lap magang siap print

Download Lap Magang Siap Print

Post on 28-Dec-2015

62 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB 3. PRODUKSI BENIH PARE HIBRIDA3.1 Persiapan Lahan3.1.1 Pemilihan lokasi Syarat syarat pemilihan lokasi untuk produksi benih Pare Hibrida diantaranya:a. Melihat sejarah lahan yaitu dengan melihat tanaman yang akan ditanam sebelumnya, tujuannya adalah untuk menjaga kemurnian jika itu dimungkinkan ada tanaman satu spesies beda varietas yang ditanam sebelumnya yang kedua adalah melihat tanaman yang ditanamn disekitar area produksi ini bertujuan untuk menghindari migrasi hama dan penyakit , hama dan penyakit akan bisa berpindah bila disekitar ada tanaman sefamili bahkan satu spesies dan menjaga kemurnian sebetulnya yang paling utama dari sejarah lahan ini adalah untuk menjaga kemurnian dan meminimalisi migrasi hama dan penyakit tanaman yang ditanam disekitar,untuk produksi tanaman pare hibrida lahan yang baik adalah bekas dari tanaman padi karena bekas dari tanah yang dilep atau di airi sehingga sehingga meminimalisasi pathogen tanah yang menyerang pare.b. Isolasi : bila itu dimungkinkan ditanam tanaman se spesies beda varietas dilakukan isolasi berupa jarak atau waktu. saluran drainase dan irigasi ; dalam produksi benih pare hibrida syarat lahan produksi benih harus memiliki saluran irigasi dan drainase yang baik agar memudahkan masuk keluanya air.c. Lahan tidak dalam sengketa.d. Yang keempat adalah iklim, topografi, dan kesuburan tanah

3.1.2 Pengolahan Lahan Untuk tanah ringan dengan dibajak kemudian dibuat bedengan kasar dengan ukuran 1 meter dan lebar antar bedengan 40 cm. Tujuan dari pengolahan lahan ini adalah untuk membalik tanah, mengurangi pathogen yang ada dalam tanah mati terken sinar matahari. Untuk lahan berat tidak dibajak tetapi dibuat juringan yaitu dengan menaikkan tanah diatas bedengan.Pada produksi pare hibrida ini tipe tanahnya ringan sehingga menggunakan step seperti yang diatas yaitu dibajak. Pembersihan pematang atau area disekitar agar lebih bersih dan terbebas sarang hama dan penyakit.

3.1.3 Pemupukan Dasar Pemupukan dasar dilakukan setelah olah tanah kasar yaitu sp-36 100 kg/0.1 ha, dolomit 100kg/0.1 ha, NPK ponska 100kg/ 0.1 ha , dan P organik 100kg/0.1 ha yaitu dengan cara ditabur dalam bedengan merata. pengunaan pupuk dasar ini untuk menyediakan hara pada tanah dan dolomit untuk menaikkan pH karena sisa dari pemupukan bersifat asam karena intu perlu digunakan dolomit untuk menaikkan pH. dan digunakan pemupukan setelah olah tanah kasar atau sebelum olah tanah halus agar tidak terjadi plasmolisis ketika tanaman di transplanting. Plasmolisis adalah layunya tanaman (sel atau jaringan ) akibat perpindahan air dari tanaman ke tanah atau perpindahan konsentrasi dari rendah ke konsentrasi tinggi. Gejala ini akibat dari kondisi tanah yang memiliki konsentrasi tinggi dibandingakan dengan akar sehingga cairan akar berpindah keluar dan menyebabkan layu.untuk mengindari hal ini diusahakan akar tanaman tidak bersentuhan langsung dengan pupuk, maka dari itu dilakukan setelah olah tanah kasar atau sebelum olah tanah halus agar pupuk akan terkubur dan tidak bersentuhan langsung akar. 3.1.4 Pengolahan Lahan Halus Digunakan pengloahan lahan halus jika sudah dilakukan pemupukan dasar setelah itu baru dikubur dan diratakan atau dihaluskan bedengan .pengburan pupuk dasar agar nantinya pupuk tidak bersentuhan langsung dengan akar.

