kisi-kisi kmb

Download KISI-KISI KMB

Post on 30-Sep-2015

22 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

jhhjk

TRANSCRIPT

1. CHF grade 1, 2 ,3 hari ke 10, tindakan mandiri keperawatan?-

2. Salmonella Thyposa yang sampai ke otak bisa mengakibatkan gangguan status mental: halusinasi? Pada kasus meningitis thyposa, mempunyai gejala: Masalah psikiatri seperti mengigau, halusinasi, dan paranoid psikosis.

3. PPOK : AGD akan melihat status asam basa dan asidosis gagal napas terdiri dari tipe I disebut gagal nafas normokapnu hipoksemia atau kegagalan oksigenasi ( PaO2 rendah dan PCO2 normal) Tipe II disebut gagal nafas hiperkapnue hipoksemia atau kegagalan ventilasi (PaO2 rendah dan PCO2 Tinggi). Penurunan nilai PaO2 dapat terjadi pada penyakit paru obstruksi kronik (PPOK),Asidosis respiratorik (contoh: PPOK)Alkalosis respiratorik (contoh: asthma bronkiale)

4. DM pemeriksaan GDS tindakan kolaborasi, masalah keperawatana. Kriteria diagnostik WHO untuk Diabetes Melitus pada orang dewasa yang tidak hamil, pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan: Glukosa plasma sewaktu/random > 200 mg/dl (11,1 mmol/L). Glukosa plasma puasa/nuchter > 140 mg/dl (7,8 mmol/L). Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gram karbohidrat (2 jam post prandial (pp)) > 200 mg/dl (11,1 mmol/L). (World Health Organization, Diabetes Melitus, Report of a WHO study group. Teach Report Series No. 727, 1985) kutipan dalam Brunner & Suddarth (2002).b. Diagnosa keperawatan pada klien dengan Diabetes Mellitus :1) Kekurangan volume cairan b/d diuresis osmotik, kehilangan gastric berlebihan:diare, muntah, masukan di batasi: Mual kacau mental.2) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidak cukupan insulin, penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolism protein lemak.3) Resiko tinggi terjadinya infeksi b/d kadar glukosa tinggi, penurunan fungsi leukosit4) Resiko tinggi terhadap perubahan sensori perseptual b/d perubahan kimia endogen : ketidakseimbangan glukosa / insulin dan elekrolit 5) Kelelahan b/d penurunan produksi energi metabolik, peningkatan kebutuhan energi6) Ketidakberdayaan b/d penyakit jangka panjang / progresif tidak dapat diobati7) Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurang pemajanan, tidak mengenal informasic. Tindakan Kolaborasi1) Kolaborasi pemberian cairan dan pemeriksaan Laboratorium (elektrolit, DPL, BUN).2) Kolaborasi dengan ahli diet untuk diet rendah kalori dan dan protein.3) Kolaborasi Pemeriksaan Lab, Pus, Lekosit, GDS.4) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotic

5. post op herniotomi diberi anestesi spinal, apa yang perlu diperhatikan perawat?Paska bedah penderita dirawat dan diobservasi kemungkinan komplikasi berupa perdarahan dan hematoma pada daerah operasiSetelah dilakukan tindakan pembedahan herniotomy yang harus diperhatikan adalah perawatan untuk post operasi:1) Hindari penyakit yang mungkin terjadi yaitu: Perdarahan, Syok, Muntah, Distensi, Kedinginan, Infeksi, Dekubitus, Sulit buang air kecil.2) Observasi keadaan klien.3) Cek Tanda-tanda vital pasien.4) Lakukan perawatan luka dan ganti balutan operasi sesuai dengan jadwal.5) Perhatikan drainase.6) Penuhi kebutuhan nutrisi klien.7) Mobilisasi diri secara dini terutama pada hari pertama dan hari kedua.a) Perawatan tidur dengan sikap Fowler (sudut 45o - 60o).

6. post op pemasanagan platina di femur, proses yang terjadi dan dicuragi infeksi dan inflamasi-7. Kasus katarak yang dioperasi dan klasifikasi katarak: Kasus katarak yang dioperasi keratoplasty Dikenal dua jenis operasi pada katarak yaitu tanpa implantasi IOL (Intra Ocular Lens Lensa tanam) dan dengan implantasi IOL. Kasus katarak yang dioperasi Katarak telah menganggu ADL atau sudah sampai tahap katarak matur Katarak telah menimbulkan penyulit Klasifikasi katarak Kongenital, < 1 tahun : bisa terjadi karena infeksi rubella pada saat periode kehamilan Katarak sekunder : karena ada masalah kesehatan tertentu Katarak akibat trauma : muncul setelah operasi Katarak akibat usia (seniil) : usia lanjut > 40th, ada 3: Kongenital, < 1 tahun Juvenil, 1-40 tahun Senil, >40 tahun

8. Post op laparatomy : masalah, diagnosa, tindakan keperawatan dan evaluasi Diagnosa ::1. Nyeri akut berhubungan dengan luka post operasi.2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan ketidaknyamanan3. Resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi Tindakan keperawatan post operasi ::1. Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output2. Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.3. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati, jangan sampai drain tercabut.4. Perawatan luka operasi secara steril.

