kabar bahari

Download Kabar bahari

Post on 12-Apr-2017

257 views

Category:

News & Politics

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • EDISI JANUARI-FEBRUARI 2013

    RUBRIK KEMUDI

    RUBRIK TOKOH EDO KONDOLOGIT

    TEMU AKBAR NELAYAN INDONESIA DAN PERTEMUAN NASIONAL KIARA 2013AGENDA kEGIATAN

    FUNGSI MANGROVERUBRIK PERNAK-PERNIK

    RESEP NASI GORENG IKAN ASINRUBRIK DAPUR

  • Pertama, pentingnya Negara mengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan sumber daya ikan tanpa hutang, dengan tetap memprioritaskan pada pemenuhan kebutuhan pangan nasional secara berdikari.

    Kedua, pentingnya Negara memberikan dan memastikan terpenuhinya hak-hak nelayan sebagai warga Negara maupun hak-hak istimewa mereka sebagai nelayan tradisional, serta memberikan perlindungan maksimal atas wilayan perairan tradisionalnya.

    Ketiga, pentingnya Negara memahami kegiatan perikanan sebagai sumber pangan, pengembangan budaya nasional, dan sumber ekonomi kerakyatan.

    Keempat, pentingnya Negara memahami kegiatan perikanan secara utuh, dengan memaknai keterlibatan perempuan nelayan di dalam kegiatan perikanan sebagai subjek yang teramat penting.

    W: www.kiara.or.id | E: kabarbahari.indonesia@gmail.comF: Kiara | T: @sahabatkiara

  • PENGANTAR REDAKSI

    D A F T A R I S I

    REDAKSIKABAR BAHARI adalah Buletin dua bulanan terbitan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) yang mengangkat dinamika isu kenelayanan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.

    DEWAN REDAKSI

    Pemimpin Redaksi:Abdul Halim

    Redaktur Pelaksana:Selamet Daroyni

    Sidang Redaksi:Mida SaragihSusan HerawatiAhmad Marthin Hadiwinata

    Desain:Abizar Ismail

    Foto Cover :Des Syafrizal/Oxfam.

    Alamat Redaksi:Jl Lengkeng Blok J Nomor 5Perumahan Kalibata IndahJakarta 12750Telp./Faks:+62 21 798 9543Email:kabarbahari.indonesia@gmail.com

    MEMPERBAIKI MANGROVE KITA

    Pembaca yang budiman, buletin dwi bulanan KABAR BAHARI kembali menyapa Anda. Untuk edisi perdana di tahun 2013 ini, Redaksi mengulas pentingnya mangrove dalam kehidupan kita.

    Keberadaan ekosistem mangrove di daerah pesisir kian terancam. Selain beralih fungsi menjadi tambak, hutan mangrove juga kian dilirik untuk kebun kelapa sawit dan bahkan reklamasi pantai yang merampas hak warga negara. Akibatnya, terjadi abrasi dan intrusi air laut serta turunnya tangkapan nelayan. Upaya nelayan tradisional merehabilitasi hutan mangrove, di antaranya di Langkat dan Serdang Bedagai, Sumatera Utara, patut diacungi jempol, meski rintangannya amat berat.

    Asia tercatat sebagai kawasan pemilik hutan mangrove terluas, utamanya di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Lebih dari 50 spesies endemik mangrove, di antaranya Aegiceras floridum, Camptostemon philippinensis, Heritiera globosa, tumbuh di sepanjang garis pantainya (FAO, 2005). Seperti apa situsi mangrove di Indonesia? Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) memperkirakan luasan hutan mangrove di Indonesia menyusut drastis akibat laju konversi sejak tahun 1980an hingga saat ini: dari 4,25 juta ha pada 1982 menjadi kurang dari 1,9 juta ha tahun ini. Kementerian Kehutanan mencatat, ada 7.758.410,59 hektar hutan mangrove di Indonesia. Namun, hampir 70 persen rusak.

