daya terima pasien terhadap menu telur di ruang … · untuk satu hari. rsud cengkareng menggunakan...

of 28/28
DAYA TERIMA PASIEN TERHADAP MENU TELUR DI RUANG PERAWATAN KEBIDANAN RSUD CENGKARENG Fatria Triguna Wijaya Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul fatria.triguna@yahoo.com . Abstrak Penyelenggaraan makanan RS merupakan serangkaian kegiatan mulai dari perencanaan menu, perencanaan kebutuhan bahan makanan, perencanaan anggaran belanja, pengadaan bahan makanan, penerimaan dan penyimpanan. Kemudian pemasakan bahan makanan, distribusi dan pencatatan, pelaporan serta evaluasi. Salah satu cara untuk mengevaluasi makanan yang disajikan adalah dengan menghitung daya terima makanan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang daya terima menu telur yang disajikan dalam bentuk lauk kepada pasien di ruang perawatan kebidanan RSUD Cengkareng. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif mengunakan desain cross-sectional dengan metode survei dan teknik wawancara. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariate dengan uji korelasi spearman. Hasil uji cita rasa dan daya terima tertinggi di ruang perawatan kebidanan RSUD Cengkareng yaitu pada menu rendang telur masing-masing sebesar 87,1% dan 90,3% dan ada hubungan signifikan antara cita rasa dengan daya terima menu telur pada pasien di ruang perawatan kebidanan RSUD Cengkareng. Kata Kunci : Penyelenggaraan Makanan, Daya Terima dan Citarasa Abstract Organizing food RS is a series of activities ranging from planning the menu planning, grocery needs, budget planning, procurement of foodstuffs, reception and storage. Then cooking foodstuffs, distribution and record-keeping, reporting and evaluation. One way to evaluate the food served is by calculating the power received food consumers. This research aimed to get information about the power received the egg menu is served in the form of a side dish to patients in obstetrics care room Cengkareng Hospitals. This research is descriptive research using cross-sectional design with method survey and interview techniques. Data analysis Univariate and bivariate is done with test correlation of spearman. The taste test results and receive test the highest in midwifery care room Cengkareng Hospitals is menu rendang eggs each of 87.1% and 90.3% and there is a significant relationship between the taste with the egg on the menu the patient received preoperative care obstetrics Cengkareng Hospitals. Keywords: Organizing food, Resources Received and the taste

Post on 04-Jul-2019

237 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • DAYA TERIMA PASIEN TERHADAP MENU TELUR DI RUANG

    PERAWATAN KEBIDANAN RSUD CENGKARENG

    Fatria Triguna Wijaya

    Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul

    [email protected]

    .

    Abstrak

    Penyelenggaraan makanan RS merupakan serangkaian kegiatan mulai dari

    perencanaan menu, perencanaan kebutuhan bahan makanan, perencanaan

    anggaran belanja, pengadaan bahan makanan, penerimaan dan penyimpanan.

    Kemudian pemasakan bahan makanan, distribusi dan pencatatan, pelaporan serta

    evaluasi. Salah satu cara untuk mengevaluasi makanan yang disajikan adalah

    dengan menghitung daya terima makanan konsumen. Penelitian ini bertujuan

    untuk memperoleh informasi tentang daya terima menu telur yang disajikan dalam

    bentuk lauk kepada pasien di ruang perawatan kebidanan RSUD Cengkareng.

    Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif mengunakan desain cross-sectional

    dengan metode survei dan teknik wawancara. Analisis data dilakukan secara

    univariat dan bivariate dengan uji korelasi spearman. Hasil uji cita rasa dan daya

    terima tertinggi di ruang perawatan kebidanan RSUD Cengkareng yaitu pada

    menu rendang telur masing-masing sebesar 87,1% dan 90,3% dan ada hubungan

    signifikan antara cita rasa dengan daya terima menu telur pada pasien di ruang

    perawatan kebidanan RSUD Cengkareng.

    Kata Kunci : Penyelenggaraan Makanan, Daya Terima dan Citarasa

    Abstract

    Organizing food RS is a series of activities ranging from planning the menu

    planning, grocery needs, budget planning, procurement of foodstuffs, reception

    and storage. Then cooking foodstuffs, distribution and record-keeping, reporting

    and evaluation. One way to evaluate the food served is by calculating the power

    received food consumers. This research aimed to get information about the power

    received the egg menu is served in the form of a side dish to patients in obstetrics

    care room Cengkareng Hospitals. This research is descriptive research using

    cross-sectional design with method survey and interview techniques. Data

    analysis Univariate and bivariate is done with test correlation of spearman. The

    taste test results and receive test the highest in midwifery care room Cengkareng

    Hospitals is menu rendang eggs each of 87.1% and 90.3% and there is a

    significant relationship between the taste with the egg on the menu the patient

    received preoperative care obstetrics Cengkareng Hospitals.

    Keywords: Organizing food, Resources Received and the taste

    mailto:[email protected]
  • Pendahuluan

    Penyelenggaraan makanan RS

    merupakan serangkaian kegiatan

    mulai dari perencanaan menu,

    perencanaan kebutuhan bahan

    makanan, perencanaan anggaran

    belanja, pengadaan bahan makanan,

    penerimaan dan penyimpanan.

    Kemudian pemasakan bahan

    makanan, distribusi dan pencatatan,

    pelaporan serta evaluasi (PGRS,

    2013).

    Penelitian yang dilakukan oleh

    Almatsier dan kawan-kawan tahun

    1992, tentang persepsi pasien

    terhadap makanan yang disajikan di

    10 Rumah Sakit. Dari penelitian

    tersebut diperoleh data 92% Rumah

    Sakit menyajikan makanan tidak

    memenuhi standar yang telah

    ditetapkan dalam Penuntun Diet, 31%

    Rumah Sakit belum melaksanakan

    penyuluhan atau konsultasi gizi, 75%

    Rumah Sakit belum melaksanakan

    secara teratur evaluasi asupan gizi dan

    status gizi pasien rawat inap, serta

    43% pasien yang diteliti menyatakan

    persepsi kurang baik terhadap mutu

    makanan yang disajikan, dan 75%

    pasien masih membawa makanan dari

    luar Rumah Sakit.

    Pada penelitian Ama, Al Yasir Nene

    (2012), tentang analisis persepsi

    contoh terhadap karakteristik lauk

    hewani menunjukkan terdapat contoh

    yang menyatakan tidak suka terhadap

    warna, aroma, tekstur, dan rasa dari

    ayam. Demikian juga pada telur dan

    ikan, terdapat contoh yang

    menyatakan tidak suka terhadap

    aroma telur, tekstur ikan serta rasa

    dari telur dan ikan. Berbeda dengan

    lauk hewani lainnya, sebanyak 32.5%

    dan 7.5% contoh menyatakan sangat

    suka pada rasa dan tekstur daging.

    Pada penelitian Irfanny, Anwar dkk

    tahun 2012 tentang evaluasi

    penyelenggaraan makanan lunak dan

    analisis sisa makanan lunak di

    beberapa RS di Jakarta menunjukkan

    bahwa responden yang tidak

    menghabiskan lauk hewani pada

    setiap waktu makan cukup besar yaitu

    di atas 35%. Hampir sama dengan

    penelitian Eliya rata-rata dalam sehari

    38,5% responden tidak menghabiskan

    lauk hewani yang dihidangkan.

    Penelitian Harvie (2011)

    menunjukkan bahwa 33% responden

    tidak menghabiskan hidangan telur

    yang disajikan dan penelitian Murni

    (2012) menunjukkan 57,1%

    1

  • responden tidak menghabiskan

    hidangan telur yang disajikan.

    Ironisnya penggunaan telur pada

    setiap penyelenggaraan makan

    sebagai salah satu menu lauk hewani

    di beberapa RS cukup tinggi.

    Penggunaan telur di beberapa Rumah

    Sakit di Jakarta lebih kurang 250-300

    butir per hari.

    Telur merupakan sumber protein

    hewani yang mempunyai nilai gizi

    tinggi. Selain murah, telur juga

    merupakan sumber protein hewni

    yang mudah didapatkan dan diolah.

    Dalam ilmu gizi telur dijadikan

    patokan untuk membandingkan nilai

    gizi bahan makanan lainnya. Oleh

    sebab itu, telur merupakan sumber zat

    gizi yang sangat penting yang

    dibutuhkan untuk perkembangan dan

    pertumbuhan embrio. Protein telur

    mempunyai nilai biologis tinggi

    karena mengandung asam-asam

    amino yang lengkap dibandingkan

    dengan sumber protein hewani

    lainnya. Telur juga mengandung

    berbagai zat gizi penting seperti

    protein, vitamin A, D, E, dan B,

    Fosfor dan zink. Telur digunakan

    sebagai standarisasi dari protein yang

    lain, karena protein berfungsi

    memperbaiki organ tubuh. Otot, kulit,

    dan organ-organ tubuh semua

    tersusun dari protein (Arief, 2008).

    Pemkaian telur rata-rata di RSUD

    Cengkareng sebanyak 300 butir telur

    untuk satu hari. RSUD Cengkareng

    menggunakan siklus menu 10 hari,

    pemakaian telur dalam 1 hari adalah 2

    kali penyajian. Menu telur terdiri dari

    telur rebus, telur ceplok bumbu

    kecap, omelet isi sayuran, semur

    telur, telur kalio (bumbu kuning),

    rendang telur, pindang telur.

