seminar gadar buat besok

Download Seminar Gadar Buat Besok

Post on 06-Aug-2015

45 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan sebuah Makalah yang berjudul RESUME KEPERAWATAN PADA TRAUMA KEPALA DISERTAI FRAKTUR SERVICAL DAN FRAKTUR TIBIA DISTAL dengan baik dan tepat pada waktunya. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Mona Megasari S.Kep.,Ners selaku dosen mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat dan kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyelesaian Resume ini, baik berupa materi-materi, pemikiran dan lain sebagainya. Sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Dan penulis mengharapkan Resume ini dapat bermanfaat nantinya bagi para pembaca. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Resume ini masih memiliki kekurangan dan sangat jauh dari kata sempurna, seperti kata peribahasa yaitu tak ada gading yang tak retak. Oleh karena itu, penulis mengaharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Cimahi,Agustus 2011

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Traumatic Brain Injury merupakan salah satu penyebab kematian, kesakitan dan kecacatan serta bertanggung jawab pada proporsi yang signifikan terhadap kematian akibat trauma di Amerika Serikat. Insidensi tahunan dari trauma kepala yaitu sekitar 600 hingga 900 orang per 100.000 populasi. Terdapat 200 hingga 500 orang dirawat di unit gawat darurat, 150 hingga 250 orang dirawat di rumah sakit dengan Traumatic Brain Injury, dan 20 hingga 30 orang meninggal ( 50% di rumah sakit dan 50% di luar rumah sakit) per tahunnya (Bruns and Hauser, 2003). Data menunjukkan bahwa, rata-rata sekitar 1.400.000 orang mengalami Traumatic Brain Injury setiap tahun di Amerika Serikat, dimana 50.000 orang meninggal dan 235.000 orang dirawat di rumah sakit. Penyebab utama dari Traumatic Brain Injury antara lain akibat jatuh (28%), kecelakaan lalu lintas berupa tabrakan kendaraan bermotor (20%), bertubrukan dengan benda yang bergerak maupun diam (19%), dan penyebab lainnya (CDC, 2007). Puncak insidensi dari Traumatic Brain Injury yaitu antara umur 15 - 24 tahun dan orang yang berumur > 64 tahun. Laki-laki memiliki kemungkinan mengalami Traumatic Brain Injury dua kali lipat lebih besar daripada wanita. Pada populasi warga sipil, alkohol terlibat pada lebih dari setengah kasus Traumatic Brain Injury. Menurut penelitian, kecelakaan kendaraan bermotor terutama kecelakaan sepeda motor, terhitung sebagai salah satu penyebab traumatic brain injury terbanyak pada warga sipil (Nicholl and LaFrance, 2009). Di Indonesia sendiri, cedera merupakan salah satu penyebab kematian utama setelah stroke, tuberkulosis, dan hipertensi ( Depkes RI, 2009 ). Proporsi bagian tubuh yang terkena cedera akibat jatuh dan kecelakaan lalu lintas salah satunya adalah kepala yaitu 6.036 (13,1%) dari 45.987 orang yang mengalami

cedera jatuh dan 4.089 (19,6%) dari 20.289 orang yang mengalami kecelakaan lalu lintas (Riskesdas, 2007 dalam Riyadina, 2009). Terdapat banyak cara untuk mengklasifikasikan keparahan dari Traumatic Brain Injury. Glasgow Coma Scale adalah salah satu cara menentukan keparahan dan paling sering digunakan secara klinis. Glasgow Coma Scale didasari pada respon pasien terhadap pembukaan mata, fungsi verbal dan berbagai fungsi atau respon motorik terhadap berbagai stimulus (Bruns and Hauser, 2003). Glasgow Coma Scale diciptakan oleh Jennet dan Teasdale pada tahun 1974. Sejak saat itu GCS merupakan tolak ukur klinis yang digunakan untuk menilai beratnya cedera kepala. GCS seharusnya telah diperiksa pada penderita-penderita pada awal cedera terutama sebelum mendapat obat-obat paralitik dan sebelum intubasi. (Sastrodiningrat, 2007). Glasgow Coma Scale merupakan suatu sistem skoring yang telah distandarisasi untuk menilai status neurologis pasien dengan trauma kapitis. Nilai GCS yang akurat dipergunakan untuk pengobatan langsung dan untuk prediksi outcome pasien. Nilai GCS yang akurat hanya bisa didapat setelah resusitasi tetapi sebelum diberikan sedasi ataupun intubasi (Tintinalli et al, 2004). GCS juga merupakan faktor prediksi yang kuat dalam menentukan prognosa, dimana suatu skor GCS yang rendah pada awal cedera berhubungan dengan prognosa yang buruk (Sastrodiningrat, 2007). Nilai tertinggi dari pemeriksaan Glasgow Coma Scale adalah 15 dan terendah adalah 3. Berdasarkan nilai Glasgow Coma Scale, cedera kepala dapat dibagi atas : Cedera kepala ringan yang dinyatakan dengan GCS 14-15, cedera kepala sedang yang dinyatakan dengan GCS 9-13, dan cedera kepala berat yang dinyatakan dengan GCS 8 ( Japardi, 2004 ). Kelemahan dalam penentuan skor GCS terdapat pada waktu penilaian awal yang tidak tepat, komponen GCS yang jarang diperhatikan sehingga menyebabkan hilangnya informasi, dan urutan penilaian GCS yang tidak

konsisten. Kelemahan tersebut dapat mengurangi reliabilitas GCS baik secara klinis maupun dalam konteks ilmiah. (Zuercher et al, 2009). Penentuan Glasgow Coma Ccale secara cepat dan tepat sangat membantu dalam menentukan keparahan dari Traumatic Brain Injury dan menentukan tindakan lebih lanjut terhadap pasien. Dikarenakan pentingnya Glasgow Coma Scale maka diperlukan pengetahuan tentang gambaran Glasgow Coma Scale pada trauma kapitis. Selain itu, belum terdapat adanya data yang lengkap mengenai kejadian trauma kapitis sehingga insidensinya dapat dinilai.

