pbl blok 24 hematologi onkologi

of 52 /52
BAB I Pendahulu an 1.1 Latar Belakang Anemia merupakan masalah medik yang paling sering dijumpai di klinik di seluruh dunia, disamping sebagai masalah kesehatan masyarakat, terutama di negara berkembang. Kelainan ini merupakan penyebab dibilitas kronik yang mempunyai dampak besar terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi, serta kesehatan fisik. Oleh karena frekuensinya yang demikian sering, seorang dokter umum perlu memahami gejala-gejala dari penyakit ini serta penyebab-penyebab yang mungkin dapat mendasari suatu kondisi anemia. 1.2 Tujuan Makalah ini dibuat untuk membahas sejumlah bahan maupun bagian yang perlu diperhatikan lebih dalam dari kasus yang diberikan, yaitu kasus yang merujuk pada anemia normositik normokrom. 1.3 Manfaat Penulis berharap, makalah ini bisa bermanfaat untuk menjadi referensi dalam persiapan pleno program Problem Based Learning yang akan datang.

Author: claudia-dadlani

Post on 12-Dec-2014

132 views

Category:

Documents


16 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Makalah PBL Anemia Hemolitik Autoimun

TRANSCRIPT

BAB IPendahuluan

1.1 Latar Belakang Anemia merupakan masalah medik yang paling sering dijumpai di klinik di seluruh dunia, disamping sebagai masalah kesehatan masyarakat, terutama di negara berkembang. Kelainan ini merupakan penyebab dibilitas kronik yang mempunyai dampak besar terhadap kesejahteraan sosial dan ekonomi, serta kesehatan fisik. Oleh karena frekuensinya yang demikian sering, seorang dokter umum perlu memahami gejala-gejala dari penyakit ini serta penyebab-penyebab yang mungkin dapat mendasari suatu kondisi anemia. 1.2 Tujuan Makalah ini dibuat untuk membahas sejumlah bahan maupun bagian yang perlu diperhatikan lebih dalam dari kasus yang diberikan, yaitu kasus yang merujuk pada anemia normositik normokrom. 1.3 Manfaat Penulis berharap, makalah ini bisa bermanfaat untuk menjadi referensi dalam persiapan pleno program Problem Based Learning yang akan datang.

1

BAB IIIsi

2.1. Anamnesis Pada anamnesis perlu ditanyakan : - Identitas pasien.1-3

- Keluhan utama : pada skenario, pasien datang dengan keluhan mudah lelah kuraini dan wajah terlihat agak pucat. - Keluhan tambahan : tidak ada. - Riwayat penyakit sekarang : o Waktu dan lamanya keluhan berlangsung = 2-3 minggu. o Apakah ada serangan rasa nyeri? Pada anemia sel sabit, rasa nyeri yang datang selalu tiba-tiba dan berakhir tiba-tiba. o Jika ada rasa nyeri, perlu ditanyakan predileksinya. o Apakah memakan obat-obatan tertentu? o Apakah baru-baru ini melakukan aktivitas tertentu di luar ruangan? Atau sedang mengalami stress? o Bagaimana pola hidup pasien belakangan ini? o Apakah keluhan baru pertama kali atau sudah berulang kali. o Jika sebelum ini pernah mengalami hal yang sama, apakah ada faktor tertentu yang menurut pasien memicu kondisi tersebut? o Apakah ada saudara sedarah, atau teman dekat yang menderita keluhan yang sama pada saat ini? o Apakah sejak muncul gejala, gejala bertambah parah seiring waktu? o Upaya yang telah dilakukan dan bagaimana hasilnya, jenis-jenis obat yang telah diminum oleh pasien; juga tindakan medik lain yang berhubungan dengan penyakit yang saat ini diderita.1

- Riwayat penyakit dahulu : bertujuan untuk mengetahui kemungkinankemungkinan adanya hubungan antara penyakit yang pernah diderita dengan penyakit sekarang.1

- Riwayat kesehatan keluarga. Perlu ditanyakan apakah ada keluarga yang di diagnosis penyakit kelainan tertentu. Defisiensi G6PD, sferosit herediter, dan anemia sel sabit termasuk penyakit yang diturunkan melalui mutasi gen. - Riwayat penyakit menahun keluarga.1 1

