pbl blok 23.docx

Download PBL Blok 23.docx

Post on 13-Feb-2015

57 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Special SenseKatarak Senilis Stefany Grandinata Soeseno NIM : 10.2010.346 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Alamat Koresponden : Jalan Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510 Email : de2_st@yahoo.com

PendahuluanKatarak merupakan setiap kekeruhan yang terjadi pada lensa karena hidrasi lensa, denaturasi protein lensa, ataupun kedua-duanya. Penyakit ini biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama. Katarak merupakan penyakit pada usia lanjut/senilis (sesudah usia 50 tahun) namun dapat juga congenital (terjadi sebelum usia 1 tahun) atau juvenile (terjadi sesudah usia 1 tahun), maupun penyulit penyakit mata lokal menahun, dan dapat berhubungan dengan penyakit intraocular lainnya.1 Pasien dapat datang dengan keluhan penglihatan kabur, silau, adanya halo hingga adanya bintik hitam. Penyakit ini dapat ditangani melalui pengenalan yang tepat baik melalui anamnesis, pemeriksaan ketajaman penglihatan dengan menggunakan Snellen chart dan penunjang lainnya. Penatalaksanaan terbaik dengan bedah fakoemulsifikasi. Bila ditangani dengan tepat maka komplikasi termasuk kebutaan dapat dihindari. Dengan teknik pembedahan terbaik sekalipun, tetap ada komplikasi baik saat operasi maupun sesudah operasi. Dalam scenario ini membahas mengenai seorang pasien laki-laki berusia 60 tahun yang datang dengan keluhan kabur pada kedua mata, tidak disertai mata merah. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai penyakit katarak yang diduga diderita oleh pasien tersebut,baik dari segi anamnesis,etiologi (penyebab), sampai pada komplikasi. Pada akhir makalah akan diberikan kesimpulan mengenai pembahasan dan scenario yang ada.1

Anamnesis Untuk mengetahui apa yang terjadi pada seorang pasien,langkah anamnesis sangatlah dibutuhkan sebagai langkah awal untuk dapat membuat perkiraan awal mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan yang sedang dialami oleh pasien. Dalam melakukan anamnesis, sangat perlu dilakukan dengan baik dan benar karena bagi seorang dokter dari anamnesis apabila dilakukan dengan baik dan benar akan dapat menegakkan diagnosis hingga mencapai kurang lebih 70% penyakit yang dialami oleh pasien tersebut. Dalam melakukan anamnesis perlu dilakukan sesuai dengan gejala yang dialami oleh pasien, sehingga dengan kata lain pertanyaanpertanyaan yang ditanyakan haruslah berhubungan dengan apa yang dirasakan oleh pasien. Dalam melakukan langkah ini, disarankan dokter harus mempunyai kompetensi yang baik dalam mengerti gejala-gejala yang timbul dari setiap penyakit. Yang perlu ditanyakan pada pasien yang mengalami pertusis seperti pada scenario ini, contohnya sebagai berikut : 1. Identitas pasien Berisi nama, usia, jenis kelamin, pekerjaan yang sering terpapar sinar matahari secara langsung, tempat tinggal sebagai gambaran kondisi lingkungan dan keluarga, dan keterangan lain mengenai identitas pasien.1 2. Riwayat penyakit sekarang Keluhan utama pasien katarak biasanya antara lain: Penurunan ketajaman penglihatan secara progresif (gejala utama katarak). Mata tidak merasa sakit, gatal atau merah. Berkabut, berasap, penglihatan tertutup film. Perubahan daya lihat warna. Gangguan mengendarai kendaraan malam hari, lampu besar sangat menyilaukan mata. Lampu dan matahari sangat mengganggu. Sering meminta ganti resep kaca mata. Penglihatan ganda. Baik melihat dekat pada pasien rabun dekat ( hipermetropia)

3. Riwayat penyakit dahulu2

Adanya riwayat penyakit sistemik yang dimiliki oleh pasien seperti:2 Diabetes Melitus Hipertensi Pembedahan mata sebelumnya, dan penyakit metabolik lainnya memicu resiko katarak. Kaji gangguan vasomotor seperti peningkatan tekanan vena Ketidakseimbangan endokrin dan diabetes, serta riwayat terpajan pada radiasi, steroid / toksisitas fenotiazin.

