bab ii tinjauan pustaka 2.1 proses fisiologis penuaan ii.pdf7 bab ii tinjauan pustaka 2.1 proses...

Download BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Proses Fisiologis Penuaan   II.pdf7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Proses Fisiologis Penuaan Pada Lansia Penuaan pada lansia, memungkinkan terjadinya penurunan anatomis dan fungsional yang

Post on 06-Feb-2018

217 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 7

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Proses Fisiologis Penuaan Pada Lansia

    Penuaan pada lansia, memungkinkan terjadinya penurunan anatomis dan

    fungsional yang sangat besar. Andrea dan Tobin (peneliti), memperkenalkan

    Hukum 1%, yang menyatakan bahwa fungsi organ akan mengalami penurunan

    sebanyak 1% setiap tahunnya setelah usia 30 tahun (Martono, 2004).

    Pada lansia sering dijumpai permasalahan yang berkaitan dengan

    kemampuan gerak dan fungsi. Menurut Kamso yang dikutip oleh Zuhdi (2000),

    pada lansia terjadi penurunan kekuatan sebesar 88%, fungsi pendengaran 67%,

    pengelihatan 72%, daya ingat 61%, serta kelenturan tubuh yang menurun sebesar

    64%. Permasalahan yang muncul pada lansia dapat disebabkan karena adanya

    perubahan fisiologis yang terjadi pada tubuh. Beberapa perubahan fisiologis yang

    terjadi akibat proses penuaan antara lain:

    2.1.1 Sistem panca-indera

    Lansia yang mengalami penurunan persepsi sensoris akan terdapat

    kesenggangan untuk bersosialisasi karena kemunduran dari fungsi-fungsi sensoris

    yang dimiliki. Indera yang dimiliki seperti penglihatan, pendengaran, pengecapan,

    penciuman dan perabaan merupakan kesatuan integrasi dari persepsi sensoris.

    a. Pengelihatan

    Semakin bertambahnya usia, lemak akan berakumulasi disekitar kornea dan

    membentuk lingkaran berwarna putih atau kekuningan di antara iris dan sclera.

  • 8

    Kejadian ini disebut arkus sinilis, biasanya ditemukan pada lansia. Perubahan

    penglihatan dan fungsi mata yang dianggap normal dalam proses penuaan

    termasuk penurunan kemampuan dalam melakukan akomodasi, konstriksi pupil

    akibat penuaan dan perubahan warna serta kekeruhan lensa mata, yaitu katarak

    (Suhartin, 2010).

    Hal ini akan berdampak pada penurunan kemampuan sistem visual dari

    indera penglihatan yang berfungsi sebagai pemberi informasi ke susunan saraf

    pusat tentang posisi dan letak tubuh terhadap lingkungan di sekitar dan antar

    bagian tubuh sehingga tubuh dapat mempertahankan posisinya agar tetap tegak

    dan tidak jatuh.

    b. Pendengaran

    Penurunan pendengaran merupakan kondisi secara dramatis dapat

    mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Kehalangan pendengaran pada lansia

    disebut dengan presbikusis. Presbikusis merupakan perubahan yang terjadi pada

    pendengaran akibat proses penuaan yaitu telinga bagian dalam terdapat penurunan

    fungsi sensorineural, hal ini terjadi karena telinga bagian dalam dan komponen

    saraf tidak berfungsi dengan baik sehingga terjadi perubahan konduksi. Implikasi

    dari hal ini adalah kehilangan pendengaran secara bertahap. Ketidakmampuan

    untuk mendeteksi suara dengan frekuensi tinggi (Chaccione, 2005).

    Telinga bagian tengah terjadi pengecilan daya tangkap membran timfani,

    pengapuran dari tulang pendengaran, lemah dan kakunya otot dan ligamen.

    Implikasi dari hal ini adalah gangguan konduksi pada suara (Miller, 2009).

  • 9

    Pada telinga bagian luar terjadi perpanjangan dan penebalan rambut, kulit

    menjadi lebih tipis dan kering serta terjadi peningkatan keratin. Implikasi dari hal

    ini adalah potensial terbentuk serumen sehingga berdampak pada gangguan

    konduksi suara (Miller, 2009).

    Penuruan kemampuan telinga seperti diatas dapat berdampak pula

    terhadap komponen vestibular yang terletak di telinga bagian dalam. Komponen

    vestibular ini berperan sangat penting terhadap keseimbangan tubuh. Saat posisi

    kepala berubah maka komponen vestibular akan merespon perubahan tesebut dan

    mempertahakan posisi tubuh agar tetap tegak.

    c. Perabaan

    Pada lansia terjadi penurunan kemampuan dalam mempersepsikan rasa

    pada kulit, ini terjadi karena penurunan korpus free nerve ending pada kulit. Rasa

    tersebut berbeda untuk setiap bagian tubuh sehingga terjadi penurunan dalam

    merasakan tekanan, raba panas dan dingin. Gangguan pada indera peraba tentunya

    berpengaruh pada sistem somatosensoris.

    Somatosensoris adalah reseptor pada kulit, subkutan telapak kaki dan

    propioceptor pada otot, tendon dan sendi yang memberikan informasi tentang

    kekuatan otot, ketegangan otot, kontraksi otot dan juga nyeri, suhu, tekanan dan

    posisi sendi. Pada lansia dengan semakin menurunnya kemampuan akibat faktor

    degenerasi maka informasi yang digunakan dalam menjaga posisi tubuh yang

    didapat dari tungkai, panggul, punggung dan leher akan menurun (Chaitow,

    2005). Hal ini berdampak pada keseimbangan yang akan terganggu akibat dari

    penurunan implus somatosensoris ke susunan saraf pusat.

