Case Report Session Sydney

Download Case Report Session Sydney

Post on 17-Oct-2015

27 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>CASE REPORT SESSION</p> <p>VERTIGO DENGAN HIPERTENSI GRADE 1 PADA WANITA PARUH BAYA, SINGLE PARENT DENGAN KEKHAWATIRAN TERHADAP PENYAKITNYA DAN FUNGSI KELUARGA YANG KURANG SEHAT </p> <p>Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik di Bagian Ilmu Kedokteran Keluarga FKIK UMY dan Puskesmas Gedongtengen</p> <p>ar</p> <p>Disusun oleh :SYDNEY NURHIDAYAH RF20080310220Dokter Pembimbing Klinik :dr. SuharnoDokter Pembimbing Fakultas :dr. Kusbaryanto, M. Kes</p> <p>ILMU KEDOKTERAN KELUARGAFAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA2014HALAMAN PENGESAHAN</p> <p>VERTIGO DENGAN HIPERTENSI GRADE 1 PADA WANITA PARUH BAYA, SINGLE PARENT DENGAN KEKHAWATIRAN TERHADAP PENYAKITNYA DAN FUNGSI KELUARGA YANG KURANG SEHAT </p> <p>Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik Di Bagian IlmU Kedokteran Keluarga FKIK UMY dan Puskesmas Gedongtengen </p> <p>Disusun Oleh:SYDNEY NURHIDAYAH RF20080310220</p> <p>Telah disetujui dan dipresentasikan pada tanggaL 8 Februari 2014</p> <p>Oleh :</p> <p>Dokter Pembimbing Fakultas Dokter Pembimbing Klinik</p> <p> dr. Kusbaryanto, M. Kes dr. Suharno</p> <p>MengetahuiKepala Puskesmas Gedongtengen</p> <p>dr. Tri Kusumo Bawono, SE</p> <p>KATA PENGANTAR</p> <p>Assalamualaikum wr. wb.Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat sehat, iman dan Islam sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kepaniteraan klinik dengan judul Vertigo dengan Hipertensi grade 1 pada wanita paruh baya, single parent dengan kekhawatiran terhadap penyakitnya dan fungsi keluarga yang kurang sehat untuk memenuhi sebagian syarat untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik bagian Ilmu Kedokteran Keluarga di Puskesmas Gedongtengen. Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang telah berjuang dengan membawa agama Allah.Banyak hambatan dalam penyusunan makalah ini, namun berkat dukungan dari banyak pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan kepaniteraan klinik kedokteran keluarga ini. Dalam kesempatan ini penulis menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:1. dr. Tri Kusumo Bawono, SE selaku Kepala Puskesmas Gedontengen Yogyakarta.2. dr. Suharno, sebagai dokter pembimbing klinik di Puskesmas Gedongtengen.3. dr. Kusbaryanto, M.Kes, sebagai dokter pembimbing Ilmu Kedokteran Keluarga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan laporan kepaniteraan klinik kedokteran keluarga ini dan selanjutnya.Semoga laporan kepaniteraan klinik kedokteran keluarga ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membacanya.Wassalamualaikum Wr. Wb.</p> <p>Yogyakarta, 26 maret 2014Penyusun,Sydney Nurhidayah RF</p> <p>DAFTAR ISI</p> <p>HALAMAN PENGESAHAN2KATA PENGANTAR3DAFTAR ISI4DAFTAR TABEL6BAB I7PENDAHULUAN7A.Latar Belakang7B.Profil Puskesmas Gedongtengen8C.Rumusan Masalah9D.Tujuan Penelitian9E.Manfaat Penelitian10BAB II11TINJAUAN PUSTAKA11A.Definisi Vertigo11B.Sistem Keseimbangan11C.Patofisiologi Vertigo12D.TATALAKSANA PENDERITA VERTIGO14E.Definisi &amp; Etiologi Hipertensi24F.Klasifikasi Hipertensi25G.Faktor Resiko Hipertensi28H.Diagnosis30I.Komplikasi31J.Penatalaksanaan32BAB III37PRESENTASI KASUS37A.Identitas Pasien37B.Anamnesis37C.Pemeriksaan Fisik39D.Pemeriksaan Penunjang42E.Diagnosis42F.Terapi42G.Pencegahan Untuk Hipertensi43H.Prognosis44BAB IV45PEMBAHASAN45A.Analisis Kasus45B.Analisis Kunjungan Rumah45C.Perangkat Penilaian Keluarga47D.Pelaksanaan Program Pembinaan52E.Daftar Masalah Keluarga53F.Diagnosis Holistik53G.Manajemen Komprehensif53BAB V55KESIMPULAN DAN SARAN55H.Kesimpulan55I.Saran55DAFTAR PUSTAKA56</p> <p>DAFTAR TABEL</p> <p>Tabel 1. Obat-obatan yang digunakan pada terapi simptomatik vertigo (sedatif vestibuler)21Tabel 2. Penyebab hipertensi yang dapat diidentifikasi25Tabel 3. Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC 726Tabel 4. Tabel 4. Klasifikasi Tekanan Darah World Health Organization (WHO) dan International Society Of Hypertension Working Group (ISHWG)26Tabel . Komplikasi Hipertensi31 Tabel 6. Indikasi dan Kontraindikasi Kelas-kelas utama Obat Antihipertensi Menurut ESH.34Tabel 7. Tatalaksana hipertensi menurut menurut JNC735Tabel 8. Pemeriksaan Jantung40Tabel 9. Pemeriksaan Paru41Tabel 10. Pemeriksaan Ekstremitas41Tabel 11. Menu Makanan43Tabel 12. Pelaksanaan Program Pembinaan36Tabel 13. Daftar Masalah Keluarga41</p> <p>BAB IPENDAHULUAN</p> <p>Latar BelakangPuskesmas merupakan unit pelayanan kesehatan yang letaknya berada paling dekat ditengah-tengah masyarakat dan mudah dijangkau dibandingkan dengan unit pelayanan kesehatan lainya (Rumah Sakit Swasta maupun Negeri). Fungsi PUSKESMAS adalah mengembangkan pelayanan kesehatan yang menyeluruh seiring dengan misinya. Pelayanan kesehatan tersebut harus bersifat menyeluruh atau yang disebut dengan Comprehensive Health Care Service yang meliputi aspek promotive, preventif, curative, dan rehabilitatif. Prioritas yang harus dikembangkan oleh PUSKESMAS harus diarahkan ke bentuk pelayanan kesehatan dasar (basic health care services) yang lebih mengedepankan upaya promosi dan pencegahan (public health service).Seiring dengan semangat otonomi daerah, maka PUSKESMAS dituntut untuk mandiri dalam menentukan kegiatan pelayanannya yang akan dilaksanakan. Tetapi pembiayaannya tetap didukung oleh pemerintah. Sebagai organisasi pelayanan mandiri, kewenangan yang dimiliki Puskesmas juga meliputi: kewenangan merencanakan kegiatan sesuai masalah kesehatan di wilayahnya, kewenangan menentukan kegiatan yang termasuk public goods atau private goods serta kewenangan menentukan target kegiatan sesuai kondisi geografi Puskesmas. Jumlah kegiatan pokok Puskesmas diserahkan pada tiap Puskesmas sesuai kebutuhan masyarakat dan kemampuan sumber daya yang dimiliki, namun Puskesmas tetap melaksanakan kegiatan pelayanan dasar yang menjadi kesepakatan nasional.Fungsi puskesmas menurut keputusan menteri kesehatan republik Indonesia No.128/MENKES/SK/II/2004, adalah sebagai pusat penggerakan pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga dalam pembangunan kesehatan, serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama.Vertigo merupakan keluhan yang dapat dijumpai dalam praktek, umumnya disebabkan oleh kelainan /gangguan fungsi alat-alat keseimbangan, bisa alat dan saraf vestibuler, koor-dinasi gerak bola mata (di batang otak) atau serebeler. Penatalaksanaan berupa anamnesis yang teliti untuk mengungkapkan jenis vertigo dan kemungkinan penyebabnya; terapi dapat menggunakan obat dan/atau manuver-manuver tertentu untuk melatih alat vestibuler dan/atau menyingkirkan otoconia ke tempat yang stabil; selain pengobatan kausal jika penyebabnya dapat ditemukan dan diobati.Hipertensi merupakan silent killer (pembunuh diam-diam) yang secara luas dikenal sebagai penyakit kardiovaskular yang sangat umum. Dengan meningkatnya tekanan darah dan gaya hidup yang tidak seimbang dapat meningkatkan faktor risiko munculnya berbagai penyakit seperti arteri koroner, gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Salah satu studi menyatakan pasien yang menghentikan terapi anti hipertensi maka lima kali lebih besar kemungkinannya terkena stroke.Sampai saat ini hipertensi tetap menjadi masalah karena beberapa hal, antara lain meningkatnya prevalensi hipertensi yang belum mendapat pengobatan maupun yang sudah diobati tetapi tekanan darahnya belum mencapai target, serta adanya penyakit