bk bk islami

of 146/146
5/13/2018 BkBkIslami-slidepdf.com http://slidepdf.com/reader/full/bk-bk-islami 1/146  UPAYA MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI MELALUI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAMI (Penelitian Pada Siswa Kelas X MA Al-Asror Semarang Tahun Ajaran 2008/2009 ) Skripsi Disajikan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memeperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan Dan Konseling Oleh: Muslimatun ibadah

Post on 14-Jul-2015

768 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

UPAYA MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI MELALUI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAMI (Penelitian Pada Siswa Kelas X MA Al-Asror Semarang Tahun Ajaran 2008/2009 )

Skripsi Disajikan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memeperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan Dan Konseling

Oleh: Muslimatun ibadah

1301404060

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2009

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Yang bertanda tangan di bawah ini Dosen Pembimbing Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang menerangkan bahwa: Nama :Muslimatun Ibadah NIM :131404060 Jurusan :Bimbingan dan Konseling Judul skripsi :Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri Melalui Bimbingan dan Konseling Islami (Penelitian Pada Siswa MA Al-Asror Semarang Tahun Pelajaran 2008/2009). Yang bersangkutan telah selesai bimbingan dan siap ujian dihadapan sidang penguji skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Demikian surat ini agar digunakan sebagaimana mestinya.

Semarang, Februari 2009 Pembimbing I Pembimbing II

Dr.H.Anwar Sutoyo,M.Pd Dra.H.Awalya,M.Pd NIP.131570048 NIP.13175415

HALAMAN PENGESAHAN

Telah Dipertahankan di Hadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang Pada:

Hari : Tanggal : Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs.Hardjono,M.Pd Drs.Suharso,M.Pd Kons NIP.130781006 NIP.131754158

Pembimbing I Penguji I

Dr.Anwar Sutoyo,M.Pd Drs.Heru Mugiarso,M.Pd Kons NIP. 131570048 NIP.131143234

Pembimbing II Penguji II

Dra.Awalya,M.Pd Dr.Anwar Sutoyo,M.Pd NIP.131754159 NIP.131754159

Penguji III

Dra.Awalya,M.Pd NIP.131754159

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau sel uruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dir ujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Februari 2009

Muslimatun Ibadah 1301404060

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu orang beriman. (Q.S ali-Imran:139)

orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.(Ar-Ra d:28)

PERSEMBAHAN Untuk suamiku tercinta, ayahanda Ahmad Fakhrur, ibu sa iyah, abah abdul syukur, ibu Hj. khamsinah, kedua adekku Anas dan Ulin, ikhwah Rohis FIP, ikhwah Pesantren Basmala Indonesia, teman teman BK angkatan 2004 serta teman teman kost Halima As-Sa diyya.

PRAKATA

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpakan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga skripsi berjudul Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri Melalui Bimbingan dan Konseling Islami pada Siswa Kelas X MA Al-Asror Semarang Tahun Pelajaran 2008/2009 dapat diselesaikan. Terselesaikannya skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak yang sangat berguna bagi penulis. Untuk itu dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang setulus-tulusnya kepada: 1. Prof.Dr.Sudidjono Sastroatmodjo,M.Si Rektor Universitas Negeri Semarang yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan pendidikan di tingkat Universitas. 2. Drs.Hardjono,M.Pd, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan yang telah memberikan ijin penelitian. 3. Drs.H.Suharso,M.Pd Kons Ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan yang telah menyetujui judul penelitian ini. 4. Dr.H.Anwar Sutoyo,M.Pd dan Dra.Hj.Awalya,M.Pd selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan ilmu, bimbingan, pengarahan, dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. 5. Mukaeromin,BA, Kepala Sekolah MA Al-Asror Semarang yang telah memberikan ijin dalam penelitian ini.

6. Drs.Subkhi, wali kelas X D yang telah memberikan bantuan dalam penelitian. 7. Siswa siswa kelas X MA Al-Asror Semarang atas kesediannnya sebagai partisipan dan peserta dalam pengambilan data penelitian ini. 8. Ayahanda Ahmad Fakhrur dan ibu sa iyah yang selalu memberikan doa, motivasi dan cinta kasih yang tidak akan pernah terbalas. 9. Suamiku tercinta Kakanda Romi Ma ali yang selalu memberikan motivasi, kasih sayang, ketulusan dan doa. 10. Abah Abdul Syukur Syah dan Ibu Khamsinah yang selalu mengajarkan kesabaran, mengajarkan hikmah di balik kesulitan. 11. Keluarga besar di Kotabumi Lampung Utara yang selalu memberikan doa dan dukungannya. 12. Keluarag besar Pesantern Basmala Indonesia khususnya Rohis FIP, Keluarga besar kost Halima Asa diya yang selalu memberikan motivasi, ukhuwah dan warna baru dalam kehidupan. 13. Rekan mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah mendorong dan memberikan dukungan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat selesai. Akhirnya penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Penulis

SARI

IBADAH,MUSLIMATUN.2009.Upaya Meningkatkan Kepercayaan Diri Melalui Bimbingan dan Konsling Islami (penelitian pada siswa kelas X MA AlAsror Semarang Tahun Ajaran 2008/2009). Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.Pembimbing Dr.anwar sutoyo,M.Pd dan Dra.Awalya.M.Pd. Kata kunci:kepercayaan diri, bimbingan dan konseling islami

Kepercayaan diri adalah keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimikinya dan senantiasa bersumber dari nurani untuk melakukan segala yang kita inginkan bukan dari karya yang dihasilkan sehingga ia merasa puas. Jika seseorang percaya diri disebabkan karena hasil karyanya maka ketika ia gagal berkarya ia akan rendah diri. Seorang muslim harus percaya diri, ia harus mampu menghindari tuntutan sosial yang bertentangan dengan ketentuan ilahi, salah satu nya adalah percaya diri untuk melakukan kebaikan meskipun orang lain menolak dan mencemoohnya karena pusat kepercayaan dirinya hanyalah Allah, ia akan merasa cemas dan gundah ketika berbuat dosa dan merasa percaya diri ketika melakukan kebenaran sesuai tuntunan Allah. Tujuan dalam penelitian ini untuk meningkatkan keercayaan diri siswa yang belum optimal. Hasil pengolahan skala kepercayaan diri siswa MA Al-Asror Semarang yang berjumlah 38 siswa terdapat 8 siswa mempunyai kecenderungan kepercayaan diri rendah. Pendekatan yang digunakan yaitu Bimbingan dan Konseling Islami dengan layanan Bimbingan Kelompok yang di dalamnya menggunakan ayat Al-Qur an sebagai referensi dan medianya pemutaran film inspiratif. Bimbingan kelompok ditujukan untuk mencegah masalah dan mengembangkan potensi siswa. Pemahaman ayat Al-Qur an untuk memberikan cahaya agar qolbu/ hati mudah menerima kebaikan yang datang dari Allah, film sebagai obyek audivisual yang inspirtaif a gar memberikan kesan yang mendalam. Penelitian ini dilakukan melalui dua siklus (siklus I dan siklus II), masing- masing siklus menggunakan tahapan yang meliput i tahap perencanaan tindakan, tahap tindakan, tahap obsevasi dan tahap refleksi Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan diri siswa pada kondisi awal secara keseluruhan mencapai skor 23.25. Setelah siklus I naik menja di 34.25 dan setelah melalui siklus II bertambah menjadi 36.12 (0.22 dari siklus I dan 0.01 dari siklus II). Mendasarkan pada hasil penelitian di atas maka disarankan :(1) Bagi pihak sekolah dapat menyediakan al-qur an atau jadawal membaca alqur an sebelum mulai pelajaran;(2)Pihak sekolah dapat memanfaatkan bimbingan dan konseling islami untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa;(3)siswa MA Al-Asror kelas X mulai memiliki kecakapan untuk memilih dan memanfaatkan kandungan Alqur an sebagai media bimbingan yang digunakan dalam pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islami yang bisa meningkatkan kepercayaan diri;(4) seyogyanya sekolah juga menjadikan film sebagai sarana untuk membangun karakter siswa.

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL PENGESAHAN KELULUSAN PERNYATAAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN PRAKATA SARI DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

i ii iii . iv . v .. vii . viii x .. xi xii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 1.1 Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Batasan Masalah Sistematika Skripsi 1 . 5 6 . 7 8 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu 2.2 Bimbingan dan Konseling Islami

11

2.2.1 Pengertian Bimbingan dan Konseling Islami 2.2.2 Prinsip Dasar Bimbingan dan Konseling Islami 2.2.3 Landasan Bimbingan dan Konseling Islami 2.2.4 Asas Asas Bimbingan dan Konseling Islami

14 17 . 19 . 20 . 24 . 27

2.2.5 Tujuan Bimbingan dan Konseling Islami 2.2.6 Fungsi Bimbingan dan Konseling Islami 2.3 Bimbingan kelompok

2.3.1 Pengertian .............................................................. ............................ 27 2.3.2 Manfaat ................................................................. ........................... 28 2.3.3 Macam-Macam Kelompok .................................................... ............ 29

2.3.4 Dinamika Kelompok ....................................................... ................... 29 2.3.5 Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kohesivitas Kelompok ............ 30 2.3.6 Tipe-Tipe Kepemimpinan .................................................. ............... 30 2.3.7 Peranan Pemimpin Kelompok ............................................... ............ 32 2.3.8 Tahap-Tahap Perkembangan Kelompok ....................................... ... 32 2.3.9 Teknik-Teknik ........................................................... ........................ 33 2.4 Kepercayaan diri 2.4.1 Pengertian Kepercayaan diri 2.4.2 Sumber Rasa Tidak Percaya Diri .. 35 .. 38 39

2.4.4 Kateristik Atau Ciri-Ciri Individu yang Percaya Diri 2.4.5 Jenis-Jenis Kepercayaan Diri 2.5 Menumbuhkan Kepercayaan Diri 2.6 Keterkaitan Antara Kepercayaan Diri dengan Bimbingan dan Konseling Islami 2.7 Mengembangkan Kepercayaan Diri 2.8 Hipotesis .. 57 .. 47 . 50 44 . 40

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan yang Digunakan 3.2 Subyek Penelitian 3.3 Langkah Langkah Penelitian

.......... 58 ........... 60 ... 60 ..... 69 ..... 72 ...... 75

3.4 Metode dan Alat Pengumpul Data 3.5 Validitas dan Reliabilitas Instrument 3.6 Teknik Analisis Data

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Keadaan Awal 4.1.2 Hasil Penelitian Siklus I 4.1.3 Hasil Penelitian Siklus II 4.2 Pembahasan 4.3 Hambatan . 96

76 .................................... 78 . 81 ... 91

Hambatan yang Dialami Dalam Proses Penelitian

. 100

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan 5.2 Saran

101 . 102

DAFTAR PUSTAKA

.. 104

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman 1. Penyusunan Rencana Tindakan 61 2. Norma Kriteria Kepercayaan Diri .............................................. .............. 64 3. Rencana Tindakan 68 4. Peningkatan Kecenderungan Kepercayaan Diri Secara Keseluruhan .. 77 5. Peningkatan Kepercayaan Diri Secara Individu 6. Kondisi Awal Kecenderungan Kepercayaan Diri Secara Keseluruhan .. 79 7. Nomor Responden dan Perubahannya 8. Rencana Pelaksanaan Tindakan I 9. Rencana Pelaksanaan Tindakan II 10. Analisis Perorangan Pasca Siklus I 11. Analisis Per Subvariabel 12. Rencana Pelaksanaan Tindakan Sikus II 13. Analisi Perorangan Pasca Siklus II 14. Analisi Per Sub Variabel Pasca Siklus II 78

.. 80 .. 81 85 .. 89 .. 90 .. 91 94 .. 95

DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 1. Skema Siklus Tindakan Kelas 2. Kondisi Awal Kecederungan Kepercayaan Diri Secara Keseluruhan 67 . 80

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman Lampiran 1.skala penelitian 1.1 Kisi-Kisi Skala try out Kepercayaan Diri .. 106 1.2 Skala try out kepercayaan diri . 107 1.3 Kisi-kisi skala penelitian kepercayaan diri 112 1.4 Skala penelitian kepercayaan diri .......................................... ...................... 113 Lampiran 2.tabulasi data 2.1 tabulasi data hasil try out 2.2 tabulasi data hasil penelitian 117 .. 121 .. 122