    Salah satu cara untuk mengevaluasi

    makanan yang disajikan adalah

    dengan menghitung daya terima

    makanan konsumen. Daya terima

    makanan adalah presentase makanan

    yang di konsumsi dari total

    keseluruhan yang disediakan. Daya

    terima ini banyak dipengaruhi

    beberapa faktor diantaranya adalah

    penampilan makanan saat disajikan

    dan rasa makanan (Dewi, 2007 dalam

    Megawati, 2015 ).

    Daya terima pasien terhadap makanan

    yang disajikan dapat dilihat dari

    makanan sisa, bila makanan yang

    disajikan dengan baik dapat

    dihabiskan pasien berarti pelayanan

    gizi dirumah sakit tersebut tercapai

    (Depkes, 2001). Dengan demikian,

    melalui indikator tersebut daya terima

  • pasien dapat dikatakan baik bila

    pasien telah mencapai kepuasan.

    Pelayanan makanan dirumah sakit

    dapat ditentukan dengan beberapa

    indikator diantaranya: waktu

    pelayanan, penampilan makanan

    (warna dan bentuk), dan rasa

    makanan (aroma, bumbu masakan,

    suhu makanan). Pola makan pasien

    juga mempengaruhi daya terima

    makanan yang disajikan. Menurut

    Mukrie (1990), makanan yang

    disajikan sesuai dengan kebiasaan

    makan pasien karena akan

    berpengaruh terhadap selera makan.

    Pada penelitian Refnita (2001)

    menunjukkan adanya hubungan yang

    bermakna antara kebiasaan makan,

    penampilan makanan dan suhu

    makanan dengan daya terima makan

    siang pekerja. Hal ini sejalan dengan

    penelitian Iskandar (2003), yang

    menunjukkan adanya hubungan yang

    bermakna antara frekuensi makan,

    penampilan makanan, dan flavour

    (cita rasa) makanan dengan daya

    terima makan siang pekerja. Pada

    penelitian Hermawati (2003),

    diperoleh hasil ada hubungan yang

    bermakna antara kualitas makanan

    yang disajikan dengan daya terima

    (p=0,006). Hal ini juga menunjukan

    bahwa daya terima dipengaruhi oleh

    penampilan dan rasa makanan.

    Dalam penelitian yang dilakukan oleh

    Siti Sundari (2008) dengan judul

    hubungan penampilan makanan, rasa

    makanan dan kinerja pegawai, hasil

    analisis hubungan penampilan makan

    dengan daya terima hasilnya

    bermakna, begitu pula dengan

    hubungan rasa makanan dengan daya

    terima makanan. Senada dengan

    penelitian Juandini pada tahun 2010

    dalam penelitiannya di RS Tk. II

    Dustira Cimahi menyatakan ada

    hubungan penilaian penampilan dan

    rasa terhadap daya terima. Begitu

    juga dengan hasil penelitian

    Megawati (2015) yang menyatakan

    bahwa Ada hubungan antara citarasa

    makanan dengan daya terima

    makanan lunak pasien rawat inap

    RSIJ Sukapura.

    Selama ini belum pernah ada

    penelitian yang menyangkut tentang

    daya terima menu telur pada pasien di

    RSUD Cengkareng. Atas dasar inilah,

    penulis berminat mengetahui

    bagaimana daya terima pasien

    terhadap menu telur di ruang

    perawatan kebidanan RSUD

    Cengkareng.

  • Metode

    Penelitian ini dilakukan di

    ruang perawatan kebidanan RSUD

    Cengkareng pada bulan Maret tahun

    2016. Penelitian ini merupakan studi

    analitik yang dilakukan dengan desain

    penelitian secara Cross Sectional.

    Populasi dalam penelitian ini

    adalah seluruh pasien yang dirawat

    diruang perawatan kebidanan RSUD

    Cengkareng selama penelitian

    berlangsung. Pengambilan sampel

    menggunakan cara Purposive

    Sampling.

    Variabel terikat pada penelitian

    ini adalah daya terima menu telur.

    Variabel bebas pada penelitian ini

    adalah data karakteristik (umur,

    pendidikan, pekerjaan, diagnose

    penyakit), citarasa makanan

    (penampilan makanan (warna dan

    bentuk), rasa makanan (aroma,

    bumbu, temperatur). Data yang

    diambil dalam penelitian ini terdiri

    dari daya terima menu telur dan cita

    rasa menu telur yang diperoleh

    dengan cara observasi dan wawancara

    kepada responden menggunakan

    kuesioner. Data menggunakan skala

    ordinal dan menggunakan analisis

    bivariat uji Korelasi Spearman.

    Hasil dan Pembahasan

    Hasil analisis pada tabel 1

    menunjukkan bahwa dari 200

    responden paling banyak berusia

    antara 20-35 tahun yakni sebanyak

    139 responden (69.5%).

    Tabel 1.Distribusi Frekuensi Usia

    Usia N (%)

    < 20 10 5.0

    20-35 139 69.5

    36-45 51 25.5

    Total 200 100.0

    Hasil analisis pada tabel 2

    menunjukkan dari 200 responden

    yang berada di ruang perawatan

    kebidanan sebagian besar memiliki

    diagnose post partum secara Sectio

    Caesar sebanyak 184 responden

    (94.0%).

    Tabel2.Distribusi Frekuensi Diagnosa

    Penyakit Responden

    Diagnosa Penyakit n (%)

    PPN 16 6.0

    SC 184 94.0

    Total 200 100.0

    Hasil analisis pada tabel 3

    menunjukkan bahwa dari 200

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 86 responden

    (43.0%) berpendidikan menengah.

  • Tabel 3. Distribusi Frekuensi

    Pendidikan Responden

    Pendidikan N (%)

    Dasar 84 42.0

    Menengah 86 43.0

    Tinggi 30 15.0

    Total 200 100.0

    Hasil analisis pada tabel 4

    menunjukkan bahwa dari 47

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 23 responden

    (48.9%) menilai citarasa tinggi,

    sebanyak 24 responden (51.1%)

    menilai citarasa rendah.

    Tabel 4. Distribusi Frekuensi Citarasa

    Menu Telur Rebus

    Kategori N (%)

    Tinggi 23 48.9

    Rendah 24 51.1

    Total 47 100

    Berdasarkan tabel 5 analisis

    data menunjukkan bahwa dari 17

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 3 responden

    (17.6%) menilai citarasa tinggi dan

    sebanyak 14 responden (82.4%)

    menilai citarasa rendah.

    Tabel 5. Distribusi Frekuensi Citarasa

    Menu Telur Ceplok Bumbu Kecap

    Kategori n (%)

    Tinggi 3 17.6

    Rendah 14 82.4

    Total 17 100

    Pada tabel 6, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 35

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 22 responden

    (62.9%) menilai citarasa tinggi dan

    sebanyak 13 responden (37.1%)

    menilai citarasa rendah..

    Tabel 6. Distribusi Frekuensi Citarasa

    Menu Telur Bumbu Kuning

    Kategori N (%)

    Tinggi 22 62.9

    Rendah 13 37.1

    Total 35 100

    Pada tabel 7, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 20

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 17 responden

    (85.0%) menilai citarasa tingggi dan

    menilai citarasa rendah sebanyak 3

    responden (15%).

    Tabel 7. Distribusi Frekuensi Citarasa

    Menu Telur Omelet Isi Sayuran

    Kategori N (%)

    Tinggi 17 85

    Rendah 3 15

    Total 20 100

    Pada tabel 8, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 34

    responden di ruang perawatan

    kebidanan, sebanyak 20 responden

    (58.8%) menilai citarasa tinggi dan 14

    responden (41.2%) yang menilai

    citarasa rendah.

  • Tabel 8. Distribusi Frekuensi Citarasa

    Menu Semur Telur

    Kategori n (%)

    Tinggi 20 58.8

    Rendah 14 41.2

    Total 34 100

    Pada tabel 9, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 31

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak masing-masing

    27 responden (87.1%) menilai

    citarasa tinggi dan menilai citarasa

    rendah sebanyak 4 responden

    (12.9%).

    Tabel 9. Distribusi Frekuensi Citarasa

    Menu Rendang Telur

    Kategori N (%)

    Tinggi 27 87.1

    Rendah 4 12.9

    Total 31 100

    Pada tabel 10, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 16

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 9 responden

    (56.2%) menilai citarasa tinggi dan

    menilai citarasa rendah sebanyak 7

    responden (43.8%).

    Tabel 10. Distribusi Frekuensi

    Citarasa Menu Telur Pindang

    Kategori N (%)

    Tinggi 9 56.2

    Rendah 7 43.8

    Total 16 100.0

    Pada tabel 11, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 47

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 40 responden

    (85.1%) memiliki daya terima baik

    dan memiliki daya terima kurang

    sebanyak 7 responden (14.9%).

    Tabel 11. Distribusi Frekuensi Daya

    Terima Menu Telur Rebus

    Kategori n (%)

    Baik 40 85.1

    Kurang 7 14.9

    Total 47 100.0

    Pada tabel 12, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari dari 17

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 12 responden

    (70.6%) memiliki daya terima baik

    dan memiliki daya terima kurang

    sebanyak 5 responden (29.4%).