4. Riwayat Kesehatan Keluarga Apakah ada riwayat katarak dalam keluarga.

Pemeriksaan Fisik

- Tanda Tanda Vital (terutama tekanan darah untuk megetahui apakah pasien hipertensi atau tidak). - Pemeriksaan mata dasar Pada pasien katarak mata tidak mengalami iritasi. Sehingga secara umum pada pemeriksaan fisik mata dari luar tidak ditemukan kelainan. Yang lebih dikeluhan pasien ialah berkurangannya kemampuan akomodasi. Hilangnya transparansi lensa ini dapat menyebabkan penglihatan menjadi kabur, baik penglihatan jauh maupun dekat namun tidak disertai dengan rasa nyeri. Pada pasien katarak tidak ditemukan adanya tanda peradangan baik pembengkakan, eritema, panas dan nyeri tekan. Karena didapati penurunan ketajaman penglihatan pada katarak, maka pemeriksaan visus dengan menggunakan uji ketajaman penglihatan Snellen diperlukan. Secara umum didapatkan korelasi antara penurunan ketajaman penglihatan dengan tingkat kepadatan katarak.3 Pemeriksaan mata dasar tersebut ialah: 1. Mata eksternal : Pemeriksaan mata eksternal tidak jauh berbeda dari pemeriksaan fisik umumnya. Untuk melihat kamera okuli anterior, serta batas-batasnya seperti kornea, iris, lensa maka kita memakai senter. Kedalaman diukur dengan shallow chamber dari arah temporal. a. Palpebra3

b. Conjungtiva c. Kornea d. Kamera anterior e. Iris/pupil f. Lensa 2. Ketajaman visus /VA Pada pemeriksaan visus atau VA kita menilai ketajaman penglihatan, manusia normal memiliki ketajaman penglihatan 1,0, atau 20/20, atau 6/6 yang berarti pasien dapat melihat dalam jarak 6 meter (numerator) dan secara normal seseorang dapat melihat dalam jarak 6 meter (denominator). Pemeriksaan visus dilakukan pertama kali sebelum pemeriksaan lain kecuali pada suatu trauma yang emergensi misalnya trauma kimia. Pemeriksaan dengan memakai Snellen chart (umumnya, dan pada orang normal yang tidak buta huruf). Pemeriksaan dilakukan dalam jarak 6 meter, pasien duduk tenang dan mencoba melihat dan membaca huruf yang kita tunjuk. Perlu diingat bahwa pemeriksaan dilakukan kepada 1 mata secara bergantian, dan dimulai dengan mata kanan. Baris terakhir yang bisa dibaca itulah visus pasien. Jika pasien tidak dapat melihat huruf terbesar artinya visus kurang dari 6/60 atau 20/200 maka kita memakai cara finger counting.3 Tes finger counting dilakukan pertama dalam jarak 1 meter, dilakukan maksimal sampai 5 meter. Misalnya pasien dapat menghitung jari dalam sampai jarak 3 meter maka laporannya ialah visus 3/60. Jika pasien tidak dapat menghitung jari, maka kita melakukan tes hand movement. Uji ini dilakukan hanya 1 kali pada jarak 1 meter. Jika pasien mampu melihat gerakan (lambaian) tangan maka laporannya visus 1/300. Jika visus sudah sangat buruk sehingga tes hand movementpun gagal, maka kita lakukan uji persepsi cahaya. Uji ini sebaiknya dilakukan di dalam dark room. Pada uji light perception ini dapat dilihat dari arah mana proyeksi cahayanya. Jika pasien tidak dapat membedakan lagi maka artinya no light perception atau visus 0. Suatu penurunan visus kita asumsikan menjadi kelainan pada media refraksi, maka dapat dikoreksi dengan lensa. Kita bisa memberi lensa pin hole agar membantu memfokuskan cahaya yang masuk tepat di macula.3 Tujuan tes ini adalah untuk membedakan antara kelainan refraksi dan kelainan media refraksi. Bila ada kelainan refraksi, maka dengan melakukan4

