bab ii tasawuf dan pendidikan akhlak - · pdf file17 bab ii tasawuf dan pendidikan akhlak a....

Click here to load reader

Post on 04-Feb-2018

252 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 17

    BAB II

    TASAWUF DAN PENDIDIKAN AKHLAK A. TASAWUF

    1. Pengertian Tasawuf Dalam memberikan pengertian tasawuf merupakan suatu pekerjaan

    yang amat sulit, sedemikian besar dan luasnya sesuatu yang disebut

    tasawuf itu, sehingga melakukan pekerjaan ini seperti gambaran orang

    buta yang menerangkan gajah menurut bagian yang disentuhnya saja. Hal

    yang mungkin bisa dilakukan hanya memberi petunjuk-petunjuk yang

    menunjukkan pada istilah tersebut, meski tidak utuh.

    Dalam ensiklopedi Islam diungkapkan pendapat para sufi sendiri

    tentang pengertian tasawuf. Diantaranya oleh Zakaria al-Anshari (852-925

    H) mengartikan tasawuf sebagai cara untuk mengajarkan mensucikan diri,

    meningkatkan akhlak dan membangun kehidupan jasmani dan rohani

    untuk mencapai kehidupan abadi. Sedangkan menurut al-Junaidi al-

    Baghdadi (w 289 H), tasawuf adalah proses membersihkan hati dari sifat-

    sifat basyariyah (kemanusiaan), menjauhi hawa nafsu, memberi tempat

    bagi sifat-sifat kerohanian berpegang pada ilmu kebenaran, mengamalkan

    sesuatu yang lebih utama atas dasar keabadiannya, memberikan nasihat

    kepada umat, benar-benar menepati janji kepada Allah SWT dan

    mengikuti syariat Rosulullah SAW.1 Jadi unsur utama tasawuf adalah

    mensucikan diri dan tujuan akhirnya kebahagiaan dan keselamatan abadi.

    Sebagai aspek mistik dalam ajaran-ajaran agama Islam, memang

    tidak bisa diterjemahkan dengan ungkapan yang tepat dan utuh untuk

    menggambarkan kebesaran tasawuf. Kata mistik berasal dari bahasa

    Yunani Myien yang berarti menutup mata. Dalam kata mistik ini

    terkandung sesuatu yang misterius, yang tidak bisa dicapai dengan cara-

    cara biasa atau dengan usaha intelektual. Mistik biasanya disebut pula

    1 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Islam Baru van Houeve, 1994)

    hlm. 74.

  • 18

    sebagai arus besar kerohanian yang mengalir dalam semua agama atau

    dalam arti yang lebih luas adalah kesadaran terhadap kenyataan tunggal

    (yang disebut kearifan, cahaya, cinta atau nilai).2

    Simuh dalam bukunya Tasawuf dan Perkembangannya Dalam

    Islam memilih definisi tasawuf atau mistik yang ditulis oleh A.S. Hornby

    dalam kamusnya A Leaner Dictionary Of Current English yang

    mendefinisikan Mysticism sebagai berikut: The teaching or belief that

    knowledge of real truth and of good may be obtained through meditation

    or spiritual insigh, independently of the mind and semses.3

    Mengenai tasawuf (Sufism), Carl W. Ernst dalam bukunya Words

    of Ectasy in Sufis menjelaskan:

    .. Historically, the term denotes a vast spiritual enterprise, carried out in many lands that differ widely in culture and language, but are unified by the spiritual authority of the Quranie revelation and the example of he prophet Muhammad. Essentially, however, Sufism is a path of mystical life, which begins with the souls conversion, or turning, towards god.4

    Dalam perspektif historis, istilah tasawuf menunjukkan suatu

    perilaku spiritual dalam arti luas, yang dilakukan dibeberapa daerah yang membedakan ciri budaya dan bahasa, tetapi dipersatukan dengan otoritas spiritual dari wahyu al-Quran dan teladan dari nabi Muhammad SAW. Sedangkan esensinya, tasawuf adalah suatu jalan atau cara menuju kehidupan sufi (mystical life), yang dimulai dengan memasrahkan diri atau jiwanya pada Tuhan.

    Ruang lingkup objek perjalanan mistik bersifat tersembunyi atau

    hal-hal ghaib yaitu Tuhan yang transenden dan jauh dari terapan indrawi

    dan rasio manusia. Intinya adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan

    dialog antara roh manusia dengan Tuhan, karenanya seseorang harus

    2 Annemarie Schimael, Dimensi Mistik Dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986),

    hlm 1-2. 3 Ajaran atau kepercayaan bahwa pengetahuan tentang hakikat atau Tuhan biasa

    didapatkan melalui meditasi atau tanggapan kejiwaan yang bebas dari tanggapan akal pikiran dan panca indra. Lihat Simuh, Tasawuf Dan Perkembangannya Dalam Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1996), Hlm.12.