    Tabel 12. Distribusi Frekuensi Daya

    Terima Menu Telur Ceplok Bumbu

    Kecap

    Kategori n (%)

    Baik 12 70.6

    Kurang 5 29.4

    Total 17 100.0

    Pada tabel 13, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 35

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak masing-masing

    31 responden (88.6%) memiliki daya

    terima baik dan memiliki daya terima

    kurang sebanyak 4 responden

    (11.4%).

    Tabel 13. Distribusi Frekuensi Daya

    Terima Menu Telur Bumbu Kuning

    Kategori n (%)

    Baik 31 88.6

    Kurang 4 11.4

    Total 35 100.0

  • Pada tabel 14, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari dari 20

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak masing-masing

    17 responden (85%) memiliki daya

    terima baik dan memiliki daya terima

    kurang sebanyak 3 responden (15%).

    Tabel 14. Distribusi Frekuensi Daya

    Terima Menu Telur Omelet Isi Sayur

    Kategori N (%)

    Baik 17 85

    Kurang 3 15

    Total 20 100

    Pada tabel 15, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 34

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak masing-masing

    28 responden (82.4%) memiliki daya

    terima baik dan memiliki daya terima

    kurang sebanyak 6 responden

    (17.6%).

    Tabel 15. Distribusi Frekuensi Daya

    Terima Menu Semur Telur

    Kategori n (%)

    Baik 28 82.4

    Kurang 6 17.6

    Total 34 100.0

    Pada tabel 16, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 31

    responden sebanyak 28 responden

    (90.3%) memiliki daya terima baik

    dan sebanyak 3 responden (9.7%)

    memiliki daya terima kurang.

    Tabel 16. Distribusi Frekuensi Daya

    Terima Menu Rendang Telur

    Kategori n (%)

    Baik 28 90.3

    Kurang 3 9.7

    Total 31 100.0

    Pada tabel 17, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 16

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak masing-masing

    11 responden (68.8%) memiliki daya

    terima baik dan memiliki daya terima

    kurang sebanyak 5 responden

    (31.2%).

    Tabel 17. Distribusi Frekuensi Daya

    Terima Menu Telur Pindang

    Kategori n (%)

    Baik 11 68.8

    Kurang 5 31.2

    Total 16 100.0

    Hasil uji korelasi Spearman

    dengan tingkat kepercayaan 95% ( =

    0,05) menunjukkan ada hubungan

    yang sangat signifikan antara citarasa

    dan daya terima pada menu telur

    rebus. Korelasi koofesien 0.464.

    Hal ini menunjukkan semakin

    tinggi citarasa maka semakin baik

    daya terima.

    Tabel 18. Sebaran Responden

    Berdasarkan Citarasa Dan

    Daya Terima Menu Telur

    Rebus

    Kategori

    Citarasa

    Kategori Daya

    Terima

    Total

    Baik Kurang

    n n n

    Tinggi 18 6 24

    Rendah 22 1 23

    Total 40 7 47

  • Tabel 19. Sebaran Responden

    Berdasarkan Citarasa Dan

    Daya Terima Menu Telur

    Ceplok Bumbu Kecap

    Kategori

    Citarasa

    Kategori Daya

    Terima

    Total

    Baik Kurang

    n n n

    Tinggi 3 0 3

    Rendah 9 5 14

    Total 12 5 17

    .

    Hasil uji korelasi Spearman

    dengan tingkat kepercayaan 95% ( =

    0,05) menunjukkan ada hubungan

    yang sangat signifikan antara citarasa

    dan daya terima pada menu telur

    ceplok bumbu kecap. Korelasi

    koofesien 0.499.

    Hal ini menunjukkan semakin

    tinggi citarasa maka semakin baik

    daya terima

    Tabel 20. Sebaran Responden

    Berdasarkan Citarasa Dan

    Daya Terima Menu Telur

    Bumbu Kuning

    Kategori

    Citarasa

    Kategori Daya

    Terima

    Total

    Baik Kurang

    n n n

    Tinggi 21 1 22

    Rendah 10 3 13

    Total 31 4 35

    Hasil uji korelasi Spearman

    dengan tingkat kepercayaan 95% ( =

    0,05) menunjukkan ada hubungan

    yang sangat signifikan antara citarasa

    dan daya terima pada menu telur

    bumbu kuning. Korelasi koofesien

    0.525.

    Hal ini menunjukkan semakin

    tinggi citarasa maka semakin baik

    daya terima.

    Tabel 21. Sebaran Responden

    Berdasarkan Citarasa Dan

    Daya Terima Menu Omelet

    Isi Sayuran

    Kategori

    Citarasa

    Kategori Daya

    Terima

    Total

    Baik Kurang

    N n n

    Tinggi 15 2 17

    Rendah 2 1 3

    Total 17 3 20

    Hasil uji korelasi Spearman

    dengan tingkat kepercayaan 95% ( =

    0,05) menunjukkan ada hubungan

    yang sangat signifikan antara citarasa

    dan daya terima pada menu telur

    omelet isi sayuran. Korelasi koofesien

    -0.546.

    Hal ini menunjukkan semakin

    tinggi citarasa maka semakin baik

    daya terima.

    Tabel 22. Sebaran Responden

    Berdasarkan Citarasa Dan

    Daya Terima Menu Semur

    Telur

    Kategori

    Citarasa

    Kategori Daya

    Terima

    Total

    Baik Kurang

    N n n

    Tinggi 15 5 20

    Rendah 13 1 14

    Total 28 6 34

    Hasil uji korelasi Spearman

    dengan tingkat kepercayaan 95% ( =

    0,05) menunjukkan ada hubungan

    yang sangat signifikan antara citarasa

    dan daya terima pada menu semur

    telur. Korelasi koofesien 0.231.

  • Hal ini menunjukkan semakin

    tinggi citarasa maka semakin baik

    daya terima.

    Tabel 23. Sebaran Responden

    Berdasarkan Citarasa Dan

    Daya Terima Menu Rendang

    Telur

    Kategori

    Citarasa

    Kategori Daya

    Terima

    Total

    Baik Kurang

    n n n

    Tinggi 26 1 27

    Rendah 2 2 4

    Total 28 3 31

    Hasil uji korelasi Spearman

    dengan tingkat kepercayaan 95% ( =

    0,05) menunjukkan ada hubungan

    yang sangat signifikan antara citarasa

    dan daya terima pada menu rendang

    telur. Korelasi koofesien 0.348.

    Hal ini menunjukkan semakin

    tinggi citarasa maka semakin baik

    daya terima.

    Tabel 24. Sebaran Responden

    Berdasarkan Citarasa Dan

    Daya Terima Menu Telur

    Pindang

    Kategori

    Citarasa

    Kategori Daya

    Terima

    Total

    Baik Kurang

    n n N

    Tinggi 7 2 9

    Rendah 4 3 7

    Total 11 5 16

    Hasil uji korelasi Spearman

    dengan tingkat kepercayaan 95% ( =

    0,05) menunjukkan ada hubungan

    yang sangat signifikan antara citarasa

    dan daya terima pada menu telur

    pindang. Korelasi koofesien -0.545.

    Hal ini menunjukkan semakin

    tinggi citarasa maka semakin baik

    daya terima.

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelitian

    dapat disimpulkan bahwa:

    1. Umur responden paling banyak yaitu antara umur

    20-35 tahun sebanyak 139

    responden (69,5%),

    jenjang pendidikan

    terakhir responden paling

    banyak memiliki jenjang

    pendidikan menengah

    sebanyak 86 responden

    (40,0%),dan hamper

    semua responden memiliki

    diagnose post partus

    Sectio Caesar, yaitu

    sebanyak 184 responden

    (94,0%).

    2. Mayoritas responden di ruang perawatan

    kebidanan RSUD

    Cengkareng menilai

    citarasa tertinggi pada

    menu rendang telur

    sebesar 87,1%.

    3. Mayoitas responden di ruang perawatan

    kebidanan RSUD

    Cengkareng memiliki daya

    terima paling baik pada

    menu rendang telur

    sebesar 90,3%.

    4. Ada hubungan yang sangat signifikan antara

    citarasa dengan daya

    terima menu telur pada

    pasien di ruang perawatan

    kebidanan RSUD

    Cengkareng.

  • Daftar Pustaka

    Almatsier, S., Jusat,I & Akmal.

    1992. Persepsi Pasien

    Terhadap Makanan di Rumah

    Sakit (Survey Pada 10 Rumah

    Sakit) Di DKI Jakarta. Dalam

    Gizi Indonesia 17(1/2): 87-96.

    Ama, Al Yasir Nene. 2012. Persepsi,

    Konsumsi dan Kontribusi

    Lauk Hewani Pada Pasien

    Rawat Inap di RSUD

    Cibinong. Dalam Gizi

    Indonesia 31(5):78-91.

    Andrini, Yudhit Novi. 2012.

    Penyelenggaraan Makanan,

    Daya Terima, Dan Konsumsi

    Pangan Lansia di Panti Sosial

    Tresna Werdha Salam

    Sejahtera Bogor. Skripsi

    Departemen Gizi Masyarakat

    FEM IPB. Bogor.