Lampiran 3.perhitungan validitas dan reliabilitas skala kepercayaan diri Lampiran 4. hasil skor kepercayaan diri Lampiran 5.kisi kisi pedoman observasi . 128 130 132 . 131 .. 123 124

Lampiran 6. rencana tindakan Lampiran 7.Permohonan Ijin Lampiran 8.Surat Keterangan Penelitian Lampiran 9.Lembar Bimbingan

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

Perkembangan teknologi yang semakin pesat memungkinkan manusia mengakses dan memperoleh informasi dengan mudah dari belahan bumi manapun. Perkembangan teknologi tersebut menuntut manusia agar berkembang sesuai dengan perkembangan zaman serta menuntut kedewasaan dalam menyikapi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang mengglobal. Sikap kedewasaan inilah yang akan mampu menghantarkan manusia menjadi makhluk yang berwawasan luas dan mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya dengan memanfatkan sarana teknologi informasi dan telekomunikasi. Media massa mempunyai side effect yang besar dalam kehidupan manusia, baik media cetak maupun media elektronik. Media elektronik khususnya televisi mampu mempengaruhi pola fikir dan prilaku seseorang dalam menyikapi kehidupan dewasa ini, karena media televisi tidak hanya menayangkan informasi berupa pengetahuan, sosial-budaya, politik, hukum, hiburan, olahraga dan masih banyak lainnya, namun media televisi banyak juga menayangkan iklan-iklan layanan masyarakat dengan menjadikan model perempuan sebagai objek guna menarik konsumen. Dalam berbagai iklan, perempuan diekspose sangat merugikan. Tubuhnya dieksploitasi untuk mengumbar definisi cantik versi standardisasi pasar dengan cara memamerkan rambut, kulit wajah yang mulus, perut langsing, betis indah dan kulit putih.

Di samping itu iklan iklan di media juga memaparkan tubuh lelaki yang ideal yaitu tinggi, kulit bersih, atletis,dan berotot. Sehingga Maraknya iklan produk mengakibatkan banyaknnya perempuan dan laki laki sebagai korban iklan yang memungkinkan terciptanya kondisi masyarakat dengan citra dan estetika konsumtif yang sangat kondusif serta permisif bagi kelangsungan sistem kapitalis. Disamping itu peran media massa sangat besar dalam pembentukan kepercayaan diri seseorang. Informasi dan iklan iklan tentang citra fisik, telah jauh berhasil membangun presepsi yang semakin menunggal, dalam berbagai hal . Bagaimana seorang perempuan dan laki laki bisa dikatakan menarik, yang batasannya hanya sifat material saja, tanpa bisa menghargai kelelahan berkarya, belajar, dan kualitas diri, yang sejatinya semua itu merupakan harga yang sangat mahal bila terdapat pada diri seseorang. Dalam sebuah surat kabar, dituliskan berita tentang tewasnya seorang istri seusai operasi plastik untuk mempercantik diri , namun yang timbul adalah mal praktik dan infeksi akut. Bahkan dalam berita lainnya, seorang suami tidak bisa tidur dengan nyaman lagi setelah meliha t istrinya tidak bisa lagi memejamkan kelopak matanya meskipun istrinya tengah tidur. Ini terjadi setelah melakukan operasi plastik di luar negeri, supaya kelo pak matanya nampak indah dengan cekungan yang cantik . Bagi remaja, cacat fisik sedikit saja dapat dianggap sebagai sesuatu yang sangat serius. Remaja mempunyai hasrat yang tinggi untuk bisa selalu up to date dalam penampilan, lebih lebih jika penampilannya dijadikan trend setter di lingkungannya. Menurut remaja penampilan yang menarik dan ideal akan

membantu remaja tersebut dalam memperoleh dukungan sosial, popularitas, dan daya tarik lawan jenis maupun teman sebayanya, sehingga hal ini dapat menjadi modal utama remaja untuk lebih percaya diri dalam pergaulan dan menampilkan jati dirinya di kehidupan orang lain. Gejala rasa tidak percaya diri tersebut bagi remaja adalah wajar, terutama bagi remaja awal yaitu remaja yang berumur sekitar usia SMP atau sekitar usia 13-16 tahun, sedangkan bagi remaja akhir yaitu usia 16-18 atau seusia SMA, gejala tidak peraya diri semestinya sudah terjadi lagi, terutama yang berkaitan dengan penampilan tubuh, Karena remaja akhir sudah bisa berpikir realistik terhadap dirinya dalam berbagai hal (Hurlock,1999:239). Pada kenyataanya masih banyak remaja akhir yang memiliki rasa tidak percaya diri. Gejala gejala yang paling banyak dan paling mudah ditemui di lingkungan SMA misalnya adanya perasaan grogi saat tampil di depan kelas, timbulnya perasaan malu yang berlebihan ketika mejadi pusat perhatian, adanya perasaan tidak pantas ketika mendapat pujian, merasa malu menjadi diri sendiri karena merasa dirinya selalu memiliki kekurangan sehingga selalu berusaha untuk menjadi seperti orang lain dan lainnya (Rini dalam www.e.psiklogi.com). Peneliti juga melihat remaja remaja usia MA saat ini sangat memperhatikan penampilan tubuhnya, dengan alasan bahwa hal itu sangat penting selain untuk menambah rasa percaya dirinya dalam pergaulan, hal itu juga untuk lebih diterima oleh tem an teman sebayanya. Seperti pendapat Ut (17 th), salah satu siswi Al-Asror Gunungpati Semarang dengan alasan bahwa hal itu sangat penting selain untuk

menambah percaya dirinya dalam pergaulan, hal itu juga untuk lebih diterima oleh teman- teman sebayanya. Selama observasi peneliti juga mendapat informasi dari BK bahwa di kelas X terdapat anak anak yang kepercayaan dirnya kurang, seperti kurang pe-de ketika mengungkapakan pendapat di kelas, malu memakai seragam sesuai aturan sekolah dan sebaliknya mereka lebih senang mengikuti penampilan penampilan artis di tv seperti memakai pakaian yang ketat, baju dikeluarkan sehingga perlu diberikan treatment untuk bisa meningkatkan kepercayaan dirinya. Fenomena tersebut mengindikasikan bahwa mereka mengalami krisis kepercayaan diri sebagaimana Hakim (2005:10) mengatakan bahwa rasa tidak percaya diri disimpulkan sebagai suatu keyakinan negatif seseorang terhadap kekurangan yang ada di berbagai aspek kepribadiannya sehingga ia merasa tidak mampu untuk mencapai berbagai tujuan di dalam kehidupannya. Hilangnya rasa percaya diri menjadi sesuatu yang amat mengganggu, terlebih ketika dihadapkan pada tantangan ataupun situasi baru. Orang yang pede mempunyai kekhawatiran bahwa ia akan mendapat penolakan dari lingkungan. Kekhawatiran yang ada tersebut sangat besar sehingga mendorong individu melakukan apapun untuk menepis kekhawatiran dari penolakan lingkungan. Tidak jarang individu melakukan hal hal yang sebenarnya tidak sesuai dengan kepribadian dirinya. Ia merasa untuk dapat diterima di suatu lingkungan harus melakukan berbagai macam cara agar dirinya mendapat pengakuan dari lingkungan. tidak

Berdasarkan pengamatan penulis, siswa MA Al-Asror masih mempunyai kecenderungan kepercayaan diri rendah. Hal ini terlihat dari sikap mereka waktu di kelas yang masih malu menjawab pertanyaan dari guru, cara berpakaian mereka yang mengikuti model sinetron di televisi, seperti perempuan berpakaian seragam yang ketat, laki laki memakai seragam celana yang lebar padahal semua itu tidak diperbolehkan oleh aturan sekolah. Hal itu dilakukan dengan dalih untuk menambah keercayaan diri di lingkungan teman-teman. Berbagai upaya telah dilakukan orang untuk meningkatkan rasa percaya diri, mengikuti sekolah kepribadian, mengikuti training training atau bahkan belajar mandiri dengan mencari referensi dari buku buku, akan tetapi dalam pelaksanannya terkadang tidak memperhatikan informasi yang telah diberikan oleh sang pencipta yang telah menciptakan manusia, yang fungsinya untuk mengatur manusia. Padahal setiap manusia sudah dianugerahi fitrah iman yang tentunya akan condong kepada nilai nilai ilahiyah. Untuk itu layanan Bimbingan dan Konseling Islami merupakan sarana untuk mengembangkan fitrah iman manusia dengan bersumber dari Al-Qur an dan Al-hadits yang mampu meningkatkan kepercayaan diri dengan menyadarkan makna kalimat thoyibah bahwa hanyalah Allah sumber kepercayaan diri.

1.2 MASALAH

Masalah dapat dijabarkan dalam pertanyaan yang lebih spesifik sbb: 1. Apakah bimbingan dan konseling islami ini dapat mendorong siswa untuk tampil lebih percaya diri?

2. Apakah siswa bersungguh-sungguh dalam mengikuti proses konseling yang dilakukan? 3. Media bimbingan jenis apakah yang digunakan dalam pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islami yang bisa meningkatkan kepercayaan diri MA Al-Asror kelas X Semarang tahun ajaran 2008/2009? a. Apakah berupa manusia, atau pengganti manusia (Islam)? b. Bagaimana karakteristik manusia yang layak untuk dijadikan media bimbingan ? c. Jika bisa memanfaatkan film dalam bentuk CD, film jenis yang mana ? 4. Bagaimana cara mengetahui berhasil atau tidaknya dari proses konseling yang dilakukan?

1.3 TUJUAN

Tujuan dijabarkan menjadi tujuan khusus, yaitu: 1. Mengetahui apakah bimbingan dan konseling islami ini dapat mendorong siswa untuk tampil lebih percaya diri? 2. Mengetahui apakah siswa bersungguh-sungguh dalam mengikuti proses konseling yang dilakukan? 3. Mengatahui media bimbingan jenis apakah yang digunakan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling islami yang bisa meningkatkan kepercayaan diri siswa? a. Apakah berupa manusia, atau pengganti manusia (Islam) ?

b. Bagaimana karakteristik manusia yang layak untuk dijadikan media bimbingan ? c. Jika bisa memanfaatkan film dalam bentuk CD, film jenis yang mana? 4. Mengetahui Bagaimana cara mengetahui berhasil atau tidaknya dari proses konseling yang dilakukan?

1.4 MANFAAT PENELITIAN Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. Manfaat teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dalam bidang bimbingan dan konseling, khususnya tentang peningkatan kepercayaan diri siswa melalui bimbingan konseling Islami. 2. Manfaat praktis .. Pihak sekolah dapat menyediakan tafsir tafsir Al-qur an guna menunjang siswa dalam memahami ayat ayat Al-qur an. .. Bagi sekolah dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri siswa searah dengan pribadi kaum intelektual dan sekaligus meminimalisir potensi potensi yang tidak searah dengan pribadi siswa. .. siswa MA Al-Asror kelas X mulai memiliki kecakapan untuk memilih dan memanfaatkan kandungan Al-qur an sebagai media bimbingan yang digunakan dalam pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islami yang bisa meningkatkan kepercayaan diri.

.. siswa dapat memahami kandungan Al-qur an yang bermanfaat untuk meningkatkan kepercayaan diri .. siswa yang mempunyai pemahaman mendalam terhadap kandungan Al-qur an agar dapat membimbing sesama rekan siswa guna memotifasi dalam menumbuhkan kepercayaan diri.