2

2.2. Pemeriksaan fisik Hasil pemeriksaan fisik umum diatas menunjukkan kondisi yang normal dari pasien. Pada skenario disebutkan keadaan umum pasien adalah tampak sakit ringan dan kesadarannya compos mentis. Karena pasien datang dengan kondisi pucat, perlu dilakukan sedikit pemeriksaan fisik tambahan yang lebih spesifik yaitu memeriksa kondisi konjungtiva dan sklera mata pasien. Konjungtiva yang pucat merujuk pada kondisi kekurangan darah sedangkan sklera yang ikterik menunjukkan tingginya kadar bilirubin dalam darah. 2.2.2 Pemeriksaan fisik khusus : abdomen Untuk pemeriksaan fisik pada bagian abdomen, dilakukan dengan terlebih dahulu membagi bagian abdomen dengan 2 cara : 1. Pembagian atas empat kuadran, dengan membuat garis vertikal dan horizontal melalui umbilikus, sehingga terdapat daerah kuadran kanan atas, kiri atas, kanan bawah, dan kiri bawah. garis vertical : Garis horizontal pertama dibuat melalui tepi bawah tulang rawan igakesepuluh dan yang kedua dibuat melalui titik spina iliaka anterior superior (SIAS). 1 1

2. Pembagian atas sembilan daerah, dengan membuat dua garis horizontal dan dua

Garis vertikal dibuat masing-masing melalui titik pertengahan antara SIAS dan mid-line abdomen.1

3

Sehingga didapatkan 9 regio, yaitu hipokondrium kanan, epigastrium, hipokondrium kiri, lumbal kanan, umbilical, lumbal kanan, iliaka kanan,1

hipogastrium/suprapubik, dan iliaka kiri. a. Inspeksi

Dilakukan pada pasien dengan posisi tidur terlentang dan diamati dengan seksama dinding abdomen. Yang perlu diperhatikan adalah: Keadaan kulit; Besar dan bentuk abdomen; rata, menonjol, atau scaphoid (cekung). Simetrisitas; perhatikan adanya benjolan1

local

(hernia,

hepatomegali,

splenomegali, kista ovarii, hidronefrosis). -

Gerakan dinding abdomen pada peritonitis terbatas. Pembesaran organ atau tumor, dilihat lokasinya dapat diperkirakan organ apa atau tumor apa.1

Peristaltik; gerakan peristaltik usus meningkat pada obstruksi ileus, tampak pada dinding abdomen dan bentuk usus juga tampak (darm-contour). Pulsasi; pembesaran ventrikel kanan dan aneurisma aorta sering memberikan gambaran pulsasi di daerah epigastrium dan umbilical. Perhatikan juga gerakan pasien:1

-

Pasien sering merubah posisi, Pasien sering menghindari gerakan, Pasien sering melipat lutut ke atas agar tegangan abdomen berkurang/ relaksasi, Pasien melipat lutut sampai ke dada, berayun-ayun maju mundur pada saat nyeri.1

b. Palpasi Beberapa pedoman untuk melakukan palpasi, ialah: Pasien diusahakan tenang dan santai dalam posisi berbaring terlentang. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan tidak buru-buru.1

Palpasi dilakukan dengan menggunakan palmar jari dan telapak tangan. Sedangkan untuk menentukan batas tepi organ, digunakan ujung jari. Diusahakan agar tidak melakukan penekanan yang mendadak, agar tidak timbul tahanan pada dinding abdomen.1

-

Palpasi dimulai dari daerah superfisial, lalu ke bagian dalam. Bila ada daerah yang dikeluhkan nyeri, sebaiknya bagian ini diperiksa paling akhir.1

4

-

Bila dinding abdomen tegang, untuk mempermudah palpasi maka pasien diminta untuk menekuk lututnya. Bedakan spasme volunter & spasme sejati; dengan menekan daerah muskulus rectus, minta pasien menarik napas dalam, jika muskulus rectus relaksasi, maka itu adalah spasme volunter. Namun jika otot kaku tegang selama siklus pernapasan, itu adalah spasme sejati.1

