bab i desertasi anggi

Download BAB I desertasi anggi

Post on 19-Jul-2015

233 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB I P E N D A H U LU A N

A. Latar Belakang Masalah. 1. Strategi pembelajaran membaca dalam bahasa Inggris. Sejauh ini persoalaan pembelajaran membaca bahasa Inggris menjadi topik pembicaraan umum yang banyak disoroti adalah kesulitan-kesulitan penguasaan membaca dengan baik oleh para pelajar. Berdasarkan beberapa peneliti terdahulu menggambarkan bahwa kondisi pembelajaran membaca yang berlangsung selama ini juga selalu mengalami kesulitan baik dari isi teksnya maupun penguasaan terhadap cara pengucapan/pronounciation. Demikian, data empiris yang

menggambarkan tentang kemampuan berbahasa siswa secara komprehensip masih sangat jarang, Salah satu penelitian dilakukan oleh Quins sebagaimana dikutip oleh Aloenberg bahwa lulusan Sekolah Tingkat Atas (SLTA) rata-rata hanya menguasai 1000 kosa kata. Hal ini akibat rendahnya kemampuan individu dalam penguasaan bahasa Inggris lebih banyak disebabkan oleh rendahnya kompetensi guru. Disisi lain masalah minat baca sampai saat ini masih lemah. Menurut tema ini sering dijadikan topik pertemuan ilmiah dan diskusi oleh para pemerhati dan para pakar yang peduli terhadap data perkembangan minat baca di Indonesia. Dan hasil dari pertemuan-pertemuan ilmiah tersebut belum memberikan suatu rekomendasi terhadap minat baca masyarakat.

1

2

Permasalahan yang dirasakan oleh Bangsa Indonesia sampai saat ini adalah adanya temuan penelitian dan pengamatan yang menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesaia relatif masih rendah. Ada sejumlah indikator yang menunjukan masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia dimana, rendahnya budaya membaca ini juga dirasakan pada pelajar dan mahasiswa. Perpustakaan disekolah /kamus yang ada jarang dimanfaatkan secara oprtimal oleh siswa / mahasiswa. Demikian pula perpustakaan umum yang ada di setiap kota/kabupaten yang tersebar dinusantara ini, pengunjungnya relatif tidak begitu banyak. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Indonesia belum mempunyai budaya membaca sehingga wajar apabila indeks sumber daya manusia juga rendah. Tidak semua anak mampu melakukan aktivitas membaca dengan baik dan benar. Penelitian yang dilakukan oleh Tim Program of International Student Assesment ( PISA) Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pendidikan Nasional RI, menunjukkan bahwa kemahiran membaca anak usia 15 tahun di Indonesia sangat memprihatinkan, sekitar 37% dari mereka hanya bisa membaca tanpa bisa menangkapnya, dan sebanyak 24,8 % hanya bisa mengaitkan teks yang dibaca dengan satu informasi pengetahuan ( Kompas, 2 Juli 2008 ) Ini artinya masih sangat banyak anak

Indonesia yang mengalami kesulitan memahami materi bacaan. Terkait dengan pengembangan dan usaha pemerintah Indonesia untuk mencerdaskan anak bangsa maka peran membaca dalam hal ini sangat penting dan sangat mendasari kehidupan akademik terutama di tingkat atau jenjang SMA. Untuk meningkatkan kompotensi peserta didik di bidang bahasa dan lebih khusus lagi Bahasa Inggris reading atau membaca perlu adanya pembenahan berbagai fasilitas pembelajaran.

3

Sistem

pembelajaran

di

Indonesia

belum

membuat

anak-

anak/siswa/mahasiswa harus membaca buku (lebih banyak lebih baik), mencari informasi pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, mengapresiasi karya-karya ilmiah, filsafat, sastra dan sebagainya. Menurut Sulistyo-Basuki sistem pendidikan mulai dari SD sampai dengan SMU mengarah ke ujian akhir. Semua pelajaran ditujukan untuk menyiapkan siswa menghadapi ujian akhir. Alhasil sedikit sekali rangsangan untuk membaca buku tambahan. Salah satu contoh materi yang

dikembangkan dalam KTSP bahasa Inggris kelas II buku look ahead for Senior School students year XI, (2006), dalam muatan, isi buku tersebut lebih banyak berfokus pada kompetensi speaking atau berbicara, dalam kenyataan yang dihadapi di lapangan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dari isi buku, mislanya ketika siswa menghadapi ujian baik ujian semester di sekoalah maupun ujian akhir Negara (UAN) materi yang sering muncul dalam ujian tersebut adalah lebih banyak pada teks reading., dengan demikian maka apa yang diharapkan siswa akan tidak sesuai karena saat ujian soal-soal yang muncul lebih banyak adalah berupa teks-teks bacaan. Dalam kaitan dengan persoalan membaca yang digambarkan secara skala nasional diatas, tampaknya penulis ingin melihat dan mencoba untuk mengangakat proses pembelajaran yang terjadi di Propinsi Maluku dan khususnya lagi kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual, dalam penelitian yang akan dikembangkan tersebut, penulis memfokuskan pada bidang studi bahasa Inggris dan reading sebagai kajian pengembangan penelitian dimaksud. Sebagai data awal pengembangan penelitian ini, telah diperoleh sumber data berdasarkan perkembangan hasil Ujian

4

Akhir Nasional (UAN) mata pelajaran bahasa Inggris sepropinsi Maluku untuk empat tahun terakhir yang dimulai dari tahun ujian 2006-2009 secara singkat dijelaskan pada tabel 1.1.

