konvensi ekonomi sosial dan budaya - · pdf filemateri : konvensi ecosob. ... pasal tentang...

Click here to load reader

Post on 03-Jul-2019

216 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • Seri Bahan Bacaan Kursus HAM untuk Pengacara XI Tahun 2007

    Materi : Konvensi Ecosob

    KONVENSI EKONOMI SOSIAL DAN BUDAYA

    Syahrial M.W, SH

    Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat

    Jl Siaga II No 31 Pejaten Barat, Jakarta 12510 Telp (021) 7972662, 79192564 Fax : (021) 79192519

    Website : www.elsam.or.id Email : office@elsam.or.id : advokasi@indosat.net.id

    http://www.elsam.or.id/mailto:office@elsam.or.id
  • Kursus HAM untuk Pengacara XI Tahun 2007 Bahan Bacaan Materi : Konvensi Ecosob

    Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 1

    1. TERBENTUKNYA KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK EKONOMI SOSIAL DAN BUDAYA

    Deklarasi Universal Hak Azasi Manusia (selanjutnya disebut DUHAM) telah diterima oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948, dengan pemungutan suara 48 menyetujui, 0 menolak, dan 8 abstain. DUHAM memuat pokok-pokok hak azasi dan kebebasan fundamental manusia sebagai standart acuan pencapaian bersama bagi semua rakyat dan bangsa. Dokumen tersebut merupakan kesepakatan bersama yang merujuk sebagai Magna Charta International dalam hak-hak azasi manusia. Di sana ada dua bagian yang termaktub dalam DUHAM. Bagian pertama adalah persetujuan berkaitan dengan hak azasi dan kebebasan fundamental mengenai hak-hak sipil dan politik. Bagian kedua persetujuan adalah mengenai hak azasi dan kebebasan fundamental hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya. Karena DUHAM bukan sebuah instrumen yuridis yang memiliki kekuatan mengikat, maka pokok-pokok hak azasi manusia dan kebebasan fundamental tersebut harus dituangkan dalam instrumen-instrumen yang mengikat secara hukum. Komisi Hak Azasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa yang sebelumnya telah mempersiapkan rancangan DUHAM 1948 meminta kepada Majelis Umum PBB untuk menyusun rancangan kovenan tentang HAM beserta rancangan tindakan pelaksanaannya. Tahun 1949 Majelis Umum PBB menerima sebuah resolusi yang

    menyatakan bahwa penikmatan kebebasan sipil dan politik serta kebebasan ekonomi, sosial dan budaya bersifat saling berkaitan dan saling tergantung. Pada tahun 1951 Komisi HAM menyusun rancangan pasal-pasal tentang hak ekonomi, sosial, dan budaya serta rancangan pasal-pasal mengenai pelaksanaan bidang tersebut. Dalam sidangnya di tahun 1951 Majelis Umum PBB meminta Komisi HAM untuk merancang dua kovenan tentang HAM, satu kovenan mengenai hak sipil dan politik dan satu kovenan memuat hak ekonomi, sosial dan budaya. Secara khusus dalam sidang tersebut Majelis Umum menyatakan bahwa kedua kovenan tersebut harus sebanyak mungkin memuat ketentuan yang sama dan harus memuat pasal yang menetapkan bahwa semua rakyat mempunya hak atas penentuan nasib sendiri. Pada tahun 1953 dan 1954 , Komisi HAM menyelesaikan dua rancangan kovenan sebagaimana yang dimaksudkan oleh Majelis Umum PBB. Kedua kovenan tersebut mulai dipublikasikan pada tahun 1954 agar masing-masing pemerintah pada setiap negara anggota dapat mempelajarinya secara mendalam serta membuka opini publik untuk memberikan masukan secara bebas. Pada tahun 1955 Majelis Umum PBB merekomendasikan agar Komisi Ketiga Majelis Umum PBB membahas rancangan naskah kedua kovenan tersebut pasal demi pasal.

  • Kursus HAM untuk Pengacara XI Tahun 2007 Bahan Bacaan Materi : Konvensi Ecosob

    Sebelas tahun kemudian, tepatnya tahun 1966, rancangan naskah kedua tersebut dapat terselesaikan, yakni Rancangan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, dan Rancangan Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Disamping kedua kovenan tersebut telah diselesaikan pula Rancangan Protokol Opsional pada Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik. Pada 16 Desember 1966 dengan Resolusi 2200 A (XXI), Majelis Umum PBB menerima ketiga instrumen sebagai dokumen internasional di bidang azasi manusia. Ketiga dokumen tersebut (DUHAM, Kovenan Internasional Hak Sipil dan

    Politik, dan Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya) dikenal sebagai the International Bill of Human Rights. Tanpa memperhatikan apakah suatu negara telah secara formal mengadopsi secara khusus dokumen-dokumen tersebut, hak-hak yang termaktub di dalam dokumen-dokumen tersebut telah mencapai status sebagai hukum kebiasaan internasional (customary international law). Ketiga dokumen tersebut telah diakui sebagai standart acuan bersama untuk setiap negara di dunia. Kovenan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya mulai berlaku pada tanggal 3 Januari 1976, sesuai dengan pasal 27 kovenan tersebut.

    1.2. KATEGORI HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA

    YANG DIATUR DALAM KOVENAN A. Hak-Hak Ekonomi

    1. Hak atas pekerjaan a. hak atas upah yang layak (pasal 6). b. hak untuk memilih secara bebas atau menerima suatu pekerjaan

    (pasal 6).