Evaluasi ::1. Tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi : Suhu tubuh normal Nada normal Perut tidak kembung Peristaltik usus normal Flatus positif Bowel movement positif2. Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas.3. Pasien terbebas dari adanya komplikasi post operasi.4. Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mengembalikan pola makan dan minum seperti biasa.Luka operasi baik

9. Post amputasi: larutan yang tidak boleh digunakan.?-

10. Pengkajian abdominal untuk mendapatkan kesan apa saja .a. Inspeksi Amati bentuk perut secara umum, warna kulit, adanya retraksi, penonjolan, adanya ketidak simetrisan, adanya asites.b. AuskultasiAuskultasi dilakukan pada keempat kuadran abdomen. Dengarkan peristaltik ususnya selama satu menit penuh. Bising usus normalnya 5-30 kali/menit. Jika kurang dari itu atau tidak ada sama sekali kemungkinan ada peristaltik ileus, konstipasi, peritonitis, atau obstruksi. Jika peristaltik usus terdengar lebih dari normal kemungkinan klien sedang mengalami diare.c. PerkusiLakukan perkusi pada kesembilan regio abdomen. Jika perkusi terdengar timpani berarti perkusi dilakukan di atas organ yang berisi udara. Jika terdengar pekak, berarti perkusi mengenai organ padat.d. PalpasiPalpasi ringan: Untuk mengetahui adanya massa dan respon nyeri tekan letakkan telapak tangan pada abdomen secara berhimpitan dan tekan secara merata sesuai kuadran. Palpasi dalam: Untuk mengetahui posisi organ dalam seperi hepar, ginjal, limpa dengan metode bimanual/2 tangan

11. Prosedur kolonoskopi : tindakan yang dilakukan oleh perawata. Dukungan adaptasi dan kemandirian.b. Meningkatkan kenyamanan.c. Mempertahankan fungsi fisiologis optimal.d. Mencegah komplikasi.e. Memberikan informasi tentang proses/ kondisi penyakit, prognosis, dan kebutuhan pengobatan

12. DM tipe 1 :info selanjutnya yang diperlukanDiabetes melitus tipe 1, diabetes anak-anak adalah diabetes yang terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi darah akibat hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. IDDM dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa.Sampai saat ini IDDM tidak dapat dicegah dan tidak dapat disembuhkan, bahkan dengan diet maupun olah raga. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awal.Penyebab terbanyak dari kehilangan sel beta pada diabetes tipe 1 adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh.Saat ini, diabetes tipe 1 hanya dapat diobati dengan menggunakan insulin, dengan pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor pengujian darah. Pengobatan dasar diabetes tipe 1, bahkan untuk tahap paling awal sekalipun, adalah penggantian insulin. Tanpa insulin, ketosis dan diabetic ketoacidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga). Terlepas dari pemberian injeksi pada umumnya, juga dimungkinkan pemberian insulin melalui pump, yang memungkinkan untuk pemberian masukan insulin 24 jam sehari pada tingkat dosis yang telah ditentukan, juga dimungkinkan pemberian dosis (a bolus) dari insulin yang dibutuhkan pada saat makan. Serta dimungkinkan juga untuk pemberian masukan insulin melalui "inhaled powder".Perawatan diabetes tipe 1 harus berlanjut terus. Perawatan tidak akan memengaruhi aktivitas-aktivitas normal apabila kesadaran yang cukup, perawatan yang tepat, dan kedisiplinan dalam pemeriksaan dan pengobatan dijalankan. Tingkat Glukosa rata-rata untuk pasien diabetes tipe 1 harus sedekat mungkin ke angka normal (80-120 mg/dl, 4-6 mmol/l). Beberapa dokter menyarankan sampai ke 140-150 mg/dl (7-7.5 mmol/l) untuk mereka yang bermasalah dengan angka yang lebih rendah, seperti "frequent hypoglycemic events". Angka di atas 200 mg/dl (10 mmol/l) seringkali diikuti dengan rasa tidak nyaman dan buang air kecil yang terlalu sering sehingga menyebabkan dehidrasi. Angka di atas 300 mg/dl (15 mmol/l) biasanya membutuhkan perawatan secepatnya dan dapat mengarah ke ketoasidosis. Tingkat glukosa darah yang rendah, yang disebut hipoglisemia, dapat menyebabkan kehilangan kesadaran

13. Pelajari gelombang PQRS pada EKG berhubungan dengan apa di jantung Mengetahui kelainan-kelainan irama jantung (aritmia) Mengetahui kelainan-kelainan miokardium (infark, hipertrophy atrial dan ventrikel) Mengetahui adanya pengaruh atau efek obat-obat jantung Mengetahui adanya gangguan elektrolit Mengetahui adanya gangguan perikarditis

14. pemasangan kateter terjadi perdarahan..?Pendarahan harus diatasi, serta pemberian antibiotik dan obat-obat analgesik. Pasien dengan kontusio atau laserasi dan masih dapat kencing, tidak perlu menggunakan alat-alat atau manipulasi tapi jika tidak bisa kencing dan tidak ada ekstravasasi pada uretrosistogram, pemasangan kateter harus dilakukan dengan lubrikan yang adekuat.

15. Tanggung jawab siapa inform consentSiapa yang bertanggung