tm sk 1 hematologi

of 39/39
Tegar Maulana 1102014263 LO. 1 Memahami dan Menjelaskan Eritrosit 1.1 Definisi 1.2 Morfologi normal dan abnormal, Sifat, Kadar Normal, Fungsi 1.3 Mekanisme Eritropoesis dan Faktor yang Mempengaruhinya LO. 2 Memahami dan Menjelaskan Hemoglobin 2.1 Definisi 2.2 Morfologi 2.3 Fungsi 2.4 Biosintesis 2.5 Reaksi antara O 2 dan Hb LO. 3 Memahami dan Menjelaskan Anemia 3.1 Definisi 3.2 Etiologi 3.3 Klasifikasi 3.4 Manifestasi Klinis 3.5 Pemeriksaan LO. 4 Memahami dan Menjelaskan Anemia Defisiensi Besi 4.1 Definisi 4.2 Etiologi 4.3 Patofisiologi 4.4 Manifestasi Klinis 4.5 Diagnosis dan Diagnosis Banding 4.6 Tata Laksana dan Pencegahan 4.7 Komplikasi 4.8 Prognosis 1

Post on 18-Feb-2016

228 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Tm Sk 1 Hematologi

TRANSCRIPT

Tegar Maulana1102014263LO. 1 Memahami dan Menjelaskan Eritrosit1.1 Definisi1.2 Morfologi normal dan abnormal, Sifat, Kadar Normal, Fungsi1.3 Mekanisme Eritropoesis dan Faktor yang MempengaruhinyaLO. 2 Memahami dan Menjelaskan Hemoglobin2.1 Definisi2.2 Morfologi2.3 Fungsi2.4 Biosintesis2.5 Reaksi antara O2 dan HbLO. 3 Memahami dan Menjelaskan Anemia3.1 Definisi3.2 Etiologi3.3 Klasifikasi3.4 Manifestasi Klinis3.5 Pemeriksaan LO. 4 Memahami dan Menjelaskan Anemia Defisiensi Besi4.1 Definisi4.2 Etiologi4.3 Patofisiologi4.4 Manifestasi Klinis4.5 Diagnosis dan Diagnosis Banding4.6 Tata Laksana dan Pencegahan4.7 Komplikasi4.8 Prognosis

LO. 1 Memahami dan Menjelaskan Eritrosit1.1 DefinisiEritrosit adalah sel darah merah yang telah dewasa dan tidak berinti lagi, dengan ukuran diameter 7 mikrometer. Sel ini memiliki pigmen respiratory bernama hemoglobin yang dapat berkombinasi dengan oksigen membentuk oksihemoglobin. Proses produksi dan perkembangan sel darah normal dalam sumsum tulang dibawah pengaruh growth hormone hematopoietik disebut Hematopoiesis. Pertumbuhan dan oematangan ertirosit di sumsum tulang dipengaruh hormon pertumbuhan eritropoietin disebut Eritropoiesis (Mackenzies Clinical Labortarory Hematology, 2009).

Sel berkembang dari stem cell pluripoten dalam sumsum tulang dibawah pengaruh hormon hematopoiesis yaitu eritropoietin dan dikeluarkan menuju darah perifer sebagai retikulosit. Umur hidup eritrosit selama 120 hari, dihancurkan oleh sel mononuklear di dalam liver, limpa, dan sumsum tulang. Kadar normal eritrosit pria 5 x 1012/L dan wanita 4,5 x 1012/L