1.5 BATASAN MASALAH Penelitian ini membatasi masalah hanya pada upaya meningkatkan kepercayaan diri siswa MA Al-Asror kelas X tahun ajaran 2008/2009 dengan melalui Bimbingan dan Konseling Islami. 1. Kepercayaan diri Rasa percaya diri secara sederhana bisa dikatakan sebagai suatu keyakinan seesorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya (Hakim, 2005: 6). 2. Bimbingan dan konseling islami Ainur Rahim Faqih (2001 : 1) bahwa Bimbingan dan Konseling Islami adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar mampu selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah SWT, sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

1.6 SISTEMATIKA SKRIPSI

Untuk memberi gambaran yang menyeluruh dalam skripsi ini, maka perlu disusun sistematika skripsi. Skripsi ini terdiri atas tiga bagian yaitu bagian a wal, bagian pokok, dan bagian akhir. 1. Bagian awal skripsi memuat tentang halaman judul, persetujuan pembimbing, halaman pengesahan, pernyataan, motto dan persembahan, kata pengantar, sari, daftar isi, daftar table, daftar grafik, daftar bagan, dan daftar lampiran. 2. Bagian pokok skripsi terdiri atas lima bab, yaitu: Bab I pendahuluan. Pada Bab ini dijelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah, dan sistematika skripsi. Bab II landasan teori. Pada Bab ini dijelaskan tentang beberapa konsep teoritis yang mendasari penelitian ini, yaitu (a), Bimbingan dan Konseling Islami meliputi: (1) prinsip dasar konseling Islami, (2) pengertian Konseling Islami, (3) landasan Bimbingan Konseling Islami, (4) asas asas Bimbingan Konseling Islami, (5) tujuan Bimbingan Konseling Islami, (5) keterkaitan antara kepercayaan diri dan bimbingan konseling islami, bimbingan kelompok meliputi: (1) pngertian bimbingan kelompok,(2) manfaat bimbingan kelompok,(3) macam-macam bimbingn kelompok,(4) dinamika kelompok, (5) factor yang memepngaruhi kohesivitas kelompok,(6) tipe kepemimpinan,(7) peranan pemimpin,(8) tahap-tahap perkembnagan kelompok, kepercayaan diri meliputi: (1) pengertian

kepercayaan diri (2) jenis jenis kepercayaan diri (3) faktor faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri (5) upaya mengembangkan kepercayaan diri , (6) hipotesis tindakan. Bab III metode penelitian. Pada Bab ini dijelaskan tentang : (a) pendekatan yang digunakan, (b) langkah langkah penelitian meliputi: (1) penyusunan rencana, (2) pelaksanaan tindakan, (c) metode dan alat pengumpul data, (d) teknik analisis data. Bab IV hasil penelitian dan pembahasan. Pada Bab ini dijelaskan mengenai : (a) hasil penelitian meliputi: (1) keadaan awal, (2) hasil penelitian siklus I, dan (3) hasil penelitian siklus II, (b) pembahasan dan (c) kendala pelaksanaan penelitian. Bab V penutup. Pada Bab ini dijelaskan mengenai simpulan dan saran 3. Bagian akhir skripsi ini memuat tentang daftar pustaka dan lampiran lampiran yang mendukung penelitian.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu merupakan penelitian yang sebelumnya telah dilakukan oleh peneliti lain dengan tujuan mendapatkan hasil penelitian tertentu . Beberapa penelitian tentang kepercayaan diri yang telah dipublikasikan antara lain: 2.1.1 Keefektifan Bimbingan Kelompok untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa yang Tidak Naik Kelas.

Peneliti: Dwi Lasitosari, mahasiswa BK angkatan 2003. Berdasarkan penelitian ini kepercayaan diri adalah kesadaran individu akan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, meyakini adanya rasa percaya diri dalam dirinya, merasa puas terhadap dirinya baik yang bersifat batiniah maupun jasmaniah, dapat bertindak sesuai dengan kapasitasnya serta mampu mengendalikannya. Hasil penelitian dari metode analisis data yang digunakan adalah analisis T-test. Dari perhitngan deskripsi presentase pada pre test kelompok kontrol memperoleh 50,22% dan post test 50,22% sedangkan pre test kelompok eksperimen diperoleh 39,49 % dan post test 67,63%. Dari hasil pre test kelompok eksperimen dan post test menunjukkan bahwa tingkat kepercayan diri siswa yang tidak naik kelas di SMA N 4 Semarang tergolong rendah. Melalui bimbingan kelompok siswa belajar untuk bisa menerima diri sendiri, menghargai orang lain

di dalam suasana kelompok sehingga kepercayaan diri siswa semakin meningkat di dalam kehidupan sehari- hari. Keterkaitan penelitian di atas dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti bahwa percaya diri efektif ditingkatkan melalui bimbingan kelompok, sehingga kemungkinan besar upaya peningkatan percaya diri dapat diterapkan di lingkungan siswa melalui layanan bimbingan dan konseling islami dalam suasana kelompok secara tepat dan efesien.

2.1.2 Hubungan Antara Kepercayaan Diri dengan Interaksi Sosial Siswa Kelas III Pada Sekolah Di SLTP Negeri Kota Tegal Tahun Pelajaran 2002/ 2003. Peneliti: Ahmad Jaelani, mahasiswa BK angkatan 2000 Berdasarkan penelitian ini kepercayan diri adalah keberanian beraktivitas yang didasari atas keakinan akan kemmapauan yang dimilikinya dan kemandirian beraktivitas yang ditunjukkan dan diakui orang lain dalam meraih prestasi yang diharapkan. Hasil penelitian menunjukkan teknik korelasi product moment diperolehr r xy = 0,701. Oleh karena itu r hitung sebesar 0,701 sedangkan pada r tabel 0,344 pada taraf signifikansi 5% atau tingkat kepercayaan 95%. Dalam hal ini kedua variabel kepercayaan dengan interaksi sosial siswa sangat erat hubungannya. Siswa yang mempunyai interaksi sosial aktif mampu mempunyai tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

Keterkaitan penelitian di atas dengan penelitian yang akan dilakukan peneliti bahwa kepercayaan diri mempunyai hubungan korelasional dengan hubungan interaksi sosial, individu yang semakin banyak berinteraksi dengan sesama cenderungn mempunyai kepercayan diri yang tinggi. Oleh karena itu besar harapan kepercayaan diri siswa dapat ditingkatkan melalui interaksi kelompok yang terjadi dalam bimbingan dan konseling islami.

2.1.3 Hubungan Percaya Diri Dengan Perilaku Konsumtif (di Universitas Muhammadiyah Malang). http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-sl2003-windy-8811-percaya-di oleh : Windy Asmiana Penelitian yang dilakukan Panduranti (2001: 59) tentang hubungan antara rasa percaya diri dan perilaku konsumtif pada mahasiswi. Subjek penelitian yang terdiri dari beberapa ratus mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang menunjukkan bahwa percaya diri mempunyai hubungan negatif dengan perilaku konsumtif. Maksudnya apabila rasa percaya diri tinggi maka perilaku konsumtifnya rendah, begitu pula sebaliknya. Individu yang percaya dirinya rendah maka konsumtifnya tinggi. Di lingkungan mahasiswa, kebanyakan perilaku konsumtif timbul karena pengaruh lingkungan pergaulan, oleh karena itu seseorang harus pandai memilih lingkungan yang akan menghantarkannya kepada kesuksesan dan memikirkannya dengan matang setiap keputusan yang akan diambil.

Beberapa penelitian terdahulu yang tercantum di atas mengenai kepercayaan diri mendukung dan memiliki keterkaitan dengan penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti. Dari beberapa penelitian terdahulu menyebutkan bahwa kepercayaan diri dapat berpengaruh pada kondisi psikologis, sosiologis dan biologis seseorang dari berbgai tingkatan usia serta tingkatan kepercayaan diri seseorang dapat ditingkatkan. Berkaitan dengan hal tersebut peneliti di atas peneliti berupaya meningkatkan kepercayaan diri pada siswa melalui bimbingan dan konseling islami.

2.2 Bimbingan dan Konseling Islami 2.2.1 Pengertian Bimbingan dan Konseling Islami Ada beberapa defenisi tentang Bimbingan dan Konseling Islami dalam http://islamintelek.blogspot.com/2007/11/bimbingan-dan-konselingislami.html yaitu: Thohari (1992 : 9) mendefinisikan Bimbingan dan Konseling Islami sebagai suatu proses pemberian bantuan terhadap individu agar menyadari kembali eksistensinya sebagai makhluk Allah SWT yang seharusnya hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah SWT, sehingga dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Yahya Jaya (2004 : 108) menyatakan bahwa Bimbingan dan Konseling Islami adalah pelayanan bantuan yang diberikan oleh konselor agama kepada manusia yang mengalami masalah dalam hidup keberagamaannya, ingin mengembangkan dimensi dan potensi keberagamaannya seoptimal mungkin, baik

secara individu maupun kelompok, agar menjadi manusia yang mandiri dan dewasa dalam beragama, dalam bidang bimbingan akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan keimanan dan ketaqwaan yang terdapat dalam al-Qur an dan Hadits. Sedangkan menurut Sutoyo (2007:24-25) menyatakan bahwa Bimbingan dan Konseling Qur ani adalah upaya membantu individu belajar mengembangkan fitrah dan atau kembali kepada fitrah, dengan cara memberdayakan (enpowering) iman, dan kemauan yang dikaruniakan Allah Swt. Kepadanya untuk mempelajari tuntunan Allah dan Rasul-Nya, agar fitrah yang ada pada individu itu berkembang dengan benar dan kokoh sesuai tuntunan Allah Swt. Dari pengertian di atas dapat difahami bahwa Bimbingan dan Konseling Islami merupakan proses pemberian bantuan kepada individu dalam menjalani kehidupannya agar senantiiasa selaras dengan fitrah kemanusiannya, serta dapat hidup di tengah-tengah masyarakat sesuai norma yang dianut dan sesuai dengan tuntunan al-qur an dan hadits sehingga mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Perlu disadari oleh setiap individu bahwa hidup bukan hanya di dunia saja, tetapi ada kehidupan yang lebih kekal yaitu kehidupan akhirat. Dapat juga dikatakan bahwa Bimbingan dan Konseling Islami mempunyai orientasi jauh ke depan ,bukan hanya berorientasi kekinian ,namun agar menselaraskan kehidupan didunia dan akhirat. Oleh karenanya pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islami membutuhkan kompetensi khusus yaitu konselor yang mempunyai pemahaman agama yang mendalam dan mentaatinya atau individu yang mempunyai kompetensi konseling dan berusaha menjadi muslim yang taat.

Hal ini dilakukan agar konselor benar benar bisa membimbing klien sesuai dengan kaidah agama yang benar, mampu menjadikan informasi dari Dzat yang Maha Tahu sebagai referensi dalam membimbing klien, yaitu Al-Quran yang kebenarannya tidak ada keraguan di dalamnya dan menjadikan hadits nabi teladan dalam hidup. Hal senada disampaikan Ainur Rahim Faqih (2001 : 1) bahwa Bimbingan dan Konseling Islami adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar mampu selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah SWT, sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Digunakannya Al-qur an dan hadits sebagai referensi dalam membimbing, agar klien dapat menerapkan pola hidup yang sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya sehingga dapat mencapai keseimbangan hidup yaitu bahagia dunia dan akhirat. Dalam kehidupannya, individu diberi kebebasan memilih apa yang menjadi tujuan guna meraih kebahagian hidup dengan dibekali akal dan hati nurani. Tentu saja Hati nurani yang sehat pada dasarnya akan selalu mengajak individu kepada kebaikan karena menurut Al-Qur an bahwa sebelum bumi dan manusia diciptakan, ruh manusia telah mengadakan perjanjian dengan Allah, Allah bertanya kepada manusia: ....Bukankan aku Tuhanmu? lalu ruh manusia menjawab: Ya, kami bersaksi....! (Q.S Al-A raf:172). Menurut Sutoyo (2007: 69) kecenderungan berperilaku positif pada manusia adalah merupakan aktualisasi fitrah iman yang ada pada setiap individu. Sedangkan akal merupakan anugerah yang harus digunakan untuk berfikir merenungkan episode episode yang memuat nasehat. Oleh karena itu yang sering Allah Swt tekankan setelah

memaparkan kisah adalah La allahum yatafakkarun, agar mereka berfikir. Sehingga berfikir merupakan keniscayaan yang wajib dilakukan oleh orang muslim. Manusia yang tidak mau mendayagunakan akal untuk berfikir merupakan pengingkaran terhadap nikmat Allah yang sudah diberikannya. Dalam pelaksanaan konseling, peran konselor bersifat membantu dengan cara memberikan bantuan berbentuk pemberian dorongan dan pendampingan dalam memahami dan melaksanakan syari at Allah (Sutoyo,25:2007). Klien diharapkan aktif dan mempunyai tekad yang kuat agar dapat memepelajari dan mengamalkan ajaran agama Allah. Disamping itu klien hendaknya memohon kepada Allah agar diberi kemudahan dalam proses menuju hidup yang lebih baik dengan berpedoman dengan hukum Allah.

