Makalah Bk

Download Makalah Bk

Post on 23-Nov-2015

20 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<ul><li><p>1BAB IPENDAHULUAN</p><p>A. Latar Belakang</p><p>Perkembangan pendidikan formal di negara kitadipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya perubahan kurikulumdan perubahan peraturan perundang-undangan. Perubahan-perubahan itu berdampak pula pada layanan bimbingan dankonseling dalam jalur pendidikan formal.</p><p>Berbagai peraturan dan perundang-undangan yang berlakusaat ini (diantaranya, UU sistem pendidikan nasional No 20/2003,Permendiknas No 23/2006, dan lain-lain) telah dikaji sedemikianrupa dalam rangka menjawab perkembangan pendidikan danmelakukan penataan konselor sebagai profesi dan layananbimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan formal. Darihasil kajian tersebut semakin mengukuhkan bahwa sejatinyalayanan bimbingan dan konseling dilakukan oleh tenaga ahli yangdisebut sebagai konselor.</p><p>Secara yuridis keberadaan konselor dalam sistempendidikan nasional sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajardengan kualifikasi guru, dosen, pamong, dan tutor sebagaimanadisebutkan dalam pasal 1 (6) UU No 20/2003 tentang sistempendidikan nasional. Dalam undang-undang tersebut menunjukkanadanya pengakuan eksplisit kesejajaran antara setiap kualifikasitenaga pendidik. Mengandung arti bahwa setiap tenaga pendidik,</p></li><li><p>2termasuk konselor, memiliki keunikan konteks tugas,</p><p>ekspektasikinerja, dan seting layanan (Ditjen Dikti, 2007).Dari setiap isi dan penjelasan peraturan dan perundang-</p><p>undangan yang berlaku itu tidak menjelaskan secara jelas dantegas tentang keunikan konteks tugas, ekspektasi kinerja, danseting layanan konselor dalam jalur pendidikan formal. Padahalkonselor itu berbeda dengan tenaga pendidik lainnya. Kontektugas dan ekspektasi kinerja konselor tidak menggunakan materipembelajaran sebagai konteks layanan sehingga sebagai kontekslayanan merupakan sosok layanan ahli yang unik (Ditjen Dikti,2007).</p><p>Sementara itu dalam Permendiknas nomor 22/2006 tentangstandar isi pendidikan ditemukan adanya komponenpengembangan diri dan itu dikaitkan dengan konseling. Itu bisa</p><p>ditafsirkan bahwa konselor harus menyampaikan materipengembangan diri melalui layanan bimbingan konseling sertadipertanggung jawabkan melalui penilaian pada tiap akhirpenyampaian kegiatan, sehingga berdampak menyamakanekspektasi konselor dengan ekspektasi kinerja guru yangmenggunakan materi pembelajaran sebagai konteks layanan.sehingga menuntut konselor untuk melakukan tugas-tugas denganpendekatan dan cara seperti yang dilakukan guru, padahal basiskinerja guru adalah pembelajaran bidang studi.</p><p>Dari kondisi peraturan dan perundang-undangan itu,memunculkan pula persoalan lain yaitu rentan munculnya</p><p>perantugas yang tumpang tindih antara guru, konselor dan ahli</p></li><li><p>3lainnya, misalnya psikologi sekolah dan ahli pendidikankebutuhan khusus. Hal tersebut akan berdampak pada salingmencederai antar profesi.</p><p>Untuk itulah perlu adanya penataan yang lebih jelasbimbingan dan konseling sebagai layanan yang unik dalam setingpendidikan dan konselor sebagai profesi. Penataan ini pun perludilakukan secara menyeluruh tidak hanya menyentuh persoalanbimbingan dan konseling pada satuan pendidikan dasar, tapimenyentuh setiap jenjang, satuan, dan jalur pendidikan. Bahkanperlu ada penataan pada LPTK yang menyelenggarakan jurusanatau program psikologi pendidikan dan bimbingan.</p><p>Penataan tersebut jika dikelompokkan maka akan meliputisetting, wilayah layanan, konteks tugas, dan ekspektasi kinerjakonselor.</p><p>B. Rumusan masalah</p><p>1. Apa saja tiga wilayah pendidikan dalam jalur formal ?2. Apa pengertian Bimbingan Konseling?3. Apa dasar Bimbingan Konseling di sekolah?</p></li><li><p>4BAB IIPEMBAHASAN</p><p>A. Tiga Wilayah Pendidikan dalam Jalur Formal1. Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar</p><p>Sekolah dasar bertanggung jawab memberikanpengalaman-pengalaman dasar kepada anak,yaitu kemampuandan kecakapan membaca,menulis dan berhitung,pengetahuanumum serta perkembangan kepribadian, yaitu sikap terbukaterhadap orang lain, penuh inisiatif, kreatifitas, dankepemimpinan, ketrampilan serta sikap bertanggung jawab,guru sekolah dasar memegang peranan dan memikul tanggungjawab untuk memahami anak dan membantu perkembangansosial pribadi anak.</p><p>Bimbingan itu sendiri dapat diartikan suatu bagian integraldalam keseluruhan program pendidikan yang mempunyai fungsipositif, bukan hanya suatu kekuatan kolektif. Proses yangterpenting dalam pentingnya bimbingan adalah prosespenemuan diri sendiri. Hal tersebut akan membantu anakmengadakan penyesuaian terhadap situasi baru,mengembangkan kemampuan anak untuk memahami dirisendiri dan menerapkannya dalam situasi mendatang.Bimbingan bukan lagi suatu tindakan yang bersifat hanyamengatasi setiap krisis yang dihadapi oleh anak,tetapi jugamerupakan suatu pemikiran tentang perkembangan anak</p></li><li><p>5sebagai pribadi dengan segala kebutuhan,minat dan kemampuanyang harus berkembang.</p><p>1. Tindakan Preventif di Sekolah DasarTuntutan untuk mengadakan identifikasi secara</p><p>awal diakui kebenarannya oleh para ahli bimbingankarena:</p><p>a. Kepribadian anak masih luwes,belum menemukanbanyak masalah hidup,mudah terbentuk dan masihakan banyak mengalami perkembangan.</p><p>b. Orang tua murid sering berhubungan dengan gurudan mudah dibentuk hubungan tersebut,orang tuajuga aktif dalam pendidikan anaknya disekolah.</p><p>c. Masa depan anak masih terbuka sehingga dapatbelajar mengenali diri sendiri dan dapat menghadapisuatu masalah dikemudian hari.</p><p>Bimbingan tidak hanya pada anak yangbermasalah melainkan pada bimbingan dewasa iniyaitu menyediakan suasana atau situasi perkembanganyang baik,sehingga setiap anak di sekolah dapatterdorong semangat belajarnya dan dapatmengembangkan pribadinya sebaik mungkin danterhindar dari praktik-praktik yang merusakperkembangan anak itu sendiri.</p></li><li><p>62. Kesiapan di Sekolah DasarKonsep psikologi belajar mengenai kesiapan</p><p>belajar menunjukan bahwa hambatan pendidikan dapattimbul jika kurikulum diberikan kepada anak terlalucepat atau terlalu lambat,untuk menghadapi perubahandan perkembangan pendidikan yang terus menerusperlu adanya penyuluhan untuk menumbahkanmotivasi dan menciptakan situasi belajar dengan baiksehingga diperoleh kreatifitas dan kepemimpinan yangpositif pada aktrifitas melalui penyuluhan kepada orangtua dan murid.</p><p>2. Bimbingan Konseling di Sekolah MenengahTujuan pendidikan menengah acap kali dibiaskan oleh</p><p>pandangan umum; demi mutu keberhasilanakademis sepertipersentase lulusan, tingginya nilai Ujian Nasional, ataupresentase kelanjutan ke perguruan tinggi negeri. Kenyataan inisulit dipungkiri, karena secara sekilas tujuan kurikulummenekankan penyiapan peserta didik (sekolah menengahumum/SMU) untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebihtinggi atau penyiapan peserta didik (sekolah menengahkejuruan/SMK) agar sanggup memasuki dunia kerja.</p><p>Penyiapan peserta didik demi melanjutkan ke pendidikanyang lebih tinggi akan selalu memperhatikan sisi materipelajaran, agar para lulusannya dapat lolos tes masuk perguruan</p></li><li><p>7tinggi. Akibatnya, proses pendidikan di jenjang sekolahmenengah akan kehilangan bobot dalam proses pembentukanpribadi. Betapa pembentukan pribadi, pendampingan pribadi,pengasahan nilai-nilai kehidupan (values) dan pemeliharaankepribadian siswa (cura personalis) terabaikan. Situasi demikiandiperparah oleh kerancuan peran di setiap sekolah. Perankonselor dengan lembaga bimbingan konseling (BK) direduksisekadar sebagai polisi sekolah. Bimbingan konseling yangsebenarnya paling potensial menggarap pemeliharaan pribadi-pribadi, ditempatkan dalam konteks tindakan-tindakan yangmenyangkut disipliner siswa. Memanggil, memarahi,menghukum adalah proses klasik yang menjadi label BK dibanyak sekolah. Dengan kata lain, BK diposisikan sebagaimusuh bagi siswa bermasalah atau nakal. Merujuk padarumusan Winkel untuk menunjukkan hakikat bimbingankonseling di sekolah yang dapat mendampingi siswa dalambeberapa hal.