bab 1-3bener jadi

69
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Pengertian sehat meliputi kesehatan jasmani, rohani serta social dan bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan (Dep.Kes R.I, 2000) Indikator dalam mengukur derajat kesehatan masyarakat adalah Crude Death Rate, Malnutrition, Infant Mortality rate, maternal Mortality Rate dan umur harapan hidup. Dari indikator tersebut, subyek yang paling banyak dijadikan ukuran adalah ibu dan anak. Hal ini disebabkan ibu dan anak merupakan kelompok yang mempunyai tingkat kerentanan yang besar terhadap penyakit, cacat dan kematian. Kerentanan ini disebabkan oleh adanya sifat yang khas dari kelompok ini, yaitu adanya peristiwa kehamilan, proses kelahiran dan masa pertumbuhan serta perkembangan. Untuk memberikan perlindungan terhadap kelompok ini diperlukan perhatian khusus terhadap sistim pemberian pelayanan kesehatannya. Perhatian ini juga harus dapat memberikan kemungkinan tentang cara penggunaan secara efisien sumber daya dan sarana yang pada umunya serba terbatas (Morley David, 2003). 1

Upload: yusuf-brilliant

Post on 10-Aug-2015

120 views

Category:

Documents


4 download

DESCRIPTION

bab 1-3

TRANSCRIPT

Page 1: Bab 1-3bener Jadi

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk

hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang

optimal. Pengertian sehat meliputi kesehatan jasmani, rohani serta social dan

bukan hanya keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan (Dep.Kes

R.I, 2000)

Indikator dalam mengukur derajat kesehatan masyarakat adalah Crude

Death Rate, Malnutrition, Infant Mortality rate, maternal Mortality Rate dan

umur harapan hidup. Dari indikator tersebut, subyek yang paling banyak dijadikan

ukuran adalah ibu dan anak. Hal ini disebabkan ibu dan anak merupakan

kelompok yang mempunyai tingkat kerentanan yang besar terhadap penyakit,

cacat dan kematian. Kerentanan ini disebabkan oleh adanya sifat yang khas dari

kelompok ini, yaitu adanya peristiwa kehamilan, proses kelahiran dan masa

pertumbuhan serta perkembangan.

Untuk memberikan perlindungan terhadap kelompok ini diperlukan

perhatian khusus terhadap sistim pemberian pelayanan kesehatannya. Perhatian ini

juga harus dapat memberikan kemungkinan tentang cara penggunaan secara

efisien sumber daya dan sarana yang pada umunya serba terbatas (Morley David,

2003).

Usaha yang telah dilakukan oleh pemerinatah pada umumnya telah

memberikan hasil, serta tampak adanya kemajuan. Tetapi sering terlihat bahwa

pola pelayanan terhadap ibu, khususnya ibu bersalin, masih belum mencapai

tingkat yang diharapkan. Dalam hal pencarian pertolongan persalinan, terutama

bagi ibu yang berada di pedesaan, sebagian besar masih mencari pertolongan

persalinan lewat dukun bayi.

Hasil laporan mengenai pertolongan persalinan di Propinsi Banten yang

ditolong tenaga medis terkait erat dengan upaya menurunkan angka kematian bayi

dan kematian ibu. Pertolongan persalinan oleh tenaga medis sebesar 56,6% pada

tahun 2002, meningkat menjadi 62,3% pada tahun 2005. Data tahun

1

Page 2: Bab 1-3bener Jadi

2005 menunjukkan bahwa masih terdapat 37,7% persalinan yang ditolong oleh

tenaga non medis atau dukun paraji (Dinas Kesehatan Propinsi Banten, 2002).

Persalinan yang ditolong tenaga medis terkait erat dengan upaya

menurunkan angka kematian bayi dan kematian ibu. Walaupun pergerakannya

lambat namun secara pasti proporsinya menunjukkan peningkatan dibanding yang

ditolong tenaga non medis (seperti dukun bayi). Kisarannya masih bergerak pada

angka 50-60%. Pada tahun 2000 terdapat sebanyak 51,3% bayi yang

persalinannya ditolong tenaga medis (dokter atau bidan) dan sisanya sebesar

48,7% menggunakan jasa tenaga non medis seperti dukun bayi (paraji).

Selanjutnya pada periode tahun 2004 perhatian masyarakat akan pentingnya

pemanfaatan tenaga medis meningkat menjadi 59,7%. (Dinas Kesehatan Propinsi

Banten, 2005)

Dari hasil laporan mengenai pertolongan persalinan di Kabupaten

Tangerang, Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian

besar terjadi pada masa di sekitar persalinan, hal ini antara lain disebabkan karena

pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan.

Dalam lima tahun terakhir pertolongan persalinan yang dilakukan oleh tenaga

kesehatan terus meningkat. Pada tahun 2007 sebesar 73,66% dari 94.638

persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, gambaran cakupan linakes dari 2005-

2007 adalah sebagai berikut :

Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan di Kabupaten Tangerang

Tahun 2005-2007

2

Page 3: Bab 1-3bener Jadi

(Dinas Kesehatan

Kabupaten Tangerang, 2007)

Puskesmas Pamulang yaitu salah satu puskesmas di Kota Tangerang

Selatan yang dimana wilayah kerjanya mencakup 8 kelurahan yaitu : Pamulang

Barat, Pamulang Timur, Pondok benda, Benda Baru, Bambu Apus, Kedaung,

Pondok Cabe Ilir, dan Pondok Cabe Udik. Puskesmas Pamulang memiliki

beberapa macam fasilitas pelayanan kesehatan salah satu diantaranya adalah

pelayanan pertolongan persalinan.Puskesmas Pamulang telah mencatat jumlah

persalinan pada Januari s/d Desember 2009 yang ditolong oleh nakes di wilayah

kerja Puskesmas Pamulang adalah sebesar 82,85% dan sisanya persalinan

dilakukan oleh non nakes (dukun bayi), dan Puskesmas Pamulang sendiri telah

mencatat persalinan yang dilakukan di Puskesmas Pamulang pada periode

Januari-Desember 2009 sebesar 90,58% dari sasaran ibu hamil yg diperiksa di

Puskesmas Pamulang ( Puskesmas Pamulang, 2009).

Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa Puskesmas Pamulang sebagai salah

satu Puskesmas di Kota Tangerang Selatan yang dulunya juga merupakan bagian

dari Kabupaten Tangerang telah menunjukkan data pertolongan persalinan yang

cukup baik untuk wilayah kerja di Puskesmas Pamulang namun tetap harus

dicermati apakah pelayanan pertolongan persalinan di Puskesmas Pamulang

tersebut sudah memenuhi kebutuhan dan permintaan pelayanan bagi ibu pasangan

usia subur di wilayah kerja puskesmas tersebut.

Untuk mengetahui pelaksanaan pertolongan persalinan yang dapat

diterima masyarakat, perlu diketahui faktor penting yang mempengaruhi seorang

ibu dalam mencari pertolongan persalinan, sehingga dapat digunakan untuk

3

Page 4: Bab 1-3bener Jadi

meningkatkan keinginan dan kemauan masyarakat dalam menggunakan

Puskesmas sebagai tempat persalinan.

Sarana pelayanan kesehatan akan digunakan oleh masyarakat bila

masyarakat merasa membutuhkan terhadap pelayanan kesehatan tersebut.

Kebutuhan yang dirasakan seseorang akan membuat seseorang mengambil

keputusan untuk mencari pertolongan atau tidak. Perwujudan felt need tidak selalu

dapat terwujud menjadi penggunaan pelayanan kesehatan (demand atau

permintaan yang efektif), oleh karena adanya faktor lain yang mempengaruhi

seperti faktor sosio kultural, faktor organisasional dan faktor sosio demografi

(Dever G.E. Alan, 2004).

Untuk mengetahui hubungan penggunaan Puskesmas sebagai tempat

persalinan dan faktor determinan yang mempengaruhinya, maka diperlukan kajian

tentang demand pertolongan persalinan di Puskesmas pada ibu yang melahirkan.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang permasalahan diatas, dapat dirumuskan permasalahan

sebagai berikut:

1. Belum semua kelompok ibu Pasangan Usia Subur yang akan

melahirkan:

a. membutuhkan keberadaan Puskesmas

b. meminta atau menggunakan Puskesmas sebagai tempat

persalinannya

2. Banyak faktor yang mempengaruhi kebutuhan (need) pada kelompok

ibu Pasangan Usia Subur terhadap pertolongan persalinan di

Puskesmas.

3. Banyak faktor yang mempengaruhi permintaan atau penggunaan

(demand) pada kelompok ibu Pasangan Usia Subur terhadap

pertolongan persalinan di Puskesmas.

4. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perubahan kebutuhan

potensial (felt need) menjadi permintaan riil demand pada kelonpok

4

Page 5: Bab 1-3bener Jadi

ibu Pasangan Usia Subur terhadap pertolongan persalinan di

Puskesmas.

Di dalam studi ini istilah demand dimaksudkan sebagai permintaan yang

efektif (effective demand) yaitu permintaan yang disertai oleh kemampuan dan

kemauan untuk membeli, dan istilah need dimaksudkan sebagai kebutuhan

potensial. Di dalam penulisan selanjutnya, kata “kebutuhan” tetap digunakan

sebagai pengganti istilah need sedangkan kata “permintaan” dipakai sebagai

pengganti istilah demand.

1.3 Hipotesis

Dalam studi ini akan dipergunakan hipotesis yang dirumuskan sebagai

berikut:

1. Adanya hubungan antara kebutuhan ibu terhadap pertolongan

persalinan di Puskesmas dengan : umur, paritas, pendidikan, pekerjaan,

tingkat pengetahuan, tingkat risiko ibu hamil, suku bangsa, kebiasaan

masyarakat, pengambil keputusan dalam keluarga, dan penghasilan

keluarga.

2. Permintaan ibu terhadap pertolongan persalinan di Puskesmas

dipengaruhi oleh faktor: kebutuhan ibu, sistim birokrasi, jarak rumah

tempat persalinan, ada tidaknya penyulit dalam persalinan, jumlah

tempat persalinan yang ada, biaya persalinan, dan kepuasan konsumen.

3. Perubahan kebutuhan ibu menjadi permintaan ibu terhadap

pertolongan persalinan Puskesmas dipengaruhi oleh faktor: sistim

birokrasi, jarak rumah ,tempat persalinan, ada tidaknya penyulit dalam

persalinan, jumlah tempat persalinan yang ada, biaya persalinan, dan

kepuasaan konsumen.

1.4 Tujuan Studi

Secara umum studi ini ingin menguraikan dan menilai adanya faktor-

faktor yang mempengaruhi kebutuhan dan permintaan pada kelompok ibu

5

Page 6: Bab 1-3bener Jadi

Pasangan Usia Subur terhadap pertolongan persalinan di Puskesmas, serta faktor

yang mempengaruhi perubahan kebutuhan menjadi permintaan pada kelompok

ibu Pasangan Usia Subur terhadap pelayanan pertolongan persalinan di

Puskesmas, khususnya:

1. Mendapatkan gambaran pola :

a. Kebutuhan pada kelompok ibu pengunjung Puskesmas terhadap

pertolongan persalinan di Puskesmas.

b. Permintaan pada kelompok ibu pengunjung Puskesmas terhadap

pertolongan persalinan di Puskesmas.