2.2.2 Prinsip Dasar Konseling Islami Menurut Sutoyo (2007: 210-211) Prinsip dasar Konseling Islami adalah sebagai berikut : (1). Manusia ada di dunia bukan ada dengan sendirinya, tetapi ada yang menciptakan yaitu Allah SWT. Ada hukuman atau ketentuan- ketentuan Allah (sunnatullah) yang pasti berlaku untuk semua manusia sepanjang masa. Oleh sebab itu setiap manusia harus menerima ketentuan Allah itu dengan ikhlas. (2). Manusia adalah hamba Allah yang harus selalu ber-ibadah kepada-Nya sepanjang hayat. Oleh sebab itu dalam membimbing individu perlu diingatkan bahwa agar segala aktivitas yang dilakukan bisa mengandung

makna ibadah, maka dalam melakukannya harus dengan cara Allah dan niatkan untuk mencari ridlo Allah. (3). Allah menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia melaksanakan amanah dalam bidang keahlian masing masing sesuai ketentuan-Nya (khalifah fil ardh). Oleh sebab itu dalam membimbing indidividu perlu diingatkan, bahwa perintah dan larangan Allah yang harus dipatuhi, yang pada saatnya akan diminta tanggung jawab dan mendapat balasan dari Allah. (4). Manusia sejak lahir dilengkapi dengan fitroh berupa iman, iman sangat penting bagi keselamatan hidup manusia di dunia dan akherat. Oleh sebab itu kegiatan konseling seyogyanya difokuskan pada membantu individu memelihara dan menyuburkan iman. (5). Iman perlu dirawat agar tumbuh subur dan kokoh, yaitu dengan memahami dan mentaati aturan Allah. Oleh sebab itu dalam membimbing individu mampu memahami Al-qur an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. (6). Islam mengakui bahwa pada diri manusia ada sejumlah dorongan yang perlu dipenuhi, tetapi dalam pemenuhannya diatur sesuai tuntutan Allah. (7). Bahwa dalam membimbing individu seyogyanya diarahkan agar individu secara bertahap mampu membimbing dirinya sendiri Karena rujukan utama dalam membimbing adalah ajaran agama, maka dalam membimbing individu seyogyanya dibantu agar secara bertahap mereka mampu memahami dan mengamalkan ajaran agama secara benar.

(8). Islam mengajarkan agar umatnya saling menasehati dan tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Oleh Karena itu segala aktivitas individu yang dilakukan dengan mengacu pada tuntutan Allah tergolong ibadah.

2.2.3 Landasan Bimbingan dan Konseling Islami Landasan utama Bimbingan dan Konseling Islami adalah Al-quran dan sunnah rasul, sebab keduanya merupakan sumber dari segala sumber pedoman kehidupan umat Islam. Al-qur an dan sunnah rasul dapat diistilahkan sebagai landasan ideal dan konseptual Bimbingan dan Konseling Islami. Dari Al-quran dan sunah rasul itulah gagasan, tujuan dan konsep- konsep (pengertian, makna hakiki) bimbingan konseling Islami bersumber. Al-quran dan sunnah rasul merupakan landasan utama yang dilihat dari sudut asal usulnya, merupakan landasan naqliyah . Maka landasan lain yang dipergunakan oleh Bimbingan dan Konseling Islami yang sifatnya aqliyah adalah filsafat dan ilmu, dalam hal ini filsafat Islami dan ilmu atau landasan ilmiah tentu saja yang sejalan dengan ajaran Islam. Sedangkan Menurut Faqih (2001:5) landasan filosofis Islam bagi Bimbingan dan Konseling Islami antara lain adalah: (1). (2). (3). (4). Falsafah Falsafah Falsafah Falsafah tentang tentang tentang tentang dunia manusia (citra manusia) dunia dan kehidupan pernikahan dan keluarga pendidikan

(5). Falsafah tentang masyarakat dan hidup kemasyarakatan (6). Falsafah tentang upaya mencari nafkah atau falsafah kerja Ilmu ilmu yang membantu dan dijadikan landasan gerak operasional Bimbingan dan Konseling Islami (Faqih : 2001:6) antara lain:

(1). Ilmu jiwa (psikologi) Mengadopsi ilmu ilmu kejiwaan yang bisa dijadikan rujukan pengenalan terhadap individu. (2). Ilmu hukum Islam (syari ah) Mempertimbangkan hukum hukum syari at dalam mengentaskan permasalahan. (3). Ilmu- ilmu kemasyarakatan (Sosiologi, Antropologi Sosial dan sebagainya). Bimbingan konseling islami bukan hanya memerlukan ilmu umum sebagai rujukan, tetapi memerlukan ilmu agama sebagai pelengkap. Hal tersebut karena Upaya untuk meningkatkan kepercayaan diri tidak akan cukup hanya mengandalkan rasio saja, tetapi memerlukan ilmu yang lain yaitu agama, yang mampu mengungkap hal hal yang sifatnya di luar kemampuan manusia.

2.2.4 Asas Asas Bimbingan dan Konseling Islami Asas asas pelaksanaan Bimbingan dan Konseling Islami sebagai berikut (Faqih, 2001: 22-35), antara lain: (1). Asas kebahagiaan dunia akherat Kebahagiaan hidup duniawi, bagi seorang muslim hanya merupakan kebahagiaan yang sifatnya sementara, kebahagiaan akheratlah yang menjadi

tujuan utama, sebab kebahagiaan akherat merupakan kebahagiaan abadi, yang sangat banyak. (2). Asas fitroh Bimbingan Konseling Islami merupakan bantuan kepada klien untuk mengenal, memahami dan menghayati fitrohnya, sehingga segala gerak tingkah laku dan tindakannya sejalan dengan fitrohnya tersebut. (3). Asas Lillahi Ta ala Bimbingan Konseling Islami diselenggarakan semata-mata karena Allah. Konsekuensi dari asas ini berarti pembimbing melakukan tugasnya dengan penuh keikhlasan, tanpa pamrih, sementara yang dibimbing pun menerima atau meminta Bimbingan dan Konseling pun dengan ikhlas dan rela pula. (4). Asas bimbingan seumur hidup Manusia hidup betapapun tidak akan ada yang sempurna dan selalu bahagia. Dalam kehidupan mungkin saja akan menjumpai berbagai kesulitan dan kesusahan. Oleh karena itulah maka bimbingan konseling Islami diperlukan selama hayat masih dikandung badan. (5). Asas kesatuan jasmaniah rohaniah Bimbingan Konseling Islami memperlakukan kliennya sebagai makhluk jasmani dan rohaniah, tidak memandang sebagai makhluk biologis semata, atau makhluk rohaniah semata. Bimbingan dan Konseling Islami membantu untuk hidup dalam keseimbangan jasmaniah dan rohaniah tersebut.

(6). Asas keseimbangan rohani Rohani manusia memiliki unsur daya kemampuan fikir, merasakan atau menghayati dan kehendak atau hawa nafsu, serta juga akal. Klien yang dibimbing diajak mengetahui apa apa yang perlu dipikirkan, sehingga memperoleh keyakinan, tidak menerima begitu saja, tetapi juga tidak menolak begitu saja. Kemudian diajak memahami apa yang perlu dipahami dan dihayatinya setelah berdasarkan pemikiran dan anlisis yang jernih diperoleh keyakinan tersebut. (7). Asas maujudan individu Bimbingan Konseling Islami, berlangsung pada citra manusia menurut Islam, memandang seseorang individu merupakan suatu maujud (eksistensi) tersendiri. Individu mempunyai hak, mempunyai perbedaan, dan mempunyai kemerdekaan pribadi sebagai konsekuensi dari haknya dan kemampuan fundamental potensial rohaniahnya. (8). Asas sosialitasnya manusia Manusia merupakan makhluk sosial, hal ini diakui dan diperhatikan dalam Bimbingan Konseling Islami. Pergaulan, cinta kasih, rasa aman, penghargaan terhadapa diri sendiri dan orang lain, rasa memiliki dan dimiliki, semuanya merupakan aspek aspek yang diperhatikan di dalam Bimbingan Konseling Islami, karena merupakan ciri hakiki manusia.

(9). Asas kekhalifahan manusia Manusia menurut Islam, diberi kedudukan yang tinggi sekaligus tanggung jawab yang besar, yaitu sebagai pengelola alam semesta khalifatullah fil ard (dasarnya QS. 13:11;30:41) (10). Asas keselarasan dan keadilan Islam menghendaki keharmonisan, keselarasan, keseimbangan, keserasian dalam segala segi. Dengan kata lain Islam menghendaki manusia berlaku adil terhadap hak dirinya sendiri, hak orang lain hak alam semesta (hewan, tumbuhan, dsb) dan juga hak Tuhan. (11). Asas pembinaan akhlaqul karimah Manusia menurut pandangan Islam, memiliki sifat sifat yang baik (mulia) sekaligus mempunyai sifat sifat lemah, seperti telah dijelaskan dalam uraian mengenai citra manusia. Sifat sifat yang baik merupakan sifat yang dikembangkan oleh Bimbingan konseling Islami. Bimbingan konseling Islami membantu klien memelihara, mengembangkan, menyempurnakan sifat sifat yang baik tersebut (dasarnya QS.33:32) (12). Asas kasih sayang Setiap manusia memerlukan cinta kasih dan sayang dari orang lain. Rasa kasih sayang ini dapat mengalahkan dan menundukan banyak hal. Bimbingan konseling Islami dilakukan dengan berlandaskan kasih sayang . sebab dengan kasih sayanglah Bimbingan dan Konseling Islami akan berhasil.

(13). Asas saling menghargai dan menghormati Dalam Bimbingan Konseling Islami kedudukan pembimbing dengan yang dibimbing pada dasarnya sama atau sederajat, perbedaannya terletak pada fungsinya saja, yakni yang satu memberi bantuan dan yang satu menerima bantuan. Hubungan saling menghormati sesuai dengan kedudukan masing masing sebagai makhluk Allah (dasarnya QS.4:48) (14). Asas musyawarah Bimbingan Koneseling Islami dilakukan dengan asas musyawarah, artinya antara pembimbing dengan yang dibimbing atau klien terjadi dialog yang baik, atau sama lain tidak saling mendiktekan, tidak ada perasaan tertekan dan keinginan tertekan (dasarnya QS.3:159) (15). Asas keahlian Bimbingan Konseling Islami dilakukan oleh orang orang yang memandang memiliki kemampuan keahlian di bidang tersebut, baik keahlian dalam bidang keahlian dalam metodologi dan teknik teknik bimbingan konseling, maupun dalam bidang yang menjadi permasalahan (obyek garap) bimbingan konseling.

