portofolio ipd-intoksikasi organofosfat

of 19/19
PORTOFOLIO INTOKSIKASI ORGANOFOSFAT DERAJAT 2 Disusun sebagai syarat kelengkapan program dokter internship oleh : dr. Daniel Edbert Pendamping : dr. Hj. Rahmawati

Post on 17-Feb-2016

49 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ilmu penyakit dalam

TRANSCRIPT

PORTOFOLIOINTOKSIKASI ORGANOFOSFAT DERAJAT 2Disusun sebagai syarat kelengkapan program dokter internship oleh :

dr. Daniel EdbertPendamping :dr. Hj. RahmawatiRSUD KABUPATEN BALANGANKALIMANTAN SELATAN2015

BERITA ACARA PRESENTASI PORTFOLIO

Pada hari ini tanggal ________________________telah dipresentasikan portfolio oleh :

Nama peserta

: dr.Daniel EdbertDengan judul/topik: Intoksikasi Organofosfat Derajat 2Nama pendamping: dr. Hj. RahmawatiNama wahana

: RSUD Balangan, Kabupaten Balangan, Provinsi Kalimantan SelatanNoNama Peserta PresentasiNoTanda Tangan

11

22

33

44

55

66

77

88

99

1010

1111

1212

1313

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.

Pendamping

( dr. Hj. Rahmawati )PORTOFOLIO PENYAKIT DALAMNama Peserta dr. Daniel Edbert

Nama WahanaRSUD Balangan, Kabupaten Balangan

TopikIntoksikasi Organofosfat Derajat 2

Tanggal (kasus)29 April 2013

Nama PasienNy. SNo. RM 022211

Tgl PresentasiPendampingdr. Rahmawati

Tempat PresentasiRSUD Balangan, Kabupaten Balangan

OBYEKTIF PRESENTASI

Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka

Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa

Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil

Deskripsi :

Pasien datang dengan penurunan kesadaran setelah salah meminum obat pestisida.

Tujuan : Mengetahui langkah tatalaksana tepat pada kasus keracunan organofosfat.

Bahan Bahasan: Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit

Cara Membahas: Diskusi Presentasi Kasus Email Pos

DATA UTAMA UNTUK BAHAN DISKUSI

1. Diagnosis : Intoksikasi Organofosfat Derajat 2.

2. Gambaran Klinis

Pasien datang dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 1 jam SMRS akibat meminum obat pestisida. Keluarga pasien mengatakan pasien salah mengambil botol yang dikiranya Sakatonik Liver (c). Keadaan umum tampak lemas, kesadaran somnolen-apatis, nafas lambat ireguler, nadi lambat regular.

3. Riwayat pengobatan:

Sebelum sakit, pasien tidak pernah berobat ke tempat/dokter lain.

4. Riwayat kesehatan / penyakit : Sebelum sakit, pasien tidak pernah menderita sakit apapun.

5. Riwayat keluarga : Tidak ada keluarga dengan riwayat penyakit yang sama. Tidak ada riwayat alergi.

6. Riwayat pekerjaan :

Saat ini pasien bekerja sebagai petani.

7. Kondisi lingkungan sosial dan fisik :

Pasien tinggal di kawasan padat penduduk dengan sanitasi baik.

8. Lain-lain : -

Daftar Pustaka :

1. Eddlestone M, Dawson A, Karalliedde L, Dissanayake W, Hittarage A, Azher S, et al. Early management after self-poisoning with an organophosphorus or carbamate pesticide a treatment protocol for junior doctors. Crit Care. 2004. 8:R391-R397. Available online http://ccforum.com/content/8/6/R3912. Bardin PG, van Eeden SF, Joubert JR. Intensive care management of acute organophosphate poisoning. S Afr Med J 1987;72:593-97 3. Robenshtol E, Luria S. Tashma Z, Hourvitz A. Adverse reaction to atropine and the treatment of organophosphate intoxication. IMAJ. 2002; 4; 535-39

Hasil Pembelajaran :1. Memahami diagnosis dan klasifikasi intoksikasi organofosfat2. Memahami tatalaksana gawat darurat pada intoksikasi organofosfat