1.2 Morfologi Normal dan Abnormal, Sifat, Kadar Normal, Fungsi

Gambar 1. Morfologi eritrosit yang berbentuk bikonkaf (Sumber: The ABC of CBC Interpretation of Complete Blood Count and Histograms (1st Ed.) [2013])Eritrosit berbentuk seperti piringan yang bikonkaf dengan cekungan di bagian tengahnya. Eritrosit mempunyai garis tengah 8 m, ketebalan 2 m di tepi luar, dan ketebalan 1 m di bagian tengah. Bentuk eritrosit yang bikonkaf menghasilkan luas permukaan yang lebih besar untuk difusi O2 menembus membran dibandingkan dengan bentuk sel bulat dengan volume yang sama. Tipisnya sel memungkinkan O2 cepat berdifusi antara bagian paling dalam sel dan eksterior sel. (Sherwood, 2011)Membran eritrosit juga sangat lentur sehingga eritrosit dapat mengalami deformitas secara luar biasa sewaktu mengalir satu per satu melewati celah kapiler yang sempit dan berkelok-kelok. Dengan kelenturan membran tersebut, eritrosit dapat menyalurkan O2 di tingkat jaringan tanpa pecah selama proses tersebut berlangsung. Ciri anatomik terpenting yang memungkin eritrosit mengangkut oksigen adalah adanya hemoglobin di dalamnya. (Sherwood, 2011)Eritrosit memiliki enzim penting yang tidak dapat diperbarui, yaitu enzim glikolitik dan enzim karbonat anhidrase. Enzim glikolitik: menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk mekanisme transpor aktif yang berperan dalam mempertahankan konsentrasi ion yang sesuai di dalam sel. Enzim karbonat anhidrase: transpor CO2. Enzim ini dapat mengubah CO2 yang dihasilkan dari proses metabolisme tubuh menjadi ion bikarbonat (HCO3-), yaitu bentuk utama pengangkutan CO2 dalam darah. Eritrosit memperoleh energi dari hasil proses glikolisis karena eritrosit tidak memiliki mitokondria. (Sherwood, 2011)Fungsi sel darah merah: Sel darah merah berfungsi mengedarkan O2 ke seluruh tubuh. Berfungsi dalam penentuan golongan darah. Eritrosit juga berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Ketika sel darah merah mengalami proses lisis oleh patogen atau bakteri, maka hemoglobin di dalam sel darah merah akan melepaskan radikal bebas yang akan menghancurkan dinding dan membran sel patogen, serta membunuhnya. Eritrosit juga melepaskan senyawa S-nitrosothiol saat hemoglobin terdeoksigenasi, yang juga berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah dan melancarkan arus darah supaya darah menuju ke daerah tubuh yang kekurangan oksigen. Darah mengandung banyak sekali karbonik anhidrase, yang mengkatalisis reaksi antara karbon dioksida dan air, sehingga meningkatkan kecepatan reaksi bolak-balik ini beberapa ribu kali lipat. Cepatnya reaksi ini membuat air dalam darah bereaksi dengan banyak sekali karbon dioksida, dan dengan demikian mengangkutnya dari jaringan menuju paru-paru dalam bentuk ion bikarbonat (HCO3-). Hemoglobin yang terdapat sel dalam sel juga merupakan dapar asam-basa (seperti juga pada kebanyakan protein), sehingga sel darah merah bertanggung jawab untuk sebagian besar daya pendaparan seluruh darah.

Kelainan eritrosit

1. Kelainan Ukuran -> Bermacam- macam ukuran (Anisocytosis) Makrosit, diameter eritrosit 9 m dan volumenya 100 fL Mikrosit, diameter eritrosit 7 dan volumenya 80 fL Anisositosis, ukuran eritrosit tidak sama besar

2. Kelainan Warna Hipokrom, bila daerah pucat pada bagian tengah eritrosit 1/3 diameternya Hiperkrom, bila daerah pucat pada bagian tengah eritrosit 1/3 diameternya Polikrom, eritrosit yang memiliki ukuran lebih besar dari eritrosit matang, warnanya lebih gelap.

3. Kelainan Bentuk -> Bermacam- macam bentuk (Poikilositosis) Sel sasaran (target cell), Pada bagian tengah dari daerah pucat eritrosit terdapat bagian yang lebih gelap/merah. Sferosit, Eritrosit < normal, warnanya tampak lebih gelap. Ovalosit/Eliptosit, Bentuk eritrosit lonjong seperti telur (oval), kadang-kadang dapat lebih gepeng (eliptosit). Stomatosit, Bentuk sepeti mangkuk. Sel sabit (sickle cell/drepanocyte) Eritosit yang berubah bentuk menyerupai sabit akibat polimerasi hemoglobin S pada kekurangan O2. Akantosit, Eritrosit yang pada permukaannya mempunyai 3 - 12 duridengan ujung duri yang tidak sama panjang. Burr cell (echinocyte), Di permukaan eritrosit terdapat 10 - 30 duri kecil pendek, ujungnyatumpul. Sel helmet, Eritrosit berbentuk sepeti helm. Fragmentosit (schistocyte), Bentukeritrosit tidak beraturan. Teardropcell, Eritrosit seperti buah pearatau tetesan air mata. Poikilositosis, Bentuk eritrosit bermacam-macam.