    4 Carl W. Ernest, Words of Ectasy in Sufis, (New York: State University Press, 1985), Hlm. 1.

  • 19

    mengutarakan rasa Dzauq (ketenangan) dibandingkan rasio, karena ia

    bersifat sangat pribadi dan eksistensial.5

    Sementara itu oleh Murtdla Muthari dan Syaikh Muhammad

    Husain Thabathabai, untuk istilah tasawuf dan sufi mereka menyebutnya

    dengan istilah irfan dan arif. Menurut mereka istilah irfan dan arif

    dilihat dari sudut pandang ilmiah, dimana irfan adalah salah satu ilmu

    yang lahir dari Islam dan memberitahukan tentang hubungan dengan

    Tuhan dan jalan mencapainya, sedangkan kaum arif adalah orang yang

    mahir dan ahli dalam irfan.6

    Dalam al-Quran telah banyak terdapat ayat-ayat yang memiliki

    nuansa mistik yang kental. Bahkan sumber rujukan tasawuf selalu kembali

    pada al-Quran dan al-Sunnah, sehingga amalan tasawuf tidak keluar dari

    ruang lingkup sumber tersebut. Gambaran kedekatan antara sang hamba

    dengan khaliq-Nya menjadi kerinduan yang tidak tergambarkan untuk

    mendekati bahkan menyatu dengan-Nya. Firman Allah SWT:

    .}186 {

    Artinya: Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada-Ku tentang Aku maka (jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. al-Baqarah 186).7

    Dekatnya Allah dengan hamba-hamba-Nya ialah, Allah

    mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya. Allah maha mendengar dan

    melihat perkataan dan perbuatan mereka.8

    5 Rivay Siregar, Tasawuf Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme, (Jakarta: Rajawali Pers,

    2000), hlm.3. 6 Murtdla Muttahari dan Syaikh Muhammad Husain Thabathabai, Menapak Jalan

    Spiritual, terjemahan MS, Nasrullah, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1997), hlm 19-21. 7 Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemah, (Semarang: CV. Toha Putra, 1990),

    hlm. 45. 8 Ahmad Mustafa Al-Maraghi, (Tafsir al-Maraghi), trj, Bahrun Abu Bakar, (Semarang:

    Toha Putra: 1993), Juz. II, Hlm. 298.

  • 20

    Oleh karena itu tasawuf atau sufisme memiliki tujuan memperoleh

    hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari

    seseorang benar-benar berada dihadirat Allah dan orang yang menjalani

    mistis ini atau bertasawuf disebut kaum sufi, namun dalam perkembangan

    pemikiran tentang aspek mistik Islam ini sehingga oleh para sufi maupun

    pengamat mistisisme, memberikan pengertian tentang tasawuf berbeda-

    beda. Pengertian ini berdasarkan pada asal kata tasawuf maupun

    didasarkan pada ajaran dalam praktik tasawuf itu sendiri.

    Berikut ini beberapa teori tentang asal kata tasawuf adalah:

    a. Ahl-Shuffah, orang-orang yang ikut pindah dengan nabi dari Makkah

    ke Madinah dan karena mereka tidak memiliki harta dan dalam

    keadaan miskin, mereka tinggal dimasjid nabi dan tidur dengan bantal

    pelana (Shuffah).

    b. Shaff yaitu barisan atau pertama. Sebagaimana shalat mereka disebut

    sufi. Karena dalam shalat atau beribadah kepada Tuhan selalu berada

    pada barisan pertama (al-Shaff al-Awwal).

    c. Shafa berarti suci, seseorang sufi adalah orang disucikan dan telah

    mensucikan dirinya melalui latihan berat dan lama.

    d. Sophos dari bahasa Yunani yang berarti hikmat atau pengetahuan

    sebagaimana orang-orang sufi berhubungan dengan hikmat.

    e. Shuf berarti bulu domba (woll) karena kaum sufi mempunyai tradisi

    atau kebiasaan berpakaian yang terbuat dari bulu domba sebagai

    simbul dari kesederhanaan dan kemiskinan.9

    Menurut Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani, sebagaimana

    dikutip oleh A.R. Ustman mengatakan bahwa tasawuf atau mistisisme

    adalah falsafah hidup yang dimaksudkan untuk meningkatkan jiwa

    seseorang manusia, secara moral lewat latihan-latihan praktis yang

    tertutup. Kadang untuk menyatakan fana dalam realitas yang tertinggi

    serta pengetahuan-Nya secara intuitif, tidak secara rasional yang buahnya

    9 Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani, Sufi dari Zaman Ke Zaman, alih bahasa A.R.

    Ustman, (Bandung: Mizan, 1985), hlm 21.

  • 21

    adalah kebahagiaan rohaniah.10 Sehingga hakikat realitasnya sulit

    diungkapkan dengan kata-kata, sebab karakternya bercorak intuitif dan

    subjektif.

    Sementara itu tasawuf juga dapat diartikan kesadaran artinya

    komunikasi dan dialog langsung antara seorang muslim dengan Tuhannya.

    Tasawuf merupakan suatu proses latihan dengan kesungguhan (Riadlah-

    Mujahadah) untuk membersihkan atau mempertinggi dan memperdalam

    nilai-nilai kerohanian dalam rangka mendekatkan diri (Taqqarub) kepada

    Allah, sehingga dengan cara itu konsentrasi seseorang hanya tertuju

    kepada-Nya.11

    Dengan demikian untuk mencapai tujuan tasawuf diperlukan

    proses atau jalan, latihan dan praktik-praktik yang tercakup dalam doktrin

    atau ajaran tasawuf yang disusun oleh para sufi. Dan pada tahapan inilah

    kemudian terjadi perubahan pandangan tentang ajaran tasawuf. Namun ada

    satu aspek tasawuf yang tidak menjadi pertentangan, yaitu moralitas-

    moralitas yang berdasarkan Islam.

    Tetapi pada dasarnya tasawuf adalah sebagai perwujudan dari

    ihsan yang berarti beribadah kepada Allah seakan-akan melihatnya,

    apa