makalah blok 21-3.docx

Post on 04-Jun-2018

220 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 8/14/2019 Makalah blok 21-3.docx

    1/25

    Definisi

    Diabetes melitus adalah gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heteroge

    n dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat. Jika telah berkembang penuh secar

    a klinis, maka diabetes melitus ditandai dengan hiperglikemia puasa dan postprandial, arteroskler

    otik dan penyakit vaskular mikroangiopati dan neuropati. Manifestasi klinis hiperglikemia biasan

    ya sudah bertahun-tahun mendahului timbulnya kelainan klinis dari penyakit vaskularnya. Pasien

    dengan kelainan toleransi glukosa ringan (gangguan glukosa puasa dan gangguan toleransi gluk

    osa dapat tetap berisiko mengalami komplikasi metabolik diabetes.

    Anamnesis

    Dilakukan anamnesis yang berkaitan dengan DM, menanyakan pertanyaan umum :

    1. Menanyakan keluhan utama pasien2. Menanyakan banyak makan, minum dan banyak kencing3. Menanyakan adanya keluarga yang terkena Diabetes Melitus4. Menanyakan apakah pernah dirawat dengan penurunan kesadaran karena lupa makan

    setelah minum obat5. Menanyakan apakah pernah dirawat dengan penurunan kesadaran karena diare berlebihan6. Menanyakan apakah pernah dirawat dengan penurunan kesadaran karena suatu keadaan

    stress (infeksi, mci)7. Menanyakan apakah adanya buram, katarak, buta, retinopati, glaucoma8. Menanyakan apakah ada kesemutan, sakit maag dan impotensi9. Menanyakan ada riwayat sakit jantung (sakit dada kiri)10.Menanyakan adanya hipertensi11.Menanyakan adanya luka yang sukar sembuh, jaringan parut pada kulit dan luka yang

    bau

    12.Menanyakan apakah ada batuk > 3 mingguPemeriksaan Fisik

    Pengukuran tinggi dan berat badan pengukuran tekanan darah, termasuk pengukuran

    tekanan darah dalam posisi berdiri untuk mencari kemungkinan adanya hipotensi

  • 8/14/2019 Makalah blok 21-3.docx

    2/25

    ortostatik.Pemeriksaan funduskopiPemeriksaan rongga mulut dan kelenjar tiroidPemeriksaan jantungEvaluasi nadi baik secara palpasi maupun dengan stetoskopPemeriksaan ekstremitas atas dan bawah, termasuk jariPemeriksaan kulit (acantosis nigrican dan bekas tempat penyuntikan insulin) dan

    pemeriksaan neurologisTanda-tanda penyakit lain yang dapat menimbulkan DM tipe lain.

    Inspeksi

    Warna kulit dan kondisi kulit (kering, normal, lembab)Atrofi / hipotrofi ototLesi kulit ( infiltrate, ulkus, abses, gangren)Gerakan yang terbatas dan kontraktur

    Palpasi

    Pemeriksaan suhu rabaPemeriksaan pulsasi a dorsalis pedis dan tibialis posteriorPemeriksaan sensibilitas dengan monofilament

    Pemeriksaan Penunjang

    Glukosa darah puasa dan 2 jam post prandial

  • 8/14/2019 Makalah blok 21-3.docx

    3/25

    A1CProfil lipid pada keadaan puasa (kolesterol total, HDL, LDL, trigliserida)Kreatinin serumAlbuminuriaKeton, sedimen dan protein dalam urinElektrokardiogramFoto rontgen dada

    Berikut ini adalah evaluasi medis yang dilakukan secara berkala :

    Dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan 2 jam sesudah makan sesuai

    dengan kebutuhanPemeriksaan A1C dilakukan setiap (3-6) bulanSetiap 1 tahun dilakukan pemeriksaan :

    Jasmani lengkapMikroalbuminuriaKreatininAlbumin / globulin dan ALTKolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL dan trigliseridaEKGFoto Rontgen dadaFunduskopi

  • 8/14/2019 Makalah blok 21-3.docx

    4/25

    Tabel 1. Nilai Rujukan Kadar Glukosa Darah.

    Working Diagnosis

    Diabetes Melitus tipe-2

    Differential Diagnosis

    Diabetes Melitus tipe-tipe yang lain.

    Etiologi dan Patofisiologi

    Ada bukti yang menunjukkan bahwa etiologi diabetes melitus bermacam-macam. Meskipun berb

    agai lesi dengan jenis yang berbeda akhirnya akan mengarah pada insufusiensi insulin, tetapi det

    erminan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas penderita diabetes melitus.

    Diabetes melitus tipe 1 adalah penyakit autoimun yang ditentukan secara genetik dengan gejala-

    gejala yang pada akhirnya menuju proses bertahap perusakan imunologik sel-sel yang memprodu

    ksi insulin. Individu yang peka secara genetik tampaknya memberikan respons terhadap kejadian

    -kejadian pemicu yang diduga berupa infeksi virus, dengan memproduksi autoantibodi terhadap s

    el-sel beta, yang akan men

    gakibatkan berkurangnya sekresi insulin yang dirangsang oleh glukosa. Manifestasi klinis diabet

    es melitus terjadi jika lebih dari 90% sel-sel beta menjadi rusak. Pada diabetes melitus dalam ben

    tuk yang lebih berat, sel-sel beta telah dirusak semuanya, sehingga terjadi insulinopenia dan sem

    ua kelainan metabolik yang berkaitan dengan defisiensi insulin. Bukti untuk determinan genetik

  • 8/14/2019 Makalah blok 21-3.docx

    5/25

    diabetes tipe 1 adalah kaitan dengan tipe-tipe histokompabilitas (human leukocyte antigen [HLA

