pulpitis ok

of 51 /51
Skenario 1 Judul:Gigi Pak Alif yang sakit TIU:Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa,menentukan rencana perawatan dan Restorasi akhir Pak Alif 30 tahun,datang ke klinik drg.Ferry,mengeluhkan gigi geraham kanan bawahnya sakit berdenyut semalaman dan tidak bisa tidur.Selain itu ia juga mengeluhkan gigi depan yang berlubang dan sudah mulai ngilu.Pemeriksaan klinis menunjukkan tes vitalitas gigi molar satu kanan bawah,karies oklusal meluas ke distobukal,sondasi (+),kedalaman karies D6,tes vitalitas (+),perkusi(-),palpasi(-). Pada gigi insisivus kanan atasnya,terlihat kavitas dengan kedalaman D5 pada area mesial meluas ke sudut insisal,sondasi (+),tes vitalitas(+),perkusi(-),palpasi(-).Drg.Ferry meminta pak alif untuk melakukan pemeriksaan radiografi pada kedua gigi yang bermasalah tersebut,dan setelah membaca gambaran radiografi yang terlihat normal,drg.Ferry menjelaskan diagnosa dan rencana perawatan yang akan dilakukan pada gigi pak alif hingga jenis restorasi akhir. Learning Issues: 1. Cara menegakkan diagnosa a. Anamnesa b. Pemeriksaan klinis c. Pemeriksaan Radiografi 2. Rencana Perawatan a. perawatan saluran akar

Upload: sabrinabressy

Post on 19-Jan-2016

32 views

Category:

Documents


4 download

TRANSCRIPT

Page 1: Pulpitis Ok

Skenario 1

Judul:Gigi Pak Alif yang sakit

TIU:Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa,menentukan rencana perawatan dan Restorasi

akhir

Pak Alif 30 tahun,datang ke klinik drg.Ferry,mengeluhkan gigi geraham kanan bawahnya sakit

berdenyut semalaman dan tidak bisa tidur.Selain itu ia juga mengeluhkan gigi depan yang

berlubang dan sudah mulai ngilu.Pemeriksaan klinis menunjukkan tes vitalitas gigi molar satu

kanan bawah,karies oklusal meluas ke distobukal,sondasi (+),kedalaman karies D6,tes vitalitas

(+),perkusi(-),palpasi(-).

Pada gigi insisivus kanan atasnya,terlihat kavitas dengan kedalaman D5 pada area mesial meluas

ke sudut insisal,sondasi (+),tes vitalitas(+),perkusi(-),palpasi(-).Drg.Ferry meminta pak alif untuk

melakukan pemeriksaan radiografi pada kedua gigi yang bermasalah tersebut,dan setelah

membaca gambaran radiografi yang terlihat normal,drg.Ferry menjelaskan diagnosa dan rencana

perawatan yang akan dilakukan pada gigi pak alif hingga jenis restorasi akhir.

Learning Issues:

1.      Cara menegakkan diagnosa

a.       Anamnesa

b.      Pemeriksaan klinis

c.       Pemeriksaan Radiografi

2.      Rencana Perawatan

a.       perawatan saluran akar

b.      Restorasi Akhir

c.       Respon pulpa pada gigi yang mengalami lesi D6 dan D5

Hasil Belajar Mandiri:

1.Cara Menegakan diagnose

Tahap-tahap menegakan diagnosis dan rencana perawatan:

         Tentukan keluhan utama

         Tentukan informasi penting yang berkaitan dengan riwayat medis dan riwayat kesehatan pasien

         Lakukan pemeriksaan objektif dan pemeriksaan radiografis secara teliti

         Lakukan analisis data yang diperoleh

Page 2: Pulpitis Ok

         Formulasikan diagnosis dan rencana perawatan dengan tepat

Keluhan utama

Merupakan inforasi pertama yang diperoleh, berupa gejala atau masalah yang diutarakan pasien

dengan bahasanya tersendiri,yang berkaitan dengan kondisi yang menyebabkannya cepata-cepata

dating mencari perawatan.

Riwayat kesehatan secara umum

Memeriksa secara tuntas kesehatan umum pasien baru dan menelaah ulang serta memperbaharui

data riwayat kesehatan umumpasien lama merupakan langkah pertama penegakan diagnosis.

Riwayat kesehatan umum yang lengkapa bagi pasien baru terdiri atas data demografis, riwayat

medis, riwayat dental dan keluhan utama.

Data demografis

Data demografis mengidentifikasi karakter pasien.

Riwayat medis

Riwayat medis menyediakan informasi mengenai kerentanan dan reaksi pasien terhadap infeksi,

hala-hal mengenai pendarahan, obat-obat yang telah diberikan, dan status emosionalnya.

Riwayat medis tidak dimaksudkan sebagai pemeriksaan klinis lengkap, cukup formulir

pemeriksaan secara singkat yang berisi penyakit serius yang sedang dan pernah diderita, serta

pemedahan yang perbah dialami. Jika ditemukan penyakit fisik atau psikologis yang parah atau

penyakit yang masih diragukan yang mungkin mengganggu diagnosis dan perawatan, lakukan

pemeriksaan lebih lanjut dan dikonsultasikan dengan profesi kesehatan lainnya.

Keadaaan medis yang kontraindikasi bagi perawatan saluran akar iridasi jaringan rongga mulut

atau penyakit yang mengganggu system imun pasien seperti AIDS. Daerah kepeduliaan lain

yang mungkin memerlukan perawatan khusus adalah meningkatnya insidens alergi terhadap

lateks, terapi pengganti glukokortikosteroid, hepatitis, hemostatis tertunda, kondisi jamtung

tertentu, dan penggantian sendi.

Riwayat dental

Merupakan ringkasa dari penyakit dental yang pernh dan sedang diderita. Informasi dalam

riwayat dental mengungkapakan pula penyakit-penyakit gigi yang pernah dialami oleh pasie

pada masa lalu serta petunjuk mengenai masalah psikologis yang mungkin ada dan menjelaskan

sejumlah temuan klinis yang tidak jelas.

Pemeriksaan subjektif

Page 3: Pulpitis Ok

a.       Penyakit yang sedang diderita : pasien mengungkapakan masalah yang dideritanya,

menyebutkan lokasinya, awitan, karakter dan keparahan nyeri yang diderita.

b.      Aspek nyta dari nyeri : bisa intensitas nyeri, nyeri spontan, nyeri terus menerus.

Pemeriksaan Objektif

Pemeriksaan ekstra oral : penampilan umum, tonus kulit, asimetris wajah, pembengkakan,

perubahan warna, kemerahan, jaringan parut ekstra oral atau saluran sinus, kepekaan atau

membesarnya nodus limfe servikal atau fasial adalah indikatorbagi status fisik pasien.

Pemeriksaan intra oral : meliputipemeriksaan jaringan lunak dan gigi geligi.

Tes klinis

a.       Pemeriksaan visual dan taktil

Suatu pemeriksaan visual dan taktil jaringan keras dan lunak yang cermat mengandalakan

pemeriksaan “three Cs”: color, contour, dan consistency. Pemeriksaan menggunakan mata, jari-

jari tangan, eksplorer dan prob (probe) periodontal.

b.      Tes mobilitas-depersibilitas

Tes Mobilitas untuk mengevaluasi integritas aparatus di sekeliling gigi . Tujuannya apakah

jaringan penyangga mengikat kuat gigi atau sebaliknya

Tes Depressibilitas untuk melihat pergerakkan gigi pada arah vertical. Caranya dengan bantuan

jari atau instrumen

Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan:

Mobiliti derajat 1 à adanya pergerakan ringan pd gigi dg soketnya

Mobiliti derajat 2 à gerakan gigi dlm soketnya dalam jarak 1 mm

Mobiliti derajat 3 à gerakan gigi dlm soketnya dlm jrk >> 1mm atau gigi dapat ditekan

(Perawatan endodontik tidak boleh dilakukan pada gigi derajat 3, kecuali bila mobilitas dapat

dirawat terlebih dahulu, cth abses apikalis akut)

c.       Tes vitalitas

         Stimulasi dentin langsung : dengan menggoreskan sonde pada dentin yang terbuka. Karies

disonde sampai dalam shg mencapai dentin yang tidak karies. Jika timbul sensasi tajam dan tiba-

tiba berarti pulpanya berisi jaringan vital

         Tes dingin : pasien akan cepat menunjukkan pulpa vital tersebut tanpa memperhatikan apakah

pulpa itu normal atau abnormal. Tes dingin dlkn dg cara etil klorida yang disemprotkan pada

butiran kapas, atau pecahan es yang dimasukkan ke dalam kavitas. Dapat juga digunakan salju

Page 4: Pulpitis Ok

karbondioksida (coz temperatur -78 derajat C à mampu menembus restorasi penuh pada gigi

untuk mendapatkan respon dari jaringan gigi yang terdapat dibawahnya.

