kabar bahari vii

Click here to load reader

Post on 21-Jul-2016

238 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

KABAR BAHARI adalah Buletin dua bulanan terbitan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) yang mengangkat dinamika isu kenelayanan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.

TRANSCRIPT

  • KABAR BAHARI VII 1 Januari-Februari 20141

    Kemud i

    TOKOH

    KONSULTASI HUKUM

    KESEHATAN

    DAPUR

    Januari - Februari 2014

    BOCORNYA SERIBU KAPAL

    Perubahan Iklim

    Siti Rofiah: Melestarikan Pangan Lokal di Pulau Lembata

    Menjaga Sanitasi Kampung Nelayan: Dibutuhkan Kerjasama Masyarakat dengan Pemerintah

    Sate Kerang Pedas Manis

  • Januari - Februari 2014

    SERIBU KAPAL INKA MINA:Antara Menyejahterakan Nelayan dan Ajang Korupsi Oknum Birokrasi-Pebisnis(?)

    Siti Rofiah:Melestarikan Pangan Lokal di Pulau Lembata

    Sate Kerang Pedas Manis

    MENJAGA SANITASI KAMPUNG NELAYAN: DIBUTUHKAN KERJASAMA MASYARAKAT DENGAN PEMERINTAH

    Kelompok Perempuan Nelayan Puspita Bahari:MEMETIK BUAH KEGIGIHAN GOTONG-ROYONG

    SERIKAT NELAYAN KECAMATAN BANTAN, PULAU BENGKALISMELAWAN PRAKTEK PENANGKAPAN IKAN ILEGAL DAN MERUSAK

    SimponyPesisir dan Laut Milik Kita

    Perubahan Iklim

    4

    8

    16

    20

    26

    28

    32

    35

    36

    DAF TAR ISI

    Kebijakan

    Kemudi

    Setara

    Jelajah

    Nama dan Peristiwa

    Konsultasi Hukum

    Tokoh

    Dapur

    Kesehatan

    BOCORNYA SERIBU KAPAL

  • J Bukan Nelayan Tanpa PerahuMenyebut kapal/perahu mengandaikan hadirnya nelayan. Tanpa alat produksi ini, nelayan yang notabene pahlawan protein bangsa akan mengalami kewalahan dalam menghadirkan ikan-ikan segar di meja jamuan makan bersama keluarga, sahabat, dan handai taulan.

    Di Indonesia, tercatat sebanyak 2,2 juta nelayan yang bergerak di sektor perikanan tangkap atau menangkap ikan di laut. Lebih dari 95 persennya berkarakter tradisional atau skala kecil. Tidak seluruhnya memiliki kapal/perahu sebagai alat produksinya. Tak mengherankan, juga dikenal penyebutan buruh nelayan di dalam kosakata perikanan kita.

    Sejak tahun 2010-2014, pengadaan kapal Inka Mina menjadi program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan target 1.000 kapal, di mana harga per unit Rp 1.5 Miliar dan total nilai APBN sebesar Rp. 1,5 Triliun.

    Menghubungkan fakta di kampung-kampung nelayan dengan program pemberdayaan yang didukung melalui anggaran negara sebagai solusi merupakan keharusan. Sayangnya, urusan politik jangka pendek sering kali menjadi perintang tercapainya tujuan mengangkat derajat para buruh nelayan.

    Dalam berbagai kesempatan, baik langsung maupun tidak langsung, KIARA menerima pengaduan masyarakat berkenaan dengan penyimpangan pelaksanaan program 1.000 kapal. Dimulai dari rekrutmen Kelompok Usaha Bersama (KUB) hingga indikasi terjadinya penyelewengan dana pengadaan kapal. Menindaklanjuti laporan ini, KIARA sudah menyampaikannya kepada pihak-pihak terkait dengan harapan ada perbaikan signifikan. Pada tahun 2014, sebanyak 100 kapal ditargetkan terbangun. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi selang periode 2010-2013 bukan tidak mungkin kembali terulang. Di sinilah peran masyarakat nelayan amat sangat dibutuhkan sebagai pengawas independen.