    Apriadji, Harry Wied. 1980. Gizi

    Keluarga. Penebar Swadaya

    Anggota IKAPI. Jakarta.

    Arief, Irfan. 2008. Telur Sumber

    Protein Hewani. Jakarta.

    Buckle, K.A. et al. 2013. Ilmu

    Pangan.Universitas Indonesia.

    Jakarta.

    Clark Nancy, RD, MS. 1996.

    Petunjuk Gizi Untuk Setiap

    Cabang Olahraga. Jakarta.

    Dewi, Krisma. 2007. Hubungan

    Antara Penampilan Makanan

    Dan Rasa Makanan Dengan

    Daya Terima Makan Siang

    Siswa SPK Sungai Liat

    Bangka Tahun 2007. Dalam

    Gizi Indonesia 32(3):7-21.

    Departemen Pendidikan Dan

    Kebudayaan, 1996, Kamus

    Besar Bahasa Indonesia,

    Balai Pustaka, Jakarta.

    Depkes RI, 2003. Pedoman

    Pelayanan Gizi Rumah Sakit,

    Jakarta: Depkes RI.

    Depkes RI. 2005. Pedoman

    Pelaksanaan Pelayanan Gizi

    Rumah Sakit, Jakarta. Depkes

    RI

    Eliya, Tati. Gambaran Sisa Konsumsi

    Makanan Lunak Pasien Rawat

    Inap Ditinjau Dari

    Pembagian Waktu Makan

    Dan Jenis Makanan Serta

    Faktor Penyebabnya Di

    RSUD Pasar Rebo Jakarta.

    Dalam Gizi Indonesia 32(4):

    91-108.

    Hartatik, Tatik. 2005. Gambaran

    Daya Terima Terhadap Daya

    Terima Terhadap Cita Rasa

    Makanan Pada Pasien

    Dewasa di Perawatan Kelas II

    Rumah Sakit Haji Jakarta.

    Dalam Gizi Indonesia

    34(3):96-107.

    Harvie, Nabilah Khairani. 2011. Sisa

    Makakan Lunak Ditinjau Dari

    Citarasa Makanan Rumah

    Sakit Dan Konsumsi Makanan

    Dari Luar Pada Pasien Rawat

    Inap Kelas III Di RSUD Budhi

    Asih Jakarta Timur, Tahun

    2011. Karya Tulis Ilmiah

    Jurusan Gizi Poltekkes Jakarta

    II.

  • Hermawati, Dede. 2003. Hubungan

    Persepsi Terhadap Kualitas

    Makanan Yang Disajikan

    Dengan Daya Terima

    Mahasiswa Di Kantin Timur

    ITB. Bandung: Jurusan Gizi

    Politeknik Kesehatan

    Kemenkes Bandung.

    Humaira. 2014. Analisis

    Penyelenggaraan Makanan,

    Tingkat Kesukaan Dan Sisa

    Konsumsi Pangan Narapidana

    Di Lembaga Pemasyarakatan

    Pandeglang, Bogor. Skripsi

    Departemen Gizi Masyarakat

    FEM IPB.

    Irena, Juandini. 2010. Hubungan

    Penilaian Penampilan dan

    Rasa Makanan Terhadap

    Daya Terima 3 Macam Resep

    Hidangan Pada Pasien Di

    Ruang Rawat Inap RS Tk.II

    03.05.01 Dustira Kota Cimahi

    Tahun 2010. Dalam Gizi

    Indonesia 35(2): 109-120.

    Irfanny, Anwar dkk. 2012. Evaluasi

    Sistem Penyelenggaraan

    Makanan Lunak Dan Analisis

    Sisa Makanan Lunak Di

    Beberapa Rumah Sakit Di Dki

    Jakarta, Tahun 2011. Dalam

    Gizi Indonesia 35(2):97-108.

    Kurniah, Illiyun. 2010. Faktor-Faktor

    Yang Berhubungan Dengan

    Daya Terima Makan Siang

    Karyawan Di RS Brawijaya

    Women And Children

    Kebayoran Baru Jakarta

    Selatan Tahun 2009. Jurnal

    FKM UIN Vol. 4 No.1.

    Lydiawati, Ticha. 2008. Daya Terima

    Konsumsi Energi Dan Zat

    Gizi Pasien Rawat Inap

    Penderita Kardiovaskular Di

    RSUP Fatmawati Jakarta.

    Skripsi Departemen Gizi

    Masyarakat FEM IPB.

    Moehyi, Sjahmien. 1992. Makanan

    Institusi dan Jasa Boga.

    Bharatara, Jakarta.

    Muchtadi, Deddy. 1989. Evaluasi

    Nilai Gizi Pangan. Institut

    Pertanian Bogor.

    Megawati, Yeni. 2015. Hubungan

    Antara Citarasa Makanan

    Dan Pola Makan Dengan

    Daya Terima Makanan Lunak

    Pasien Rawat Inap Di Rumah

    Sakit Islam Jakarta Sukapura

    Jakarta Utara. Dalam Gizi

    Indonesia 34(3):97-108.

    Murni, Dewi. 2012. Hubungan

    Karakteristik Sampel Dan

    Citarasa Makanan Terhadap

    Daya Terima Telur Dalam

    Menu Makanan Lunak Pada

    Pasien Di RS Sukmul Medika

    Jakarta, Tahun 2012. Dalam

    Gizi Indonesia 31(1):91-101.

    Mutmainnah. 2008. Daya Terima

    Makanan Dan Tingkat

    Energi- Protein Pasien Rawat

    Inap Penderita Penyakit

    Dalam Di Rumah Sakit Dr. H.

    Marzoeki Mahdi. Skripsi

    Departemen Gizi Masyarakat

    FEM IPB.

    Nurdiani, Reisi. 2011. Analisis

    Penyelenggaraan Makan Di

    Sekolah Dan Kualitas Menu

    Bagi Siswa Sekolah Dasar Di

    Bogor. Jurnal Gizi dan Pangan

    8(3):214-226.

    Nursafitri, Rinjani. 2013. Analisis

    Sistem Penyelenggaraan

    Makanan, Ketersediaan

    Energi Dan Zat Gizi Serta

    Daya Terima Menu Asrama

  • Sekolah Smart Ekselensia

    Indonesia, Parung, Bogor.

    Jurnal Gizi dan Pangan

    9(3):312-335.

    Paramita, Nadya Bellatrix. 2011.

    Analisis Tingkat Ketersediaan

    Dan Daya Terima Makanan

    Di Sekolah Terhadap Tingkat

    Kecukupan Zat Gizi Pada

    Siswa-Siswi SD Marsudirini,

    Parung, Bogor. Skripsi

    Departemen Gizi Masyarakat

    FEM IPB.

    Persagi. 2009. Tabel Komposisi

    Pangan Indonesia. Elex

    Media Komputindo. Jakarta.

    Kemenkes RI, 2013. Pedoman

    Pelayanan Gizi Rumah Sakit.

    Kementerian Kesehatan RI.

    Purwita, Sari. 2000. Daya Terima

    Makanan Pasien Rawat Inap

    Terhadap Makanan Biasa Di

    Rumah Sakit H Thamrin

    Jakarta. Karya Tulis Ilmiah

    FKM UI. Jakarta.

    Refnita, 2001. Faktor-Faktor Yang

    Berhubungan Dengan Daya

    Terima Makan Siang Tenaga

    Kerja Wanita Di PT. Adis

    Dimention Footwear Serang.

    Skripsi. FKM UI. Depok.

    Saepuloh. 2003. Faktor-Faktor Yang

    Mempengaruhi Daya Terima

    Pasien Dewasa Diit Makanan

    Biasa (Studi Di Ruang Rawat

    Inap Kelas II Dan III Rumah

    Sakit Immanuel Bandung).

    Tesis Universitas Diponegoro.

    Semarang.

    http://eprints.undip.ac.id/1081

    2/ (diakses pada tanggal 26

    November 2015).

    Sholehah, Hidayatus et al. 2015.

    Hubungan Daya Terima

    Makanan Dengan Tingkat

    Kecukupan Energi Dan

    Protein Taruna di Asrama

    Politeknik Ilmu Pelayaran

    Semarang. Jurnal Gizi

    Universitas Muhammadiyah

    Semarang Vol. 4, No. 1.

    Suhendrawati. 2013. Hubungan Daya

    Terima Makanan Biasa,

    Makanan Lunak Dengan

    Lama Hari Rawat Pada

    Pasien Bedah Kelas III Lantai

    6 Barat Di Rumah Sakit Budhi

    Asih Jakarta. Skripsi UEU.

    Jakarta.

    Sundari, Siti. 2008. Hubungan

    Penampilan Makanan, Rasa

    Makanan Dan Kinerja

    Pegawai Distribusi Makanan

    Terhadap Daya Terima

    Makanan Di Ruang Rawat

    Inap Kelas VIP Dan Kelas 1

    RSUD R. Syamsudin S. H.

    Kota Sukabumi. Karya Tulis

    Ilmiah Poltekkes Kemenkes

    Bandung Jurusan Gizi.

    Bandung.

    Sutyawan dan Setiawan, Budi. 2013.