         Tes panas è rasa sakit terbatas atau difus, kadang2 dirasakan di tmp lain. Tes panas dilkkn dg

menngunakan gutapercha yang dipanaskan dan dimasukkan ke dalam kavitas atau kapas yang

dibasahi air panas lalu dimasukkan ke dalam kavitas, atau dengan instrumen panas

4 Kemungkinan respon dari tes termal :

1. Tidak ada respon

o   gg non vital atau vital tp false respon.

o   respon negatif palsu : metamorfosis kalsium pd pulpa, mengenai gigi tetangga, apeks imature,

trauma, premedikasi pd pasien

o   respon positif palsu :mengenai gingiva

2.Respon rasa sakit ringan – sedang è normal

3.Respon rasa sakit yang kuat dan berkurang dg cepat jk stimulus disingkirkan dr gigi è

reversible pulpitis

4.Respon rasa sakit yang kuat dan berkurang sec lambat jk stimulus disingkirkan dr gigi è

irreversible pulpitis

         Pengujian pulpa dengan elektrik

Lebih cermat dalam menentukan vitalitas gigi

Tujuan è menstimulasi respon pulpa dg menggunakan arus listrik yg makin meningkat pada

gigi.

(+) è bila ada respon è artinya masih vital

(-) è bila tidak ada respon è artinya gigi non vital

d.      Tes perkusi

Utk mengevaluasi status peridonsium di sekitar gigi. Seorang klinisi hrs menyadari bahwa tes

perkusi tidak mengindikasikan sehat atau tdknya integritas jar. Pulpa. Cara è Gigi di beri

pukulan ringan dg menggunakan jari, kemudian ujung kaca mulut (tangkai instrument), diketuk

pd perm O,F,L. Jgn melakukan perkusi gigi sensitif melebihi toleransi pasien

e.       Tes palpasi

Page 5: Pulpitis Ok

Nekrose pulpa à meluas à area apikal à hilangnya tlg kortikal bag. Fasial à mempengaruhi

periosteum à inflamasi periosteum à pergerakan gigi yg menandai eksistensi dan derajat

sensitivitas akibat inflamasi periapikal

Pd abses M bawah à dilakukan palpasi area submandibular bimanual utk menentukan apakah

ada limphnode submandibular yg tlh terinfeksi akibat penjalaran penyakit.

Teknik sederhana dengan menekan ujung jari menggunakan tekanan ringan

Tujuan memeriksa konsistensi jaringan dan respon rasa sakit.

o   Utk penentuan treatment (cth bila fluktuasi cukup besar, apakah gigi perlu difluktuasi?)

o   Utk melihat lokasi dan intensitas rasa sakit

o   Adanya lokasi adenopati

o   Melihat krepitus tulang

f.       Tes anastesi

terbatas bagi pasien yg sedang merasa sakit pd wkt dites, bila tes yg biasa gagal utk

memungkinkan seseorang mengidentifikasikan gigi. Tujuan : menganestesi gigi tunggal bertutut-

turut sampai rasa sakitnya hilang dan terbatas pada gigi/area tertentu

Cara è menggunakan injeksi infiltrasiatau intraligamen, lakukan injeksi pada gigi yg plg

belakang pd daerah yang dicurigai sbg penyebab rasa sakit. Jk rasa sakit tetap stlh gigi dianestesi

penuh à lakukan anestesi pd gigi disebelahnya lanjutkan sampai rasa sakit hilang. Jk tidak juga

è ?

g.      Tes kavitas

Utk menentukan vitalitas pulpa. Dilakukan dg mengebur sampai pertemuan enamel-dentindg

kecepatan rendah è tanpa air pendingin è sensitivitas nyeri mrp indikasi vitalitas pulpa.

Mrp alternatif terakhir metode penegakkan diagnosa

Sering mengakibatkan kesalahan iatrogenik

Pemeriksaan penunjang

Radiografi

Radiograf berisi informasi mengenai adanya karies yg dpt melibatkan pulpa

Radiografi tdk dpt menentukan apakah pulpa itu vital atau tdk, ttp dpt mendeteksi perubahan2 yg

mungkin tjd pd perubahan degeneratif pulpa, lesi karies yg meluas, restorasi yg dlm dan meluas,

Page 6: Pulpitis Ok

tanduk pulpa, pulpotomi, pulp stones, kalsifikasi s.a yg meluas, resorbsi akar, radiolusensi area

apeks, fraktur akar, menipisnya lig. Periodonsium, penyakit2 p’tal

Menunjukkan jlh, bagian, btk, panjang, dan lebar sal. akar, batu pulpa, resorbsi dentin, kalsifikasi

Dalam endodonti à utk membantu menegakkan diagnosa, melihat inisial apikal file, master

apikal cone, obturasi dan restorasi akhir, agar tdk terjadi kesalahan spt over instrumentasi,

underfilling, dll

2.Rencana Perawatan

a.Penyakit Pulpa dan Rencana Perawatannya

1. Pulpitis

Pulpitis adalah suatu radang yang terjadi pada jaringan pulpa gigi dengan gambaran klinik yang

akut. Merupakan penyakit lanjut karena didahului oleh terjadinya karies, hyperemia pulpa baru

setelah itu menjadi Pulpitis, yaitu ketika radang sudah mengenai kavum pulpa.

Etiologi

Penyebab Pulpitis yang paling sering ditemukan adalah kerusakan email dan dentin, penyebab

kedua adalah cedera.

Gejala

Pulpitis menyebabkan sakit gigi yang tajam luar biasa, terutama bila terkena oleh air dingin,

asam, manis, kadang hanya dengan menghisap angina pun sakit. Rasa sakit dapat menyebar ke

kepala, telinga dan kadang sampai ke punggung.

- Sondasi (+)

- Perkusi (-)

- Reaksi dingin, manis dan asam (+)

- Pembesaran kelenjar (-)

- Rasa sakit tidak terus menerus, terutama pada malam hari

- Rasa sakit tersebar dan tidak bias dilokalisasi.

- Rasa sakit berdenyut khas, yaitu rasa sakit yang tajam dan dapat menjalar ke kepala dan telinga

kadang ke punggung

Page 7: Pulpitis Ok

Diagnosa

Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan klinis. Dalam hal ini dapat

dilakukan beberapa pengujian :

- Diberikan rangsangan dingin, asam, manis

Pasien terasa sakit sekali/sakit bertambah menusuk. Rangsangan dingin, asam dan manis (+)

- Penguji Pulpa Elektrik

pada pengujian dengan alat penguji elektrik, pasien merasa sangat nyeri, kadang belum tersentuh

pun pasien terasa sangat nyeri

- Perkusi Dengan Pangkal Sonde

pada pulpitis perkusi (-), tapi pasien merasa nyeri/perkusi (+), disebabkan karena pada dasarnya

pasien sudah merasa sakit pada giginya sehingga hanya paktor sugesti yang mendasarinya. Bila

perkusi terasa nyeri/perkusi (+), maka peradangan telah menyebar ke jaringan dan tulang

sekitarnya.

- Roentgen Gigi

pada pemeriksaan dengan roentgen maka didapatkan gambaran radiologist berupa gambaran

radioluscent yang telah mencapai kavum pulpa. Pemeriksaan radiologist dilakukan untuk

memperkuat diagnosa dan menunjukkan apakah peradangan telah menyebar ke jaringan dan

tulang sekitarnya.

Rencana Therapy

a. Endodontics (perawatan saraf gigi)

b. Ekstraksi gigi

a. Pulpitis Reversible

Menurut arti katanya, pulpitis reversible adalah inflamasi pulpa yang tidak parah. Jika

penyebabnya telah dihilangkan, inflamasinya akan pulih kembali dan pulpa akan kembali

normal. Pulpitis eversible dapat ditimbulkan oleh stimuli ringan atau yang berjalan sebentar

seperti karies insipien, erosi servikal atau atrisi oklusal, sebagian prosedur operatif, kuretasi

periodontium yang dalam, dan fraktur enamel yang menyebabkan terbukanya dentin. Biasanya

pulpitis reversible tidak menimbulkan gejala (asimtomatik), akan tetapi jika ada, gejala biasanya

timbul dari suatu pola tertentu. Aplikasi cairan atau udara dingin/panas misalnya, bisa

Page 8: Pulpitis Ok

menimbulkan nyeri tajam sementara. Jika stimuli dihilangkan, yang secara normal tidak

menimbulkan nyeri atau ketidaknyamanan, nyeri akan reda segera. Stimuli panas atau dingin

menghasilkan respons nyeri yang berbeda-beda pada pulpa normal. Jika panas diaplikasikan

pada gigi yang pulpanya tidak terinflamasi, akan timbul respon awal yang lambat; intensitas

nyerinya akan makin naik jika suhunya dinaikkan. Sebaliknya, nyeri sebagai respons terhadap

aplikasi dingin pada pulpa normal akan segera terjadi; intensitas nyeri cenderung menurun jika

stimulus dinginnya dipertahankan tetap. Berdasarkan observasi-observasi ini, respons pulpa pada

kedua keadaan, sehat atau sakit, tampaknya

Pulpitis reversibel dapat berkisar dari hiperemia ke perubahan inflamasi ringan hingga sedang

terbatas pada daerah dimana tubuli dentin terlibat. Secara mikroskopis terlihat dentin reparatif,

gangguan lapisan odontoblas, pembesaran pembuluh darah dan adanya sel inflamasi kronis yang

secara imunologis kompeten. Meskipun sel inflamasi kronis menonjol dapat dilihat juga sel

inflamasi akut.

