apa itu aliran

of 43 /43
PEMBAGIAN PENGETAHUAN Saat ini pembagian pengetahuan yang dianggap baku boleh dikatakan tidak ada yang memuaskan dan diterima semua pihak. Pembagian yang lazim dipakai dalam dunia keilmuan di Barat terbagi menjadi dua saja, sains (pengetahuan ilmiah) dan humaniora. Termasuk ke dalam sains adalah ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences), dengan cabang-cabangnya masing-masing. Termasuk ke dalam humaniora adalah segala pengetahuan selain itu, misalnya filsafat, agama, seni, bahasa, dan sejarah. Penempatan beberapa jenis pengetahuan ke dalam kelompok besar humaniora sebenarnya menyisakan banyak kerancuan karena besarnya perbedaan di antara pengetahuan-pengetahuan itu, baik dari segi ontologi, epistemologi, maupun aksiologi. Kesamaannya barangkali terletak pada perbedaannya, atau barangkali sekadar pada fakta bahwa pengetahuan-pengetahuan humaniora itu tidak dapat digolongkan sebagai sains. Humaniora itu sendiri, pengindonesiaan yang tidak persis dari kata Inggris humanities, berarti (segala pengetahuan yang) berkaitan dengan atau perihal kemanusiaan. Tetapi kalau demikian, maka ilmu-ilmu sosial pun layak dimasukkan ke dalam humaniora karena sama-sama berkaitan dengan kemanusiaan. Perlu diketahui bahwa akhir-akhir ini kajian epistemologi di Barat cenderung menolak kategorisasi pengetahuan (terutama dalam humaniora dan ilmu sosial) yang ketat. Pemahaman kita akan suatu permasalahan tidak cukup mengandalkan analisis satu ilmu saja. Oleh karena itu muncullah gagasan pendekatan interdisiplin atau multidisplin dalam memahami suatu permasalahan. Bidang-bidang kajian yang ada di perguruan tinggi-perguruan tinggi Barat tidak lagi hanya berdasarkan jenis-jenis keilmuan tradisional, tetapi pada satu tema yang didekati dari gabungan berbagai disiplin. Misalnya program studi Timur Tengah, studi Asia Tenggara, studi- studi keislaman (Islamic studies), studi budaya (cultural studies), dll. Tema-tema yang dahulu menjadi monopoli satu ilmu pun kini harus didekati dari berbagai macam disiplin agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Wilayah-wilayah geografis tertentu,

Author: fachri-syapari

Post on 29-Jun-2015

293 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PEMBAGIAN PENGETAHUAN

Saat ini pembagian pengetahuan yang dianggap baku boleh dikatakan tidak ada yang memuaskan dan diterima semua pihak. Pembagian yang lazim dipakai dalam dunia keilmuan di Barat terbagi menjadi dua saja, sains (pengetahuan ilmiah) dan humaniora. Termasuk ke dalam sains adalah ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences), dengan cabangcabangnya masing-masing. Termasuk ke dalam humaniora adalah segala pengetahuan selain itu, misalnya filsafat, agama, seni, bahasa, dan sejarah. Penempatan beberapa jenis pengetahuan ke dalam kelompok besar humaniora sebenarnya menyisakan banyak kerancuan karena besarnya perbedaan di antara pengetahuan-pengetahuan itu, baik dari segi ontologi, epistemologi, maupun aksiologi. Kesamaannya barangkali terletak pada perbedaannya, atau barangkali sekadar pada fakta bahwa pengetahuan-pengetahuan humaniora itu tidak dapat digolongkan sebagai sains. Humaniora itu sendiri, pengindonesiaan yang tidak persis dari kata Inggris humanities, berarti (segala pengetahuan yang) berkaitan dengan atau perihal kemanusiaan. Tetapi kalau demikian, maka ilmu-ilmu sosial pun layak dimasukkan ke dalam humaniora karena sama-sama berkaitan dengan kemanusiaan. Perlu diketahui bahwa akhir-akhir ini kajian epistemologi di Barat cenderung menolak kategorisasi pengetahuan (terutama dalam humaniora dan ilmu sosial) yang ketat. Pemahaman kita akan suatu permasalahan tidak cukup mengandalkan analisis satu ilmu saja. Oleh karena itu muncullah gagasan pendekatan interdisiplin atau multidisplin dalam memahami suatu permasalahan. Bidang-bidang kajian yang ada di perguruan tinggi-perguruan tinggi Barat tidak lagi hanya berdasarkan jenis-jenis keilmuan tradisional, tetapi pada satu tema yang didekati dari gabungan berbagai disiplin. Misalnya program studi Timur Tengah, studi Asia Tenggara, studistudi keislaman (Islamic studies), studi budaya (cultural studies), dll. Tema-tema yang dahulu menjadi monopoli satu ilmu pun kini harus didekati dari berbagai macam disiplin agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif. Wilayah-wilayah geografis tertentu, misalnya Jawa, suku Papua, pedalaman Kalimantan, atau Maroko dan Indian, yang dahulu dimonopoli ilmu antropologi, kini harus dipahami dengan menggunakan berbagai macam disiplin (sosiologi, psikologi, semiotik, bahkan filsafat). Pendekatan interdisiplin ini pun kini menguat dalam kajian-kajian keislaman, termasuk dalam fikih. Untuk menentukan status hukum terutama dalam permasalahan kontemporer, pemakaian ilmu fikih murni tidak lagi memadai. Apalagi jika fikih dimengerti sebagai fikih warisan zaman mazhab-mazhab. Ilmu-ilmu modern saat ini menuntut untuk lebih banyak dilibatkan dalam penentuan hukum suatu masalah. Sekadar contoh, untuk menentukan hukum pembuatan bayi tabung, diperlukan pemahaman akan biologi dan kedokteran. Untuk menghukumi soal berbisnis di bursa saham, ilmu ekonomi harus dipahami. Dll.

TIGA ASPEK PENGETAHUAN

Ada tiga aspek yang membedakan satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya, yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi.Ontologi

Ontologi adalah pembahasan tentang hakekat pengetahuan. Ontologi membahas pertanyaanpertanyaan semacam ini: Objek apa yang ditelaah pengetahuan? Adakah objek tersebut? Bagaimana wujud hakikinya? Dapatkah objek tersebut diketahui oleh manusia, dan bagaimana caranya?Epistemologi

Epistemologi adalah pembahasan mengenai metode yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan. Epistemologi membahas pertanyaan-pertanyaan seperti: bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya suatu pengetahuan? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Lalu benar itu sendiri apa? Kriterianya apa saja?Aksiologi

Aksiologi adalah pembahasan mengenai nilai moral pengetahuan. Aksiologi menjawab pertanyaan-pertanyaan model begini: untuk apa pengetahuan itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan pengetahuan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara metode pengetahuan dengan norma-norma moral/profesional? Perbedaan suatu pengetahuan dengan pengetahuan lain tidak mesti dicirikan oleh perbedaan dalam ketiga aspek itu sekaligus. Bisa jadi objek dari dua pengetahuan sama, tetapi metode dan penggunaannya berbeda. Filsafat dan agama kerap bersinggungan dalam hal objek (sama-sama membahas hakekat alam, baik-buruk, benar-salah, dsb), tetapi metode keduanya jelas beda. Sementara perbedaan antar sains terutama terletak pada objeknya, sedangkan metodenya sama.SUMBER PENGETAHUAN Indera

Indera digunakan untuk berhubungan dengan dunia fisik atau lingkungan di sekitar kita. Indera ada bermacam-macam; yang paling pokok ada lima (panca indera), yakni indera penglihatan (mata) yang memungkinkan kita mengetahui warna, bentuk, dan ukuran suatu benda; indera pendengaran (telinga) yang membuat kita membedakan macam-macam suara; indera penciuman (hidung) untuk membedakan bermacam bau-bauan; indera perasa (lidah) yang membuat kita bisa membedakan makanan enak dan tidak enak; dan indera peraba (kulit) yang memungkinkan kita mengetahui suhu lingkungan dan kontur suatu benda.

Pengetahuan lewat indera disebut juga pengalaman, sifatnya empiris dan terukur. Kecenderungan yang berlebih kepada alat indera sebagai sumber pengetahuan yang utama, atau bahkan satusatunya sumber pengetahuan, menghasilkan aliran yang disebut empirisisme, dengan pelopornya John Locke (1632-1714) dan David Hume dari Inggris. Mengenai kesahihan pengetahuan jenis ini, seorang empirisis sejati akan mengatakan indera adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya, dan pengetahuan inderawi adalah satu-satunya pengetahuan yang benar. Tetapi mengandalkan pengetahuan semata-mata kepada indera jelas tidak mencukupi. Dalam banyak kasus, penangkapan indera seringkali tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Misalnya pensil yang dimasukkan ke dalam air terlihat bengkok, padahal sebelumnya lurus. Benda yang jauh terlihat lebih kecil, padahal ukuran sebenarnya lebih besar. Bunyi yang terlalu lemah atau terlalu keras tidak bisa kita dengar. Belum lagi kalau alat indera kita bermasalah, sedang sakit atau sudah rusak, maka kian sulitlah kita mengandalkan indera untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.Akal

Akal atau rasio merupakan fungsi dari organ yang secara fisik bertempat di dalam kepala, yakni otak. Akal mampu menambal kekurangan yang ada pada indera. Akallah yang bisa memastikan bahwa pensil dalam air itu tetap lurus, dan bentuk bulan tetap bulat walaupun tampaknya sabit. Keunggulan akal yang paling utama adalah kemampuannya menangkap esensi atau hakikat dari sesuatu, tanpa terikat pada fakta-fakta khusus. Akal bisa mengetahui hakekat umum dari kucing, tanpa harus mengaitkannya dengan kucing tertentu yang ada di rumah tetangganya, kucing hitam, kucing garong, atau kucing-kucingan. Akal mengetahui sesuatu tidak secara langsung, melainkan lewat kategori-kategori atau ide yang inheren dalam akal dan diyakini bersifat bawaan. Ketika kita memikirkan sesuatu, penangkapan akal atas sesuatu itu selalu sudah dibingkai oleh kategori. Kategori-kategori itu antara lain substansi, kuantitas, kualitas, relasi, waktu, tempat, dan keadaan. Pengetahuan yang diperoleh dengan akal bersifat rasional, logis, atau masuk akal. Pengutamaan akal di atas sumber-sumber pengetahuan lainnya, atau keyakinan bahwa akal adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang benar, disebut aliran rasionalisme, dengan pelopornya Rene Descartes (1596-1650) dari Prancis. Seorang rasionalis umumnya mencela pengetahuan yang diperoleh lewat indera sebagai semu, palsu, dan menipu.Hati atau Intuisi

Organ fisik yang berkaitan dengan fungsi hati atau intuisi tidak diketahui dengan pasti; ada yang menyebut jantung, ada juga yang menyebut otak bagian kanan. Pada praktiknya, intuisi muncul berupa pengetahuan yang tiba-tiba saja hadir dalam kesadaran, tanpa melalui proses penalaran yang jelas, non-analitis, dan tidak selalu logis. Intuisi bisa muncul kapan saja tanpa kita rencanakan, baik saat santai maupun tegang, ketika diam maupun bergerak. Kadang ia datang saat kita tengah jalan-jalan di trotoar, saat kita sedang mandi, bangun tidur, saat main catur, atau saat kita menikmati pemandangan alam.