2.2.5 Tujuan Bimbingan Konseling Islami Tujuan konseling Islami menurut Hamdani Bakran Adz-Dzuki (163-164) , adalah: (1). Untuk menghasilkan suatu perubahan, perbaikan, kesehatan, dan kebersihan jiwa dan mental. Jiwa menjadi tenang, jinak dan damai (muthmainah),

bersikap lapang dada (radhiyah) dan mendapatkan pencerahan taufik dan hidayah Tuhannya (mardhiyah). (2). Untuk menghasilkan suatu perubahan, perbaikan dan kesopanan, tingkah laku yang dapat memberikan manfaat baik pada diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan kerja, maupun lingkungan social dan alam sekitarnya. (3). Untuk menghasilkan kecerdasan rasa (emosi) pada individu sehingga muncul dan berkembang rasa toleransi, kesetiakawanan, tolong-menolong dan rasa kasih sayang. (4). Untuk menghasilkan kecerdasan spiritual pada diri individu sehingga muncul dan berkembang rasa keinginan untuk berbuat taat kepada Tuhannya, ketulusan mematuhi segala perintah-Nya, serta ketabahan untuk menerima ujian-Nya. (5). Untuk menghasilkan potensi ilahiyyah, sehingga dengan potensi itu individu dapat melakukan tugasnya sebagai khalifah dengan baik, menanggulangi berbagai persoalan hidup dan dapat memberikan kemanfaatan dan keselamatan bagi lingkungan pada berbagai aspek kehidupan. Menurut Sutoyo (2007:209) tujuan bimbingan konseling Islami, adalah: (1). Tujuan jangka panjang Agar fitrah yang dikaruniakan Allah kapada indivdu bisa berkembang dan berfungsi baik, sehingga menjadi pribadi kaffah, dan secara bertahap mampu mengaktualisasikan apa yang diimaninya itu dalam kehidupan hari, yang tampil dalam bentuk kepatuhan terhadap hukum sehari

hukum Allah dalam melaksanakan tugas kekhalifahan di bumi, dan ketaatan dalam beribadah dengan mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. (2). Tujuan jangka pendek Terbinanya iman (fitrah) individu hingga membuahkan amal saleh yang dilandasi dengan keyakinan yang benar bahwa: (a). Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang harus selalu tunduk dan patuh pada segala aturan-Nya. (b). Selalu ada kebaikan (hikmah) di balik ketentuan (taqdir) Allah yang berlaku atas dirinya. (c). Manusia adalah hamba Allah, yang harus ber-ibadah kepada-Nya sepanjang hayat. (d). Ada fitrah (iman) yang dikaruniakan Allah kepada setiap manusia, jika fitrah iman dikembangkan dengan baik, akan menjadi pendorong, pengendali, dan sekaligus pemberi arah bagi fitrah jasmani, rohani, dan nafs akan membuahkan amal saleh yang menjamin kehidupannya selamat di dunia dan akhirat. (e). Esensi iman bukan sekedar ucapan dengan mulut, tetapi lebih dari itu adalah membenarkan dengan hati, dan mewujudkan dalam amal perbuatan. (f). Hanya dengan melaksanakan syari t agama secara benar, potensi yang dikaruniakan Allah kepadanya bisa berkembang optimal dan selamat dalam kehidupan di dunia dan akhirat.

Agar individu bisa melaksanakan syari at Islam dengan benar, maka ia harus berupaya dengan sungguh sungguh untuk memahami dan melaksanakan kandungan kitab suci Al-Quran dan sunnah rasul-Nya.

2.2.6 Fungsi Bimbingan dan Konseling Islami Fungsi Bimbingan dan Konseling Islami dapat dirumuskan sebagai berikut: (1). (2). (3). (4). Fungsi Fungsi Fungsi Fungsi preventif, kuratif. preservative. developmental

Tindakan pencegahan dan pemeliharaan dimaksudkan agar perkembangan iman, islam,dan khsan yang telah dicapai individu tidak kembali ke posisi sebelumnya; tindakan penyembuhan dimaksudkan untuk menghilangkan pengaruh negatif yang dapt merusak keimanan, keislaman, dan ikhsan yang ada pada individu; tindakan pengembangan dimaksudkan agar iman, islam, dan iksan yan ada pada individu bisa semakin subur mendekati sempurna dan sekaligus terhindar dari kerusakan.

2.3 BIMBINGAN KELOMPOK 2.3.1 Pengertian Bimbingan kelompok adalah proses pemberian bantuan yang diberikan pada individu dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok ditujukan untuk mencegah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan potensi siswa

(Romlah,2001:3). Potensi siswa yang ingin peneliti kembangkan adalah kepercayaan diri dalam lingkup umat islam. Seorang muslim harus percaya diri, ia harus mampu menghindari tuntutan sosial yang bertentangan dengan ketentuan ilahi, salah satunya adalah percaya diri untuk melakukan kebaikan meskipun orang lain menolak dan mencemoohnya karena pusat kepercayaan dirinya hanyalah Allah, ia akan merasa cemas dan gundah ketika berbuat dosa dan merasa percaya diri ketika melakukan kebenaran sesuai tuntunan Allah. Oleh karena itu peneliti berupaya meningkatkan kepercayaan diri siswa melalui bimbingan dan konseling islami dengan layanan bimbingan kelompok.

2.3.2 Manfaat bimbingan kelompok Menurut Traxeler dalam Romlah (2001:17) manfaat bimbingan kelompok adalah sebagai berikut: 1. Bimbingan kelompok dapat menghemat waktu khususnya dalam memberikan layanan-layanan yang berguna untuk para siswa. 2. Bimbingan kelompok cocok digunakan untuk melaksanakan beberapa kegiatan terutama kegiatan yang sifatnya intruksional. 3. Bimbingan kelompok menolong individu untuk dapat memahami bahwa orang-orang lain ternyata mempunyai kebutuhan-kebutuhan dan masalahmasalah yang sama. 4. Bimbingan kelompok dapat membantu pelaksanaan konseling individual.

5. Kegiatan kelompok juga mempunyai nilai penyembuhan kususnya untuk kegiatan psikodrama, sosiodrama, dinamika kelompok dan psikoterapi kelompok.

2.3.3 Macam-Macam Kelompok Kelompok dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai susut pandang, misalnya: besarnya interaksi sosialnya, tingkat keakraban hubungan antar anggotanya, varasi kepentingan anggota-anggotanya, jangka waktu kebersamaannya, organisasinya atau kombinasi-kombinasi dari hal-hal tersebut. Dalam penelitian ini termasuk dalam kategori kelompok tertutup karena jumlah anggotanya tetap yaitu individu-individu yang dari awal sampai akhir menjadi anggota kelompok tersebut. Individu lain tidak boleh masuk ikut kegiatan kelompok selama proses kelompok berlangsung.

2.3.4 Dinamika Kelompok Dinamika kelompok adalah kekuatan-kekuatan yang berinteraksi dalam kelompok pada waktu kelompok melakukan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuannya (Romlah,2001:32). Dikemukakan pula bahwa produktivitas kelompok akan tercapai apabila ada interaksi yang harmonis antara anggota-anggotanya. Selanjutnya romlah (2001:33) menyatakan bahwa diantara hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan-kegiatan kelompok yang dapat menghasilkan perubahan perilaku anggota-anggotanya yaitu makin relevan kegiatan kelompok dengan sikap dan nilai-nilai anggotanya, makin besar pengaruh kelompok. Oleh

sebab itu peneliti mengambil setting MA dalam melakukan penelitian dengan harapan nilai-nilai islam yang akan dikembangkan sesuai dengan nilai-nilai yang sudah tertanam pada angotanya sehingga mampu menimbulkan dinamika kelompok.

2.3.5 Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kohesivitas Kelompok 1. Bahasa dan proses berfikir yang sama. 2. Masalah-masalah dan tujuan yang sama. 3. Cara berkomunikasi serta saluran-saluran kamunikasi yang jelas antara anggota. 4. Adanya rasa saling memiliki dan dimiliki oleh kelompok. 5. Frekuensi pertemuan. 6. Hubungan yang bersifat kerjasama. 7. Organisasi yang mantap di mana para anggotanya mempunyai tanggung jawab untuk bekerjasama untuk kepentingan kepuasan kebutuhan masing-masing anggota.

2.3.6 Tipe-Tipe Kepemimpinan 2.3.6.1 Kepemimpinan otoriter Pemimpin yang menggunakan kepemimpinan otoriter menganggap bahwa para anggota kelompoknya tanpa bantuannya tidak mampu melakukan kegiatankegiatan untuk mencapai tujuan kelompok atau untuk mengadakan perubahanperubahan.

2.3.6.1Kepemimpinan demokratis Tipe kepemimpinan yang demkratis juga disebut sebagai kepemimpinan yang berorientasi pada kelompok. Pemimpin yang demokratis menolak tanggung jawab tunggal untuk mengarhkan kelompok, atau untuk mengambil keputusan akhir. Tujuannya adalah untuk mengikutsertakan para anggotanya sedemikian rupa sehingga setiap anggota memebrikan sumbangan terhadap kesejahteraan lain dalam kelompok. 2.3.6.3 Kepemimpinan Laissez-faire Kepemimpinan Laissez-faire juga disebut dengan kepemimpinan planless atau sama saja dengan tidak ada pemimpin. Pemimpin yang menganut tipe ini berpendapat bahwa merupakan merupakan tanggung jawab anggotaanggota kelompok untuk mengarhkan kelompok sesuai dengan kepentingan mereka. Dalam penelitian ini tipe kepemimpinan yang dilakukan dalah tipe kepemimpinan demikratis. Peneliti melakukan kerjasama dengan parisipan dalam mendiskusikan berbagai macam masalah, partsispan diberi haka-hak untuk mendengarakan dan sekaligus berpendapat sehingga tidak ada saling mendominasi. 2.3.7 Peranan pemimpin kelompok 1. Memberikan dorongan emosional (emotional stimulation): memberi tantangan, menunjukkan pertentangan, memberi kegiatan, memberi intruksi dengan mengambil resiko pribadi dan sangat tertutup.

2. Mempedulikan (caring): memberi dorongan, mengasihi, menghargai, hangat, menerima, tulus dan penuh perhatian. 3. Memberikan pengertian (meaning attribution): menjelaskan, mengklarifikasi, menafsirkan, memberikan kerangka berfikir untuk berubah, menerjemahkan perasaan-perasaan dan pengalamanpengalaman ke dalam ide. 4. Fungsi eksekutif (eksekutif function): menettkan batas waktu, aturanaturan, norma-norma, tujuan-tujuan, mengelola waktu;menentukan kecepatan kerja kelompok, waktu berhenti, istirahat, dan emebrikan saran-saran.

2.3.8 Tahap-Tahap Perkembangan Kelompok 2.3.8.1 Tahap orientasi Tujuan utama tahap orientasi adalah untuk saling mengenal dan mengetahui identitas masing-masing anggota kelompok, dan mengembangkan kepercayaan anggota kelompok.

2.3.8.2 Tahap pembinaan norma dan tujuan kelompok Norma-norma yang dikembangkan dalam tahap ini adalah (a) tanggung jawab,(b) responsif terhadap anggota kelompok yang lain,(c) saling ketergantungan:anggota kelompok bekerjasama untuk mencapai tujuan kelompok;(d) pengambilan keputusan berdasrkan konsensus; (e) masalah yang timbul harus dihadapi dan dipecahkan bersama-sama.

2.3.8.3 Tahap produktivitas Tahap produktifitas dalam kelompok adalah tahap di mana kelompok telah tumbuh menjadi suatu tim yang produktif dan telah mempaktikkan keterampilanketerampilan dan sikap-sikap yang diperlukan untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain. 2.3.8.4 Tahap mengakhiri kelompok Tahap mengakhiri kelompok atau terminasi adalah tahap di mana para anggota kelompok akan meninggalkan kelompok karena kegiatan kelompok sudah berakhir atau mereka sudah tidak memerlukan bantuan lagi.

2.3.9 Teknik-Teknik 2.3.9.1 Teknik pemberian informasi Teknik pemberian informasi sering juga disebut dengan metode ceramah, yaitu pemberian penjelasan oleh seorang pembicara kepada sekelompok pendengar. Sebenarnya pemberian informasi tidak hanya diberikan secara lisan, tetapi juga dapat diberikan secara tertulis. Pemberian informasi secara tertulis dapat dilakukan melalui berbagai media, misalnya papan bimbingan, majalah sekolah, rekaman (tape recorder), selebaran video dan film. 2.3.9.2 Diskusi kelompok Diskusi kelompok adalah percakapan yang sudah direncanakan antara tiga orang atau lebih dengan tujuan untuk memecahkan masalah atau untuk memperjelas suatu persoalan, di bawah pimpinan seorang pemimpin.

2.3.9.3 Teknik pemecahan masalah Teknik pemecahan masalah (problem-solving techniques) digunakan untuk menyebut suatu proses yang kreatif di mana individu-individu menilai perubahan-perubahan yang ada pada dirinya dan lingkungnnya, dan membuat pilihan-pilihan baru, keputusan-keputusan, atau penyesuaian yang selaras dengan tujuan-tujuan dan nilai-nilai hidupnya .

