gangguan ginjal akut

Click here to load reader

Post on 11-Dec-2014

98 views

Category:

Documents

14 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

gangguan ginjal yang akut

TRANSCRIPT

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Ekskresi disini merupakan hasil dari tiga proses, yakni filtrasi di glomerulus, sekresi aktif di tubulus proksimal, dan reabsorbsi pasif di tubulus proksimal dan distal. Ekskresi obat melalui ginjal menurun pada gangguan fungsi ginjal sehingga dosis perlu disesuaikan dengan penurunan dosis atau perpanjangan interval pemberian (Ganiswara, 2005). Gagal ginjal akut (GGA) merupakan suatu sindroma klinik yang ditandai dengan adanya gangguan fungsi ginjal secara mendadak dalam beberapa jam sampai beberapa hari yang menyebabkan retensi sisa metabolisme nitrogen dan non-nitrogen, dengan atau tanpa disertai oliguri (Anonim, 2007). Sindroma ini ditemukan pada kira-kira 5% dari semua pasien yang dirawat di rumah sakit dan sampai dengan 30% pasien yang dirawat di unit rawat intensif. Meskipun biasanya bersifat reversibel, GGA merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di rumah sakit yang disebabkan oleh sifat yang serius dari penyakit yang mendasarinya dan tingginya komplikasi yang terjadi (Isselbacher et al., 2000). Gagal ginjal akut terjadi secara tiba-tiba dan berpotensi kembali lagi ke normal, sedangkan gagal ginjal kronik sudah terjadi bertahun-tahun dan progresif. Menurut Parsoedi dan Soewito, angka kematian yang disebabkan berkisar antara 20-52% meskipun dirawat dengan fasilitas yang sempurna (Parsoedi and Soewito, 1990). Kasus gagal ginjal di dunia meningkat lebih dari 50% pertahun, sedangkan di Indonesia sudah mencapai 20%. Mortalitas penderita GGA masih cukup tinggi, 4050 % pada GGA oliguri dan 1520 % pada GGA non-oliguri. Insiden GGA di populasi umum kurang dari 1 %, sedangkan pada penderita yang dirawat di rumah sakit berkisar 57 % dan 2025 % terjadi pada penderita di ruang perawatan intensif (Suhardjono, 2007). Obat yang dikeluarkan terutama melalui ekskresi ginjal dapat menyebabkan toksisitas pada penderita gangguan ginjal (Shargel and Yu, 1999). Keberhasilan terapi

untuk penyakit sangat ditunjang oleh pemilihan kombinasi obat yang tepat sedangkan kegagalan terapi sering diakibatkan karena adanya Drug Related Problem (DRP). Ketika outcome yang didapatkan tidak optimal, maka DRP dapat terjadi. Pasien yang paling sering mengalami resiko tinggi terjadinya jenis DRP ketidak tepatan dosis adalah golongan usia lanjut, yang dalam proses penuaan akan mengalami proses penurunan fungsi renal (Cipolle et al., 1998). Pasien usia lanjut mempunyai resiko yang lebih tinggi terhadap interaksi obat, di antaranya karena pasien ini akan memperoleh berbagai macam obat karena pasien

kemungkinan juga menderita berbagai jenis penyakit sistemik lain yang menyertai. Selain itu pemahaman terhadap pengobatan yang buruk, mengakibatkan munculnya banyak masalah termasuk rendahnya kepatuhan dalam pengobatan (Kenward and Tan, 2003). Dari penelitian yang dilakukan sebelummnya terdapat penggunaan obat dengan kontraindikasi pada pasien gagal ginjal sebanyak 13 kasus (40,63% dari total kasus). Selain itu terjadi interaksi obat pada 9 kasus (28,13% dari total kasus) dan kasus dosis tidak tepat terjadi pada 10 kasus (31,25% dari total kasus) (Masrruroh, 2006). Menurut Winarni (2006) terdapat 11 kasus (23%) pasien menggunakan obat nefrotoksik dan 5 kasus (11%) pasien mengalami interaksi obat dari total kasus yang ada. Berdasarkan laporan dari unit rekam medik rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 2003-2005 kurang lebih terdapat 70 kasus pasien yang menderita GGA, dan sekitar 18,5% pasien meninggal dunia setelah menjalani perawatan di rumah sakit ini. Dari sekian kasus yang terjadi, umur pasien yang menderita penyakit ini rata-rata di atas 30 tahun. Dari latar belakang di atas dan adanya kasus pasien yang menderita GGA di rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta, penelitian terkait dengan pola penggunaan obat pada pengobatan pasien GGA yang ada di rumah sakit tersebut penting untuk dilakukan. B. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana gambaran penggunaan obat pada pasien GGA di instalasi rawat inap rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta tahun 2003-2005 ?

2. Bagaimana kesesuaian pengobatan yang dilakukan dibandingkan dengan standar pelayanan medik (SPM) tahun 2005 yang ada di rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta ? 3. Bagaimanakah efektivitas penggunaan obat pada pasien GGA di rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang dilihat dari lama perawatan, keadaan pulang serta data obyektif pasien berupa BUN dan kreatinin ?

C. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui bagaimana pola penggunaan obat pada penderita GGA di rumah sakit PKU Muhammadiyah. 2. Mengetahui kesesuaian penggunaan obat yang diberikan dengan standar pelayanan medik (SPM) yang ada di rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. 3. Mengetahui efektivitas penggunaan obat yang diberikan di rumah sakit Muhammadiyah Yogyakarta. PKU

D. Manfaat Penelitian 1. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran kepada praktisi kesehatan di rumah sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta sehingga dapat

meningkatkan pelayanan kesehatan dan pasien mendapatkan terapi yang optimal. 2. Dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pembanding dan pelengkap untuk penelitian selanjutnya.