Intuisi disebut juga ilham atau inspirasi. Meskipun pengetahuan intuisi hadir begitu saja secara tiba-tiba, namun tampaknya ia tidak jatuh ke sembarang orang, melainkan hanya kepada orang yang sebelumnya sudah berpikir keras mengenai suatu masalah. Ketika seseorang sudah memaksimalkan daya pikirnya dan mengalami kemacetan, lalu ia mengistirahatkan pikirannya dengan tidur atau bersantai, pada saat itulah intuisi berkemungkinan muncul. Oleh karena itu intuisi sering disebut supra-rasional atau suatu kemampuan yang berada di atas rasio, dan hanya berfungsi jika rasio sudah digunakan secara maksimal namun menemui jalan buntu. Hati bekerja pada wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh akal, yakni pengalaman emosional dan spiritual. Kelemahan akal ialah terpagari oleh kategori-kategori sehingga hal ini, menurut Immanuel Kant (1724-1804), membuat akal tidak pernah bisa sampai pada pengetahuan langsung tentang sesuatu sebagaimana adanya (das ding an sich) atau noumena. Akal hanya bisa menangkap yang tampak dari benda itu (fenoumena), sementara hati bisa mengalami sesuatu secara langsung tanpa terhalang oleh apapun, tanpa ada jarak antara subjek dan objek. Kecenderungan akal untuk selalu melakukan generalisasi (meng-umumkan) dan spatialisasi (meruang-ruangkan) membuatnya tidak akan mengerti keunikan-keunikan dari kejadian seharihari. Hati dapat memahami pengalaman-pengalaman khusus, misalnya pengalaman eksistensial, yakni pengalaman riil manusia seperti yang dirasakan langsung, bukan lewat konsepsi akal. Akal tidak bisa mengetahui rasa cinta, hatilah yang merasakannya. Bagi akal, satu jam di rutan salemba dan satu jam di pantai carita adalah sama, tapi bagi orang yang mengalaminya bisa sangat berbeda. Hati juga bisa merasakan pengalaman religius, berhubungan dengan Tuhan atau makhluk-makhluk gaib lainnya, dan juga pengalaman menyatu dengan alam. Pengutamaan hati sebagai sumber pengetahuan yang paling bisa dipercaya dibanding sumber lainnya disebut intuisionisme. Mayoritas filosof Muslim memercayai kelebihan hati atas akal. Puncaknya adalah Suhrawardi al-Maqtul (1153-1192) yang mengembangkan mazhab isyraqi (iluminasionisme), dan diteruskan oleh Mulla Shadra (w.1631). Di Barat, intuisionisme dikembangkan oleh Henry Bergson. Selain itu, ada sumber pengetahuan lain yang disebut wahyu. Wahyu adalah pemberitahuan langsung dari Tuhan kepada manusia dan mewujudkan dirinya dalam kitab suci agama. Namun sebagian pemikir Muslim ada yang menyamakan wahyu dengan intuisi, dalam pengertian wahyu sebagai jenis intuisi pada tingkat yang paling tinggi, dan hanya nabi yang bisa memerolehnya. Dalam tradisi filsafat Barat, pertentangan keras terjadi antara aliran empirisisme dan rasionalisme. Hingga awal abad ke-20, empirisisme masih memegang kendali dengan kuatnya kecenderungan positivisme di kalangan ilmuwan Barat. Sedangkan dalam tradisi filsafat Islam, pertentangan kuat terjadi antara aliran rasionalisme dan intuisionisme (iluminasionisme, irfani), dengan kemenangan pada aliran yang kedua. Dalam kisah perjalanan Nabi Khidir a.s. dan Musa a.s., penerimaan Musa atas tindakan-tindakan Khidir yang mulanya ia pertanyakan dianggap sebagai kemenangan intuisionisme. Penilaian positif umumnya para filosof Muslim atas intuisi ini kemungkinan besar dimaksudkan untuk memberikan status ontologis yang kuat pada wahyu, sebagai sumber pengetahuan yang lebih sahih daripada rasio.

LOGIKA

Logika adalah cara berpikir atau penalaran menuju kesimpulan yang benar. Aristoteles (384-322 SM) adalah pembangun logika yang pertama. Logika Aristoteles ini, menurut Immanuel Kant, 21 abad kemudian, tidak mengalami perubahan sedikit pun, baik penambahan maupun pengurangan. Aristoteles memerkenalkan dua bentuk logika yang sekarang kita kenal dengan istilah deduksi dan induksi. Logika deduksi, dikenal juga dengan nama silogisme, adalah menarik kesimpulan dari pernyataan umum atas hal yang khusus. Contoh terkenal dari silogisme adalah: - Semua manusia akan mati (pernyataan umum, premis mayor) - Isnur manusia (pernyataan antara, premis minor) - Isnur akan mati (kesimpulan, konklusi) Logika induksi adalah kebalikan dari deduksi, yaitu menarik kesimpulan dari pernyataanpernyataan yang bersifat khusus menuju pernyataan umum. Contoh: - Isnur adalah manusia, dan ia mati (pernyataan khusus) - Muhammad, Asep, dll adalah manusia, dan semuanya mati (pernyataan antara) - Semua manusia akan mati (kesimpulan)TEORI-TEORI KEBENARAN Korespondensi

Sebuah pernyataan dikatakan benar bila sesuai dengan fakta atau kenyataan. Contoh pernyataan bentuk air selalu sesuai dengan ruang yang ditempatinya, adalah benar karena kenyataannya demikian. Kota Jakarta ada di pulau Jawa adalah benar karena sesuai dengan fakta (bisa dilihat di peta). Korespondensi memakai logika induksi.Koherensi

Sebuah pernyataan dikatakan benar bila konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Contoh pernyataan Asep akan mati sesuai (koheren) dengan pernyataan sebelumnya bahwa semua manusia akan mati dan Asep adalah manusia. Terlihat di sini, logika yang dipakai dalam koherensi adalah logika deduksi.Pragmatik

Sebuah pernyataan dikatakan benar jika berguna (fungsional) dalam situasi praktis. Kebenaran pragmatik dapat menjadi titik pertemuan antara koherensi dan korespondensi. Jika ada dua teori

keilmuan yang sudah memenuhi kriteria dua teori kebenaran di atas, maka yang diambil adalah teori yang lebih mudah dipraktikkan. Agama dan seni bisa cocok jika diukur dengan teori kebenaran ini. Agama, dengan satu pernyataannya misalnya Tuhan ada, adalah benar secara pragmatik (adanya Tuhan berguna untuk menopang nilai-nilai hidup manusia dan menjadikannya teratur), lepas dari apakah Tuhan ada itu sesuai dengan fakta atau tidak, konsisten dengan pernyataan sebelumnya atau tidak. *** Setelah mengemukakan hal-hal penting yang menjadi dasar pengetahuan, berikutnya kita akan meninjau aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari tiga macam pengetahuan yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia, yakni filsafat, agama, dan sains.FILSAFAT

Sering dikatakan bahwa filsafat adalah induk segala ilmu. Pernyataan ini tidak salah karena ilmuilmu yang ada sekarang, baik ilmu alam maupun ilmu sosial, mulanya berada dalam kajian filsafat. Pada zaman dulu tidak dibedakan antara ilmuwan dengan filosof. Isaac Newton (16421627) menulis hukum-hukum fisikanya dalam buku yang berjudul Philosophie Naturalis Principia Mathematica (terbit 1686). Adam Smith (1723-1790) bapak ilmu ekonomi menulis buku The Wealth of Nations (1776) dalam kapasitasnya sebagai Professor of Moral Philosophy di Universitas Glasgow. Kita juga mengenal Ibnu Sina (w.1037) sebagai bapak kedokteran yang menyusun ensiklopedi besar al-Qanun fi al-Thibb sekaligus sebagai filosof yang mengarang Kitab al-Syifa. Definisi filsafat tidak akan diberikan karena para ahli sendiri berbeda-beda dalam merumuskannya. Cukup di sini disinggung mengenai ciri-ciri dari filsafat, sebagaimana diuraikan Suriasumantri (1998), yaitu menyeluruh (membahas segala hal atau satu hal dalam kaitannya dengan hal-hal lain), radikal (meneliti sesuatu secara mendalam, mendasar hingga ke akar-akarnya), dan spekulatif (memulai penyelidikannya dari titik yang ditentukan begitu saja secara apriori). Spekulatif juga bermakna rasional. Objek kajian filsafat sangat luas, bahkan boleh dikatakan tak terbatas. Filsafat memelajari segala realitas yang ada dan mungkin ada; lebih luas lagi, segala hal yang mungkin dipikirkan oleh akal. Sejauh ini, terdapat tiga realitas besar yang dikaji filsafat, yakni Tuhan (metakosmos), manusia (mikrokosmos), dan alam (makrokosmos). Sebagian objek filsafat telah diambil-alih oleh sains, yakni objek-objek yang bersifat empiris. Objek-objek kajian filsafat yang luas itu coba dikelompokkan oleh para ahli ke dalam beberapa bidang. Berbeda-beda hasil pembagian mereka. Jujun Suriasumantri (1998) membagi bidang kajian filsafat itu ke dalam empat bagian besar, yakni logika (membahas apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah), etika (membahas perihal baik dan buruk), estetika (membahas perihal indah dan jelek), dan metafisika (membahas perihal hakikat keberadaan zat atau sesuatu di balik yang fisik). Empat bagian ini bercabang-cabang lagi menjadi banyak sekali. Hampir tiap ilmu yang dikenal sekarang ada filsafatnya, misalnya filsafat ilmu, filsafat ekonomi, filsafat hukum, filsafat pendidikan, dan filsafat sejarah.

Epistemologi filsafat adalah rasional murni (bedakan dengan rasionalisme). Artinya pengetahuan yang disebut filsafat diperoleh semata-mata lewat kerja akal. Sumber pengetahuan filsafat adalah rasio atau akal. Sumber pengetahuan lain yang mungkin memengaruhi pikiran seorang filosof ditekan seminimal mungkin, dan kalau bisa hingga ke titik nol. Atau pengetahuan-pengetahuan itu diverifikasi oleh akalnya, apakah rasional atau tidak. Misalnya seorang filosof yang beragama Islam tentu telah memeroleh pengetahuan dari ajaran agamanya. Dalam hal ini ada dua hal yang bisa ia lakukan: menolak ajaran agama yang menurutnya tidak rasional, atau mencari pembenaran rasional bagi ajaran agama yang tampaknya tidak rasional. Filsafat bertujuan untuk mencari Kebenaran (dengan K besar), artinya kebenaran yang sungguhsungguh benar, kebenaran akhir. Sifat aksiologis filsafat ini tampak dari asal katanya philos (cinta) dan sophia (pengetahuan, kebijaksanaan, kebenaran). Seorang filosof tidak akan berhenti pada pengetahuan yang tampak benar, melainkan menyelidiki hingga ke baliknya. Ia tidak akan puas jika dalam pemikirannya masih terdapat kontradiksi-kontradiksi, kesalahan-kesalahan berpikir, meskipun dalam kenyataannya tidak ada seorang filosof pun yang filsafatnya bebas dari kontradiksi. Dengan kata lain, tidak ada filosof yang berhasil sampai pada Kebenaran atau kebenaran akhir itu. Semuanya hanya bisa disebut mendekati Kebenaran. Kebenaran yang diperoleh dari filsafat itu sebagian ada yang berkembang menjadi ajaran hidup, isme. Filsafat yang sudah menjadi isme ini difungsikan oleh penganutnya sebagai sumber nilai yang menopang kehidupannya. Misalnya ajaran Aristotelianisme banyak dipakai oleh kaum agamawan gereja; ajaran neoplatonisme banyak dipakai oleh kaum mistik; materialisme, komunisme, dan eksistensialisme bahkan sempat menjadi semacam padanan agama (the religion equivalen), yang berfungsi layaknya agama formal.AGAMA

Agama kerap berebutan lahan dengan filsafat. Objek agama dalam banyak hal hampir sama dengan filsafat, hanya lebih sempit dan lebih praktis. Seperti filsafat, agama juga membahas Tuhan, manusia, dan alam. Seperti filsafat, agama juga menyoal metafisika, namun jawabannya sudah jelas: hakikat segala sesuatu adalah Tuhan. Selain Tuhan, objek pokok dari agama adalah etika khususnya yang bersifat praktis sehari-hari. Yang membedakan agama dari filsafat terutama adalah epistemologi atau metodenya. Pengetahuan agama berasal dari wahyu Tuhan yang diberikan kepada Nabi, dan kita memerolehnya dengan jalan percaya bahwa Nabi benar. Pada agama, yang harus kita lakukan adalah beriman, baru berpikir. Kita boleh memertanyakan kebenaran agama, setelah menerima dan memercayainya, dengan cara lain (rasional atau empiris). Tapi ujung-ujungnya kita tetap harus percaya meskipun apa yang disampaikan agama itu tidak masuk akal atau tidak terbukti dalam kenyataan. Jawaban yang diberikan agama atas satu masalah bisa sama, berbeda, atau bertentangan dengan jawaban filsafat. Dalam hal ini, latar belakang keberagamaan seorang filosof sangat memengaruhi. Jika ia beragama, biasanya ia cenderung mendamaikan agama dengan filsafat, seperti tampak pada filsafat skolastik, baik filsafat Yahudi, Kristen, maupun Islam. Jika ia tidak beragama, biasanya filsafatnya berbeda atau bertentangan dengan agama.