2. Mempelajari faktor yang mempengaruhi kebutuhan pada kelompok ibu

pengunjung Puskesmas terhadap pertolongan persalinan di Puskesmas.

3. Mempelajari faktor yang mempengaruhi permintaan pada kelompok

ibu pengunjung Puskesmas terhaap pertolongan persalinan di

Puskesmas.

4. Mempelajari faktor yang dapat mempengaruhi perubahan kebutuhan

menjadi permintaan pada kelompok ibu pengunjung Puskesmas

terhadap pertolongan persalinan di Puskesmas.

1.5 Manfaat Studi

1.5.1 Sebagai bahan penulisan riset khususnya untuk kelengkapan data

primer, yang harus dipenuhi dalam rangka penyelesaian Program

Studi Pendidikan Dokter (PSPD) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

1.5.2 Memberi masukan pada perencanaan dan pengelola program

dapam upaya peningkatan mutu pelayanan Kesehatan Ibu dan

Anak (KIA), sehingga pelayanan pertolongan persalinan

Puskesmas dapat lebih berdaya guna di masa yang akan datang.

1.5.3 Memberikan informasi pada petugas pelaksana pelayanan

pertolongan persalinan di Puskesmas, sebagai dasar untuk

membuahkan pemikiran-pemikiran secara faktual dalam upaya

meningkatkan jumlah atau cakupan ibu bersalin di Puskesmas.

6

Page 7: Bab 1-3bener Jadi

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Kebutuhan

Murray, 1951, mendefinisikan kebutuhan sebagai berikut:

“A need is a construct (a convenient fiction or hypothetical concept) which

stands for a force in the brain region, a force which organizer perception,

apperception, intellection, conation and action in such a way as to transform in a

certain direction an existing unsatisfying situation. A need is sometimes provoked

directly by internal processes of a certain kind. But, more frequently by the

occurrence of one of few commonly effective press (environmental forces). Each

need is characteristically accompanied by a particular feeling or emotion and …

certain may be weak or intense, momentary or enduring. But usually is persist

and gives rise to certain course of overt behavior (or fantacy)”

Kebutuhan adalah suatu konstruk (konsep hipotesis) yang memberikan

suatu kekuatan di dalam otak. Kekuatan yang mengorganisir persepsi, appersepsi,

inteleksi, konasi dan tindakan sedemikian rupa dengan maksud merubah suatu

keadaan tertentu yang ada yaitu sesuatu yang tidak memuaskan. Kebutuhan

kadang-kadang ditimbulkan secara langsung oleh proses internal tetapi lebih

sering ditimbulkan oleh peristiwa yang terjadi dalam lingkungan individu. Adanya

kebutuhan menyebabkan individu beraktivitas dan individu mempertahankan

aktivitas ini sampai kebutuhannya terpenuhi. Beberapa kebutuhan secara

karakteristik disertai oleh perasaan dan emosi. Kebutuhan dapat lemah dan kuat,

sebentar atau seterusnya, tetapi biasanya menetap dan berpengaruh terhadap

timbulnya perilaku yang nyata atau fantasi (Murray,1951).

Maslow, 1970, mengatakan bahwa setiap manusia mempunyai kebutuhan

yang pemunculannya sangat tergantung pada kepentingan individu. Kebutuhan

yang harus dipenuhi merupakan faktor pendorong (motif) yang menyebabkan

seseorang beraktivitas. Manusia tidak hanya bereaksi terhadap satu motif atau

kebutuhan saja, tetapi membuat seleksi terhadap sejumlah motif yang ada dalam

dirinya pada saat yang sama.

7

Page 8: Bab 1-3bener Jadi

Kebutuhan itu terjadi secara bertahap (hirarkis) mulai dari kebutuhan yang

paling dasar, yaitu kebutuhan fisiologis. Bila kebutuhan ini sudah terpenuhi baru

mencari kebutuhan pada hirarki yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa

keamanan dan perlindungan. Apabila kebutuhan ini sudah terpenuhi maka akan

muncul hirarki kebutuhan yang lebih tinggi adalah kebutuhan akan aktualisasi

diri. Teori ini dikenal dengan five hierarchy of need dari Maslow (Maslow, 1997).

Tetapi teori mallow di atas mempunyai kelemahan yaitu tidak sesuai

dengan kenyataan yang sebenarnya, karena manusia tidak harus memenuhi

kebutuhan pada hirarki yang lebih rendah baru memikirkan kebutuhan pada

hirarki yang lebih tinggi. Misalkan seseorang yang masih kekurangan kebutuhan

fisiologisnya tetapi dia ternyata sudah mempunyai kebutuhan akan harga diri.

Menurut Robert Moroney (1997), kebutuhan dapat dikelompokkan

menjadi:

1. Kebutuhan normatif (normative need) yaitu kebutuhan

yang timbul pada individu yang pada umumnya banyak dipengaruhi faktor

nilai, lingkungan sosial dan hukum.

Seorang ibu hamil yang selalu mengalami perdarahan selama

kehamilannya, disarankan oleh bidan, untuk selalu periksa ke dokter ahli

kandungan dan melahirkan dengan pertolongan dokter ahli kandungan. Ibu

hamil ini mempunyai kebutuhan normatif (kebutuhan yang sesuai dengan

norma kesehatan yang ada), untuk periksa dan melahirkan melalui

pertolongan dokter ahli kandungan.

2. Kebutuhan yang dirasakan (perceived need) yaitu apa

yang menjadi kebutuhan mereka. Perceived need biasa disebut juga felt

need.

Seorang ibu hamil merasa tidak mempunyai keluhan yang berarti selama

kehamilannya, dan menginginkan suatu proses persalinan yang menurut

dia “aman” serta terjangkau biayanya. Ibu hamil tersebut merencakan

untuk bersalin di Puskesmas, karena kebutuhan yang dirasakan (felt need)

ibu tersebut cocok dengan kondisi Puskesmas. Dapat dikatakan bahwa ibu

hamil tersebut mempunyai felt need pada Puskesmas.

8

Page 9: Bab 1-3bener Jadi

3. Kebutuhan yang diekspresikan (expressed need) yaitu

felt need uang beubah menjadi penggunaan pelayanan atau sejumlah orang

yang mendapatkan pelayanan. Expressed need ini biasa disebut demand

atau permintaan yang efektif.

Seorang ibu hamil yang sudah mempunyai rencana untuk melahirkan di

Puskesmas, tiba-tiba merasakan bahwa proses persalinannya sudah dekat,

pada saat malam hari. Keluarganya tidak membawa dia ke Puskesmas

tetapi meminta pertolongan dukun bayi yang berdekatan dengan

rumahnya, untuk membantu persalinan tersebut. Dalam kasus ini,

meskipun felt need ibu hamil tersebut pada Puskesmas tetapi expressed

need atau demand nya pada dukun bayi.

4. Kebutuhan relatif (relative need) yaitu kebutuhan yang

dalam pemenuhannya berbeda antara satu individu dengan individu

lainnya atau antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. Relative

need ini juga biasa disebut sebagai comparative need.

Beberapa ibu hamil dengan kondisi kesehatan yang relatif sama (tidak

mempunyai keluhan yang berarti selama kehamilannya), akan mempunyai

kebutuhan yang berbeda-beda pada saat dia melahirkan. Ada yang merencakan

untuk bersalin di rumah dengan pertolong dukun bayi, dirumah dengan

pertolongan bidan, di tempat praktek bidan, di Puskesmas atau di Rumah Sakit

dengan pertolongan dokter ahli kandungan. Dalam kasus ini jelas bahwa

kebutahan beberapa ibu hamil tersebut relatif dalam pemenuhannya.

Berdasarkan definisi kebuthan yang dikemukakan oleh Moroney, maka

yang dimaksud need atau kebutuhan dalam penelitian ini adalah felt need: atau

kebutuhan yang dirasakan. Menurut David Mc Clelland (1993), yang telah

memformulasikan konsep kebutuhan untuk keberhasilan (the need to achieve),

orang yang mempunyai kebuthan untuk keberhasilan akan mempunyai keinginan

yang kuat untuk mencapai keberhasilannya tersebut dan mempunyai cirri-ciri

sebagai berikut: (Hick H G & Gullet C R, 1995).

1. Ia menempatkan tujuan yang moderat dan

memperhitungkan risikonya.

9

Page 10: Bab 1-3bener Jadi

2. Penempatan tujuan seperti itu karena ia secara pribadi

dapat mempertanggung jawabakan hasilnya.

3. Ia menginginkan arus balik yang tepat mengenai

keberhasilan atau kegagalannya.

4. Ia lebih menyukai para pekerja pembantu yang kompeten

walaupun ada perasaan pribadi tentang mereka.

Teori David Mc Clelland ini lebih dikenal dengan nama Achievement

Motivation Theory, yaitu Seorang ibu hamil merencakan untuk melakukan

persalinan dengan pertolongan bidan. Dalam hal ini, ibu tersebut (1) telah

menempatkan tujuannya sesuai dengan kemampuannya dan telah

memperhitungkan faktor risikonya, (2) dia telah memprediksi akan dapat

melakukan persalinan dengan baik (3) dia mengharapkan bidan dapat memberikan

gambaran tentang proses persalinan yang akan dohadapinya (kemungkinan

hambatan yang akan dihadapi), (4) dia percaya dengan kemampuan bidan dalam

menolong persalinannya dan mengabaikan perasaan pribadi.

Teori kebutuhan yang berhubungan dengan kepuasaan kerja dikemukakan

oleh Frederick Herzberg, yang lebih dikenal dengan teori dua faktor pada

kepuasaan kerja atau konsep faktor motivator – hygience dari Herzberg. Menurut

teori Herzberg (2002), ada dua faktor yang mempengaruhi seseorang dalam

bekerja yaitu (1) faktor yang berperan sebagai motivator yaitu yang mampu

memuaskan dan mendorong orang untuk bekerja baik, dan (2) faktor hygience

yang dapat meimbulkan rasa tidak puas pada pegawai (Hicks H G & Gullet C R,

1995). Faktor yang berperan sebagai motivator adalah:

1. achievement (keberhasilan pelaksanaan)

2. Recognition (Pengakuan)

3. the work it self (pekerjaan itu sendiri)

4. responsibilities (tanggung jawab)

5. Advancement (pengembangan)

Sedangkan faktor hygience terdiri dari:

1. company pokicy and administration (kebijakan dan administrasi

perusahaan)

2. technical supervisor (supervisi)

10

Page 11: Bab 1-3bener Jadi

3. interpersonal supervision (hubungan antara pribadi)

4. working condition (kondisi kerja)

5. wages (gaji)

Seorang ibu hamil telah merencanakan untuk melakukan persalinan di

Puskesmas karena dia telah termotivasi oleh (1) keberhasilan proses persalinan

yang ditangani di Puskesmas, (2) merasa mendapat pengakuan dari masyarakat,

dan (3) keyakinan dapat melakukan persalinan dengan lancer. Selain itu dia juga

telah mempertimbangkan faktor 1) birokrasi yang harus dilakukan, (2) fasilitas

yang diberikan dan (3) biaya yang harus dikeluarkan.

