74257408 sepsis siap print

Download 74257408 Sepsis Siap Print

Post on 20-Oct-2015

13 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PendahuluanSepsis neonatorum sampai saat ini masih merupakan masalah utama di bidang pelayanan dan perawatan neonatus. Menurut perkiraan World Health Organization (WHO), terdapat 5 juta kematian neonatus setiap tahun dengan angka mortalitas neonatus (kematian dalam 28 hari pertama kehidupan) adalah 34 per 1000 kelahiran hidup, dan 98% kematian tersebut berasal dari negara berkembang. World Health Organization melaporkan case fatality rate yang tinggi pada kasus sepsis neonatorum , yaitu sebesar 40%. Hal ini terjadi karena banyak faktor risiko infeksi pada masa perinatal yang belum dapat dicegah dan ditanggulangi. Angka kematian bayi dapat mencapai 50% apabila penatalaksanaan tidak dilakukan dengan baik. 1,2

Angka kejadian sepsis neonatorum adalah 1-5 per 1000 kelahiran hidup. Berdasarkan data dari The National Institute of Child Health and Human Development Neonatal Research Network, insiden tertinggi sepsis neonatorum ditemukan pada bayi dengan berat badan lahir sangat rendah. Insiden sepsis awitan dini adalah 15-19 per 1000 kelahiran hidup dan sepsis nosokomial awitan lambat sebanyak 21% kasus.3 Angka kejadian sepsis di negara berkembang masih cukup tinggi (1,8-18/1000) dengan angka kematian sebesar 12-68%, sedangkan di negara maju angka kejadian sepsis berkisar 1-5 pasien per 1000 kelahiran hidup dengan angka kematian 10,3%. 1,2 Penelitian terkini di Malaysia melaporkan angka sepsis neonatorum 5-10% dengan tingkat kematian 23-52%. Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dalam periode Januari-September 2005, angka kejadian sepsis neonatorum sebesar 13,68% dari seluruh kehidupan dengan tingkat kematian sebesar 14,18%. 4

Menegakkan diagnosis sepsis pada neonatus tidak mudah karena gejala dan tanda yang tidak spesifik, dapat menyerupai keadaan lain yang disebabkan oleh non infeksi. Pembuktian infeksi dengan biakan darah sering tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Keterlambatan pengobatan akan memperburuk keadaan bayi dan dapat menyebabkan kematian. Sebaliknya penanganan yang berlebihan akan meningkatkan penggunaan antibiotik dan lamanya rawat inap di rumah sakit. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengenal dan menatalaksana sepsis neonatorum.1,4Definisi

Sepsis pada bayi baru lahir adalah infeksi aliran darah yang bersifat, invasive yang di tandai dengan di temukannya bakteri dalam cairan tubuh, seperti darah, sumsum tulang dan air kemih.

Sepsis neonatal merupakan syndrome klinis dari penyakit sistemik akibat infeksi satu bulan pertama kehidupan. Bakteri,virus,jamur dan protozoa dapat menyebabkan sepsis bayi baru lahir

Fetus dan neonatus sangat rentan terhadap infeksi. Ada tiga jalur utama terjadinya infeksi perinatal

1. Infeksi transplasental

2. Infeksi asendens dengan disertai rusaknya barier plasenta ( misalnya infeksi bakteri setelah 12- 18 jam selaput amnion pecah) dan