Secara praktis, agama sangat fungsional dalam kehidupan manusia. Fungsi utama agama adalah sebagai sumber nilai (moral) untuk dijadikan pegangan dalam hidup budaya manusia. Agama juga memberikan orientasi atau arah dari tindakan manusia. Orientasi itu memberikan makna dan menjauhkan manusia dari kehidupan yang sia-sia. Nilai, orientasi, dan makna itu terutama bersumber dari kepercayaan akan adanya Tuhan dan kehidupan setelah mati. (Coba perhatikan, dalam Alquran, objek iman yang paling banyak disebut bahkan selalu disebut beriringan adalah iman kepada Allah dan hari kemudian).SAINS Ontologi

Sains (dalam bahasa Indonesia disebut juga ilmu, ilmu pengetahuan, atau pengetahuan ilmiah) adalah pengetahuan yang tertata (any organized knowledge) secara sistematis dan diperoleh melalui metode ilmiah (scientific method). Sains memelajari segala sesuatu sepanjang masih berada dalam lingkup pengalaman empiris manusia. Objek sains terbagi dua, objek material dan objek formal. Objek material terbatas jumlahnya dan satu atau lebih sains bisa memiliki objek material yang sama. Sains dibedakan satu sama lain berdasarkan objek formalnya. Sosiologi dan antropologi memiliki objek material yang sama, yakni masyarakat. Namun objek formalnya beda. Sosiologi memelajari struktur dan dinamika masyarakat, antropologi memelajari masyarakat dalam budaya tertentu. Sains atau ilmu dibedakan secara garis besar menjadi dua kelompok, yaitu ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan ilmu-ilmu sosial (social sciences). Ilmu-ilmu alam memelajari bendabenda fisik, dan secara garis besar dibedakan lagi menjadi dua, yaitu ilmu alam (fisika, kimia, astronomi, geologi, dll) dan ilmu hayat (biologi, anatomi, botani, zoologi, dll). Tiap-tiap cabang ilmu itu bercabang-cabang lagi menjadi banyak sekali. Ilmu kimia saja, menurut Jujun Suriasumantri, memiliki 150 disiplin. Ilmu-ilmu sosial memelajari manusia dan masyarakat. Perkembangan ilmu sosial tidak sepesat ilmu alam, dikarenakan manusia tidak seempiris benda-benda alam, juga karena benturan antara metodologi dengan norma-norma moral. Namun saat ini pun ilmu-ilmu sosial sudah sangat beragam dan canggih. Yang paling utama adalah sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi, dan politik.Epistemologi

Sains diperoleh melalui metode sains (scientific method) atau biasa diterjemahkan menjadi metode ilmiah. Metode ini menggabungkan keunggulan rasionalisme dan empirisisme, kekuatan logika deduksi dan induksi, serta mencakup teori kebenaran korespondensi, koherensi, dan pragmatik. Karena penggabungan ini, sains memenuhi sifat rasional sekaligus empiris. Sains juga bersifat sistematis karena disusun dan diperoleh lewat suatu metode yang jelas. Bagi kaum positivis, sains juga bersifat objektif, artinya berlaku di semua tempat dan bagi setiap pengamat. Namun sejak munculnya teori relativitas Einstein, apalagi pada masa postmodern ini, klaim objektivitas sains tidak bisa lagi dipertahankan.

Secara ringkas, metode ilmiah disusun menurut urutan sebagai berikut:y y y y y

Menemukan dan merumuskan masalah Menyusun kerangka teoritis Membuat hipotesis Menguji hipotesis dengan percobaan (observasi, eksperimen, dll). Menarik kesimpulan.

Kesimpulan yang diperoleh itu disebut teori. Untuk benar-benar dianggap sahih dan bisa bertahan, sebuah teori harus diuji lagi berkali-kali dalam serangkaian percobaan, baik oleh penemunya maupun oleh ilmuwan lain. Pengujian ini disebut verifikasi (pembuktian benar). Sebuah teori bisa juga diuji dengan cara sebaliknya, yaitu sebagaimana diusulkan Karl Popper, falsifikasi (pembuktian salah). Dengan falsifikasi, jika untuk sebuah teori dilakukan 1000 percobaan, 1 saja dari 1000 percobaan itu menunjukkan adanya kesalahan, maka teori itu tidak perlu dipertahankan lagi. Contoh, jika dinyatakan kepada kita bahwa semua burung gagak hitam, dan di suatu tempat kita menemukan satu burung gagak yang tidak hitam, berarti pernyataan itu salah. Namun dalam sebuah teori, sebetulnya yang lebih penting bukanlah ketiadaan salah sama sekali, karena itu sangat berat bahkan tidak mungkin untuk teori ilmu sosial, namun seberapa besar kemungkinan teori itu benar (probabilitas). Probabilitas benar 95 persen dianggap sudah cukup untuk men-sahihkan sebuah teori dan memakainya untuk memecahkan masalah.Aksiologi

Pengetahuan yang diperoleh lewat metode sains bukanlah terutama untuk pengetahuan itu sendiri, melainkan sebagai alat untuk membantu manusia dalam memecahkan masalah seharihari. Kegunaan ini diperoleh dengan tiga cara, description (menjelaskan), prediction (meramal, memerkirakan), dan controling (mengontrol). Penjelasan diperoleh dari teori. Dihadapkan pada masalah praktis, teori akan memerkirakan apa yang akan terjadi. Dari perkiraan itu, kita memersiapkan langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mengontrol segala hal yang mungkin timbul, entah itu merugikan atau menguntungkan. Satu sisi yang sering diperdebatkan adalah menyangkut netralitas sains, kaitannya dengan agama atau ideologi tertentu. Pada dasarnya sains itu netral, atau setidaknya bermaksud untuk netral, dalam arti ia hanya bermaksud menjelaskan sesuatu secara apa adanya. Tetapi sains dapat mengilhami suatu pandangan dunia tertentu, dan ini tidak netral. Misalnya teori evolusi Darwin dapat menjadi pandangan dunia yang mekanistik dan ateistik. Dan hal ini sangat mencemaskan bagi kaum agamawan. Lahirnya suatu teori juga ternyata tidak bisa dilepaskan dari konteks tempat teori itu dilahirkan. Konteks meliputi pandangan dunia yang dianut ilmuwan, latar belakang budaya, bahasa, dll. Pengaruh konteks ini terutama sangat terasa pada sains sosial sehingga suatu sains bisa menghasilkan beragam aliran dan perspektif. []

Referensi pokok:

Kartanegara, Mulyadhi, Menyibak Tirai Kejahilan: Pengantar Epistemologi Islam, Bandung: Mizan, 2003. Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Suatu Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan, 1998. Catatan: Tulisan ini pada awalnya dibuat untuk memenuhi kebutuhan penulis ketika sering diundang mengisi materi Filsafat Ilmu di Latihan Kader 1 (Basic Training) HMI.makalah filsafat epistimology Kamis, 28 Mei 2009 by wans Label: filsafat umum

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Seiring dengan berkembangnya pengetahuan, kita mengenal metode ilmiah yang merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Namun tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu, sebab ilmu merupakanpengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang tercantum dalam apa yang dinamakan dengan metode ilmiah. Metodologi ini secara filsafati termasuk dalam apa yang dinamakan epistemologi.1 Untuk lebih mengenal epstemologyi, didalam halaman-halaman berikut akan disajikan sebuah saduran dari beberapa buku yang berkaitan.

B.Rumusan Masalah 1)Apakah definisi Epistemologi ? 2)Apakah dasar Epistemologi Ilmu ? 3)Apa sajakah sumber pengetahuan ? 4)Bagaimanakah Struktur Ilmu Pengetahuan ?

BAB II PEMBAHASAN 1)Pengertian Istilah epistemologi berasal dari kata episteme yang berarti pengetahun, dan logos yang berarti teori. Secara Etimologis, berarti teori pengetahuan. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang mempersoalkan atau menyelidiki tentang asal, susunan, metode, serta kebenaran pengetahuan. Menurut Langeveld, teori pengetahuan membicarakan hakiakt pengetahuan, unsure-unsur pengetahuan, dan susunan berbagai jenis pengetahuan.2 Epistemologi, atau filsafat pengetahuan, adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dari skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dasarnya, serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.3 Adapun perbedaan antara ilmu dan pengetahuan adalah : a.Pengetahuan : yang dimaksud adalah pengertian sehari-hari. Contoh :gula rasanya manis b.Ilmu : pengetahuan mengenai ilmu. Contoh; meneliti manisnya gula Adapun teori kebenaran diantaranya adalah : Korespondensi, kesesuaian. Koherensi, keterkaitan. Pragmatik, kegunaan. 2)Dasar Epistemologi Ilmu Landasan atau dasar Epistemologi Ilmu disebut metode ilmiah. Dengan kata lain metode ilmiah adalah cara yang dilakuakn ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar.4 Epistemologi atau teori pengetahuan, membahas secara mendalam segenap proses yang terlihat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Ditinjau dari pengetahuan ini, ilmu lebih bersifat merupakan kegiatan daripada sekedar produk yang siap diasumsikan. Kata sifat keilmuan lebih mencerminkan hakikat ilmu daripada istilah ilmu sebagai kata benda. Kegiatan ilmu juga bersifat dinamis, tidak statis. Kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun, selama hal itu terbatas pada objek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan mempergunakan metode keilmuan, adalah sah untuk disebut keilmuan. Seorang sarjana yang mempunyai profesi bidang ilmu belum tentu mendekati masalah ilmunya ssecara keilmuan. Hakikat ilmu tidak berhubungan dengan title, profesi, atau kedudukan. Hakikat ilmu ditentukan oleh cara berfikir yang dilakukan menurut persyaratan