    Mendapati kondisi ini, kelestarian hutan mangrove sudah semestinya menjadi tanggung jawab bersama. Anda bisa bayangkan, betapa meruginya bangsa Indonesia kehilangan spesies endemik mangrove yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lainnya.

    Edisi perdana ini juga mengangkat pentingnya pengakuan dan perlindungan Negara terhadap perempuan yang bergerak di sektor perikanan, baik tangkap maupun budidaya. Cobalah simak upaya Kelompok Perempuan Nelayan Muara Tanjung di Desa Sei Nagalawan, Serdang Bedagai. Dalam edisi ini pula, Redaksi menyediakan ruang konsultasi hukum kelautan dan perikanan. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

    Redaksi

    AGENDA: Temu Akbar Nelayan & Pertemuan Nasional KIARA 2013

    RUBRIK HUKUM: Konsultasi Hukum Nelayan dan Perikanan

    RUBRIK PERNAK-PERNIK: Fungsi Mangrove

    RUBRIK DAPUR: Nasi Goreng Ikan Asin

    RUBRIK JELAJAH: Keberpihakan Terhadap Perempuan Nelayan

    RUBRIK TOKOH: Edo Kondologit & Pak Sangkot

    RUBRIK KEBIJAKAN: Pantai Publik, Hak Asasi Setiap Warga

    RUBRIK SETARA: Kelompok Perempuan Nelayan Muara Tanjung 20

    23

    26

    3132

    2

    1

    7

    14 & 22

    16

    RUBRIK KEMUDI: Pentingnya Melestarikan Magrove

  • LestarilahMangroveku..

    RUBRIK KEMUDI

    foto: Des Syafrizal/Oxfam.

    2

  • PENTINGNYAMELESTARIKANMANGROVEPENGANTARIndonesia merupakan negara kelautan terbesar yang memiliki hamparan hutan mangrove terluas di dunia. Hutan mangrove di dunia mencapai luas sekitar 16.530.000 ha yang tersebar di Asia 7.441.000 ha, Afrika 3.258.000 ha, dan Amerika 5.831.000 ha (FAO 1994).

    Merujuk pada The World's Mangroves 1980-2005 (FAO 2007), walaupun dari segi luasan kawasan, mangrove Indonesia merupakan yang terluas di dunia, yakni sebesar 49%, namun kondisinya semakin menurun baik dari segi kualitas dan kuantitas dari tahun ke tahun. Pada tahun 1982, hutan mangrove di Indonesia seluas 4,25 juta ha, sedangkan pada 2009 diperkirakan menjadi kurang dari 1,9 juta ha (KIARA, 2010). Setali tiga uang, dalam Status Lingkungan Hidup Indonesia 2009 yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa, Hutan mangrove di Sumatera Utara seluas 306.154.20 ha. Dari luasan itu, 9.86% berada dalam kondisi rusak.

    Menurunnya kualitas dan kuantitas hutan mangrove berakibat pada minimnya daya dukung ekosistem pesisir bagi kelangsungan hidup spesies pesisir dan biota laut lainnya, serta kelangsungan hidup masyarakat pesisir, seperti abrasi yang meningkat, penurunan tangkapan perikanan, intrusi air laut yang semakin merambah daratan, meluasnya penyakit malaria, dan sebagainya. Di pesisir Pantai Timur Sumatera Utara, luasan mangrove menurun sebesar 59.68%

    dari 103,425 ha di tahun 1977 menjadi 41,700 ha di tahun 2006 (Onrizal 2006). Senada dengan itu, data KNTI regio Sumatera (2010) menyebutkan bahwa hutan mangrove di pesisir Kabupaten Langkat seluas 35.000 ha. Dari luasan itu, kini yang tersisa dalam kondisi baik hanya 10.000 ha. Penurunan kuantitas dan kualitas ini disebabkan oleh perluasan tambak udang dan perkebunan sawit di wilayah pesisir. Akibatnya, selain merusak ekosistem pesisir, juga berdampak terhadap penurunan pendapatan nelayan tradisional.