-

Palpasi bimanual; palpasi dilakukan dengan kedua telapak tangan, dimana tangan kiri berada di bagian pinggang kanan atau kiri pasien sedangkan tangan kanan di bagian depan dinding abdomen.1

c. Perkusi Perkusi berguna untuk mendapatkan orientasi keadaan abdomen secara keseluruhan, menentukan besarnya hati, limpa, ada tidaknya asites, adanya massa padat atau massa berisi cairan (kista), adanya udara yang meningkat dalam lambung dan usus, serta adanya udara bebas dalam rongga abdomen. Suara perkusi abdomen yang normal adalah timpani (organ berongga yang berisi udara), kecuali di daerah hati (redup; organ yang padat). Orientasi abdomen secara umum. Dilakukan perkusi ringan pada seluruh dinding abdomen secara sistematis untuk mengetahui distribusi daerah timpani dan daerah redup (dullness). Pada perforasi usus, pekak hati akan menghilang. 1 1

Cairan bebas dalam rongga abdomen Adanya cairan bebas dalam rongga abdomen (asites) akan menimbulkan suara perkusi timpani di bagian atas dan dullness dibagian samping atau suara dullness dominan. Karena cairan itu bebas dalam rongga abdomen, maka bila pasien dimiringkan akan terjadi perpindahan cairan ke sisi terendah. Cara pemeriksaan asites: o Pemeriksaan gelombang cairan (undulating fluid wave). Teknik ini dipakai bila cairan asites cukup banyak. Prinsipnyaadalah ketukan pada satu sisi dinding abdomen akan menimbulkan gelombang cairan yang akan diteruskan ke sisi yang lain. Pasien tidur terlentang, pemeriksa meletakkan telapak tangan kiri pada satu sisi abdomen dan tangan kanan melakukan ketukan berulang-ulang pada dinding abdomen sisi yang lain. Tangan kiri kan merasakan adanya tekanan gelombang. o Pemeriksaan pekak alih (shifting dullness).51

Prinsipnya cairan bebas akan berpindah ke bagian abdomen terendah. Pasien tidur terlentang, lakukan perkusi dan tandai peralihan suara timpani ke redup pada kedua sisi. Lalu pasien diminta tidur miringpada satu sisi, lakukan perkusi lagi, tandai tempat peralihan suara timpani ke redup maka akan tampak adanya peralihan suara redup. d. Auskultasi Kegunaan auskultasi ialah untuk mendengarkan suara peristaltik usus dan bising pembuluh darah. Dilakukan selama 2-3 menit.. Mendengarkan suara peristaltik usus. Diafragma stetoskop diletakkan pada dinding abdomen, lalu dipindahkan ke seluruh bagian abdomen. Suara peristaltik usus terjadi akibat adanya gerakan cairan dan udara dalam usus. Frekuensi normal berkisar 5-34 kali/ menit. Bila terdapat obstruksi usus, peristaltik meningkat disertai rasa sakit (borborigmi). Bila obstruksi makin berat, abdomen tampak membesar dan tegang, peristaltik lebih tinggi seperti dentingan keping uang logam (metallic-sound). Bila terjadi peritonitis, peristaltik usus akan melemah, frekuensinya lambat, bahkan sampai hilang. 1 1

Mendengarkan suara pembuluh darah. Bising dapat terdengar pada fase sistolik dan diastolik, atau kedua fase. Misalnya pada aneurisma aorta, terdengar bising sistolik (systolic bruit). Pada hipertensi portal, terdengar adanya bising vena (venous hum) di daerah epigastrium.1

e. Pemeriksaan Hepar Untuk pemeriksaan hepar prosedur tambahannya yaitu dengan perkusi batas bawah hepar: Mulai dari bawah umbilikus di mcl kanan perkusi dari bawah ke atas sampai suara redup (tidak ada pergeseran ke bawah/ Obstruksi paru kronik). Dilanjutkan perkusi batas atas hepar: daerah paru ke bawah sampai suara redup. Tinggi antara daerah redup (tidak ada pembesaran hepar) diukur.1,2

Palpasi hepar dilakukan dengan meletakkan tangan kiri dibelang penderita menyangga costa ke-11/12 sejajar, minta penderita rileks. Hepar didorong ke depan, diraba dari depan dengan tangan kanan (bimanual palpasi). Tangan kanan

6

ditempatkan pada lateral otot rektus kanan, jari di batas bawah hepar dan tekan lembut ke arah atas.1,2