Pulpitis reversibel yang simtomatik, seacara klinik ditandai dengan gejala sensitif dan rasa sakit

tajam yang hanya sebentar. Lebih sering diakibatkan oleh rangsangan dingin daripada panas.

Ada keluhan rasa sakit bila kemasukan makanan, terutama makanan dan minuman dingin. Rasa

sakit hilang apabila rangsangan dihilangkan, rasa sakit yang timbul tidak secara spontan.

Cara praktis untuk mendiagnosa pulpitis reversibel adalah:

- Anamnesa: ditemukan rasa sakit / nyeri sebentar, dan hilang setelah rangsangan dihilangkan

- Gejala Subyektif: ditemukan lokasi nyeri lokal (setempat), rasa linu timbul bila ada rangsangan,

durasi nyeri sebentar.

- Gejala Obyektif: kariesnya tidak dalam (hanya mengenai enamel, kadang-kadang mencapai

selapis tipis dentin), perkusi, tekanan tidak sakit.

- Tes vitalitas: gigi masih vital

- Terapi: jika karies media dapat langsung dilakukan penumpatan, tetapi jika karies porfunda

perlu pulp capping terlebih dahulu, apabila 1 minggu kemudian tidak ada keluhan dapat langsung

dilakukan penumpatan.

Perawatan terbaik untuk pulpitis reversibel adalah pencegahan. Perawatan periodik untuk

mencegah perkembangan karies, penumpatan awal bila kavitas meluas, desensitisasi leher gigi

dimana terdapat resesi gingiva, penggunaan pernis kavitas atau semen dasar sebelum

Page 9: Pulpitis Ok

penumpatan, dan perhatian pada preparasi kavitas dan pemolesan dianjurkan untuk mencegah

pulpitis lebih lanjut. Bila dijumpai pulpitis reversibel, penghilangan stimulasi (jejas) biasanya

sudah cukup, begitu gejala telah reda, gigi harus dites vitalitasnya untuk memastikan bahwa

tidak terjadi nekrosis. Apabila rasa sakit tetap ada walaupun telah dilakukan perawatan yang

tepat, maka inflamasi pulpa dianggap sebagai pulpitis irreversibel, yang perawatannya adalah

eksterpasi, untuk kemudian dilakukan pulpektomi.

Prognosa untuk pulpa adalah baik, bila iritasi diambil cukup dini, kalau tidak kondisinya dapat

berkembang menjadi pulpitis irreversibel.

b. Pulpitis Ireversible

Definisi pulpitis irreversibel adalah suatu kondisi inflamasi pulpa yang persisten, dapat

simtomatik atau asimtomatik yang disebabkan oleh suatu stimulus/jejas, dimana pertahanan

pulpa tidak dapat menanggulangi inflamasi yang terjadi dan pulpa tidak dapat kembali ke kondisi

semula atau normal.

Pulpitis irreversibel akut menunjukkan rasa sakit yang biasanya disebabkan oleh stimulus panas

atau dingin, atau rasa sakit yang timbul secara spontan. Rasa sakit bertahan untuk beberapa menit

sampai berjam-jam, dan tetap ada setelah stimulus/jejas termal dihilangkan.

Pulpitis irreversibel kebanyakan disebabkan oleh kuman yang berasal dari karies, jadi sudah ada

keterlibatan bakterial pulpa melalui karies, meskipun bisa juga disebabkan oleh faktor fisis,

kimia, termal, dan mekanis. Pulpitis irreversibel bisa juga terjadi dimana merupakan kelanjutan

dari pulpitis reversibel yang tidak dilakukan perawatan dengan baik.

Pada awal pemeriksaan klinik pulpitis irreversibel ditandai dengan suatu paroksisme (serangan

hebat), rasa sakit dapat disebabkan oleh hal berikut: perubahan temperatur yang tiba-tiba,

terutama dingin; bahan makanan manis ke dalam kavitas atau pengisapan yang dilakukan oleh

lidah atau pipi; dan sikap berbaring yang menyebabkan bendungan pada pembuluh darah pulpa.

Rasa sakit biasanya berlanjut jika penyebab telah dihilangkan, dan dapat datang dan pergi secara

spontan, tanpa penyebab yang jelas. Rasa sakit seringkali dilukiskan oleh pasien sebagai

menusuk, tajam atau menyentak-nyentak, dan umumnya adalah parah. Rasa sakit bisa sebentar-

sebentar atau terus-menerus tergantung pada tingkat keterlibatan pulpa dan tergantung pada

hubungannya dengan ada tidaknya suatu stimulus eksternal. Terkadang pasien juga merasakan

rasa sakit yang menyebar ke gigi di dekatnya, ke pelipis atau ke telinga bila bawah belakang

yang terkena.

Page 10: Pulpitis Ok

Secara mikroskopis pulpa tidak perlu terbuka, tetapi pada umunya terdapat pembukaan sedikit,

atau kalau tidak pulpa ditutup oleh suatu lapisan karies lunak seperti kulit. Bila tidak ada jalan

keluar, baik karena masuknya makanan ke dalam pembukaan kecil pada dentin, rasa sakit dapat

sangat hebat, dan biasanya tidak tertahankan walaupun dengan segala analgesik. Setelah

pembukaan atau draenase pulpa, rasa sakit dapat menjadi ringan atau hilang sama sekali. Rasa

sakit dapat kembali bila makanan masuk ke dalam kavitas atau masuk di bawah tumpatan yang

bocor.

Cara praktis untuk mendiagnosa pulpitis ireversibel adalah:

- Anamnesa: ditemukan rasa nyeri spontan yang berkepanjangan serta menyebar

- Gejala Subyektif: nyeri tajam (panas, dingin), spontan (tanpa ada rangsangan sakit), nyeri lama

sampai berjam-jam.

- Gejala Obyektif: karies profunda, kadang-kadang profunda perforasi, perkusi dan tekan

kadang-kadang ada keluhan.

- Tes vitalitas: peka pada uji vitalitas dengan dingin, sehingga keadaan gigi dinyatakan vital.

- Terapi: pulpektomi

Dengan pemeriksaan histopatologik terlihat tanda-tanda inflamasi kronis dan akut. Terjadi

perubahan berupa sel-sel nekrotik yang dapat menarik sel-sel radang terutama leukosit

polimorfonuklear dengan adanya kemotaksis dan terjadi radang akut. Terjadi fagositosis oleh

leukosit polimorfonuklear pada daerah nekrosis dan leukosit mati serta membentuk eksudat atau

nanah. Tampak pula sel-sel radang kronis seperti sel plasma, limfosit dan makrofag.

Perawatan terdiri dari pengambilan seluruh pulpa, atau pulpektomi, dan penumpatan suatu

medikamen intrakanal sebagai desinfektan atau obtuden (meringankan rasa sakit) misalnya

kresatin, eugenol, atau formokresol. Pada gigi posterior, dimana waktu merupakan suatu faktor,

maka pengambilan pulpa koronal atau pulpektomi dan penempatan formokresol atau dressing

yang serupa di atas pulpa radikuler harus dilakukan sebagai suatu prosedur darurat. Pengambilan

secara bedah harus dipertimbangkan bila gigi tidak dapat direstorasi.

Prognosa gigi adalah baik apabila pulpa diambil kemudian dilakukan terapi endodontik dan

restorasi yang tepat.

Page 11: Pulpitis Ok

c. Pulpitis Kronis Hiperplastik

Pulpitis hiperplastik (polip pulpa) adalah bentuk pulpitis irreversible akibat bertumbuhnya pulpa

muda yang terinflamasi secara kronik hingga ke permukaan oklusal. Baisanya ditemukan pada

mahkota yang karies pada pasien muda. Pulpa poip biasanya diasosiasikan dengan kayanya

pulpa muda akan pembuluh darah, memadainya tempat terbuka untuk drainase, dan adanya

proliferasi jaringan. Pada pemeriksaan histology terlihat adanya epitel permukaan dan jaringan

ikat di bawahnya yang terinflamasi. Sel-sel epitel oral tertanam dan bertumbuh menutupi

permukaan dan membentuk tutup epitel.

Polip pulpa biasanya asimtomatik dan terlihat sebagai benjolan jaringan ikat seperti kol yang

berwarna kemerah-merahan mengisi kavitas karies di permukaan oklusal yang besar. Hal ini

kadang-kadang diasosiasikan dengan tanda-tanda klinis pulpitis ireversibel seperti nyeri spontan

serta nyeri yang menetap terhadap stimulus panas dan dingin . Aambang rangsang terhadap

stimulus elektrik adalah sama dengan pulpa normal. Respon gigi terhadap palapasi atau perkusi

normal. Perawatannya adalah pulpotomi, perawatan saluran akar atau ekstraksi.

