cr eritroderma

Post on 12-Jul-2015

358 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

ERITRODERMA

Oleh : Sarah Juniar Evi Mefriyanti 0318011065 0518011042

Preceptor : dr. M.Syafei Hamzah,SpKK .

SMF KULIT DAN KELAMIN RSUD Dr. H. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG AGUSTUS 2011

STATUS PASIEN IDENTITAS PASIEN Nama Umur : Tn. A : 65 Tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Alamat Pendidikan Pekerjaan : Ged. Tataan : SD : Petani

Suku Bangsa : Komering Agama : Islam

Status Marital : Menikah AUTOANAMNESA Keluhan Utama : Tumbuh bintik seperti jerawat di kepala dan wajah sebelah kiri Keluhan Tambahan : Rasa gatal dan panas pada kepala dan wajah sebelah kiri, mata keluar air Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke RSUAM dengan keluhan timbul bintil-bintil di kepala sejak 9 hari yang lalu. 10 hari yang lalu pasien datang ke puskesmas karena mengeluh pegal-pegal pada persendian, oleh puskesmas pasien diberi 4 macam obat yang namanya tidak diketahui oleh pasien. Pasien mengaku obat itu tablet berwarna pink dan putih dengan kapsul berwarna hijau. Setelah mengkonsumsi obat

tersebut, menurut pasien, pada keesokan harinya pasien merasa gatal dan panas pada kepala sebelah kiri pasien. Rasa gatal dan panas yang dirasakan pasien menyebabkan pasien menggarukgaruk kepalanya. Karena terus-menerus di garuk timbul bintil-bintil berisi cairan di kepala bagian kiri pasien. Bintil-bintil tersebut sebesar pasir. Bintil-bintil tersebut kemudian bertambah banyak. Bintil-bintil tersebut terus digaruk pasien sehingga pecah dan menyebar ke bagian dahi dan pipi sebelah kiri pasien hingga masuk ke dalam lubang hidung. Setelah pecah bintil-bintil tersebut mengering meninggalkan luka dan sisik berwarna kemerahan. Pada daerah kepala yang luka tampak rambut mengalami kerontokan. Karena rasa gatal dan panas yang dirasakan pasien tidak berkurang maka pasien memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke bagian kulit di RSUAM.

Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengaku belum pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya. Pasien mengaku mempunyai riwayat hipertensi, gangguan ginjal dan asam urat. Riwayat kencing manis disangkal oleh pasien. STATUS GENERALIS Keadaan umum Kesadaran Vital Sign TD Nadi Respirasi Suhu : 150/90 mmHg : 72x/menit : 24x/menit : 37,60 : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Tidak ada pembesaran : Tampak sakit sedang : Compos mentis

Thoraks Abdomen KGB

STATUS DERMATOLOGIS Lokasi Inspeksi : Regional difus : Tampak makula eritem disertai skuama multiple dan krusta ukuran milier hingga lentikuler. Tampak juga daerah ekskoriatif.

LABORATORIUM Gula Darah Sewaktu Kreatinin Ureum Urine Acid RESUME Pasien laki-laki umur 65 tahun datang ke RSUAM dengan keluhan timbul bintilbintil di kepala sejak 9 hari yang lalu. 10 hari yang lalu pasien datang ke puskesmas karena mengeluh pegal-pegal pada persendian, oleh puskesmas pasien diberi 4 macam obat yang namanya tidak diketahui oleh pasien. Pasien mengaku obat itu tablet berwarna pink dan putih dengan kapsul berwarna hijau. Setelah mengkonsumsi obat tersebut, menurut pasien, pada keesokan harinya pasien merasa gatal dan panas pada kepala sebelah kiri pasien. Rasa gatal dan panas yang dirasakan pasien menyebabkan pasien menggarukgaruk kepalanya sehingga timbul bintil-bintil berisi cairan di kepala bagian kiri pasien. Bintil-bintil tersebut sebesar pasir. Bintil-bintil tersebut kemudian bertambah banyak. Bintil-bintil tersebut terus digaruk pasien sehingga pecah dan menyebar ke bagian dahi dan pipi sebelah kiri pasien hingga masuk ke dalam lubang hidung. Setelah pecah bintil-bintil tersebut mengering meninggalkan luka dan sisik berwarna kemerahan. Pada daerah kepala yang luka tampak rambut mengalami kerontokan. : 119 mg/dl : 2,1 mg/dl : 64 mg/dl : 15,4 mg/dl

