengobatan oleh bidan. Pengobatan dilakukan bila lansia tersebut memiliki keluhan dan bila merupakan hal yang gawat maka lansia tersebut akan di rujuk ke puskesmas. Selain kegiatan tersebut, terdapat pemeriksaan lab sederhana seperti pengukuran glukosa urin yang dilakukan berkala setiap 3 bulan sekaliPada meja V, dilakukan penyuluhan baik perorangan. Penyuluhan perorangan khususnya ditujukan untuk lansia dengan resiko tinggi seperti yang mempunyai tekanan darah tinggi. Kader-kaderpun menyebutkan beberapa alasan mengapa lansia yang tidak hadir, diantaranya karena lansia tersebut merasa sehat dan tidak memerlukan posyandu. Kalaupun mereka sakit, akan langsung berobat ke dokter ataupun puskesmas karena di posyandu tidak terdapat dokter. Selain itu banyak lansia yang mempunyai alasan tidak ada waktu untuk datang ke posyandu dikarenakan harus bekerja. Alasan kegiatan lansia tersebut lebih cocok untuk usia yang lebih tua seperti umur 70 tahunan juga sering menjadi alasan untuk para pra usila.

V.2.3 Hasil Wawancara dengan Bidan Desa Menurut bidan desa, penyebab kurangnya cakupan pelayanan posyandu pra usila dan usila adalah para pra usila dan usila masih menganggap bahwa posyandu adalah tempat pengobatan, sehingga mereka lebih memilih datang ke posyandu bila mereka dalam keadaan sakit. Hal ini juga dapat dikarenakan kurangnya pengetahuan lansia mengenai posyandu.

BAB VIPEMBAHASAN

6.1 Analisis Penyebab Masalah

Hasil cakupan kegiatan Posyandu Lansia desa Salaman pada bulan Januari Maret 2012, yang masih menjadi masalah perlu diupayakan pemecahannya dengan menggunakan kerangka pikir pendekatan system.Analisis kemungkinan penyebab masalah ditinjau dari 1komponen input, proses dan lingkungan dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 6.1 Analisis penyebab rendahnya cakupan pelayanan Posyandu prausila dan usila:KomponenKelebihanKekurangan

InputMan1. Terdapatnya tenaga kesehatan (bidan, perawat, dokter)1. Terdapatnya 2 orang kader yang mengelola posyandu lansia 1. Kurangnya kader yang aktif untuk mengelola posyandu lansia.1. Tidak ada kehadiran dokter di kegiatan posyandu

Money1. Swadaya masyarakatMinimnya dana swadaya dari lansia sendiri berupa iuran

Method1. Terdapatnya metode 5 meja dalam pelaksanaan posyandu lansia

Material-Terdapat rumah 2 penduduk yang kondisinya baik, dan rumah kepala dusun

Machine-Tersedianya sarana seperti meja, kursi, alat tulis yang cukup, timbangan, meteran stetoskop,tensimeter,thermo.meter.- Kurangnya sarana seperti KMS, tensimeter yang dapat digunakan hanya 1 buah.

ProsesP1-Terdapat jadwal kapan dan dimana posyandu lansia akan dilaksanakan secara tetap-Terdapatnya pengumuman melalui pengeras suara mengenai jadwal posyandu lansia-Terdapatnya penjelasan mengenai posyandu lansia serta manfaatnya terhadap pra uslia/usila yang jarang/tidak hadir

1. waktu posyandu lansia bersamaan dengan kegiatan keseharian lansia khususnya lansia yang masih bekerja atau berdagang1. Terkadang posyandu lansia diadakan berbarengan dengan posyandu balita

P2- Sudah dilakukan pengumuman dan penjelasan mengenai posyandu lansia-Dilakukannya metode 5 meja

1. Penjelasan mengenai posyandu lansia tidak tercapai kesemua sasaran sehingga masih adanya lansia yang tidak mengetahui tentang posyandu lansia1. Tidak adanya kegiatan tambahan di sektor lain yang dapat menarik minat pra usila dan usila yang tidak hadir1. Tidak terdapatnya pendekatan terhadap keluarga yang mempunyai lansia1. Kurangnya penyuluhan mengenai kesehatan terhadap lansia

P31. Adanya SPM tentang posyandu lansia (kapan??)Belum terealisasi pengawasan dan pemantauan program posyandu dengan baik