3.1.5 Pemasangan Mulsa dan AjirPemasangan mulsa sebaiknya dilakukan saat panas yaitu sekitar pukul 09:00 WIB agar tidak kendur mulsanya.Pemasangan mulsa dengan menarik mulsa dari pangkal sampai ujung lalu menancapkan paku bambu dipinggir pinggir bedengannya agar tidak kendur. Setelah itu pemsangan bambu atas untuk menguhubungkan ajir satu dengan ajir yang lainnya. lalu bambu diikat dengan tali kawat bendrat. Kemudian dipinggir pinggir ajir dipasang tali PE 2 kali atas dan bawah yang nantinya berfungsi sebagai tempat menjalarnya pare. Pemasangan net diatas juga berfungsi untuk merambatnya pare.

3.1.6 Pelubangan Mulsa dan Jarak TanamPelubangan jarak tanam dilakukan dengan botol susu dengan dipanasi dengan arang. yang bertujuan untuk tempat menanmnya tanaman. Jarak tanam yang digunakan pada pare betina adalah 100 cm x 140 cm untuk 3 bedeng dan 50 cm x 140 cm untuk 2 bedeng . Total populasi yang digunakan adalah 188 atau kurang lebih 200 an. Setelah itu lubang tanam ditugal dan ditaburi Diazinon atau insektisida anti nenas atau hama tanah. Untuk standat BISI biasanya pare digunakan metode bedangan seperti semangka dengan lebar 3 m yaitu lebar bedengan 2,5 m dan 50 cm jarak jalan parit dengan tinggi 40-30 cm tergantung tipe lahan pengairan. Ditengan tengah antar bedeng diberi net begitu juga dipinggir pinggir disisi nya diberi net untuk memeudahkan jalan menjalarnya tanaman.

3.1.7 Pemasangan Net Untuk tanaman pare dibutuhkan net untuk tempat menjalarnya tanaman.. Pemasangan dilakukan antar bedeng dengan menempatkan net ditengah ditaruh disisi-sisi atau dipinggir ajir untuk perambatan pare. Penanaman dilahan pare umur 7 hari disemaian ditransfer dilahan.

3.2 Persiapan Persemaian3.2.1 Pembuatan Media Semai Media semai yang digunakan adalah kokopit (sabut kelapa halus), kompos dengan perbandingan 3:1. Tambahan bahan adalah NPK mutiara dicairkan dengan konsentrasi 16,6 gram/L dan fungsida dengan konsentrasi 0,25 g/L. Pupuk NPK dan fungsida dicairkan dalam air 80 L . Kemudian air disiram-siramkan dalam media sampai keliahatan mamel rata.Setelah itu baru masukkan dalam plastic sosis.Pembuatan media ini dengan cocopit dan kompos bertujuan untuk memudahkan tumbuh dan berkembangnya akar, memperbesar aerasi, lebih mudah meyerap dan menjaga air, lebih ringan dan mudah diangkut. Penggunaan campuran pupuk NPK untuk memberikan nutrisi awal saat masa perkecambahan dan tumbuhnya bibit sedangkan fungsida untuk menjaga kesterilan dan mengindari serangan cendawan cendawan tular dari media cocopit dan kompos.

3.2.2Perendaman,Pemeraman dan Persemaian BibitMula-mula benih yang akan ditanam adalah yang jantan terlebih dahulu sebanyak 100 benih. Benih pare dicraking dengan pemotong kuku usahakan jangan sampai embrio dan kotiledon terlukai. Tujuan dari craking ini agar air bisa mudah masuk ke embrio benih dan berimbibisi. Kemudian benih direndam menggunakan air (500 ml) dengan tambahan atonik (2 tetes) dan fungsida (4 tetes) yang bertujuan untuk memberikan rangsangan hormon saat imbibisi agar meningkatkan perkecambahan sedangkan fungsida untuk mengindari dari serangan cendawan saat perkecambahan. Perendaman dilakukan sampai kurang lebih 12 jam kemudian diperam menggunkan kain selama 3 hari. Setelah 3 hari biji nampak muncul radikula baru disemai ke tempat persemaian.Dipersemaian setiap pagi sekali disemprot air agar menjaga kelembapan dan tidak terlalu kering.sampai umur 5-7 hari bibit siap ditransplanting ke lahan.