2.2.2 Nekrosis Pulpa

Pulpa yang berfungsi normal pada umumnya berespon terhadap berbagai stimulus (panas atau

dingin). Pulpa normal merespon terhadap panas atau dingin dengan nyeriyang ringan yang

terjadi selama kurang dari 10 detik. Juga perkusi pada gigi tidak menimbulkan respon nyeri.

Bagaimanapun normal pulpa tidak akan merespon terhadap tes suhu. Jika kanal pada akar

mengalami kalsifikasi karena proses penuaan, trauma, plak yang menempel atau penyebab

lainnya, tes suhu tidak akan memberikan respon selama pulpa gigi pasien tetap sehat dan

berfungsi normal. Tes elektrik pulpa memunculkan respon dari pasien yang pulpanya masih

berfungsi. Dokter harus berhati-hati terhadap hasil dari tes ini karena hasilnya tidak tetap

se/hingga tidak diperlukan untuk melihat status kesehatan.

Pengertian Nekrosis Pulpa

Nekrosis pulpa merupakan kematian pulpa yang merupakan proses lanjutan dari inflamasi pulpa

akut/kronik atau terhentinya sirkulasi darah secara tiba-tiba akibat trauma. Nekrosis pulpa dapat

terjadi parsialis ataupun totalis

Page 12: Pulpitis Ok

Ada 2 tipe nekrosis pulpa, yaitu:

1. Tipe koagulasi

Pada tipe ini ada bagian jaringan yang larut, mengendap dan berubah menjadi bahan yang padat.

2. Tipe liquefaction

Pada tipe ini, enzim proteolitik merubah jaringan pulpa menjadi suatu bahan yang lunak atau

cair.Pada setiap proses kematian pulpa selalu terbentuk hasil akhir berupa H2S, amoniak, bahan-

bahan yang bersifat lemak, indikan, protamain, air dan CO2. Diantaranya juga dihasilkan indol,

skatol, putresin dan kadaverin yang menyebabkan bau busuk pada peristiwa kematian pulpa. Bila

pada peristiwa nekrosis juga ikut masuk kuman-kuman yang saprofit anaerob, maka kematian

pulpa ini disebut gangren pulpa3.

Etiologi

Nekrosis atau kematian pulpa memiliki penyebab yang bervariasi, pada umumnya disebabkan

keadaan radang pulpitis yang ireversibel tanpa penanganan atau dapat terjadi secara tiba-tiba

akibat luka trauma yang mengganggu suplai aliran darah ke pulpa. Meskipun bagian sisa

nekrosis dari pulpa dicairkan atau dikoagulasikan, pulpa tetap mengalami kematian. Dalam

beberapa jam pulpa yang mengalami inflamasi dapat berdegenerasi menjadi kondisi nekrosis2.

Penyebab nekrosi lainnya adalah bakteri, trauma, iritasi dari bahan restorasi silikat, ataupun

akrilik. Nekrosis pulpa juga dapat terjadi pada aplikasi bahan-bahan devitalisasi seperti arsen dan

paraformaldehid. Nekrosis pulpa dapat terjadi secara cepat (dalam beberapa minggu) atau

beberapa bulan sampai menahun. Kondisi atrisi dan karies yang tidak ditangani juga dapat

menyebabkan nekrosis pulpa. Nekrosis pulpa lebih sering terjadi pada kondisi fase kronis

dibanding fase akut.

Patofisiologi

Jaringan pulpa yang kaya akan vaskuler, syaraf dan sel odontoblast; memiliki kemampuan untuk

melakukan defensive reaction yaitu kemampuan untuk mengadakan pemulihan jika terjadi

peradangan.Akan tetapi apabila terjadi inflamasi kronis pada jaringan pulpa atau merupakan

proses lanjut dari radang jaringan pulpa maka akan menyebabkan kematian pulpa/nekrosis pulpa.

Hal ini sebagai akibat kegagalan jaringan pulpa dalam mengusahakan pemulihan atau

penyembuhan. Semakin luas kerusakan jaringan pulpayang meradang semakin berat sisa

Page 13: Pulpitis Ok

jaringan pulpa yang sehat untuk mempertahankan vitalitasnya. Nekrosis pulpa pada dasarnya

terjadi diawali karena adanya infeksi bakteria pada jaringan pulpa. Ini bisa terjadi akibat adanya

kontak antara jaringan pulpa dengan lingkungan oral akibat terbentuknya dentinal tubules dan

direct pulpal exposure, hal ini memudahkan infeksi bacteria ke jaringan pulpa yang

menyebabkan radang pada jaringan pulpa. Apabila tidak dilakukan penanganan, maka inflamasi

pada pulpa akan bertambah parah dan dapat terjadi perubahan sirkulasi darah di dalam pulpa

yang pada akhirnya menyebabkan nekrosis pulpa. Dentinal tubules dapat terbentuk sebagai hasil

dari operative atau restorative procedure yang kurang baik atau akibat restorative material yang

bersifat iritatif. Bisa juga diakibatkan karena fraktur pada enamel, fraktur dentin, proses erosi,

atrisi dan abrasi. Dari dentinal tubules inilah infeksi bakteria dapat mencapai jaringan pulpa dan

menyebabkan peradangan. Sedangkan direct pulpal exposure bisa disebabkan karenaproses

trauma, operative procedure dan yang paling umum adalah karena adanya karies. Hal ini

mengakibatkan bakteria menginfeksi jaringan pulpa dan terjadi peradangan jaringan pulpa.

Nekrosis pulpa yang disebabkan adanya trauma pada gigi dapat menyebabkan nekrosis pulpa

dalam waktu yang segera yaitu beberapa minggu. Pada dasarnya prosesnya sama yaitu terjadi

perubahan sirkulasi darah di dalam pulpa yang pada akhirnya menyebabkan nekrosis pulpa.

Trauma pada gigi dapat menyebabkan obstruksi pembuluh darah utama pada apek dan

selanjutnya mengakibatkan terjadinya dilatasi pembuluh darah kapiler pada pulpa. Dilatasi

kapiler pulpa ini diikuti dengan degenerasi kapiler dan terjadi edema pulpa. Karena kekurangan

sirkulasi kolateral pada pulpa, maka dapat terjadi ischemia infark sebagian atau total pada pulpa

dan menyebabkan respon pulpa terhadap inflamasi rendah. Hal ini memungkinkan bakteri untuk

penetrasi sampai ke pembuluh dara kecil pada apeks. Semuaproses tersebut dapat mengakibatkan

terjadinya nekrosis pulpa.

Gejala-gejala

Nekrosis pulpa dapat terjadi parsial atau total. Tipe parsial dapat memperlihatkan gejala pulpitis

yang ireversibel. Yaitu menunjukkan rasa sakit yang biasanya disebabkan oleh stimulus panas

atau dingin, atau rasa sakit yang timbul secara spontan. Rasa sakit bertahan untuk beberapa menit

sampai berjam-jam, dan tetap ada setelah stimulus/jejas termal dihilangkan. Pada awal

pemeriksaan klinik ditandai dengan suatu paroksisme (serangan hebat), rasa sakit dapat

disebabkan oleh hal berikut: perubahan temperatur yang tiba-tiba, terutama dingin; bahan

makanan manis ke dalam kavitas atau pengisapan yang dilakukan oleh lidah atau pipi; dan sikap

Page 14: Pulpitis Ok

berbaring yang menyebabkan bendungan pada pembuluh darah pulpa. Rasa sakit biasanya

berlanjut jika penyebab telah dihilangkan, dan dapat datang dan pergi secara spontan, tanpa

penyebab yang jelas. Rasa sakit seringkali dilukiskan oleh pasien sebagai menusuk, tajam atau

menyentak-nyentak, dan umumnya adalah parah. Rasa sakit bisa sebentar-sebentar atau terus-

menerus tergantung pada tingkat keterlibatan pulpa dan tergantung pada hubungannya dengan

ada tidaknya suatu stimulus eksternal. Terkadang pasien juga merasakan rasa sakit yang

menyebar ke gigi di dekatnya, ke pelipis atau ke telinga bila bawah belakang yang terkena.

Diagnosis

Radiograf umumnya menunjukkan suatu kavitas atau tumpatan besar, suatu jalan terbuka ke

saluran akar, dan suatu penebalan ligamen periodontal.