penyerta dan komplikasi yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortilitas.Data epidemiologis menunjukkan bahwa dengan makin meningkatnya poulasi usia lanjut, maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar akan bertambah, dimana baik hipertensi sistolik maupun kombinasi hipertensi sistolik dan diastolik sering timbul pada lebih dari separuh orang yang berusia &gt;65 tahun. Selain itu, laju pengendalian tekanan darah yang dahulu terus meningkat, dalam dekade terakhir tidak menunjukkan kemajuan lagi. Dan pengendalian tekanan darah ini hanya mencapai 34% dari seluruh pasien hipertensi.Profil Puskesmas GedongtengenPuskesmas Gedongtengen adalah unit pelaksanaan teknis dinas kesehatan di wilayah kerja Kecamatan Gedontengen. Unit pelaksanaan teknis dinas kesehatan adalah unit yang melaksanakan tugas teknis operasional di wilayah kerja puskesmas sebagai unit pelaksana tingkat pertama pembangunan kesehatan di Indonesia.Luas wilayah Kecamatan Gedongtengen 0,98 km2 dengan pembagian kelurahan menjadi 2 kelurahan yang terdiri dari: Kelurahan Sosromenduran dan Kelurahan Pringgokusuman.Jumlah penduduk Kecamatan Gedongtengen adalah 24.528 jiwa (Dinkes Jogja, 2007). Puskesmas Gedongtengen belum dilengkapi dengan fasilitas rawat inap namun sudah terdapat UGD yang pada saat jam kerja dan pada hari Minggu dapat digunakan. Kegiatan pelayanan umum meliputi balai pengobatan umum (BPU), balai pengobatan gigi (BP Gigi), BKIA/KB, unit farmasi, UKS, konseling gizi, kesehatan lingkungan, promosi kesehatan dan poli lansia, konseling PHBS, konseling psikologi, dan konseling HIV/AIDS serta NAPZA.Untuk mencapai sasaran wilayah kerja Puskesmas Gedongtengen seperti disebut di atas, dokter keluarga juga dapat berperan didalamnya. Pelayanan kedokteran keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh dan memusatkan pelayanannya pada keluarga sebagai suatu unit. Di mana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin pasien, juga tidak boleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu saja.Pelayanan dokter keluarga yang melibatkan dokter keluarga sebagai penapis (goal keeper) di tingkat pelayanan primer, dokter spesialis di tingkat pelayanan sekunder, rumah sakit rujukan, dan sistem jaminan pemeliharaan kesehatan yang berkerja secara bersama-sama menempatkan dokter keluarga pada posisi yang sangat strategis dalam pembangunan kesehatan.Tujuan yang ingin dicapai dalam pelayanan dokter keluarga adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan bagi individu, keluarga dan masyarakat yang bermutu namun terkendali biayanya, yang tercermin dalam tata laksana pelayanan kesehatan yang diberikan oleh dokter keluargaRumusan MasalahBerdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah :1. Faktor resiko apa saja yang ditemukan pada pasien2. Evaluasi terapi dalam rangka pengobatan vertigo dan hipertensi3. Bagaimana fungsi-fungsi keluarga menurut ilmu kedokteran keluarga ditinjau dari aspek fungsi biologis, fungsi afektif, fungsi sosial, fungsi penguasaan masalah, dan fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan.4. Mengetahui intervensi apa yang dapat dilakukan untuk menanganinya.Tujuan Penelitian</p> <p>1. Penulisan laporan kasus kepaniteraan klinik ilmu kedokteran keluarga ini bertujuan untuk memenuhi sebagian syarat mengikuti ujian kepaniteraan klinik di bagian ilmu kedokteran keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.2. Mengetahui dan memahami tentang penyakit Vertigo dan Hipertensi , penyebabnya, serta menerapkan prinsip-prinsip pelayanan kedokteran secara komprehensif dan holistik dan peran aktif dari pasien dan keluarga.Manfaat Penelitian</p> <p>1. Manfaat untuk puskesmasSebagai sarana untuk kerjasama yang saling menguntungkan untuk