1.3 Mekanisme Eritropoesis dan Faktor yang Mempengaruhinya

RubriblastRubriblast disebut juga pronormoblast atau proeritrosit, merupakan sel termuda dalam sel eritrosit. Sel ini berinti bulat dengan beberapa anak inti dan kromatin yang halus. .Dengan pulasan Romanowsky inti berwarna biru kemerah-merahan sitoplasmanya berwarna biru.Ukuran sel rubriblast bervariasi 18-25 mikron. Dalam keadaan normal jumlah rubriblast dalam sumsum tulang adalah kurang dari 1 % dari seluruh jumlah sel berinti

ProrubrisitProrubrisit disebut juga normoblast basofilik atau eritroblast basofilik. Pada pewarnaan kromatin inti tampak kasar dan anak inti menghilang atau tidak tampak, sitoplasma sedikit mengandung hemoglobin sehingga warna biru dari sitoplasma akan tampak menjadi sedikit kemerah-merahan. Ukuran lebih kecil dari rubriblast.Jumlahnya dalam keadaan normal 1-4 % dari seluruh sel berinti.

RubrisitRubrisit disebut juga normoblast polikromatik atau eritroblast polikromatik.Inti sel ini mengandung kromatin yang kasar dan menebal secara tidak teratur, di beberapa tempat tampak daerah-daerah piknotik.Pada sel ini sudah tidak terdapat lagi anak inti, inti sel lebih kecil daripada prorubrisit tetapi sitoplasmanya lebih banyak, mengandung warna biru karena kandungan asam ribonukleat (ribonucleic acid-RNA) dan merah karena kandungan hemoglobin, tetapi warna merah biasanya lebih dominan.Jumlah sel ini dalam sumsum tulang orang dewasa normal adalah 10-20 %.

MetarubrisitSel ini disebut juga normoblast ortokromatik atau eritroblast ortokromatik.Inti sel ini kecil padat dengan struktur kromatin yang menggumpal.Sitoplasma telah mengandung lebih banyak hemoglobin sehingga warnanya merah walaupun masih ada sisa-sisa warna biru dari RNA.Jumlahnya dalam keadaan normal adalah 5-10 %.

RetikulositPada proses maturasi eritrosit, setelah pembentukan hemoglobin dan penglepasan inti sel, masih diperlukan beberapa hari lagi untuk melepaskan sisa-sisa RNA. Sebagian proses ini berlangsung di dalam sumsum tulang dan sebagian lagi dalam darah tepi. Pada saat proses maturasi akhir, eritrosit selain mengandung sisa-sisa RNA juga mengandung berbagai fragmen mitokondria dan organel lainnya. Pada stadium ini eritrosit disebut retikulosit atau eritrosit polikrom.Retikulum yang terdapat di dalam sel ini hanya dapat dilihat dengan pewarnaan supravital. Tetapi sebenarnya retikulum ini juga dapat terlihat segai bintik-bintik abnormal dalam eritrosit pada sediaan apus biasa. Polikromatofilia yang merupakan kelainan warna eritrosit yang kebiru-biruan dan bintik-bintik basofil pada eritrosit sebenarnya disebabkan oleh bahan ribosom ini. Setelah dilepaskan dari sumsum tulang sel normal akan beredar sebagai retikulosit selama 1-2 hari. Kemudian sebagai eritrosit matang selama 120 hari. Dalam darah normal terdapat 0,5-2,5 % retikulosit.

EritrositEritrosit normal merupakan sel berbentuk cakram bikonkav dengan ukuran diameter 7-8 um dan tebal 1,5-2,5 um. Bagian tengah sel ini lebih tipis daripada bagian tepi. Dengan pewarnaan Wright, eritrosit akan berwarna kemerah-merahan karena mengandung hemoglobin. Eritrosit sangat lentur dan sangat berubah bentuk selama beredar dalam sirkulasi. Umur eritrosit adalah sekitar 120 hari dan akan dihancurkan bila mencapai umurnya oleh limpa. Banyak dinamika yang terjadi pada eritrosit selama beredar dalam darah, baik mengalami trauma, gangguan metabolisme, infeksi Plasmodium hingga di makan oleh Parasit