BAB STUDI PUSTAKA

A. Tinjauan Pustaka 1. Anatomi dan fisiologi ginjal Ginjal merupakan sepasang organ berbentuk kacang yang terletak bagian ventral dinding perut bagian dorsal, di bawah diafragma dan masing-masing terletak pada kedua

sisi kolom tulang belakang. Pada bagian cembungnya mengarah ke lateral, bagian cekungnya mengarah ke medial. Panjang ginjal 10-12 cm, penampang melintangnya 5-6 cm dan beratnya sekitar 120-160 gram (Ganiswara, 2005). Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibandingkan ginjal yang kiri karena tertekan ke bawah oleh hati. Katup atasnya terletak setinggi kosta keduabelas sedangkan kutup atas ginjal kiri terletak setinggi kosta kesebelas (Wilson, 1995). Tiap tubulus ginjal dan glomerulusnya membentuk satu kesatuan (nefron). Ukuran ginjal berbagai spesies ditentukan oleh jumlah nefron yang membentuknya. Tiap ginjal manusia memiliki kira-kira 1,3 juta nefron. Ginjal akan mendapat 1,2-1,3 L darah per menit pada orang dewasa yang sedang istirahat, atau sedikit lebih kecil daripada 25% curah jantung (Ganong, 2001). Kapsula ginjal tipis tapi kuat. Bila ginjal edema, kapsula ini akan membatasi pembengkakan, dan akibatnya tekanan jaringan (tekanan intersisial) ginjal meningkat. Hal ini akan menurunkan laju filtrasi glomerulus dan dianggap memperberat dan memperpanjang keadaan anuria pada GGA (Ganong, 2001). Ginjal melakukan fungsi vital sebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah (dan lingkungan dalam tubuh) dengan mengekskresikan solut dan air secara selektif. Fungsi vital ginjal dilakukan dengan filtrasi plasma darah melalui glomerulus diikuti dengan reabsorbsi sejumlah solut dan air dalam jumlah yang tepat di sepanjang tubulus ginjal. Kelebihan solut dan air akan diekskresikan keluar tubuh sebagai kemih melalui sistem pengumpul (Wilson, 1995). Ginjal memiliki sejumlah fungsi penting : a. Ekskresi bahan yang tidak diperlukan Ekskresi produk buangan yang meliputi produk sampingan dari metabolisme

karbohidrat (misal: air, asam) dan metabolisme protein (misal: urea, asam urat, kreatinin), bersama dengan bahan yang jumlahnya melebihi kebutuhan tubuh (misal: air). b. Pengaturan homeostatis

Misal keseimbangan cairan dan elektrolit dan keseimbangan asam-basa. Ginjal berperan penting dan secara aktif mempertahankan keseimbangan ionik, osmotik, pH, dan keseimbangan cairan yang paling tepat di seluruh bagian tubuh. c. Biosintesis dan metabolisme hormon Meliputi biosintesa (misal : renin, aldosteron, erythopoetin dan 1,25- dihidroksi vitamin D). Serta metabolisme hormon (misal : insulin, steroid, dan hormonhormon tiroid). Oleh karena itu, ginjal terlibat dalam pengaturan tekanan darah, metabolisme kalsium, dan tulang serta eritopoesis (Kenward and Tan, 2003). 2. Definisi Gagal ginjal akut (GGA) merupakan penurunan fungsi ginjal secara mendadak sehingga ginjal tidak mampu menjalani fungsinya untuk mengekskresikan hasil metabolisme tubuh (kelebihan nitrogen dan air) dan mempertahankan keseimbangan asam dan basa (Mueller,2005). GGA adalah penurunan tiba-tiba faal ginjal pada individu dengan ginjal sehat sebelumnya, dengan atau tanpa oliguria. GGA dapat berakibat azotemia progesif disertai kenaikkan ureum dan kreatinin darah (Parsoedi and Soewito, 1990). Penurunan fungsi ginjal yang terjadi dalam waktu singkat menyebabkan penderita GGA hanya mengalami sedikit gejala. Diagnosis yang dapat diterima meliputi terjadinya peningkatan 50% dari batas atas nilai normal serum kreatinin, atau sekitar 0,5 mg/dl atau terjadi penurunan sebesar 50% dari normal laju filtrasi glomerulus (Needham. 2005). Anuria didefinisikan bila volume urin kurang dari 50ml per hari. Oliguria terjadi jika volume urin dalam satu hari sekitar 50-450ml, sedangkan kondisi non oliguria terjadi jika volume urin lebih dari 450ml per hari (Mueller, 2005). Jika GGA bersifat sedang, efek fisiologis utamanya adalah retensi darah dan cairan ekstraseluler dari cairan tubuh, produk buangan dari metabolisme dan elektrolit. Hal ini dapat menyebabkan penumpukkan air dan garam yang berlebihan yang kemudian dapat mengakibatkan edema dan hipertensi. Namun retensi kalium yang berlebihan sering menyebabkan ancaman yang lebih serius terhadap pasien gagal ginjal akut karena peningkatan konsentrasi kalium plasma (hiperkalemia) kira-kira lebih dari 8 mEq/liter (hanya 2 kali normal) dapat menjadi fatal, karena ginjal juga tidak dapat mengekskresikan

cukup ion hidrogen. Pasien dengan GGA mengalami asidosis metabolik yang dapat menyebabkan kematian atau dapat memperburuk hiperkalemia itu sendiri (Guyton a