  • 10

    2.1.2 Sistem muskuloskeletal

    a. Otot

    Pada umumnya seseorang yang mulai tua akan berefek pada menurunnya

    kemampuan aktivitas. Penurunan kemampuan aktivitas akan menyebabkan

    kelemahan serta atrofi dan mengakibatkan kesuliatan untuk mempertahankan serta

    menyelesaikan suatu aktivitas rutin pada individu tersebut. Perubahan pada otot

    inilah yang menjadi fokus dalam penurunan keseimbangan berkaitan dengan

    kondisi lansia.

    Menurut Lumbantobing (2005) perubahan yang jelas pada sistem otot

    lansia adalah berkurangnya massa otot. Penurunan massa otot ini lebih disebabkan

    oleh atrofi. Otot mengalami atrofi sebagai akibat dari berkurangnya aktivitas,

    gangguan metabolik atau denervasi saraf (Martono, 2004). Perubahan ini akan

    menyebabkan laju metabolik basal dan laju konsumsi oksigen maksimal

    berkurang (Taslim, 2001). Otot menjadi lebih mudah capek dan kecepatan

    kontraksi akan melambat. Selain dijumpai penurunan massa otot, juga dijumpai

    berkurangnya rasio otot dengan jaringan lemak. Akibatnya otot akan berkurang

    kemampuannya sehingga dapat mempengaruhi postur.

    Perubahan-perubahan yang timbul pada sistem otot lebih disebabkan oleh

    disuse. Lansia yang aktif sepanjang umurnya, cenderung lebih dapat

    mempertahankan massa otot, kekuatan otot dan koordinasi dibanding mereka

    yang hidupnya santai (Rubenstein, 2006). Tetapi harus diingat bahwa olahraga

    yang sangat rutin pun tidak dapat mencegah secara sempurna proses penurunan

    massa otot (Lumbatobing, 2005).

  • 11

    Permasalahan yang terjadi pada lansia biasa sangat terlihat pada

    menurunnya kekuatan grup otot besar. Otot-otot pada batang tubuh (trunk) akan

    berkurang kemampuannya dalam menjaga tubuh agar tetap tegak. Respon dari

    otot-otot postural dalam mempertahankan postur tubuh juga menurun. Respon

    otot postural menjadi kurang sinergis saat bekerja mempertahankan posisi akibat

    adanya perubahan posisi, gravitasi, titik tumpu, serta aligmen tubuh.

    Pada otot pinggul (gluteal) dan otot-otot pada tungkai seperti grup otot

    quadriceps, hamstring, gastrocnemius dan tibialis mengalami penurunan

    kemampuan berupa cepat lelah, turunnya kemampuan, dan adanya atrofi yang

    berakibat daya topang tubuh akan menurun dan keseimbangan mudah goyah.

    b. Tulang

    Pada lansia dijumpai proses kehilangan massa tulang dan kandungan

    kalsium tubuh, serta perlambatan remodeling dari tulang. Massa tulang akan

    mencapai puncak pada pertengahan usia dua puluhan (di bawah usia 30 tahun).

    Penurunan massa tulang lebih dipercepat pada wanita pasca menopause. Sama

    halnya dengan sistem otot, proses penurunan massa tulang ini sebagai disebabkan

    oleh faktor usia dan disuse (Wilk, 2009).

    Dengan bertambahannya usia, perusakan dan pembentukan tulang

    melambat. Hal ini terjadi karena penurunan hormon estrogen pada wanita, vitamin

    D, dan beberapa hormon lain. Tulang-tulang trabekular menjadi lebih berongga,

    mikroarsitekur berubah dan sering patah baik akibat benturan ringan maupun

    spotan (Martono, 2004). Implikasi dari hal ini adalah peningkatan terjadinya

    resiko osteoporosis dan fraktur (Suhartin, 2010).

  • 12

    c. Perubahan postur

    Perubahan postur meningkatkan sejalan dengan pertambahan usia. Hal itu

    dapat dihubungkan dengan keseimbangan dan resiko jatuh. Gangguan

    keseimbangan lansia disebakan oleh degenerasi progresif mekanoreseptor sendi

    intervertebra. Degenerasi karena peradangan atau trauma pada vertebra dapat

    menggangu afferent feedback ke saraf pusat yang berguna untuk stabilitas

    postural. Banyak perubahan yang terjadi pada vertebra lansia, seperti spondilosis

    servikal yang dimana 80% ditemukan pada orang berusia 55 tahun keatas. Hal itu

    berpengaruh terhadap penurunan stabilitas dan fleksibilitas pada postur

    (Pudjiastuti, 2003).

    Perubahan yang paling banyak terjadi pada vertebra lansia meliputi kepala

    condong ke depan (kifosis servikal), peningkatan kurva kifosis torakalis, kurva

    lumbal mendatar (kifosis lumbalis), penurunan ketebalan diskus intervertebralis

    sehingga tinggi badan menjadi berkurang. Kepala yang condong ke depan

    seringkali diartikan tidak normal, tetapi dapat dikatakan normal apabila hal itu

    merupakan kompensasi dari perubahan postur yang lain. Kurva skoliosis dapat

    timbul pada lansia karena perubahan vertebra, ketidakseimbangan otot erctor

    spine dan kebiasaan atau aktivitas yang salah (Pudjiastuti, 2003).

    Pada anggota gerak, variasi perubahan postur yang paling banyak adalah

    protraksi bahu dan sedikit fleksi sendi siku, sendi panggul dan lutut. Adanya

    perubahan permukaan dan kapsul sendi, akan mengakibatkan kecacatan varus atau

    valgus dapat sendi panggul, lutut atau pergelangan kaki.

  • 13

    Perubahan yang terjadi pada sistem sa