2.1.1. Konsep Kebutuhan terhadap Pelayanan Kesehatan

Kebutuhan terhadap pelayanan kesehata, terdiri atas kebutuhan yang

dirasakan oleh konsumen (felt need) dan kebutuhan yang diukur menurut

pendapat provider (evaluated need). Kebutuhan yang dirasakan menurut

konsumen dipengaruhi oleh faktor sosio demograhi dan faktor sosio psikologis

(Dever G A, 1984).

John Cullis dan Peter A. West (1979), mengatakan bahwa kebutuhan yang

dirasakan (felt need) terhadap pelayanan kesehatan, merupakan penjumlahan dari

kebutuhan fisiologis da psikologis individu terhadap suatu pelayanan kesehatan.

Felt need timbul bila individu menginginkan pelayanan kesehatan. Felt need

berhubungan dengan persepsi individu terhadap pelayanan kesehatan.

Sedangkan Kenneth Lee & Anne Mills (1993), menmgemukakan bahwa

kebutuhan akan pelayanan kesehatan terdiri atas kebutuhan yang tidak dirasakan

dan kebutuhan yang dirasakan (felt need). Kebutuhan yang dirasakan (felt need)

membuat individu mengambil keputusan untuk mencari pelayanan kesehatan atau

tidak. Ekspresi dari felt need terhadap pelayanan kesehatan adalah merupakan

penggunaan dari pelayanan kesehatan atau demand dari pelayanan kesehatan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebutuhan yang dirasakan

seseorang sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik faktor yang berasal dari

individu itu sendiri (faktor intrinstik) misalnya tingkat pengetahuan, umur dan

pekerjaan maupun factor di luar individu (faktor ekstrinsik) misalnya lingkungan

sosial.

11

Page 12: Bab 1-3bener Jadi

Seorang ibu yang sedang hamil mungkin sudah mempunyai rencana untuk

melahirkan dengan pertolongan dukun bayi di rumah. Hal ini disebabkan karena

tingkat pengetahuan ibu yang rendah tentang kesehatan dan kebiasaan yang

berlaku di daerah tersebut.

Ibu hamil yang lain mungkin merencanakan untuk bersalin dengan

pertolongan dokter spesialis kandungan, karena ibu ini sudah mengetahui bahwa

dirinya termasuk golongan “kehamilan risiko tinggi” dan untuk itu diperlukan

penanganan tenaga professional.

Ibu hamil yang mungkin merencanakan untuk bersalin dengan pertologan

bidan karena seluruh kerabatnya juga melakukan hal yang sama. Tetapi pada saat

bersalin ibu tersebut mengalami penyulit yang menyebabkan bidan mengambil

keputusan untuk merujuk ibu tersebut ke Rumah Sakit. Ibu tersebut akhirnya

bersalin dengan pertolongan dokter.

Hasil penelitian Indriati Basong (2007), yag menghubungkan kebutuhan

(felt need) ibu dengan penggunaan posyandu, membuktikan bahwa umur,

pengetahuan dan persepsi tentang posyandu ibu mempunyai hubungan yang

bermakna dengan felt need ibu terhadap posyandu.

2.1.2 Teori Permintaan

Di dalam teori ekonomi, konsep permintaan menggambarkan kerangka

sistematis tentang perilaku konsumen. Demand berarti permintaan sejumlah

barang atau jasa yang diinginkan oleh consumen (willingness) dan konsumen

mampu (ability) untuk membeli dalam satu kurun waktu tertentu atau dengan kata

lain demand adalah julmah komoditas total yang dibeli oleh konsumen (Lipsey

RG, Steiner PO, Purvis DD, 1997).

Dari teori di atas dapat dikatakan bahwa permintaan adalah kebutuhan

yang direalisasikan dalam perbuatan. Kebutuhan merupakan suatu permintaan

akan barang atau jasa yang mana konsumen mau (willingness) untuk membeli,

tetapi belum diikuti dengan kenyataan (action) dalam membeli. Sedangkan

permintaan adalah kebutuhan yang telah diikuti dengan kemampuan daya beli

(ability) dan direalisasikan dalam perbuatan (membeli barang atau jasa).

12

Page 13: Bab 1-3bener Jadi

Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam konsep ini. Pertama,

jumlah yang diminta merupakan kuantitas yang diinginkan (desired). Ini

menunjukkan berapa banyak “komoditi” yang ingin dibeli oleh rumah tangga, atas

dasar harga komoditi ynag diperhitungkan dengan harga komoditi lainnya,

penghasilan mereka, cita rasa dan selera mereka. Kedua, apa yang diinginkan

tidak merupakan harapan kosong, tetapi merupakan permintaan efektif. Artinya,

merupakan jumlah orang yang bersedia dan mampu membelinya pada harga yang

harus mereka bayar untuk komoditi itu. Ketiga, kuantitas yang diminta merupakan

arus pembelian yang kontinyu artinya pembelian itu akan diikuti dengan

pembelian selanjutnya (Lipsey RG, Steiner PO, Purvis DD, 1995).

Jumlah barang yang diminta (permintaan) sangat tergantung kepada:

1. Harga atau tarif dari barang atau jasa yang bersangkutan.

2. Cita rasa (taste) dan preferensi konsumen

3. Pendapatan konsumen

4. Harga atau tarif dari barang atau jasa lain yang dekat hubungannya

dengan barang tersebut.

Dari uraian diatas, tersirat peran kebutuhan di dalam faktor cita rasa (taste)

dan preferensi konsumen menunjukkan suatu kebutuhan yang belum

direalisasikan. Apabila citarasa dan preferensi telah diikuti dengan pertimbangan

harga, pendapatan (daya beli) dan harga barang substitusi serta diikuti dengan

perbuatan membeli, maka akan menjadi permintaan pada barang atau jasa

tersebut.

Sehingga secara matematik, permintaan merupakan fungsi dari beberapa

faktor, yang dapat digambarkan sebagai berikut:

Q = F ( P, Y, Z1 . . . Z n, T)

Dimana : Q = Kuantitas barang atau jasa yang diminta

P = harga dan tarif

Y = pendapatan konsumen

Z1 . . . Zn = harga atau tarif dari barang lain

T = citarasa dan preferensi konsumen

Rumus ini kalau diterapkan dalam pelayanan pertolongan persalinan

adalah:

13

Page 14: Bab 1-3bener Jadi

Q = jumlah permintaan pertolongan persalinan di Puskesmas

P = biaya pertolongan persalinan di Puskesmas

Z1 . . . Zn = biaya pertolongan persalinan selain di Puskesmas

Y = pendapatan konsumen

T = cita rasa dan preferensi konsumen terhadap pertolongan

persalinan yang diinginkan

2.1.3 Konsep Permintaan terhadap Pelayanan Kesehatan

Michael Grossman seperti yang dikutip oleh Feldstein mengemukakan

bahwa konsumen mempunyai permintaan terhadap pelayanan kesehatan karena

dua alasan, yaitu (1) kesehatan sebagai barang konsumsi, yang membuat

konsumen merasakan lebih baik, dan (2) pelayanan kesehatan sebagai barang

investasi, yang memberikan sejumlah waktu kepada kosumen untuk berproses

produksi (Feldstein, 1999).

Terdapat beberapa kesulitan dalam mengaplikasikan teori permintaan

terhadap pelayanan kesehatan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu

(Sorkin AL,2004)

1. Untuk estimasi permintaan individu diperlukan informasi tentang

harga pelayanan kesehatan pada institusi yang sama dengan

karakteristik penyakit dan pelayanan yang sama pula.

2. Availability pelayanan kesehatan sangat mempengaruhi kuantitas

pelayanan yang diminta.

3. Permintaan terhadap pelayanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh

status kesehatan dan tingkat kebutuhan pelayanan medisnya.

4. Pelayanan kesehatan yang bersifat supply induced demand membawa

konsumen pada posisi yang lemah, dimana jenis pelayanan yang dia

terima tergantung dari providernya.

Dari uraian di atas terlihat jelas bahwa permintaan pelayanan kesehatan

tidak bisa murni seperti pada permintaan barang konsumsi, karena sangat

dipengaruhi baik oleh faktor individu itu sendiri maupun faktor di luar individu

tersebut, terutama faktor provider.

14

Page 15: Bab 1-3bener Jadi

Permintaan terhadap pelayanan kesehatan tergantung pada beberapa

faktor, sehingga formulasi permintaan tersebut dapat digambarkan sebagai:

D = F (X1 . . . . Xn)

Dimana:

D = permintaan terhadap barang dan jasa, yang dalam penelitian ini

adalah jumlah ibu yang bersalin di Puskesmas (prosentasenya dibandingkan

dengan yang bersalin di luar Puskesmas)

X1 . . . Xn = factor yang mempengaruhi permintaan ibu terhadap

pertolongan persalinan di Puskesmas.

Hasil penelitian David S. Guziok (1998), tentang permintaan terhadap

pelayanan dokter umum dan dokter internist, menunjukkan bahwa faktor asuransi

dan income, umur, jenis kelamin, ras (suku bangsa) dan tempat tinggal

mempunyai hubungan yang bermakna dengan permintaan terhadap pelayanan

dokter umum dan dokter internist. Masing–masing faktor mempunyai pengaruh

yang berlainan antara permintaan pelayanan dokter umum dan permintaan

pelayanan dokter internist.

Hasil penelitian Wasis Budiarto (2004), tentang permintaan terhadap

pelayanan kesehatan Puskesmas, membuktikan bahwa faktor kebutuhan,

pekerjaan, biaya, pendapatan, waktu dan jarak mempunyai hubungan yang

bermakna dengan permintaan seseorang terhadap pelayanan kesehatan

Puskesmas.

Hasil penelitian Irene B (2006), tentang permintaan terhadap pelayanan

kesehatan gigi, membuktikan bahwa pengetahuan, biaya, pendapatan per kapita

dan kebiasaan merawat gigi seseorang mempunyai hubungan yang bermakna

dengan permintaan terhadap pelayanan kesehatan gigi.

