kmb pencernaan.appendiks

Download Kmb Pencernaan.appendiks

Post on 12-Aug-2015

14 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

usus buntu

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar belakang Penyakit Paru Obstruktif Kronik ( PPOK ) atau Penyakit Paru Obstruktif Menahun (PPOM) adalah klasifikasi luas dari gangguan yang mencakup bronkitis kronis, bronkiektasis, emfisema dan asma. (Bruner & Suddarth, 2002). Penyakit Paru Obstruktif Kronik atau Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. Ketiga penyakit yang membentuk satu kesatuan yang dikenal dengan COPD adalah : bronchitis kronis, emfisema paru-paru dan asthma bronchiale. PPOM merupakan kondisi ireversibel yang berkaitan dengan dispnea saat aktivitas dan penurunan aliran masuk dan keluar udara paru-paru. PPOM lebih sering menyerang laki-laki dan sering berakibat fatal. PPOM juga lebih sering terjadi pada suatu keluarga, sehingga diduga ada faktor yang dirurunkan. Bekerja di lingkungan yang tercemar oleh asap kimia atau debu yang tidak berbahaya, bisa meningkatkan resiko terjadinya PPOM. Tetapi kebiasaan merokok pengaruhnya lebih besar dibandingkan dengan pekerjaan seseorang, dimana sekitar 10-15% perokok menderita PPOM.

1

1.2 Tujuan1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu memahami tentang penyakit paru obstruktif menahun (PPOM) dan proses asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa penyakit paru obstruktif menahun (PPOM).

2. Tujuan khusus Mampu menjelaskan konsep dasar kebutuhan manusia tentang penyakit paru obstruktif menahun (PPOM). Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan diagnose penyakit paru obstruktif menahun (PPOM). Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan diagnose penyakit paru obstruktif menahun (PPOM). Mampu menjelaskan tindakan keperawatan pada klien dengan diagnose penyakit paru obstruktif menahun (PPOM).

1.3 Manfaat

Makalah ini dapat dijadikan sebagai panduan dan pedoman bagi

mahasiswa keperawatan untuk mempelajari dan memahami tentang penyakit paru obstruktif menahun

Makalah ini dapat dijadikan panduan bagi mahasiswa keperawatan

untuk mencegah masalah yang mungkin timbul khususnya masalah penyakit paru obstruktif menahun Makalah ini dapat dijadikan panduan bagi mahasiswa keperawatan untuk menambah wawasan dan pemahamana mengenai masalah keperawatan.

2

BAB II TUNJAUAN PUSTAKA Penyakit paru obstruktif kronis (chronic obstructive pulmonary diseaseCOPD) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama dan di tandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebaga gambaran patofisiologi utamanya. Ketiga penyakit yang membentk satu kesatuan yang dikenal dengan COPD adalah bronchitis kronis, emfisema paru-paru, dan asma bronchial, sering juga penyakit ini disebut dengan chronic airflow limitation (CAL) dan crhonic obstructive lung disease (COLD)2.1 ASMA

2.1.1 Pengertian Asma adalah gangguan pada saluran bronchial dengan ciri brngkospasme periodic (kontraksi Spasme pada saluran napas). Asma merupakan penyakit yang kompleks dapat disebabkan oleh factor biokimia, endokrin, infeksi, otonomik, dan psikologi Definisi lain mengatakan bahwa Asma adalah penyakit jalan napas obstruktif intermitten, reversible dimana trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu Asma terbagi menjadi alergi, ideopatik, nonalergik, dan campuran (mixed): 1. Asma alergik/ekstrinsik, merupakan suatu jenis asma yang disebabkan oleh allergen (misalnya bulu binatang, debu, ketombe, tepung sari, makanan, dan lain-lain). Allergen yanag paling umum adalah allergen yang perantaraan penyebarannya melalui udara3

(airborne) dan allergen yang muncul secara musiman (seasonal). Pasien dengan asma alergik biasanya mempunyai riwayat penyakit alergi pada keluarga dan riwayat pengobatan eczema atau rhinitis alergik. Paparan terhadap alergi akan mencetuskan serangan asma. Gejala asma umumnya dimulai saat kanak-kanak.2. Idiopatik atau nonallergic asthma/intrinsic, merupakan jenis asma

yang tidak berhubungan secara langsung dengan allergen spesifik. Factor-faktor seperti infeksi saluran napas atas, aktivitas, emosi, dan polusi lingkungan dapat menimbulkan serangan asma. Beberapa agen farmakologi, antagonis beta adrenergic, dan agen sulfite (penyedap makanan) juga dapat berperan sebagai factor pencetus. Serangan asma idiopatik atau nonallergic dapat menjadi lebih berat dan sering kali dengan berjalannya waktu dapat berkembang menjadi bronchitis dan emfisema. Pada beberapa pasien, asma jenis ini dapat berkembang menjadi asma campuran. Bentuk asma ini baiasanya dimulai pada saat dewasa (>35 tahun). 3. Asma campuran, merupakan bentuk asma yang paling sering ditemukan. Dikarekteristikkan dengan bentuk kedua jenis asma alergi dan idiopatik atau nonallergi. 2.1.2 Etiologi Sampai saat ini, etiologi asma belum diketahui dengan pasti. Namun suatu hal yang sering kali terjadi pada semua penderita asma adalah fenomena hiperaktivitas bronkus. Bronkus penderita asma sangat peka terhadap rangsang imunologi maupun nonimunologi. Karena sifat tersebut, maka serangan asma mudah terjadi akibat berbagai rangsang baik fisik, metaboslime, kimia, allergen, infeksi, dan sebagainya. Factor penyebab yang sering menimbulkan asma perlu diketahui dan sedapat mungkin dihindarkan. Factor-faktor tersebut adalah : a. Allergen utama : debu rumah, sepora jamur, dan tepung sari rerumputan4

b.c.

