siap print 1

Download Siap Print 1

Post on 11-Nov-2015

215 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

nnn

TRANSCRIPT

4

BAB IPENDAHULUAN

1. 1.1 Latar BelakangBertambah majunya kehidupan ekonomi, meningkatnya berbagai teknologi dan fasilitas kesehatan menyebabkan meningkatnya angka harapan hidup manusia.Meningkatnya angka harapan hidup ini berdampak pada meningkatnya jumlah penduduk lansia.Berdasarkan data dari BPS tahun 1992, pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia meningkat menjadi 9,99% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia (22juta) dan jumlah ini diperkirakan meningkat menjadi 11,9% pada tahun2020.Menua merupakan fenomena universal, namun derasnya atau lajunya berbeda-beda antar individu. Dengan melanjutnya usia terjadi berbagai perubahan pada tubuh kita. Orang usia lanjut pada umumnya menyadari bahwa mereka berubah lebih lambat dan mobilisasinya kurang begitu baik dibandingkan masa muda mereka. Perubahan dalam kemampuan mobilisasi ini disebabkan oleh pengaruh fisik dan psikologis.Mobilisasi adalah kemampuan untuk bergerak secara aktif baik itu yang bersifat fisikatau mental. Mobilisasi dapat juga diartikan sebagai suatu kemampuan untuk melakukan gerakan secara aktif dengan sendirinya tanpa bantuan orang lain.Faktor yang mempengaruhi mobilisasi lansia adalah factor fisik dan psikis salah satunya yaitu depresi.Depresi merupakan salah satu bentuk gangguan mood yang dapat mempengaruhi pemikiran, pengambilan keputusan, perilaku, hubungan interpersonal dan fungsi tubuh secara keseluruhan pada si penderita. Depresi adalah suatu gangguan psikiatri yang paling sering menyerang manusia pada segala usia, khususnya Lansia.Lansia sering merasa sedih dan pesimis yang berhubungan dengan suatu penderitaan, dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam.Data yang diperoleh dari Depkes (1998), populasi lansia diatas 60 tahun adalah 7,2% (populasi lansia kurang lebih 15 juta). Peningkatan angka kejadian kasus depresi berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi.Kira-kira 5% usialanjut 65-70 telah menderita depresi dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45% dari usia diatas 85 tahun.Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada 22 September 2013 di Panti Werdha, Natar, Lampung Selatan.Informasi yang diperoleh dari pengurus panti didapatkan lansia yang tidak bias melakukan mobilisasi ada 5%, yang melakukan mobilisasi tapi dengan bantuan ada 78% dan yang melakukan mobilisasi tanpa bantuan ada 17% serta yang mengalami depresi ada 90% dari seluruh lansia yang tinggal di Panti Werdha, Natar, Lampung Selatan. Adanya peningkatan yang cukup tinggi terkait fenomena depresi depresi pada lansia turut mempengaruhi aktivitas keseharian lansia, termasuk mobilisasi. diIndonesia sendiri belum banyak penelitian yang melihat hubungan depresi dengan mobilisasi. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan antara depresi dengan mobilisasi lansia diPanti Werdha, Natar, Lampung Selatan.

1.2 Perumusan MasalahBerdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian inia dalah : Apakah Ada hubungan antara tingkat depresi dengan gangguan mobilisasi lansia di Panti Werdha, Natar, Lampung Selatan, Lampung tahun 2013?

1.3 Tujuan Penelitian1.3.1. Tujuan UmumTujuan umum dalam penelitian ini adalah diketahuinya hubungan antara tingkat depressi dengan gangguan mobilisasi lansia di Panti Werdha, Natar, Lampung Selatan, Lampung tahun 2013.

1.3.2. Tujuan Khusus1. Untuk mengetahui tingkat depresi pada lansia di Panti Werdha, Natar, Lampung Selatan2. Untuk mengetahui gangguan mobilisasi lansia Panti Werdha, Natar, Lampung Selatan3. Untuk mengetahui Hubungan antara tingkat depresi dengan gangguan mobilisasi lansia di Panti Werdha, Natar, Lampung Selatan1.4 Manfaat Penelitian1. Bagi Tempat PenelitianSebagai bahan referensi bagi instansi Panti Werdha, Natar, Lampung Selatan untuk mengetahui tingkat depresi dan pengaruhnya pada mobilisasi lansia sehingga dapat dilakukan penanganan yang lebih baik.2. Bagi Institusi PendidikanSebagai penambah informasi untuk mahasiswa jurusan Program Study Ilmu Keperawatan dalam melakukan penelitian terutama yang berkaitan dengan Depresi pada Lansia.3. Bagi PenelitiMenerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan penelitian dan menambah pengetahuan penulis tentang hubungan antara tingkat depresi dengan gangguan mobilisasi lansia.4. Bagi Peneliti SelanjutnyaDiharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan ilmu pengetahuan dalam melakukan penelitian selanjutnya tentang kesehatan jiwa lansia khususnya mengenai tingkat depresi pada lansia

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis2.1.1 Lansia2.1.1.1. Pengertian LansiaMenurut UU no.4 tahun 1969 yang termuat dalam pasal 1 seseorang dikatakan lansia setelah 55 tahun, tidak mampu atau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari orang lain (Nugroho, 2000). Menurut organisasi kesehatan dunia dan undang-undang no.13 tahun 1998 seseorang dikatakan lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut diatas bisa disebutkan bahwa yang disebut lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas. Dimana pada masa ini seseorang mengalami kemunduran fisik, mental, sosial, dan spiritual yang akan mempengaruhi semua aspek kehidupan yang akan dialami oleh semua orang karena lansia merupakan tahapan dari hidup manusia yaitu lanjutan dari usia dewasa.