Pengobatan

Simtomatis :

Diberikan obat-obat penghilang rasa sakit/anti inflmasi (OAINS)

Kausatif :

Diberikan antibiotika (bila ada peradangan)

Tindakan :

Gigi dibersihkan dengan semprit air, lalu dikeringkan dengan kapas. Beri anagesik, bila ada

peradangan bisa di tambah dengan antibiotic Sesudah peradangan reda bisa dilakukan

pencabutan atau dirujuk untuk perawatan saluran akar. Biasanya perawatan saluran akar yang

digunakan yaitu endodontic intrakanal. Yaitu perawatan pada bagian dalam gigi (ruang akar dan

saluran akar) dan kelainan periapaikal yang disebabkan karena pulpa gigi tersebut

a. Nekrosi Parsialis

Pulpa terkurung dalam ruangan yang dilingkungi oleh dinding yang kaku, tidak memiliki

sirkulasi darah kolateral, dan venula serta system limfenya akan lumpuh jika tekanan

intrapulpanya meningkat. Oleh karena itu, pulpitis irreversible akan menyebabkan nekrosis

likuefaksi. Jika eksudat yang timbul selama pulpitis ireversibel diabsorbsi atau terdrainase

melalui karies atau melalui daerah pulpa terbuka ke dalam rongga mulut, terjadinya nekrosis

akan tertunda; pulpa di akar mungkin masih tetap vital untuk waktu yang lama. Sebaliknya,

penutupan atau penambalan pulpa terinflamasi akan menginduksi nekrosis pulpa yang cepat dan

total serta penyakit periradikuler. Selain nekrosis likuefaksi, nekrosis pulpa iskemik dapat timbul

Page 15: Pulpitis Ok

akibat trauma karena terganggunya pembuluh darah. Dapat dikatakan nekrosis pulpa parsialis

apabila sebagian jaringan pulpa di dalam saluran akar masih dalam keadaan vital.

Nekrosis pulpa biasanya tidak menimbulkan gejala tetapi dapat juga disertai dengan episode

nyeri spontan atau nyeri ketika ditekan (dari periapeks). Gejala klinis nekrosis pulpa parsialis:

- Pada anamnesa terdapat keluhan spontan.

- Pada pemeriksaan obyektif dengan jarum Miller terasa sakit sebelum apikal.

Pemeriksaan klinis dari nekrosis pulpa parsialis:

- Tes termis: bereaksi atau tidak bereaksi.

- Tes jarum Miller: bereaksi.

- Pemeriksaan rontgenologis: terlihat adanya perforasi.

Nekrosis pulpa parsialis dapat dilakukan perawatan dengan pulpektomi.

b. Nekrosis Totalis

Merupakan matinya pulpa seluruhnya.

Gejala klinis :

Nekrosis totalis biasanya asimtomatik, tetapi bisa juga ditandai dengan nyeri spontan dan

ketidaknyamanan nyeri tekan (dari periapeks). Diskolorisasi gigi merupakan indikasi awal

matinya pulpa. Dapat dilihat dari penampilan mahkota yang buram atau opak dan perubahan

warna gigi menjadi keabu-abuan atau kecoklatan serta bau busuk dari gigi.

Rencana perawatan :

Perawatan terdiri dari preparasi dan obturasi saluran akar (perawatan saluran akar).

Menghilangkan rasa sakit (relief of pain) , bila tidak sakit lagi , lakukan pemeriksaan menyeluruh

dan menyusun rencana perawatan

Tahap Perawatan

1. perawatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit

2. ekstraksi gigi yang tidak dapat dipertahankan

3. perawatan karies (prefentif)

4. perawatan periodontal

Page 16: Pulpitis Ok

5. perawatan saluran akar

6. prosedur restoratif

Perawatan berdasarkan diagnosa penyakit

· Pulpa normal

1. pembuangan kariesatau penyebab penyakit lainnya tambah penambalan (restorasi)

2. perawatan endo tidak diindikasikan , kecuali pada kasus yang memerlukan perawatan endo

secara selektif

· Pulpitis irreversible

1. dilakukan pulpotomi

a. hanya diindikasikan pada gigi muda dan keadaan darurat (bila pulpektomi tidak dapat

dilakukan

b. tidak diindikasikan secara rutin karena kegagalan tinggi , terjadi kalsifikasi pada orifice

2. pulpektomi

· Nekrosis pulpa

1. Dilakukan pulpektomi

2. Pada kunjungan pertama dilakukan debridement dan irigasi saluran akar

3. Bila ada eksudat didalam ruang pulpa , maka diusahakan bersih total dalam kunjungan

pertama

4. Dressing kalsium hidroksida

· Periodontal normal

Tidak dilakukan perawatan

· Periodontal apikalis akut

1. lihat penyebab :

a. jika disebabkan kelainan pulpa : dilakukan perawatan saluran akar vital

b. jika disebabkan gigi nekrosis : perawatan saluran akar vital

c jika penyebab diiringi dengan adanya traumatik : perawatan saluran akar dan eliminasi trauma

2. tekanan intra periapeks : dilakukan preparasi saluran akar dan irigasi

3. beri dressing saluran akar (bahan yang mengandung kortikostiroid/kalsium hidroksida)lalu

ditambal

· Abses apikalis akut

1. buang total pulpa nekrotik dan irigasi

Page 17: Pulpitis Ok

2. drainase melalui koronal/incisi , tergantung ada/tidaknya pembengkakan , difus/terlukalisir

3.perawatan saluran akar = prinsip perawatan nekrotik pulpa

· Periodontitis apikalis supuratif

1. buang pulpa nekrotik dan irigasi

2. bila fistula tetap ada , diagnosa mungkin abses periodontal

3. biasanya fistula sembuh beberapa hari dengan pembersihan dan pengisian saluran akar yang

optimal

Perawatan yang tepat dimulai dengan diagnosa yang tepat.Untuk sampai kepada diagnosa yang

tepat diperlukan ilmu pengetahuan , keterampilan dan seni , ilmu pengetahuan penyakit serta

gejala-gejalanya , keterampilan untuk melakukan cara menguji yang tepat dan seni menyatakan

impresi , fakta , dan perjalanan kedalam pengertian . Sehubungan dengan banyaknya penyakit

mempunyai gejala yang sama seorang klinis harus tajam dalam menentukan ketepatan diagnosa

banding adalah

cara yang paling umum

Diagnosa

Yaitu mempelajari gejala dan riwayat penyakit , untuk menegakkan jenis penyakit

· Riwayat dan catatan medis

1. data pasien

2. rencana perawatan

3. hasil perawatan

4. evaluasi perawatan

5. surat persetujuan tindakan medis

pendekatan sistemik untuk menegakkan diagnosa melalui proses diagnostik dari keluhan utama

· Pemeriksaan subjektif

1. riwayat kesehatan umum

2. riwayat medis

3. riwayat dental

4. riwayat penyskit sekarang

5. pemeriksaan subjektif (umum dan sekunder)

· Pemeriksaan objektif

1. ekstra oral

Page 18: Pulpitis Ok

2. intra oral

3. tes klinis

4. tes khusus

5. radiografi

Pemeriksaan subjektif

· riwayat kesehatan umum

1. Data Demografi untuk mengetahui karakter pasien

2. Riwayat Medis dengan pengisian kartu dan anamnesa (bila gejala penyakitbtidak jelas , ajukan

pertanyaan yang lebih spesifik)

· Riwayat Medis

1. garis besar kesehatan umum penderita

2. ada atau tidak penyakit sistemik yang diderita(rheumatic fever , kelainan jantung , dll)

3. pernah cedera , menjalani pembedahan , sedang terapi obat tertentu

4. mencegah terhadap penyakit menular

5. alergi / tidak terdapat obat-obat

6. pacu jantung – elektrosurgery , test EPT

7. ada / tidak rasa nyeri-penyakit pulpa/periradikular

· Riwayat Dental

1. penyakit gigi sekarang

2. gigi yang pernah dirawat

3. kapan perawatan gigi terakhir

4. adakah keluhan utama

5. apa yang dirawat

6. adakah gigi yang sakit setelah benturan

7. apakah perawatan / pemeliharaan berdampak pada rencana dan metodepenelitian

· Riwayat Penyakit Sekarang

Menunjukkan perubahan dalam kesehatan akhir-akhir ini yang membuat pasien mencari bantuan

medis sekarang . Ia menguatkan informasi yang relevan dengan keluhan utama :

Sehat / Sakit

Page 19: Pulpitis Ok

· Riwayat Subjektif umum

Menanyakan problem pada penderita dengan ramah dan tenang

1. bagaimana sakitnya spontan / berdenyut / tajam atau tidak / menyebar / lokasi

2. sakitnya meningkat karena panas / dingin / tekanan / kunyah / berbaring /rasa manis / asam

3. dimanakah sakitnya ? apakah hilang bila diinum obat

· Riwayat Subjektif Sementara

1. berdasarkan perubahan patologis dipulpa dan periapeks

2. pertanyaan khusus mengenai kualitas dan kuantitas nyeri

3. untuk menentukan urgensi perawatan

Contohnya :