Lingkungan ( Fisik dan Non Fisik )Pasien, keluarga, masyarakat dan lingkungan 1. Kurangnya pemahaman lansia akan kegiatan di posyandu lansia.1. Kurangnya minat lansia untuk melakukam pemeriksaan dikarenakan tidak hadirnya dokter di posyandu.1. Kurangnya dukungan dari keluarga lansia

Minimnya dana swadaya masyarakatPenggunaan dana belum maksimalKurangnya kader yang aktif untuk mengelola posyandu lansiaTidak hadirnya dokter di kegiatan posyanduGambar 5.2 Fish bone

INPUT

MANMONEY

MATERIAL

METHODE

Kurangnya sarana seperti KMS, tensimeter yang dapat digunakan hanya 1 buah.

Kurangnya pemahaman lansia akan kegiatan di posyandu lansia.Kurangmya minat lansia untuk memeriksakan diri ke posyandu dikarenakan tidak hadirnya dokterKurangnya dukungan dari keluarga lansiaLansia tidak dapat hadir karena waktu kegiatan kesehariannya bersamaan dengan posyandu lansiaLansia tidak dapat hadir karena jadwal kegiatan kesehariannya bersamaan dengan posyandu lansia Lansia tidak dapat hadir karena jadwal kegiatan kesehariannya bersamaan dengan posyandu lansiaMACHINE

Cakupan pelayanan pra usila dan usila sebesar 15,8% dari Dusun kauman target dinkes 70%LINGKUNGAN

Penjelasan mengenai posyandu lansia tidak tercapai kesemua sasaran sehingga masih adanya lansia yang tidak mengetahui tentang posyandu lansiaTidak adanya kegiatan tambahan di sektor lain yang dapat menarik minat pra usila dan usila yang tidak hadirTidak terdapatnya pendekatan terhadap keluarga yang mempunyai lansiaKurangnya penyuluhan mengenai kesehatan terhadap lansia

P2

P3

Belum terealisasi pengawasan dan pemantauan program posyandu dengan baikPROSESP1

Waktu posyandu lansia bersamaan dengan kegiatan lain lansiaTerkadang posyandu lansia dilaksanakan berbarengan dengan posyandu balita

6.2 Daftar MasalahAdapun daftar malasah yang ada adalah sebagai berikut:1. Kurangnya kader yang aktif untuk mengelola posyandu lansia1. Tidak ada kehadiran dokter di kegiatan posyandu1. Minimnya dana swadaya masyarakat1. Penggunaan dana belum maksimal1. Kurangnya sarana seperti KMS, tensimeter yang dapat digunakan hanya 1 buah.1. Kurangnya pemahaman lansia akan kegiatan di posyandu lansia yaitu adanya anggapan bahwa posyandu lansia merupakan tempat pengobatan 1. Kurangnya minat lansia untuk memeriksakan diri ke posyandu dikarenakan tidak hadir dokter1. Kurangnya dukungan dari keluarga lansia1. Lansia tidak dapat hadir karena waktu kegiatan kesehariannya bersamaan dengan posyandu lansia1. Waktu posyandu lansia bersamaan dengan kegiatan keseharian 1. Terkadang posyandu lansia dilaksanakan berbarengan dengan posyandu balita.1. Penjelasan mengenai posyandu lansia tidak tercapai kesemua sasaran sehingga masih adanya lansia yang tidak mengetahui tentang posyandu lansia1. Tidak adanya kegiatan tambahan di sektor lain yang dapat menarik minat pra usila dan usila yang tidak hadir1. Tidak terdapatnya pendekatan terhadap keluarga yang mempunyai lansia1. Kurangnya penyuluhan mengenai kesehatan terhadap lansia1. Belum terealisasi pengawasan dan pemantauan program posyandu dengan baik

6.3 Penyebab Masalah yang Paling Mungkin Setelah dilakukan konfirmasi kepada bidan dan kader, serta dilakukan wawancara dengan responden maka didapatkan penyebab masalah yang paling mungkin yaitu:1. Kurangnya pemahaman lansia akan kegiatan di posyandu lansia serta manfaatnya1. Kurangmya minat lansia untuk memeriksakan diri ke posyandu dikarenakan tidak adanya dokter