Mekanisme produksi eritrosit

Selama perkembangan intrauterus, eritrosit mula-mula dibentuk oleh yolk sac dan kemudian oleh hati dan limpa sampai sumsum tulang terbentuk dan mengambil alih produksi eritrosit secara ekslusif. (Sherwood, 2011)Pada anak, sebagian tulang terisi oleh sumsum tulang merah yang mampu memproduksi sel darah. Namun, seiring dengan pertambahan usia, sumsum tulang kuning yang tidak mampu melakukan eritropoiesis secara perlahan menggantikan sumsum merah, yang tersisa hanya di beberapa tempat, misalnya sternum, iga dan ujung-ujung atas tulang panjang ekstremitas. (Sherwood, 2011)

Sumsum tulang tidak hanya memproduksi SDM tetapi juga merupakan sumber leukosit dan trombosit. Di sumsum tulang terdapat sel punca pluripotent tak berdiferensiasi yang secara terus menerus membelah diri dan berdiferensiasi untuk menghasilkan semua jenis sel darah. (Sherwood, 2011)

Ginjal mendeteksi penurunan/ kapasitas daraah yang mengangkut oksigen. Jika O2 yang disalurkan ke ginjal berkurang, maka ginjal mengeluarkan hormon eritropoietin dalam darah yang berfungsi merangsang eritropoiesis (produksi eritrosit) dalam sumsum tulang. Tambahan eritrosit di sirkulasi meningkatkan kemampuan darah mengangkut O2. Peningkatan kemampuan darah mengangkut O2 menghilangkan rangsangan awal yang memicu sekresi eritropoietin. (Sherwood, 2011)

Faktor yang mempengaruhi eritropoiesisKeseimbangan jumlah eritrosit yang beredar di dalam darah mencerminkan adanya keseimbangan antara pembentukan dan destruksi eritrosit. Keseimbangan ini sangat penting, karena ketika jumlah eritrosit turun akan terjadi hipoksia dan ketika terjadi kenaikan jumlah eritrosit akan meningkatkan kekentalan darah. Untuk mempertahankan jumlah eritrosit dalam rentang hemostasis, sel-sel baru diproduksi dalam kecepatan yang sangat cepat yaitu lebih dari 2 juta per detik pada orang yang sehat. Proses ini dikontrol oleh hormon dan tergantung pada pasokan yang memadai dari besi, asam amino dan vitamin B tertentu.

Hormonal ControlStimulus langsung untuk pembentukan eritrosit disediakan oleh hormon eritropoetin (EPO)dan hormon glikoprotein.Ginjal memainkan peranan utama dalam produksi EPO. Ketika sel-sel ginjal mengalami hipoksia (kekurangan O2), ginjal akan mempercepat pelepasan eritropoetin. Penurunan kadar O2 yang memicu pembentukan EPO:1. Kurangnya jumlah sel darah merah atau destruksi eritrosit yang berlebihan2. Kurang kadar hemoglobin di dalam sel darah merah (seperti yang terjadi pada defisiensi besi)3. Kurangnya ketersediaan O2 seperti pada daerah dataran tinggi dan pada penderita pneumonia.

Peningkatan aktivitas eritropoesis ini menambah jumlah sel darah merah dalam darah, sehingga terjadi peningkatan kapasitas darah mengangkut O2 dan memulihkan penyaluran O2 ke jaringan ke tingkat normal. Apabila penyaluran O2 ke ginjal telah normal, sekresi eritropoetin dihentikan sampai diperlukan kembali. Jadi, hipoksia tidak mengaktifkan langsung sumsum tulang secara langsung, tapi merangsang ginjal yang nantinya memberikan stimulus hormon yang akan mengaktifkan sumsum tulang. Selain itu, testosterone pada pria juga meningkatkan produksi EPO oleh ginjal. Hormon seks wanita tidak berpengaruh terhadap stimulasi EPO, itulah sebabnya jumlah RBC pada wanita lebih rendah daripada pria.

Destruksi eritrosit normal

Kemampuan hidup sel darah merah (eritrosit) rata-rata lamannya 120 hari. Meskipun mereka menggunakan glukosa untuk menghasilkan energi yang diperlukan untuk kelangsungan hidup mereka, mereka tidak dapat mensintesis protein. Oleh karena itu untuk melakukan proses perbaikan adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Hilangnya beberapa protein, dan aktivitas beberapa enzim penting berkurang. Reaksi kimia diperlukan untuk kelangsungan hidup sel sebagai akibat adanya gangguan. Sebagai hasilnya, air melewati ke dalam sel darah merah dan terjadi penuaan, yang mengubah bentuknya yang semula bentuk discoid menjadi sebuah bola (sphere). Spherocytes ini elastis, dan ketika mereka bergerak melalui sirkulasi, mereka ditelan oleh fagosit.