    Penyelenggaraan Makanan,

    Daya Terima Makanan, Dan

    Tingkat Asupan Siswa Asrama

    Kelas Unggulan Sma 1 Pemali

    Bangka Belitung. Jurnal Gizi

    dan Pangan 8(3): 207- 214.

    Tresnawati, Murni Mutia. 2009.

    Analisis Sistem Pengelolaan,

    Tingkat Ketersediaan, Dan

    Daya Terima Menu Makanan

    Katering Sekolah. Skripsi

    Departemen Gizi Masyarakat

    FEM IPB. Bogor.

    Tryascipta, Didik. 2015.

    Penyelenggaraan Makanan

    http://eprints.undip.ac.id/10812/http://eprints.undip.ac.id/10812/
  • Pada SMA Negeri Cahaya

    Madani Banten Boarding

    School Dan Penilaian Menu

    Makanan Pada Siswa. Skripsi

    Departemen Gizi Masyarakat

    FEM IPB. Bogor.

    Winarno. 2004. Kimia Pangan dan

    Gizi. Gramedia Pustaka

    Utama. Jakarta.

  • DAYA TERIMA PASIEN TERHADAP MENU TELUR DI RUANG

    PERAWATAN KEBIDANAN RSUD CENGKARENG

    Fatria Triguna Wijaya

    Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul

    [email protected]

    .

    Abstrak

    Penyelenggaraan makanan RS merupakan serangkaian kegiatan mulai dari

    perencanaan menu, perencanaan kebutuhan bahan makanan, perencanaan

    anggaran belanja, pengadaan bahan makanan, penerimaan dan penyimpanan.

    Kemudian pemasakan bahan makanan, distribusi dan pencatatan, pelaporan serta

    evaluasi. Salah satu cara untuk mengevaluasi makanan yang disajikan adalah

    dengan menghitung daya terima makanan konsumen. Penelitian ini bertujuan

    untuk memperoleh informasi tentang daya terima menu telur yang disajikan dalam

    bentuk lauk kepada pasien di ruang perawatan kebidanan RSUD Cengkareng.

    Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif mengunakan desain cross-sectional

    dengan metode survei dan teknik wawancara. Analisis data dilakukan secara

    univariat dan bivariate dengan uji korelasi spearman. Hasil uji cita rasa dan daya

    terima tertinggi di ruang perawatan kebidanan RSUD Cengkareng yaitu pada

    menu rendang telur masing-masing sebesar 87,1% dan 90,3% dan ada hubungan

    signifikan antara cita rasa dengan daya terima menu telur pada pasien di ruang

    perawatan kebidanan RSUD Cengkareng.

    Kata Kunci : Penyelenggaraan Makanan, Daya Terima dan Citarasa

    Abstract

    Organizing food RS is a series of activities ranging from planning the menu

    planning, grocery needs, budget planning, procurement of foodstuffs, reception

    and storage. Then cooking foodstuffs, distribution and record-keeping, reporting

    and evaluation. One way to evaluate the food served is by calculating the power

    received food consumers. This research aimed to get information about the power

    received the egg menu is served in the form of a side dish to patients in obstetrics

    care room Cengkareng Hospitals. This research is descriptive research using

    cross-sectional design with method survey and interview techniques. Data

    analysis Univariate and bivariate is done with test correlation of spearman. The

    taste test results and receive test the highest in midwifery care room Cengkareng

    Hospitals is menu rendang eggs each of 87.1% and 90.3% and there is a

    significant relationship between the taste with the egg on the menu the patient

    received preoperative care obstetrics Cengkareng Hospitals.

    Keywords: Organizing food, Resources Received and the taste

    mailto:[email protected]
  • Pendahuluan

    Penyelenggaraan makanan RS

    merupakan serangkaian kegiatan

    mulai dari perencanaan menu,

    perencanaan kebutuhan bahan

    makanan, perencanaan anggaran

    belanja, pengadaan bahan makanan,

    penerimaan dan penyimpanan.

    Kemudian pemasakan bahan

    makanan, distribusi dan pencatatan,

    pelaporan serta evaluasi (PGRS,

    2013).

    Penelitian yang dilakukan oleh

    Almatsier dan kawan-kawan tahun

    1992, tentang persepsi pasien

    terhadap makanan yang disajikan di

    10 Rumah Sakit. Dari penelitian

    tersebut diperoleh data 92% Rumah

    Sakit menyajikan makanan tidak

    memenuhi standar yang telah

    ditetapkan dalam Penuntun Diet, 31%

    Rumah Sakit belum melaksanakan

    penyuluhan atau konsultasi gizi, 75%

    Rumah Sakit belum melaksanakan

    secara teratur evaluasi asupan gizi dan

    status gizi pasien rawat inap, serta

    43% pasien yang diteliti menyatakan

    persepsi kurang baik terhadap mutu

    makanan yang disajikan, dan 75%

    pasien masih membawa makanan dari

    luar Rumah Sakit.

    Pada penelitian Ama, Al Yasir Nene

    (2012), tentang analisis persepsi

    contoh terhadap karakteristik lauk

    hewani menunjukkan terdapat contoh

    yang menyatakan tidak suka terhadap

    warna, aroma, tekstur, dan rasa dari

    ayam. Demikian juga pada telur dan

    ikan, terdapat contoh yang

    menyatakan tidak suka terhadap

    aroma telur, tekstur ikan serta rasa

    dari telur dan ikan. Berbeda dengan

    lauk hewani lainnya, sebanyak 32.5%

    dan 7.5% contoh menyatakan sangat

    suka pada rasa dan tekstur daging.

    Pada penelitian Irfanny, Anwar dkk

    tahun 2012 tentang evaluasi

    penyelenggaraan makanan lunak dan

    analisis sisa makanan lunak di

    beberapa RS di Jakarta menunjukkan

    bahwa responden yang tidak

    menghabiskan lauk hewani pada

    setiap waktu makan cukup besar yaitu

    di atas 35%. Hampir sama dengan

    penelitian Eliya rata-rata dalam sehari

    38,5% responden tidak menghabiskan

    lauk hewani yang dihidangkan.

    Penelitian Harvie (2011)

    menunjukkan bahwa 33% responden

    tidak menghabiskan hidangan telur

    yang disajikan dan penelitian Murni

    (2012) menunjukkan 57,1%

    1

  • responden tidak menghabiskan

    hidangan telur yang disajikan.

    Ironisnya penggunaan telur pada

    setiap penyelenggaraan makan

    sebagai salah satu menu lauk hewani

    di beberapa RS cukup tinggi.

    Penggunaan telur di beberapa Rumah

    Sakit di Jakarta lebih kurang 250-300

    butir per hari.

    Telur merupakan sumber protein

    hewani yang mempunyai nilai gizi

    tinggi. Selain murah, telur juga

    merupakan sumber protein hewni

    yang mudah didapatkan dan diolah.

    Dalam ilmu gizi telur dijadikan

    patokan untuk membandingkan nilai

    gizi bahan makanan lainnya. Oleh

    sebab itu, telur merupakan sumber zat

    gizi yang sangat penting yang

    dibutuhkan untuk perkembangan dan

    pertumbuhan embrio. Protein telur

    mempunyai nilai biologis tinggi

    karena mengandung asam-asam

    amino yang lengkap dibandingkan

    dengan sumber protein hewani

    lainnya. Telur juga mengandung

    berbagai zat gizi penting seperti

    protein, vitamin A, D, E, dan B,

    Fosfor dan zink. Telur digunakan

    sebagai standarisasi dari protein yang

    lain, karena protein berfungsi

    memperbaiki organ tubuh. Otot, kulit,

    dan organ-organ tubuh semua

    tersusun dari protein (Arief, 2008).

    Pemkaian telur rata-rata di RSUD

    Cengkareng sebanyak 300 butir telur

    untuk satu hari. RSUD Cengkareng

    menggunakan siklus menu 10 hari,

    pemakaian telur dalam 1 hari adalah 2

    kali penyajian. Menu telur terdiri dari

    telur rebus, telur ceplok bumbu

    kecap, omelet isi sayuran, semur

    telur, telur kalio (bumbu kuning),

    rendang telur, pindang telur.

    Salah satu cara untuk mengevaluasi

    makanan yang disajikan adalah

    dengan menghitung daya terima

    makanan konsumen. Daya terima

    makanan adalah presentase makanan

    yang di konsumsi dari total

    keseluruhan yang disediakan. Daya

    terima ini banyak dipengaruhi

    beberapa faktor diantaranya adalah

    penampilan makanan saat disajikan

    dan rasa makanan (Dewi, 2007 dalam

    Megawati, 2015 ).

    Daya terima pasien terhadap makanan

    yang disajikan dapat dilihat dari

    makanan sisa, bila makanan yang

    disajikan dengan baik dapat

    dihabiskan pasien berarti pelayanan

    gizi dirumah sakit tersebut tercapai

    (Depkes, 2001). Dengan demikian,

    melalui indikator tersebut daya terima

  • pasien dapat dikatakan baik bila

    pasien telah mencapai kepuasan.