Infeksi yang didapat saat bayi melewati jalan lahir yang telah terinfeksi atau terpapar EtiologiBerbagai macam kuman seperti bakteri, virus, parasit atau jamur dapat menyebabkan infeksi berat yang mengarah pada terjadinya sepsis. Pola kuman penyebab sepsis pun berbeda-beda antar negara dan selalu berubah dari waktu ke waktu. Bahkan di negara berkembang sendiri ditemukan perbedaan pola kuman, walaupun bakteri gram negatif rata-rata menjadi penyebab utama dari sepsis neonatorum.Mikroorganisme tersering yang menyebabkan timbulnya sepsis awitan dini adalah group B Streptococcus (GBS), Eschericia Coli, Coagulase-negative Staphylococcus,Haemophilus influenzae, and Listeria monocytogenes.3 sedangkan di negara berkembang termasuk Indonesia, mikroorganisme penyebabnya adalah batang Gram negatif. Mikroorganisme penyebab sepsis awitan lambat diantaranya, coagulase-negative staphylococci, Staphylococcus aureus, E coli, Klebsiella,Pseudomonas, Enterobacter, Candida, GBS, Serratia, Acinetobacter, dan bakteri-bakteri anaerob.7,8 Di negara maju, coagulase-negative staphylococci dan Candida albicans merupakan penyebab utama sepsis awitan lambat, sedangkan di negara berkembang didominasi oleh mikroorganisme batang gram negatif (E.Coli, Klebsiella, dan Pseudomonas aeruginosa).1 Di Divisi Neonatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM pada tahun 2003, kuman terbanyak yang ditemukan berturut-turut adalah Acinetobacter sp, Enterobacter sp, Pseudomonas sp. Data terakhir bulan Juli 2004-Mei 2005 menunjukkan Acinetobacter calcoacetius paling sering (35,67%), diikuti Enterobacter sp (7,01%), dan Staphylococcus sp (6,81%).2Tabel 3. Jenis mikroorganisme penyebab sepsis neonatorum5

KLASIFIKASI

Sepsis neonatorum dibagi menjadi dua bagian yang dibedakan menurut waktu atau usia timbulnya gejala, yaitu:1,2,3

a. Sepsis awitan dini. Timbulnya gejala sepsis segera dalam periode postnatal (kurang dari 72 jam). Sepsis awitan dini memiliki kekerapan 3,5 kasus per 1000 kelahiran hidup dengan angka mortalitas sebesar 15-50% Gejala melibatkan multi sistem dengan gangguan pernafasan paling dominan. Pada umumnya bayi dengan sepsis awitan dini berkontak dengan mikroorganisme selama proses persalinan melalui traktus genitalia ibu. Kolonisasi mikroorganisme patogen dapat terjadi sejak periode perinatal. Beberapa mikroorganisme patogen seperti treponema, virus, listeria dan bahkan Candida dapat menyebar ke plasenta secara hematogen. Penyebaran mikroorganisme lain dapat terjadi pada saat proses persalinan. Bakteri patogen dan flora normal vagina dapat mencapai cairan amnion dan janin bila selaput ketuban pecah. Korioamnionitis menyebabkan kolonisasi mikroorganisme pada janin dan terjadinya infeksi. Timbulnya gejala gangguan pernafasan pada bayi disebabkan karena bayi mengalami aspirasi cairan amnion yang terinfeksi. Kolonisasi mikroorganisme dapat terjadi di tempat lain seperti kulit, nasofaring, orofaring, konjungtiva dan tali pusat. Trauma pada permukaan mukosa dapat menyebabkan terjadi nya infeksi. Sepsis awitan dini ditandai oleh adanya gejala sepsis yang muncul tiba-tiba dan berat sehingga dapat berkembang dengan cepat menjadi syok septik dan kematian.