</p><p>Pertama, dalam perkembangan belajar di sekolah(perkembangan akademis). Kedua, mengenal diri sendiri danmengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagimereka, sekarang maupun kelak. Ketiga, menentukan cita-cita</p><p>dan tujuan dalam hidupnya, serta menyusun rencana yang tepatuntuk mencapai tujuan-tujuan itu. Keempat, mengatasi masalahpribadi yang mengganggu belajar di sekolah dan terlalumempersukar hubungan dengan orang lain, atau yangmengaburkan cita-cita hidup.</p></li><li><p>8Empat peran di atas dapat efektif, jika BK didukung olehmekanisme struktural di suatu sekolah.</p><p>Proses cura personalis di sekolah dapat dimulai denganmenegaskan pemilahan peran yang saling berkomplemen.Bimbingan konseling dengan para konselornya disandingkandengan bagian kesiswaan. Wakil kepala sekolah bagiankesiswaan dihadirkan untuk mengambil peran disipliner danhal-hal yang berkait dengan ketertiban serta penegakan tatatertib. Siswa mbolosan, berkelahi, pakaian tidak tertib, bukanlagi konselor yang menegur dan memberi sanksi. Reward danpunishment, pujian dan hukuman adalah dua hal yang mesti adabersama-sama. Pemilahan peran demikian memungkinkan BKoptimal dalam banyak hal yang bersifat reward atau peneguhan.Jika tidak demikian, BK lebih mudah terjebak dalam tindakanhukum-menghukum.</p><p>Mendesak untuk diwujudkan, prinsip keseimbangan dalampendampingan orang-orang muda yang masih dalam tahappencarian diri. Orang-orang muda di sekolah menengahlazimnya dihadapkan pada celaan, cacian, cercaan, dan segalasumpah-serapah kemarahan jika membuat kekeliruan. Namun,jika melakukan hal-hal yang positif atau kebaikan, keringpujian, sanjungan atau peneguhan. Betapa ketimpangan inimembentuk pribadi-pribadi yang memiliki gambaran dirinegatif belaka. Jika seluruh komponen kependidikan di sekolahbertindak sebagai yang menghakimi dan memberikan vonis</p></li><li><p>9serta hukuman, maka semakin lengkaplah pembentukanpribadi-pribadi yang tidak seimbang.</p><p>BK dapat diposisikan secara tegas untuk mewujudkanprinsip keseimbangan. Lembaga ini menjadi tempat yang amanbagi setiap siswa untuk datang membuka diri tanpa waswasakan privasinya. Di sana menjadi tempat setiap persoalandiadukan, setiap problem dibantu untuk diuraikan, sekaligussetiap kebanggaan diri diteguhkan. Bahkan orangtua siswadapat mengambil manfaat dari pelayanan bimbingan di sekolah,sejauh mereka dapat ditolong untuk lebih mengerti akan anakmereka.</p><p>Tantangan pertama untuk memulai suatu proses</p><p>pendampingan pribadi yang ideal justru datang dari faktor-faktor instrinsik sekolah sendiri. Kepala sekolah kurang tahuapa yang harus mereka perbuat dengan konselor atau guru-guruBK. Ada kekhawatiran bahwa konselor akan memakan gajibuta. Akibatnya, konselor mesti disampiri tugas-tugas</p><p>mengajar keterampilan, sejarah, jaga kantin, mengurusperpustakaan, atau jika tidak demikian hitungan honor ataupenggajiannya terus dipersoalkan jumlahnya. Sesama stafpengajar pun mengirikannya dengan tugas-tugas konselor yangdianggapnya penganggur terselubung. Padahal, betapapendampingan pribadi menuntut proses administratif dalampenanganannya.</p><p>BK yang baru dilirik sebelah mata dalam prosespendidikan tampak dari ruangan yang disediakan. Bisa dihitung</p></li><li><p>10</p><p>dengan jari, berapa jumlah sekolah yang mampumenyediakan ruang konseling memadai. Tidak jarang dijumpai,ruang BK sekadar bagian dari perpustakaan (yang disekat tirai),atau layaknya ruang sempit di pojok dekat gudang dan toilet.Betapa mendesak untuk dikedepankan peran BK denganmencoba menempatkan kembali pada posisi dan perannya yanghakiki. Menaruh harapan yang lebih besar pada BK dalampendampingan pribadi, sekarang ini begitu mendesak, jikamengingat kurikulum dan segala orientasinya tetap sajamenjunjung supremasi otak. Untuk memulai mewujudkansemua itu, butuh perubahan paradigma para kepala sekolahmenengah dan semua pihak yang terlibat didalam proseskependidikan.