laporan siap print

Download Laporan Siap Print

Post on 10-Jul-2015

854 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN Pertumbuhan (growth) adalah peningkatan jumlah dan ukuran sel di seluruh bagian tubuh selama sel-sel tersebut membelah diri dan menyintesis protein-protein baru; menghasilkan penambahan jumlah dan berat secara keseluruhan atau sebagian. Perkembangan(development) adalah perubahan secara berangsur-angsur dan bertambah sempurnanya fungsi alat tumbuh, meningkat dan meluasnya kapasitas seseorang melalui pertumbuhan, kematangan dan kedewasaan (maturasi), dan pembelajaran(learning). Dalam proses tumbuh kembang anak terdapat peristiwa percepatan dan perlambatan. Peristiwa tersebut merupakan kejadian yang ada dalam setiap organ tubuh. Pada proses pertumbuhan terjadi perubahan dalam besar, jumlah, dan ukuran di tingkat sel maupun organ, sedangkan pada proses perkembangan terjadi perubahan dalam bentuk dan fungsi kematangan organ mulai dari aspek fisik, intelektual dan emosional. Perkembangan secara fisik yang terjadi adalah bertambah sempurnanya fungsi organ mulai dari tingkat sel hingga organ tubuh. Perkembangan intelektual dapat ditunjukkan dari kemampuan secara simbol maupun abstrak seperti berbicara, bermain, berhitung, membaca dan lain-lain, sedangkan perkembangan emosional dapat dilihat dari perilaku sosial di lingkungan anak. Seperti dijelaskan diatas, setiap individu mengalami proses tumbuh kembang yang berbeda-beda, bias cepat maupun lambat, tergantung dari individu atau lingkungan. Proses percepatan dan perlambatan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor herediter, lingkungan, budaya lingkungan, sosial ekonomi, iklim/cuaca, nutrisi dan lain-lain. Lingkungan merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam menentukan tercapainya atau tidak potensi yang dimilikinya. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan dicapainya potensi genetik/bawaan/bakat anak. Lingkungan yang kurang baik akan menghambat pertumbuhan, sehingga potensi

bawaan/bakat tidak dapat dicapai. Lingkungan meliputi aspek fisik, biologis, dan sosial yang ada lazimnya disebut lingkungan fisikobiopsikososial. Salah satu faktor fisikobiopsikososial adalah infeksi, baik infeksi akibat bakteri, fungi maupun parasit. Seperti yang akan dibahas berikut ini merupakan prosedur pemeriksaan infeksi parasit pada feses manusia, menyangkut infeksi akibat Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Ancylostoma duodenale, dan Giardia lambdia. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tinggi prevelansinya terutama pada penduduk di daerah tropik seperti di Indonesia, dan merupakan masalah yang cukup besar bagi bidang kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan Indonesia berada dalam kondisi geografis dengan temperatur dan kelembaban yang sesuai, sehingga kehidupan cacing ditunjang oleh proses daur hidup dan cara penularannya. Identifikasi parasit yang tepat memerlukan pengalaman dalam membedakan sifat sebagai spesies, parasit, kista, telur, larva, dan juga memerlukan pengetahuan tentang berbagai bentuk pseudoparasit dan artefak yang mungkin dikira suatu parasit. Identifikasi parasit juga bergantung pada persiapan bahan yang baik untuk pemeriksaan baik dalam keadaan hidup maupun sediaan yang telah dipulas. Bahan yang akan di periksa tergantung dari jenis parasitnya, untuk cacing atau protozoa usus maka bahan yang akan di periksa adalah tinja atau feses, sedangkan parasit darah dan jaringan dengan cara biopsi, kerokan kulit maupun imunologis (Kadarsan, 1983). Pemeriksaan feses di maksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga dimaksudkan untuk mendiagnosa tingkat infeksi cacing parasit usus pada orang yang diperiksa fesesnya (Gandahusada.dkk, 2000). Pemeriksaan feses dapat dilakukan dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif dilakukan dengan metode natif, metode apung, metode harada mori, dan Metode kato. Metode ini digunakan untuk mengetahui jenis parasit usus, sedangkan secara kuantitatif dilakukan dengan metode kato untuk menentukan jumlah cacing yang ada didalam usus.

2

Prinsip dasar untuk diagnosis infeksi parasit adalah riwayat yang cermat dari pasien. Teknik diagnostik merupakan salah satu aspek yang penting untuk mengetahui adanya infeksi penyakit cacing, yang dapat ditegakkan dengan cara melacak dan mengenal stadium parasit yang ditemukan. Sebagian besar infeksi dengan parasit berlangsung tanpa gejala atau menimbulkan gejala ringan. Oleh sebab itu pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan karena diagnosis yang hanya berdasarkan pada gejala klinik kurang dapat dipastikan. Misalnya, infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang (Ascaris lumbricoides). Infeksi ini lebih bamyak ditemukan pada anak-anak yang sering bermain di tanah yang telah terkontaminasi, sehingga mereka lebih mudah terinfeksi oleh cacain-cacing tersebut. Biasanya hal ini terjadi pada daerah di mana penduduknya sering membuang tinja sembarangan sehingga lebih mudah terjadi penularan. Pengalaman dalam hal membedakan sifat berbagai spesies parasit , kista, telur, larva, dan juga pengetahuan tentang bentuk pseudoparasit dan artefak yang dikira parasit, sangat dibutuhkan dalam pengidentifikasian suatu parasit. B.TUJUAN 1. 2. Mendiagnosa adanya infeksi cacing parasit pada orang yang diperiksa fesesnya. Mengetahui tingkat infeksi cacing yang diderita orang yang diperiksa fesesnya. 3. Mengetahui teknik pemeriksaan telur pada tinja anak-anak. 4. Mengetahui bentuk-bentuk dari cacing parasit, bentuk telur maupun larva agar kita mudah untuk mengenali dan melakukan tindakan efektif baik untuk pencegahan maupun pengobatan terhadap infeksi caing parasit kepada pasien yang diperiksa.