keilmuan.5 3)Sumber Pengetahuan Dalam hidup ini dan kehidupan ini, manusia melihat masalah, lalu memikirkan masalah itu dan mengamati dengan cermat, kemudian menghubung-hubungkan hasil pengamatannya itu. Demikian misalnya, Izaac Newton, yang pada suatu hari duduk dibelakang rumahnya. Kemudian dia melihay sebuah apel yang jatuh dari pohonnya. Ia heran, mengapa apel itu jatuh dari pohonnya dan tidak melayang-layang diangkasa. Hal ini yang mendorongnya untuk meneliti terus-menerus, hingga ditemukan The Law of Gravitation dengan daya tarik bumi, maka benda ynag memiliki bobot akan jatuh kebumi. Dalam hipotesis adanya WAhyu Allah, maka dapatlah dikatakan bahwa ada empat sember pengetahuan manusia, yaitu : a)Empirisme Pengalaman manusia, Dengan ini muncul aliran Empirisme yang dipelopori oleh tokoh John Locke. Manusia dilahirkan sebagai kertas putih / meja putih. Pengalamanlah yang akan memberikan lukisan padanya. Dunia empiris merupakan sember pengetahaun, utama dalam dunia pendidikan, terkenal dengan teori Tabula Rasa ( teori kertas putih) Empirisme merupakan aliran dalam filsafat yang berpendapat bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman, observasi, dan penginderaan. b)Rasionalisme Pikiran manusia, hal ini melahirkan faham rasionalisme, yang berpendapat bahwa sumber satusatunya dari pengetahuan manusia adalah rasionya. Pelopornya adalah Rene Descrates. Aliran ini sangat mendewakan akal budi manusia yang melahirkan paham intelektualisme dalam dunia pendidikan. c)Intuisionisme Secara etimologi, istilah intuisi, berarti langsung melihat, secara umum, merupakan suatu metode yang tidak berdasarkan penalaran maupun pengalaman dan pengamatan indra. Intuisi manusia, kalau pengetahuan yang diperoleh secara rsional dan empiris yang merupakan produk dari sesuatu rangkaian nalar, maka intuisi merupakan pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui proses penalaran itu. Jawaban dari permasalahan yang sedang dipikirkan muncul dibenak manusia sebagai suatu keyakinann yang benar walaupun manusia tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya untuk sampai kesitu secara rasionala. Pengetahuan intuitif diapaki sebagai hipotesis bagi analisis selanjutnya dalam menetapkan benar tidaknya penetapan yang dikemuakakan itu. d)Wahyu Alloh Pengetahuan yang disampaikan oleh Alloh kepada manusi lewat para nabi yang diutusnya. Antara kesemua sumber peengetahaun itu tidak mungkin ada kontradiksi. Apa sebab / karena

semuanya bersal dari satu sumber, yaitu Tuhan. Jika terasa ada kontradiksi atau pertentangan itu hanyalah tampilannya saja.6 D.Struktur Ilmu Pengetahuan keserbanekaan masalah dalam suatu penelitian menyebabkan adanya kebutuhan untuk memberikan penjelasan, ramalan, dan bataan yang harus sesuai dengan ilmu itu sendiri. a)Penjelasan Penjelasan yang lazimnya selalu diikuti dengan pemahaman merupakan pelengkap dari permulaan dalam penelitian dari sesuatu yang di catat untuk disusun sebagai hipotesis yang baik dan menarik. Adapun macam penjelasan dalam pengetahuan ilmiah antara lain : Penjelasan Logis Adakalanya penjelasan deduktif, menarik kesimpulan berdasar hal-hal yang bersifat umum. Penjelasan induktif, penjelasan yang mempergunakan pangkal tolak pada hal-hal khusus, tertentu, untuk sampai pada hal yang umum. Penjelasan fungsional/ teologis Bentuk penjelasan yang hendak memberikan gambaran atas sesuatu dengan mengemukakan apa yang diselidiki. Penjelasan historis Penjelasan ini berusaha menjawab pertanyaaan mengenai sesuatu itu terjadi.

b)Ramalan seorang ilmuan yang baik tidak puas karena hal yang berupa kebenaran yang telah dicapainya, jika belum diuji dengan cara yang sesuai dengan masalahnya. Satu hal yang patut dipakai dalam persiapan pengujian, disamping penjelasan juga ramalan atau prediksi. C.Batasan atau pengontrol Adalah pengertian yang lengkap tentang sesuatuistilah dimana tercakup semua unsur yang menjadi ciri penentu atau utama dari istilah itu dengan kata lain adalah pengertian yang berupa suatu proposisi yang diterima secara umum untuk mencapai tujuan yang khusus dari penjelasan itu.7 l-Kindi ( ) (lahir: 801 wafat: 873), bisa dikatakan merupakan filsuf pertama yang lahir dari kalangan Islam. Semasa hidupnya, selain bisa berbahasa Arab, ia mahir berbahasa Yunani pula. Banyak karya-karya para filsuf Yunani diterjemahkannya dalam bahasa Arab; antara lain karya Aristoteles dan Plotinus. Sayangnya ada sebuah karya Plotinus yang diterjemahkannya sebagai karangan Aristoteles dan berjudulkan Teologi menurut Aristoteles, sehingga di kemudian hari ada sedikit kebingungan. Al-Kindi berasal dari kalangan bangsawan, dari Irak. Ia berasal dari suku Kindah, hidup di Basra dan meninggal di Bagdad pada tahun 873. Ia merupakan seorang tokoh besar dari bangsa Arab

yang menjadi pengikut Aristoteles, yang telah mempengaruhi konsep al Kindi dalam berbagai doktrin pemikiran dalam bidang sains dan psikologi. Al Kindi menuliskan banyak karya dalam berbagai bidang, geometri, astronomi, astrologi, aritmatika, musik(yang dibangunnya dari berbagai prinip aritmatis), fisika, medis, psikologi, meteorologi, dan politik. Ia membedakan antara intelek aktif dengan intelek pasif yang diaktualkan dari bentuk intelek itu sendiri. Argumen diskursif dan tindakan demonstratif ia anggap sebagai pengaruh dari intelek ketiga dan yang keempat. Dalam ontologi dia mencoba mengambil parameter dari kategorikategori yang ada, yang ia kenalkan dalam lima bagian: zat(materi), bentuk, gerak, tempat, waktu, yang ia sebut sebagai substansi primer. Al Kindi mengumpulkan berbagai karya filsafat secara ensiklopedis, yang kemudian diselesaikan oleh Ibnu Sina (Avicenna) seabad kemudian. Ia juga tokoh pertama yang berhadapan dengan berbagai aksi kejam dan penyiksaan yang dilancarkan oleh para bangsawan religius-ortodoks terhadap berbagai pemikiran yang dianggap bidah, dan dalam keadaan yang sedemikian tragis (terhadap para pemikir besar Islam) al Kindi dapat membebaskan diri dari upaya kejam para bangsawan ortodoks itu.

RIWAYAT HIDUP Al-Kindi merupakan nama yang diambil dari suku yang menjadi asal cikal bakalnya, yaitu Banu Kindah. Banu Kindah adalah suku keturunan Kindah yang sejak dulu menempati daerah selatan Jazirah Arab yang tergolong memiliki apresiasi kebudayaan yang cukup tinggi dan banyak dikagumi orang. Sedangkan nama lengkap Al-Kindi adalah Abu Yusuf Yaqub bin Ishaq As-Shabbah bin imron bin Ismail al-Asyad bin Qays al-Kindi. Lahir pada tahun 185 H (801 M) di Kuffah. Ayahnya Ishaq As-Shabbah adalah gubernur Kuffah pada masa pemerintahan al-Mahdi dan Harun arRasyid dari bani Abbas. Ayahnya meninggal beberapa tahun setelah al-Kindi lahir. Pada masa kecilnya al-Kindi sempat merasakan masa pemerintahan khalifah Harun ar-Rasyid yang terkenal kepeduliannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan bagi kaum muslim. Ilmu pengetahuan berpusat di Baghdad yang sekaligus menjadi pusat perdagangan. Pada masa pemerintahan ar-Rasyid sempat didirikan lembaga yang disebut bayt al-Hikmah (Balai Ilmu Pengetahuan). pada waktu al-Kindi berusia 9 tahun ar-Rasyid wafat dan pemerintahan diambil alih oleh putranya al-Amin yang tidak melanjutkan usaha ayahnya ar-Rasyid untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun setelah beliau wafat pada tahun 185 H (813 H) kemudian saudaranya al-Makmun menggantikan kedudukannya sebagai khalifah (198-228 H) ilmu pengetahuan berkembang pesat. Fungsi Bayt al-hikmah lebih ditingkatkan, sehingga pada masa pemerintahan al-Makmun berhasil dipadukannya antara ilmu-ilmu keislaman dan ilmuilmu asing khususnya dari Yunani. Dan pada waktu inilah al-Kindi menjadi sebagai salah seorang tokoh yang mendapat kepercayaan untuk menterjemahkan kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab, bahkan dia memberi komentar terhadap pikiran-pikiran pada filosuf Yunani.

Masa kecil al-Kindi mendapat pendidikan di Bashrah. Tentang siapa guru-gurunya tidak dikenal, karena tidak terekam dalam sejarah hidupnya. Setelah menyesaikan pendidikannya di Bashrah ia melanjutkan ke Baghdad hingga tamat, ia banyak mengusai berbagai macam ilmu yang berkembang pada masa itu seperti ilmu ketabiban (kedokteran), filsafat, ilmu hitung, manthiq (logika), geometri, astronomi dan lain-lain. Pendeknya ilmu-ilmu yang berasal dari Yunani juga ia pelajari dan sekurang-kurangnya salah satu bahasa ilmu pengetahuan kala itu ia kuasai dengan baik yaitu bahasa Suryani. Dari buku-buku Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani inilah Al-Kindi menterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pada masa pemerintahan al-Mutashim yang menggantikan al-Makmun pada tahun 218 H (833 M) nama al-Kindi semakin menanjak karena pada waktu itu al-Kindi dipercaya pihak istana menjadi guru pribadi pendidik putranya yaitu Ahmad bin Mutashim. Pada masa inilah al-Kindi mempunyai kesempatan untuk menulis karya-karyanya, setelah pada masa al-Mamun menterjemahkan kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab. KARYA-KARYA AL-KINDI Karya yang telah dihasilkan oleh al-Kindi kebanyakan hanya berupa makalah-makalah. Ibnu Nadim, dalam kitabnya Al-Fihrits, menyebutkan lebih dari 230 buah.[1] George N. atiyeh menyebutkan judul-judul makalah dan kitab-kitab karangan al-Kindi sebanyak 270 buah.[2] Dalam bidang Filsafat, karangan al-Kindi pernah diterbitkan oleh Prof. Abu Ridah (1950) dengan judul Rosail al-Kindi al-Falasifah (Makalah-makalah filsafat al-Kindi) yang berisi 29 makalah. Prof. Ahmad Fuad Al-Ahwani pernah menerbitkan makalah al-Kindi tentang filsafat pertamanya dengan judul Kita al-Kindi ila al-Mutashim Billah fi al-Falsafah al-Ula (Surat al-Kindi kepada Mutashim Billah tentang filsafat pertama). Karangan-karang al-Kindi mengenai filsafat menunjukkan ketelitian dan kecermatannya dalam memberikan batsasan-batasan makna istilah-istilah yang digunakan dalam terminologi ilmu filsafat. Ilmu-ilmu filsafat yang ia bahas mencakup epistemologi, metafisika, etika dan sebagainya. Sebagaimana halnya para penganut Phytagoras, al-Kindi juga mengatakan bahwa dengan matematika orang tidak bisa berfilsafat dengan baik. Kalau dilihat dari karangannya al-Kindi adalah penganut aliran eklektisisme.[3] Dalam metafisika dan kosmologi ia mengambil pendapat-pendapat Aristoteles, dalam Psikologi ia mengambil pendapat Plato, dalam bidang etika ia mengambil pendapat-pendapat Socrates dan Plato. Namun kepribadian al-Kindi sebagai filosuf Muslim tetap bertahan. Misalnya dalam membicarakan tentang kejadian alam al-Kidi tidak sependapat dengan Aristoteles yang mengatakan bahwa alam itu abadi, ia tetap berpegang pada keyakinannya bahwa alam adalah ciptaan Allah, diciptakan dari tiada dan akan berakhir menjadi tiada pula. Sebagai seorang filosuf yang mempelopori mempertemukan agama dengan filsafat Yunani, alKindi menghadapi banyak tantangan para ahli agama. Ia dianggap telah meremehkan bahkan membodoh-bodohi ulama yang tidak mengetahui filsafat Yunani. Fitnah-fitnah yang ditujukan kepadanya semakin deras dan keras, terutama pada masa pemirantahan Mutawakkil. Al-Kindi

