m. antihipertensi

Download m. antihipertensi

Post on 19-Jul-2015

357 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memeberikan kita berbagai macam nikmat, sehingga aktifitas hidup yang kita jalani ini akan selalu membawa keberkahan, baik kehidupan di alam dunia ini, lebih-lebih lagi pada kehidupan akhirat kelak, sehingga semua cita-cita serta harapan yang kita capai menjadi lebih mudah dan penuh manfaat. Terima kasih sebelum nya dan sesudah nya kami ucapkan kepada Dosen yang telah banyak membimbing dan orang tua yang telah memberikan motifasi dan segala dukungan nya serta teman-teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moril maupun materil, sehingga makalah FARMAKOLOGI (Diuretik dan Antihipertensi) terselesaikan dalam waktu yang telah di tentukan. Pada penulisan makalah ini, kami berusaha menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah di mengerti sehingga dapat dengan mudah dicerna dan diambil intisari dari materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Makalah ini juga diharapkan dapat digunakan oleh dosen pengajar bidang studi FARMAKOLOGI ((Diuretik dan Antihipertensi), karena kami telah berusaha melengkapi materi sesuai dengan kebutuhan materi pembelajaran yang disempurnakan. Kami menyadari sekali, di dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangan nya, baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian kepada dosen serta teman-teman sekalian, yang kadangkala hanya menuruti egoisme pribadi, untuk itu besar harapan kami jika ada kritik dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan makalah-makalah kami dilain waktu. Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah, mudah mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-teman, serta orang lain yang membaca dan menyempurnakan lagi atau menganbil hikmah dari judul ini (gaya hidup) sebagai tambahan dalam menambah referensi yang telah ada.</p> <p>Padang ,6 Desember 2011 Penuli</p> <p>DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL..i KATA PENGANTAR...ii DAFTAR ISI.iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang...4 1.2 Tujuan................................................................................................................4 BAB II LANDASAN TEORITIS 2.1 Pengertian .............. ......5 2.2 Sejarah Antibiotik......6 2.3 Pembuatan Antibiotik....8 2.4 Klasifikasi Dan Golongan Antibiotik9 2.5 Farmakokinetika Antibiotik.....14 2.6 Retensi Antibiotik....15 2.7 Mekanisme Kerja Antibiotik...17</p> <p>BAB III</p> <p>PENUTUP 3.1 Kesimpulan..31 3.2 Saran....31</p> <p>BAB I PENDAHULUAN</p> <p>1.1 Latar BelakangTekanan darah tinggi merupakan masalah kesehatan di dunia yang sangat penting dikarenakan angka kejadiannya yang tinggi. Prevalensi tekanan darah tinggi meningkat seiring dengan peningkatan usia (Ridjab, 2007). Diuretika merupakan antihipertensi pertama yang terbukti aman sejak awal tahun 60-an. Obat yang bekerja dengan mengeluarkan natrium dari ginjal ini sempat turun pamornya di tahun 80-an seiring ditemukannya obat-obat antihipertensi baru. Kejatuhan diuretika juga terkait dengan temuan sebuah survei epidemiologi yang mengatakan adanya peningkatan kematian pada penderita hipertensi yang menggunakan diuretika. Hal ini terjadi karena selain natrium, kalium pun ikut menghilang dari tubuh dengan penggunaan diuretika.</p> <p>1.2 MasalahDari latar belakang dapat ditarik rumusan masalah yaitu bagaimana kita menggunakan antihipertensi dan diuretik yang baik dan efisien. 