2.1.4 Faktor yang Mempengaruhi Permintaan terhadap Pelayanan

Kesehatan

Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat penggunaan (permintaan)

pelayanan kesehatan, telah digolongkan oleh beberapa ahli dalam beberapa model,

yaitu:

1. Model Kepercayaan Kesehatan (Health Belief Model)

15

Page 16: Bab 1-3bener Jadi

Apabila individu bertindak untuk mencari pengobatan atas penyakitnya,

ada empat variable kunci yang terlihat di dalam tindakan tersebut, yaitu : (1)

kerentanan yang dirasakan terhadap suatu penyakit, (2) keseriusan yang dirasakan,

(3) manfaat yang diterima atau rintangan yang dialami dalam melawan

penyakitnya dan (4) hal yang memotivasi tindakan tersebut (Wolinsky FD, 2000).

a. Kerentanan yang dirasakan (Perceived susceptibility)

Seseorang akan bertindak untuk mencari pencegahan atau pengobatan

terhadap suatu penyakit bila dia telah merasakan rentan terhadap

penyakit tersebut. Seorang ibu hamil berpikir untuk mencari

pertolongan dalam melakukan persalinan karena ibu tersebut merasa

rentan terhadap proses persalinan yang akan dialaminya.

b. Keseriusan yang dirasakan (Perceived seriousness)

Seseorang bertindak untuk mencari pengobatan karena didorong oleh

keseriusan penyakit yang dideritanya. Seorang ibu hamil merencanakan

untuk melakukan persalinan dengan pertolongan bidan karena ibu

tersebut merasa bahwa dia akan dapat melakukan persalinan dengan

lancar tanpa ada faktor penyulit yang berarti.

Ibu hamil yang lain mungkin telah merencanakan untuk melakukan

persalinan dengan pertolongan dokter spesialis kandungan karena

selama hamil ibu tersebut mengalami perdarahan dan letak bayi dalam

kandungannya diketahui melintang.

c. Manfaat atau rintangan yang dirasakan (Perceived benefit and

barriers)

Seseorang akan beertindak mencari pengobatan untuk mendapatkan

manfaat (sembuh dari penyakitnya) atau menghindari rintangan yang

dirasakan (terhindar dari akibat penyakit yang dideritanya). Sesorang

ibu hamil mungkin mencari pertolongan persalinan di Puskesmas

karena ibu tersebut merasa mendapatkan manfaat (bisa melahirkan

dengan selamat) dan tetap sehat setelah melalui proses persalinan

tersebut.

d. Isyarat atau tanda-tanda (Cuse)

16

Page 17: Bab 1-3bener Jadi

Untuk mendapatkan tingkat penerimaan yang benar tentang kerentanan,

keseriusan dan keuntungan dari tindakan yang dilakukan oleh

seseorang, diperlukan isyarat berupa faktor dari luar, misalnya pesan-

pesan yang ada di media massa, nasihat atau anjuran para ahli, teman,

anggota keluarga dan lain-lain. Seorang ibu hamil dapat mengetahui

kerentanan, keseriusan atau bahkan manfaat tindakannya dari pesan-

pesan yang ada pada media massa, nasihat dokter, bidan atau keluarga.

2. Model Penggunaan Pelayanan Kesehatan (Health Service Utilization

Model)

Andersen dan Anderson (2003), telah menggolongkannya menjadi

beberapa model berdasarkan tipe variabel yang digunakan sebagai faktor penentu,

yaitu: (Wolinsky FD, 1990).

a. Model Demografi (Demographic Model)

Variabel yang digunakan dalam model ini adalah: umur, seks, status

perkawinan dan besarnya keluarga. Perbedaan akan derajat kesehatan,

derajat kesakitan dan tingkat penggunaan pelayanan kesehatan

diasumsikan akan berhubungan dengan seluruh variabel diatas.

Apabila kita perhatikan, variabel yang digunakan dalam model ini

adalah variable yang berasal dari dalam individu sendiri (intrinsik),

yang secara langsung akan mempengaruhi kebutuhan seseorang dan

apabila direalisasi dalam perbuatan akan menjadi permintaan.

b. Model Struktur Sosial (Social Structural Model)

Variabel yang digunakan dalam model ini adalah: pendidikan,

pekerjaan dan suku bangsa atau etnis. Penggunaan pelayanan kesehatan

adalah salah satu aspek gaya hidup (life style) seseorang, yang

dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosial psikologisnya.

Variabel di atas juga merupakan variabel yang secara langsung

mempengaruhi kebutuhan seseorang.

Seseorang yang sedang sakit perut (diare), langsung mencari

pengobatan dengan cara tradisional (memakan daun jambu yang masih

muda dan arang) karena kebiasaan yang ada di desa tersebut sedangkan

17

Page 18: Bab 1-3bener Jadi

orang lain yang memiliki latar pendidikan SLTA, juga menderita diare,

dia merasa membutuhkan pertolongan dokter dan langsung pergi ke

dokter untuk mendapatkan pertolongan. Sehingga dapat dikatakan

bahwa latar belakag social seseorang akan sangat berpengaruh pada

kebutuhan seseorang dan pada akhirnya akan mempengaruhi juga

tingkat penggunaan pelayanan kesehatan.

c. Model Sosial-psikologis (Social Psycological Model)

Variabel yang digunakan dalam model ini adalah sikap dan keyakinan

(belief) individu. Variabel sosial psikologis pada umumnya terdiri dari

empat kategori, yaitu (1) Kerentanan terhadap penyakit atau sakit yang

dirasakan, (2) Keseriusan penyakit atau sakit yang dirasakan, (3)

Keuntungan yang diharapkan dalam mengambil tindakan untuk

mengatasi penyakit (4) Kesiapan tindakan individu.

Seorang suami mengetahui istrinya akan melahirkan dia membawa

istrinya ke Rumah Sakit bersalin yang berdekatan karena (1) suami

tersebut merasa istrinya rentan terhadap persalinan yang akan

dihadapinya, (2) proses persalinan dianggap sebagai sesuatu yang serius

berkenaan dengan kesehatan, (3) dengan membawa ke rumah sakit

bersalin akan mendapatkan pertolongan yang memadai untuk mengatasi

proses persalinan tersebut, (4) tindakan suami tersebut didasari oleh

pengetahuan yang dimilikinya.

d. Model Sumber Daya Keluarga (Family Resouce Model)

Variabel yang digunakan dalam model ini adalah pendapatan keluarga,

cakupan asuransi kesehatan, ekanggotaan dalam asuransi kesehatan.

Variabel ini dapat digunakan untuk mengukur kemampuan bayar (daya

beli atau tingkat ekonomi) individu atau keluarga untuk pelayanan

kesehatan keluarga mereka.

Seorang ibu hamil merencakan untuk bersalin di rumah dengan

pertolongan bidan, karena biayanya yang cukup murah.

e. Model Sumber Daya Masyarakat (Community Resource Model)

Variabel yang digunakan dalam model ini adalah penyediaan pelayanan

kesehatan dan sumber-sumber di dalam masyarakat dan ketercapaian

18

Page 19: Bab 1-3bener Jadi

(accessibility) pelayanan kesehatan yang tersedia dan sumber-sumber di

dalam masyarakat.

Masyarakat di desa “A”, akan pergi ke Puskesma desa “A” tersebut

pada saat ada yag sakit, karena pemerintah telah menyediakan

Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan yang keberadaannya

dapat terjangkau oleh masyarakat di desa “A” tersebut.

f. Model Organisasi (organization Model)

Variabel yang digunakan dalam model ini adalah pencerminan

perbedaan bentuk system pelayanan kesehatan, yaitu:

1. Gaya (Style praktek pengobatan (sendiri, rekanan atau

kelompok)

2. Sifat (nature) dari pelayanan tersebut (membayar langsung atau

tidak)

3. Letak pelayanan kesehatan (tempat pribadi, rumah sakit atau

klinik)

4. Petugas kesehatan yang pertama kali kontak dengan pasien

(dokter, perawat, dukun dan sebagainya).

Seorang ibu hamil memutuskan untuk bersalin di rumah dengan

pertolongan bidan karena (1) gaya (style) prakteknya secara rekanan

artinya apablia terjadi penyulit pada pasien bidan tersebut sudah

mempunyai tempat rujukan, (2) sifat pembayarannya secara langsung,

(3) letak pelayanannya merupakan tempat pribadi, dan (4) petugas

pertama kali yang kontak dengannya adalah bidan.

g. Model Sistem Kesehatan

Keenam model penggunaan fasilitas kesehatan tersebut di atas tidak

berbeda secara nyata, meskipun ada perbedaan dalam sifat (nature).

Model system kesehatan menggabungkan keenam model tersebut di

atas ke dalam model yang lebih sempurna.

3. Model Perilaku Kesehatan Lawrence Green

19

Page 20: Bab 1-3bener Jadi

Menurut Lawrence Green, 1980, perilaku kesehatan dipengaruhi oleh 3

faktor yaitu faktor predisposisi, faktor yang memudahkan dan faktor yang

memperkuat.

a. Faktor predisposisi (predisposing factors), terwujud dalam

pengatahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan dan persepsi dari

seseorang.

b. Faktor yang memudahkan (enabling factors), terwujud dalam

lingkungan fisik (tersedia atau tidaknya fasilitas kesehatan).

c. Faktor yang memperkuat (reinforcing factores), terwujud dalam

sikap dan perilaku petugas pelayanan kesehatan.

4. Model Penggunaan Pelayanan Kesehatan Alan Dever

Menurut Alan Dever (1984), faktor yang mempengaruhi penggunaan

(permintaan) pelayanan kesehatan adalah:

1. Faktor Sosiokultural, yaitu:

a. Norma dan nilai yang ada di masyarakat.

Norma, nilai sosial dan keyakinan yang ada di masyarakat akan

mempengaruhi seseonag dalam bertindak, termasuk dalam

menggunakan pelayanan kesehatan.

b. Tekhnologi yang digunakan dalamn pelayanan kesehatan.

Kemajuan di bidang tekhnologi dapat mengurangi atau menurunkan

angka kesakitan sehingga secara tidak langsung dapat mengurangi pula

penggunaan pelayanan kesehatan. Tetapi kemajuan tekhnologi juga

dapat meningkatkan penggunaan pelayanan kesehatan, seperti pada

kasus tehnologi penyinaran.

2. Faktor Organisasional, yaitu:

a. Ketersediaan sumber daya.

Sumber daya yang mencukupi baik dari segi kuantitas dan kualitas, sangat mempengaruhi penggunaan pelayanan kesehatan.

b. Keterjangkauan Lokasi.

Keterjangkauan lokasi (geografis), berkaitan dengan keterjangkauan

tempat dan waktu. Keterjangkauan tempat diukur dengan jarak tempuh,

waktu tempuh dan biaya perjalanan. Sedangkan keterjangkauan waktu,

dilihat dari keterbatasan waktu pelayanan kesehatan yang disediakan.

20

Page 21: Bab 1-3bener Jadi

Seseorang yang akan menggunakan pelayanan kesehatan, akan

mempertimbangkan keterjangkauan lokasi ini.

c. Keterjangkauan sosial.

Konsumen memperhitungkan “sikap provider terhadap konsumen”

misalnya atribut petugas seperti etnis dan jenis kelamin, serta

kemampuan membayar.

d. Karakteristik dari struktur organisasi formal dan dari cara

pemberian pelayanan kesehatan.

Pelayanan kesehatan ada yang mempunyai struktur organisasi yang

formal misalnya Rumah Sakit dan ada yang tidak misalnya praktek

perorangan.

3. Faktor Interaksi Konsumer-Provider

a. Faktor yang berhubungan dengan konsumen:

Tingkat kesakitan atau kebutuhan yang dirasakan oleh

konsumen berhubungan langsung dengan penggunaan atau permintaan

pelayanan kesehatan. Kebutuhan, terdiri atas kebutuhan yang dirasakan

(perceived need) dan evaluated need (clinical diagnosis).