Status Dermatologis : Pada regio parietal, frontal dan zygomaticum sinistra tampak makula eritem disertai skuama multiple dan krusta ukuran milier hingga lentikuler. Tampak juga daerah ekskoriatif. DIAGNOSIS BANDING Eritroderma e.c Psoriasis Eritroderma e.c Idiopatik Ptyriasis rubra pilaris Dermatitis seboroik

DIAGNOSIS KERJA Eritroderma e.c Alergi obat PENATALAKSANAAN Umum Anjurkan pasien untuk tidak mencubit/menggaruk daerah kulit yang sangat gatal Motivasi pasien untuk memakan nutrisi TKTP dan banyak minum Jaga kebersihan kulit pasien Khusus Sistemik Kortikosteroid : Prednison 3x10 mg Antibiotik : Cefadroxil 2x500 mg

Antihistamin : Interhistin 2x50 mg

Topikal Emolien lanolin 10% PEMERIKSAAN ANJURAN Pemeriksaan Laboratorium Histopatologi

PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad fungtionam Quo ad sanationam : ad bonam : ad bonam : dubia ad bonam

ERITRODERMA

A. Definisi Eritroderma adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema di seluruh tubuh atau hampir seluruh tubuh, biasanya disertai skuama. Pada definisi tersebut yang mutlak harus ada adalah eritema, sedangkan skuama tidak selalu terdapat, pada mulanya tidak disertai skuama, baru kemudian pada stadium penyembuhan timbul skuama, hiperpigmentasi. Dermatitis eksfoliativa dianggap sebagai sinonim dengan eritroderma meskipun sebenarnya mempunyai pengertian yang agak berbeda. Pada dermatitis eksfoliativa skuamanya berlapis-lapis. Pada eritroderma yang kronik eritema tidak begitu jelas, karena bercampur dengan hiperpigmentasi. Sedangkan skuama adalah lapisan stratum korneum yang terlepas dari kulit. Skuama mulai dari halus sampai kasar. Pada eritroderma, skuama tidak selalu terdapat, misalnya eritroderma karena alergi obat sistemik, pada mulanya tidak disertai skuama, skuama kemudian timbul pada stadium penyembuhan timbul. Bila eritemanya antara 50-90% dinamakan pre-eritroderma

B. Etiologi dan klasifikasi Seperti kita ketahui kulit merupakan pencerminan adanya kelainan alat dalam, jadi eritroderma dapat disebabkan penyakit atau kelainan alat dalam. Berdasarkan penyebabnya, eritroderma dibagi menjadi 3 golongan : I. Akibat alergi obat biasanya secara sistemik. Keadaan ini banyak ditemukan pada dewasa muda. Obat yang dapat menyebabkan eritroderma adalah arsenik organik, emas, merkuri (jarang), penisilin, barbiturat. Pada beberapa masyarakat, eritroderma mungkin lebih tinggi karena pengobatan sendiri dan pengobatan secara tradisional. Waktu mulainya obat ke dalam tubuh hingga timbul penyakit bervariasi dapat segera sampai 2 minggu.

II.

