kmb fraktur

Download kmb fraktur

Post on 03-Jul-2015

486 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penulisan Terdapat beberapa pengertian mengenai fraktur, sebagaimana yang dikemukakan para ahli melalui berbagai literature. Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas tulang, sedangkan menurut Boenges, ME., Moorhouse, MF dan Geissler, AC (2000) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Back dan Marassarin (1993) berpendapat bahwa fraktur adalah terpisahnya kontinuitas tulang normal yang terjadi karena tekanan pada tulang yang berlebihan. Ada beberapa cara yang digunakan dalam penanganan pertama pada kasus fraktur diantaranya adalah dengan traksi dan gips. Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Dengan tujuan untuk menangani fraktur, dislokasi atau spasme otot dalam usaha untuk memperbaiki deformitas dan mempercepat penyembuhan. Sedangkan gips merupakan salah satu pengobatan konservatif pilihan (terutama pada fraktur) dan dapat digunakan di daerah terpencil dengan hasil yang cukup baik bila cara pemasangan, indikasi, kontraindikasi serta perawatan setelah pemasangan diketahui dengan baik. Saat ini, penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di pusatpusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Bahkan WHO telah menetapkan dekade 2000-2010 menjadi Dekade Tulang dan Persendian. Penyebab fraktur terbanyak adalah karena kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas ini, selain menyebabkan fraktur, menurut WHO, juga menyebabkan kematian 125 juta orang setiap tahunnya, dimana sebagian besar korbannya adalah remaja atau dewasa muda.

1

B. Tujuan Penulisan Makalah ini dibuat dengan tujuan agar mahasiswa/i s1 keperawatan, mendapatkan pengetahuan lebih mengenai fraktur dan juga pemberian gips dan traksi. Selain itu, mahasiswa/i juga mendapatkan gambaran nyata dalam memberikan Asuhan Keperawatan pada klien dengan gips dan traksi. Serta mampu mengimplementasikan cara memberi / memasang gips dan traksi pada klien. C. Metode Penulisan Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan beberapa metode agar mahasiswa dapat memahami dan mengerti tujuan makalah yang telah dibuat, yaitu ; a) metode deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran serta sistematik agar mahasiswa yang membaca makalah penulis dapat memahami maksud dan tujuannya. b) study ke perpustakaan yaitu dengan membaca buku-buku atau bahan ilmiah yang bersifat teoritis yang berhubungan dengan judul makalah. Data data yang yang penulis ambil dari buku perpustakaan merupakan buku Keperawatan Medikal Bedah. c) study internet yaitu dengan membuka website yang berhubungan dengan tema makalah penulis berdasarkan sumber / situs yang terpercaya. D. Sistematika Penulisan Penulis membagi makalah ini menjadi tiga bagian yaitu: 1) Bab I pendahuluan 2) Bab II Pembahasan 3) Bab III penutup

2

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar Fraktur 1. Anatomi Fisiologi Tulang a. Sistem Rangka Rangka manusia dewasa tersusun dari tulang-tulang (sekitar 206 tulang) yang membentuk suatu kerangka tubuh yang kokoh. Walaupun rangka terutama tersusun dari tulang, rangka di sebagian tempat dilengkapi kartilago utama. 1) Rangka aksial terdiri dari beberapa tulang yang membentuk aksis panjang tubuh yang melindungi organ-oran pada kepala, leher dan torso. a) Kolumna vertebra (tulang belakang) terdiri dari 26 vertebra oleh diskus vertebra b) Tengkorak diseimbangkan pada kolumna vertebra c) Kerangka toraks (rangka iga) meliputi tulang-tulang iga dan sternum yang membungkus dan melindungi organ-organ thoraks. 2) Rangka aperdikular terdiri dari 126 tulang yang membentuk lengan, tungkai dan tulang pektoral (serta tonjolan pelvis yang menjadi tempat melekatnya lengan dan tungkai pada rangka aksial) 3) Persendian adalah artikulasi dari dua tulang atau lebih. b. Fungsi Sistem Rangka 1. Memberikan topangan dan bentuk pada tubuh 2. Pergerakan tulang berartikulasi dengan tulang lain pada sebuah persendian dan berfungsi sebagai pengungkit jika otot berkontraksi, kekuatan yang diberikan pada pengungkit menghasilkan gerakan. 3. Perlindungan sistem rangka, melindungi organ-organ lunak yang ada dalam tubuh. 4. Pembentukan sel darah (hematopoisis) sumsum tulang merah, yang ditemukan pada orang dewasa dalam tulang sternum, tulang iga, badan vertebra, tulang pipi 3 yang dipisahkan

