fenomena penuaan

Download Fenomena Penuaan

Post on 04-Dec-2015

13 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

y

TRANSCRIPT

  • STUDI LITERATUR

    FENOMENA PENUAAN DAN RELEVANSI DENGAN

    KEPERAWATAN GERONTIK

    Disusun oleh :

    Ns Muhammad Muin, S.Kep

    PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

    FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO

    2007

  • Tujuan Instruksional Umum

    Setelah mengikuti perkuliahan mahasiswa dapat menganalisis teori penuaan dan

    relevansinya dengan keperawatan gerontik

    Tujuan Instruksioanl Khusus

    Setelah mengikuti perkuliahan mahasiswa dapat :

    1. Menjelaskan peran teori dalam memahami penuaan

    2. Menjelaskan tentang teori biologis dalam penuaan dan relevansinya dengan

    keperawatan gerontik

    3. Menjelaskan tentang teori sosiologis dalam penuaan dan relevansinya dengan

    keperawatan gerontik

    4. Menjelaskan tentang teori psikologis dalam penuaan dan relevansinya dengan

    keperawatan gerontik

  • Pendahuluan

    Penuaan merupakan fenomena yang sampai sekarang masih menjadi bahan

    kajian dan penelitian yang menantang. Pertanyaan mendasar tentang mengapa manusia

    menjadi tua, bagaimana proses menjadi tua, dan apakah manusia bisa tidak menjadi

    tua merupakan misteri yang menuntut pemecahan oleh ilmu pengetahuan.

    Menua (aging) adalah proses menghilangnya secara perlahan-lahan

    kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/ mengganti diri dan mempertahankan

    struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk

    infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides, 1994 dalam

    Dharmojo dan Martono, 1999). Perdebatan tentang fenomena penuaan telah ada sejak

    dulu, meskipun mayoritas masih berfokus pada penuaan secara biologis. Ilmuwan

    yunani kuno seperti Aristoteles, Hippokrates, Galen dan ilmuwan filosofis lain

    menghubungkan penuaan dengan adanya penurunan panas tubuh dan air.

    Setelah metodologi penelitian dan keilmuan berkembang serta ditemukan lebih

    banyak hal tentang penuaan, konsep penuaan menjadi semakin jelas, bahwa penuaan

    sebenarnya proses yang sangat kompleks dan bervariasi, sehingga membutuhkan

    pemahaman terhadap hal multi aspek pada penuaan. Penuaan pada manusia di

    pengaruhi oleh aspek biologis, sosiologis, psikologis, dan spiritual. Penuaan yang

    sukses ditandai dengan keadaan sejahtera secara fisiologis, psikologis, sosial dan

    spiritual. Pemahaman terhadap kompleksitas dan ke-multiaspek-an proses menua

    mutlak dikuasai oleh perawat gerontik yang harus memberikan asuhan keperawatan

    pada lansia secara komprehensif mencakup kebutuhan biologi, psikologis, sosial,

    kultural, serta spiritual.

    Teori berfungsi membantu pemahaman tentang satu fenomena tertentu,

    memberikan sudut pandang untuk melihat fakta, serta memberikan pijakan dan arah

    untuk diskusi dan penelitian (Miller, 1999). Teori tentang penuaan masih berkembang

    hingga sekarang karena teori yang ada sekarangpun dianggap belum mampu

    menjawab pertanyaan tentang fenomena penuaan secara memuaskan. Teori yang akan

    dibahas dalam makalah ini merupakan teori yang umum dan didukung oleh banyak

    ilmuan, masih banyak teori lain yang juga berkontribusi terhadap pemahaman tentang

    penuaan.

  • Menua merupakan proses yang dapat dilihat sebagai sebuah kontinum kejadian

    dari lahir sampai meninggal (Ignativicus, Workman, Mishler, 1999 dikutip dari

    Lueckenotte, 2000). Teori biologis menjelaskan bahwa penuaan terjadi karena proses

    dinamika biologis seperti penumpukan kerusakan atau zat yang merusak di dalam

    tubuh, pembelahan sel, mutasi gen yang berlangsung terus menerus dari awal

    kehidupan manusia sampai meninggal. Teori sosial menjelaskan bahwa kehidupan

    sosial pada masa lansia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial sebelumnya, pola

    interaksi sosial pada masa sebelumnya akan mempengaruhi bagaimana lansia

    berinteraksi sosial. Teori psikologis menjelaskan situasi dan kondisi psikologis pada

    masa lansia merupakan cermin kondisi kejiwaan pada masa sebelumnya, mekanisme

    koping dalam menghadapi masalah kehidupan dilatih dan dipraktikkan oleh manusia

    berawal dari masa muda sampai masa lansia.

    Teori Biologis tentang Penuaan

    Teori biologis merupakan teori penuaan yang berkembang lebih awal

    dibanding teori penuaan yang lain. Aristoteles, Galen dan Roger Bacon

    mengemukakan teori penuaan dan menyusun daftar tentang umur terpanjang berbagai

    spesies. Elie Metchnikoff (1908) mengajukan teori bahwa penuaan terjadi akibat

    absoprsi toksin terus menerus oleh kuman usus (Hardywinoto, Setiabudhi, T, 1999).

    Teori biologis konsern dengan jawaban terhadap pertanyaan mendasar tentang

    proses fisiologis yang terjadi pada semua mahluk yang menua secara kronologis.