1.2 Tujuan 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 1.2.5 1.2.6 1.2.7 Untuk mengetahui pengertian dari trauma kepala? Untuk mengetahui apa saja klasifikasi dari trauma kepala? Untuk mengetahui etiologi dari trauma kepala? Untuk mengetahui patofisiologi dari trauma kepala? Untuk mengetahui manifestasi klinis dari trauma kepala? Untuk mengetahui komplikasi apa yg dapat terjadi akibat trauma kepala? Untuk mengetahui pemeriksaan punujang apa yang dilakukan pada pasien trauma kepala? 1.2.8 Untuk mengetahui penatalaksanaan apa yang dilakukan pada pasien trauma kepala??

1.3 Rumusan Masalah 1.3.1 1.3.2 1.3.3 1.3.4 1.3.5 1.3.6 Apa pengertian dari trauma kepala? Apa saja klasifikasi dari trauma kepala? Apa saja etiologi dari trauma kepala? Bagaimana patofisiologi dari trauma kepala? Apa saja manifestasi klinis dari trauma kepala? Komplikasi apa yg dapat terjadi akibat trauma kepala?

1.3.7 1.3.8

Pemeriksaan punujang apa yang dilakukan pada pasien trauma kepala? Penatalaksanaan apa yang dilakukan pada pasien trauma kepala??

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian 2.1.1 Pengertian Trauma Kepala Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala. (Suriadi & Rita Yuliani, 2001). Jenis Trauma Kepala : 1. Robekan kulit kepala. Robekan kulit kepala merupakan kondisi agak ringan dari trauma kepala. Oleh karena kulit kepala banyak mengandung pembuluh darah dengan kurang memiliki kemampuan konstriksi, sehingga banyak trauma kepala dengan perdarahan hebat. Komplikasi utama robekan kepala ini adalah infeksi.

2. Fraktur tulang tengkorak. Fraktur tulang tengkoran sering terjadi pada trauma kepala. Beberapa cara untuk menggambarkan fraktur tulang tengkorak a. Garis patahan atau tekanan. b. Sederhana, remuk atau compound. c. Terbuka atau tertutup.

2.1.2 Pengertian Fraktur Fraktur adalah terputusnya hubungan atau kontinuitas tulang karena stress pada tulang yang berlebihan (Luckmann and Sorensens, 1993 : 1915)

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik kekuatan dan sudut dari tenaga tersebut, keadaan tulang itu sendiri, dan jaringan lunak disekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap. (Price and Wilson, 1995 : 1183) Fraktur menurut Rasjad (1998 : 338) adalah hilangnya konstinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial. a. Fraktur Servical Cedera tulang belakang adalah cedera mengenai cervicalis, vertebralis dan lumbalis akibat trauma ; jatuh dari ketinggian, kecelakakan lalu lintas, kecelakakan olah raga dsb ( Sjamsuhidayat, 1997). b. Fraktur Tibia Fraktur Tibia Fibula adalah terputusnya tulang tibia dan fibula.

2.2 Klasifikasi 2.2.1 Klasifikasi trauma kepala berdasarkan Nilai Skala Glasgow (SKG): a. Minor SKG 13 15 Dapat terjadi kehilangan kesadaran atau amnesia tetapi kurang dari 30 menit. Tidak ada kontusio tengkorak, tidak ada fraktur cerebral, hematoma. b. Sedang SKG 9 12 Kehilangan kesadaran dan amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam.

c. Berat

Dapat mengalami fraktur tengkorak. SKG 3 8 Kehilangan kesadaran dan atau terjadi amnesia lebih dari 24 jam. Juga meliputi kontusio serebral, laserasi, atau hematoma intrakranial.

2.2.2 Klasifikasi Fraktur 1) Fraktur komplet : Fraktur / patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran dari posisi normal. 2) Fraktur tidak komplet : Fraktur / patah yang hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang. 3) Fraktur tertutup : Fraktur yang tidak menyebabkan robeknya kulit, jadi fragmen frakturnya tidak menembus jaringan kulit. 4) Fraktur terbuka : Fraktur yang disertai kerusakan kulit pada tempat fraktur (Fragmen frakturnya menembus kulit), dimana bakteri dari luar bisa menimbulkan infeksi pada tempat fraktur (terkontaminasi oleh benda asing) Grade I : Luka bersih, panjang Grade II : Luka lebih besar / luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif Grade III : Sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak yang ekstensif, merupakan yang paling berat. Jenis khusus fraktur a) Greenstick : Fraktur dimana salah satu sisi tulang patah, sedang sisi lainnya membengkok. b) Tranversal : Fraktur sepanjang garis tengah tulang. c) Oblik : Fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang.

d) Spiral : Fraktur memuntir seputar batang tulang e) Kominutif : Fraktur dengan tu