kmb iii.docx

Download KMB III.docx

Post on 19-Dec-2015

221 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB IITINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DASAR MEDIK

0. Definisi Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. Umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sering disebut rinosinusitis. Penyebab utamanya adalah selesma (common cold) yang merupakan infeksi virus, yang selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri. Sinusitisadalah : merupakan penyakit infeksi sinus yangdisebabkan oleh kuman atau virus. Sinusitis mencakup proporsi yang tinggi dalam infeksi saluran pernapasan atas.

0. KlasifikasiSinusitis dibagi menjadi : Sinusitis maksilarisSinusitis pada anak merupakan salah satu penyakit yang penting diantara penyakit peradangan jalan pernafasan, tetapi keadaan ini sering tidak dipikirkan karena disamping gejala subjektif minimal, juga karena masih kurangnya perhatian para dokter terhadap penyakit ini, sehingga biasanya penderita hanya di diagnosis sebagai rinitis akut.

Sinusitis Akut Perubahan patologis mukosa sama seperti pada peradangan akut jaringan lain, yaitu vasodilatasi diikuti oleh keluarnya serum dan leukosit terutama sel polimorfonukleus, jaringan menjadi kemerahan, edema oleh kaki karena obstruksi, kembalinya cairan tubuh melalui vena dan saluran getah bening, serta keluarnya cairan melalui dinding kapiler kedalam cairan melalui dinding kapiler kedalam jaringan.Penyembuhan bergantung kepada drainase cairan dan resorpsi cairan interseluler kedalam kapiler dan saluran getah bening. Bila penyumbatan dan edema masih tersisa akan terjadi degenerasi sel sehingga timbul perubahan yang sifatnya nekrotik. Sinusitis akut dapat dibagi menjadi dua, yaitu kataral dan supuratif. Sinusitis KronikEggston membuat klasifikasi sesuai dengan perubahan patologis yang ditemukan, yaitu : Sinusitis hipertrofik/sinusitis polipoidPerubahan dimulai dengan periflebitis atau perilimfangitis. Bila serangan berulang akan menyebabkan perubahan fibrotik yang permanen dan memperrmudah serangan berikutnya. Pada peradangan kronik, perubahan vena dan saluran getah bening menyebabkan edema, mukosa yang polipoid, periosteum edematous dan rerafaksi tulang.

Sinusitis sklerotik/sinusitis atrofikPada tingkat permulaan terjadi reaksi seluler sekitar arteri atau arteriol, kemudian pembuluh darah menebal, lumen menyempit dan terjadi endarteritis atau trombosis. Kemudian akan terjadi atrofi dan nekrosis pada suatu tempat serta hipertrofi atau polipoid pada tempat lain.

Sinusitis hipertroik papilerJarang ditemukan. Tampak metaplasi epitel torak bersilia menjadi epitel khusus berlapis atau epitel khusus berlapis atau epitel hiperplasitik papiler. Hal ini sering menimbulkan kekeliuran akan tumor.

0. Anatomi Fisiologi

a. Sinus MaxillarisSinus maxillaris (antrum Highmori) adalah sinus yang pertama berkembang. Struktur ini biasanya terisi cairan saat lahir. Pertumbuhan sinus ini terjadi dalam dua fasesela pertumbuhan tahun 0-3 dan 7-12. Selama fase terakhir, pneumatisasi menyebar lebih ke arah inferior ketika gigi permanen erupsi. Pneumatisasi dapat sangat luas hingga akargigi terlihat dan selapis tipis jaringan lunak menutupi mereka.

StrukturSinus maxillaris dewasa berbentuk piramida yang bervolume sekitar 15 ml (34x33x23mm). Basis sinus adalah dinding nasus dengan puncak menunjuk ke arah processuszygomaticus. Dinding anterior mempunyai foramen infraorbital yang terletak pada parsmidsuperior yang dilalui oleh nervus infraorbital pada atap sinus dan keluar melaluiforamen tersebut. Bagian tertipis dinding anterior terletak di superior gigi caninus padafossa canina. Atap dibentuk oleh lantai cavum orbita dan dipisahkan oleh perjalanannervus infraorbitalis. Dinding posterior tidak jelas. Di sebelah posterior dinding initerdapat fossa pterygomaxillaris yang dilewati arteri maxillaris interna, ganglionsphenopalatina dan canalis Vidian yang dilewati nervus palatinus mayor dan foramenrotundum. Lantai, seperti didiskusikan di atas, bervariasi ketinggiannya. Dari lahir hinggausia 9 tahun, lantai sinus berada di atas cavitas nasalis. Pada usia 9 tahun, lantai sinusbiasanya berada sejajar dengan lantai nasus. Lantai biasanya terus berkembang ke inferiorseiring dengan pneumatisasi sinus maxillaris. Karena hubungannya berdekatan dengangigi geligi, penyakit gigi dapat menyebabkan infeksi sinus maxillaris dan ekstraksi gigi dapat mengakibatkan fistula oroantral.

Suplai Darah

Sinus maxillaris disuplai oleh arteri maxillaris interna. Arteri ini termasukmempercabangkan arteri infraorbitalis (berjalan bersama nervus infraorbitalis), sphenopalatina rami lateralis, palatina mayor dan arteri alveolaris. Drainase vena berjalandi sebelah anterior menuju vena facialis dan di sebelah posterior menuju vena maxillarisdan jugularis terhadap sistem sinus dural.

Inervasi

Sinus maxillaris diinervasi oleh rami maxillaris. Secara rinci, nervus palatina mayor dannervus infraorbital.