    Perubahan akibat menua berjalan sendiri tanpa pengaruh faktor eksternal atau

    penyakit. Pertanyan utama berkaitan dengan faktor yang memicu proses penuaan yang

    aktual pada mahluk hidup. Teori ini secara umum melihat penuaan yang terjadi pada

    titik pandang molekular, seluler, atau sistem tubuh (Lueckenotte, 2000).

    Fokus teori biologis mencakup penjelasan tentang hal-hal berikut : 1) efek

    deleterious menyebabkan penurunan fungsi pada mahluk hidup, 2) terjadi perubahan

    terkait usia secara bertahap yang berkembang progresif dari waktu ke waktu, 3)

    perubahan intrinsik dapat mempengaruhi setiap anggota suatu spesies akibat usia

    kronologis (Lueckenotte, 2000). Karakteristik proses penuaan yang terjadi pada hewan

    mamalia dan manusia (Vincent J. Cristofalo (1990) adalah : 1) Peningkatan kematian

  • sejalan dengan peningkatan usia, 2) Terjadinya perubahan kimiawi dalam sel dan

    jaringan tubuh mengakibatkan massa tubuh berkurang, peningkatan lemak dan

    lipofuscin yang dikenal sebagai age pigment, serta perubahan di serat kolagen yang

    dikenal sebagai cross-linking, 3) Terjadi perubahan yang progresif dan merusak, 4)

    Menurunnya kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan di lingkungannya, 5)

    meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit tertentu (Hardywinoto,

    Setiabudhi, T, 1999).

    Penurunan fungsi satu mahluk hidup dapat menyebabkan suatu kegagalan

    menyeluruh baik pada satu organ maupun sistem (Hayflick, 1996). Menurut teori ini,

    semua organ pada satu mahluk hidup tidak menua pada waktu yang sama, satu organ

    yang sama pada 2 individu satu spesies tidak menua dengan laju yang sama. Teori

    penuaan biologis secara umum terbagi menjadi dua yaitu stochastic dan nonstochastic.

    Teori stochastic menerangkan menua sebagai proses kejadian yang terjadi secara acak

    dan berakumulasi seiring waktu, sedangkan teori nonstochatic memandang penuaan

    sebagai proses yang telah ditentukan secara tepat sebelumnya, merupakan fenomena

    yang telah pasti waktunya. Sebagai sebuah kesimpulan bahwa proses penuaan tidak

    hanya dipengaruhi oleh satu mekanisme, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor

    mekanisme penuaan (Lueckenotte, 2000).

    Teori Stochastic

    Teori Kesalahan (Error Theory)

    Setelah sel menua, banyak perubahan terjadi secara alami pada penyusun

    utamanya, DNA dan RNA. Hipotesis teori ini berdasar pada ide bahwa kesalahan

    dapat terjadi pada transkripsi dalam satu langkah sintesis protein DNA, hal ini dapat

    menyebabkan penuaan atau kematian pada suatu sel. Kesalahan akan menyebabkan

    reproduksi suatu enzim atau protein yang bukan kopi tepat dari aslinya. Transkripsi

    berikutnya akan menghasilkan kesalahan juga. Apabila dampaknya berlanjut sampai

    beberapa generasi protein, produk akhirnya tidak akan menyerupai sel aslinya dan

    kemampuan fungsionalnya akan berkurang (Sonneborn, 1979 dikutip dari

    Lueckenotte, 2000).

  • Sekarang teori ini tidak didukung hasil penelitian, meskipun perubahan terjadi

    pada aktivitas enzim seiring penuaan, penelitian tidak menemukan bahwa semua sel

    yang menua mengandung protein yang berubah atau tidak spesifik, demikian juga

    penuaan tidak berjalan lebih cepat pada saat protein atau enzim yang tidak spesifik

    dimasukkan ke dalam sel (Hayflick, 1996; Goldstein, 1993; Schneider, 1992 dikutip

    dari Lueckenotte, 2000).

    Teori Radikal Bebas (Free Radical Theory)

    Radikal bebas merupakan produk dari aktivitas metabolisme dasar di dalam

    tubuh. Produksi radikal bebas dapat meningkat sebagai hasil polusi lingkungan

    eksternal maupun internal seperti ozone, pestisida, radiasi, asap kendaraan dan rokok,

    zat pengawet makanan, dan sinar ultra violet serta kerusakan sel atau sel yang mati.

    Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, dan di dalam tubuh jika fagosit

    pecah, dan sebagai produk sampingan di dalam rantai pernafasan di dalam mitokondria

    (Oen,1993 dikutip dari (Dharmojo, R.B, Martono, H.H, 1999). Pada metabolisme

    aerob radikal bebas terbentuk pada fase respirasi di mitokondria.

    Radikal bebas merupakan produk antara dalam metabolisme yang melibatkan

    oksigen dalam mengubah bahan makanan menjadi ATP melalui enzim respirasi di

    mitokondria. Radikal bebas yang terbentuk dalam fase ini antara lain : superoksida

    (O2), radikal hidroksil (OH), dan peroksida hidrogen (H2O2). Secara normal, radikal

    bebas dinetralkan oleh antioksidan alami non enzimatik seperti vitamin C (asam

    askorbat), Provitamin A (Beta Karoten) dan Vitamin E (Tocopherol) at au aktivitas

    enzimatik. Aktivitas enzimatik dalam tubuh dalam upaya menetralkan radikal bebas

    terjadi dalam reaksi sebagai berikut (Dharmojo, R.B, Martono, H.H, 1999) :

    1. Supero