tm sk 1 hematologi

Click here to load reader

Post on 18-Feb-2016

226 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Tm Sk 1 Hematologi

TRANSCRIPT

Tegar Maulana1102014263LO. 1 Memahami dan Menjelaskan Eritrosit1.1 Definisi1.2 Morfologi normal dan abnormal, Sifat, Kadar Normal, Fungsi1.3 Mekanisme Eritropoesis dan Faktor yang MempengaruhinyaLO. 2 Memahami dan Menjelaskan Hemoglobin2.1 Definisi2.2 Morfologi2.3 Fungsi2.4 Biosintesis2.5 Reaksi antara O2 dan HbLO. 3 Memahami dan Menjelaskan Anemia3.1 Definisi3.2 Etiologi3.3 Klasifikasi3.4 Manifestasi Klinis3.5 Pemeriksaan LO. 4 Memahami dan Menjelaskan Anemia Defisiensi Besi4.1 Definisi4.2 Etiologi4.3 Patofisiologi4.4 Manifestasi Klinis4.5 Diagnosis dan Diagnosis Banding4.6 Tata Laksana dan Pencegahan4.7 Komplikasi4.8 Prognosis

LO. 1 Memahami dan Menjelaskan Eritrosit1.1 DefinisiEritrosit adalah sel darah merah yang telah dewasa dan tidak berinti lagi, dengan ukuran diameter 7 mikrometer. Sel ini memiliki pigmen respiratory bernama hemoglobin yang dapat berkombinasi dengan oksigen membentuk oksihemoglobin. Proses produksi dan perkembangan sel darah normal dalam sumsum tulang dibawah pengaruh growth hormone hematopoietik disebut Hematopoiesis. Pertumbuhan dan oematangan ertirosit di sumsum tulang dipengaruh hormon pertumbuhan eritropoietin disebut Eritropoiesis (Mackenzies Clinical Labortarory Hematology, 2009).

Sel berkembang dari stem cell pluripoten dalam sumsum tulang dibawah pengaruh hormon hematopoiesis yaitu eritropoietin dan dikeluarkan menuju darah perifer sebagai retikulosit. Umur hidup eritrosit selama 120 hari, dihancurkan oleh sel mononuklear di dalam liver, limpa, dan sumsum tulang. Kadar normal eritrosit pria 5 x 1012/L dan wanita 4,5 x 1012/L

1.2 Morfologi Normal dan Abnormal, Sifat, Kadar Normal, Fungsi

Gambar 1. Morfologi eritrosit yang berbentuk bikonkaf (Sumber: The ABC of CBC Interpretation of Complete Blood Count and Histograms (1st Ed.) [2013])Eritrosit berbentuk seperti piringan yang bikonkaf dengan cekungan di bagian tengahnya. Eritrosit mempunyai garis tengah 8 m, ketebalan 2 m di tepi luar, dan ketebalan 1 m di bagian tengah. Bentuk eritrosit yang bikonkaf menghasilkan luas permukaan yang lebih besar untuk difusi O2 menembus membran dibandingkan dengan bentuk sel bulat dengan volume yang sama. Tipisnya sel memungkinkan O2 cepat berdifusi antara bagian paling dalam sel dan eksterior sel. (Sherwood, 2011)Membran eritrosit juga sangat lentur sehingga eritrosit dapat mengalami deformitas secara luar biasa sewaktu mengalir satu per satu melewati celah kapiler yang sempit dan berkelok-kelok. Dengan kelenturan membran tersebut, eritrosit dapat menyalurkan O2 di tingkat jaringan tanpa pecah selama proses tersebut berlangsung. Ciri anatomik terpenting yang memungkin eritrosit mengangkut oksigen adalah adanya hemoglobin di dalamnya. (Sherwood, 2011)Eritrosit memiliki enzim penting yang tidak dapat diperbarui, yaitu enzim glikolitik dan enzim karbonat anhidrase. Enzim glikolitik: menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk mekanisme transpor aktif yang berperan dalam mempertahankan konsentrasi ion yang sesuai di dalam sel. Enzim karbonat anhidrase: transpor CO2. Enzim ini dapat mengubah CO2 yang dihasilkan dari proses metabolisme tubuh menjadi ion bikarbonat (HCO3-), yaitu bentuk utama pengangkutan CO2 dalam darah. Eritrosit memperoleh energi dari hasil proses glikolisis karena eritrosit tidak memiliki mitokondria. (Sherwood, 2011)Fungsi sel darah merah: Sel darah merah berfungsi mengedarkan O2 ke seluruh tubuh. Berfungsi dalam penentuan golongan darah. Eritrosit juga berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Ketika sel darah merah mengalami proses lisis oleh patogen atau bakteri, maka hemoglobin di dalam sel darah merah akan melepaskan radikal bebas yang akan menghancurkan dinding dan membran sel patogen, serta membunuhnya. Eritrosit juga melepaskan senyawa S-nitrosothiol saat hemoglobin terdeoksigenasi, yang juga berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah dan melancarkan arus darah supaya darah menuju ke daerah tubuh yang kekurangan oksigen. Darah mengandung banyak sekali karbonik anhidrase, yang mengkatalisis reaksi antara karbon dioksida dan air, sehingga meningkatkan kecepatan reaksi bolak-balik ini beberapa ribu kali lipat. Cepatnya reaksi ini membuat air dalam darah bereaksi dengan banyak sekali karbon dioksida, dan dengan demikian mengangkutnya dari jaringan menuju paru-paru dalam bentuk ion bikarbonat (HCO3-). Hemoglobin yang terdapat sel dalam sel juga merupakan dapar asam-basa (seperti juga pada kebanyakan protein), sehingga sel darah merah bertanggung jawab untuk sebagian besar daya pendaparan seluruh darah.