Sel-sel fagositik membentuk bagian melalui pembuluh darah, khususnya di limpa, hati dan sumsum tulang. Sel-sel ini, disebut makrofag. Makrofag adalah konstituen dari sistem reticuloendothelial dan ditemukan di kelenjar getah bening, di saluran pencernaan, dan sel-sel bebas berkeliaran dan menetap. Mereka merupakan sebuah kelompok dan memiliki kemampuan untuk menelan tidak hanya sel lainnya tetapi juga banyak mikroskopis partikel lainnya, termasuk pewarna dan koloid tertentu.

Dalam reticuloendothelial, sel eritrosit cepat dihancurkan. Protein, termasuk hemoglobin, dimakan olehnya, dan komponen asam amino diangkut melalui plasma untuk digunakan dalam sintesis protein baru. Zat besi yang hilang dari hemoglobin kembali ke dalam plasma dan diangkut ke sumsum tulang, di mana ia dapat digunakan dalam sintesis hemoglobin baru dan membentuk sel merah.Zat besi tidak disimpan di dalam sel-sel reticuloendothelial tapi tersedia untuk penggunaan kembali setiap kali diperlukan. Apabila terjadi kerusakan sel-sel darah merah, tidak ada kerugian bagi protein atau zat besi dalam tubuh, hampir semuanya dapat digunakan kembali. Sebaliknya, struktur cincin porfirin hemoglobin, dimana zat besi diikat, mengalami perubahan kimiawi yang memungkinkan terjadinya ekskresi dari tubuh. Reaksi ini mengubah porfirin yang berpigmen merah, menjadi bilirubin yang dengan pigmen kuning.Bilirubin dibebaskan dari sel-sel reticuloendothelial setelah penghancuran eritrosit disampaikan melalui plasma ke hati, di mana selanjutnya mengalami perubahan yang dipersiapkan untuk sekresi ke empedu. Jumlah bilirubin diproduksi dan dikeluarkan ke empedu ditentukan oleh jumlah hemoglobin dihancurkan. Ketika tingkat destruksi sel darah merah melebihi kapasitas hati untuk menangani bilirubin, pigmen kuning menumpuk di dalam darah, da menyebabkan sakit kuning. Penyakit kuning juga dapat terjadi jika hati berpenyakit (misalnya, hepatitis) atau jika saluran empedu tersumbat (misalnya, akibat batu empedu).

LO. 2 Memahami dan Menjelaskan HemoglobinLO. 2.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi HemoglobinHemoglobin adalah kompleks protein yang terdiri dari heme yang mengandung besi dan globin dengan interaksi diantara heme dan globin menyebabkan hemoglobin yang merupakan perangkat yang ireversibel untuk mengangkut oksigen.Hemoglobin ditemukan hanya sel darah merah. Molekul hemoglobin memiliki dua bagian : (1) bagian globin, suatu protein yang terbentuk dari empat rantai polipeptida yang sangat berlipat-lipat; dan (2) empat gugus nonprotein yang mengandung besi yang dikenal sebagai gugus hem, dengan masing-masing terikat ke salah satu polipeptida. Masing-masing dari keempat atom besi dapat berikatan secara reversible dengan satu molekul O2.Selain mengangkut O2, hemoglobin juga dapat berikatan berikut : Karbon dioksida. Hemoglobin membantu mengangkut gas ini dari sel jaringan kembali ke paru. Bagian ion hydrogen asam dari asam karbonat terionisasi, yang dihasilkan di tingkat jaringan dari CO2. Hemoglobin menyangga asam ini sehingga asam ini tidak banyak menyebabkan perubahan pH darah. Karbon monoksida. Gas ini dalam keadaan normal terdapat di dalam darah, tetapi jika terhirup maka gas ini cenderung menempati bagian hemoglobin yang berikatan dengan O2 sehingga terjadi keracunan CO Nitrat oksida. Di paru, nitrat oksida yang bersifat vasodilator berikatan dengan hemoglobin. NO ini dibebaskan di jaringan, tempat zat ini melemaskan dan melebarkan arteriol local. Vasodilatasi ini membantu menjamin bahwa darah kaya O2 dapat mengalir dengan lancar dan juga membantu menstabilkan tekanan darah.

