intoksikasi co

Click here to load reader

Post on 22-Dec-2015

38 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

emergensi

TRANSCRIPT

INTOKSIKASI KARBON MONOKSIDA

KRISANTUS DESIDERIUS JEBADA (NIM : 102011338)Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Telp. 021-56942061

Pendahuluan

Efek mematikan dari karbon monoksida (CO) telah diketahui sejak jaman Romawi kuno dan dipakai dalam mengeksekusi para tahanan. Pada tahun 1857, Claude Bernard mempostulatkan bahwa efek mematikan dari CO disebabkan karena ikatannya dengan hemoglobin yang sangat kuat membentuk carboksihemoglobin mengalahkan ikatan oksigen-hemoglobin.1

Karbon monoksida dikenal juga sebagai silent killer karena tidak berwarna dan tidak memiliki aroma apapun. Setiap tahun di Inggris, 50 orang meninggal dan 200 lainnya jatuh sakit karena keracunan karbon monoksida.2

Dalam paper ini akan di bahas mengenai penegakkan diagnosis okupasi sesuai dengan skenario yang diberikan. Serta anjuran, terutama pencegahan tehadap keracunan gas CO ini.

Skenario 4

Seorang dokter dan empat rekan kerjanya ditemukan telah meninggal dunia dalam ruangan jaga klinik 24 jam.

Memakai genset berbahan bakar bensin dan diletakkan di dalam ruangan yang sama.

Diagnosis Klinis

Dalam kasus ini tidak dilakukan lagi diagnosis klinis karena orang-orang yang mengalami keracunan CO telah meniggal. Tetapi berikutnya akan di bahas mengenai cara menegakkan diagnosis klinis untuk kasus-kasus PAK/PHK.

Anamnesis Klinis. Anamnesis tentang riwayat penyakit dan riwayat pekerjaan dimaksudkan untuk mengetahui kemungkinan salah satu faktor di tempat kerja, pada pekerjaan dan atau lingkungan kerja menjadi penyebab penyakit akibat kerja. Riwayat penyakit meliputi antara lain awal-mula timbul gejala atau tanda sakit, gejala atau tanda sakit pada tingkat dini penyakit, perkembangan penyakit, dan terutama penting hubungan antara gejala serta tanda sakit dengan pekerjaan dan atau lingkungan kerja. Riwayat pekerjaan harus ditanyakan kepada penderita dengan seteliti telitinya dari permulaan sekali sampai dengan waktu terakhir bekerja. Jangan sekali-kali hanya mencurahkan perhatian pada pekerjaan yang dilakukan waktu sekarang, namun harus dikumpulkan informasi tentang pekerjaan sebelumnya, sebab selalu mungkin bahwa penyakit akibat kerja yang diderita waktu ini penyebabnya adalah pekerjaan atau lingkungan kerja dari pekerjaan terdahulu.2,3

Hal ini lebih penting lagi jika tenaga kerja gemar pindah kerja dari satu ke pekerjaan lainnya. Buatlah tabel yang secara kronologis memuat waktu, perusahaan tempat bekerja, jenis pekerjaan, aktivitas pekerjaan, faktor dalam pekerjaan atau lingkungan kerja yang mungkin menyebabkan penyakit akibat kerja. Penggunaan kuestioner yang direncanakan dengan tepat sangat membantu. Perhatian juga diberikan kepada hubungan antara bekerja dan tidak bekerja dengan gejala dan tanda penyakit. Pada umumnya gejala dan tanda penyakit akibat kerja berkurang, bahkan kadang-kadang hilang sama sekali, apabila penderita tidak masuk bekerja; gejala dan tanda itu timbul lagi atau menjadi lebih berat, apabila tenaga kerja kembali bekerja.3

Informasi dan data hasil pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, pemeriksaan kesehatan sebelum penempatan kerja, pemeriksaan kesehatan berkala dan pemeriksaan kesehatan khusus sangat penting artinya bagi keperluan menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja. Akan lebih mudah lagi menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja, jika tersedia data kualitatif dan kuantitatif faktor-faktor dalam pekerjaan dan lingkungan kerja yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan penyakit akibat kerja. Data tentang identifikasi, pengukuran, evaluasi dan upaya pengendalian tentang faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan tenaga kerja sangat besar manfaatnya.3

Pemeriksaan klinisdimaksudkan untuk menemukan gejala dan tanda yang sesuai untuk suatu sindrom, yang sering-sering khas untuk suatu penyakit akibat kerja.

Pemeriksaan tanda-tanda vital penting dilakukan juga untuk mengetahui keadaan vital pasien.

Pemeriksaan laboratorium. Analisa kadar HbCO membutuhkan alat ukur spectrophotometric yang khusus. Kadar HbCO yang meningkat menjadi signifikan terhadap paparan gas tersebut. Sedangkan kadar yang rendah belum dapat menyingkirkan kemungkinan terpapar, khususnya bila pasien telah mendapat terapi oksigen 100% sebelumnya atau jarak paparan dengan pemeriksaan terlalu lama. Pada beberapa perokok, terjadi peningkatan ringan kadar CO sampai 10%. Pemeriksaan gas darah arteri juga diperlukan. Tingkat tekanan oksigen arteri (PaO2) harus tetap normal. Walaupun begitu, PaO2 tidak akurat menggambarkan derajat keracunan CO atau terjadinya hipoksia seluler. Saturasi oksigen hanya akurat bila diperiksa langsung, tidak melaui PaO2 yang sering dilakukan dengan analisa gas darah. PaO2 menggambarkan oksigen terlarut dalam darah yang tidak terganggu oleh hemoglobin yang mengikat CO.2,4