Perceived need dipengaruhi oleh:

a.1. Faktor sosiodemografi: umur, sex, ras, bangsa, status perkawinan,

jumlah keluarga, status sosial ekonomi (pendidikan, pekerjaan,

penghasilan).

a.2. Faktor sosiopsikologis: persepsi sakit, gejala sakit, keyakinan

terhadap perawatan medis atau dokter.

a.3. Faktor epidemiologis: mortalitas, morbiditas, disabilitas dan

factor risiko.

b. Faktor yang berhubungan dengan provider:

b.1. Faktor ekonomi: adanya barang substitusi, adanya keterbatasan

pengetahuan konsumen tentang penyakit yang diderita.

b.2. Karakteristik dari provider: tipe pelayanan kesehatan, sikap

petugas, keahlian petugas, fasilitas yang dipuyai oleh pelayanan

kesehatan tersebut.

21

Page 22: Bab 1-3bener Jadi

Hasil penelitian Indriati Basong (2007), membuktikan bahwa felt need ibu

terhadap posyandu mempunyai hubungan yang bermakna dengan penggunaan

atau permintaan posyandu oleh ibu

Berdasarkan teori-teori yang telah disebutkan di atas, maka dapat

dibuatkan model yang merupakan modifikasi dari model penggunaan pelayanan

kesehatan Alan Dever. Modifikasi model ini dianggap lebih lengkap, karena dapat

merangkum seluruh teori yang telah disebutkan diatas. Model yang telah

dimodifikasi, dapat dilihat pada skema 1 berikut ini.

Skema 1 : MODIFIKASI MODEL PENGGUNAAN PELAYANAN

KESEHATAN

Sumber : Model Determinan of health services utilization dari G. E. Alan Dever

(1984), yang telah dimodifikasi.

Modifikasi ini dianggap lebih cocok karena kebutuhan seseorang sangat

dipengaruhi oleh faktor pada individu itu sendiri dan faktor sosial dimana individu

tersebut berada. Sedangkan faktor organisasional yang dalam hal ini berkaitan

dengan sistim pelayanan kesehatan serta birokrasi untuk mendapatkan pelayanan,

lebih mempengaruhi penggunaan atau permintaan pelayanan kesehatan itu sendiri.

2.1.5 Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat)

22

Faktor ciri karakteristik

konsumen:

Sosiodemografi

Sosiopsokologis

Epidemiologis

Kebutuhan Permintaan

Factor

sosiokultural

Factor

Organisasional

Faktor yang

berhubungan

dengan provider

Faktor

lingkungan

Page 23: Bab 1-3bener Jadi

2.1.5.1 Pengertian Puskesmas

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan pusat

pengembangan, pembinaan dan pelayanan kesehatan masyarakat yang sekaligus

merupakan pos terdepan dalam pembangunan kesehatan masyarakat (Dep. Kes.

R.I, 2000).

Definisi Puskesmas menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia

(1990/1991) adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang

merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran

serta masyarakat di samping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan

terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.

Dengan kata lain perkataan Puskesmas mempunyai wewenang dan tanggung

jawab atas pemeliharaan kesehatan masyarakat dalam wilayah kerjanya.

Wilayah kerja Puskesmas meliputi satu kecamatan atau sebagian dari

kecamatan, tergantung kepada kepadatan penduduk, luas daerah, keadaan

geografik dan keadaan infrastruktur masing-masing Puskesmas. Sedangkan

pelayanan kesehatan yang diberikan di Puskesmas adalah pelayanan kesehatan

yang meliputi pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, yang

ditujukan kepada semua jenis kelamin dan golongan umur (Dep. Kes. R.I, 2000).

2.1.5.2 Kegiatan Pokok Puskesmas

Pelayanan upaya kesehatan di Puskesmas dilaksanakan melalui berbagai

kegiatan pokok, yaitu (Dep.Kes. RI., 2000):

a. Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA)

b. Keluarga Berencana

c. Usaha Peningkatan Gizi

d. Kesehatan Lingkungan

e. Pencegahan dan Pemberanasan Penyakit Menular

f. Pengobatan termasuk pelayanan darurat karena kecelakaan

g. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat

h. Kesehatan Sekolah

i. Kesehatan Olah Raga

j. Perawatab Kesehatan Masyarakat

23

Page 24: Bab 1-3bener Jadi

k. Kesehatan Kerja

l. Kesehatan Gigi dan Mulut

m. Kesehatan Jiwa

n. Kesehatan Mata

o. Laboratorium Sederhana

p. Pencatatan dan Pelaporan dalam rangka system informasi kesehatan

q. Kesehatan Usia Lanjut

r. Pembinaan Pengobatan Tradisional

Kegiatan pokok ini akan terus dikembangkan secara bertahap sesuai

dengan kebutuhannya. Beberapa Puskesmas tertentu sesuai dengan perkembangan

akan dilengkapi dengan sarana rawat tinggal dan unit pertolongan pertama pada

keadaan darurat atau gawat.

2.1.5.3 Fungsi Puskesmas

Beberapa fungsi Puskesmas adalah: (Dep.Kes R.I. 2000)

a. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh

dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya.

b. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya

dalam rangka meningkatkan kemampuan hidup sehat.

c. Sebagai pusat pengembangan Kesehatan Masyarakat

di wilayah kerjanya.

Sedangkan pelaksanaan fungsi Puskesmas di atas adalah:

a. Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan

kegiatan dalam rangka menunjang dirinya sendiri.

b. Memberi petunjuk kepada masyarakat tentang upaya

menggali dan menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan

efisien.

c. Memberi bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan

rujukan medis maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan

ketentuan bantuan tersebut tidak menimbulkan ketergantungan.

d. Memberi pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat.

24

Page 25: Bab 1-3bener Jadi

e. Bekerja sama dengan sektor-sektor yang bersangkutan dalam

melaksanakan program Puskesmas.

2.1.5.4 Puskesmas dengan Perawatan

Puskesmas dengan perawatan adalah Puskesmas yang diberi yambahan

ruangan dan fasilitas untuk menolong penderita gawat darurat baik berupa

tindakan operatif terbatas maupun rawat inap sementara (Dep.Kes R.I, 2000).

Fungsi Puskesmas dengan Perawatan yang utama, sebagai “Pusat Rujukan

Antara”, yang melayani penderita gawat darurat sebelum dapat dibawa ke Rumah

Sakit (Dep.Kes R.I, 2000).

Kegiatan-kegiatan yang dapat dikerjakan oleh Puskesmas dengan

perawatan ini meliputi:

1. Melakukan tindakan operasi terbatas terhadap penderita

gawat darurat antara lain:

a. kecelakaan lalu lintas

b. persalinan dengan penyulit

c. penyakit lain yang mendadak dan gawat

2. Merawat sementara penderita gawat darurat atau untuk

observasi penderita dalam rangka diagnostik dengan rata-rata perawatan

3 hari atau maksimum 7 hari.

3. Melakukan pertolongan sementara untuk persiapan

pengiriman penderita lebih lanjut ke Rumah Sakit.

4. Memberi pertolongan persalinan bagi kehamilan risiko

tinggi dan persalinan dengan penyulit.

5. Melakukan metode operasi pria untuk keluarga

berencana.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa Puskesmas dengan perawatan adalah

pengembangan dari Puskesmas biasa, yang mampu betindak sebagai “Pusat

Rujukan Sementara” yang salah satu tugasnya adalah memberi pertolongan

persalinan dengan risiko tinggi dan dengan penyulit. Sehingga secara otomatis dia

juga melaksanakan fungsi Puskesmas biasa yaitu memberi pertolongan persalinan

dengan tingkat risiko rendah atau persalinan normal.

25

Page 26: Bab 1-3bener Jadi

2.1.6 Pelayanan Kebidanan

Pengertian

a) Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan

kesehatan yang diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga dalam

rangka tercapainya keluarga yang berkualitas. Pelayanan keluarga

merupakan layanan yang diberikan oleh bidan sesuai dengan

kewenangan yang diberikannya dengan maksud meningkatkan kesehatan

ibu dan anak. Adapun sasaran pelayanan kebidanan adalah individu,

keluarga dan masyarakat yang meliputi upaya promotif, preventif, kuratif

dan rehabilitatif.

b) Standar adalah keadaan ideal atau tingkat pencapaian tertinggi atau

sempurna yang digunakan sebagai batas penerimaan. Standar adalah

rumusan tentang penampilan atau nilai yang diinginkan yang mampu

dicapai berkaitan dengan parameter yang telah ditetapkan. .10

Ruang lingkup Standar Pelayanan Kebidanan

Standar pelayanan kebidanan adalah terdiri dari 25 standar, yang meliputi

standar pelayanan umum dan standar pelayanan kebidanan termasuk di dalamnya

adalah standar untuk penanganan kegawatdaruratan. Standar tersebut dapat

dikelompokkan dan diuraikan secara berurutan dari standar 1 sampai dengan

standar 25 yaitu sebagai berikut:

a) Standar Pelayanan Umum terdiri dari 2 Standar yaitu: Standar 1 dan

Standar 2.

Standar 1: Persiapan untuk Kehidupan Keluarga Sehat

Pernyataan Standar:

Bidan memberikan dan nasehat kepada perorangan, keluarga dan

masyarakat terhadap segala hal yang berkaitan dengan kehamilan, termasuk

penyuluhan kesehatan umum, gizi, keluarga berencana, kesiapan dalam

menghadapi kehamilan dan menjadi calon orang tua, menghindari kebiasaan yang

tidak baik dan mendukung kebiasaan yang baik.

Standar 2: Pencatatan

26

Page 27: Bab 1-3bener Jadi

Pernyataan Standar:

Bidan melakukan pencatatan semua kegiatan yang dilakukannya, yaitu

regitrasi semua ibu hamil di wilayah kerjanya, rincian pelayanan yang diberikan

kepada setiap ibu hamil/bersalin/nifas dan bayi baru lahir, semua kunjungan

rumah dan penyuluhan kepada masyarakat. Bidan hendaknya mengikutsertakan

kader untuk mencatat semua ibu hamil dan meninjau upaya masyarakat yang

berkaitan dengan ibu dan bayi baru lahir. bidan meninjau secara teratur catatan

untuk menilai kinerja dan penyusunan rencana kegiatan untuk meningkatkan

pelayanannya.

b) Standar Pelayanan Ante Natal terdiri dari 6 Standar yaitu:

Standar 3 s/d Standar 8

Standar 3: Identifikasi Ibu Hamil

Pernyataan Standar:

Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinterakasi dengan masyarakat

secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan motivasi ibu, suami dan

anggota keluarga agar mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak

dini dan secara teratur.

Standar 4: Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal

Pernyataan Standar:

Bidan memberikan sedikitnya 4 x pelyanan antenatal, pemeriksaan

meliputi anamnesis dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai

apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan

risti/kelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PSM/Infeksi HIV,

memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas

terkait lainnya yang diberikan oleh Puskesmas. Bidan harus mencatat data yang

tepat pada setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, bidan harus mampu

mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan selanjutnya.