Akibat perluasan penyaki kulit, misalnya : psoriasis, pemfigus foliaseus, dermatitis atopik, pitiriasis rubra pilaris, dan liken planus. Eritroderma et causa psoriasis, merupakan eritroderma yang paling banyak ditemukan dan dapat disebabkan oleh penyakit psoriasis maupun akibat pengobatan psoriasis yang terlalu kuat. Dermatitis seboroik pada bayi juga dapat menyebabkan eritroderma yang juga dikenal penyakit Leiner. Etiologinya belum diketahui pasti. Usia penderita berkisar 4-20 minggu.(6)Ptyriasis rubra pilaris yang berlangsung selama beberapa minggu dapat pula menjadi eritroderma. Selain itu yang dapat menyebabkan eritroderma adalah pemfigus foliaseus, dermatitis atopik dan liken planus.

III.

Akibat penyakit sistemik termasuk keganasan Berbagai penyakit atau kelainan alat dalam termasuk infeksi fokal dapat memberi kelainan kulit berupa eritroderma. Jadi setiap kasus eritroderma yang tidak termasuk akibat alergi obat dan akibat perluasan penyakit kulit harus dicari penyebabnya, yang berarti perlu pemeriksaan menyeluruh (termasuk pemeriksaan laboratorium dan sinar X toraks), untuk melihat adanya infeksi penyakit pada alat dalam dan infeksi fokal. Ada kalanya terdapat leukositosis namun tidak ditemukan penyebabnya, jadi terdapat infeksi bakterial yang tersembunyi (occult infection) yang perlu diobati. (5) Harus lebih diperhatikan komplikasi sistemik akibat eritroderma seperti ; Hipotermia, edema perifer, dan kehilangan cairan, dan albumin dengan takikardia and kelainan jantung harus mendapatkan perawatan yang serius. Pada eritroderma kronik dapat mengakibatkan kakeksia, alopesia, palmoplantar keratoderma, kelainan pada kuku and ektropion.(4)

Ada pula golongan lain yang tidak diketahui penyebabnya (5-10%), meskipun telah dicari. Sebagian para penderita eritroderma yang mula-mula tidak diketahui penyebabnya, kemudian berkembag menjadi sindrome Sezary.

C. Patofisiologi Mekanisme terjadinya eritroderma belum diketahui dengan jelas. Patogenesis eritroderma berkaitan dengan patogenesis penyakit yang mendasarinya, dermatosis yang sudah ada sebelumnya berkembang menjadi eritroderma, atau perkembangan eritroderma idiopatik de novo tidaklah sepenuhnya dimengerti. Penelitian terbaru imunopatogenesis infeksi yang dimediasi toxin menunjukkan bahwa lokus patogenesitas stapilococcus mengkodekan superantigen. Lokus-lokus tersebut mengandung gen yang mengkodekan toxin dari toxic shock syndrome dan staphylococcal scalded-skin syndrome. Kolonisasi staphylococcus aureus atau antigen lain merupakan teori yang mungkin saja seperti toxic shock syndrome toxin-1, mungkin memainkan peranan pada patogenesis eritroderma. Pasien-pasien pada dengan eritroderma biasanya mempunyai kolonisasi S.aureus sekitar 83%, dan pada kulit sekitar 17%, bagaimanapun juga hanya ada satu dari 6 pasien memiliki toxin S.aureus yang positif.(7) Dapat diketahui bahwa akibat suatu agen dalam tubuh baik itu obat-obatan, perluasan penyakit kulit dan penyakit sistemik maka tubuh beraksi berupa pelebaran pembuluh darah kapiler (eritema) yang generalisata. Eritema berarti terjadi pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah kekulit meningkat sehingga kehilangan panas bertambah. Akibatnya penderita merasa dingin dan menggigil. Pada eritroderma kronis dapat terjadi gagal jantung. Juga dapat terjadi hipotermia akibat peningkatang perfusi kulit. Penguapan cairan yang makin meningkat dapat menyebabkan dehidrasi. Bila suhu badan meningkat, kehilangan panas juga meningkat. Pengaturan suhu terganggu. Kehilangan panas menyebabkan hipermetabolisme kompensator dan peningkatan laju metabolisme

b