    Oleh karena itu, penelitian tentang sawit dan kerusakan mangrove di pesisir Pantai Timur Sumatera Utara ini menjadi sangat penting untuk dilakukan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai dasar dan pertimbangan utama untuk kegiatan (i) rehabilitasi mangrove yang sudah rusak, (ii) pengelolaan mangrove untuk masa kini dan masa mendatang, dan (iii) memperkaya data dan informasi perihal keterkaitan mangrove dengan kehidupan masyarakat pesisir, khususnya nelayan dan petambak tradisional.

    KONVERSI MANGROVEKawasan mangrove atau hutan bakau amatlah penting artinya bagi masyarakat pesisir, tak terkecuali masyarakat pesisir Pantai Timur Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Di Langkat, kawasan hutan mangrove seluas 35.000 hektar membentang sepanjang 110 kilometer berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Aceh Timur, Nanggroe Aceh Darussalam. Pada perkembangannya, hanya tersisa 10.000 hektar yang berada dalam kondisi baik.

    Berkurangnya luasan hutan mangrove menjadi keprihatinan masyarakat pesisir Langkat. Tak hanya mempengaruhi pendapatan nelayan, melainkan juga menjadikan mereka kian rentan terhadap bencana. Dari segi pendapatan, misalnya, nelayan harus pergi lebih jauh dari kuala

    3

  • menuju laut untuk menangkap ikan. Padahal, modal melaut yang dimiliki tak seberapa. Kerusakan ekosistem mangrove telah berlangsung sejak 1980-1998 sesaat setelah pemerintah melaksanakan perluasan tambak udang. Akibat persebaran penyakit, kualitas udang budidaya tak lagi baik dan berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan pesisir. Untuk mengatasi persoalan ini, Menteri Kehutanan Republik Indonesia mengeluarkan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) Tanaman Bakau kepada PT Sari Bumi Bakau seluas 20100 ha dengan surat bernomor 936/kpts-II/1999 tanggal 14 Oktober 1999. Terbitnya HPH ini sontak diwarnai penolakan oleh masyarakat pesisir Langkat hingga dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.388/MENHUT-II/2006 pada tanggal 12 Juli 2006 tentang pencabutan Hak Pengusahaan Hutan PT. Sari Bumi Bakau.

    Meski telah dicabut, konversi hutan mangrove secara besar-besaran terus terjadi di kawasan Hutan Produksi Tetap dan Terbatas. Berlangsungnya praktek ini dilandasi oleh Surat Keputusan Menhut Nomor 44/MENHUT-II/2005 tanggal 16 Februari 2005 Jo. Nomor 201/Menhut-II/2006 pada tanggal 5 Juni 2006. Akibatnya, penolakan masyarakat terus berlangsung.

    Penolakan masyarakat disebabkan oleh konversi hutan mangrove menjadi perkebunan kelapa sawit. Praktek konversi ini berlangsung hampir di seluruh kecamatan pesisir Langkat, di antaranya: Secanggang, Tanjung Pura, Gebang, Babalan, Sei Lepan, Brandan Barat, Pangkalan Susu, Besitang, dan Pematang Jaya.

    Melihat fakta di lapangan, perusahaan yang diduga melakukan praktek konversi hutan

    mangrove adalah PT Sari Bumi Bakau (SBB), PT. Pelita Nusantara Sejahtera (PNS), PT. Marihot, PT. Buana, PT C.P, serta oknum wakil rakyat partai pemenang Pemilu 2009 lalu. Atas kondisi di atas, KNTI menilai bahwa program rehabilitasi hutan dan lahan

    yang telah berlangsung sejak 2006-2008 tak berhasil menyelamatkan ekosistem mangrove karena di saat yang sama, prakter konversi berlangsung secara besar-besaran.

    Laju konversi mangrove menimbulkan permasalahan baru bagi nelayan dan masyarakat pesisir Langkat, Sumatera Utara. Di antara persoalan tersebut adalah: (1) abrasi pantai akibat konversi ekosistem mangrove di Kecamatan Pesisit dan Pulau Kecil, Kabupaten Langkat; (2) hilangnya sebagian tempat mencari nafkah masyarak