mengatakan bahwa filsafat adalah semulia-mulianya ilmu dan yang tertinggi martabatnya, dan filsafat menjadi kewajiban setiap ahli pikir (ulul albab) untuk memiliki filsafat itu. Pernyataan ini terutama tertuju kepada ahli-ahli agama yang mengingkari filsafat dengan dalih sebagai ilmu syirik, jalan menuju kekafiran dan keluar dari agama. Menurut al-Kindi, berfilsafat tidaklah berakibat mengaburkan dan mengorbankan keyakinan agama. Filsafat sejalan dan dapat mengabdi kepada agama. DEFINISI FILSAFAT AL-KINDI Al-Kindi menyajikan banyak definisi filsafat tanpa menyatakan bahwa definisi mana yang menjadi miliknya. yang disajikan adalah definisi-definisi terdahulu, itupun tanpa mengaskan dari siapa definisi tersebut ia peroleh. Mungkin hal ini dimaksudkan bahwa pengertian sebenarnya tercakup dalam semua definisi yang ada, tidak hanya pada salah satunya. Menurut al-Kindi untuk memperoleh pengertian lengkap tentang apa filsafat itu harus memperhatikan semua unsur yang terdapat dalam semua definisi tentang filsafat. Definisi-definisi al-Kindi sebagai berikut : 1. Filsafat terdiri dari gabungan dua kata, Philo, Sahabat dan Sophia, Kebijaksanaan. Filsafat adalah cinta terhadap kebijaksanaan. Definisi ini berdasar atas etimologo Yunani dari kata-kata itu. 2. Filsafat adalah upaya manusia meneladani perbuatan-perbuatan Tuhan sejauh dapat dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Definisi ini merupakan definisi fungsional, yaitu meninjau filsafat dari segi tingkah laku manusia. 3. Filsafat adalah latihan untuk mati. Yang dimaksud dengan mati adalah bercerainya jiwa dan badan. Atau mematikan hawa nafsu adalah mencapai keutamaan. Oleh karenanya, banyak orang bijak terdahulu yang menyatakan bahwa kenikmatan adalah kejahatan. Definisi juga merupakan definisi fungsional, yang bertitik tolak pada segi tingkah laku manusia pula. 4. Filsafat adalah pengetahuan dari segala pengetahuan dan kebijaksanaan. Definisi ini bertitik tolak dari segi kausa. 5. Filsafat adalah pengetahuan manusia tentang dirinya. Definisi ini menitik beratkan pada fungsi filsafat sebagai upaya manusia untuk mengenal dirinya sendiri. Para filosuf berpendapat bahwa manusia adalah badan, jiwa dan aksedensial manusia yang mengetahui dirinya demikian itu berarti mengetahui segala sesuatu. Dari sinilah para filosuf menamakan manusia sebagai mikrokosomos. 6. Filsafat adalah pengetahuan tentang segala sesuatu yang abadi dan bersifat menyeluruh (umum), baik esensinya maupun kausa-kausanya. Definisi ini menitikberatkan dari sudut pandang materinya. Dari bebrapa definisi yang amat beragam di atas, tampaknya al-Kindi menjatuhkan pada definisi terakhir dengan menambahkan suatu cita filsafat, yaitu sebagai upaya mengamalkan nilai keutamaan. Menurut al-Kindi, filosuf adalah orang yang berupaya memperoleh kebenaran dan hidup mengamalkan kebenaran yang diperolehnya yaitu orang yang hidup menjunjung tinggi nilai keadilan atau hidup adil. Dengan demikian, filsafat yang sebenarnya bukan hanya pengetahuan tentang kebenaran, tetapi disamping itu juga merupakan aktualisasi atau pengamalan dari kebenaran itu. Filosuf sejati adalah yang mampu memperoleh kebijaksanaan dan mengaktualisasikan atau mengamalkan kebijaksanaan itu. Hal yang disebut terakhir

menunjukkan bahwa konsep al-Kindi tentang filsafat merupakan perpaduan antara konsep Socrates dan aliran Stoa. Tujuan terakhir adalah dalam hubungannya dengan moralita. Al-Kindi menegaskan juga bahwa filsafat yang paling tinggi tingkatannya adalah filsafat yang berupaya mengetahui kebenaran yang pertama, kausa daripada semua kebenaran, yaitu filsafat pertama. Filosuf yang sempurna dan sejati adalah yang memiliki pengetahuan tentang yang paling utama ini. Pengetahuan tentang kausa (illat) lebih utama dari pengetahuan tentang akibat (malul, effact). Orang akan mengetahui tentang realitas secara sempurna jijka mengetahui pula yang menjadi kausanya.

EPISTEMOLOGI AL-KINDI PENDAHULUAN Pada kesempatan sebelumnya kita telah memaparkan biografi salah seorang tokoh filsafat Islam yang cukup berpengaruh dan mempunyai peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan di dalam dunia Islam, yaitu al-Kindi yang mempunyai nama lengkap Abu Yusuf Yaqub bin Ishaq As-Shabbah bin imron bin Ismail al-Asyad bin Qays al-Kindi[4]. Dalam kesempatan kali ini kita akan mencoba untuk memaparkan pemikiran al-Kindi tentang epistemologi. Namun sebelumya kita ingin memberikan gambaran umum tentang epistemologi tersebut, epistemologi yang merupakan nyawa dari filsafat membahas tentang seluk beluk pengetahuan manusia, akan selalu menjadi bahan yang menarik untuk dikaji, karena disinilah dasar-dasar pengetahuan maupun teori pengetahuan yang diperoleh manusia menjadi bahan pijakan dan tentunya sangat banyak pembahasan tentang pengetahuan. Apa yang dimaksud dengan pengetahuan? Apakah yang menjadi dasar ataupun sumber dari pengetahuan? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang menjadi cakupan dalam Epistemologi. Seperti yang telah kita ketahui bahwasannya konsep-konsep ilmu pengetahuan yang berkembang pesat dewasa ini beserta aspek-aspek praktis yang ditimbulkannya dapat dilacak akarnya pada struktur pengetahuan yang membentuknya. Dari epistemologi, juga filsafat dalam hal ini filsafat modern terpecah berbagai aliran yang cukup banyak, seperti empirisme, rasionalisme, pragmatisme, positivisme, maupun intuisionisme. PENGERTIAN Secara etimologi (baca: bahasa), epistemologi merupakan kata gabungan yang diangkat dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu episteme dan logos. Episteme artinya pengetahuan, sedangkan logos lazim dipakai untuk menunjukkan adanya pengetahuan sistematik. Dengan demikian epistemologi berarti pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Sedangkan Runes dalam kamusnya (1971) menjelaskan bahwa epistemologi is the branch of philoshophy which investigates the origin, stucture, methods and validity of knowledge.[5] Karena itulah epistemologi sering dikenal sebagai filsafat pengetahuan.

Jika diperhatikan, batasan-batasan di atas nampak jelas bahwa hal-hal yang hendak diselesaikan epistemologi ialah tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, validitas pengetahuan, dan kebenaran pengetahuan. Al-Kindi telah mengadopsi ilmu-ilmu filsafat dari pemikiran tokoh filsafat Yunani, namun sebagai seorang filosuf Muslim, ia mempunyai kepribadian seorang Muslim sejati yang tak tergoda dan tetap mayakini prinsip-prinsip di dalam Islam. Al-Kindi mempunyai pandangan tersendiri tentang pengetahuan, menurutnya pengetahuan manusia itu pada dasarnya terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu : 1. Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan indera disebut pengetahuan inderawi, 2. Pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan akal disebut pengetahuan rasional, dan 3. Pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan disebut dengan pengetahuan isyraqi atau iluminatif. a. Pengetahuan Inderawi Pengetahuan inderawi terjadi secara langsung ketika orang mengamati terhadap obyek-obyek material (sentuhan, penglihatan, pendengeran, pengcapan dan penciuman). Kemudian dalam proses yang sangat singkat tanpa tenggang waktu dan tanpa berupaya, obyek-obyek yang telah ditangkap oleh indera tersebut berpindah ke imajinasi (musyawwiroh), kemudian diteruskan ke tempat penampungannya yang disebut hafizhah (recolection). Pengetahuan yang diperoleh dengan jalan ini (Inderawi) tidak tetap dan akan selalu berubah; karena obyek yang diamati pun tidak tetap, selalu dalam keadaan menjadi, berubah setiap saat, bergerak, berlebih-berkurang kuantitasnya, dan berubah-ubah pula kualitasnya. Pada dasarnya pengetahuan inderawi ini mempunyai kelemahan yang cukup banyak, sehingga pengetahuan yang didapatkan belum tentu benar. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain Indera terbatas, benda yang jauh terlihat kecil berbeda ketika benda tersebut berada di dekat kita, lalu apakah benda tersebut memang berubah menjadi kecil? tidak, keterbatasan kemampuan indera ini dapat memberikan pengetahuan yang salah. Kelemahan kedua adalah Indera menipu, gula yang rasanya manis akan terasa pahit ketika dirasakan oleh orang yang sakit, begitu juga udara yang yang panas akan terasa dingin. Sehingga hal ini akan memberikan pengetahuan yang salah juga. Kelemahan ketiga ialah Obyek yang menipu, seperti ilusi, fatamorgana. Di sini Indera menangkap obyek yang sebenarnya tiada. Kelemahan keempat berasal dari indera dan obyek sekaligus, indera misalnya mata tidak dapat melihat obyek secara keseluruhan dan begitu juga obyek yang tidak memperlihatkan dirinya secara keseluruhan, sehingga hal ini akan memberikan informasi pengetahuan yang salah pula. b. Pengetahuan Rasional Pengetahuan tentang sesuatu yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal bersifat universal, tidak parsial dan bersifat immaterial. Obyek pengetahuan rasional bukan individu; tetapi genus dan spesies. Orang mengamati manusia sebagai yang berbadan tegak dengan dua kaki, pendek,

jangkung, berkulit putih atau berwarna, yang semua ini akan menghasilkan pengetahuan inderawi. tetapi orang yang mengamati manusia, menyelidiki hakikatnya sehingga sampai pada kesimpulan bahwa manusia adalah makhluk berfikir (rational animal = hewan nathiq), telah memperoleh pengetahuan rasional yang abstrak universal, mencakup semua individu manusia. Manusia yang telah ditajrid (dipisahkan) dari yang inderawi tidak mempunyai gambar yang telukis dalam perasaan. Kelihatannya sudah cukup jelas bahwa pengetahuan hanya terbagi menjadi dua, karena keduanya sudah saling melengkapi, tapi ternyata hal tersebut belum cukup. Indera (empiris) dan akal (rasio/logis) yang bekerjasama belum mampu mendapatkan pengetahuan yang lengkap dan utuh. Indera hanya mampu mengamati bagian-bagian tertentu tentang obyek. Dibantu oleh akal, manusia juga belum mapu memperoleh pengetahuan yang utuh. Akal hanya sanggup memikirkan sebagian dari obyek.[6] Al-Kindi memperingatkan agar orang tidak mengacaukan metode yang ditempuh untuk memperoleh pengetahuan, karena setiap ilmu mempunyai metodenya sendiri yang sesuai dengan wataknya. Watak ilmulah yang menentukan metodenya. Adalah suatu kesalahan jika kita menggunakan suatu metode suatu ilmu untuk mendekati ilmu lain yang mempunyai metodenya sendiri. Adalah suatu kesalahan jika kita menggunakan metode ilmu alam untuk metafisika. c. Pengetahuan Isyraqi Al-Kindi mengatakan bahwa pengetahuan inderawi saja tidak akan sampai pada pengetahuan yang hakiki tentang hakikat-hakikat. Pengetahuan rasional terbatas pada pengetahuan tentang genus dan spesies. Banyak filosof yang membatasi jalan memperoleh pengetahuan pada dua macam jalan ini. Al-Kindi, sebagaiman halnya banyak filosof isyraqi, mengingatkan adanya jalan lain untuk memperoleh pengetahuan lewat jalan isyraqi (iluminasi), yaitu pengetahuan yang langsung diperoleh dari pancaran Nur Ilahi. Puncak dari jalan ini adalah yang diperoleh para Nabi untuk membawakan ajaran-ajaran yang berasal dari wahyu kepada umat manusia. Para Nabi memperoleh pengetahuan yang berasal dari wahyu tuhan tanpa upaya, tanpa bersusah payah untuk memperolehnya. Pengetahuan mereka terjadi atas kehendak Tuhan semata-mata. Tuhan mensucikan jiwa mereka dan diterangkan-Nya pula jiwa meraka untuk memperoleh kebenaran dengan jalan wahyu. Akal meyakinkan pengetahuan pengetahuan mereka berasal dari tuhan, karena pengetahuan itu ada ketika manusia tidak mampu mengusahakannya, karena hal itu memang di luar kemampuan manusia. Bagi manusia tidak ada jalan lain kecuali menerima dengan penuh ketaatan dan ketundukan mereka kepada kehendak tuhan, membenarkan semua yang dibawakan para nabi. Untuk memberi contoh perbedaan pengetahuan manusia yang diperoleh dengan jalan upaya dan pengetahuan para nabi yang diperoleh dengan jalan wahyu, Al-Kindi mengemukakan pertanyaan orang-orang kafir tentang bagaimana mungkin tuhan akan membangkitkan kembali manusia dari dalam kuburnya setelah tulang-belulangnya hancur menjadi tanah; sebagaimana termaktub dalam Al-Quran surah Yasin ayat 78-82. Keterangan yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Quran ini amat cepat diberikan oleh nabi Muhammad saw. karena berasal dari wahyu tuhan, dan tidak yakin akan dapat dijawab dengan cepat dan tepat serta jelas oleh filosuf.