    2. Hak-hak buruh a. hak untuk menikmati kondisi kerja

    yang adil dan baik (pasal 7). b. hak atas pemberian upah yang

    layak untuk hidup (pasal 7a). c. hak untuk membentuk dan

    bergabung dengan serikat pekerja (pasal 8).

    d. hak untuk melakukan pemogokan (pasal 8 ayat 1d).

    B. Hak-Hak Sosial 1. Hak untuk mendapatkan standart

    kehidupan yang layak a. hak atas standart kehidupan yang

    layak (pasal 11 ayat 1). b. hak atas kecukupan pangan (pasal

    11 ayat 1). c. hak atas pemukiman (pasal 11

    ayat 1). d. hak untuk terbebas dari kelaparan

    (pasal 11 ayat 2). e. hak atas jaminan sosial (pasal 9).

    2. Hak atas keluarga, ibu dan anak

    a. hak atas keluarga, ibu dan anak-anak (pasal 10).

    b. hak atas perlindungan terhadap keluarga (pasal 9).

    3. Hak atas kesehatan fisik dan mental

    (pasal 12).

    Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 2

  • Kursus HAM untuk Pengacara XI Tahun 2007 Bahan Bacaan Materi : Konvensi Ecosob

    C. Hak-Hak Budaya

    1. Hak atas pendidikan a. hak atas pendidikan (pasal 13). b. hak untuk mendapatkan wajib

    belajar tingkat dasar (pasal 14).

    2. Hak atas kehidupan budaya dan ilmu pengetahuan

    a. terhadap kemajuan pengetahuan (pasal 15).

    b. hak untuk menjadi bagian dalam kehidupan budaya (pasal 15).

    c. hak atas kebebasan.

    1.3. KANDUNGAN KEWAJIBAN HUKUM KOVENAN Sebelum menjelajah pasal-pasal yang terkandung di dalam kovenan maka perlu dikemukakan kata kunci-kata kunci yang memiliki konsekuensi kewajiban secara hukum. Penjelasan ini diperlukan untuk mengenali kandungan kewajiban hukum dalam rangka melaksanakan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya hukum. Berikut ini adalah kata kunci yang digunakan dalam definisi kewajiban dalam kovenan :

    1. to take steps (mengambil langkah-langkah);

    2. to guarantee (menjamin); 3. to ensure (meyakini); 4. to recognize (mengakui); 5. to respect or to have respect for

    (menghormati atau memberikan penghormatan);

    6. to undertake (berusaha); 7. to promote (meningkatkan).

    1.3.1. Pengertian harafiah yang bisa membantu pemahaman dari makna kata kunci-kata kunci tersebut adalah : 1. Mengambil langkah-langkah adalah suatu

    cara yang diambil, terutama sebagai

    titik berangkat memulai suatu rentetan tindakan.

    2. Menjamin adalah menanggapi pemenuhan yang sepantasnya dari sesuatu, untuk mengemukakan bahwa sesuatu telah terjadi atau akan terjadi.

    3. Meyakini adalah memastikan bahwa sesuatu akan terjadi, memberikan sesuatu bagi atau untuk orang-orang.

    4. Mengakui artinya mengakui keabsahan atau kemurnian watak, atau klaim, atau eksistensi, dari memberikan perhatian dan pertimbangan, menemukan atau menyadari watak dari, memperlakukan sebagai, mengakui, menyadari, atau mengakui bahwa.

    5. Menghormati atau memberikan penghormatan adalah memberikan perhatian kepada sesuatu.

    6. Berusaha artinya komitmen diri sendiri untuk melakukan, menjadikan diri seorang yang bertanggungjawab atas, terlibat dalam, masuk ke dalam menerima sebagai kewajiban, berjanji untuk melakukan.

    7. Meningkatkan berarti memajukan, menolong memajukan, menggalakkan, mendukung dengan aktif.

    Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 3

  • Kursus HAM untuk Pengacara XI Tahun 2007 Bahan Bacaan Materi : Konvensi Ecosob

    2. POKOK-POKOK DAN STRUKTUR KOVENAN

    INTERNASIONAL TENTANG HAK EKONOMI, SOSIAL, DAN BUDAYA

    2.1. MUKADIMAH Terdiri atas lima alinea, yang memuat maksud dan pertimbangan dibuatnya kovenan tersebut. Kutipan lengkapnya adalah sebagai berikut : Menimbang bahwa sesuai dengan asas-asas yang diproklamasikan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, pengakuan terhadap martabat yang melekat dan hak-hak yang sama dan tidak terpisahkan dari semua anggota keluarga manusia merupakan landasan dari kebebasan, keadilan dan perdamaian di dunia. Mengakui bahwa hak-hak ini berasal dari martabat yang melekat pada manusia. Mengakui bahwa sesuai dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, keadaan ideal dari manusia yang bebas dari penikmatan kebebasan dari ketakutan dan kemelaratan, hanya dapat dicapai apabila diciptakan kondisi dimana semua orang dapat menikmati hak-hak ekonomi, sosial dan budayanya, juga hak-hak sipil dan politiknya. Menimbang kewajiban Negara-Negara dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memajukan penghormatan dan pentaatan secara universal pada hak-hak asasi manusia dan kebebasan. Menyadari bahwa individu, yang mempunyai kewajiban terhadap individu lainnya dan pada masyarakat dimana ia berada, berkewajiban untuk mengupayakan

    kemajuan dan pentaatan dari hak-hak yang diakui dalam kovenan ini.

    Mukadimah yang terdiri dari lima paragraph hampir secara keseluruhan sama dengan yang termuat dalam kovenan hak sipil politik. Memuat :

    a. Mengingatkan bahwa pengakuan atas martabat yang inheren dan atas hak yang sama dan tidak dapat dipisahkan dari semua umat manusia merupakan lan