2.3.9.4 Permainan peranan Permainan peran mempunyai arti sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan, di mana individu memerankan situasi yang imaginatif dengan tujuan untuk membantu tercapainya pemahaman diri sendiri, meningkatkan keterampilan-keterampilan, menganalisis perilaku, atau menunjukkan pada orang lain bagaimana perilaku seseorang atau bagaimana seseorang harus bertingkah laku.

2.3.9.5 Permainan simulasi Permainan yang dimaksudkan untuk merefleksikan situasi-situasi yang terdapat dalam kehidupan yang sebenarnya. Tetapi situasi itu hampir selalu dimodifikasi, apakah dibuat lebih sederhana, atau diambil sebagian, atau dikeluarkan dari konteksnya.

2.3.9.6 Karyawisata

Karya wisata adalah kegiatan yang diprogramkan oleh sekolah untuk mengunjungi objek-objek yang ada kaitannya dengan bidang studi yang dipelajari siswa, dan dilaksanakan untuk tujuan belajar secara khusus.

2.3.9.7 Teknik penciptaan suasana kekeluargaan Teknik penciptaan kekeluargaan atau homeroom adalah teknik untuk mengadakan pertemuan dengan sekelompok siswa di luar jam-jam pelajaran dalam suasana kekeluargaan, dan dipimpin oleh guru atau konselor. Tenik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pemberian informasi karena di dalamnya terdapat ceramah, dan juga menggunakan media bimbingan yaitu berupa film motivasi.

2.4 Kepercayaan diri 2.4.1 Pengertian Kepercayaan Diri. Beberapa ahli merumuskan definisi kepercayaan diri. Kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan dalam jiwa manusia bahwa tantangan hidup apapun harus dihadapi dengan berbuat sesuatu (Angelis, 2003:10). Dari definisi ini menjelaskan bahwa kepercayan diri merupakan tekad atau kesediaan untuk melakukan sesuatu, bukan berorientasi kepada hasil. Hasil merupakan bagian akhir yang tidak bisa ditebak oleh manusia, oleh karena itu adanya kemauan atau tekad yang kuat untuk menghadapi hidup adalah sikap percayaan diri yang kuat. Percaya diri yang kuat dicerminkan dengan sikap percaya dengan diri sendiri, bahwa ia mampu berbuat dan yakin bahwa manusia diberi kekuatan untuk

berusaha. Jadi kepercayaan diri tumbuh karena ada keyakinan bahwa ia mampu melakukan untuk menghadapi masalah dalam hidupnya, keyakinan mampu menghadapi tantangan dan masalah yang dihadapi, yakin bahwa ia mampu, bukan keyakinan yang muncul karena kemampuan individu dalam menghadapi masalah dan tantangan tersebut, bukan juga keyakinan yang munucul bahwa masalah yang dihadapi tersebut sesuai dengan spesialisasinya. Jika kepercayaan diri muncul karena seseorang sukses melakukan sesuatu akan pada kesempaatan lain ia akan mengalami krisis percaya diri manakala usahanya tidak suskses. Hakim (2005: 6) menyatakan: pengertian rasa percaya diri merupakan keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya Jadi, individu yang percaya diri adalah individu yang mampu mengenali kelebihan kelebihan dalam dirinya, dengan mengetahui kelebihan tersebut dapat menumbuhkan keyakinan dalam diri bahwa ia mampu melakukan sesuatu. Siswa yang mempunyai kepercayaan diri mampu mengerti kelebihan kelebihan yang ia miliki, mengoptimalkan kelebihan tersebut untuk mencapai tujuan hidupnya, dan mampu menjadikannya standar dalam mencapai target, artinya karena ia menyadari kelebihan kelebihan ia akan menjadi individu yang optimis, selalu berfikir untuk maju, sebagai rasa syukur terhadap karunia Allah. Berbeda dengan individu yang mengalami krisis percaya diri, ia memandang kemampuannya selalu berada di bawah orang lain. Menjadikan kelemahan sebagai aib yang besar, dan pikirannya selalu disibukkan dengan

kekurangan kekurangan yang ia miliki, sehingga ia hanya mampu memandang bahwa dirinya terlalu rendah di mata orang lain. Hal ini mendorong individu tida k mempunyai pendirian yang kuat tentang gagasan gagasan dalam hidupnya sehingga mudah terdoktrin oleh idealisme orang lain. Siswa yang idealismenya tentang perempuan/laki-laki menarik sudah sesuai dengan standar iklan di media massa yang mengekspose bentuk tubuh semata akan mempengaruhi sikap dan perilakunya. Informasi ini mendorong siswa selalu menyibukkan diri untuk menutupi kekurangan kekurangan secara fisiknya yaitu menghias dengan berbagai cara agar terlihat cantik/tampan sampai terkadang tidak memikirkan apakah kosmetik yang dipakainya aman atau tidak bagi kesehatan dirinya, apakah cara mempercantik dirinya tidak bertentangan dengan aturan agama atau tidak, khususnya cara berpakaian seorang muslimah. Sering kali siswi mengabaikan demi mendapat pengakuan lingkungan bahwa ia bisa mengikuti perkemangan zaman. Semua itu mereka lupakan demi mendapatkan kecantikan yang ia inginkan. Sedangakn Luxory (2004: 4) menyatakan bahwa, percaya diri adalah hasil dari percampuran antara pikiran dan perasaan yang melahirkan perasaan rela terhadap diri sendiri. Dengan memiliki kepercayan diri, seesorang akan selalu merasa baik, rela dengan kondisi dirinya, akan berfikir bahwa dirinya adalah manusia yang berkualitas dalam berbagai bidang kehidupan, pekerjaan, kekeluargaan, dan kemasyarakatan, sehingga dengan sendirinya seseorang yang percaya diri akan selalu merasakan bahwa dirinya adalah sosok yang berguna dan memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dan bekerjasama dengan masyarakat

lainnya dalam berbagai bidang. Rasa percaya diri yang dimiliki seseorang akan mendorongnya untuk menyelesaikan setiap aktivitas dengan baik. Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kepercayaan diri adalah keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimikinya dan senantiasa bersumber dari nurani untuk melakukan segala yang kita inginkan bukan dari karya yang dihasilkan sehingga ia merasa puas dengan dirinya.

2.4.2 Sumber Rasa tidak Percaya Diri Rasa tidak percaya diri muncul dimulai dari adanya kelemahan- kelemahan tertentu di dalam berbagi aspek kepribadian seseorang. Kelemahan pribadi memiliki aspek yang sangat luas dan berkaitan dengan kehidupan di dalam keluarga sejak masa kecil. Rasa tidak percaya diri akan menghambat seseorang dalam hidupnya, seperti dalam menentukan gaya hidup seseorang. Berbagai kelemahan pribadi yang biasanya dialami dan sering menjadi sumber tidak percaya diri antara lain: cacat atau kelainan fisik; buruk rupa; ekonomi lemah; status sosial; status perkawinan; sering gagal; kalah bersaing; kurang cerdas; pendidikan rendah; perbedaan lingkungan; tidak supel; tidak siap menghadapi situasi tertentu; sulit menyesuikan diri; mudah cemas dan penakut; tidak terbiasa; mudah gugup; berbicara gagap; pendidikan keluarga kurang baik; sering menghindar; mudah menyerah; tidak bisa menarik simpati orang; serta kalah wibawa dengan orang lain (Hakim, 2005: 12-24). Luxory (2001: 103) menyatakan bahwa terdapat beberapa perasaan penting yang mengontrol emosi manusia dan membuatnya kehilangan peraya diri. Mula

mula disebabkan oleh perasaan cemas dan perasaan tidak tenang serta perasaan perasaan lain yang mengikutinya, seperti malas, kurang sabar, sulit, susah, atau rendah diri. Dengan perasaan tersebut, manusia menjadi ragu akan kemampuan dan dirinya. Kurang percaya diri juga dapat disebabkan oleh perasaan khawatir dan pikiran buruk. Perasaan inilah yang menimbulkan perasaan gelisah, tegang, dan takut, sehingga menjadi kehilangan percaya diri.

2.4.3 Karakteristik atau ciri-ciri Individu yang percaya diri Beberapa ciri atau karakteristik individu yang mempunyai rasa percaya diri yang proporsional (www.e-psikologi.com), adalah : (1). Percaya akan kompetensi/kemampuan diri, hingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, atau pun rasa hormat orang lain (2). Tidak terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterima oleh orang lain atau kelompok (3). Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain berani menjadi diri sendiri (4). Punya pengendalian diri yang baik (tidak moody dan emosinya stabil) (5). Memiliki internal locus of control (memandang keberhasilan atau kegagalan, tergantung dari usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak tergantung/mengharapkan bantuan orang lain) (6). Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, ornag lain dan situasi di luar dirinya (7). Memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri, sehingga ketika harapan itu tidak terwujud, ia tetap mampu melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi.

2.4.4 Jenis Jenis Kepecayaan Diri Lindenfield (1997:4-10) menjelaskan bahwa kepercayaan diri terdiri dari dua jenis yaitu: kepercayaan diri batin dan kepercayaan diri lahir. Selain dua jenis kepercayaan diri di atas, menurut Angelis (2003: 58) ada tiga jenis kepercayaan diri yang perlu dikembangkan, yaitu tingkah laku, emosi, dan kerohanian (spiritual). Masing masing kepercayaan diri tersebut mempunyai ciri utama yang khas.

2.4.4.1 Kepercayaan Diri Batin Kepercayaan diri batin mempunyai empat ciri utama, yaitu: (a). Cinta diri Cinta diri yang dimaksud adalah peduli tentang diri mereka sendiri sehingga perilaku dan gaya hidup yang mereka tampilkan untuk memelihara diri sendiri, untuk itu jelaslah bahwa cinta diri pada masing masing individu sangat diperlukan dalam menumbuhkan kepercayaan diri karena setiap individu akan menghargai dengan baik kebutuhan jasmani maupun rohaninya, sehingga diharapkan: (1) Mampu menghargai diri, (2) Mampu memanfaatkan diri ,(3) Mampu menentramkan diri. (b). Pemahaman diri Adanya pemahaman diri maka dalam individu akan tumbuh kesadaran diri. Berangkat dari kesadran diri itulah mereka tidaka akan terus menerus merenungi diri sendiri. Dengan pemahaman diri individu individu akan sadar diri. Berangkat dari kesadaran diri inilah mereka tidak akan terus menerus

merenung diri sendiri. Dari diri dapat memberikan suatu terbuka menerima kritik dan diri, (2)Kesadaran mengerti

penjelasan tersebut jelaslah bahwa pemahaman kesadaran akan kelebihan dan kekurangan diri, saran sehingga akan tumbuh (1) Kesadaran tahu diri ,(3) Kesadaran menerima diri.

(c). Tujuan yang jelas Orang yang percaya diri selalu tahu tujuan hidupnya, mantap dalam mengambil keputusan. Hal tersebut karena mereka mempunyai pikiran yang jelas mengapa mereka melakukan tindakan tertentu dan mereka tahu hasil apa yang bisa diharapkan. Individu yang mempunyai tujuan yang jelas juga mempunyai semangat hidup yang tinggi karena hidupnya terarah, sehingga menumbuhkan motivasi. (d). Berfikir positif Orang orang yang percaya diri selalu berfikir positif, memandang kehidupan dari sisi yang cerah dan selalu berusaha mencari pengalaman dan hasil yang bagus. Mampu berfikir masa depan akan lebih baik dari masa lalu, tidak pernah merasa gagal dalam hidupnya, karena setiap kejadian membawa pengalaman yang akan menuntun perjalanan di masa depan. Tidak memandang hidup sebagai hal yang sulit, karena yakin bahwa semua masalah bisa diatasi, bersama kesulitan ada kemudahan.