</p><p>3. Bimbingan Konseling di Perguruan TinggiAlasan diperlukannya bimbingan dan konseling</p><p>diperguruan tinggi adalah banyaknya problema yang dihadapioleh mahasiswa dalam perkembangan studinya, dimana belajardiperguruan tinggi memiliki karakteristik yang sangat berbedadengan belajar di sekolah lanjutan. Karakteristik dari studi diperguruan tinggi adalah kemandirian, baik dalam pelaksanaankegiatan belajar dan pemilihan program studinya maupun dalampengelolaan dirinya sebagai mahasiswa. Dalam usahamerealisasikan dirinya tersebut, perkembangannya tidak selalumulus dan lancar, banyak hambatan dan problema yang merekahadapi. Untuk mengembangkan diri dan menghindari, serta</p></li><li><p>11</p><p>mengatasi hambatan dan problema tersebut di perlukanbimbingan.</p><p>Di perguruan tinggi layanan bimbingan dilaksanakan olehsuatu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bimbingan dan Konseling.Unit ini dibentuk dalam rangka membantu mahasiswa yangmengalami hambatan/masalah dalam proses studinya, merekadapat berkonsultasi untuk memecahkan permasalahannya. Unitini juga biasanya melayani layanan konsultasi maupun tespsikologi bagi pihak luar yang membutuhkan.</p><p>Secara garis besar ada 2 problema yang sering di hadapioleh mahasiswa yakni problema studi dan problema sosialpribadi :</p><p>1. Problema StudiBeberapa problem studi yang dihadapi olehmahasiswa adalah sebagai berikut :a) Kesulitan dalam memilih program</p><p>studi/konsentrasi/pilihan mata kuliah yang sesuaidengan kemampuan dan waktu yang tersedia;</p><p>b) Kesulitan dalam mengatur waktu belajar;c) Kesulitan dalam mendapatkan sumber belajar dan</p><p>buku-buku sumber;d) Kesulitan dalam menyusun makalah, laporan dan</p><p>tugas akhir;</p><p>e) Kesulitan mempelajari buku-buku yang berbahasaasing;</p><p>f) Kurang motivasi dan semangat belajar;</p></li><li><p>12</p><p>g) Kebiasaan belajar yang salah;h) Rendahnya rasa ingin tahu;i) Kurang minat terhadap profesi.</p><p>2. Problema Sosial Pribadia. Kesulitan biaya kuliah;b. Kesulitan dengan masalah pemondokan;c. Kesulitan menyesuaiakan diri dengan teman</p><p>mahasiswa;</p><p>d. Kesulitan menyesuaikan diri dengan masyarakatsekitar;</p><p>e. Kesulitan karena masalah-masalah keluarga;</p><p>f. Kesulitan karena masalah pribadi.</p><p>3. Fungsi Bimbingan dan Konseling di Perguruan TinggiBeberapa fungsi dari bimbingan dan konseling</p><p>di perguruan tinggi :a) Pengenalan dan pemahaman yang lebih mendalam</p><p>tentang kondisi, potensi dan karakteristikmahasiswa;</p><p>b) Membantu menyesuaikan diri dengan keidupan diperguruan tinggi;</p><p>Membantu mengatasi problema-problemaakademik dan sosial-pribadi yang berpengaruhterhadap perkembangan akademik mahasiswa.</p></li><li><p>13</p><p>4. Tujuan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggia. Mampu sendiri memilih program</p><p>studi/kosentrasi/pilihan mata kuliah yang sesuaidengan bakat, minat dan cita-cita mereka;</p><p>b. Mampu menyelesaikan perkuliahan dan tuntutanperkuliahan tepat pada waktunya;</p><p>c. Memperoleh prestasi belajar yang sesuai dengankemampuan mereka;</p><p>d. Mampu membina hubungan sosial dengan sesamamahasiswa dan dosen;</p><p>e. Memiliki sikap dan kesiapan profesional;f. Memiliki pandangan yang realistis tentang diri</p><p>dan lingkungannya</p><p>5. Teknik Bimbingan bagi Mahasiswaa) Teknik diskusi kelompok yang bersifat orientasi,</p><p>mencakup diskusi tentang program studi,kurikulum, personalia akademis, dan prosesbelajar mengajar yang ditetapkan dalampelaksanaan program studi;</p><p>b) Teknik diskusi kelompok yeng sifatnya bantuan,mencakup diskusi tentang permasalahan belajar,sosial dan pribadi;</p><p>c) Teknik kegiatan kelompok lain, baik yang bersifatorientasi mau...</p></li></ul>