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA TEKNIK-TEKNIK PEMERIKSAAN LABORATORIS BEBERAPA PENYAKIT PARASIT A. TEKNIK PEMERIKSAAN TELUR CACING PARASIT Pemeriksaan telur-telur cacing dari tinja, ada dua macam cara pemeriksaan, yaitu secara kualitatif dan kuantitatif. A.1. PEMERIKSAAN KUALITATIF a. Pemeriksaan secara natif ( direct slide ) Metode ini dipergunakan untuk pemeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi yang berat, tetapi untuk infeksi yang ringan sulit ditemukan telur-telurnya. Cara pemeriksaan ini menggunakan larutan NaCl fisiologis (0,9%) atau eosin 2%. Penggunaan eosin 2% dimaksudkan untuk lebih jelas membedakan telur-telur cacing dengan kotoran-kotoran di sekitarnya. Cara Kerja : 1. 2. 3. Pada gelas objek yang bersih diteteskan 1-2 tetes Dengan sebuah lidi, diambil sedikit tinja dan ditaruh Dengan lidi tadi, kita ratakan/larutkan, kemudiaan NaCl fisiologis atau eosin 2%. pada larutan tersebut. ditutup dengan gelas benda/cover glass. ( Gambar 1)

4

M IK R O S K O P IKU A L IT A T IF K M E T O D A L A N G S U N G (D IR E C T S L ID E )T a ru h tinjap ad ala rutan diata sg ela sobje k

R ata kan en g an d lid i

1-2 tetes N aC l0 ,9 % atau eosin 2%

L IH A T D I B A W A H M IK R O SK O P

Tu tup deng a n ve r g lass co

Gambar 1 b. Pemeriksaan dengan metode apung ( Flotation Methode ) Pada metode ini dipakai larutan NaCl jenuh atau larutan gula jenuh dan terutama dipakai untuk pemeriksaan faeces yang mengandung sedikit telur. Cara kerjanya didasarkan atas berat jenis (BJ) telur uyang lebih ringan daripada BJ larutan yang digunakan, sehingga telur-telur terapung di permukaan dan juga untuk memisahkan partikel-partikel yang besar yang

5

terdapat dalam tinja. Pemeriksaan ini hanya berhasil untuk telur-telur Nematoda, Schistosoma, Dibothriocephalus, telur yang berpori-pori dari famili Tainidae, telur-telur Acanthocephala ataupun telur Ascaris yang infertil.

b.1. Tanpa disentrifugasi 10 gram tinja dicampur dengan 200 ml larutan NaCl jenuh (33%), kemudian diaduk sehingga larut. Bila terdapat serat-serat selulosa disaring terlebih dahulu dengan penyaring teh. Selanjutnya ada 2 cara : * Didiamkan selama 5-10 menit, kemudian dengan ose diambil larutan permukaan dan ditaruh di atas gelas objek. Kemudian ditutup dengan gelas penutup/cover glass. Periksa di bawah mikroskop. ( Gambar 2 ) * Tuangkan ke dalam tabung reaksi sampai penuh, yaitu rata dengan permukaan tabung. Diamkan selama 5-10 menit. Letakkan/tutupkan gelas objek dan segera angkat. Selanjutnya letakkan di atas gelas preparat dengan cairan berada di antara gelas preparat dan gelas penutup. Kemudian diperuiksa di bawah mikroskop.

M IK R O S K O P IKK U A L IT A T IFM E T O D A A P U N G (F L O A T A T IO N M E T H O D )T A N P A D IS E N T R IF U S IO se

T utu pcover glassG elas pe ngadu k 20 m en it

A m b il en gan d ose taruhd iatasob jekglas

T inja

N aC lj e nu h / gu laje nu h

6

10 gr. tinja + 200 cc aC lj enu h N

Gambar 2 b.2. Dengan disentrifugasi Campurkan tinja dan NaCl jenuh seperti di atas kemudian disaring dengan penyaring teh dan dituangkan dalam tabung sentrifugasi. Tabung tersebut diputar pada alat sentrifugasi selama 5 menit dengan putaran 100 x per menit. Dengan ose atau cover glass, diambil larutan bagian permukaan dan ditaruh pada gelas objek, ditutup dengan gelas penutup, kemudian diperiksa di bawah mikroskop. ( Gambar 3 )

MIKROSKOPIKKUALITATIFMETODA APUNG (FLOATATION METHOD)DENGAN DISENTRIFUSI

Gelas pengaduk

SaringSentrifusi 100 x/mnt 5 menit

Tinja

NaCl jenuh/ gula jenuh 10 gr. tinja + 200 cc NaCl jenuh

7

Gambar 3 c.Metode selotip ( Cellotape Methode ) Metode ini dilakukan untuk pemeriksaan telur E. vermicularis. Pemeriksaan dilakukan pada pagi hari sebelum anak kontak dengan air, anak yang diperiksa berumur 1 10 tahun. Cara melakukan pemeriksaan dengan menggunakan plester plastik yang tipis dan bening, dipotong dengan ukuran 2 x 1,5 cm. Plester tersebut ditempelkan pada permukaan lubang anus lalu ditekan dengan ujung jari. Kemudian plester dilepas perlahan-lahan dan langsung ditempelkan pada permukaan objek gelas untuk kemudian dilihat ada atau tidak adanya telur yang melekat pada plester tersebut dan diliha