    Untuk KABAR BAHARI edisi ketujuh ini, kami mengetengahkan 1.000 Kapal Inka Mina sebagai hidangan utama. Semoga memberi manfaat.

    KABAR BAHARI adalah Buletin dua bulanan terbitan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) yang mengangkat dinamika isu kenelayanan dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.

    DEWAN REDAKSI

    Pemimpin Redaksi: Abdul Halim Redaktur Pelaksana: Selamet DaroyniSidang Redaksi: Susan HerawatiAhmad Marthin HadiwinataDesain Grafis:DodoFoto Sampul:Dokumentasi KIARA

    Alamat Redaksi:Jl Manggis Blok B Nomor 4 Perumahan Kalibata Indah Jakarta 12750 Telp./Faks: +62 21 799 3528 Email: [email protected]

    CatatanREDAKSI

  • Kemudi

  • BOCORNYA SERIBU KAPAL

    Sejak tahun 2010-2014, pengadaan kapal Inka Mina menjadi program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan target 1.000 kapal, di mana harga per unit Rp 1.5 Miliar dan total nilai APBN sebesar Rp 1,5 Triliun. Pada tahun 2014, sebanyak 100 kapal ditargetkan terbangun.

    Tabel 1. Realisasi Pengadaan Kapal Inka Mina

    Tahun Pengadaan Target Realisasi Beroperasi

    2010 56 unit 46 unit (10 tidak terbangun) 40 unit

    2011 253 unit 232 unit (21 tidak terbangun) 175 unit

    2012 254 unit 249 unit (5 tidak terbangun) -

    2013 224 unit 208 unit (16 tidak terbangun) -

    2014 100 unit -Sumber: UKP4, 2013

  • 6KABAR BAHARI VII 1 Januari-Februari 2014

    Temuan lapangan menunjukkan bahwa penyelenggaraan program Inka Mina menuai persoalan, di antaranya:

    (1) Target pelaksanaan anggaran pengadaan kapal tidak tercapai (lihat Tabel 1);

    (2) Spesifikasi kapal tidak sesuai dengan jumlah alokasi yang dianggarkan tiap unitnya, baik kualitas kapal, kualitas mesin, dan sarana tangkap yang disediakan;

    (3) Berdasarkan perhitungan nelayan, terdapat indikasi kenakalan pemenang tender pengadaan kapal. Hal ini dilakukan dengan mengurangi spesifikasi kapal dan lambat dalam menyelesaikan target terbangunnya kapal;

    (4) Terdapat beberapa kapal Inka Mina yang rusak atau tidak bisa dioperasikan, seperti Inka Mina 199 dan 198 di Kalimantan Timur.

  • KABAR BAHARI VII 1 Januari-Februari 20147

    dan tercatat antara Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota dan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap KKP dengan UKP4 (Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan), misalnya data yang dimiliki oleh UKP4 sebanyak 735 kapal yang berhasil dibangun, sementara KKP mencatat 733 kapal. Selisih ini menunjukkan lemahnya mekanisme pengawasan dan pelaporan perkembangan program pengadaan 1.000 kapal ini. Jika dari sisi jumlah pengadaan saja tidak cocok, potensi kelirunya pelaporan terkait berhasil atau gagalnya kapal pasca serah-terima di pelbagai wilayah besar kemungkinan terjadi.

    Oleh karena itu, KIARA meminta kepada UKP4 untuk melakukan audit keseluruhan atas program Inka Mina 2010-2013 agar nilai keberhasilan atau kegagalannya bisa diukur oleh khalayak luas, khususnya masyarakat nelayan, dan dapat dijadikan sebagai pedoman perbaikan pelaksanaan program ini di tahun 2014.

    Selain itu, KIARA juga meminta kepada Menteri Kelautan dan Perikanan untuk menyiapkan database online perkembangan program, meliputi implementasi, pelaporan, pemantauan dan verifikasi lapangan, sehingga bisa diakses dengan mudah dan cepat oleh para pemangku kepentingan, termasuk aparatur hukum. Hal ini bertujuan untuk meminimalisasi terjadinya penyimpangan-penyimpangan.