1. sakit pulpa pada pasien dilukiskan dalam satu atau dua cara ; menusuk tajam , menusuk atau

menyayat , rasa sakit seperti dibur , perih sekali atau luat biasa sakitnya

rasa sakit kelompok pertama adalah cocok dengan rasa sakit biasanya dihubungkan dengan

rangsangan serabut saraf-saraf ”delta A” didalam pulpa

sedangkan rasa sakit kelompok kedua adalah cocok dengan rasa yang dihasilkan dari eksitasi dan

kecepatan penyebaran serabut saraf ”c” , yang lebih lambat didalam pulpa

contoh : rasa sakit oleh rangsangan spesifik

hilang begitu bila iritasi hilang

pulpitis reversible (hipermia) à peka terhadap dingin dari panas

bila sakitnya bertahan /timbul tanpa adanya sebab

pulpitis irreversible à perlu perawatan endodonti

pemeriksaan Ekstra oral :

1. penampilan umum

2. tonus kulit

3. asimestris wajah

4. pembengkakan

5. perubahan warna

Pemeriksaan objektif

Pemeriksaan Intra oral :

1 . Alat : kaca mulut dan sonde

2 . jaringan lunak : tes digital jaringan lunak mulut , pembengkakan besar / kecil menyebar /

Page 20: Pulpitis Ok

terlokalisir /fistel warna dan bentuk ginggiva ada resesi . tes dengan GP point pada stoma saluran

sinus

3 . gigi geligi

- plak / kalkulus

- karies / tumpatan / restorasi à dimana dan berapa besarnya

- perubahan warna / fraktur / fragmen goyang / derajat goyang , abrasi , erosi

- oklusinya ? à traumatik oklusi / restorasi baik atau jelek

Tes Klinis

· Pada pulpa

Dengan tes vitalitas , stimulasi langsung pada dentin dengan sodasi , test dingin, panas listrik

· Sodasi

Lakukan dengan menggeser sonde tanpa tekanan pada seluruh permukaan

Alat :

1 . Sonde bengkok / lurus

2 . Jarum Miller

3 . Reaksi ( + ) / ( – ) (dentin sekunder)

4 . Sonde periodental

5 . Status jaringan periodental

Dd / lesi periodental dengan lesi endodontia

Penyebab :

1. Mekanis , kimia

2. Termis

3. Trauma

4. Karies

PULPITIS REVERSIBLE

Menurut arti kata

pulpitis reversible adalah : inflamasi pulpa yang tidak parah jika penyebabnya dihilangkan ,

inflamasi nya akan pulih kembali dan pulpa akan kembali normal

ETIOLOGI

Stimulasi ringan / berjalan sebentar

Seperti :

Page 21: Pulpitis Ok

1 . karies insipien

2 . erosi servikal

3 . sebagian prosedur operatif

4 . kuretasi periodontium yang dalam

5 . fraktur email yang menyebabkan terbukanya dentin

Pulpitis reversible tidak menimbulkan gejala (asimptomatik) , tetapi jika ada gejala biasanya

timbul dari pola tertentu

Ex :

· Aplikasi cairan / udara dingin atau panas à menyebabkan nyeri tajam sementara

· Jika panas diaplikasikan pada gigi yang pulpanya normal , akan timbul respo awal yang lambat

dan intensitas nyeri akan semakin naik à jika suhunya dinaikkan

· Sebaliknya , jika dingin diaplikasikan pada gigi yang pulpanya normal , akan timbul reaksi

nyerri dan intensitas nyerinya cenderung menurun jika stimulus dinginnya dipertahankan

Berdasarkan observasi-observasi ini , respon pulpa pada kedua keadaannbaik sehat ataupun

sakit , tampaknya timbul akibat perubahan tekanan intrapulpa

Terapi / perawatan :

Iritasi dihilangkan dan dentin vital yang terbuka itu tertutup à gejala akan hilang

Jika iritasi pulpa terus berlanjut / intensitasnya meningkat , maka akan timbul inflamasi moderat

sampai parah dan menjadi pulpitis irreversibleyang berakhir dengan nekrosis

PULPITIS IRREVERSIBLE

Adalah inflamasi parah yang tidak akan pulih kembali sekalipun penyebabnya dihilangkan

Gejala-gejalanya

Pulpitis Irreversible sering merupakan akibat atau perkembangan lebih lanjut dari pulpitis

reversible . Kerusakan pulpa yang parah akibat pengambilan dentin yang banyak selama

prosedur operatif atau gangguan dalam aliran darah dalama pulpa akibat trauma atau gerakkan

gigi pada perawatan orthodonti dapat juga menjadi penyebabnya

Pulpitis irreversible biasanya tidak menimbulkan gejala , atau pasien hanya mengeluh gejala

yang ringan saja , akan tetapi pulpitis irreversible dapat juga menyebabkan episode nyeri spontan

yang intermiten atau teru menerus tanpa ada stimulus eksternal

Nyerinya bisa tajam, tumpul, berbatas jelas, menyebar, bisa hanya beberapa menit atau berjam-

jam.

Page 22: Pulpitis Ok

Mengetahui letak pulpanya lebih sukar dibandingkan dengan menentukan letak nyeri

periradikuler dan akan makin sukar jika nyeri makin parah. Aplikasi Stimuli eksternal seperti

dingin atau panas dapat mengakibatkankan nyeri yang berkebjangan.

Jadi, pada pulpa dengan nyeri parah responsnya berbeda pada pulpa pada gigi dengan pulpitis

Ireversibel bisa menimbulkan respons dengan segera, kadang-kadang dengan aplikasi dingin

responsnya tidak hilang dan berkepanjangan. Adakalanya akan menimbulkan Vasokonstruiksi,

turunnya tekanan pulpa dan hilangnya nyeri setelah beberapa saat.

Walaupun telah dinyatakan bahwa gigi-gigi dengan pulpitis ireversiel memiliki ambang rangsang

lebih rendah terhadap simulasi elektrik, Mumford menemukan ambang presepsi nyeri yang

serupa, baik dalam pulpa yang terimflamasi maupun tidak.

TEST KLINIS

Pengetesan dan Perawatan

Jika inflamasinya hanya terbatas dalam jaringan pulpa dan tidak meluas ke jaringan periapeks,

gigi akan bereaksi normal terhadap palpasi dan perkusi.Perluasan inflamasi pada ligamen

Periodontium akan menyebabkan kepekaan pada perkusi dan penentuan lokasi nyeri yang lebih

mudah. Perawatan saluran akar atau pencabutan merupakan indikasi bagi gigi dengan gejala dan

tanda-tanda pulpitis irreversibel.

(-) Termal test

Tes Panas

Ø Daerah yang kan di tes diisolasi dan dikeringkan.

Ø Udara hangat dikenakan pada permukaan gigi yang terbuka.

Ø Catat respon pasien.

Untuk mendapatkan subuah respon bisa dengan temoperatur yang lebih tinngi, dengan

menggunakan air panas, gula perca panas atau kompoun panas atau sembarang instrumen yang

dapan menghantarkan temperatur yang terkontrol pada gigi.

Tes Dingin

Ø Semprotkan etil krorida pada gulungan kapas penguapan cepat dapat menimbulkan sensasi

dingin. Gulungan kapas dikenakan pada mahkota gigi.

Ø Air yang dibekukan pada kapsul anestotik kosong menghasilkan suatu batang es untuk tes

dingin.

Ø Gulungan kapas disemprotkan dengan Frigident (insert), untuk dikenakan pad permukaan

Page 23: Pulpitis Ok

mahkota ; Frigident dengan temperatur kira-kira -50 derjat C, bila disemprotkan pada email /

permukaan mahkota gigi yang direstorasi merupakan test yang paling teliti untuk mengetajhui

vitalitas pulpa.

Perkusi

Ø Ketukan ringan pada gigi dengan ujung jari / ujung tangkan instrumen

Ø Arah : vertika / horizontal ( bukal / ungual / oklusal ).

Ø Dimulai dari gigi sehat ke gigi yang sakit agar penderita dapat membedakan mana yang lebih

sakit.

Palpasi

Cara : Palpasi dengan ujung jari menggunakan tekanan ringan pada gusi/mukosa sekilas apeks

gigi.

Untuk menentukan :

Ø Apakah jaringan fluktuan dan cukup membesar untuk insisi dan drainase.

Ø Adanya intensitan dan lokasi rasa sakit.

Ø Adanya lokosid adenopati

Tes Mobilitas – Depresibilitas

Untuk mengetahui :

Ø Integritas jaringan penyanggah

Ø Eksistensi peradangan jaringan periodontal

Ø Derajat kegoyangannya

Ø Mendeteksi ada tidaknya kerusakan alveolar

Cara : menggunakan ibu jari dan telunjuk / tongue biade.

(-) Test khusus

Tes anastesis

Cara :

Ø Menggunakan injeksi infiltrasi atas intraligamen.

Ø Lakukan pada gigi paling belakang ( pada daerah yang dicurigai sakit )

Ø Bila rasa sakit masih ada setelah di anastesi, lakukan anstesi di sebelah mesial (lakukan

samppai sakit hilang ).

Page 24: Pulpitis Ok

Tes kavitas / pembuangan jaringan karies

Cara : mengebur melalui pertemuan detin-email sebuah gigi yang tidak di anastesi, suatu sensasi

rasa sakit menunjukkan adanya vitalitas pada pulpa.