1.3 Tujuan Penulis ingin mengetahui lebih mendalam tentang Diuretika dan Antihipertensi Untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah farmakologi sebagai pedoman dalam pembuatan makalah selanjutnya</p> <p>BAB 11 LANDASAN TEORITIS</p> <p>2.1 Pengertian Antihipertensi Antihipertensi adalah obat obatan yang digunakan untuk mengobati hipertensi. Antihipertensi juga diberikan pada individu yang memiliki resiko tinggi untuk terjadinya penyakit kardiovaskular dan mereka yang beresiko terkena stroke maupun miokard infark. Pemberian obat bukan berarti menjauhkan individu dari modifikasi gaya hidup yang sehat seperti mengurangi berat badan, mengurangi konsumsi garam dan alkohol, berhenti merokok, mengurangi stress dan berolah-raga. Pemberian obat perlu dilakukan segera pada pasien dengan tekanan darah sistolik 140/90 mmHg. Pasien dengan kondisi stroke atau miokard infark ataupun ditemukan bukti adanya kerusakan organ tubuh yang parah (seperti mikroalbuminuria, hipertrofi ventrikel kiri) juga membutuhkan penanganan segera dengan antihipertensi 2.2 Tujuan Pemberian Anthipertensi Adapun tujuan pemberian antihipertensi yakni Mengurangi insiden gagal jantung dan mencegah manifestasi yang muncul akibat gagal jantung. Mencegah hipertensi yang akan tumbuh menjadi komplikasi yang lebih parah dan mencegah komplikasi yang lebih parah lagi bila sudah ada. Mengurangi insiden serangan serebrovaskular dan akutnya pada pasien yang sudah terkena serangan serebrovaskular. Mengurangi mortalitas fetal dan perinatal yang diasosiasikan dengan hipertensi maternal.</p> <p>2.3 Efek Samping Antihipertensi dari golongan diuretik, ACE-inhibitor dan beberapa -Blocker dapat menyebabkan reaksi likenoid. ACE-inhibitor juga diasosiasikan dengan kehilangan sensasi pada lidah dan rasa terbakar pada mulut. ACEinhibitor dan penghambat reseptor angiotensin II pernah diimpliksikan bahwa keduanya menyebabkan angioedema pada rongga mulut pada sekelompok 1% dari pasien yang mengonsumsinya. Meskipun oedema pada lidah, uvula, dan palatum lunak yang paling sering terjadi,tetapi oedema larynx adalah yang paling serius karena berpotensi menghambat jalan nafas. Efek samping obat-obatan antihipertensi pada rongga mulut adalah xerostomia,reaksi likenoid, Pertumbuhan gingival yang berlebihan,pendarahan yang parah,penyembuhan luka yang tertunda. Sedangkan efek samping yang sistemik yang paling serius dilaporkan adalah konstipasi,batuk, pusing,mengantuk,letih,frekuensi berkemih yang meningkat,berkurang nya konsentrasi,disfungsi seksual dan rasa tidak enak pada perut.</p> <p>2.4 Obat Antihipertensi Pengobatan hipertensi biasanya ditujukan untuk mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas akibat tekanan darah tinggi. Terapi farmakologi untuk hipertensi ringan dan sedang dilakukan secara monoterapi dengan salah satu dari obat berikut : diuretik, -bloker, penghambat ACE, antagonis kalsium, dan -bloker (termasuk ,-bloker). Antihipertensi lainnya, yakni vasodilator langsung, adrenolitik sentral (2 agonis) dan penghambat saraf adrenergik, tidak digunakan untuk monoterapi tahap pertama, tetapi hanya antihipertensi tambahan. Jika respon kurang atau parsial, akan dilakukan penambahan obat ke-2 dari golongan lain sedangkan jika respon kecil, dilakukan penggantian jenis obat.</p> <p>Pilihan obat bagi masing-masing penderita (individualisasi individu) bergantung pada (1) efek samping metabolik dan subyektif yang ditimbulkan; (2) adanya penyakit lain yang mungkin diperbaiki atau diperburuk oleh AH yang dipilih; (3) adanya pemberian obat lain yang mungkin berinteraksi dengan AH yang diberikan dan (biaya pengobatan).