Struktur Terkait (Ductus nasolacrimalis)

Ductus nasolacrimalis merupakan drainase saccus lacrimalis dan berjalan dari fossalacrimalis pada cavum orbita, dan bermuara pada bagian anterior meatus nasalis inferior.Ductus terletak sangat berdekatan dengan ostium maxillaris (kira-kira 4-9 di sebelahanterior ostium.

Ostium Natural

Ostium maxillaris terletak di bagian superior dinding medial sinus. Ostium inibiasanya terletak setengah posterior infundibulum ethmoidalis atau di sebelah posteriorsepertiga inferior processus uncinatus. Tepi posterior ostia bersambungan dengan laminapapyracea, sehingga menjadi patokan batas lateral diseksi bedah. Ukuran ostium kira-kira2,4 mm tetapi dapat bervariasi dari 1 17 mm. Delapan puluh delapan persen ostiummaxillaris tersembunyi di posterior processus uncinatus dan dengan demikian tidak dapatterlihat dengan endoskopi.

Ostium accessoris/ Fontanella Anterior/ Posterior

Ostium ini non-fungsional dan berfungsi untuk drainase sinus jika ostium naturaltersumbat dan tekanan atau gravitasi intrasinus menggerakkan material keluar dariostium. Ostium accessoris biasanya ditemukan di fontanela posterior.

b. Sinus Ethmoidalis

Sinus ethmoidalis terlihat jelas sebagai struktur yang berisi cairan pada bayi yangbaru lahir. Selama perkembangan fetus, cellula ethmoidalis anterior berkembang terlebihdahulu, yang kemudian diikuti dengan cellula ethmoidalis posterior. Cellula berkembangbertahap dan berukuran optimal pada usia 12 tahun. Cellula biasanya tidak nampak padaradiografi hingga usia satu tahun. Septa bertahap menipis dan berpneumatisasi ketika usiabertambah. Cellula ethmoidalis adalah sinus yang paling bervariasi dan kadangditemukan di superior cavum orbita, lateral terhadap sinus sphenoidalis, ke arah atapsinus maxillaris dan di sebelah superoanterior sinus frontalis. Cellula-cellula ini memilikinama. Cellula di sebelah superior cavum orbit disebut cellula supraorbital dan ditemukanpada sekitar 15% pasien. Invasi cellula ethmoidalis hingga lantai sinus frontalis disebutbulla frontalis. Perluasan hingga ke concha nasalis media disebut concha bullosa. Celluladi atap sinus maxillaris (infraorbital) disebut cellula Haller, dan ditemukan pada 10%populasi. Cellula ini dapat menyumbat ostium, menyempitkan infundibulum danmengakibatkan gangguan fungsi normal sinus. Sedangkan cellula yang meluas secaraanterolateral ke arah sinus sphenoidalis disebut cellula Onodi (10%). Variabilitas umumcellula ini menjadikan pencitraan preoperatif penting untuk assesment anatomi individupasien.

Struktur

Cellula ethmoidalis posterior dan anterior bervolume 15 ml (3,3 x 2,7 x 1,4 cm). Cellulaethmoidalis berbentuk seperti piramida dan terbagi menjadi cellula kecil jamak yangdipisahkan oleh septum tipis. Atap cellula ethmoidalis terdiri atas struktur penting. Atapcellula ethmoidalis melandai ke posterior (15 derajat) dan medial. Dua-pertiga anterioratap tebal dan kuat dan terdiri atas os frontal dan foveola ethmoidalis. Sepertiga posterior lebih superior di sebelah lateral dan melandai ke inferior ke arah lamina et foraminacribosa. Perbedaan ketinggian antara atap lateral dan medial bervariasi, antara 15 17mm. Bagian posterior cellula ethmoidalis berbatasan dengan sinus sphenoidalis. Dindinglateral adalah lamina papyracea/ lamina orbitalis.Suplai Darah

Sinus ethmoidalis disuplai dari arteri carotis interna dan externa. Arterisphenopalatina dan arteri opthalmicus (yang bercabang menjadi arteri ethmoidalisanterior dan posterior) mensuplai sinus. Drainase vena mengikuti aliran arteri sehinggadapat mengetahui infeksi yang terjadi intrakranial.

Inervasi

Nervus maxillaris dan mandibularis menginervasi sinus ethmoidalis. Nervusmaxillaris menginervasi bagian superior sedangkan nervus mandibularis menginervasiregio inferior. Inervasi parasimpatis melalui nervus Vidian. Inervasi simpatis melaluiganglion simpatis cervicalis dan melalui arteri ke arah mukosa sinus.

Struktur Terkait (Lamella Basalis Concha Nasalis Media)

Struktur ini memisahkan antara cellula ethmoidalis anterior dan posterior;merupakan perlekatan concha nasalis media dan berjalan pada tiga bidang yang berbedadalam perjalanannya dari anterior dan posterior. Bagian paling anterior terletak vertikaldan terinsersi pada crista ethmoidalis dan basis cranii. Sepertiga media berjalan oblik danterinsersi pada lamina papyracea. Sepertiga posterior berjalan horizontal dan berinsersipada lamina papyracea. Ruang di sebelah inferior concha nasalis media diistilahkanmeatus nasi media, yang menjadi drainase sinus maxxillaris, sinus frontalis dan sinusethmoidalis. Kerusakan akibat bedah terhadap bagian anterior atau posterior conchanasalis media dapat melabilkan struktur ini dan di sebelah anterior berisiko merusaklamina et foramina cribosa.

Cellula Ethmoidalis Anterior dan Posterior

Cellula ethmoidalis anterior terletak anterior terhadap lamella basalis. Cellula ethmoidalisanterior berdrainase ke meatus nasi me