Pertanyaan yang diajukan pada nabi Muhammad saw. adalah sebagai berikut: Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah membusuk? Segeralah tuhan menurunkan wahyu jawabannya: Katakanlah yang memberinya hidup adalah penciptanya yang pertama kali yang mengetahui segala kejadian, Dia yang menjadikan bagimu api dari kayu yang hijau, kemudian kamu menyalakan api darinya. Tiadakah yang telah menciptakan langit dan bumi sanggup menciptakan yang serupa itu? Tentu saja karena Dia maha Pencipta, maha Tahu. Bila Dia menghendaki sesuatu, cukuplah Dia perintahkan, jadilah, maka iapun menjadi. Al-Kindi memberikan penjelasannya tentang ilmu yang berasal dari Tuhan sebagaimana dicerminkan dalam ayat-ayat Al-Quran tersebut sebagai berikut: Tidak ada bukti bagi akal yang terang dan bersih yang lebih gamblang dan ringkas daripada yang tertera dalam ayat-ayat Al-Quran tersebut, yaitu bahwa tulang-belulang yang benar-benar telah terjadi setelah tiada sebelumnya, adalah sangat mungkin apabila telah rusak dan busuk ada kembali. Mengumpulkan barang yang berserakan lebih mudah daripada membuatnya dari tiada, meskipun bagi Tuhan tidak ada hal yang dapat dikatakan lebih mudah ataupun lebuh sulit. Kekuatan yang telah menciptakan mugkin menumbuhkan sesuatu yang telah dihancurkan. Al-Quran menyebutkan bahwa tuhan telah menjadikan kayu hijau dan dapt dibakar menjadi api; hal ini mengandung ajaran bahwa sesuatu mungkin bisa terjadi dari lawannya. Tuhan menjadikan api dari bukan api dan menjadikan panas dari bukan panas. Jika sesuatu mungkin terjadi dari lawannya, maka akan lebih mungkin lagi sesuatu terjadi dari dirinya sendiri. Al-Quran yang menyebutkan bahwa tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi berkuasa pula menciptakan yang serupa itu, karena Dia adalah tuhan yang maha pencipta lagi maha mengetahui. Al-Kindi menjelaskan bahwa hal tersebut dapat diyakini kebenarannya secara amat jelas tanpa memerlukan argumentasi apapun. Orang-orang kafir mengingkari penciptaan langit, karena mereka mengira bagaimana langit itu diciptakan, berapa lama waktu yang diperlukan jika dibandingkan dengan perbuatan manusia melakukan suatu pekerjaan. Sangkaan mereka itu tidak benar, tuhan tidak memerlukan waktu jika menghendakiuntuk menciptakan sesuatu. Tuhan berkuasa menciptakan sesuatu dari yang bukan sesuatu dan mengadakan sesuatu dari tiada. Sesuatu ada bersamaan dengan kehendak-Nya. Al-Kindi mengakhiri penjelasannya tentang ayat-ayat Al-Quran yang dijadikan contoh-contoh di atas sebagai beriku: Tak ada manusia yang dengan filsafat manusia sanggup menerangkan sependek huruf-huruf yang tercantum dalam ayat-ayat al-Quran yang diwahyukan kepada Rasul-Nya itu, yang menerangkan bahwa tulang-belulang akan hidup setelah membusuk dan hancur, bahwa kekuasaan tuhan seperti menciptakan langit dan bumi, bahwa sesuatu dapat terjadi dari lawannya. Kata-kata manusia tidak sanggup menuturkannya, kemampuan manusia tidak sanggup melakukannya; akal manusia yang bersifat parsial tidak terbuka untuk sampai pada jawaban yang demikian itu.[7] Pengetahuan Isyraqi ini, selain didapatkan oleh para nabi. Ada kemungkinan juga didapatkan oleh orang-orang yang beris, suci jiwanya, walaupun tingkatan atau derajatnya berada dibawah dari pengetahuan yang dipeoleh para nabi. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan para nabi

yang diperoleh dengan wahyu lebih meyakinkan kebenarannya daripada pengetahuan para filosuf yang tidak dari wahyu. KESIMPULAN Al-Kindi adalah seorang filosuf Islam yang berupaya memadukan ajaran-ajaran Islam dengan filsafat Yunani. Sebagai filosuf, Al-Kindi mempercayai kemampuan akal untuk mendapatkan pengetahuan yang benar tentang realitas. Tetapi pada saat yang sama ia juga mengakui bahwa akal mempunyai keterbatasan dalam mencapai pengetahuan metafisik. Karena itulah al-Kindi mengatakan bahwa keberadaan nabi sangat diperlukan untuk mengajarkan hal-hal di luar jangkauan akal manusia yang diperoleh dari wahyu tuhan. Dari sini dapat diketahui bahwa alKindi tidak sependapat dengan para filosuf Yunani dalam hal-hal yang dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran agama Islam yang diyakininya. Contohnya menurut al-Kindi alam berasal dari ciptaan tuhan yang semula tiada, sedangkan Aristoteles berpendapat bahwa alam tidak diciptakan dan bersifat abadi. Karena itulah al-Kindi tidak termasuk filosuf yang dikritik alGhozali dalam kitabnya Tahafut Al-Falasifah (Kerancuan Para Filosuf). Karangan-karangan Al-Kindi umumnya berupa makalah-makalah pendek dan dinilai kurang mendalam dibandingkan dengan tulisan-tulisan al-Farobi. Namun sebagai filosuf perintis yang menempuh jalan berbeda dari para pemikir sebelumnya, maka nama al-Kindi naik daun dan mendapat tempat yang istimewa di kalangan filosuf sezamannya dan sesudahnya. Tentu saja ahli-ahli pikir kontemporer yang cinta kebenaran dan kebijaksanaan akan senantiasa merujuk kepadanya.[8] DAFTAR PUSTAKA Musthofa, Ahmad. 1997. Filsafat Islam. Bandung: CV. PUSTAKA SETIA. Tafsir, Ahmad. 2004. Filsafat Umum, Akal dan hati sejak Thales sampai Capra. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

APA ITU ALIRAN INTUISIONISME???Aliran intuisionisme dipelopori oleh Luitzen Egbertus Jan Brouwer (18811966) yang berkebangsaan Belanda. Aliran ini sejalan dengan filsafat umum yang dicetuskan oleh Immanuel Kant (1724-1804). Intusionis mengklaim bahwa matematika berasal dan berkembang di dalam pikiran manusia. Ketepatan dalil-dalil matematika tidak terletak pada simbol-simbol di atas kertas, tetapi terletak dalam akal pikiran manusia. Hukum-hukum matematika tidak ditemukan melalui pengamatan terhadap alam, tetapi mereka ditemukan dalam pikiran manusia. Keberatan terhadap aliran ini adalah bahwa pandangan kaum intusionis tidak memberikan gambaran yang jelas bagaimana matematika sebagai pengetahuan intuitif bekerja dalam pikiran. Konsep-konsep mental seperti cinta dan benci berbeda-beda antara manusia yang satu dengan yang lain. Apakah realistik bila menganggap bahwa manusia dapat berbagi pandangan intuitif tentang matematika secara persis sama?

Tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan intuisionisme dalam filsafat matematika antara lain : 1. Luitzen Egbertus Jan Brouwer (1881 1966) Brouwer dilahirkan di sebuah kota di Overschie, Belanda. Di kalangan teman-temannya, Brouwer sering dipanggil dengan nama Bertus. Pada tahun 1897, Brouwer mengikuti kuliah di universitas Amsterdam untuk belajar matematika dan fisika. Salah seorang dosennya, Diederik Korteweg, dosen matematika, kelak memberi pengaruh besar bagi dirinya. Korteweg terkenal karena mengemukakan suatu persamaan yang disebut persamaan Korteweg de Vries. Dosen lain yang mempengaruhinya adalah Gerrit Mannoury, dosen filsafat. Karya pertama Brouwer adalah rotasi pada ruang empat dimensi di bawah bimbingan Korteweg. Menurut Brouwer, dasar dari intuisionisme adalah pikiran. Namun pemikiran-pemikiran yang dicetuskannya banyak dipengaruhi oleh pandangan Immanuel Kant. Matematika didefinisikan oleh Brouwer sebagai aktifitas berpikir secara bebas, namun eksak,suatu aktivitas yang ditemukan dari intuisi pada suatu saat tertentu. Dalam pandangan intuisionisme tidak ada realisme terhadap objek-objek dan tidak ada bahasa yang menjembatani, sehingga bisa dikatakan tidak ada penentu kebenaran matematika diluar aktivitas berpikir. Proposisi hanya berlaku ketika subjek dapat dibuktikan kebenarannya (dibawa keluar dari kerangka pemikiran). Singkat kata, Brouwer mengungkapkan bahwa tidak ada kebenaran tanpa dilakukan pembuktian. Brouwer konsisten dengan falsafahnya. Hal ini dinyatakannya apakah matematika perlu dibenahi agar kompartible atau tidak-kompartible dengan matematika klasik adalah pertanyaan yang kurang penting lagi, dan tidak dijawab. Pandangannya terhadap matematika tradisional, dia menganggap dirinya hanya sekedar menjadi seorang tukang revisi. Disimpulkan, dimana artimatika intusionistik adalah bagian (sub-sistem) dari aritmatika klasik, namun hal ini tidak berlaku untuk analisis. Untuk analisis, tidak semua analisis klasikal diterima atau dipahami secara intusionistik, tetapi tidak ada analisis intusionistik secara klasik diterima. Brouwer mengambil langkah ini dengan segala konsekuensinya dengan sepenuh hati. Bukan berarti pandangan Brouwer ini tidak ada yang mendukung. Di luar negaranya, Belanda, pandangan ini didukung oleh Herman Weyl. Brouwer memegang prinsip bahwa matematika adalah aktivitas tanpa-perlu-diutarakan (languageless) yang penting, dan bahasa itu sendiri hanya dapat memberi gambaran-gambaran tentang aktivitas matematikal setelah ada fakta. Hal ini membuat Brouwer tidak mengindahkan metode aksiomatik yang memegang peran utama dalam matematika. Membangun logika sebagai studi tentang pola dalam linguistik yang dibutuhkan sebagai jembatan bagi aktivitas matematikal, sehingga logika bergantung pada matematika (suatu studi tentang pola) dan bukan sebaliknya. Semua itu digunakan sebagai pertimbangan dalam memilah antara matematika dan metamatematika (istilah yang digunakan untuk matematika tingkat kedua), yang didiskusikannya dengan David Hilbert. Berdasarkan pandangan ini, Brouwer bersiap merombak kembali teori himpunan Cantor. Ketika upaya ini mulai dilakukan dengan membongkar kategori bilangan sekunder (bilangan ordinal tak terhingga/infinite) dan kategori bilangan ordinal infiniti yang lebih besar, tapi juga gagal. Disadari bahwa metodenya tidak berlaku dan tidak dapat menyelesaikan kategori-kategori bilangan lebih tinggi, dan hanya meninggalkan bilangan ordinal terbatas (finite) dan tidak dapat diselesaikan atau terbuka (open-ended) bagi sekumpulan bilangan ordinal tak-terhingga/infinite. Tetap konsisten dengan pandangan falsafatnya, Brouwer mencoba mengesampingan semua itu dan mau memahami matematika apa adanya. Tidak lama dia juga mau menerima prinsip dalam logika, prinsip tidak termaktub di tengah (PEM/Principle of the Excluded Middle), namun dalam