    Pelayanan makanan dirumah sakit

    dapat ditentukan dengan beberapa

    indikator diantaranya: waktu

    pelayanan, penampilan makanan

    (warna dan bentuk), dan rasa

    makanan (aroma, bumbu masakan,

    suhu makanan). Pola makan pasien

    juga mempengaruhi daya terima

    makanan yang disajikan. Menurut

    Mukrie (1990), makanan yang

    disajikan sesuai dengan kebiasaan

    makan pasien karena akan

    berpengaruh terhadap selera makan.

    Pada penelitian Refnita (2001)

    menunjukkan adanya hubungan yang

    bermakna antara kebiasaan makan,

    penampilan makanan dan suhu

    makanan dengan daya terima makan

    siang pekerja. Hal ini sejalan dengan

    penelitian Iskandar (2003), yang

    menunjukkan adanya hubungan yang

    bermakna antara frekuensi makan,

    penampilan makanan, dan flavour

    (cita rasa) makanan dengan daya

    terima makan siang pekerja. Pada

    penelitian Hermawati (2003),

    diperoleh hasil ada hubungan yang

    bermakna antara kualitas makanan

    yang disajikan dengan daya terima

    (p=0,006). Hal ini juga menunjukan

    bahwa daya terima dipengaruhi oleh

    penampilan dan rasa makanan.

    Dalam penelitian yang dilakukan oleh

    Siti Sundari (2008) dengan judul

    hubungan penampilan makanan, rasa

    makanan dan kinerja pegawai, hasil

    analisis hubungan penampilan makan

    dengan daya terima hasilnya

    bermakna, begitu pula dengan

    hubungan rasa makanan dengan daya

    terima makanan. Senada dengan

    penelitian Juandini pada tahun 2010

    dalam penelitiannya di RS Tk. II

    Dustira Cimahi menyatakan ada

    hubungan penilaian penampilan dan

    rasa terhadap daya terima. Begitu

    juga dengan hasil penelitian

    Megawati (2015) yang menyatakan

    bahwa Ada hubungan antara citarasa

    makanan dengan daya terima

    makanan lunak pasien rawat inap

    RSIJ Sukapura.

    Selama ini belum pernah ada

    penelitian yang menyangkut tentang

    daya terima menu telur pada pasien di

    RSUD Cengkareng. Atas dasar inilah,

    penulis berminat mengetahui

    bagaimana daya terima pasien

    terhadap menu telur di ruang

    perawatan kebidanan RSUD

    Cengkareng.

  • Metode

    Penelitian ini dilakukan di

    ruang perawatan kebidanan RSUD

    Cengkareng pada bulan Maret tahun

    2016. Penelitian ini merupakan studi

    analitik yang dilakukan dengan desain

    penelitian secara Cross Sectional.

    Populasi dalam penelitian ini

    adalah seluruh pasien yang dirawat

    diruang perawatan kebidanan RSUD

    Cengkareng selama penelitian

    berlangsung. Pengambilan sampel

    menggunakan cara Purposive

    Sampling.

    Variabel terikat pada penelitian

    ini adalah daya terima menu telur.

    Variabel bebas pada penelitian ini

    adalah data karakteristik (umur,

    pendidikan, pekerjaan, diagnose

    penyakit), citarasa makanan

    (penampilan makanan (warna dan

    bentuk), rasa makanan (aroma,

    bumbu, temperatur). Data yang

    diambil dalam penelitian ini terdiri

    dari daya terima menu telur dan cita

    rasa menu telur yang diperoleh

    dengan cara observasi dan wawancara

    kepada responden menggunakan

    kuesioner. Data menggunakan skala

    ordinal dan menggunakan analisis

    bivariat uji Korelasi Spearman.

    Hasil dan Pembahasan

    Hasil analisis pada tabel 1

    menunjukkan bahwa dari 200

    responden paling banyak berusia

    antara 20-35 tahun yakni sebanyak

    139 responden (69.5%).

    Tabel 1.Distribusi Frekuensi Usia

    Usia N (%)

    < 20 10 5.0

    20-35 139 69.5

    36-45 51 25.5

    Total 200 100.0

    Hasil analisis pada tabel 2

    menunjukkan dari 200 responden

    yang berada di ruang perawatan

    kebidanan sebagian besar memiliki

    diagnose post partum secara Sectio

    Caesar sebanyak 184 responden

    (94.0%).

    Tabel2.Distribusi Frekuensi Diagnosa

    Penyakit Responden

    Diagnosa Penyakit n (%)

    PPN 16 6.0

    SC 184 94.0

    Total 200 100.0

    Hasil analisis pada tabel 3

    menunjukkan bahwa dari 200

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 86 responden

    (43.0%) berpendidikan menengah.

  • Tabel 3. Distribusi Frekuensi

    Pendidikan Responden

    Pendidikan N (%)

    Dasar 84 42.0

    Menengah 86 43.0

    Tinggi 30 15.0

    Total 200 100.0

    Hasil analisis pada tabel 4

    menunjukkan bahwa dari 47

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 23 responden

    (48.9%) menilai citarasa tinggi,

    sebanyak 24 responden (51.1%)

    menilai citarasa rendah.

    Tabel 4. Distribusi Frekuensi Citarasa

    Menu Telur Rebus

    Kategori N (%)

    Tinggi 23 48.9

    Rendah 24 51.1

    Total 47 100

    Berdasarkan tabel 5 analisis

    data menunjukkan bahwa dari 17

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 3 responden

    (17.6%) menilai citarasa tinggi dan

    sebanyak 14 responden (82.4%)

    menilai citarasa rendah.

    Tabel 5. Distribusi Frekuensi Citarasa

    Menu Telur Ceplok Bumbu Kecap

    Kategori n (%)

    Tinggi 3 17.6

    Rendah 14 82.4

    Total 17 100

    Pada tabel 6, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 35

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 22 responden

    (62.9%) menilai citarasa tinggi dan

    sebanyak 13 responden (37.1%)

    menilai citarasa rendah..

    Tabel 6. Distribusi Frekuensi Citarasa

    Menu Telur Bumbu Kuning

    Kategori N (%)

    Tinggi 22 62.9

    Rendah 13 37.1

    Total 35 100

    Pada tabel 7, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 20

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 17 responden

    (85.0%) menilai citarasa tingggi dan

    menilai citarasa rendah sebanyak 3

    responden (15%).

    Tabel 7. Distribusi Frekuensi Citarasa

    Menu Telur Omelet Isi Sayuran

    Kategori N (%)

    Tinggi 17 85

    Rendah 3 15

    Total 20 100

    Pada tabel 8, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 34

    responden di ruang perawatan

    kebidanan, sebanyak 20 responden

    (58.8%) menilai citarasa tinggi dan 14

    responden (41.2%) yang menilai

    citarasa rendah.

    Tabel 8. Distribusi Frekuensi Citarasa

    Menu Semur Telur

    Kategori n (%)

    Tinggi 20 58.8

    Rendah 14 41.2

  • Total 34 100

    Pada tabel 9, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 31

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak masing-masing

    27 responden (87.1%) menilai

    citarasa tinggi dan menilai citarasa

    rendah sebanyak 4 responden

    (12.9%).

    Tabel 9. Distribusi Frekuensi Citarasa

    Menu Rendang Telur

    Kategori n (%)

    Tinggi 27 87.1

    Rendah 4 12.9

    Total 31 100

    Pada tabel 10, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 16

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 9 responden

    (56.2%) menilai citarasa tinggi dan

    menilai citarasa rendah sebanyak 7

    responden (43.8%).

    Tabel 10. Distribusi Frekuensi

    Citarasa Menu Telur Pindang

    Kategori n (%)

    Tinggi 9 56.2

    Rendah 7 43.8

    Total 16 100.0

    Pada tabel 11, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 47

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 40 responden

    (85.1%) memiliki daya terima baik

    dan memiliki daya terima kurang

    sebanyak 7 responden (14.9%).

    Tabel 11. Distribusi Frekuensi Daya

    Terima Menu Telur Rebus

    Kategori n (%)

    Baik 40 85.1

    Kurang 7 14.9

    Total 47 100.0

    Pada tabel 12, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari dari 17

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak 12 responden

    (70.6%) memiliki daya terima baik

    dan memiliki daya terima kurang

    sebanyak 5 responden (29.4%).

    Tabel 12. Distribusi Frekuensi Daya

    Terima Menu Telur Ceplok Bumbu

    Kecap

    Kategori n (%)

    Baik 12 70.6

    Kurang 5 29.4

    Total 17 100.0

    Pada tabel 13, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 35

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak masing-masing

    32 responden (91.4%) memiliki daya

    terima baik dan memiliki daya terima

    kurang sebanyak 3 responden (8.6%).

    Tabel 13. Distribusi Frekuensi Daya

    Terima Menu Telur Bumbu Kuning

    Kategori n (%)

    Baik 32 91.4

    Kurang 3 8.6

    Total 35 100.0

    Pada tabel 14, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari dari 20

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak masing-masing

    19 responden (95%) memiliki daya

    terima baik dan memiliki daya terima

    kurang sebanyak 1 responden (5%).

  • Tabel 14. Distribusi Frekuensi Daya

    Terima Menu Telur Omelet Isi Sayur

    Kategori n (%)

    Baik 19 95

    Kurang 1 5

    Total 20 100

    Pada tabel 15, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 34

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak masing-masing

    28 responden (82.4%) memiliki daya

    terima baik dan memiliki daya terima

    kurang sebanyak 6 responden

    (17.6%).