Kelainan eritrosit

1. Kelainan Ukuran -> Bermacam- macam ukuran (Anisocytosis) Makrosit, diameter eritrosit 9 m dan volumenya 100 fL Mikrosit, diameter eritrosit 7 dan volumenya 80 fL Anisositosis, ukuran eritrosit tidak sama besar

2. Kelainan Warna Hipokrom, bila daerah pucat pada bagian tengah eritrosit 1/3 diameternya Hiperkrom, bila daerah pucat pada bagian tengah eritrosit 1/3 diameternya Polikrom, eritrosit yang memiliki ukuran lebih besar dari eritrosit matang, warnanya lebih gelap.

3. Kelainan Bentuk -> Bermacam- macam bentuk (Poikilositosis) Sel sasaran (target cell), Pada bagian tengah dari daerah pucat eritrosit terdapat bagian yang lebih gelap/merah. Sferosit, Eritrosit < normal, warnanya tampak lebih gelap. Ovalosit/Eliptosit, Bentuk eritrosit lonjong seperti telur (oval), kadang-kadang dapat lebih gepeng (eliptosit). Stomatosit, Bentuk sepeti mangkuk. Sel sabit (sickle cell/drepanocyte) Eritosit yang berubah bentuk menyerupai sabit akibat polimerasi hemoglobin S pada kekurangan O2. Akantosit, Eritrosit yang pada permukaannya mempunyai 3 - 12 duridengan ujung duri yang tidak sama panjang. Burr cell (echinocyte), Di permukaan eritrosit terdapat 10 - 30 duri kecil pendek, ujungnyatumpul. Sel helmet, Eritrosit berbentuk sepeti helm. Fragmentosit (schistocyte), Bentukeritrosit tidak beraturan. Teardropcell, Eritrosit seperti buah pearatau tetesan air mata. Poikilositosis, Bentuk eritrosit bermacam-macam.

1.3 Mekanisme Eritropoesis dan Faktor yang Mempengaruhinya

RubriblastRubriblast disebut juga pronormoblast atau proeritrosit, merupakan sel termuda dalam sel eritrosit. Sel ini berinti bulat dengan beberapa anak inti dan kromatin yang halus. .Dengan pulasan Romanowsky inti berwarna biru kemerah-merahan sitoplasmanya berwarna biru.Ukuran sel rubriblast bervariasi 18-25 mikron. Dalam keadaan normal jumlah rubriblast dalam sumsum tulang adalah kurang dari 1 % dari seluruh jumlah sel berinti

ProrubrisitProrubrisit disebut juga normoblast basofilik atau eritroblast basofilik. Pada pewarnaan kromatin inti tampak kasar dan anak inti menghilang atau tidak tampak, sitoplasma sedikit mengandung hemoglobin sehingga warna biru dari sitoplasma akan tampak menjadi sedikit kemerah-merahan. Ukuran lebih kecil dari rubriblast.Jumlahnya dalam keadaan normal 1-4 % dari seluruh sel berinti.