b. Sepsis awitan lambat. Timbulnya gejala sepsis lebih dari 72 jam. Sepsis awitan lambat pada umumnya lebih ringan, namun suatu saat dapat menjadi berat. Sepsis biasanya tidak berhubungan dengan komplikasi persalinan. Fokus infeksi yang menyebabkan bakteriemia dapat diidentifikasi. Meningitis merupakan gejala klinis paling sering menyertai sepsis. Bakteri yang bertanggung jawab sebagai penyebab sepsis awitan lambat dan meningitis. Alasan yang menyebabkan gejala klinis sepsis awitan lambat berkembang lebih lambat, keterlibatan infeksi susunan saraf pusat dan gejala infeksi sistemik serta kardiorespirasi yang lebih ringan sampai saat ini masih belum jelas. Transmisi secara horisontal memegang peranan yang besar,kontak yang erat dengan ibu yang menyusui,dan penularan transmisi secara nosokomial.Yang paling utama penyebab faktor resiko didapatkannya nosokomial sepsis adalah penggunaan lama kateter plastik intravaskuler, penggunaan prosedur invasif, pemakaian antibiotik, perawatan yang lama di rumah sakit,kontaminasi dari peralatan laboratorium pendukung, cairan intravena atau enteral,dan peralatan yang terkontaminasi. Bagaimanapun,situasi yang meningkatkan paparan neonatus terhadap mikroorganisme menghasilkan peningkatan yang tinggi terhadap infeksi nosokomial dalam perawatan.Tinjauan Immunologis NeonatusJika dibandingkan dengan orang dewasa, fungsi sistem imun neonatus memiliki kekurangan pada beberapa aspek antara lain: tipe-tipe antibodi spesifik, fungsi bakterisidal dan fagositik, opsonosasi, komplemen yang bersirkulasi, serta kemampuan untuk meningkatkan produksi neutrofil sebagai rerspon terhadap infeksi. Kadar serta fungsi monosit pada neonatus sama dengan orang dewasa; namun demikian, aktivitas kemotaksis makrofag terganggu dan berlanjut dengan penurunan fungsinya sampai masa kanak-kanak awal. Jumlah makrofag di paru-paru, limpa, serta hepar menurun. Aktivitas kemotaksis, bakterisidal, serta pemaparan antigen tidak sempurna baik. Jumlah sitokin yang diproduksi oleh makrofag juga berkurang, yang mana dapat berhubungan dengan penurunan jumlah produksi sel-T.Sel-T ditemukan dalam sirkulasi janin pada awal kehamilan dan jumlahnya meningkat saat kelahiran sampai usia sekitar 6 bulan. Namun, sel ini banyak yang immatur dan tidak bertahan lama. Neonatus kekurangan fenotip sel-T dengan sel memori pada permukaannya. Namun demikian, jumlah sel-T ini bertambah dengan makin maturnya neonatus serta dengan stimulus paparan antigen. Sel-T neonatus yang masih naf ini belum dapat langsung berproliferasi bila diaktivasi seperti pada sel-T orang dewasa. Selain itu, sel-T neonatus ini belum secara efektif memproduksi sitokin saat terjadi stimulasi dan diferensiasi oleh sel-B, serta stimulasi sum-sum tulang oleh granulosit/monosit. Keterlambatan pembentukan fungsi memori terhadap antigen spesifik mengikuti terjadinya infeksi primer. Fungsi sitotoksik sel-T neonatus kurang lebih 50-100% sama efektifnya dengan sel-T orang dewasa.

Kekebalan pasif terhadap beberapa jenis organisme didapatkan melalui IgG yang ditransfer melalui plasenta selama trimester III kehamilan. Kadar IgG antibodi dalam darah bayi cukup bulan setara dengan kadar antibodi tersebut dalam tubuh ibunya. Maka dari itu, bayi-bayi yang lahir prematur khususnya yang lahir pada usia kehamilan kurang dari 30 minggu, tentu tidak memiliki antibodi ini secara mencukupi. Bila sistem imun ibu tersupresi (immunosuppressed mother), maka tentu akan sangat mungkin bahwa jumlah IgG yang ditransmisikan kepada janinnya juga rendah. Janin dapat mensintesis IgM pada usia kehamilan 10 minggu; namun levelnya sangat rendah saat lahir, kecuali jika janin terpapar agen infeksius selama kehamilan. Hal tersebut akan menstimulasi peningkatan produksi IgM. IgG dan IgE juga dapat disintesis oleh janin dalam kandungan namun jumlahnya dalam darah pada saat lahir hanya sedikit. Neonatus mendapa