(-) Radografi

Dapat berisi informasi mengenai adanya karies yang mengancam pulpa.

Radiolusan : terlihat gelap, yaitu : jaringan lunak dan subtansi lain dapat dilalui sinar X.

Radio-Paque : terlihat jelas, yaitu : tumpatan metal, jaringan krrsa dan subtansi lain yang tidak

dapat dilalui sinar X.

E. Macam – macam bahan pengisi pulpa

1. Gutta perca

2. Cresophate

3. N2

4. Endometason

5. Putridomors

6. Triplex pasta

7. Triopasta gysi

8. Triodin

9. Trioxy

10. Cemen ZOE

11. Calcium hydroxide

F. ANALISIS BAHAN

1. Gutta Perca

Sifat fisik : batang berwarna jingga

Komposisi : cairan getah murni

Indikasi : - bahan pengisi saluran akar

- mempertahankan gigi selama mungkin

Sifat : plastis, keras dan kaku

Kemasan : botol kecil

Cara penyimpanan : simpan di tempat tertutup

Page 25: Pulpitis Ok

2. Cresophate

Sifat fisis : berwarna putih

Komposisi :

a. Parachlorophenol 7.36 gram

b. Champor 11.75 gram

c. Dry zinc sulfate 10.00 gram

d. Excipient q.s.ad 100.00 gram

Indikasi :

a. Bahan pengisi untuk perawatan saluran akar

b. Antiseptic untuk saluran gigi dan dindingnya.

Kontra indikasi :

Pada penggunaan cresophate sebagai bahan pengisi saluran akar gigi tidak boleh dilakukan

dalam keadaan gigi yang lembab atau basah karena dapat mengganggu proses pemasukan bahan

yang bias berakibat gagal perawatan saluran akar gigi. Dan dapat membuat daya tahan dentin

menurun sehingga bakteri akan mudah masuk ke dalam pulpa.

Cara penyimpanan :

Wadah harus tertutup rapat di ruang bersuhu 5 Celcius dan terlindung dari paparan sinar

matahari langsung.

3. N2

Sifat fisik :

a. Powder : bubuk halus warna merah muda berbau cengkeh ( menyengat ) bermassa 7 gram

b. Liquid : bening warna merah tak ada endapan.

Komposisi :

a. Paraformaldehyde

b. Bismuts salts

c. Zinc oxide

d. Eugenol

e. Rose oil

Page 26: Pulpitis Ok

Indikasi :

a. Perawatan saluran akar gigi, baik yang masih vital maupun gigi yang gangrene.

b. Menstimulasi penyembuhan granuloma pada sekitar apexs.

c. Haeomoragie pada pulpa akibat penggunaan instrument.

Kontra indikasi :

a. Diagnosisi pasti belum ditegakan.

b. Pada gigi vital tidak boleh mengenai region apical.

c. Tidak boleh digunakan untuk pengobatan endodontic karena bacterial N2 hanya sebentar dan

kira – kira 10 hari akan hilang.

Efek samping :

a. Iritasi pada jaringan disekitar apex oleh N2 pada gigi yang masih vital jika ada diperforasi

apex.

b. Dapat timbul nyeri setelah pengisian saluran akar gigi.

Cara penyimpanan :

Bahan disimpan dalam wadah tertutup, di tempat yang kering dalam ruangan yang sejuk dan

terhindar dari paparan sinar matahari secara langsung.

Page 27: Pulpitis Ok

b.Restorasi Akhir

Page 28: Pulpitis Ok

3. Respon pulpa

Pulpitis adalah proses radang pada jaringan pulpa gigi, yang pada umumnya merupakan

kelanjutan dari proses karies. Jaringan pulpa terletak di dalam jaringan keras gigi sehingga bila

mengalami proses radang, secara klinik sulit untuk menentukan seberapa jauh proses radang

tersebut terjadi. Selama ini radang pulpa ditentukan dengan adanyakeluhan rasa

sakit yang sifatnya subyektif. Secara patofisiologik, pulpitis dibagi menjadi pulpitis reversibel

dan pulpitis ireversibel, karena yang penting dalam

Page 29: Pulpitis Ok

menentukan diagnosis pulpitis adalah jaringan pulpa tersebut masih dapat dipertahankan atau

sudah tidak dapat dipertahankan lagi.5 Klasifikasi pulpitis ini kemudian diikuti oleh penulis yang

lain sampai saat ini.6-9 Beberapa

peneliti menemukan komponen imun di dalam jaringan pulpa yang mengalami proses radang,

yang menunjukkan bahwa jaringan pulpa mempunyai kemampuan untuk melawan kuman yang

berasal dari karies.10-13 Proses karies

merupakan proses patologik yang kronik yang dapat menimbulkan berbagai perubahan pada

jaringan pulpa,di antaranya berupa respons imun. Mikroorganisme yang terdapat pada jaringan

gigi yang karies merupakan

imunogen yang potensial untuk memicu terjadinya respons imun.14,15 Respons imun ada dua

macam yaitu respons imun humoral yang diperankan oleh sel B yang menghasilkan

immunoglobulin, dan respons imun seluler

yang diperankan oleh sel T.16,17

Proses Inflamasi

Iritasi pulpa dental mengakibatkan pengaktifan bermacam-macam system biologis seperti

reaksi inflamasi non spesifik yang diperantarai oleh histamin, bradikinin, metabolit asam

arakhidonat. Yang juga melepas produk granul lisosom PMN (elastase, katepsin G, laktoferin).

Inhibitor protease seperti antitrypsin dan neuropeptid seperti calsitonin generalated peptide

(CGRP) serta substans P (SP). Pulpa yang normal dan sehat tidak mengandung sel mast. Akan

tetapi sel ini ditemukan pada pulpa yang terinflamasi. Sel mast berisi histamin, leukotrien, dan

factor pengaktif platelet. Keberadaan histamine di dalam dinding pembuluh darah dan

meningkatnya histamine secara nyata mengindikasikan pentingnya histamine dalam inflamasi

pulpa.

Kinin yang menimbulkan banyak tanda dan gejala inflamasi akut, dihasilkan ketika

kalikrein plasma atau kalikrein jaringan berkontak dengan kininogen. Keberadaan bradikinin,

SP, dan neurokinin A dalam jaringan pulpa gigi telah teridentifikasi dengan menggunakan

kromatografi cairan berkinerja tinggi. Penelitian in vitro baru-baru ini menunjukkan bahwa

bradikinin membangkitkan CGRP imunoraktif yang dilepas dari pulpa gigi sapi, yang secara

pasti juga ditingkatkan oleh prostaglandin, tromboksan, dan leukotrien. Berbagai metabolit asam

arakhidonat telah ditemukan pada pulpitis yang diinduksi secara eksperimental. Keberadaan

Page 30: Pulpitis Ok

metabolit ini pada pulpa yang terinflamasi mengindikasikan bahwa metabolit asam arakhidonat

berpartisipasi dalam reaksi inflamasi jaringan pulpa.

Jaringan pulpa memiliki persarafan serabut sensorik yang padat yang mengandung

neuropeptid yang bersifat imunomodulator seperti SP dan CGRP. Pengambilan saraf

(denervation)pulpa molar tikus, melalui aksotomi nervus alveolaris inferior akan meningkatkan

kerusakan jaringan pulpa dan menurunkan infiltrasi sel imunokompeten. Penemuan ini

menginidikasikan bahwa secara alamiah saraf pulpa bersifat protektif dan terlibat dalam

perekrutansel inflamasi atau sel imunokompeten dalam pulpa yang cedera.

Cedera pulpa ringan sampai sedang akan menyebabkan bertumbuhnya saraf sensorik

disertai dengan meningkatnya CGRP imunoreaktif (iCGRP), akan tetapi,cedera parah

menimbulkan efek sebaliknya yakni berkurangnya atau hilangnya iCGRP dan SP. Penelitian ini

mengindikasikan bahwa neuropeptid pulpa mengalami perubahan yang dinamis setelah cedera.

Beberapa penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa stimulasi jaringan pulpa oleh karies akan

menghasilkan pembentukan beberapa interleukin dan perekrutan sel inflamasi pada area cedera.

Pelepasan mediator inflamasi menyebabkan nyeri langsung dengan menurunkan ambang

batas saraf sensoris. Substansi ini juga menyebabkan nyeri secara tidak langsung dengan jalan

meningkatkan vasodilatasi arteriola dan permeabilitas vaskuler di dalam venula, yang

mengakibatkan edema dan peningkatan tekanan jaringan. Tekanan ini berpengaruh langsung

pada reseptor saraf sensoris. Meningkatnya tekanan jaringan, ketidakmampuan jaringan pulpa

untuk mengembang dan kurangnya sirkulasi kolateral dapat mengakibatkan nekrosis dan

kemudian penyakit periradikuler.