disertasinya dia tetap berpikir bahwa semua itu benar dan sahih namun tidak memberi manfaat, menginterpretasikan p v p sebagai p p Lewat tulisanannya pada tahun 1908, The Unreliability of The Logical Principles, Brouwer mengformulasikan, dalam istilah-istilah umum, kritiknya terhadap PEM: meskipun dalam bentuk sederhana p v p, prinsip yang tidak akan memicu kontradiksi, dimana Brouwer memberikan contoh-contoh, diucapkan, tanpa ada alasan positif untuk menerima bahwa hal itu benar dan sahih. Inovasi ini memberi intuisionisme mempunyai ruang gerak lebih besar daripada matematika konstruktif aliran-aliran lainnya (termasuk di sini disertasi Brouwer) adalah pilihan-pilihan dalam melihat suatu deret. Banyak diketahui deret-deret bilangan tak-terhingga (atau obyekobyek matematikal lain) dipilih mendahului yang lainnya oleh setiap matematikawan sesuai keinginan mereka masing-masing. Memilih suatu deret memberi mereka impresi awal secara intuisi menerima obyek yang ditulisnya pada buku yang terbit pada tahun 1914.; prinsip yang membuat secara matematika mudah dikerjakan, prinsip berkesinambungan, yang diformulasikan pada kuliah Brouwer pada tahun 1916. Tujuan utama memilih deret merupakan rekonstruksi analisis; titik-titik dalam (bidang) kontinuum (bilangan-bilangan nyata) yang diidentifikasi dengan memilih deret yang memenuhi persyaratan kondisi-kondisi tertentu. Memilih berbagai pilihan deret dapat dilakukan dengan menggunakan alat uang disebut dengan spread, yang mempunyai fungsi mirip dengan analisis klasik Cantorian, dan awalnya Brouwer menggunakan istilah gabung (himpunan) untuk berbagai spread. Guna mengukuhkan teori spread dan teori titik-titik ini yang digunakan sebagai dasar ini, termaktub dalam dua makalah yang diterbitkan pada tahun 1918/1919, Founding Set Theory Independently of the Principle of the Excluded Middle. 2. Arend Heyting (1898-1980) Di lain hal, murid Brouwer yang memiliki pengaruh besar pada perkembangan intuisionisme filsafat matematika adalah Arend Heyting. Heyting membangun sebuah formalisasi logika intuisionisme yang sangat tepat. Sistem ini dinamakan Predikat Kalkulus Heyting. Heyting menegaskan bahwa dari asumsi metafisika yang pokok dalam kebenaran realism-logika klasik, bahasa matematika klasik adalah pengertian faktor-faktor objektivitas syarat-syarat kebenaran yang terbaik. Semantic matematika klasik menggambarkan suatu kondisi dalam pernyataan benar atau salah. Semantic seperti ini tidak tepat untuk intuisinisme. Sebagai pengganti, bahasa intuisionisme seharusnya dimengerti dalam faktor-faktor syarat-syarat penyelesaian. Semantic akan menggambarkan suatu perhitungan seperti sebuah penyelesaian kanonikal untuk setiap permasalahan. Heyting mempunyai andil dalam pandangan Brouwer mengenai kelaziman kontruksi mental dan down playing bahasa dan logika. Dalam buku Intuitionism (1956: 5) dia mengemukakan pendapat Brouwer, bahasa adalah media tidak sempurna untuk mengkomunikasikan konstruksi nyata matematika. System formalnya adalah dirinya sendiri sebagai sebuah legitimasi konstruksi matematika, tetapi satu yang tidak diyakini system formal menggambarkan secara utuh domain pemikiran matematika. Pada suatu penemuan metode baru memungkinkan kita untuk memperluas system formal. Heyting menegaskan logika bergantung pada matematika bukan pada yang lain. Oleh karena itu, Heyting tidak bermaksud pekerjaannya pada logika untuk menyusun pertimbangan intuisionistik. 3. Sir Michael Anthony Eardley Dummett (1925 sekarang) Mengingat kembali Brouwer dan Heyting yang mengatakan bahasa merupakan media tidak

sempurna untuk komunikasi konstruksi mental matematika. Keduanya, logika menyangkut bentuk yang berlaku untuk penyebaran media ini dan tentu saja focus langsung pada bahasa dan logika telah jauh berpindah dari permasalahan yang seharusnya. Sebaliknya pendekatan utama Dummett, matematika dan logika adalah linguistic dari awal. Filosofinya lebih interest pada logika intuisionistik daripada matematika itu sendiri. Seperti Brouwer, tetapi tidak seperti Heyting, Dummet tidak memiliki orientasi memilih. Dummet mengeksplorasi matematika klasik dengan menggunakan bentuk pemikiran yang tidak valid pada suatu jalan legitimasi penguraian pernyataan alternatifnya. Ia mengusulkan beberapa pertimbangan mengenai logika adalah benar yang pada akhirnya harus tergantung pada arti pertanyaan. Ia juga mengadopsi pandangan yang diperoleh secara luas, yang kemudian disebut sebagai terminologi logika. Dummet menegaskan bahwa arti suatu pernyataan tidak bisa memuat suatu unsur yang tidak menunjukkan penggunaannya. Untuk membuatnya, harus berdasarkan pemikiran individu yang memahami arti tersebut. Jika dua individu secara bersama setuju dengan penggunaan pernyataan yang dibuat, maka mereka pun menyetujui artinya. Alasannya bahwa arti pernyataan mengandung aturan instrumen komunikasi antar individu. Jika seorang individu dihubungkan dengan simbol matematika atau formula, dimana hubungan tersebut tidak berdasar pada penggunaan, kemudian dia tidak dapat menyampaikan muatan tersebut dengan arti simbol atau formula tersebut, maka penerima tidak akan bisa memahaminya. Acuan arti pernyataan matematika secara umum, harus mengandung kapasitas untuk menggunakan pernyataan pada alur yang benar. Pemahaman seharusnya dapat dikomunikasikan kepada penerima. Sebagai contoh, seseorang mengerti ekspresi yang ada dalam bahasa jika dan hanya jika. Add comment 3 Januari 2009

WeLcome to 2009

Hidup adalah sebuah perjalanan. Tak terasa kita telah meninggalkan sebuah periode waktu, 2008. Sebagai manusia yang bertanggungjawab atas kehidupan diri sendiri dan masa depannya, wajib bagi kita untuk melakukan refleksi diri dan menetapkan tujuan baru dari perjalanan hidup kita. Apapun pencapaian yang telah kita alami di tahun 2008, entah hasil akhirnya sesuai target

maupun tidak, kita masing-masing telah menjalaninya. Yang penting kita harus jujur kepada diri sendiri, sudah maksimalkah yang kita berikan selama ini? Atau masih banyak yang harus kita benahi di sana-sini? Tentu masing-masing kita yang tahu jawabannya. Dalam skala lebih luas, di tingkat nasional, bangsa kita dapat dikatakan belum mengalami kemajuan di bidang ekonomi secara signifikan. Carut marut politik dan hukum masih butuh peningkatan yang lebih baik. Ditambah lagi dengan bencana alam beruntun yang sepertinya tanpa henti. Bahkan di penghujung tahun ini pun, terjadi lagi banjir yang meminta banyak korban jiwa. Kita patut berprihatin. Menghadapi keadaan yang serba tidak menentu ini memang tidak mudah. Bila tidak tangguh secara mental, akan terasa lebih berat, stress, depresi bahkan putus asa. Bagi saya, yang utama ialah kembali pada manusia itu sendiri! Ini menyangkut mentalitas. Menyangkut karakter diri. Jika manusianya kuat maka apapun permasalahannya akan mampu kita atasi. Karena sesungguhnya, setiap penderitaan hidup mengajarkan kepada kita akan arti dan nilai kehidupan. Selalu ada hikmah di balik setiap penderitaan, masalah, bencana yang menimpa. Karena kita harus percaya bahawa di balik setiap kesulitan ada kemudahan dariNYA 4 karakter manusia Ada 4 kombinasi karakter manusia dalam menjalani kehidupan ini:1. 2. 3. 4. Manusia pesimis + pasif Manusia pesimis + aktif Manusia optimis + pasif Manusia optimis + aktif.

Sesuai dengan hakekat kombinasinya, tentu akan berbeda dalam mengatasi persoalan dan memandang masa depan. Manusia dengan karakter pertama, akan memandang suram setiap permasalahan dan masa depannya, namun anehnya dia tetap berdiam diri. Si karakter kedua, lebih baik. Sayangnya karakter aktif yang dimilikinya, bisa hanya membuang-buang energi saja karena aktivitas yang dijalankannya, lebih dilandasi oleh sifat pesimis. Sedangkan manusia dengan karakter ketiga juga lebih baik daripada si karakter pertama. Akan tetapi optimisme tanpa aktivitas, lebih berwujud mimpi belaka. Tentu tipe keempatlah yang paling baik dari semuanya. Tipe inilah yang harusnya dimiliki oleh setiap insan. Karena, manusia berkarakter optimis aktif adalah manusia yang tabah menghadapi masalah dan punya jalan keluar untuk mengatasi persoalan yang sedang dihadapinya. Baginya, justru permasalahan dan bencana adalah sesuatu yang harus dilewati dalam kehidupan manusia, yang akan memperkuat karakter dirinya. Sebab, tanpa permasalahan, maka dia tak akan bisa mengaktualisasikan diri sendiri. Itulah sebabnya, orang yang optimis dan aktif, secara minimal akan bertahan saat bertemu permasalahan dan cobaan. Secara maksimal, justru dia akan menjadi PEMENANG. Bangsa kita saat ini sangat membutuhkan insan-insan yang memiliki mentalitas baja ini! Bayangkanlah, jika setiap anak bangsa, baik yang berasal dari kalangan pemerintahan, swasta, pelajar, orang tua, anak, guru, pemimpin, anak buah, semuanya memiliki mental baja, yang optimis dan aktif, dapat dipastikan, kita akan segera keluar dari berbagai macam krisis dan akan dihargai, diakui sebagai bangsa yang punya jati diri.

Sebenarnya hidup ini adalah proses belajar dan berjuang tanpa batas, hidup terus menerus berubah, kesuksesan hari ini bukan berarti besok kita akan tetap sukses, sebaliknya kegagalan hari ini bukan berarti besok kita akan gagal lagi, semua tergantung kita sendiri. Itulah sebabnya, apapun kondisi kita hari ini, terutama mengawalinya tahun 2009 ini, kita butuh berani membuat komitmen untuk diri kita sendiri, komitmen saya di tahun baru ini jelas, yaitu 2009 Tahun Aktualisasi Diri. ya tahun aktualisasi diri, saya memastikan untuk diri saya tiada hari tanpa insiatif untuk mengembangkan diri (aktualisasi diri). Oleh karena itu, mari anda, saya dan kita semua melakukan aktualisasi diri secara sadar dan maksimal! Tidak mudah tunduk pada nasib. siap berjuang lebih keras , Terus belajar dan terus membenahi diri. Belajar tanpa batas..Success is my right!