    Tabel 15. Distribusi Frekuensi Daya

    Terima Menu Semur Telur

    Kategori n (%)

    Baik 28 82.4

    Kurang 6 17.6

    Total 34 100.0

    Pada tabel 16, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 31

    responden sebanyak 29 responden

    (93.5%) memiliki daya terima baik

    dan sebanyak 2 responden (6.5%)

    memiliki daya terima kurang.

    Tabel 16. Distribusi Frekuensi Daya

    Terima Menu Rendang Telur

    Kategori n (%)

    Baik 29 93.5

    Kurang 2 6.5

    Total 31 100.0

    Pada tabel 17, hasil analisis

    menunjukkan bahwa dari 16

    responden di ruang perawatan

    kebidanan sebanyak masing-masing

    13 responden (81.2%) memiliki daya

    terima baik dan memiliki daya terima

    kurang sebanyak 3 responden

    (18.8%).

    Tabel 17. Distribusi Frekuensi Daya

    Terima Menu Telur Pindang

    Kategori n (%)

    Baik 13 81.2

    Kurang 3 18.8

    Total 16 100.0

    Hasil uji korelasi Spearman

    dengan tingkat kepercayaan 95% ( =

    0,05) menunjukkan ada hubungan

    yang sangat signifikan antara citarasa

    dan daya terima pada menu telur

    rebus. Korelasi koofesien 0.464.

    Hal ini menunjukkan semakin

    tinggi citarasa maka semakin baik

    daya terima.

    Tabel 18. Sebaran Responden

    Berdasarkan Citarasa Dan

    Daya Terima Menu Telur

    Rebus

    Kategori

    Citarasa

    Kategori Daya

    Terima

    Total

    Baik Kurang

    n n n

    Tinggi 16 1 17

    Rendah 24 6 30

    Total 40 7 47

    Tabel 19. Sebaran Responden

    Berdasarkan Citarasa Dan

    Daya Terima Menu Telur

    Ceplok Bumbu Kecap

    Kategori

    Citarasa

    Kategori Daya

    Terima

    Total

  • Baik Kurang

    n n n

    Tinggi 3 0 3

    Rendah 9 5 14

    Total 12 5 17

    .

    Hasil uji korelasi Spearman

    dengan tingkat kepercayaan 95% ( =

    0,05) menunjukkan ada hubungan

    yang sangat signifikan antara citarasa

    dan daya terima pada menu telur

    ceplok bumbu kecap. Korelasi

    koofesien 0.499.

    Hal ini menunjukkan semakin

    tinggi citarasa maka semakin baik

    daya terima

    Tabel 20. Sebaran Responden

    Berdasarkan Citarasa Dan

    Daya Terima Menu Telur

    Bumbu Kuning

    Kategori

    Citarasa

    Kategori Daya

    Terima

    Total

    Baik Kurang

    n n n

    Tinggi 0 0 0

    Rendah 32 3 35

    Total 32 3 35

    Hasil uji korelasi Spearman

    dengan tingkat kepercayaan 95% ( =

    0,05) menunjukkan ada hubungan

    yang sangat signifikan antara citarasa

    dan daya terima pada menu telur

    bumbu kuning. Korelasi koofesien

    0.525.

    Hal ini menunjukkan semakin

    tinggi citarasa maka semakin baik

    daya terima.

    Tabel 21. Sebaran Responden

    Berdasarkan Citarasa Dan

    Daya Terima Menu Omelet

    Isi Sayuran

    Kategori

    Citarasa

    Kategori Daya

    Terima

    Total

    Baik Kurang

    n n n

    Tinggi 17 0 17

    Rendah 2 1 3

    Total 19 1 20

    Hasil uji korelasi Spearman

    dengan tingkat kepercayaan 95% ( =

    0,05) menunjukkan ada hubungan

    yang sangat signifikan antara citarasa

    dan daya terima pada menu telur

    omelet isi sayuran. Korelasi koofesien

    -0.546.

    Hal ini menunjukkan semakin

    tinggi citarasa maka semakin baik

    daya terima.

    Tabel 22. Sebaran Responden

    Berdasarkan Citarasa Dan

    Daya Terima Menu Semur

    Telur

    Kategori

    Citarasa

    Kategori Daya

    Terima

    Total

    Baik Kurang

    n n n

    Tinggi 15 5 20

    Rendah 13 1 14

    Total 28 6 34

    Hasil uji korelasi Spearman

    dengan tingkat kepercayaan 95% ( =

    0,05) menunjukkan ada hubungan

    yang sangat signifikan antara citarasa

    dan daya terima pada menu semur

    telur. Korelasi koofesien 0.231.

    Hal ini menunjukkan semakin

    tinggi citarasa maka semakin baik

    daya terima.

    Tabel 23. Sebaran Responden

    Berdasarkan Citarasa Dan

    Daya Terima Menu Rendang

    Telur

  • Kategori

    Citarasa

    Kategori Daya

    Terima

    Total

    Baik Kurang

    n n n

    Tinggi 16 0 16

    Rendah 13 2 15

    Total 29 2 31

    Hasil uji korelasi Spearman

    dengan tingkat kepercayaan 95% ( =

    0,05) menunjukkan ada hubungan

    yang sangat signifikan antara citarasa

    dan daya terima pada menu rendang

    telur. Korelasi koofesien 0.348.

    Hal ini menunjukkan semakin

    tinggi citarasa maka semakin baik

    daya terima.

    Tabel 24. Sebaran Responden

    Berdasarkan Citarasa Dan

    Daya Terima Menu Telur

    Pindang

    Kategori

    Citarasa

    Kategori Daya

    Terima

    Total

    Baik Kurang

    n n n

    Tinggi 9 0 9

    Rendah 4 3 7

    Total 13 3 16

    Hasil uji korelasi Spearman

    dengan tingkat kepercayaan 95% ( =

    0,05) menunjukkan ada hubungan

    yang sangat signifikan antara citarasa

    dan daya terima pada menu telur

    pindang. Korelasi koofesien -0.545.

    Hal ini menunjukkan semakin

    tinggi citarasa maka semakin baik

    daya terima.

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelitian

    dapat disimpulkan bahwa:

    1. Umur responden paling banyak yaitu antara umur

    20-35 tahun sebanyak 139

    responden (69,5%),

    jenjang pendidikan

    terakhir responden paling

    banyak memiliki jenjang

    pendidikan menengah

    sebanyak 86 responden

    (40,0%),dan hamper

    semua responden memiliki

    diagnose post partus

    Sectio Caesar, yaitu

    sebanyak 184 responden

    (94,0%).

    2. Mayoritas responden di ruang perawatan

    kebidanan RSUD

    Cengkareng menilai

    citarasa tertinggi pada

    menu rendang telur

    sebesar 87,1%.

    3. Mayoitas responden di ruang perawatan

    kebidanan RSUD

    Cengkareng memiliki daya

    terima paling baik pada

    menu rendang telur

    sebesar 90,3%.

    4. Ada hubungan yang sangat signifikan antara

    citarasa dengan daya

    terima menu telur pada

    pasien di ruang perawatan

    kebidanan RSUD

    Cengkareng.

    Daftar Pustaka

    Almatsier, S., Jusat,I & Akmal.

    1992. Persepsi Pasien

  • Terhadap Makanan di Rumah

    Sakit (Survey Pada 10 Rumah

    Sakit) Di DKI Jakarta. Dalam

    Gizi Indonesia 17(1/2): 87-96.

    Ama, Al Yasir Nene. 2012. Persepsi,

    Konsumsi dan Kontribusi

    Lauk Hewani Pada Pasien

    Rawat Inap di RSUD

    Cibinong. Skripsi Departemen

    Gizi Masyarakat FEM IPB.

    Bogor.

    Andrini, Yudhit Novi. 2012.

    Penyelenggaraan Makanan,

    Daya Terima, Dan Konsumsi

    Pangan Lansia di Panti Sosial

    Tresna Werdha Salam

    Sejahtera Bogor. Skripsi

    Departemen Gizi Masyarakat

    FEM IPB. Bogor.

    Apriadji, Harry Wied. 1980. Gizi

    Keluarga. Penebar Swadaya

    Anggota IKAPI. Jakarta.

    Arief, Irfan. 2008. Telur Sumber

    Protein Hewani. Jakarta.

    Buckle, K.A. et al. 2013. Ilmu

    Pangan.Universitas Indonesia.

    Jakarta.

    Clark Nancy, RD, MS. 1996.

    Petunjuk Gizi Untuk Setiap

    Cabang Olahraga. Jakarta.

    Dewi, Krisma. 2007. Hubungan

    Antara Penampilan Makanan

    Dan Rasa Makanan Dengan

    Daya Terima Makan Siang

    Siswa SPK Sungai Liat

    Bangka Tahun 2007. Karya

    Tulis Ilmiah Jurusan Gizi

    Poltekkes Kemenkes

    Bandung.

    Departemen Pendidikan Dan

    Kebudayaan, 1996, Kamus

    Besar Bahasa Indonesia,

    Balai Pustaka, Jakarta.

    Depkes RI, 2003. Pedoman

    Pelayanan Gizi Rumah Sakit,

    Jakarta: Depkes RI.