2.4.4.2 Kepercayaan Diri Lahir Kepercayaan diri ini cenderung memberikan kesan pada dunia luar untuk itu ada beberapa keterampilan yang perlu dikembangkan yaitu:

(1). Komunikasi Sugiyo (2005:1) komunikasi mengandung pengertian memberitahukan dan menyebarkan informasi, berita, pesan, pengetahuan, nilai, dan pikiran dengan maksud agar menggugah partisipasi dan selanjutnya orang yang diberitahukan tersebut menjadi mailik bersama. Dengan memiliki dasar yang baik dalam bidang keterampilan berkomunikasi maka kemampuan berbicara dengan bahasa yang baik, kemampuan mendengarkan dengan penuh perhatian dan mampu membaca maupun menerima bahasa non verbal serta mampu menempatkan topik pembicaraan dengan tepat dapat memberikan nilai positif dalam berkomunikasi. (2). Ketegasan Sikap agresif dan pasif akan melemahkan kepercayaan diri sesorang. Untuk menghindari hal tersebut pada diri individu diperlukan sikap tegas sehingga mampu: a) menyatakan kebutuhan secara langsung dan terus terang, b) membela hak pribadi dan orang lain, c) melakukan kompromi yang dapat diterima dengan baik, d) memberi dan menerima kritik yang membangun dan ,f) menyampaikan keluhan secara efektif. (3). Penampilan diri Keterampilan ini akan mengajarkan pada anak betapa pentingnya tampil sebagai orang yang percaya diri. Dalam kehidupan sehari hari setiap orang pasti tampil diri. Untuk dapat tampil diri; memilih gaya pakaian dan warna yang paling cocok dengan kepribadian dan kondisi fisik masing masing; memilih pakaian yang cocok untuk berbagai peran dan peristiwa,

dengan tetap mempertahankan gaya pribadinya; cepat mendapat pengakuan karena penampilan pertama yang bagus; menyadari dampak gaya hidupnya (misalnya mobil, rumah dsb) terhadap orang lain mengenai diri mereka, tanpa terbatas pada keinginan untuk selalu ingin menyenangkan orang lain. (4). Pengendalian perasaan Pada umumnya dalam kehidupan sehari hari diperlukan pengendalian perasaan. Kalau perasaan tidak dikelola dengan baik, maka bisa membentuk suatu kekuatan besar yang tak terduga yang bisa membuat seseorang lepas kendali. Uraian tersebut mempunyai maksud bahwa dalam pengendalian perasaan seseorang harus mampu mempunyai: a)keberanian dalam menghadapi tantangan maupun resiko, b)ketabahan dalam menghadapi kesedihan maupun masalah, c)pengendalian dalam bertindak apa adanya dan santai tapi pasti sehingga tidak mudah terbenam nafsu. Kepercayaan diri lahir dan batin apabila ada pada setiap orang dan memenuhi semua unsur akan terbentuk kepercayaan diri yang istimewa. Menurut Lindenfield (1997:11) bahwa kepercayaan diri istimewa adalah kepercayaan diri super karena mempunyai semua unsur yang ada dari interaksi lahir dan batin yang berkesinambungan. 2.4.4.3 Kepercayaan Diri Spiritual Menurut Angelis (2003: 75-81), kepercayaan diri spiritual ini merupakan kepercayaan yang terpenting dari ketiganya, yaitu keyakinan bahwa hidup ini memiliki tujuan. Kepercayaan diri spiritual ini menegaskan kedudukan seseorang

dalam hubungannya dengan keberadaan seluruh alam semesta ini. Ada tiga hal yang menjadi cirinya yaitu keyakinan bahwa alam semesta in adalah suatu misteri yang terus berubah; dan bahwa setiap perubahan dalam kesemestaan ini merupakan bagian dari suatu perubahan yang lebih besar lagi; kepercayaan akan adanya kodrat alami sehingga segala yang terjadi tidak lebih dari kewajaran belaka; dan keyakinan pada diri sendiri dan pada Tuhan. Dengan kepercayaan diri spiritual, seseorang memiliki naluri mengenai adanya rasa tentram yang mengisi lubuk hati dan memupuk batinnya, senantiasa meniti jalan yang benar, serta memiliki keyakinan bahwa dimanapun individu itu berada, sesungguhnya individu itu dibutuhkan.

2.5 Menumbuhkan Kepercayaan Diri Menurut Widarso (2005: 1-23), agar seseorang dapat menumbuhkan kepercayaan dirinya, seorang hendaknya mempunyai kesadaran dan keyakinan akan kekuatan dan kemampuannya sendiri (dengan kata lain mempunyai rasa percaya diri), diperlukan usaha gigih yang kontinyu dan penuh kesabaran yang harus ditempuh untuk membangun pilar- pilar rasa percaya dirinya kokoh. Tujuh pilar yang dapat menyangga rasa percaya diri antara lain: (1). Menyadari bahwa semua orang adalah ciptaan Tuhan yang dikaruniai hak hak mendasar yang sama, yaitu hak untuk hidup, hak untuk merdeka, dan hak mencari kebahagiaan kita sendiri. Individu tidak perlu minder dan merasa kurang percaya diri. (2). Mandiri

Dalam kehidupan sehari hari, seorang hendaknya mampu mengerti diri, menempatkan diri dalam situasinya, mengambil sikap dan menentukan dirinya; serta nasibnya ada di tangan sendiri. Pribadi yang mandiri dan sehat memiliki kemampuan untuk membentuk pikiran, mencapai keputusan, dan melaksanakan dorongan dan disiplin mereka sendiri. Orang yang mandiri harus selalu kembali kepada diri sendiri, bukan berarti tidak butuh orang lain. Tetapi dalam hal pengembangan kepribadian, seseorang harus lebih mengandalkan diri sendiri daripada orang lain, seorang harus menggali kemampuan diri sendiri daripada menggantungkan diri ( menjadi benalu ) pada orang lain. (3). Punya kelebihan Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Tidak ada orang di dunia ini yang tdak memiliki kelebihan sama sekali. Mungkin kelebihan seseorang tidak sehebat yang dimiliki orang lain, tapi setiap orang harus memiliki keyakinan bahwa setiap orang pasti punya kelebihan/keunggulan. Untuk menumbuhkan rasa percaya diri, seseorang harus berusaha menanamkan keunggulan atau kelebihan diri dan kemudian mengembangkannya dengan sungguh- sungguh. Jika berhasil, itu dapat mendongkrak rasa percaya diri. (4). Berpengatahuan luas Pengetahuan adalah kekuatan, artinya orang yang berpengaetahuan luas akan menjadi kuat (secara mental). Salah satu cara agar memiliki pengetahuan yang luas adalah dengan rajin membaca. Selain itu

dengan memiliki rasa ingin tahu yang besar., mau mencari informasi melalui internet dan tidak malu bertanya. Semakin berpengetahuan, semakin kuat , artinya, seseorang tidak mudah menyerah dan kemudian diam seribu bahasa, tidak bisa berkata apapun untuk mengimbangi pembicaraan. Dengan memiliki pengetahuan yang luas, seseorang dapat lebih percaya diri. (5). Realistis Orang yang tidak percaya diri akan merasa dirinya negtaif daripada positif. Orang semacam ini mendengar hal positif seperti bisikan, sementara hal negataif tentang dirinya terdengar seperti geledek sehingga ia kaget dan takut. Kebanyakan orang tergoda untuk melihat atau terfokus melihat yang negatif yang berkaitan dengan dirinya atau karyanya, sementara hal positif yang ada adanya / karyanya sering diremehkan. Maka seorang perlu belajar untuk selalu berfikir seimbang karena pikiran yang seimbang itulah yang nyata dan yang realistis. (6). Asertif Orang yang bersikap asertif akan dengan tulus mengakui hak orang lain, tetapi pada saat yang sama menegakkan haknya sendiri. Dengan kata lain, ketika memperjuangkan haknya sendiri, dia tidak merampas atau menginkari hak orang lain. Sikap asertif penting untuk membangun rasa percaya diri. Tanpa sikap ini seseorang akan mudah dipermainkan oleh orang lain.

(7). Dapat duduk dan berdiri tegak Orang yang percaya diri dapat menggunakan bahasa verbal dan nonverbal dengan tepat. Bahasa nonverbal meliputi gerak mata atau arah pandangan mata, tinggi rendahnya suara, cepat lambatnya tempo suara, ekspresi wajah, gerak kepala, gerak tubuh , gerak tangan, posisi duduk/ berdiri, dan jarak antara pembicaraan dengan pendengar. Bahasa nonverbal biasanya otomatis, artinya seorang tidak perlu dengan sadar memilih/memakai bahasa nonverbal, karena ini akan muncul dengan sendirinya. Agar kepercayaan diri tumbuh, maka seseorang hendaknya menampilkan bahasa nonverbal seperti berani memandang wajah dan mata orang yang diajak bicara atau yang mnegajaknya berbicara dan kontak ini terjadi dalam waktu yang relative lama.

2.6 Keterkaitan antara Kepercayaan Diri dengan Bimbingan Konseling Islami Bimbingan dan Konseling Islami adalah proses pemberian bantuan kepada individu atau kelompok oleh konselor dengan cara mengembangkan fitrah atau kembali kepada fitrah dengan cara memberdayakan (enpowering) iman, dan kemauan yang dikaruniakan Allah Swt sehingga klien mampu menerapkan pola hidup sesuai dengan Al-quran dan hadits sehingga mencapai keseimbangan hidup yaitu mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Hubungan dalam kegiatan kelompok menurut Hakim (2005: 132), anggota kelompok akan banyak mendapatkan manfaat antara lain; sosialsasi atau pergaulan dengan teman teman sebaya; mendapatkan tambahan keterampilan tertentu, seperti kepemimpinan dan cara berhubungan dengan orang lain. Lindenfield (1997:15) menyatakan bahwa untuk mengembangkan percaya diri, seseorang perlu menjalin hubungan baik dengan siapapun, baik orang yang sudah dikenal maupun mampu menjalin hubungan baik dengan orang orang baru, karena dengan berhubungan dengan orang lain akan menumbuhkan rasa percaya diri. orang

Adler (dalam Supratiknya, 1993: 241) menyatakan bahwa manusia pada dasrnya adalah makhluk sosial. Manusia selalu menghubungkan dirinya dengan orang lain, ikut dalam kegiatan kegiatan kerjasama social, menempatkan kesejahteraan sosial di atas kepentingan diri sendiri dan mengembangkan gaya hidup yang mengutamakan orientasi sosial. Dengan demikian dapat dikatana bahwa , dalam menjalani hidup, setiap orang selalu membutuhkan orang lain dan hendaknya dapat bekerjasama dengan orang lain, sehingga saling membantu dan memiliki hubungan yang baik dengan banyak orang, sehingga akan meningkakan kepercayaan diri seseorang. Menurut Angelis (2003: 75-81), kepercayaan diri spiritual ini merupakan kepercayaan yang terpenting dari ketiganya, yaitu keyakinan bahwa hidup ini memiliki tujuan. Kepercayaan diri spiritual ini menegaskan kedudukan seseorang dalam hubungannya dengan keberadaan seluruh alam semesta ini. Ada tiga hal yang menjadi cirinya yaitu keyakinan bahwa alam semesta in adalah suatu misteri

yang terus berubah; dan bahwa setiap perubahan dalam kesemestaan ini merupakan bagian dari suatu perubahan yang lebih besar lagi; kepercayaan akan adanya kodrat alami sehingga segala yang terjadi tidak lebih dari kewajaran belaka; dan keyakinan pada diri sendiri dan pada Tuhan. Dengan kepercayaan diri spiritual, seseorang memiliki naluri mengenai adanya rasa tentram yang mengisi lubuk hati dan memupuk batinnya, senantiasa meniti jalan yang benar, serta memiliki keyakinan bahwa dimanapun individu itu berada, sesungguhnya individu itu dibutuhkan. Berdasarkan pengertian di atas, penulis berusaha memanfaatkan layanan bimbingan kelompok sebagai upaya meningkatkan kepercayaan diri. Pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan tentang kepercayaan diri akan ditingkatkan dengan menggunakan Bimbingan dan Konseling Islami melalui layanan bimbingan kelompok dan menggunakan media audiovisual berupa film. Di dalam kegiatan bimbingan kelompok diaadakan kegiatan membaca dan memahami ayat Al-qur an tentang percaya diri seorang muslim, sehingga dengan bacaan Al-qu an akan membuka hati untuk menerima kebenaran Allah tentang bagaimana percaya diri yang harus dimiliki seorang muslim. Di samping itu, setelah mahasiswa mencapai pemahaman tentang percaya diri menurut Al-qur an, mahasiswa juga diputarkan film sehingga secara langsung bisa dilukiskan dalam kehidupan sehari hari. Sehingga besar harapan Bimbingan dan Konseling Islami ini akan mampu meningkatkan kepercayaan diri siswa.