    ]) spesifik. Tipe dari gen histokompabilitas yang berkaitan dengan diabetes tipe 1 (DW3 dan DW

    4) adalah yang memberi kode kepada protein-protein yang berperanan penting dalam interaksi m

    onosit-limfosit. Protein-protein ini mengatur respons sel T yang merupakan bagian normal dari r

    espons imun. Jika terjadi kelainan, fungsi limfosit T yang terganggu akan berperan penting dala

    m patogenesis perusakan sel-sel pulau Langerhans. Jika terdapat bukti adanya peningkatan antib

    odi-antibodu terhadap komponen antigenik tertentu dari sel beta. Kejadian pemicu yang menentu

    kan proses autoimun pada individu yang peka secara genetik dapat berupa infeksi virus coxsacki

    e B4 atau gondongan atau virus lain. Epidemi diabetes tipe 1 awitan baru telah diamati pada saat-

    saat tertentu dalam setahun pada anggota-anggota dari kelompok sosial yang sama.

    Obat-obat tertentu yang diketahui dapat memicu penyakit autoimun lain juga dapat memulai pros

    es autoiimun pada pasien-pasien diabetes tipe 1. Antibodi sel-sel pulau Langerhans memiliki pre

    sentasi yang tinggi pada pasien dengan diabetes tipe 1 awitan baru dan memberikan bukti yang k

    uat adanya mekanisme autoimun pada patogenesis penyakit. Penapisan imiunologik dan pemerik

    saan sekresi insulin pada orang-orang dengan risiko tinggi terhadap diabetes tipe 1 akan memberi

    jalan untuk pengobatan imunosupresif dini yang dapat menunda awitan manifestasi klinis defisie

    nsi insulin.

    Pada pasien-pasien dengan diabetes melitus tipe 2, penyakitnya mempunyai pola familial yang k

    uat. Indeks untuk diabetes tipe 2 pada kembar monozigot hampir 100%. Risiko berkembangnya

    diabetes tipe 2 pada saudara kandung mendekati 40% dan 33% untuk anak cucunya. Transmisi g

    enetik adalah paling kuat dan contoh terbaik terdapat dalam diabetes awitan dewasa muda (MOD

    Y), yaitu subtipe penyakit diabetes yang diturunkan dengan pola autosomal dominan. Jika orang

    tua menderita diabetes tipe 2, rasio diabetes dan nondiabetes pada anak adalah 1;1, dan sekitar 90

    % pasti membawa (carrier) diabetes tipe 2. Diabetes tipe 2 ditandai dengan kelainan sekresi insul

    in, serta kerja insulin. Pada awalnya tampak terdapat resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja

    insulin. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada reseptor-reseptor permukaan tertentu, kemu

    dian terjadi reaksi intraselular yang menyebabkan mobilisasi pembawa GLUT 4 glukosa dan me

    ningkatkan transpor glukosa menembus membran sel. Pada pasien-pasien dengan diabetes tipe 2

    terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Kelainan ini dapat disebabkan oleh

    berkurangnya jumlah tempat reseptor pada membran sel yang selnya responsif terhadap insulin a

  • 8/14/2019 Makalah blok 21-3.docx

    6/25

    tau akibat ketidak normalan reseptor insulin intrinsik. Akibatnya, terjadi penggabungan abnormal

    antara kompleks reseptor insulin dengan sistem transpor glukosa. Ketidak normalan postreseptor

    dapat mengganggu kerja insulin. Pada akhirnya, timbul kegagalan sel beta dengan menurunnya j

    umlah insulin yang beredar dan tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia. Sekitar 8

    0% pasien diabetes tipe 2 mengalami obesitas. Karena obesitas berkaitan dengan resistensi insuli

    n maka kelihatannya akan timbul kegagalan toleransi glukosa yang menyebabkan diabetes tipe 2.

    Epidemiologi

    Tingkat prevalensi diabetes melitus adalah tinggi. Diduga terdapat sekitar 16 juta kasus diabetes

    di Amerika Serikat dan setiap tahunnya didiagnosis 600.000 kasus baru. Diabetes merupakan pen

    yebab kematian ketiga di Amerika Serikat dan merupakan penyebab utama kebutaan pada orang

    dewasa akibat retinopati diabetik. Pada usia yang sama, penderita diabetes paling sedikit 2,5 kali

    lebih sering terkena serangan jantung dibandingkan dengan mereka yang tidak menderita diabete

    s.

    Tujuh puluh lima persen menderita diabetes akhirnya meninggal karena penyakit vaskular. Seran

    gan jantung, gagal ginjal, stroke dan gangren adalah komplikasi yang paling utama. Selain itu, ke

    matian fetus intrauterin pada ibu-ibu yang menderita diabeties tidak terkontrol juga meningkat.

    Dampak ekonomi pada diabetes jelas terlihat berakibat pada biaya pengobatan dan hilangnya pen

    dapatan, selain konsekuensi finansial karena banyaknya komplikasi seperti kebutaan dan penyaki

    t vaskular.

    Klasifikasi Diabetes Melitus

    Beberapa klasifikasi diabetes melitus telah diperkenalkan, berdasarkan metode presentasi klinis,

    umur awitan, dan riwayat penyakit. Presentasi klinis, umur awitan, dan riwayat penyakit. Klasifi

    kasi yang diperkenalkan oleh American Diabetes Association (ADA) berdasarkan pengetahuan

    muktahir mengenai patogenesis sindrom diabetes dan gangguan toleransi glukosa. Klasifikasi ini

    telah disahkan oleh World Health Organization (WHO) dan telah dipa