pada kranium dan pada bagian ujung tulang panjang. Merupakan tempat produksi sel darah merah, sel darah putih dan trombosit darah. 5. Tempat penyimpanan mineral. c. Komposisi Jaringan Tulang 1) Tulang terdiri atas sel-sel dan matriks ekstrakuler. osteoblast dan osteoklas. 2) Matriks tulang tersusun dari serat-serat kolagen organik yang tertanam pada substansi dasar dan garam-garam organik tulang seperti fosfor dan kalsium. 3) Tulang kompak adalah jaringan yang tersusun rapat dan terutama ditemukan sebagai lapisan di atas jaringan tulang concelles, parositasnya bergantung pada saluran mikroskopik (kanalikuli) yang mengandung pembuluh darah yang berhubungan dengan saluran havers. Sel-sel tersebut adalah

4

2. Definisi Fraktur adalah terputusnya kontuinitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya (Smelter & Bare, 2002). Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Lima utama klasifikasi fraktur : incomplete, complete, tetutup, terbuka, fraktur patologis. (Doengoes E. Marilyn. 2002). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstream (Burner & Suddarth. 2002). Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa fraktur merupakan suatu gangguan integritas tulang yang ditandai dengan rusaknya atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang dikarenakan tekanan yang berlebihan. 3. Etiologi Adapun etiologi dari fraktur yaitu ; a. Trauma ( benturan ) Ada dua trauma yang dapat mengakibatkan fraktur : 1) Trauma langsung ; menyebabkan tekanan langsung pada tulang . Hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat kominutif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan. 2) Trauma tidak langsung ; Apabila trauma dihantarkan kedaerah yang lebih jauh dari daerah fraktur. Misalnya, jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh.

5

b. Tekanan / stress yang terus menerus berlangsung lama Tekanan kronis berulang dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan fraktur yang kebanyakan pada tulang tibia, fibula, atau metatarsal pada olahragawan, militer maupun penari. Misalnya seorang yang baris berbaris atau suka menghentak hentakkan kakinya, maka mungkin terjadi patah tulang di daerah tertentu. c. Adanya keadaan yang tidak normal pada tulang dan usia Kelemahan tulang yang abnormal karena adanya proses patologis seperti tumor, maka dengan energi kekerasan yang minimal akan mengakibatkan fraktur yang pada orang normal belum dapat menimbulkan fraktur. 4. Patofisiologi Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya.

6

a.

5. Klasifikasi fraktur Menurut Depkes RI (1995), berdasarkan luas dan garis traktur meliputi: 1) Fraktur komplit adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya menyeberang dari satu sisi ke sisi lain serta mengenai seluruh korteks. 2) Fraktur inkomplit adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patah tidak menyeberang, sehingga tidak mengenai seluruh korteks (masih ada korteks yang utuh). b. Menurut Black dan Matassarin (1993) yaitu fraktur berdasarkan hubungan dengan dunia luar, meliputi:

1) Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih utuh, tulang tidak keluar melewati kulit. 2) Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit, karena adanya hubungan dengan lingkungan luar, maka fraktur terbuka potensial terjadi infeksi. Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 grade yaitu: a) Grade I : Robekan kulit dengan kerusakan kulit dan otot. b) Grade II : Seperti grade I dengan memar kulit dan otot. c) Grade III : Luka sebesar 6-8 cm dengan kerusakan pembuluh darah, syaraf, otot dan kulit. c. Long (1996) membagi fraktur berdasarkan garis patah tulang, yaitu: 1) Green Stick yaitu pada sebelah sisi dari tulang ( retak dibawah lapisan periosteum) / tidak mengenai seluruh kortek, sering terjadi pada anak-anak dengan tulang lembek. 2) Transverse yaitu patah melintang ( yang sering terjadi ). 3) Longitudinal yaitu patah memanjang. 4) Oblique yaitu garis patah miring. 5) Spiral yaitu patah melingkar. 6) Communited yaitu patah menjadi beberapa fragmen kecil

7

d. Black dan Matassarin (1993) mengklasifikasi lagi fraktur berdasarkan kedudukan fragmen yaitu: 1) Tidak ada dislokasi 2) Adanya dislokasi, yang dibedakan menjadi: a) Disklokasi at axim yaitu membentuk sudut. b) Dislokasi at lotus yaitu fragmen tul