Standar 5: Palpasi Abdomen

Pernyataan Standar:

Bidan melakukan pemeriksaan abdomen secara seksama dan melakukan

palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan, serta bila umur kehamilan

bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah janin dan masuknya kepala janin

27

Page 28: Bab 1-3bener Jadi

ke dalam rongga panggul, untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat

waktu.

Standar 6: Pengelolaan Anemia pada Kehamilan

Pernyataan Standar:

Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penanganan dan/atau

rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai dengan ketentuan yang

berlaku.

Standar 7: Pengelolaan Dini Hipertensi pada Kehamilan

Pernyataan Standar:

Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada

kehamilan dan mengenali tanda serta gejala preeklamasi lainnya, serta mengambil

tindakan yang tepat dan merujuknya.

Standar 8: Persiapan Persalinan

Pernyataan Standar:

Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami serta

keluarganya pada trimester ke tiga, untuk memastikan bahwa persiapan persalinan

yang bersih dan aman serta suasana yang menyenangkan akan direncanakan

dengan baik, disamping persiapan transportaasi dan biaya untuk merujuk, bila

tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat. Bidan hendaknya melakukan kunjungan

rumah untuk hal ini.

c).Standar Pertolongan Persalinan terdiri dari 4 Standar, yaitu

standar 9 s/d standar 12

Standar 9: Asuhan Saat Persalinan

Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai, kemudian

memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai, dengan memperhatikan

kebutuhan klien, selama proses

persalinan berlangsung.

Standar 10: Persalinan yang Aman

Pernyataan Standar:

Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman, dengan sikap sopan

dan penghargaan terhadap klien serta memperhatikan tradisi setempat.

Standar 11: Pengeluaran Plasenta dengan Penegangan Tali Pusat

28

Page 29: Bab 1-3bener Jadi

Pernyataan Standar:

Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar untuk membantu

pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap.

Standar 12: Penanganan Kala II dengan Gawat Janin melalui Episiotomi

Pernyataan Standar:

Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin pada kala II yang

lama, dan segera melakukan episiotomi dengan aman untuk menperlancar

persalinan, diikuti dengan penjahitan

perineum.

d).Standar Pelayanan Nifas terdiri dari 3 Standar yaitu Standar 13

s/d Standar 15

Standar 13: Perawatan Bayi Baru Lahir

Pernyataan Standar:

Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan

pernafasan spontan, mencegah hipoksia sekunder, menemukan kelainan dan

melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan harus

mencegah hipotermia.

Standar 14: Penanganan Pada Dua Jam Pertama Setelah

Persalinan

Pernyataan Standar:

Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi

dalam dua jam seletah persalinan, serta melakukan tindakan yang diperlukan.

Bidan memberikan penjelasan tentang hal-hal yang mempercepat pulihnya

kesehatan ibu, dan membantu ibu untuk memulai pemberian ASI.

Standar 15: Pelayanan bagi Ibu dan Bayi pada Masa Nifas

Pernyataan Standar:

Bidan memberikan pelayanan pada masa nifas melalui kunjungan rumah

pada hari ke tiga, minggu ke dua dan minggu ke enam setelah persalinan, untuk

membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang

benar, penemuan dini, penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi

pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum,

29

Page 30: Bab 1-3bener Jadi

kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian

ASI, imunisasi dan KB.

e).Standar Penanganan Kegawatdaruratan Obtetri Neonatal, terdiri

dari 10 Standar yaitu Standar 16 s/d Standar 25.

Standar 16: Penanganan Pendarahan pada Kehamilan

Pernyataan Standar:

Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala pendarahan, serta

melakukan pertolongan pertama dan merujuknya.

Standar 17: Penanganan Kegawatan pada Eklamasi

Pernyataan Standar:

Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala eklamasi mengancam, serta

merujuk dan/atau memberikan pertolongan pertama

Standar 18: Penanganan Kegaawatan pada Partus Lama/Macet

Pernyataan Standar:

Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala partuslama/ macet serta

melakukan penanganan yang memadai dan tepat waktu atau merujuknya.

Standar 19: Persalinan dengan Forcep Rendah

Pernyataan Standar:

Bidan mengenali kapan diperlukan ekstraksi forcep rendah, menggu nakan

forcep secara benar dan menolong persalinan secara aman bagi ibu dan bayinya.

Standar 20: Persalinan dengan Penggunaan Vakum Ekstraktor.

Pernyataan Standar:

Bidan mengenali kapan diperlukan ekstraki vakum, melakukannya secara

benar dalam memberikan pertolongan persalinan dengan memastikan

keamanannya bagi ibu dan janin/bayinya.

Standar 21: Penanganan Retentio Plasenta

Pernyataan Standar:

Bidan mampu mengenali retensio plasenta, dan memberikan pertolongan

pertama, termasuk plasenta manual dan penanganan pendarahan, sesuai dengan

kebutuhan.

Standar 22: Penanganan Pendarahan Post Partum Primer

Pernyataan Standar:

30

Page 31: Bab 1-3bener Jadi

Bidan mampu mengenali pendarahan yang berlebihan dalam 24 jam

pertama setelah persalinan (post partum primer) dan segera melakukan

pertolongan pertama untuk mengendalikan pendarahan.

Standar 23: Penanganan Pendarahan Post Partium Sekunder

Pernyataan Standar:

Bidan mampu mengenali secara tepat dan dini tanda serta gejala

pendarahan post portum sekunder, dan melakukan pertolongan pertama untuk

menyelamatkan jiwa ibu, dan/atau merujuknya.

Standar 24: Penanganan Sepis Puerpularis

Pernyataan Standar:

Bidan mampu mengenali secara tepat tanda dan gejala sepsis puerpularis,

serta melakukan pertulongan pertama atau merujuknya.

Standar 25: Penanganan Asfiksia

Pernyataan Standar:

Bidan mampu mengenali dengan tepat bayi baru lahir dengan asfiksia,

serta melakukan resusitasi secepatnya, mengusahakan bantuan medis yang

diperlukan dan memberikan perawatan lanjutan.

3). Manfaat Penerapan Standar Pelayanan Kebidanan. (6)

a). Standar pelayanan berguna dalam penerapan norma dan tingkat kinerja

yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Penerapan standar

pelayanan sekaligus akan melindungi masyarakat, karena penilaian terhadap

proses dan hasil pelayanan dapat dilakukan dengan dasar yang jelas.

b). Dengan adanya standar pelayanan yang dapat dibandingkan dengan

pelayanan yang diperoleh, maka masyarakat akan mempunyai kepercayaan yang

lebih mantap terhadap pelaksana pelayanan. Standar pelayanan kebidanan dapat

pula digunakan untuk menentukan kompetensi yang diperlukan bidan dalam

menjalankan praktik sehari-hari. Pelayanan yang berkualitas dapat dikatakan

sebagai tingkat pelayanan yang memenuhi standar yang telah ditetapkan. Dengan

demikian standar penting untuk pelaksanaan pemeliharaan dan penilaian kualitas

atau mutu pelayanan. hal ini menunjukkan bahwa standar pelayanan perlu dimiliki

31

Page 32: Bab 1-3bener Jadi

oleh setiap pelaksana pelayanan. Mutu adalah kepatuhan terhadap standar yang

telah ditetapkan.

Jadi Program menjaga mutu pelayanan adalah suatu upaya yang

berkesinambungan, sisematis dan obyektif dalam memantau dan menilai

pelayanan yang diselenggarakan dibandingkan dengan standar yang telah

ditetapkan serta menyelesaikan masalah yang ditemukan untuk memperbaiki mutu

pelayanan.

4) Asuhan Persalinan Normal

Pengertian

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang

telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau jalan

lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri). Menurut

Saifuddin(10), persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin

yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan

presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik

pada ibu maupun pada janin.

Definisi persalinan normal menurut WHO adalah persalinan yang dimulai

secara spontan, beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama

proses persalinan. Bayi dilahirkan secara spontan dalam presentasi belakang

kepala pada usia kehamilan antara 37 hingga 42 minggu lengkap. Setelah

persalinan ibu maupun bayi berada dalam kondisi sehat.

Tujuan Asuhan Persalinan Normal

Tujuan asuhan persalinan normal adalah tercapainya kelangsungan hidup

dan kesehatan yang tinggi bagi ibu serta bayinya, melalui upaya yang terintegrasi

dan lengkap namun menggunakan intervensi seminimal mungkin sehingga prinsip

keamanan dan kualitas layanan dapat terjaga pada tingkat yang seoptimal

mungkin. pendekatan seperti ini berarti bahwa: dalam asuhan persalinan normal

32

Page 33: Bab 1-3bener Jadi

harus ada alasan yang kuat dan bukti manfaat apabila akan melakukan intervensi

terhadap jalannya proses persalinan yang fisiologis/alamiah.

Tugas Penolong Persalinan pada Auhan Persalinan Normal. 41

Tugas penolong persalinan pada asuhan persalinan normal yaitu:

1). Memberikan dukungan pada ibu, suami dan keluarganya selama proses

persalinan, saat akan melahirkan bayi dan pada masa sesudahnya.

2). Melakukan pemantauan terhadap ibu dan janin dalam proses persalinan

dan setelah persalinan; menilai adanya faktor risiko; melakukan deteksi

dini terhadap komplikasi persalinan yang mungkin muncul.

3). Melakukan intervensi minor bila diperlukan seperti melakukan

amniotommi; episotomi pada kasus gawat janin; melakukan

penatalaksanaan pada bayi baru melahirkan dengan asfiksi ringan.

4). Melakukan rujukan pada fasilitas yang lebih lengkap sesuai dengan

masalah kasusu yang dirujuk bila didapatkan adanya faktor risiko atau

terdeteksi adanya komplikasi selama proses persalinan. Selain tugas-

tugas di atas, seorang penolong persalinan harus mendapatkan

kualifikasi sebagai tenaga pelaksana penolong persalinan melalui

serangkaian latihan, bimbingan langsung dan kesempatan untuk

mempraktekkan keterampilannya pada suasana sesungguhnya. Dalam

kualifikasi tersebut, penolong persalinan dapat melakukan penilaian

terhadap faktor risiko, mendeteksi secara dini terjadinya komplikasi

persalinan, melakukan pemantauan terhadap ibu maupun janin, dan juga

bayi setelah dilahirkan.

Penolong persalinan harus mampu melakukan penatalaksanaan awal

terhadap komplikasi terhadap bayi baru lahir. Ia juga harus mampu untuk

melakukan rujukan baik ibu maupun bayi bila komplikasi yang terjadi

memerlukan penatalaksanaan lebihlanjut yang membutuhkan keterampilan di luar

kompetensi yang dimilikinya. Tidak kalah pentingnya adalah seorang penolong

persalinan harus memiliki kesabaran, kemampuan untuk berempati dimana hal ini

amat diperlukan dalam memberikan dukungan bagi ibu dan keluarganya.