RubrisitRubrisit disebut juga normoblast polikromatik atau eritroblast polikromatik.Inti sel ini mengandung kromatin yang kasar dan menebal secara tidak teratur, di beberapa tempat tampak daerah-daerah piknotik.Pada sel ini sudah tidak terdapat lagi anak inti, inti sel lebih kecil daripada prorubrisit tetapi sitoplasmanya lebih banyak, mengandung warna biru karena kandungan asam ribonukleat (ribonucleic acid-RNA) dan merah karena kandungan hemoglobin, tetapi warna merah biasanya lebih dominan.Jumlah sel ini dalam sumsum tulang orang dewasa normal adalah 10-20 %.

MetarubrisitSel ini disebut juga normoblast ortokromatik atau eritroblast ortokromatik.Inti sel ini kecil padat dengan struktur kromatin yang menggumpal.Sitoplasma telah mengandung lebih banyak hemoglobin sehingga warnanya merah walaupun masih ada sisa-sisa warna biru dari RNA.Jumlahnya dalam keadaan normal adalah 5-10 %.

RetikulositPada proses maturasi eritrosit, setelah pembentukan hemoglobin dan penglepasan inti sel, masih diperlukan beberapa hari lagi untuk melepaskan sisa-sisa RNA. Sebagian proses ini berlangsung di dalam sumsum tulang dan sebagian lagi dalam darah tepi. Pada saat proses maturasi akhir, eritrosit selain mengandung sisa-sisa RNA juga mengandung berbagai fragmen mitokondria dan organel lainnya. Pada stadium ini eritrosit disebut retikulosit atau eritrosit polikrom.Retikulum yang terdapat di dalam sel ini hanya dapat dilihat dengan pewarnaan supravital. Tetapi sebenarnya retikulum ini juga dapat terlihat segai bintik-bintik abnormal dalam eritrosit pada sediaan apus biasa. Polikromatofilia yang merupakan kelainan warna eritrosit yang kebiru-biruan dan bintik-bintik basofil pada eritrosit sebenarnya disebabkan oleh bahan ribosom ini. Setelah dilepaskan dari sumsum tulang sel normal akan beredar sebagai retikulosit selama 1-2 hari. Kemudian sebagai eritrosit matang selama 120 hari. Dalam darah normal terdapat 0,5-2,5 % retikulosit.

EritrositEritrosit normal merupakan sel berbentuk cakram bikonkav dengan ukuran diameter 7-8 um dan tebal 1,5-2,5 um. Bagian tengah sel ini lebih tipis daripada bagian tepi. Dengan pewarnaan Wright, eritrosit akan berwarna kemerah-merahan karena mengandung hemoglobin. Eritrosit sangat lentur dan sangat berubah bentuk selama beredar dalam sirkulasi. Umur eritrosit adalah sekitar 120 hari dan akan dihancurkan bila mencapai umurnya oleh limpa. Banyak dinamika yang terjadi pada eritrosit selama beredar dalam darah, baik mengalami trauma, gangguan metabolisme, infeksi Plasmodium hingga di makan oleh Parasit

Mekanisme produksi eritrosit

Selama perkembangan intrauterus, eritrosit mula-mula dibentuk oleh yolk sac dan kemudian oleh hati dan limpa sampai sumsum tulang terbentuk dan mengambil alih produksi eritrosit secara ekslusif. (Sherwood, 2011)Pada anak, sebagian tulang terisi oleh sumsum tulang merah yang mampu memproduksi sel darah. Namun, seiring dengan pertambahan usia, sumsum tulang kuning yang tidak mampu melakukan eritropoiesis secara perlahan mengganti