Mari kita melangkah di tahun baru 2009 (tahun aktualisasi diri) ini dengan optimis aktif, melewati kunci tiga berani, yakni:1. Berani memastikan target 2. Berani mulai melangkah 3. Berani mewujudkannya sampai sukses.

Selamat tahun baru 2009! Tahun Aktualisasi Diri! Success is my right! Karena kita dilahirkan untuk menjadi luar biasa.! 3 comments 1 Januari 2009zzzzzzzzzzsssssssssssssssssssssssssssssss

APA ITU ALIRAN INTUISIONISME???3 Januari 2009 ukhrie Aliran intuisionisme dipelopori oleh Luitzen Egbertus Jan Brouwer (18811966) yang berkebangsaan Belanda. Aliran ini sejalan dengan filsafat umum yang dicetuskan oleh Immanuel Kant (1724-1804). Intusionis mengklaim bahwa matematika berasal dan berkembang di dalam pikiran manusia. Ketepatan dalil-dalil matematika tidak terletak pada simbol-simbol di atas kertas, tetapi terletak dalam akal pikiran manusia. Hukum-hukum matematika tidak ditemukan melalui pengamatan terhadap alam, tetapi mereka ditemukan dalam pikiran manusia. Keberatan terhadap aliran ini adalah bahwa pandangan kaum intusionis tidak memberikan gambaran yang jelas bagaimana matematika sebagai pengetahuan intuitif bekerja dalam pikiran. Konsep-konsep mental seperti cinta dan benci berbeda-beda antara manusia yang satu dengan yang lain. Apakah realistik bila menganggap bahwa manusia dapat berbagi pandangan intuitif tentang matematika secara persis sama? Tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan intuisionisme dalam filsafat matematika antara lain : 1. Luitzen Egbertus Jan Brouwer (1881 1966) Brouwer dilahirkan di sebuah kota di Overschie, Belanda. Di kalangan teman-temannya, Brouwer sering dipanggil dengan nama Bertus. Pada tahun 1897, Brouwer mengikuti kuliah di universitas Amsterdam untuk belajar matematika dan fisika. Salah seorang dosennya, Diederik

Korteweg, dosen matematika, kelak memberi pengaruh besar bagi dirinya. Korteweg terkenal karena mengemukakan suatu persamaan yang disebut persamaan Korteweg de Vries. Dosen lain yang mempengaruhinya adalah Gerrit Mannoury, dosen filsafat. Karya pertama Brouwer adalah rotasi pada ruang empat dimensi di bawah bimbingan Korteweg. Menurut Brouwer, dasar dari intuisionisme adalah pikiran. Namun pemikiran-pemikiran yang dicetuskannya banyak dipengaruhi oleh pandangan Immanuel Kant. Matematika didefinisikan oleh Brouwer sebagai aktifitas berpikir secara bebas, namun eksak,suatu aktivitas yang ditemukan dari intuisi pada suatu saat tertentu. Dalam pandangan intuisionisme tidak ada realisme terhadap objek-objek dan tidak ada bahasa yang menjembatani, sehingga bisa dikatakan tidak ada penentu kebenaran matematika diluar aktivitas berpikir. Proposisi hanya berlaku ketika subjek dapat dibuktikan kebenarannya (dibawa keluar dari kerangka pemikiran). Singkat kata, Brouwer mengungkapkan bahwa tidak ada kebenaran tanpa dilakukan pembuktian. Brouwer konsisten dengan falsafahnya. Hal ini dinyatakannya apakah matematika perlu dibenahi agar kompartible atau tidak-kompartible dengan matematika klasik adalah pertanyaan yang kurang penting lagi, dan tidak dijawab. Pandangannya terhadap matematika tradisional, dia menganggap dirinya hanya sekedar menjadi seorang tukang revisi. Disimpulkan, dimana artimatika intusionistik adalah bagian (sub-sistem) dari aritmatika klasik, namun hal ini tidak berlaku untuk analisis. Untuk analisis, tidak semua analisis klasikal diterima atau dipahami secara intusionistik, tetapi tidak ada analisis intusionistik secara klasik diterima. Brouwer mengambil langkah ini dengan segala konsekuensinya dengan sepenuh hati. Bukan berarti pandangan Brouwer ini tidak ada yang mendukung. Di luar negaranya, Belanda, pandangan ini didukung oleh Herman Weyl. Brouwer memegang prinsip bahwa matematika adalah aktivitas tanpa-perlu-diutarakan (languageless) yang penting, dan bahasa itu sendiri hanya dapat memberi gambaran-gambaran tentang aktivitas matematikal setelah ada fakta. Hal ini membuat Brouwer tidak mengindahkan metode aksiomatik yang memegang peran utama dalam matematika. Membangun logika sebagai studi tentang pola dalam linguistik yang dibutuhkan sebagai jembatan bagi aktivitas matematikal, sehingga logika bergantung pada matematika (suatu studi tentang pola) dan bukan sebaliknya. Semua itu digunakan sebagai pertimbangan dalam memilah antara matematika dan metamatematika (istilah yang digunakan untuk matematika tingkat kedua), yang didiskusikannya dengan David Hilbert. Berdasarkan pandangan ini, Brouwer bersiap merombak kembali teori himpunan Cantor. Ketika upaya ini mulai dilakukan dengan membongkar kategori bilangan sekunder (bilangan ordinal tak terhingga/infinite) dan kategori bilangan ordinal infiniti yang lebih besar, tapi juga gagal. Disadari bahwa metodenya tidak berlaku dan tidak dapat menyelesaikan kategori-kategori bilangan lebih tinggi, dan hanya meninggalkan bilangan ordinal terbatas (finite) dan tidak dapat diselesaikan atau terbuka (open-ended) bagi sekumpulan bilangan ordinal tak-terhingga/infinite. Tetap konsisten dengan pandangan falsafatnya, Brouwer mencoba mengesampingan semua itu dan mau memahami matematika apa adanya. Tidak lama dia juga mau menerima prinsip dalam logika, prinsip tidak termaktub di tengah (PEM/Principle of the Excluded Middle), namun dalam disertasinya dia tetap berpikir bahwa semua itu benar dan sahih namun tidak memberi manfaat, menginterpretasikan p v p sebagai p p Lewat tulisanannya pada tahun 1908, The Unreliability of The Logical Principles, Brouwer mengformulasikan, dalam istilah-istilah umum, kritiknya terhadap PEM: meskipun dalam bentuk sederhana p v p, prinsip yang tidak akan memicu kontradiksi, dimana Brouwer memberikan contoh-contoh, diucapkan, tanpa ada alasan positif untuk menerima bahwa hal itu benar dan

sahih. Inovasi ini memberi intuisionisme mempunyai ruang gerak lebih besar daripada matematika konstruktif aliran-aliran lainnya (termasuk di sini disertasi Brouwer) adalah pilihan-pilihan dalam melihat suatu deret. Banyak diketahui deret-deret bilangan tak-terhingga (atau obyekobyek matematikal lain) dipilih mendahului yang lainnya oleh setiap matematikawan sesuai keinginan mereka masing-masing. Memilih suatu deret memberi mereka impresi awal secara intuisi menerima obyek yang ditulisnya pada buku yang terbit pada tahun 1914.; prinsip yang membuat secara matematika mudah dikerjakan, prinsip berkesinambungan, yang diformulasikan pada kuliah Brouwer pada tahun 1916. Tujuan utama memilih deret merupakan rekonstruksi analisis; titik-titik dalam (bidang) kontinuum (bilangan-bilangan nyata) yang diidentifikasi dengan memilih deret yang memenuhi persyaratan kondisi-kondisi tertentu. Memilih berbagai pilihan deret dapat dilakukan dengan menggunakan alat uang disebut dengan spread, yang mempunyai fungsi mirip dengan analisis klasik Cantorian, dan awalnya Brouwer menggunakan istilah gabung (himpunan) untuk berbagai spread. Guna mengukuhkan teori spread dan teori titik-titik ini yang digunakan sebagai dasar ini, termaktub dalam dua makalah yang diterbitkan pada tahun 1918/1919, Founding Set Theory Independently of the Principle of the Excluded Middle. 2. Arend Heyting (1898-1980) Di lain hal, murid Brouwer yang memiliki pengaruh besar pada perkembangan intuisionisme filsafat matematika adalah Arend Heyting. Heyting membangun sebuah formalisasi logika intuisionisme yang sangat tepat. Sistem ini dinamakan Predikat Kalkulus Heyting. Heyting menegaskan bahwa dari asumsi metafisika yang pokok dalam kebenaran realism-logika klasik, bahasa matematika klasik adalah pengertian faktor-faktor objektivitas syarat-syarat kebenaran yang terbaik. Semantic matematika klasik menggambarkan suatu kondisi dalam pernyataan benar atau salah. Semantic seperti ini tidak tepat untuk intuisinisme. Sebagai pengganti, bahasa intuisionisme seharusnya dimengerti dalam faktor-faktor syarat-syarat penyelesaian. Semantic akan menggambarkan suatu perhitungan seperti sebuah penyelesaian kanonikal untuk setiap permasalahan. Heyting mempunyai andil dalam pandangan Brouwer mengenai kelaziman kontruksi mental dan down playing bahasa dan logika. Dalam buku Intuitionism (1956: 5) dia mengemukakan pendapat Brouwer, bahasa adalah media tidak sempurna untuk mengkomunikasikan konstruksi nyata matematika. System formalnya adalah dirinya sendiri sebagai sebuah legitimasi konstruksi matematika, tetapi satu yang tidak diyakini system formal menggambarkan secara utuh domain pemikiran matematika. Pada suatu penemuan metode baru memungkinkan kita untuk memperluas system formal. Heyting menegaskan logika bergantung pada matematika bukan pada yang lain. Oleh karena itu, Heyting tidak bermaksud pekerjaannya pada logika untuk menyusun pertimbangan intuisionistik. 3. Sir Michael Anthony Eardley Dummett (1925 sekarang) Mengingat kembali Brouwer dan Heyting yang mengatakan bahasa merupakan media tidak sempurna untuk komunikasi konstruksi mental matematika. Keduanya, logika menyangkut bentuk yang berlaku untuk penyebaran media ini dan tentu saja focus langsung pada bahasa dan logika telah jauh berpindah dari permasalahan yang seharusnya. Sebaliknya pendekatan utama Dummett, matematika dan logika adalah linguistic dari awal. Filosofinya lebih interest pada logika intuisionistik daripada matematika itu sendiri. Seperti Brouwer, tetapi tidak seperti Heyting, Dummet tidak memiliki orientasi memilih. Dummet mengeksplorasi matematika klasik

dengan menggunakan bentuk pemikiran yang tidak valid pada suatu jalan legitimasi penguraian pernyataan alternatifnya. Ia mengusulkan beberapa pertimbangan mengenai logika adalah benar yang pada akhirnya harus tergantung pada arti pertanyaan. Ia juga mengadopsi pandangan yang diperoleh secara luas, yang kemudian disebut sebagai terminologi logika. Dummet menegaskan bahwa arti suatu pernyataan tidak bisa memuat suatu unsur yang tidak menunjukkan penggunaannya. Untuk membuatnya, harus berdasarkan pemikiran individu yang memahami arti tersebut. Jika dua individu secara bersama setuju dengan penggunaan pernyataan yang dibuat, maka mereka pun menyetujui artinya. Alasannya bahwa arti pernyataan mengandung aturan instrumen komunikasi antar individu. Jika seorang individu dihubungkan dengan simbol matematika atau formula, dimana hubungan tersebut tidak berdasar pada penggunaan, kemudian dia tidak dapat menyampaikan muatan tersebut dengan arti simbol atau formula tersebut, maka penerima tidak akan bisa memahaminya. Acuan arti pernyataan matematika secara umum, harus mengandung kapasitas untuk menggunakan pernyataan pada alur yang benar. Pemahaman seharusnya dapat dikomunikasikan kepada penerima. Sebagai contoh, seseorang mengerti ekspresi yang ada dalam bahasa jika dan hanya jika.