</p> <p>Berikut adalah jenis-jenis atau kelompok obat anti hipertensi : A. Diuretik Efek nyang ditimbulkan adalah peningkatan ekskresi natrium, klorida dan air sehingga mengurangi volume plasma dan cairan ekstrasel. Vasodilatasi perifer yang terjadi disebabkan adanya penyesuaian pembuluh darah perifer terhadap pengurangan volume plasma terus menerus. Selain itu, dapat pula terjadi pengurangan kekakuan dinding pembuluh darah dan bertambahnya daya lentur (compliance) vaskulor) B. Penghambat Adrenergik 1. Penghambat adrenoreseptor (-bloker) Mekanisme -adrenergik sebagai anti hipertensi masih belum jelas. Diperkirakan ada beberapa cara, yakni pengurangan denyut jantung dan kontraktilitas miokard menyebabkan curah jantung berkurang. Reflek baroreseptor serta hambatan 2 vaskular menyebabkan resistensi perifer pada awalnya meningkat; hambatan pelepasan NE melalui hambatan reseptor 2 prasinaps; hambatan sekresi renin melalui hambatan rereptor 1 di ginjal; dan efek sentral. Penurunan TD oleh -bloker yang diberikan per oral berlangsung lambat. Efek tampak dalam 24 jam sampai 1 minggu. Pemberian pada orang normal tidak akan menyebabkan hipotensi. -bloker merupakan obat untuk hipertensi ringan-sedang dengan PJK atau dengan aritmia supraventrikuler maupun ventrikuler dengan kelainan induksi, pada penderita muda dengan sirkulasi hiperdinamik dan pada penderita yang memerlukan anti depresi trisiklik atau antipsikotik (efek -bloker tidak dihambat oleh obat-obatan tersebut). Semakin muda, -bloker semakin efektif dan efek antihipertensi berlangsung lebih lama daripada bertahannya kadar plasma sehingga kadar plasma tidak dapat digunakan sebagai pedoman terapi.</p> <p>Efektivitas berbagai -bloker sebagai antihipertensi tidak berbeda satu sama lain bila diberikan dalam dosis ekuipoten. Ada tidaknya ISA, MSA, maupun kemampuan obat masuk ke otak tidak memberiakn perbedaan efektivitas, tetapi memberikan perbedaan dalam menentukan pilihan -bloker yang paling tepat (dengan melihat efek pada penyakit penyerta dan efek samping). Efek samping yang mungkin muncul diantaranya adalah bronkospasme, memperburuk gangguan pembuluh darah perifer, rasa lelah, insomnia, eksaserebrasi gagal jantung, dan menutupi gejala hipoglikemia; juga, hipertrigliseridemia dan menurunkan kadar kolestrol HDL (kecuali -bloker dengan ISA dan labetalol); serta mengurangi kemampuan berolahraga. Efek samping dapat dikurangi dengan pengaturan diet. Selain itu, pengurangan aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus dapat memperburuk fungsi ginjal.Hipertensi rebound jarang terjadi pada penghentian -bloker secara mendadak. 2. Penghambat adrenoreseptor (-bloker) -bloker yang selektif memblok adrenoreseptor 1 dapat untuk pengobatan</p> <p>antihipertensi. Alfa-bloker yang non-selektif juga menghambat adrenoseptor -2 diujung saraf adrenergik sehingga meningkatkan pelepasan NE. Akibatnya, perangsangan jantung akan berlebihan. Alfa-bloker menghambat reseptor 1 di pembuluh darah terhadap efek vasokonstriksi NE dan E sehingga terjadi dilatasi vena dan arteriol. Alfa-bloker merupakan satu-satunya golongan AH yang memerikan efek positif pada lipid darah, (mengurangi LDL dan trigliserida serta meningkatkan HDL). Alfa-bloker juga dapat menurunkan resistansi insulin, mengurangi gangguan vaskular perifer, memberikan sedikit efek bronkodilatasi dan mengurangi serangan asma akibat kegiatan fisik, merelaksasi otot polo prostat dan leher kandung kemih sehingga mengurangi gejala hipertrofi prostat, tidak menggangu aktivitas fisik dan tidak berinteraksi dengan AINS. Oleh karena itu, obat ini dianjurkan untuk penderita hipertensi disertai diabetes, dislipidemia, obesitas, gangguan resistensi perifer, asma, hipertrofi prostat, perokok, serta penderita muda yang aktif secara fisik dan mereka yang menggunakan AINS.</p> <p>Efek samping yang mungkin muncul di antaranya adalah hipotensi ortostatik yang dapat terjadi sejak pemberian beberapa dosis pertama atau saat dilakukan penambahan dosis. Efek lebih besar ialah kehilangan kesadaran sesaat atau yang ringan ialah pusing kepala ringan. Fenomen ini dapat terjadi saat pemberian dosis pertama terlalu besar, penderita dengan deplesi cairan, penderita usia lanjut, atau yang sedang makan AH lain. Toleransi terhadap fenomen terjadi secara cepat dengan mekanisme yang belum diketahui. Namun, ada juga contoh obat yang jarang menimbulkan fenomen dosis pertama karena mula kerjanya yang lambat, seperti doxazosin. 