2.1.1.2. Batasan-Batasan Lanjut UsiaBerdasarkan WHO Lanjut usia meliputi:a. Usia pertengahan (middle age) = usia 45-59 tahunb. Lanjut usia (elderly)= usia 60-74 tahunc. Lanjut usia tua (old) = usia 75-90 tahund. Usia sangat tua (very old) = usia > 90 tahun

2.1.1.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketuaan :a. Hereditas/keturunanb. Nutrisi/makananc. Status kesehatand. Pengalaman hidupe. Lingkunganf. Stress

2.1.1.4. Perubahan-Perubahan yang Terjadi pada Lanjut Usia :Berbagai masalah fisik/biologis dan sosial akan muncul pada lanjut usia sebagai proses menua atau penyakit degeneratif yang muncul seiring dengan menuanya seseorang. Menua merupakan proses yang alamiah yang akan dialami oleh setiap individu. Hal ini ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh dalam penyesuaian diri terhadap perubahan-perubahan terkait usia. Perubahan-perubahan terkait usia melalui perubahan fisik, perubahan psikososial, dan perkembangan spiritual. Pada lanjut usia umumnya akan mengalami perubahan fisik dan psikososial :a. Perubahan fisikSel lebih sedikit jumlahnya, kecil ukurannya, cairan tubuh dan intraseluler berkurang, hubungan persyarafan lambat dalam respon, berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, rendahnya ketahanan terhadap dingin, tekanan darah menurun (mengakibatkan pusing mendadak) dan juga tekanan darah meninggi, jantung berdebar-debar, otot-otot pernafasan hilang kekuatannya dan menjadi kaku, paru-paru kehilangan elastisitas, menarik nafas lebih berat, nyeri dada, kehilangan gigi, hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap di lidah terutama rasa manis dan asin, rasa lapar menurun, konstipasi, dan berat badan menurun, ginjal mengecil dan nefron menjadi atropi, frekuensi buang air seni meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga mengakibatkan meningkatnya retensi urin, sukar menahan buang air kecil (inkontinensia urin), produksi dari hampir semua hormon menurun, menurunnya hormon kelamin, misal: progesteron, estrogen, testoteron, kulit-kulit keriput akibat hilangnya lemak dan menurunnya turgor kulit, kulit kepala dan rambut menipis, warna kelabu, kuku jari menjadi keras dan rapuh, mudah gatal-gatal, otot-otot kram, nyeri pinggang, dan mudah jatuh.b. Perubahan-perubahan mental Pertama-tama dipengaruhi oleh perubahan fisik, khususnya organ perasa, kesehatan umum, tingkat pendidikan, keturunan (hereditas), dan lingkungan. c. Perubahan-perubahan psikososialPensiun, kesepian, gangguan gizi, penyakit kronis. Merasakan atau sadar akan kematian, gangguan syaraf dan panca indra, hilangnya kekuatan organ-organ tubuh yang mengakibatkan ketegangan fisik serta hilangnya hubungan dengan teman-teman sebaya dan sanak-saudara atau famili.

2.1.2 Mobilisasi2.1.2.1. Pengertian MobilisasiMobilisasi mengacu pada kemampuan seseorang untuk berjalan, bangkit, berdiri dan kembali ke tempat tidur, kursi, kloset, duduk dan sebagainya, disamping menggunakan ekstremitas.Mobilisasi mempunyai banyak tujuan, seperti mengekspresikan emosi, dengan gerakan nonverbal, pertahanan diri, pemenuhan kebutuhan dasar, aktivitas hidup sehari-hari, dan kegiatan rekreasi. Dalam mempertahankan mobilisasi fisik secara optimal maka sistem saraf, otot, dan skeletal harus tetap utuh dan berfungsi baik.Mobilisasi merupakan salah satu aspek yang paling penting dilihat dari sudut pandang fungsi psikologis karena mobilisasi adalah hal yang sangat mendasari untuk mempertahankan atau memelihara kebebasan karena konsekuensi yang serius akan terjadi ketika kebebasan itu hilang.

2.1.2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mobilisasia. Faktor fisikAdanya penyakit-penyakit seperti rematik (arthritis) pada lutut atau tulang belakang, patah tulang akibat osteoporosis, stroke, gangguan pada telapak kaki atau jari-jari kaki juga menyebabkan lansia tidak ingin atau tidak mampu berjalan dan lain-lain.b. Faktor psikisAdanya Parkinson, demensia, depresi, kekhawatiran jatuh pada diri lansia atau kondisi keluarga juga mempengaruhi mobilisasi pada lanjut usia. Berbagai penyebab psikis yang mempengaruhi perubahan dalam kemampuan gangguan mobilisasi berasal dari kesadaran tentang merosotnya dan perasaan akan rendah diri kalau dibandingkan dengan orang yang lebih muda dalam arti kekuatan, kecepatan dan ketrampilan. Tekanan emosional, yang berasal dari sebab-sebab psikis dapat mempercepat mobilisasi untuk mencoba melakukan sesuatu yang mungkin akan membahayakan baginy