Pasien diminta bernafas dalam sehingga terasa sentuhan hepar bergerak ke bawah (tangan dikendorkan agar hepar meluncur dibawah jari sehingga meraba permukaan yang lunak tidak berbenjol, tepi tegas/tajam, tidak ada pembesaran). 2.3. Pemeriksaan penunjang Untuk memperoleh diagnosis kerja, selain hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, dibutuhkan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis adalah pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan hapus darah tepi, dan pemeriksaan bilirubin (terutama bilirubin indirek). Pada pemeriksaan darah lengkap, yang diperiksa adalah jumlah eritrosit, jumlah leukosit, kadar hemoglobin, hematokrit, retikulosit dan jumlah trombosit. Patokan nilai normal dapat berbeda-beda tergantung alat yang dipakai di tiap-tiap laboratorium. Akan tetapi, nilai rujukan yang dapat digunakan secara universal adalah : 1. Hitung sel darah merah : pria (4,7-6,1 juta sel/mikroliter); wanita (4,2-5,4 juta sel/mikroliter). 2. Hitung sel darah putih : 4.000-10.000 sel/mikroliter. 3. Hemoglobin : pria (13,8-17,2 mg/dL); wanita (12,1-15,1 mg/dL). 4. Hematokrit : pria (40,7%-50,3%); wanita (36,1%-44,3%). 5. Hitung trombosit : 150.000-400.000 trombosit/mikroliter. 6. Laju endap darah (LED): pria (0-15 mm/jam); wanita (0-20 mm/jam) 7. Hitung jenis leukosit : neutrofil (55-70%); eosinofil (1-3%); basofil (0-1%); limfosit (20-40%); monosit (2-8%) Melalui pemeriksaan darah lengkap, dapat diketahui mean corpuscular volume (MCV), mean corpuscular hemoglobin (MCH), dan mean corpuscular hemoglobin concentration (MCHC). MCV adalah nilai hematokrit dibandingkan dengan jumlah eritrosit. MCH adalah kadar hemoglobin dibandingkan dengan jumlah eritrosit. Sedangkan MCHC adalah kadar hemoglobin dibandingkan dengan nilai hematokrit. Ketiga hitungan tersebut menunjukkan nilai eritrosit rata-rata. Nilai rujukan untuk ketiga hitungan tersebut adalah : 1. MCV = 82-92 fL 2. MCH = 27-37 pg 3. MCHC = 32-37%71,2

MCV dan MCH yang rendah merujuk pada morfologi eritrosit mikrositik hipokrom yang biasa dijumpai pada anemia defisiensi besi. MCV yang konsisten dengan anemia megaloblastik. Sedangkan MCV dan MCHC yang tinggi mengindikasikan sferositosis.4-7

Apabila pemeriksaan darah lengkap dapat dilakukan secara otomatis, maka red cell distribution width (RDW) juga dapat ditentukan. Normalnya adalah 11.5-14.5 coefficient of variation. Peningkatan RDW menunjukkan anisositosis yang merujuk pada anemia hemolitik. Selain itu, peningkatan retikulosit menunjukkan terjadinya penurunan jumlah eritrosit, namun bukan ciri khas dari anemia hemolitik.4-7

Selanjutnya adalah pemeriksaan hapus darah tepi. Yang perlu diperhatikan dari hapus darah tepi adalah keadaan dari eritrosit, leukosit, dan trombosit. Pada keadaan eritrosit, yang perlu diperhatikan adalah ukuran, warna, dan bentuknya. Sedangkan pada keadaan limfosit dan trombosit yang perlu diperhatikan adalah jumlahnya. Dari pemeriksaan darah tepi inilah dapat ditemukan sel-sel yang merupakan ciri khas dari suatu anemia seperti sferosit, sel sabit, sel target, dan semacamnya.4-7

Yang terakhir adalah pemeriksaan bilirubin. Ada dua jenis bilirubin, direk dan indirek. Bilirubin direk larut dalam air dan dapat diperiksa melalui urin sedangkan bilirubin indirek tidak larut air dan hanya dapat diperiksa melalui darah. Pada pemeriksaan serum, nilai normal bilirubin total adalah 0.2-1 mg%, bilirubin direk adalah 0 - 0.2 mg%, dan bilirubin indirek adalah 0.2-0.8 mg%. Pada kondisi anemia hemolitik, bilirubin serum biasanya