1. Waktu posyandu lansia bersamaan dengan kegiatan keseharian lansia khususnya lansia yang masih bekerja atau berdagang1. Tidak adanya kegiatan tambahan di sektor lain yang dapat menarik minat pra usila dan usila yang tidak hadir

6.4 Penentuan Alternatif Pemecahan Masalah Setelah menemukan penyebab paling mungkin masalah rendahnya cakupan pelayanan pra usila dan usia di Dusun Banjaran maka langkah selanjutnya ialah menyusun alternatif pemecahan penyebab paling mungkin masalah tersebut. Alternatif pemecahan masalah tersebut di atas dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 6.4 Alternatif Pemecahan MasalahNo.Penyebab MasalahAlternatif Pemecahan Masalah

1.Kurangnya pemahaman lansia akan kegiatan di posyandu lansia serta manfaatnyaBekerjasama dengan perangkat dusun dan tokoh masyarakat untuk mensosialisasikan kepada lansia dan keluarga mengenai kegiatan posyandu lansia dan manfaatnya

2.Kurangnya minat lansia untuk memeriksakan diri ke posyandu dikarenakan tidak ada kehadiran dokter

Pemberdayaan peran dokter muda yang ada di puskesmas dan mendatangkan dokter ke posyandu lansia secara berkala

3.Jadwal posyandu lansia bersamaan dengan kegiatan keseharian lansia khususnya lansia yang masih bekerja atau berdagang

Dilakukan musyawarah untuk menetapkan jadwal posyandu yang sangat memungkinkan bagi banyak pihak

4.Tidak adanya kegiatan tambahan di sektor lain yang dapat menarik minat pra usila dan usila yang tidak hadirDikembangkan lagi kegiatan yang bermanfaat di sektor lain

6.5 Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah Setelah menentukan alternative pemecahan masalah, selanjutnya adalah melakukan penggabungan alternatif pemecahan masalah. Berikut ini digambarkan penggabungan alternative pemecahan masalah :

Tabel 6.5 Penggabungan Alternatif Pemecahan MasalahPenyebab Masalah

Alternatif Pemecahan Masalah

Kurangnya pemahaman lansia akan kegiatan di posyandu lansia serta manfaatnyaBekerjasama dengan perangkat dusun dan tokoh masyarakat untuk mensosialisasikan kepada lansia dan keluarga mengenai kegiatan posyandu lansia dan manfaatnya

Kurangnya minat lansia untuk datang ke posyandu dikarenakan tidak adanya dokter

Pemberdayaan peran dokter muda yang ada di puskesmas dan mendatangkan dokter ke posyandu lansia secara berkala

Jadwal posyandu lansia bersamaan dengan kegiatan keseharian lansia khususnya lansia yang masih bekerja atau berdagang

Dilakukan musyawarah untuk menetapkan jadwal posyandu yang sangat memungkinkan bagi banyak pihak

Tidak adanya kegiatan tambahan di sektor lain yang dapat menarik minat pra usila dan usila Dikembangkan lagi kegiatan yang menarik dan bermanfaat di sektor lain

Rekapitulasi Alternatif Pemecahan MasalahRekapitulasi (penggabungan) alternatif pemecahan masalah ini adalah :1. Bekerjasama dengan perangkat dusun dan tokoh masyarakat untuk mensosialisasikan kepada lansia dan keluarga mengenai kegiatan posyandu lansia dan manfaatnya.1. Pemberdayaan peran dokter muda yang ada di puskesmas dan mendatangkan dokter ke posyandu lansia secara berkala1. Dilakukan musyawarah untuk menetapkan jadwal posyandu yang sangat memungkinkan bagi banyak pihak1. Dikembangkan lagi kegiatan yang menarik dan bermanfaat di sektor lain

6.6 Penentuan PrioritasAlternatif Pemecahan MasalahSetelah menemukan alternatif pemecahan masalah, selanjutnya dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan kriteria matriks. Berikut ini adalah rumus kriteria matriks :M . I . VC1. Efektivitas ProgramPedoman untuk mengukur efektivitas program :1. Magnitude ( M ) : besarnya penyebab masalah yang dapat diselesaikan1. Importancy ( I ) : Pentingnya cara penyelesaian masalah1. Vulnerability ( V ) :Sensitifitas cara penyelesaian masalah1. Efisiensi Program Biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan masalah (cos ). Kriteria cost diberi nilai 1-5 . Bila cost nya makin kecil maka nilainya mendekati 1. Skor :MagnitudeImportancyVulnerabilityCost