Tabel 1.1 Perkembangan Hasil Ujian Nasional Sepropinsi Maluku No 1. 2. 3. 4. Jurusan Bahasa, IPS dan IPA Bahasa, IPS dan IPA Bahasa, IPS dan IPA Bahasa, IPS dan IPA 3 Jurusan Tahun Ujian 2006/2007 2007/2008 2008/2009 2009/2010 4 angkatan Nilai % 6,86 6,56 7,20 7,00 6,905.

Sumber data: Departemen Pendidikan Nasional Propinsi Maluku tahun 2010.

Berdasarkan hasil (UAN) 4 tahun terakhir siswa-siswi SMA untuk seprovinsi Maluku,melalui hasil ujian dari jumlah dari empat angkatan diatas, maka dapat dihitung nilai dengan skor total hanya mencapai 6,9%, hal ini menunjukkan mata pelajaran bahasa Inggris secara umum hasilnya belum baik. Dengan demikian, peneliti berusaha untuk mengkaji lebih jauh berkenaan dengan faktor-faktor apa saja yang melatar belakangi hal tersebut. Peneliti melakukan prasurvei penelitian terhadap sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual sebagai lokasi penelitian, ternyata secara mayoritas sekolah tidak mempunyai fasilitas pembelajaran yang memadai termasuk didalamnya: Lab Bahasa, komputer, Ruang praktik bahkan sampai kekurangan tenaga pengajar/guru bahasa Inggris. (tgl 3 Juli 2010) Prasurvei penulis, dengan kepala Sekolah SMAN 1 Maluku Tenggara (Drs Arsad Rahawarin di ruang kerjanya tertanggal 4-5 Juli 2010) yang memberikan

5

beberapa penjelasan langsung terhadap kondisi dan situasi yang sebenarnya di Kabupaten Maluku Tenggara,berkenaan dengan adanya keterbatasan berbagai fasilitas pembelajaran di sekolah termasuk tenaga guru bahasa Inggris bahkan minimnya dukungan pemerintah daerah setempat terhadap persoalan pendidikan di wilayah tersebut. Dari berbagai hal yang disoroti diatas, menunjukkan perlu adanya perbaikan-perbaikan terhadap peningkatan pembelajaran bahas Inggris di wilayah tersebut.

2. Bagaimana peningkatan pembelajaran membaca dalam mata pelajaran bahasa Inggris SMA. Pembelajaran membaca merupakan salah satu faktor yang sangat essensial dalam kehidupan manusia baik dalam bentuk individual maupun kolompok, aspek membaca atau dikenal dalam bahasa Ingrisnya reading adalah salah satu kompetensi terpenting. Demikian membaca dapat dikatakan sulit jika dibandingkan dengan ketiga kompetensi lainnya untuk dikuasai oleh peserta didik. Dengan berbagai cara yang dilakukan oleh para guru serta menjawab persoalan ahli bahasa sebagai langkah untuk secara

diatas, namun nampaknya belum dapat teratasi

maksimal. Hal ini dapat dilihat dari Ujian Nasional secara keseluruhan, dimana nilai bahasa Inggris berada dalam kisaran standar belum signifikan. Keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris di SMA masih belum memuaskan para orang tua, professional dan guru dengan melihat kenyataan bahwa kompetensi berbahasa para lulusan SMA masih belum sesuai dengan harapan kita. Kurikulum bahasa Inggis hampir setiap lima tahun sekali diperbaharui sebagai upaya meningkatkan tingkat

6

keberhasilan siswa menguasai bahasa Inggris. Upaya melalui kurikulum ternyata tidak cukup tanpa disertai upaya peningkatan mutu para guru bahasa Inggris dan juga pembaharuan akan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan serta karakteristik siswa.Bahan ajar dapat dikatakan sebagai faktor penentu keberhasilan para siswa SMA dalam belajar bahasa Inggris. Kesulitan membaca pada siswa sangat beragam,mulai dari kesulitan yang disebabkan oleh masalah pemberian makna, kesulitan yang berkaitan dengan masalah motivasi, maupun kesulitan yang disebabkan oleh kurangnya bimbingan. Semua ini pada akhirnya menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam memahami apa yang dibacanya. Lantas apa yang bisa orang tua dan tenaga pendidik lakukan sejak dini untuk mencegah anak mengalami kesulitan memahami bacaan di kemudian hari? Adakah cara tepat dan menarik yang dapat orang tua dan pengajar gunakan untuk membuat anak-anak atau siswanya mampu membaca dengan baik dan benar? Bacaan yang kurang memikat dan minimnya sarana perpustakaan sekolah menjadi faktor utama penyebab minat baca siswa rendah. Sementara itu, sekolah tidak selalu mampu menumbuhkan kebiasaan membaca bagi para siswanya. Dengan kondisi kualitas buku pelajaran yang memprihatinkan, padatnya kurikulum, dan metode pembelajaran yang menekankan hafalan materi justru 'membunuh' minat membaca. Menurut Riris K.Toha Sarumpet,.(www.republika.co.id., diakses 24 Desember 2007).sekolah tidak memadai sebagai tempat untuk menumbuhkan minat baca anak didik. Hal ini, menurut dia, tidak terlepas dari kurikulum pendidikan. Kurikulum yang terlalu padat membuat siswa tidak punya waktu untuk membaca.

7

Riris mengemukakan bahwa siswa terlalu sibuk dengan pelajaran yang harus diikuti tiap hari,belum lagi harus mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Oleh karena itu, solusi terbaik dalam membuka jalan pikiran seorang siswa agar mereka mempunyai wawasan yang luas, adalah dengan cara membaca. Agar siswa dapat membaca buku secara ajeng, maka kepada mereka perlu disediakan bahan bacaan yan