3. Adrenolitik Sentral Klonidin. Efek hipotensifnya disertai penurunan resistensi perifer. Curah jantung mulamula menurun, tetapi kembali lagi ke nilai awal pada pemberian jangka panjang. Klonidin juga dapat menyebabkan penurunan denyut jantung, antara lain akibat peningkatan tonus vagal. Klonidin oral biasanya digunakan sebagai obat ke-2 atau ke-3 jika TD sasaran belum tercapai pada pemberian diuretik. Obat ini dapat juga untuk menggantikan penghambat adrenergik lain dalam kombinasi 3 obat dengan diuretik dan vasodilator pada hipertensi resisten. Klonidin berguna pula untuk hipertensi mendesak. Efek samping yang sering muncul ialah mulut kering dan sedasi (pada 50% penderita), tetapi efek bisa hilang dalam 12 jam meski obat diteruskan. Efek lain ialah pusing, mual, konstipasi, atau impotensi. Gejala ortostatik kadang-kadang terjadi. Efek samping sentral misalnya, mimpi buruk, insomnia, cemas dan depresi. Penggunaan secara tunggal dapat menyebabkan retensi cairan sehingga mengurangi efek hipotensinya. Oleh karena itu, obat ini paling baik jika digunakan bersama diuretik. Guanabenz dan Guanfasin. Sifat farmakologik termasuk efek sampingnya mirip klonidin. Guanfasin memiliki waktu paruh lebih panjang (14-18 jam), bandingkan dengan guanabenz yang maksimal dalam 2-4 jam pada pemberian oral. Metildopa. Metildolpa dapat mengurangi resistensi perifer tanpa banyak mengubah denyut jantung dan curah jantung. Pada penderita usia lanjut, curah jantung dapat menurun akibat berkurangnya denyut jantung dan isi sekuncup. Penurunan TD maksimal 6-8 jam setelah</p> <p>dosis oral. TD lebih turun jika pasien berdiri dari pada berbaring. Hipotensi ortostatik dapat terjadi meski tidak seberat yang ditimbulkan penghambat saraf adrenergik. Penggunaan tunggal dapat menyebabkan retensi cairan sehingga kehilangan efek hipotensifnya (toleransi semu). Metildopa ditambahkan sebagai obat ke-2 bila TD sasaran belum tercapai dengan diuretik saja. Obat ini juga efektif jika dikombinasikan dengan tiazid. Selain itu, obat ini juga merupakan pilihan untuk hipertensi pada kehamilan. Dosis pada penderita gangguan fungsi hati dan ginjal harus dikurangi karena absorpsi metidolpa pada pencernaan kurang lengkap. Sekitar 63% diekskresikan tubuh. Pada insufisiensi ginjal terjadi akumulasi obat dan metabolitnya. Waktu paruh obat 2 jam dan meningkat pada penderita uremia. Efek samping yang dapat muncul di antaranya adalah sedasi, hipotensi postural, pusing, mulut kering, gangguan tidur, depresi mental, impotensi, kecemasan, penglihatan kabur, hidung tersumbat dan sakit kepala. Efek samping yang lebih serius di antaranya adalah anemia hemolitik, trombositopenia, leukopenia, hepatitis, dan sindrom seperti lupus. Efek hipotensif metildopa ditingkatkan oleh diuretik dan dikurangi antidepresi trisiklik dan amin simpatomimetik. Penghentian mendadak dapat menyebabkan fenomen rebound (peningkatan TD meningkat. 4. Penghambat saraf Adrenergik Reserpin dan Alkaloid Rauwolfia. Reserpin mengurangi resistensi perifer denyut jantung dan denyut jantung. Retensi cairan dapat terjadi jika tidak diberikan bersama diuretik. Reserpin lebih sering digunakan sebagai obat ke-2 dan merupakan antihipertensi yang baik, terutama saat dikombinasikan dengan tiazid. Efek samping yang dapat terjadi di antaranya adalah letargi dan kongesti nasal. Selain itu, ada pula gejala-gejala seperti bradikardia, mulut kering, diare, mual, muntah, anoreksia, bertambahnya nafsu makan, hiperasiditas lambung, mimpi buruk, depresi mental, disfungsi sexual, dan ginekomastia. Penderita dengan riwayat depresi dihinda...</p>