    Depkes RI. 2005. Pedoman

    Pelaksanaan Pelayanan Gizi

    Rumah Sakit, Jakarta. Depkes

    RI

    Eliya, Tati. Gambaran Sisa Konsumsi

    Makanan Lunak Pasien Rawat

    Inap Ditinjau Dari

    Pembagian Waktu Makan

    Dan Jenis Makanan Serta

    Faktor Penyebabnya Di

    RSUD Pasar Rebo Jakarta.

    Karya Tulis Ilmiah Jurusan

    Gizi Poltekkes Jakarta II,

    2003

    Hartatik, Tatik. 2005. Gambaran

    Daya Terima Terhadap Daya

    Terima Terhadap Cita Rasa

    Makanan Pada Pasien

    Dewasa di Perawatan Kelas II

    Rumah Sakit Haji Jakarta.

    Karya Tulis Ilmiah FKM UI.

    Jakarta.

    Harvie, Nabilah Khairani. 2011. Sisa

    Makakan Lunak Ditinjau Dari

    Citarasa Makanan Rumah

    Sakit Dan Konsumsi Makanan

    Dari Luar Pada Pasien Rawat

    Inap Kelas III Di RSUD Budhi

    Asih Jakarta Timur, Tahun

    2011. Karya Tulis Ilmiah

    Jurusan Gizi Poltekkes Jakarta

    II.

    Hermawati, Dede. 2003. Hubungan

    Persepsi Terhadap Kualitas

    Makanan Yang Disajikan

    Dengan Daya Terima

    Mahasiswa Di Kantin Timur

    ITB. Bandung: Jurusan Gizi

    55

  • Politeknik Kesehatan

    Kemenkes Bandung.

    Humaira. 2014. Analisis

    Penyelenggaraan Makanan,

    Tingkat Kesukaan Dan Sisa

    Konsumsi Pangan Narapidana

    Di Lembaga Pemasyarakatan

    Pandeglang, Bogor. Skripsi

    Departemen Gizi Masyarakat

    FEM IPB.

    Irena, Juandini. 2010. Hubungan

    Penilaian Penampilan dan

    Rasa Makanan Terhadap

    Daya Terima 3 Macam Resep

    Hidangan Pada Pasien Di

    Ruang Rawat Inap RS Tk.II

    03.05.01 Dustira Kota Cimahi

    Tahun 2010. Karya Tulis

    Ilmiah. Jurusan Gizi

    Politeknik Kesehatan

    Kemenkes Bandung.

    Irfanny, Anwar dkk. 2012. Evaluasi

    Sistem Penyelenggaraan

    Makanan Lunak Dan Analisis

    Sisa Makanan Lunak Di

    Beberapa Rumah Sakit Di Dki

    Jakarta, Tahun 2011. Dalam

    Gizi Indonesia 35(2):97-108.

    Kurniah, Illiyun. 2010. Faktor-Faktor

    Yang Berhubungan Dengan

    Daya Terima Makan Siang

    Karyawan Di RS Brawijaya

    Women And Children

    Kebayoran Baru Jakarta

    Selatan Tahun 2009. Skripsi

    FKM UIN. Jakarta.

    Lydiawati, Ticha. 2008. Daya Terima

    Konsumsi Energi Dan Zat

    Gizi Pasien Rawat Inap

    Penderita Kardiovaskular Di

    RSUP Fatmawati Jakarta.

    Skripsi Departemen Gizi

    Masyarakat FEM IPB.

    Moehyi, Sjahmien. 1992. Makanan

    Institusi dan Jasa Boga.

    Bharatara, Jakarta.

    Muchtadi, Deddy. 1989. Evaluasi

    Nilai Gizi Pangan. Institut

    Pertanian Bogor.

    Megawati, Yeni. 2015. Hubungan

    Antara Citarasa Makanan

    Dan Pola Makan Dengan

    Daya Terima Makanan Lunak

    Pasien Rawat Inap Di Rumah

    Sakit Islam Jakarta Sukapura

    Jakarta Utara. Skripsi

    Fikes UEU.

    Murni, Dewi. 2012. Hubungan

    Karakteristik Sampel Dan

    Citarasa Makanan Terhadap

    Daya Terima Telur Dalam

    Menu Makanan Lunak Pada

    Pasien Di RS Sukmul Medika

    Jakarta, Tahun 2012. Karya

    Tulis Ilmiah Jurusan Gizi

    Poltekkes Jakarta II.

    Mutmainnah. 2008. Daya Terima

    Makanan Dan Tingkat

    Energi- Protein Pasien Rawat

    Inap Penderita Penyakit

    Dalam Di Rumah Sakit Dr. H.

    Marzoeki Mahdi. Skripsi

    Departemen Gizi Masyarakat

    FEM IPB.

    Nurdiani, Reisi. 2011. Analisis

    Penyelenggaraan Makan Di

    Sekolah Dan Kualitas Menu

    Bagi Siswa Sekolah Dasar Di

    Bogor. Tesis Sekolah Pasca

    Sarjana IPB.

    Nursafitri, Rinjani. 2013. Analisis

    Sistem Penyelenggaraan

    Makanan, Ketersediaan

    Energi Dan Zat Gizi Serta

    Daya Terima Menu Asrama

    Sekolah Smart Ekselensia

    Indonesia, Parung, Bogor.

  • Skripsi Departemen Gizi

    Masyarakat FEM IPB.

    Paramita, Nadya Bellatrix. 2011.

    Analisis Tingkat Ketersediaan

    Dan Daya Terima Makanan

    Di Sekolah Terhadap Tingkat

    Kecukupan Zat Gizi Pada

    Siswa-Siswi SD Marsudirini,

    Parung, Bogor. Skripsi

    Departemen Gizi Masyarakat

    FEM IPB.

    Persagi. 2009. Tabel Komposisi

    Pangan Indonesia. Elex

    Media Komputindo. Jakarta.

    Kemenkes RI, 2013. Pedoman

    Pelayanan Gizi Rumah Sakit.

    Kementerian Kesehatan RI.

    Purwita, Sari. 2000. Daya Terima

    Makanan Pasien Rawat Inap

    Terhadap Makanan Biasa Di

    Rumah Sakit H Thamrin

    Jakarta. Karya Tulis Ilmiah

    FKM UI. Jakarta.

    Refnita, 2001. Faktor-Faktor Yang

    Berhubungan Dengan Daya

    Terima Makan Siang Tenaga

    Kerja Wanita Di PT. Adis

    Dimention Footwear Serang.

    Skripsi. FKM UI. Depok.

    Saepuloh. 2003. Faktor-Faktor Yang

    Mempengaruhi Daya Terima

    Pasien Dewasa Diit Makanan

    Biasa (Studi Di Ruang Rawat

    Inap Kelas II Dan III Rumah

    Sakit Immanuel Bandung).

    Tesis Universitas Diponegoro.

    Semarang.

    http://eprints.undip.ac.id/1081

    2/ (diakses pada tanggal 26

    November 2015).

    Sholehah, Hidayatus et al. 2015.

    Hubungan Daya Terima

    Makanan Dengan Tingkat

    Kecukupan Energi Dan

    Protein Taruna di Asrama

    Politeknik Ilmu Pelayaran

    Semarang. Jurnal Gizi

    Universitas Muhammadiyah

    Semarang Vol. 4, No. 1.

    Suhendrawati. 2013. Hubungan Daya

    Terima Makanan Biasa,

    Makanan Lunak Dengan

    Lama Hari Rawat Pada

    Pasien Bedah Kelas III Lantai

    6 Barat Di Rumah Sakit Budhi

    Asih Jakarta. Skripsi UEU.

    Jakarta.

    Sundari, Siti. 2008. Hubungan

    Penampilan Makanan, Rasa

    Makanan Dan Kinerja

    Pegawai Distribusi Makanan

    Terhadap Daya Terima

    Makanan Di Ruang Rawat

    Inap Kelas VIP Dan Kelas 1

    RSUD R. Syamsudin S. H.

    Kota Sukabumi. Karya Tulis

    Ilmiah Poltekkes Kemenkes

    Bandung Jurusan Gizi.

    Bandung.

    Sutyawan dan Setiawan, Budi. 2013.

    Penyelenggaraan Makanan,

    Daya Terima Makanan, Dan

    Tingkat Asupan Siswa Asrama

    Kelas Unggulan Sma 1 Pemali

    Bangka Belitung. Jurnal Gizi

    dan Pangan 8(3): 207- 214.

    Tresnawati, Murni Mutia. 2009.

    Analisis Sistem Pengelolaan,

    Tingkat Ketersediaan, Dan

    Daya Terima Menu Makanan

    Katering Sekolah. Skripsi

    Departemen Gizi Masyarakat

    FEM IPB. Bogor.

    Tryascipta, Didik. 2015.

    Penyelenggaraan Makanan

    Pada SMA Negeri Cahaya

    Madani Banten Boarding

    School Dan Penilaian Menu

    http://eprints.undip.ac.id/10812/http://eprints.undip.ac.id/10812/
  • Makanan Pada Siswa. Skripsi

    Departemen Gizi Masyarakat

    FEM IPB. Bogor.

    Winarno. 2004. Kimia Pangan dan

    Gizi. Gramedia Pustaka

    Utama. Jakarta.