Hemoglobin adalah suatu senyawa protein dengan fe yang dinamakan conjugated protein. Sebagai intinya fed an dengan rangka protoperphyrin dan globulin (tetraphyrin) menyebabkan warna darah merah karena fe ini. Eryt hb berikatan dengan Co2 menjadi karboxy hemoglobin dan warnanya merah tua. Darah arteri mengandung O2 dan darah vena mengandung Co2. (DepKes RI)Tabel Batas Kadar HemoglobinKelompok umurBatas nilai hb ( gr/dl)

Anak 6 bulan 6 tahun11,0

Anak 6 tahun 14 tahun12,0

Pria dewasa13,0

Ibu hamil11,0

Wanita dewasa12,0

Sumber : WHO dalam arisman 2002

LO. 2.2. Memahami dan Menjelaskan Fungsi HemoglobinMenurut Depkes RI fungsi hemoglobin adalah Mengatur pertukaran oksigen dengan karbondioksida dalam jaringan Mengambil oksigen dalam paru-paru kemudian dibawa keseluruh jaringan-jaringan tubuh untuk dipakai sebagai bahan bakar. Membawa karbondioksida dari jaringan-jaringan tubuh sebagai hasil metabolisme ke paru-paru untuk dibuang, untuk mengetahui apakah seseorang itu kekurangan darah apa tidak.

LO. 2.3. Memahami dan Menjelaskan Biosintesis Hemoglobin

Sintesis hemoglobin dimulai dalam proeritroblas dan berlanjut bahkan dalam stadium retikulosit pada pembentukan sel darah merah. Oleh karena itu, ketika retikulosit meninggalkan sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah, retikulosit tetap membentuk sejumlah kecil hemoglobin satu hari seesudah dan seterusnya sampai sel tersebut menjadi eritrosit yang matur.Mula-mula, suksinil-KoA, yang dibentuk dalam siklus krebs berikatan dengan glisin untuk membentuk molekul pirol (pridoksal fosfat). Kemudian, empat pirol bergabung untuk membentuk protoporfirin IX, yang kemudian bergabung dengan besi untuk membentuk molekul heme dalam mitokondria. Akhirnya, setiap molekul heme bergabung dengan rantai polipeptida panjang, yaitu globin yang disintesis oleh ribosom, membentuk suatu subunit yang disebut rantai hemoglobin.

Reaksi Antara O2 dan Hemoglobin

Hemoglobin mengikat oksigen untuk membentuk oksihemoglobin, oksigen menempel pada Fe2+ dalam heme. Masing-masing dari keempat atom besi dapat mengikat satu molekul oksigen secara reversibel. Atom besi tetap berada dalam bentuk ferro, sehingga reaksi pengikatan oksigen merupakan suatu reaksi oksigenasi. Dengan reaksi : Hb + O2 HbO2Bila tekanan O2 tinggi, seperti dalam kapiler paru, O2 berikatan dengan hemoglobin. Sedangkan jika tekanan oksigen rendah, oksigen akan dilepas dari hemoglobin (deoksihemoglobin).Kurva disosiasi hemoglobin-oksigen adalah kurva yang menggambarkan hubungan % saturasi kemampuan hemoglobin mengangkut O2 dengan PO2 yang memiliki bentuk signoid khas yang disebabkan oleh interkonversi T-R. Pengikatan O2 oleh gugus heme pertama pada satu molekul Hb akan meningkatkan afinitas gugus heme kedua terhadap O2, dan oksigenase gugus kedua lebih meningkatkan afinitas gugus ketiga, dan seterusnya sehingga afinitas Hb terhadap molekul O2 keempat berkali-kali lebih besar dibandingkan reaksi pertama.

Degradasi hemoglobin

LI. 3. AnemiaLO. 3.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Anemia

Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawaoksigen dalam jumlah yang cukup ke jaringan perifer. Pada anemia terjadi penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, atau hitung eritrosit. Anemia dapat disebabkan oleh penurunan kecepatan eritropoiesis, kehilangan eritrosit berlebihan, atau defisiensi kandungan hemoglobin dalam eritrosit.Anemia adalah suatu kondisi dimana kadar Hb dan/atau hitung eritrosit lebih rendah dari harga normal. Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl dan Ht < 41 % pada pria atau Hb < 12 g/dl dan Ht