33

Page 34: Bab 1-3bener Jadi

Lima Benang Merah Dalam Asuhan Persalinan Normal

Di dalam asuhan Persalinan terdapat 5 (lima) aspek disebut juga sebagai 5

(lima) benang merah yang perlu mendapatkan perhatian, ke 5 aspek tersebut yaitu:

1) Aspek Pemecahan Masalah yang diperlukan untuk menentukan

Pengambilan Keputusan Klinik (Clinical Decision Making). Dalam

keperawatan dikenal dengan Proses Keperawatan, para bidan

menggunakan proses serupa yang disebut sebagai proses

penatalaksanaan kebidanan atau proses pengambilan keputusan klinik

(clinical decision making). Proses ini memiliki beberapa tahapan mulai

dari pengumpulan data, diagnosis, perencanaan dan penatalaksanaan,

serta evaluasi, yang merupakan pola pikir yang sistematis bagi para

bidan selama memberikan Asuhan Kebidanan khususnya dalam Asuhan

Persalinan Normal.

2) Aspek Sayang Ibu yang Berarti sayang Bayi. Asuhan sayang ibu dalam

proses persalinan yang harus diperhatikan para Bidan adalah:

a) Suami, saudara atau keluarga lainnya harus diperkenankan untuk

mendampingi ibu selama proses persalinan bila ibu

menginginkannya.

b) Standar untuk persalinan yang bersih harus selalu dipertahankan

c) Kontak segera antara ibu dan bayi serta pemberian Aair Susu Ibu

harus dianjurkan untuk dikerjakan.

d) Penolong persalinan harus bersikap sopan dan penuh pengertian.

e) Penolong persalinan harus menerangkan pada ibu maupun keluarga

mengenai seluruh proses persalinan.

f) Penolong persalinan harus mau mendengarkan dan memberi jawaban

atas keluhan maupun kebutuhan ibu.

g) Penolong persalinan harus cukup mempunyai fleksibilitas dalam

menentukan pilihan mengenai hal-hal yang biasa dilakukan selama

proses persalinan maupun pemilihan posisi saat melahirkan.

h) Tindakan-tindakan yang secara tradisional sering dilakukan dan

sudah terbukti tidak berbahaya harus diperbolehkan bila dilakukan.

i) Ibu harus diberi privasi bila ibu menginginkan.

34

Page 35: Bab 1-3bener Jadi

j) Tindakan-tindakan medik yang rutin dikerjakan dan ternyata tidak

perlu dan harus dihindari (episiotomi, pencukuran dan klisma).

Aspek Pencegahan Infeksi

Cara efektif untuk mencegah penyebaran penyakit dari orang ke orang dan

atau dari peralatan/sarana kesehatan ke orang dapat dilakukan dengan meletakkan

penghalang diantara mikroorganisme dan individu (klien atau petugas kesehatan).

Penghalang ini dapat berupa proses secara fisik, mekanik ataupun kimia yang

meliputi:

c) Cuci tangan

Secara praktis, mencuci tangan secara benar merupakan salah satu

tindakan pencegahan infeksi paling penting untuk mengurangi penyebaran

penyakit dan menjaga lingkungan bebas dari infeksi. Cuci tangan dilakukan sesuai

dengan Standar dan prosedur yang ada.

d) Pakai sarung tangan

Untuk tindakan pencegahan, sarung tangan harus digunakan oleh semua

penolong persalinan sebelum kontak dengan darah atau cairan tubuh dari klien.

Sepasang sarung tangan dipakai hanya untuk seorang klien guna mencegah

kontaminasi silang. Jika mungkin, gunakanlah sarung tangan sekai pakai, namun

jika tidak mungkin sebelum dipakai ulang sarung taangan dapat dicuci dan disteril

dengan otoklaf, atau dicuci dan didesinfektan tingkat tinggi dengan cara

mengkukus.

e) Penggunaan Cairan Antiseptik

Penggunaan antiseptik hanya dapat menurunkan jumlah mikroorganisme

yang dapat mengkontaminaasi luka dan dapat menyebabkan infeksi. Untuk

mencapai manfaat yang optimal, penggunaan antiseptik seperti alkohol dan

lodofor (Betadin) membutuhkan waktu beberapa menit untuk bekerja secara aktif.

Karena tiu, untuk suatu tindakan kecil yang membutuhkan waktu segeraseperti

penyuntikan oksitosin IM saat penatalaksanaan aktif kala III dan pemotongan tali

pusat saat bayi baru lahir, penggunaan antiseptik semacam ini tidak diperlukan

sepanjang alat-alat yang digunakan steril atau DTT.

f) Pemrosesan alat bekas

35

Page 36: Bab 1-3bener Jadi

Proses dasar pencegahan infeksi yang biasa digunakan untuk mencegah

penyebaran penyakit dari peralatan, sarung tangan dan bahan-bahan lain yang

terkontaminasi adalah dengan :

1) Pencucian dan pembilasan

Pencucian penting karena: merupakan cara yang paling efektif untuk

menghilangkan sejumlah besar mikroorganisme pada peralatan kotor atau bekas di

pakai. Tanpa pencucian, prosedur terilisasi ataupun desinfeksi tingkat tinggi tidak

akan terjadi secara efektif. Jika alat sterilisasi tidak teredia, pencucian yang

seksama merupakan cara mekanik satu-satunya untuk menghilangkan sejumlah

endospora.

2) Dekontaminasi, yaitu segera setelah alat-alat itu digunakan,

tempatkan benda-benda tersebut dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit, yang

akan secara cepat mematikan virus Hepatitis B dan virus HIV. Larutan klorin

cepat sekali berubah keadaannya, oleh sebab itu setiap hari harus diganti atau

dibuat baru apabila larutan tersebut tampak kotor (keruh).

3) Sterilisasi atau Desinfeksi Tingkat Tinggi

Di beberapa tempat pelayanan yang tidak memungkinkan untuk

melakukan sterilisasi dengan otoklaf atau oven/jenis alat yang tidak

memungkinkan untuk dilakukan sterilisasi dengan cara diatas, maka Deinfeksi

Tingkat Tinggi merupakan pilihan satu-satunya yang masih bisa diterima. DTT ini

bisa dengan cara merebus, menggunakan uap, menggunakan bahan kimia, dengan

langkah-langkah sesuai prosedur yang sudah ada.

e) Pembuangan sampah

Tujuan pembuangan sampah klinik seccara benar adalah: mencegah

penyebaran infeksi kepada petugas klinik yang menangani sampah dan

masyarakat yang sekaligus dapat melindunginya dari luka karena tidak terkena

benda-benda tajam yang sudah terkontaminasi. Jadi dengan penanganan sampah

yang benar tersebut akan mengurangi penyebaran infeksi baik kepada petugas

klinik maupun kepada masyarakat setempat

4) Aspek Pencatatan (Dokumentasi)

Dokumentasi dalam manajemen kebidanan merupakan bagian yang sangat

penting. Hal ini karena:

36

Page 37: Bab 1-3bener Jadi

a) Dokumentasi menyediakan catatan permanen tentang manajemen pasien.

b) Memungkinkan terjadinya pertukaran informasi diantara petugas

kesehatan.

c) Kelanjutan dari perawatan dipermudah, dari kunjungan ke kunjungan

berikutnya, dari petugas ke petugas yang lain, atau petugas ke fasilitas.

d) Informasi dapat digunakan untuk evaluasi, untuk melihat apakah

perawatan sudah dilakukan dengan tepat, mengidentifikasi kesenjangan

yang ada, dan membuat perubahan dan perbaikan peningkatan

manajemen perawatan pasien.

e) Memperkuat keberhasilan manajemen, sehingga metode-metode dapat

dilanjutkan dan disosialisasikan kepada yang lain.

f) Data yang ada dapat digunakan untuk penelitian atau studi kasus.

g) Dapat digunakan sebagai data tatitik, untuk catatan nasional.

h) Sebagai data statitik yang berkaitan dengan kesakitan dan kematin ibu

dan bayi.

Dalam Asuhan Persalinan Normal, sistem pencatatan yang digunakan

adalah partograf, hasil pemeriksaan yang tidak dicatat pada partograf dapat

diartikan bahwa pemeriksan tersebut tidak dilakukan

5) Aspek Rujukan

Jika ditemukan uatu masalahdalam persalinan, sering kali ulit untuk

melakukan upaya rujukan dengan cepat, hal ini karena banyak faktor yang

mempengaruhi. Penundaan dalam membuat keputusan dan pengiriman ibu ke

tempat rujukan akan menyebbkan tertundanya ibu mendapatkan penatalaksanaan

yang memadai, sehingga akhirnya dapat menyebabkan tingginya angka kematian

ibu. Rujukan tepat waktu merupakan bagian dari asuhan sayang ibu dan

menunjang terwujudnya program Safe Motherhood.

Kebijakan Pelayanan Asuhan Persalinan

Sebagai kebijakan pemerintah tentang pelayanan asuhan persalinan adalah:

1). Semua persalinan harus dihadiri dan dipantau oleh petugas kesehatan

terlatih.

37

Page 38: Bab 1-3bener Jadi

2). Rumah Bersalin dan tempat rujukan dengan fasilitaas memadai untuk

menangani kegawatdaruratan obstetri dan neonatal harus tersedia 24 jam.

3). Obat-obat esensial, bahan dan perlengkapan harus tersedia bagi seluruh

petugas terlatih.

Rekomendasi kebijakan tehnis asuhan persalinan dan kelahiran

Untuk mendukung dilaksanakannya kebijakan tentang pelayanan asuhan

persalinan, maka selanjutnya pemerintah merekomendasikan tentang kebijakan

terebut. Adapun rekomendasi yang dimaksud adalah:

1). Asuhan Sayang Ibu dan Sayang Bayi harus dimasukkan sebagai bagian

dari persalinan bersih dan aman, termasuk hadirnya keluarga atau orang-

orang yang memberi dukungan bagi ibu.

2). Partograf harus digunakan untuk memantau persalinan dan berfungsi

sebagai suatu catatan/rekam medik untuk persalinan.

3). Selama persalinan normal, intevensi hanya dilaksanakan jika benarbenar

dibutuhkan. Prosedur ini hanya dilakukan jika ada indikasi atau penyulit.

4).Manajemen aktif kala III, termasuk penjepitan danpemotongan tali pusat

secara dini, memberikan suntikan oksitosin IM, melakukan penegangan

tali pusat terkendali (PTT) dan segera melakukan massase fundus, harus

dilakukan pada semua persalinan normal.

5). Penolong persalinan harus tetap tinggal bersama ibu dan bayi

setidaktidaknya 2 jam pertama etelah kelahiran, atau sampai ibu sudah

dalam keadaan stabil. Fundus harus diperiksa setiap 15 menit selama 1

jam pertama dan setiap 30 menit pada jam ke dua. Massase fundus harus

dilakukan sesuai kebutuhan untuk memastikan tonus uterus tetap baik,

pendarahan minimal dan mencegah pendarahan.

6). Selama 24 jam pertama setelah persalinan, fundus harus sering diperiksa

dan dimassase sampai tonus baik. ibu atau anggita keluarga dapat

diajrkan melakukan hal ini.