dapat meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat dan mendapatkan umpan balik dari hasil evaluasi koasisten dalam rangka mengoptimalkan peran puskesmas.2. Manfaat untuk mahasiswaManfaat untuk mahasiswa sebagai sarana untuk menimba ilmu, keterampilan dan pengalaman dalam upaya pelayanan kesehatan dasar dengan segala bentuk keterbatasannya sehingga mahasiswa mengetahui serta memahami kegiatan-kegiatan puskesmas baik dalam segi pelayanan, manajemen, administratif dan karakter perilaku masyarakat dalam pandangannya terhadap kesehatan khususnya dalam bidang ilmu kedokteran keluarga.</p> <p>BAB IITINJAUAN PUSTAKA</p> <p>1. Definisi VertigoVertigo merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek; yang sering digambarkan sebagai rasa berputar, rasa oleng, tak stabil (giddiness, unsteadiness) atau rasa pusing (dizziness); deskripsi keluhan tersebut penting diketahui agar tidak dikacaukan dengan nyeri kepala atau sefalgi, terutama karena di kalangan awam kedua istilah tersebut (pusing dan nyeri kepala) sering digunakan secara bergantian. Vertigo berasal dari bahasa Latin vertere yang artinya memutar merujuk pada sensasi berputar sehingga meng-ganggu rasa keseimbangan seseorang, umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistim keseimbangan. Sistem KeseimbanganSistim keseimbangan tubuh yang melibatkan kanalis semisirkularis sebagai reseptor, serta sistim vestibuler dan serebelum sebagai pengolah infor-masinya; selain itu fungsi penglihatan dan proprioseptif juga berperan dalam memberikan informasi rasa sikap dan gerak anggota tubuh. Sistim tersebut saling berhubungan dan mempengaruhi untuk selanjutnya diolah di susunan saraf pusat (Gambar.1) . </p> <p>Patofisiologi VertigoRasa pusing atau vertigo disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan ketidakcocokan antara posisi tubuh yang sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh susunan saraf pusat. Ada beberapa teori yang berusaha menerangkan kejadian tersebut : 1. Teori rangsang berlebihan (overstimulation) Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebabkan hiperemi kanalis semisirkularis sehingga fungsinya terganggu; akibatnya akan timbul vertigo, nistagmus, mual dan muntah. 2. Teori konflik sensorik Menurut teori ini terjadi ketidakcocokan masukan sensorik yang berasal dari berbagai reseptor sensorik perifer yaitu antara mata/visus, vestibulum dan proprioseptik, atau ketidak-seimbangan/asimetri masukan sensorik dari sisi kiri dan kanan. Ketidakcocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral sehingga timbul respons yang dapat berupa nistagmus (usaha koreksi bola mata), ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler, serebelum) atau rasa melayang, berputar (yang berasal dari sensasi kortikal). Berbeda dengan teori rangsang berlebihan, teori ini lebih menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai penyebab. 3. Teori neural mismatch Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik; menurut teori ini otak mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu; sehingga jika pada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan yang telah tersimpan, timbul reaksi dari susunan saraf otonom.(Gambar. 2) Jika pola gerakan yang baru tersebut dilakukan berulang-ulang akan terjadi mekanisme adaptasi sehingga berangsur-angsur tidak lagi timbul gejala.</p> <p>4. Teori otonomik Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebaga usaha adaptasi gerakan/perubahan posisi; gejala klinis timbul jika sistim simpatis terlalu dominan, sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan (Gambar. 3). 5. Teori neurohumoral Di antaranya teori histamin (Takeda), teori dopamin (Kohl) dan terori serotonin (Lucat) yang masing-masing m...</p>