1 : Tidak magnitude1 : Tidak penting1 : Tidak sensitif1 : Sangat murah

2:Kurang magnitude2 : Kurang penting2 : Kurang sensitif2 : Murah

3: Cukup magnitude3 : Cukup penting3 : Cukup sensitif3 : Cukup murah

4 : Magnitude4 : Penting4 : Sensitif4 : Kurang murah

5:Sangat Magnitude5 : Sangat penting5 : Sangat sensitif5 : Tidak murah

Untuk mendapatkan nilai dari setiap point M, I, V dan C, dilakukan penilaian menggunakan metode Hanlon kualitatif, sebagai berikut :Tabel 6.7 Hasil Akhir Penentuan Prioritas Pemecahan MasalahPenyelesaian MasalahNilai KriteriaHasil AkhirPrioritas

MIVC( M . I . V ) / C

Bekerjasama dengan perangkat dusun dan tokoh masyarakat untuk mensosialisasikan kepada lansia dan keluarga mengenai kesehatan lansia, kegiatan posyandu lansia dan manfaatnya.454240I

Pemberdayaan peran dokter muda yang ada di puskesmas dan mendatangkan dokter ke posyandu lansia secara berkala 34349III

Dilakukan musyawarah untuk menentukan waktu yang tepat untuk diadakannya posyandu lansia443224II

Mengembangkan kegiatan yang bermanfaat di sektor lain 33449IV

Setelah dilakukan penentuan prioritas alternatif pemecahan masalah maka didapatkan urutannya adalah:1. Bekerjasama dengan perangkat dusun dan tokoh masyarakat untuk mensosialisasikan kepada lansia dan keluarga mengenai kegiatan posyandu lansia dan manfaatnya.1. Dilakukan musyawarah untuk menentukan waktu yang tepat untuk diadakannya posyandu lansia1. Pemberdayaan peran dokter muda yang ada di puskesmas dan mendatangkan dokter ke posyandu lansia secara berkala1. Mengembangkan kegiatan yang menarik dan bermanfaat di sektor lain.

6.7 Strategi Pemecahan Masalah Berdasarkan alternatif pemecahan masalah, kemudian ditentukan strategi pemecahan masalah sebagai berikut:Tabel 6.4 Tabel Strategi Pemecahan MasalahNo.Strategi Pemecahan MasalahKegiatan

1. Bekerjasama dengan perangkat dusun dan tokoh masyarakat untuk mensosialisasikan kepada lansia dan keluarga mengenai kegiatan posyandu lansia dan manfaatnya Bekerjasama dengan perangkat dusun dan tokoh masyarakat, kemudian disosialisasikan secara kelompok atau per individu terhadap lansia mengenai kegiatan posyandu lansia dan manfaatnya Pembinaan terhadap keluarga yang mempunyai lansia mengenai kesehatan lansia, kegiatan posyandu lansia dan manfaatnya

1. Dilakukan musyawarah untuk menentukan waktu yang tepat untuk diadakannya posyandu lansia Dilakukan pertemuan untuk memusyawarahkan dan diputuskan waktu yang tepat untuk diadakannya posyandu lansia

1. Pemberdayaan peran dokter muda yang ada di puskesmas dan mendatangkan dokter ke posyandu lansia secara berkalaPembuatan jadwal rutin kunjungan petugas kesehatan (dokter muda atau dokter umum)

1. Mengembangkan kegiatan yang menarik dan bermanfaat di sektor lain seperti kegiatan kerohanian, arisan, kegiatan ekonomi produktif, forum diskusi, penyaluran hobi, dan lain-lainMembuat kegiatan-kegiatan seperti arisan, senam lansia, kegiatan rohani, penyaluran hobi dan lain-lain

Rencana Tindak Lanjut KegiatanRencana kegiatan yang telah dibuat sebagai upaya dari strategi pemecahan masalah selanjutnya dibuat dalam sebuah tabel Plan of Action yang meliputi kegiatan, tujuan, sasaran, waktu, dana, lokasi, pelaksana, metode dan tolak ukur keberhasilan strategi pemacahan masalah tersebut yang disesuaikan dengan masalah yang telah ditentukan:

Tabel 6.8 Rencana Kegiatan Untuk Meningkatkan Cakupan Pelayanan Pra Usila dan UsilaNo.KegiatanTujuanSasaranPelaksanaWaktuDanaLokasiMetodeTolak Ukur

1.Bekerjasama dengan perangkat dusun dan tokoh masyarakat Mempermudah sosialisasi kepada pra usila dan usila tentang kegiatan posyandu lansia dan manfaatnya

Perangkat dusun Tokoh masyarakatBidan, kader

1 bulan sekaliSwadaya MasyarakatBalai DesaMusyawarahTercapainya sosialisasi posyandu lansia

2.Musyawarah untuk membuat jadwal diadakannya posyandu lansiaMenemukan waktu yang tepat untuk mengadakan posyandu lansiaMasyarakat lansia dusun Banjaran Bidan, kader6 bulan sekaliSwadayaMasyarakatBalai desamusyawarahMeningkatnya daftar kehadiran lansia di posyandu lansia

3.Pembuatan jadwal rutin kunjungan dokter muda ke posyandu lansiaMeningkatkan mutu pelayanan kesehatan terhadap lansia Dokter mudaPetugas puskesmas, dokter1 tahun sekalipuskesmasMusyawarahBertambahnya mutu pelayanan kesehatan lansia

4.Membuat kegiatan-kegiatan yang menarik dan bermanfaat di sector lain seperti arisan, senam lansia, kegiatan rohani, penyaluran hobi dan lain-lainMeningkatkan minat lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansiamasyarakat lansia Dusun Banjaran Petugas puskesmas, bidan desa, kader, tokoh masyarakat1 bulan sekaliSwadaya masyarakat Dusun BanjaranBalai desamusyawarahBertambahnya minat lansia untuk mengikuti kegiatan posyandu lansia

KegiatanMeiJuniJuliAgustusSeptemberOktoberNovemberDesember

12341234123412341234123412341234

1. Bekerjasama dengan perangkat dusun dan tokoh masyarakat

2. Musyawarah untuk membuat jadwal diadakannya posyandu lansia

3. Pembuatan jadwal rutin kunjungan dokter muda ke posyandu lansia

4. Membuat kegiatan-kegiatan yang menarik dan bermanfaat di sector lain seperti arisan, senam lansia, kegiatan rohani, penyaluran hobi dan lain-lain

Tabel 6.9 Ghann Chart

BAB VIIKESIMPULAN DAN SARAN7.1 KesimpulanSetelah dilakukan survei, wawancara, dan observasi mengenai posyandu lansia maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan prausila dan usila mengenai posyandu lansia masih kurang yaitu beranggapan bahwa posyandu lansia merupakan tempat berobat sehingga bila lansia tersebut merasa sehat, mereka tidak datang ke posyandu. Oleh karena itu diperlukan kerjasama dengan tokoh masyarakat dan perangkat desa untuk mempermudah sosialisasi mengenai pentingnya posyandu lansia terhadap lansia maupun keluarga lansia tersebut berada.

7.2 Saran Pelaksanaan program posyandu lansia yang telah ada harus dimaksimalkan. Pembekalan dan pembinaan kader harus dioptimalkan karena kader mempunyai peran yang penting dalam mengajak para lansia untuk ikut serta di posyandu lansia. Pelaksanaan posyandu perlu di tingkatkan khususnya di pelayanan kesehatan. Diperlukan pula dokter muda yang datang secara berkala di posyandu lansia untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan terhadap lansia dan dapat memperdayakan dokter muda yang ada dalam pelayanan kesehatan

DAFTAR PUSTAKA1. Undang-undang no.23 Tahun 1992. Availableat:http://www.dpr.go.id/uu/uu1992/UU_1992_23.pdf. Accessed on: May,6,20122. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman pengelolaan kegiatanKesehatan di kelompok usia lanjut, 2003.3. Hartoyo. Instrumes analisa penyebab untuk pemecahan masalah. Handout:Magelang; 2011.4. Erfandi, Pengelolaan Posyandu lansia tahun April 2012 Available at: http://puskesmas-oke.blogspot.com/2009/04/pengelolaan-posyandu-lansia.html.accessed on May,7,2012.5. Notoadmojo, Soekidjo. Metodologi Penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta,2005