Gambar 3.1 Tahap tahap Perkecambahan Benih3.3Morfologi Tanaman Pare Hibrida Varietas BG 1024Dalam produksi benih pare hibrida ada tanaman jantan dan betina yang keduanya memiliki sifat berbeda. Diperusahaan BISI Internasional dikenal dengan istilah kode untuk memproduksi suatu varietas tertentu dan untuk penanda antara tanaman jantan dengan betina digunakan warna, hijau untuk jantan dan merah untuk betina. Untuk kode setiap komoditi biasanya mengacu pada ejaan awal dari kosakata bahasa inggris seperti pare (BG / bitter groud). Tanaman jantan dan betina yang dipakai untu produksi benih adalah dari kelas benih foudation seed (FS). Untuk perbandingan populasi penanaman jantan dan betina 1:7. Jadi 1 tanaman jantan untuk 7 tanaman betina, jika populasi yang digunakan adalah 200 tanaman maka dibutuhkan jantan 29 tanaman jantan. Tanaman jantan dan tanaman betina meiliki perbedaan secara morfologi seperti bentuk daun lembaga, bunga dan buah. Daun lembaga pada tanaman betina lebih panjang sedangkan pada jantan lebih membulat. Bentuk bunga jantan pada tanaman jantan lebih hijau kekuningan dan lebih kecil dari tanaman betina. Bentuk buah pada tanaman jantan lebih hijau tua bergerigi seperti sisik buaya sedangkan betina hijau muda berigi dan lebih besar dari buah jantan.

3.4Penanaman Transplanting ke LahanTransplanting ke lahan dilakukan pada umur5-7 hari setelah perkecambahan. Penanaman dilakukan dengan melubangi lubang tanaman kira-kira 3-4 cm. Buka plastik sosis kemudian masukkan bibit ke dalam lubang tanam, bumbun bibit sampai bibit teguh dan usahakan jangan terlalu ketinggian, itu akan mempersulit bibit untuk tumbuh. Cara penanaman usahan sejajar dengan mulsa pangkal bibit, jangan sampai dibawah mulsa pangkal atau daun bibit. Jika posisi bibit lebih rendah dari mulsa maka bibit akan kepanasan akibat terkena suhu dari dalam mulsa. Pada saat penanaman sebaiknya dan seharusnya dilakukan pada sore hari sekitar pukul 14.00 WIB ke bawah karena pada kisaran ini bibit tidak melewati fase siang hari yang suhunya pada puncak-puncaknya yang akan meningkatkan transpirasi shingga mempersulit tanaman dalam beradaptasi. Sebelum penanaman sebaiknnya bedengan dilep dulu dan setelah tanaman sebaiknya tannaman disiram agar menajaga turgor tanaman dan tidak layu.Pada umur 10 hari setelah tanam bibit dipupuk pertama dengan dosis 10 gram pertanaman setiap 10 hari sekali. Tanaman pare sambil diikat pada lanjaran agar tidak roboh. Pemupukan dilakukan dengan menugal kira kira 5 cm dari tanaman. Jarak pemupukan sebaiknya disesuaikan dengan kanopi tanaman.Penyemprotan dilakuakan 5 hari sekali dengan komposisi insektisida dan fungsida kemudian ditambah pupuk daun Fitomic, dengan dosis masing masing tertera dalam label.

3.5 Pemupukan, Pembubunan, dan Peyiangan Pemupukan dilakukan setiap 10 hari sekali yaitu Phonska (phospat, nitrogen, sulfur, dan kalum) dengan kandungan hara N:P:K 15%:15%:15% sulfat 10% dengan dosis 10 gram per tanaman, Fitomic (kalsium 10%, Boron 2%, Sukrosa 10%) dengan konsentrasi 1,5-2,5 ml/L, dan Super Mess 1-2 ml/L (Kalsium 30%, Magnesium 20%). Setelah pemupukan dan sebelum pemupukan dan setelah p