uji pinhole didapatkan perbaikan pada ketajaman penglihatan. Hal ini dikarenakan fungsi dari pinhole yang dapat memfokuskan cahaya yang masuk sehingga jatuh tepat pada makula lutea. Pada katarak terjadi kelainan pada media refraksi sehingga uji pinhole tidak memperbaiki ketajaman penglihatan penderita.

3. Lapang pandang Pemeriksaan lapang pandang terdiri dari tes konfrontasi, perimetri atau kampimetri. Uji ini dilakukan untuk menilai lapang pandang pasien. Kelainan lapang pandang dapat terjadi pada gangguan di jalur lintasan visual. Perimetri adalah penggunaan alat untuk memeriksa lapangan pandang dengan mata terfiksasi sentral. Penilaian lapangan pandang merupakan hal yang penting dilakukan pada keadaan penyakit yang mempunyai potensi terjadinya kebutaan. Pada glaukoma pemeriksaan ini berguna dalam pengobatan penyakit dan pencegahan kebutaan. Perimeter adalah setengah lingkaran yang dapat diubah-ubah letaknya pada bidang meridiannya. Cara pemakaiannya serta cara melaporkan keadaan sewaktu pemeriksaan sama dengan kampimeter. Pemeriksaan lapang pandangan dilakukan dengan Perimeter, merupakan alat yang dipergunakan untuk menentukan luas lapang pandangan. Alat ini berbentuk setengah bola dengan jari- jari 30 cm, dan pada pusat parabola ini penderita diletakkan untuk diperiksa. Batas lapang pandangan perifer adalah ataupun kinetik.2 Dikenal 2 cara pemeriksaan perimetri, yaitu : a. Perimetri kinetik yang disebut juga perimeter isotropik dan topografik, dimana pemeriksaan dilakukan dengan objek digerakkan dari daerah tidak terlihat menjadi terlihat oleh pasien. b. Perimetri statik atau perimeter profil dan perimeter curve differential threshold, dimana pemeriksaan dengan tidak menggerakkan objek akan tetapi dengan menaikkan intensitas objek sehingga terlihat oleh pasien. Pemeriksaan lapangan pandang (visual field) yang sederhana dapat dilakukan dengan jalan membandingkan lapang pandang pasien dengan pemeriksa (yang dianggap normal) yaitu dengan metode konfrontasi dari Donder. Teknik pemeriksaan tes5

90

temporal, 75 inferior, 60 nasal, dan 60 superior. Dapat dilakukan pemeriksaan statik

konfrontasi adalah dengan cara Pasien duduk atau berdiri berhadapan dengan pemeriksa dengan jarak kira-kira 1 meter. Bila mata kanan yang hendak diperiksa lebih dahulu, maka mata kiri pasien harus ditutup, misalnya dengan tangannya atau kertas, sedangkan pemeriksa harus menutup mata kanannya. Pasien diminta untuk memfiksasi pandangannya pada mata kiri pemeriksa. Kemudian pemeriksa menggerakkan jari tangannya di bidang pertengahan antar pemeriksa dan pasien. Gerakan dilakukan dari arah luar ke dalam. Jika pasien sudah melihat gerakan jari-jari pemeriksa, ia harus memberi tanda dan dibandingkan dengan lapang pandang pemeriksa.2,3 Bila terja