Pemeriksaan Imaging. X-foto thorax. Pemeriksaan x-foto thorax perlu dilakukan pada kasus-kasus keracunan gas dan saat terapi oksigen hiperbarik diperlukan. Hasil pemeriksaan xfoto thorax biasanya dalam batas normal. Adanya gambaran ground-glass appearance, perkabutan parahiler, dan intra alveolar edema menunjukkan prognosis yang lebih jelek.CT scan. Pemeriksaan CT Scan kepala perlu dilakukan pada kasus keracunan berat gas CO atau bila terdapat perubahan status mental yang tidak pulih dengan cepat. Edema serebri dan lesi fokal dengan densitas rendah pada basal ganglia bisa didapatkan dan halo tersebut dapat memprediksi adanya komplikasi neurologis. Pemeriksaan MRI lebih akurat dibandingkan dengan CT Scan untuk mendeteksi lesi fokal dan demyelinasi substansia alba dan MRI sering digunakan untuk follow up pasien. Pemeriksaan CT Scan serial diperlukan jika terjadi gangguan status mental yang menetap. Pernah dilaporkan hasil CT Scan adanya hidrosefalus akut pada anak-anak yang menderita keracunan gas CO.2,4

Elektrokardiogram. Sinus takikardi adalah ketidaknormalan yang sering didapatkan. Adanya aritmia mungkin disebabkan oleh hipoksia iskemia atau infark. Bahkan pasien dengan kadar HbCO rendah dapat menyebabkan kerusakkan yang serius pada pasien penderita penyakit kardiovaskuler. Pulse oximetry. Cutaneus pulse tidak akurat untuk mengukur saturasi hemoglobin yang dapat naik secara semu karena CO yang mengikat hemoglobin.5

Ini merupakan tahap pertama dalam diagnosis okupasi. Dalam tahap ini dilakukan prosedur medis sesuai dengan keadaan yang di alami oleh pasien - pekerja. Dapat dilakukan pemeriksaan penunjang atau pemeriksaan tambahan serta bisa dilakukan rujukan jika memang dibutuhkan.

Dalam skenario ini, kelima tenaga kerja tersebut telah meninggal. Jadi tidak mungkin dilakukan diagnosis klinis lagi selain otopsi.

Tetapi untuk diagnosis keracunan karbon monoksida, tanda atau gejala klinis yang tampak sangat ditentukan oleh konsentrasi dan lama paparan terhadap gas karbon monoksida. Gejala kardiovaskular dan juga neurobehavioural dapat terjadi pada paparan CO dengan konsentrasi rendah.

CO-oximeter digunakan untuk menentukan level karboxihemoglobin di dalam tubuh. Pulse CO-oximeter digunakan juga untuk memperkirakan kadar CO dengan menggunakan finger clip jadi bersifat non invasif. Kerja alat ini adalah menggunakan sinar cahaya dengan panjang gelombang berbeda dan kemudian mengukur absorpsi dari sinar tersebut oleh berbagai tipe hemoglobin.1,2

Paparan yang lama atau paparan akut dengan konsentrasi tinggi sering menyebabkan koma atau pun kematian. Onset pada keracunan CO kronik sering biasanya manifestasi klinisnya tidak jelas dan sering disalahartikan sebagai flu, depresi, keracunan makanan atau pada anak-anak dapat menyebabkan gastroenteritis. Dan biasanya pada satu keluarga yang terpapar sering memiliki kesamaan gejala.

Gejala yang paling umum adalah sakit kepala, nausea, muntah, dizziness, letargi dan sering merasa kelelahan. Pada infant biasanya iritabel dan nafsu makannya menurun. Tanda-tanda neurologis biasanya termasuk kebingungan, disorientasi, gangguan penglihatan, sinkope dan seizures.

Pada keracunan akut, kelainan juga sering terjadi pada postur dan tonus otot seperti cogwheel rigidity, opistotonus, dan flaksiditi atau pun spastisiti. Orang dewasa yang memiliki penyakit jantung koroner dapat mengalami gejala seperti angina, aritmia dan miokardial infark. Pendarahan retina dan cherry red skin jarang terlihat. Organ lain seperti ginjal, liver dan pankreas biasanya jarang terkena efek keracunan karbon monoksida ini.

Keracunan karbon monoksida di diagnosis biasanya dengan mengukur kadar karboxihaemoglobin dalam darah arteri atau vena yang telah ditambah heparin. Gejala biasanya baru tampak ketika konsentrasi karboxihaemoglobin lebih dari 10%. Tetapi hubungan antara kadar CO dalam darah dengan tingkat keparahan gejalnya berbeda-beda pada setiap orang. Kadar CO dalam darah pada orang normal sekitar 1% dan dapat meningkat sampai 15% pada perokok. Pada penderita anemia hemolitik dan wanita hamil kadar CO dalam darah dapat mencapai 5%. Tetapi pada kadar yang lebih tinggi dapat menyebabkan retardasi pertumbuhan janin pada ibu hamil.1

Pajanan

Keracunan karbon monoksida terjadi setelah inhalasi CO dengan dosis cukup. Karbon monoksida adalah gas toksik, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan tidak beriritasi jadi cukup susah di deteksi tanpa bantuan alat.1

Sebenarnya karbon monoksida diproduksi secara endogen dalam jumlah sedikit dari hasil katabolisme heme (protoporfirin menjadi bilirubin). Karbon monoksida yang berasal dari lingkungan merupakan hasil pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung karbon (coal, petroleum, peat dan gas alam). Oleh karena hampir semua alat-alat industri yang menggunakan bahan bakar seper