Iritan seperti : asap, bau-bauan dan polutan Infeksi saluran napas terutama yang disebabkan oleh virus Perubahan cuaca yang ekstrim Aktivitas fisik yang berlebihan Lingkungan kerja Obat-obatan Emosi Lain-lain : seperti refluks gastroesofagus

d. e. f. g. h. i.

2.1.3 Patofisiologi Asma adalah abstruksi jalan napas difus reversible. Obstruksi disebabkan oleh satu atau lebih dari yang berikut ini : 1. Kontraksi otot-otot yang mengelilingi bronki, yang

menyempitkan jalan napas 2. 3. Pembengkakan membrane yang melapisi bronki Pengisian bronki dengan mucus yang kental. Selain itu,

otot-otot bronchial dan kelenjar mukosa membesar : sputum yang kental, banyak dihasilkan dan alveoli menjadi hiperimplasi, dengan udara terperangkap di dalam jaringan paru. Mekanisme yang pasti dari perubahan ini tidak diketahui tetapi apa yang paling diketahui adalah keterlibatan sistem imunologis dengan saraf otonom. Beberapa individu dengan asma mengalami respon imun yang buruk terhadap lingkungan mereka. Antibody yang dihasilkan kemudian menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen dengan antibody, menyebabkan pelepasan produk sel-sel mast (disebut mediator) seperti histamine, bradikinin, dan prostaglandin serta anapilaksis dari substansi yang bereaksi lambat. Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan napas, menyebabkakn5

bronkospasme, pembengkakakn membrane mukosa, dan pembentukan mucus yang sangat banyak. Sistem sarap otonom mempersarapi paru. Tonus otot bronchial diatur oleh impuls saraf vagal melalui sistem parasimpatis. Pada asma idiopatik atau nonalergi, ketika ujung saraf pada jalan napas dirangsang oleh factor seperti infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi, dan polutan, jumlah asetilkolin yang dilepaskan meningkat. Pelepasan asetilkolin ini secara langsung menyebabkan bronkokonstriksi juga merangsang pembentukan mediator kimiawi yang dibahas di atas. Individu dengan asma dapat mempunyai toleransi rendah terhadap respon parasimpatis. 2.1.4 Tanda dan gejala 1. Batuk 2. Dispnea 3. Mengi 4. Hipoksia 5. Takikardi 6. Berkeringat 7. Pelebaran tekanan nadi 2.1.5. Pemeriksaan fisik Dari hasil wawancara maka perawat akan dapat lebih terfokus kepada satu sistem tubuh yang terkait dengan penyakit yang diderita klien. Ada 2 metode pendekatan dalam pemeriksaan fisik yaitu pendekatan sistem tubuh dan pendekatan head to toe (ujung kepala ke kaki). Sangat direkomendasikan kita mengkombinasikan kedua pendekatan tersebut sangat baik jikat kita sebagai perawat memulai pemeriksaan fisik dari kepala dan leher, kemudian ke dada, dan abdomen, daerah pelvis, genital area, dan terakhir di ekstremitas (tangan dan kaki). Dalam hal ini dapat saja beberapa sistem tubuh dapat dievaluasi sekaligus, sehingga pendokumentasiannya dapat6

dilakukan melalui pendekatan sistem tubuh. Tehnik yang dilalkukan meliputi : inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Umummnya semua berurutan, kecuali pengkajian fisik di abdomen, yang auskultasi dilakukan setelah inspeksi. Pemeriksaan fisik yang penting adalah meliputi : a. tanda-tanda vital/ vital sign (suhu, nadi, pernapasan, dan tekanan darah) b. observasi keadaan umum pasien dan perilakunya c. kaji adanya perubahan penglihatan dan pendengaran d. pengkajian head to toe seluruh sistem tubuh dengan

memaksimalkan tehnik inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. 1. Sistem Saraf Pusat a. kaji LOC (level of consiousness) atau tingkst kesadaran : dengan melakukan pertanyaan tentang kesadaran pasien terhadap waktu, tempat, dan orang. b. Kaji status mental c. Kaji tingkat kenyamanan, adanya nyeri dan termasuk lokasi, durasi tipe dan pengobatannya. d. Kaji fungsi sensoris dan tentukan apakah normal atau mengalami gangguan. Kaji adanya hilang rasa, rasa terbakar/panas. e. Kaji fungsi motorik seperti : genggaman tangan, kekuatan otot, pergerakan dan postur f. Kaji adanya kejang atau tremor g. Kaji catatan penggunaan obat dan diagnostik tes yang

mempengarhi SSP.

7

2. Sistem Kardiovaskuler a. kaji nadi : frekuensi, irama, kualitas (keras dan lemah) serta tanda penurunan kekuatan/pulse defisit b. periksa tekanan darah : kesamaan antara tangan kanan dan kiri atau postural hipotensi c. inspeksivena jugularis sseperti distensi, dengan membuat posisi semi fowlers d. cek suhu tubuh dengan metode yang tepat, atau palp