Data Pasien

Nama: Ny. S

Usia: 55 th

Alamat: BalidaAgama: Islam

Suku: Banjar

Pekerjaan: IRT

Biaya: Jamkesda Anamnesis

Pasien datang diantar keluarga dengan keluhan penurunan kesadaran tiba-tiba setelah tidak sengaja meminum pestisida. Keluarga pasien menyatakan pasien salah mengambil botol pestisida yang dikiranya Sakatonik Liver. Saat ditemukan oleh anak pasien, pasien sedang tergeletak dilantai dalam posisi tertelungkup, dengan cairan kekuningan berbau pestisida keluar dari mulut yang terbuka, pasien tidak merespon panggilan dan cenderung mengantuk. Waktu antara pasien ditemukan lemas sampai ke rumah sakit sekitar 30 menit. Waktu antara pasien di IGD sampai ke ICU sekitar 1 jam.

Berdasarkan laporan dari IGD (08.30): Keadaan umum pasien tampak lemah, Kesadaran Somnolen, GCS E3 Vx M1, Tekanan Darah 140/75, Nadi 97x/min, Pernafasan 38x/min, Suhu 34,8oC. Diberikan IVFD NaCl 20 tpm, Furosemide 40mg IV bolus pelan, Pemasangan NGT, DC Catheter, Pantomex 2x20mg, Antrain 3x1 amp, Cefotaxime 2x1g. Pasien dirawat di ICU dengan instruksi observasi kesadaran, O2 8 Lpm via simple mask, kumbah lambung dengan NaCl 100cc/jam, Diet Cair 6x200cc. Pemeriksaan Fisik tanggal 29/4/15 di ICU (19.00)

KU: Tampak lemas

Kes: Somnolen-apatis GCS 13 (E4 V2 M6)

Keadaan gizi: normal

Berat badan: 40 kg

Tinggi badan: 140 cm

IMT: 20,4 kg/m2

Tanda Vital:

Monitor: HR 50-75x/Min irregular dengan VES, TD 100x/min, RR 13x/min, lambat, irreguler, Suhu 34,5oC, SaO2 100%, Plethysmograph regular, sempit.

Kulit: kuning langsat, turgor baik

Kepala: normosefali, tidak ada deformitas, tidak ada nyeri tekanRambut: hitam, lurus, tersebar merata, tidak mudah dicabut

Telinga: daun telinga tidak ada kelainan, liang telinga lapang, membran timpani intak, serumen tidak ada, sekret tidak ada.

Mata: miosis +/+, ukuran pinpoint, refleks cahaya -/-Hidung: septum nasi ditengah, tidak ada deformitas, tidak ada sekret. Tenggorokan: tonsil T1/T1, faring tidak hiperemisMulut: mukosa oral basah, hipersalivasi +Leher: tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, tiroid tidak membesarParu :Inspeksi : Gerakan pernapasan telihat simetris, pola nafas lambat, dangkal

Palpasi : Gerakan pernapasan teraba simetris

Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru

Auskultasi : Suara napas bronkovesikular +/+, ronki basah halus +/+, wheezing -/-

Jantung :Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS IV linea midklavikularis sinistra

Perkusi : batas jantung kanan linea parasternalis dextra, batas jantung kiri 1 jari medial linea midklavikularis sinistra, batas atas jantung ICS III Auskultasi : Bunyi jantung 1 dan 2 reguler, murmur -, gallop -

Abdomen :Inspeksi : tampak datar

Palpasi : supel, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-), tes undulasi (-)

Perkusi : timpani di seluruh kuadran, shifting dullness (-)

Auskultasi : bising usus 1-2x/menit lemah

Ekstremitas: akral hangat, CRT80 kali/menit, Pupil sudah tidak miosis lagi, Ketiak kering, Tekanan darah sistol >80mmHg. Target pertama yang harus dicapai adalah paru-paru yang bebas dari secret baru targetkan pemberian atropine untuk klinis yang lain.