    Sebelumnya Inspektorat Jenderal KKP juga sudah mengeluarkan hasil audit

    Akibatnya KUB nelayan memiliki beban moral tanpa ada mekanisme pengembalian kepal kepada Negara. Lebih parah lagi, Inka Mina 63 dipergunakan untuk mengangkut bawang impor dari Malaysia dan kemudian tenggelam di perairan Sialang Buah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

    Hal lainnya adalah tidak sinkronnya data pengadaan kapal yang terbangun

  • 8KABAR BAHARI VII 1 Januari-Februari 2014

    internal pelaksanaan proyek itu. Dari hasil audit itu diketahui, ada beberapa masalah dalam pelaksanaan program tersebut. Pertama, tidak terpenuhinya target pembangunan kapal. Misalnya, tahun 2010, dari target pembuatan 60 unit, hanya terealisasi 46 unit. Begitu pula di tahun-tahun berikutnya.

    Kedua, dari hasil audit internal KKP terhadap 106 unit kapal yang sudah diserahkan di 46 kabupaten/kota, pihak Inspektorat Jenderal KKP menemukan, dari jumlah tersebut

    hanya 28 kapal atau 26,42 persen yang benar-benar operasional dan sesuai dengan tujuan pengadaan. Sementara kapal yang sudah operasional namun bermasalah mencapai 32 unit atau 30,19%.

    Masalah yang dialami kapal-kapal ini beragam mulai dari belum memiliki ijin (9 kapal), menggunakan ijin daerah (4 unit), hasil tangkapan belum optimal dan masih rugi (9 kapal), belum diketahui produksinya (4 kapal), kapal terbakar dan mesin mengalami kerusakan (2 kapal), dan lain-lain. Sisanya ada kapal yang sudah diserahkan namun belum operasional sama sekali yaitu sebanyak 46 kapal (43,40%).

    Dari sisi pengadaan, pihak Inspektorat menyimpulkan kapal Inka Mina belum sepenuhnya sesuai dengan tujuan pengadaannya. Hal ini dapat dilihat dengan masih rendahnya kapal Inka Mina yang telah operasional dan dapat meningkatkan produksi serta pendapatan nelayan yaitu hanya 28 unit kapal.

    Selain itu dari sisi operasional pihak Inspektorat seperti disebutkan dokumen tersebut, juga ditemukan adanya pelanggaran ijin operasional. Akibat tidak optimalnya pengadaan kapal ini, di beberapa daerah potensi ikan yang ada malah banyak yang dinikmati nelayan asing dengan armada kapal yang lebih baik.

    Karena itu, pihak Inspektorat menyarankan agar pihak KKP melakukan beberapa tindakan di antaranya mengidentifikasi dan

  • KABAR BAHARI VII 1 Januari-Februari 20149

    menegur konsultan perencana, pengawas dan pelaksana pekerjaan. Selain itu pihak KKP juga diminta melakukan identifikasi nelayan secara rinci dan cermat terhadap kemampuan dan kemauan menggunakan kapal Inka Mina serta melakukan pembinaan terhadap kelompok nelayan penerima kapal.

    KKP sendiri sudah mengumumkan akan melaksanakan program Inka Mina untuk pengadaan tahun 2014. Untuk tahun ini target pengadaan sebanyak 100 unit. Diakui bahwa dalam pelaksanaan program tersebut selama ini masih terdapat banyak kendala. Karena itu pihak KKP menurut Zaini sudah melakukan beberapa perbaikan diantaranya soal pedoman pelaksanaan pembangunan kapal. Untuk bahan material pembuatan kapal misalnya, jika dibuat dari kayu, ditetapkan harus menggunakan kayu kelas awet I-II dan kelas kuat I-II yang telah kering. Jika dibuat dari fibreglass harus menggunakan marine fibreglass, sesuai dengan ketentuan yang berlaku bagi pembangunan kapal dan keselamatan pelayaran.

    Terkait kelompok penerima kapal, dalam hal ini Koperasi Usaha Bersama (KUB), juga diseleksi. "Penetapan KUB penerim