Keterkaitan antara Bimbingan dan Konseling Islami melalui layanan bimbingan kelompok, pemutaran film dengan kepercayaan diri dapat diuraikan secara jelas sebagai berikut:

2.7 Mengembangkan Kepercayaan Diri Lindenfield (1997: 14) menjelaskan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan percaya diri diantaranya adalah sebagai berikut: 2.7.1 Cinta Perwujudan cinta memberikan penghargaan, sehingga perasaan cinta dari orang lain menumbuhkan kepercayaan keberadaan dirinya yang sesungguhnya. Dalam Islam sangat dianjurkan saling mencintai sesama saudara seiman, sehingga disebutkan dalam hadits tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri (H.R Bukhori dan Muslim). Islam bertujuan agar semua manusia hidup saling mengasihi dan mencintai, terwujudnya kebahagiaan, tegaknya keadilan, ketentraman, tercipta kerjasama, dan solodaritas . Semua hal itu akan terwujud bila dalam individu mampu mencintai orang lain

Bimbingan dan Konseling Islami Melihat film Bimbingan kelompok Kepercayaan diri meningkat

sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Oleh karena itu Rasulullah mengkaitkannya dengan keimanan. Hal hal yang akan mendatangkan kesempurnaan dalam diri seorang muslim: mencintai kebaikan, perbuatan yang mubah dan melaksanakan kegiatan untuk orang lain sebgaimana mencintai untuk dirinya sendiri, juga membenci kejahatan dan maksiat untuk orang lain sebagaimana membencinya untuk dirinya sendiri; berusaha membenci saudaranya apabila ia melihatnya melailaikan kewajibannya atau ada kekurangan dalam agamanya; berlaku adil kepada saudaranya sesama muslim serta memberikan hak haknya sebagaimana orang lain wajib berlaku adil kepadanya dan membrikan hak haknya.

2.7.2 Rasa Aman dan Tidak Terancam Katakutan dan kekhawatiran akan melemahkan kepercayaan diri. Seseorang yang merasa tidak aman karena kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi akan merasa terancam yang pada akhirnya akan merontokkan kepercayaan lahiriah dan batiniah. Ketakutan dan kekhawatiran merupakan perasaan yang selalu ada dalam diri manusia seperti tercantum dalam Q.S 2: 155 Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan sampaikanlah kabar berita gembira bagi orang orang yang sabar. Jadi katakuatn atau rasa aman dalam diri individu akan menjadi berita gembira manakala dihadapinya dengan sabar. Sedangan untuk berakhlak dengan sifat sabar sangatlah sulit. Dalam Al-Bugha dan Mistu (2007: 208 ) untuk taat membutuhkan kesabaran, untuk meninggalkan maksiat butuh kesabaran, dan

untuk menanggung penderitaan dan musibah membutuhkan kesabaran. oleh karena itu berakhlak dengan sifat sabar adalah kekuatan yang tidak ada tandingannya, cahaya agung yang mengantarkan pemiliknya untuk senantiasa disinari dan ditunjuki ke jalan kebenaran. Di dalam kegiatan bimbingan kelompok, rasa aman ditunjukkan anggota kelompok dengan saling menjaga rahasia, masing masing anggota mau terbuka, jujur, dan percaya pada diri sendiri maupun orang lain, serta saling menghargai.

2.7.3 Model Peran karena Ada Pertalian dengan Dunia Mengajar lewat contoh adalah cara paling efektif untuk mengembangkan sikap dan keterampilan sosial yang diperlukan untuk percaya diri. Dengan melihat peran yang positif dari dunia sekitarnya memberikan kepercayaan dan makna perilaku yang positif pula. Dalam Islam model yang patut dijadikan contoh adalah yang mampu mendatangkan manfaat di dunia dan akherat karena seorang konselor mempunyai tanggung bukan hanya saat ini dan di sini sebagamana terdapat model peran yang tidak usang dengan berkembangnya zaman, dialah Muhammad rasuluallah yang mana telah dijelaskan dalam Q.S (33: 21) Sungguh telah ada ada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi ora ng yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.

2.7.4 Hubungan dengan Sesamanya

Untuk mengembangkan rasa percaya diri terhadap sesamanya perlu mengalami dan mencoba dengan beraneka ragam hubungan dari berbagai macam status sosial manusia. Melalui hubungan ini, seseorang akan sadar diri dan dapat mengenalkan diri tidak sebatas dalam keluarga tetapi lingkungan yang lebih luas sehingga tidak merasa terasing pada akhirnya mampu menumbuhkan kepercayaan diri. Adler (dalam Supratiknya, 1993 : 241) menyatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Manusia selalu menghubungkan dirinya dengan orang lain, ikut dalam kegiatan kegiatan kerja sama sosial, menempatkan kesejahteraan sosial di atas kepentingan diri sendiri dan mengembangkan gaya hidup yang mengutamakan orientasi sosial. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, dalam menjalani hidup, setiap orang selalu membutuhkan orang lain dan hendaknya dapat bekerjasama dengan orang lain, sehingga dapat saling membantu dan memiliki hubungan yang baik dengan banyak orang, sehingga akan semakin meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Lindenfield (1997:15) menyatakan bahwa untuk mengembangkan percaya diri, seseorang perlu menjalin hubungan baik denga siapapun, baik orang yang sudah dikenal maupun mampu menjalin hubungan baik dengan orang orang baru, karena dengan berhubungan dengan orang lain akan menumbuhkan rasa percaya diri. Hubungan dalam kegiatan kelompok Hakim (2005: 132), anggota kelompok akan banyak mendapatkan manfaat antara lain; sosialsasi atau orang

pergaulan dengan teman teman sebaya; mendapatkan tambahan keterampilan tertentu, seperti kepemimpinan dan cara berhubungan dengan orang lain. Dalam Islam hubungan dengan sesama sangat diatur, bagaimana hubungan yang ia jalin sehingga hubungan itu mendapat Ridlo-Nya. Hubungan yang disyari atkan yaitu hubungan dalam konteks taqwa sebagiaman dalam Q.S (5: 2) Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan an takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya. Di dalam kelompok seseorang dapat menjalin kerjasama, malakukan penyesuian dan pendekatan kepada orang lain. Jika seseorang dapat melakukan hubungan dengan baik maka perlahan lahan seseorang akan memiliki kepercayaan diri.

2.7.5 Kesehatan Untuk dapat menggunakan semaksimal mungkin kekuatan dan bakat yang dimilikinya membutuhkan gkan gaya hidup yang mengutamakan energi. Untuk menciptakan energi maka seseorang harus sehat fisik dan jasmani sehingga mampu beraktivitas secara efektif karena seseorang tumbuh kepercayaan dirinya. Kesehatan sangat dipengaruhi oleh makanan yang masuk ke dalam tubuh seseorang, dalam Islam masalah makanan sangat diatur karena makanan yang masuk ke dalam seseorang akan sangat berperan dalam pembentukan karakter. Makanan yang halal lagi baik akan mendorong individu yang memakannya melakukan kebaikan sedangkan makanan yang haram akan memndorong manusia

ang memakannya melakukan kejahatan. Aturan dalam memilih makanan dinataranya tercantum dalam Q.S (2-3: 172) wahai orang orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya . sesungguhnya dia mengharamkan atasmu bangkai darah, daging babi, dan daging hewan ang disembelih dengan menyebut nama selain Allah. Tetapi barangsiapa terpaksa memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah maha pengampun, maha penyayang.

2.7.6 Sumber Daya Sumber daya material maupun spiritual akan mendukung kemampuan pendidikan. Untuk dapat mewujudkan harapan, sumber daya sangat diperlukan, seseorang yang memiliki sumber daya material dan spiritual cenderung mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Sumber daya spiritual bagi seorang muslim yaitu dengan mengetahui makna tauhid, dari kalimat thoyibah (Laa illaaha illallah). Sumber daya spiritual ini yang akan mampu mendorong manusia mempunyai kepercayaan diri yang hakiki yaitu sebagaimana dalam Agustian (2005: 78) kepercayaan diri yang mampu melihat manusia sebagai seorang manusia. Kepercayaan yang timbul karena memiliki prinsip yang esa, bahwa Tuhan-lah pusat kepercayaan dirinya.

2.7.7 Dukungan Kemampuan yang dimiliki seesorang tidak akan optimal dalam beraktivitas apabila tidak ada dukungan yang positif. Dengan adanya dukungan maka seseorang menyadari tumbuhnya kepercayaannya bahwa dirinya mempunyai potensi.

2.7.8 Upaya dan Hadiah Pengembangan kepercayaan diri bagi seseorang dibutuhkan pujian dan hadiah atas jerih atau usaha yang dijalankannya. Dengan pengakuan berupa hadiah maupun pujian atas jerih payah usahanya maka kepercayaan diri mereka akan tumbuh dengan baik dan positif. Pemberian selamat atas apa yag sudah dikerjakannya akan memberikan energi positif bagi pelaku. Ia akan merasa mendapat pengakuan dari oarng lain, sehingga tergerak untuk melakukannya lagi. Memberikan selamat kepada orang lain merupakan sunnat dalam Islam, sebagiaman dalam Al- qur an Allah Ta ala berulang ulang memberikan contoh memberikan selamat kepada hamba hamba Nya yang beriman, seperti Q.S (5: 101) Maka kami memberi selamat kepada Ibrahim akan mendapat putra yang sopan santun (sabar). Jadi seorang muslim hendaknya tidak bakhil dalam memberikan ucapan selamat kepada sudaranya yang sukses.

2.8 Hipotesis Tindakan Mendasarkan pada konsep konsep teoritis di atas, maka hipotesis tindakan yang penulis ajukan yaitu melalui Bimbingan dan Konseling Islami yang dilakukan dengan benar dan tepat mampu meningkatkan kepercayaan diri.

Media bimingan yeaitu segala sesuatu (baik berupa alat, orang ataupun kegiatan) yang menghubungkan dua pihak untuk menyalurkan informasi (pesan pembelajaran) antara sumber dan penerima agar penerima dapat mengembangkan kemmapuan dirinya sendiri serta mampu menghadapi tugas tugas perkembangan hidupnya secara sadar dan bebas untuk mengambil tindakan tindakan penyasuaian diri secara memadai.

Film merupakan salah satu media bimbingan yang dapat dijadikan sarana untuk mendorong dan meningkatkan motivasi, seta untuk menanamkan sikap dan segi segi afektif lainnya (Arsyad, 2002:48). Peer counseling merupakan salah satu media bimbingan yang digunakan dalam penelitian ini. Proses kelompok dalam peer counseling dapat dirumuskan sebagai prosedur demokratis, di mana individu dalam kelompok secara bersama mengidentifikasi, mencari, dan berusaha memecahkan masalah untuk mencapai tujuan yaitu mengembangkan empati mahasiswa. Menurut denim ()

Berdasrakan pengertian di atas, penulis berusaha memanfaatkan media bimbingan tersebut sebagai upaya mengembangkan empati mahasiswa. Pengetahuan, pemahaman dan keteraplan mahasiswa tentang empati akan dikembangkan dengan menggunakan media bimbingan (kegiatan, benda ataupun orang). Media bimbingan ini akan mendukung berkembnagnya empati mahsiswa krn tujuan yang ingin dicapai yaitu terjadinya proses belajar (belajar untuk mengembangkan empati).

Upaya mengembangkan empati Menurut teori

Hipotesis tindakan Mendasarkan pada konsep teoritis di atas, maka hipotesis tindakan yang penulis ajukan yaitu melalui pemanfaatan media bimbingan akan mampu mengembangkan empati mahasiswa. Tindakan tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu: Memanfaatkan kegiatan peer counseling ..alasan

Memanfaatkan benda atau alat berua audio visual

BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan yang Digunakan Berdasarkan pada latar belakang, perumusan masalah dan tujuan dari penulisan skripsi ini maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan atau Action Research karena dalam melakukan penelitian ini peneliti ingin mengetahui bagaimana bimbingan dan konseling islami yang tepat untuk meningkatkan kepercayan diri siswa. Menurut Moh.Nazir (2003: 79), penelitian tindakan adalah suat