Tidak perlu menargetkan laju nadi sampai 120-140 kali/menit. Hal ini lebih menandakan toksisitas atropine disbanding atropinisasi. Laju nadi yang sedemikian tinggi dapat menyebabkan komplikasi lain terutama pada kelainan jantung yang sudah ada dapat terjadi infark myokardiak akut pada kasus seperti itu. Tetapi takikardia bukan merupakan kontraindikasi atropine jika gejala klinis lain mengarahkan ke keracunan organofosfat.Aspirasi pneumonia dapat ditandai dengan rhonki basah halus. Usahakan bedakan antara gejala aspirasi dengan bronchorrhea. Cipratan organofosfat pada mata juga dapat menyebabkan myosis yang dapat tidak merespon pada atropinisasi namun miosis yang simetris biasanya disebabkan karena gejala sistemik yang disebabkan oleh ingesti organofosfat. Dilatasi pupil biasa terlambat. Karena miosis tidak mengacam nyawa dan parameter klinis lainnya berespon lebih cepat, maka masuk akal untuk menunggu pupil untuk berdilatasi. Periksa secara berkala dan teliti perbaikan tanda-tanda klinis lain. Ketika semua gejala sudah membaik dan memuaskan, pasien telah meerima cukup atropine dan telah teratropinisasiUntuk rumatan, berikan dosis atropine 10-20% dari total kebutuhan atropine yang diberikan pada saat atropinisasi setiap jam. Jika Dosis diatas 30 mg, maka lebih sedikit dosis rumatan yang diperlukan.

Pantau pasien perjam selama 6 jam untuk memeriksa apakah dosis rumatan cukup dan tidak ada tanda-tanda toksisitas atropine seperti agitasi, delirium, hiperpireksia, retensi urin, dan hilangnya bising usus. Periksa juga tanda-tanda tertunda toksisitas organofosfat seperti gagal nafas. Untuk pemeriksaan toksisitas atropine, jangan hanya berpatokan pada laju nadi dan ukuran pupil karena kedua hal tersebut bergantung pada keseimbangan zat nikotinik dan muskarinik. Takikardia juga dapat muncul pada kasus koinfeksi pneumonia, hipovolemia, hipoksia, dan withdrawal alcohol, dan bukan merupakan kontraindikasi pemberian atropine. Konfirmasi terhadap pejanan senyawa kolinergic tidak dilakukan pada saat pasien masuk. Terapi kegawatdaruratan dilakukan berdasarkan pertimbangan klinis, bukan berdasarkan ada atau tidaknya pestisida yang teringesti.

Pertimbangkan lavage lambung setelah pasien stabil atau teratropinisasi. Minimal sampai pasien sudah terintubasi. Ipekak tidak boleh digunakan pada keracunan pestisida, efektivitas lavase lambung dan karbon aktif belum jelas. Lavase lambung dilakukan pada 1-2 jam pertama pasien masuk dan dengan gejala yang berat. Bilas lambung dengan 300 cc NaCl, biarkan keluar seluruhnya sebelum memasukkan 300cc berikutnya. Hitung jumlah cairan yang keluar untuk memastikan tidak ada lagi cairan yang tertinggal dilambung, karena dapat menyebabkan aspirasi.

DAFTAR PUSTAKA1. Eddlestone M, Dawson A, Karalliedde L, Dissanayake W, Hittarage A, Azher S, et al. Early management after self-poisoning with an organophosphorus or carbamate pesticide a treatment protocol for junior doctors. Crit Care. 2004. 8:R391-R397. Available online http://ccforum.com/content/8/6/R3912. Bardin PG, van Eeden SF, Joubert JR. Intensive care management of acute organophosphate poisoning. S Afr Med J 1987;72:593-97 Robenshtol E, Luria S. Tashma Z, Hourvitz A. Adverse reaction to atropine and the treatment of organophosphate intoxication. IMAJ. 2002; 4; 535-39

3. Persson H, Sjberg G, Haines J, Pronczuk de Garbino J. Poisoning Severity Score: Grading of acute poisoning. J Toxicology - Clinical Toxicology (1998) 36:205-13