Perubahan Mikrosirkulasi Pulpa Sehubungan dengan Terjadinya Inflamasi

Reaksi inflamasi dapat terjadi apabila jaringan pulpa hidup dan memiliki mikrosirkulasi

yang fungsional. Apabila terjadi inflamasi pada pulpa gigi, maka mikrosirkulasi mengalami

perubahan-perubahan yaitu, perubahan hemodinamik, permeabilitas, dan selular. Perubahan ini

dapat mempengaruhi faktor-faktor di dalam pembuluh mikro dan jaringan sekitarnya. Tujuan

akhir perubahan ini untuk tercapainya proses pemulihan dan penyembuhan jaringan cidera.

1.      Perubahan hemodinamik

Perubahan hemodinamik melibatkan dua faktor , yaitu tekanan osmotik koloid dan

hidrostatik. Tekanan osmotik koloid menarik cairan jaringan interstisial ke dalam kapiler yang

Page 31: Pulpitis Ok

diimbangi dengan tekanan hidrostatik kapiler yang mendesak cairan keluar dari kapiler. Pada

kapiler ujung arteri, tekanan hidrostatik lebih tinggi dari tekanan osmotik koloid maka cairan

mengalir keluar dari kapiler ke dalam darah.Respon inflamsi diawali dengan vasodilatasi,

dimana dinding anterior dan spingter prekapiler berdilatasi atau berelaksasi. Dilatasi ini

menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik di dalam anterior dan spingter prekapiler.

Penigkatan ini mneyebabkan peningktan filtrasi cairan plasma dengan larutnya elektrolita dan

kristalloid dari darah ke jaringan interstisial.

Pada saat cairan plasma keluar dari pembuluh darah menuju jaringan interstisial, maka

tekanan hidrostatik meningkat dan menyebabkan peningkatan tekanan jaringan interstisial.

Peningkatan tekanan jaringan interstisial dan keluarnya cairan plasma protein dari mikrosirkulasi

ke jaringan interstisial menyebabkan aliran darah lambat menuju keadaaan statis, dimana sel

darah berhenti mengalir di dalam mikrosirkulasi.

Perubahan mikrodinamik pada mikrosirkulasi pulpa gigi menyebabkan kemerahan

(eritema) karena dibatasi dinding pembuluh darah , pembengkakan ( edema ), karena masuk nya

jaringan plasma ke jaringan interstisial dan kekakuan ( indurasi ) karena jaringan plasma

menumpuk dalam jaringan interstisial .

2.      Perubahan Permaebilitas

Respon cedera selanjutnya adalah peningkatan permaebilitas dinding pembuluh darah .

Perubahan ini juga meilbatkan faktor yang sama dengan perubahan hemodinamik , yaitu tekanan

hidrostatis dan osmotik koloid.

Dinding pembuluh darah memiliki sifat permaebilitas , dimana dinding pembuluh darah

dapat dilalui cairan , tapi sukar di lewati larutan protein. Tekanan osmotik akan menahan cairan

tetap didalam pembuluh darah yang diimbangi dengan tekanan hidrostatik yang mendorong

(mendesak) cairan keluar dari pembuluh darah ke jaringan interstisial pulpa.

Apabila terjadi penigkatan permaebilitas dinding pembuluh darah kapiler, selain cairan,

protein plasma juga masuk ke dalam pembuluh darah kapiler melalui proses diapedesis, dimana

protein plasma dapat mengecilkan ukurannya sesuai dengan pori – pori kapiler sehingga protein

plasma dapat masuk dalam kapiler.

Apabila protein plasma yang keluar dari kapiler melebihi kapasitas pembuluh limfatik

untuk menyerapnya, maka konsenstrasi protein plasma didalam jaringan interstisial meningkat

disebut edema.

Page 32: Pulpitis Ok

Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler, menyebabkan filtrasi cairan berlebihan melalui

kapiler . Penurunan konsentrasi protein plasma, menyebabkan pengurangan tekanan osnotik

koloid plasma sehingga gagal menahan cairan plasma protein di dalam kapiler. Peningkatan

tekananan permaebilitas kapiler memungkinkan cairan protein plasma merebes secara berlebihan

ke jaringan interstisial.

3.      Perubahan Selular

Pada saat inflamasi, mula – mula neutrofil muncul yang tampak mengelompok sepanjang

sel – sel endotel pembuluh darah pada daerah cedera, disebut marginasi. Kemudian neurofil

menyusup keluar dari pembuluh darah dan menyelinap diantara sel – sel endotel. Neurofil

mengadakan emigrasi menuju jaringan interstisial dan muncul pada daerah cedera. Pergerakan

ini adalah proses yang aktif karena adanya sinyal kimia yang disebut kemotaksis. Bila pulpa

terinflamasi, produk – produk yang dapat menyebabkan kemotaksis adalah toksin bakteri dan

jaringan cedara itu sendiri.

Neurofil merupakan sel pertahanan pertama melawan mikroorganisme yang masuk

dengan cara memfagositosis dan menghancurkan mikroorganisme. Neurofil bergerak seperti

amuba mendekati bakteri yang akan difagositosis, kemudian mengalir sitoplasmanya

mengelilingi mikroorganisme, lalu mencernanya. Selanjutnya neurofil mematikan

mikroorganisme dengan cara mengubah pH dalam neurofil setelah fagositosis, membentuk zat

antibakteri yang hidrogen peroksida dan melepaskan zat tersebut.

Jika respon inflamasi berjalan terus , maka limfosit dan monosit muncul pada daerah

cedera, setelah keluar dari pembuluh darah melalui cara yang sama dengan neurofil. Sel –sel ini

akan memperkuat rintangan pertahanan yang diberikan neurofil. Monosit memperbesar

pertahanan dengan menambah fungsi fagosit ke daerah cedera, sedangkan limfosit membawa

kemampuan imunologik untuk berespon dengan agen – agen inflamasi dengan sistem humoral

dan selular.

Seperti yang disebutkan diatas, apabila inflamasi pulpa gigi melibatkan bahan – bahan

antigen, maka sistem humoral dan selular akan berperan didalam nya . Sistem imun ini

diperentarai oleh limfosit yang berfungsi menetralkan, menghancurkan atau mengeluarkan

mikroorganisme di daerah cedera .Limfosit di bentuk didalam nodus limfatik, timus, limpa dan

sumsum tulang.

Page 33: Pulpitis Ok

Inflamasi atau peradangan yang terbentuk bisa berupa inflamasi akut atau kronis

tergantung lama dan intensitas rangsangannya. Rangsangan yang lama dan ringan akan

menyebabkan inflamasi kronis sedangkan rangsangan yang berat dan tiba-tiba besar

kemungkinan menyebabkan pulpitis akut. Reaksi inflamasi/peradangan mempunyai komponen

vaskuler dan seluler. Komponen seluler terlihat jelas pada peradangan kronis, dengan

dijumpainya sel-sel limfosit, sel plasma, monosit, dan makrofag. Suatu waktu mungkin akan

terjadi peningkatan produksi kolagen yang mengkibatkan terjadinya fibrosis. Reaksi ini tidak

akan membahayakan vitalitas pulpa. Namun pada inflamasi akut, karena lebih banyak

melibatkan vaskuler termasuk dilatasi pembuluh darah yang menyebabkan peningkatan aliran

darah dan eksudat yang nantinya akan menyebabkan terlambatnya aliran darah dan akhirnya

terhenti. Tekanan jaringan akan meningkat karena emigrasi netrofil yang aktif.

Page 34: Pulpitis Ok

REFERENSI

Grossman,Louis I.sejmour Ouet dan carlos.1995.Ilmu Endodontik dalam Praktik.jakarta:EGC

Bimbaum.Warlen dan Stephen M.Dunne.2009.Diagnosis Kelainan dalam Mulut.Jakarta:EGC

Tarigan,Rasinta.2006.Perawatan Pulpa Gigi Jakarta:EGC

Roitt IM, Lehner T. Immunology of oral disease. Boston: Blackwell Scientific Publications; 1981. p. 363–7.

Lawler W, Achmed A, Hume WJ. 1987. Buku pintar patologi untuk kedokteran gigi. Agus Djaya. Jakarta: ECG; 1992. h. 9–36.

Kim S, Trowbridge HO. Pulp reaction to caries and dental procedures. In: Cohen S, Burns RC. Pathway of the pulp. 3rd ed. London: CV Mosby Co; 2000. p. 5–35.

Cohen S. Diagnostic procedures. In: Cohen S, Burns RC. Pathway of the pulp. 3rd ed. London: CV Mosby Co; 2000. p. 5–35.

Smulson MH. Classification and diagnosis of pulpal pathosis. The Dental Clinics of North America 1984; 28: 699.

Page 35: Pulpitis Ok

Diposkan oleh Maisy dentist di 05.42 Tidak ada komentar: Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Bagikan ke Pinterest Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Entri (Atom)

Arsip Blog

▼   2012 (6) o ▼   Mei (6)

laporan dk blok 7

Amalgam

Sheel Teeth

translate jurnal ob : Kontroversi Peran IL-12 pada...

ODONTODYSPLASIA

translate jurnal :Kontroversi Peran IL-12 pada Res...