7). Segera setelah lahir, seluruh tubuh terutama kepala bayi harus segera

diselimuti dan bayi segera dikeringkan serta dijaga kehangatannya untuk

mencegah terjadinya hipotermi.

38

Page 39: Bab 1-3bener Jadi

8). Obat-obat esensial, bahan dan perlengkapan harus disediakan oleh

petugas dan keluarga.

2.2 Kerangka Konseptual

Dari tinjauan pustaka yang telah dibicarakan dan dari hasil pemikiran-

pemikiran yang ada, maka dasar teori yang digunakan dalam studi ini adalah dasar

teori menurut Alan Dever (model Donabedian).

Model kerangka teori dapat digambarkan seperti di bawah cini:

Skema 3: KERANGKA KONSEP

39

Faktor-faktor yang berhubungan

dengan konsumen:

umur ibu

paritas ibu

pendidikan ibu

pekerjaan ibu

Tk. Pengetahuan ibu ttg kehamilan &

persalinan

Tk. Risiko ibu hamil

Penghasilan keluarga

Etnik / suku bangsa

Pengambil keputusan

“Kebutuhan” ibu

terhadap pelayanan

pertolongan

persalinan di

Puskesmas

“Permintaan” ibu

terhadap pelayanan

pertolongan

persalinan di

Puskesmas

Kebiasaan

masyarakat

dalam persalinan

RIS

ET

Jarak

Sistem birokrasi

Ada tidaknya

penyulit pada

saat proses

persalinan

Tempat persalinan

yang tersedia

Biaya

Kepuasan

konsumen

Page 40: Bab 1-3bener Jadi

2.3 Definisi Operasional

Definisi operasional dari variabel-variabel dalam studi ini adalah sebagai

berikut:

a. Permintaan pertolongan persalinan di Puskesmas: realisasi ibu untuk

melahirkan di Puskesmas. Pengukuran variabel dengan menanyakan

kepada ibu melahirkan, apakah melahirkan di Puskesmas atau di

tempat lain selain Puskesmas, untuk responden itu bersalin pada

periode (bulan Maret 2009 – April 2010)

b. Kebutuhan pertolongan persalinan di Puskesmas: kebutuhan yang

dirasakan ibu terhadap pertolongan persalinan yang diberikan oleh

Puskesmas. Diukur dengan pertanyaan yang berkaitan dengan

kebutuhan ibu, yang dinilai adalah butuh atau tidak butuh.

c. Umur ibu: usia atau banyaknya tahun kalender yang telah dijalani oleh

ibu sesuai yang tertera pada KTP atau kartu identitas lain. Dalam

penelitian ini, umur dihitung dengan pembulatan ke bawah. Misalkan

25 tahun 4 bulan dibulatkan 25 tahun, 26 tahun 9 bulan dibulatkan 26

tahun.

d. Paritas Ibu :jumlah kehamilan yang pernah dialami ibu, baik yang

berakhir dengan kelahiran hidup ataupun mati.

e. Pendidikan : pendidikan formal ibu, dihitung banyaknya tahun sukses

yang pernah dijalani. Misal SLTP kelas I dihitung 7.

f. Pekerjaan ibu : pekerjaan yang dilakukan ibu dan mendapat upah

berupa uang atau barang. Profesi/jenis pekerjaan adalah macam

40

Page 41: Bab 1-3bener Jadi

pekerjaan yang sedang dilakukan oleh responden, yaitu (1) tenaga

profesional, tehnisi dsb (2) tenaga kepeminpinan dan ketatalaksanaan

(3) tenaga tata usaha (4) tenaga usaha penjualan (5) tenaga usaha jasa

(6) tenaga usaha pertanian, kehutanan, perburuan dan perikanan (7)

tenaga produksi, operator alat angkutan, pekerja kasar (8) lainnya.

g. Pengetahuan ibu: diukur dengan beberapa pertanyaan, yang harus

dinilai benar atau salah. Kemudian jumlah jawaban yang bernilai benar

dikategorikan dengan pengetahuan tinggi, sedang dan rendah.

h. Etnik : suku bangsa dari ibu, berdasarkan tempat kelahiran ibu atau

faktor keturunan ibu. Ditanayakan etnik mana yang paling

mempengaruhinya, dicocokkan dengan pemakaian bahasa sehari-hari.

i. Pengambil keputusan dalam keluarga: dilihat yang paling dominan,

apakah suami, istri, suami-istri (bersama) atau orang tua.

j. Penghasilan keluarga: silihat dari jumlah pendapatan keluarga rata-

rata selama satu bulan. Untuk pengukuran, dihitung rata-rata

pendapatan selama satu bulan dari seluruh anggota keluaga, dalam

artian jumlah pendapatan riil dari anggota keluarga (suami, istri, anak

dan anggota keluarga yang lain yang tinggal bersama dan makan dalam

satu dapur). Pendapatan riil maksudnya pendapatan yang benar-benar

disumbangkan (dikontribusikan) untuk pebiayaan kelangsungan hidup

seluruh angggota rumah tangga.

k. Tingkat risiko ibu hamil: diukur dengan skor tinggi, sedang, dan

rendah.

l. Tersedianya pelayanan pertolongan persalinan yang lain : sarana

pertolongan persalinan selain Puskesmas (dukun, bidan, Rumah sakit,

polindes).

m. Biaya : biaya yang dikeluarkan untuk proses pertolongan persalinan.

n. Kebiasaan masyarakat dalam persalinan: Apakah ada kebiasaan

masyarakat dalam memilih tempat melakukan persalinan seperti: di

rumah sendiri, dukun, bidan, puskesmas, Polindes atau rumah sakit.

o. Sistem birokrasi : alur pelayanan yang berlaku untuk mendapatkan

pelayanan rumit atau tidak, menurut responden. Dalam artian tahap

41

Page 42: Bab 1-3bener Jadi

pelayanannya dan biaya yang harus dikeluarkan, misalnya alurnya

berbelit-belit tetapi biayanya murah atau sebaliknya.

p. Jarak : jarak antara rumah dengan Puskesmas tempat persalinan, baik

jarak fisik (dalam Km) maupun jarak tempuh (dalam menit).

42

Page 43: Bab 1-3bener Jadi

BAB 3

METODA STUDI

3.1 Jenis Studi

Jenis studi yang digunakan adalah survey lapangan karena studi ini

mempelajari tentang sesuatu yang terjadi di lapangan. Sample diambil dari

anggota masyarakat dan kuesioner dipakai sebagai alat pengumpul data.

Rancangan studi adalah “cross sectional” yaitu mengkaji kejadian yang terjadi

pada bulan Maret 2009 – April 2010. untuk pengambilan data dilakukan pada

bulan Mei sampai Oktober 2010.

3.2 Lokasi Studi

Puskesmas Pamulang dipilih sebagai lokasi studi karena Puskesmas

Pamulang adalah salah satu puskesmas di kota Tangerang Selatan yang memiliki

pelayanan pertolongan persalinan dan juga menjadi tempat studi modul Ilmu

Kedokteran Komunitas Program Studi Pendidikan Dokter UIN Syarif

Hidayatullah.

3.3 Populasi atau Obyek Studi

Sebagai populasi adalah (1) semua ibu yang telah melakukan persalinan

baik hidup maupun mati pada periode Maret 2009 – April 2010 di seluruh

pengunjung puskesmas Pamulang. Ibu yang selesai bersalin digali keterangannya

dengan cara menanyakan kembali seluruh pengalamannya pada saat ibu tersebut

hamil (untuk melihat kebutuhannya) dan saat ibu melahirkan (untuk melihat

permintaannya). Besar sampel pada penelitian ini dihitung dengan menggunakan

perhitungan role of thumb karena penelitian ini menggunakan analisis multivariat

dengan metode regresi logistik yang dapat dihitung sesuai rumus :

N= 5-50 x jumlah variabel bebas yg diteliti, maka didapat jumlah besar

sampel adalah:

N= 5-50 x 18 (variabel bebas yang diteliti)

Jumlah sampel = 90 – 900

43

Page 44: Bab 1-3bener Jadi

Maka dapat dijelaskan target sampel pada penelitian ini sesuai dengan

penghitungan sampel yg digunakan adalah 80-800 ibu yang melakukan persalinan

pada periode Maret 2009 hingga April 2010 dan berkunjung ke puskesmas

Pamulang pada waktu penelitian ini dilakukan.

3.4 Pengolahan Data

Data yang telah dikumpulkan, dikelompokkan berdasarkan kelompok

masing-masing responden kemudian dimasukkan dalam file data. Setelah

dikelompokkan data lalu diedit, dikoreksi kebenarannya, kelengkapan

pengisiannya dan kejelasan maksud dari jawabannya. Yang terakhir, dilakukan

koding. Dan semua pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software

SPSS.

3.5 Teknik Analisis Data

Dalam studi ini, dipergunakan beberapa tehnik analisis sebagai berikut:

a. Diskriptif analisis : mendiskripsikan hasil studi yang telah dilakukan.

b. Analisis Univariat : Data hasil penelitian dideskripsikan dalam bentuk

tabel distribusi frekuensi, grafik dan narasi untuk mengevaluasi besarnya

persentase pada seluruh variabel penelitian.

c. Analisis Bivariat : Analisis bivariat merupakan kelanjutan dari analisis

univariat dengan cara melakukan tabulasi silang antara variabel dependent

dengan independent dan menggunaklan uji Chi Square ini juga digunakan

sebagai uji kandidat atas variabel independent (p < 0,25) untuk disertakan

dalam uji multivariat ( multiple regression logistik).

d. Tekhnik analisis multivarian : Analisis multivariat digunakan untuk

mengetahui pengaruh paparan secara bersama-sama dari beberapa variabel

dependent yang berpengaruh terhadap variabel independen. Uji yang

digunakan adalah regresi logistik. Apabila masing-masing variabel

dependent menunjukkan nilai p < 0,25, maka variabel tersebut dapat

dilanjutkan ke dalam model multivariat. Analisis multivariat digunakan

untuk mendapatkan model yang terbaik. Seluruh variabel kandidat

dimasukkan bersama-sama untuk dipertimbangkan menjadi model dengan

44

Page 45: Bab 1-3bener Jadi

hasil nilai p < 0,05. Variabel yang terpilih dimasukkan ke dalam model

dan nilai p yang tidak signifkan dikeluarkan dari model, berurutan dari

nilai p tertinggi.

e. Comparatif analisis : membandingkan hasil studi dengan teori-teori yang

ada dan hasil studi penulis lainnya.

f. Induksi analisis : hasil analisis pada studi ini (bersifat khusus),

dipergunakan sebagai pengambil kesimpulan secara umum.

3.6 Perangkat Analisis

Alat analisa yang dipakai adalah regresi logistik (logistic regression), hal

ini untuk mengukur besarnya pengaruh variabel independent terhadap variabel

dependent yang bersifat dikotomous.

Dalam studi ini, penghitungan kebutuhan dan permintaan bersifat

dikotomous yaitu : membutuhkan, tidak membutuhkan, meminta (menggunakan)

dan tidak menggunakan pelayanan kesehatan berupa pertolongan persalinan di

Puskesmas.

45