laporan praktikum perilaku organisme hewan bekicot.doc

Download Laporan Praktikum Perilaku Organisme Hewan Bekicot.doc

Post on 13-Oct-2015

719 views

Category:

Documents

107 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LAPORAN PRAKTIKUM

PRAKTIKUM BIOLOGI DASAR I

PERILAKU ORGANISME HEWAN BEKICOT

Disusun oleh :

Kelompok II

Wahyu Marliyani13312241005

Endah Setyorini13312241010

Firda Putri Darojati13312241013

Annisa Fitri Sholikhah13312241027

Esny Yanuartika13312241037

Kelas: A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2013BAB IPENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Alam merupakan tempat tinggal bagi setiap makhluk hidup atau lebih tepatnya sebagai habitat makhluk hidup. Makhluk hidup tidak hanya terdiri dari dari satu macam saja, namun banyak macam dan jenisnya, baik hewan, manusia dan tumbuh-tumbuhan, semuanya hidup dan tinggal bersama di alam ini.Hewan, dan tumbuhan tidak hanya terdiri dari satu macam saja melainkan banyak tipe hewan dan tumbuhan yang ada di alam ini. Ada berbagai macam jenis hewan begitu pula dengan tumbuhan. Banyak jenis hewan yang hidup di sekitar kita, ada jenis hewan yang hidup dengan dipelihara oleh manusia. Akan tetapi ada juga hewan yang hidup dengan sendirinya tanpa campur tangan dari manusia (liar), salah satunya hewan bekicot. Hewan ini disebut sebagai hewan liar karena dapat hidup dimana saja, tanpa perlu perawatan yang khusus dari manusia.Hewan bekicot (Achatia fulica) merupakan jenis hewan bertubuh lunak dan bercangkang yang terkenal karena tubuhnya yang lunak segera masuk ke dalam cangkangnya saat disentuh atau lebih tepatnya diberi rangsangan. Perilaku ini hanya bersifat sementara karena setelah beberapa saat, tubuhnya akan kembali keluar dari cangkangnya seperti semula.Menurut praktikan, masuknya tubuh bekicot yang lunak ke dalam cangkangnya saat disentuh atau diberi suatu rangsangan sangat menarik untuk diteliti. Praktikan ingin lebih meneliti rangsangan apakah yang paling cepat membuat hewan bekicot masuk ke dalam cangkang dan keluar kembali. Sehingga hal inilah yang membuat praktikan memilih hewan bekicot sebagai objek dari penelitian.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada praktikum ini yaitu :

1. Rangsangan manakah yang paling cepat membuat bekicot (Achatia fulica) masuk kedalam cangkang?2. Rangsangan manakah yang paling cepat membuat bekicot (Achatia fulica) keluar dari cangkang kembali ?C. Tujuan Percobaan

Tujuan pada percobaan ini yaitu :1. Mengetahui rangsangan manakah yang paling cepat membuat bekicot (Achatia fulica) masuk kedalam cangkang.2. Mengetahui rangsangan manakah yang paling cepat membuat bekicot (Achatia fulica) keluar dari cangkang kembali.D. Manfaat Percobaan

Manfaat percobaan pengamatan ini adalah :

1. Untuk mengetahui jenis rangsangan yang paling cepat membuat bekicot (Achatia fulica) masuk kedalam cangkang.2. Untuk mengetahui jenis rangsangan yang paling cepat membuat bekicot (Achatia fulica) keluar dari cangkang kembali.BAB IILANDASAN TEORIA. Kajian Teori (Dasar Teori)Semua organisme mempunyai kepekaan terhadap rangsangan (iritabilitas) sehingga mereka bereaksi terhadap rangsangan. Perilaku organisme yang yang akan dibahas di sini adalah tentang perilaku tumbuhan terhadap rangsangan / stimulus (eksternal maupun internal) yang dikenal sebagai tropisme, dan perilaku hewan terhadap stimulus yang disebut taksis. Yangjuga penting dibahas di sini adalah perilaku hewan di alam yang disebut dengan etologi (Barnes, 2002: 78).Perilaku adalah aktivitas suatu organisme akibat adanya suatu stimulus. Seringkali suatu perilaku hewan terjadi karena pengaruh genetis (perilaku bawaan lahir atau innate behavior), dan karena akibat proses belajar atau pengalaman yang dapat disebabkan oleh lingkungan. Pada perkembangan ekologi perilaku terjadi perdebatan antara pendapat yang menyatakan bahwa perilaku yang terdapat pada suatu organisme merupakan pengaruh alami atau karena akibat hasil asuhan atau pemeliharaan, hal ini merupakan perdebatan yang terus berlangsung (Dharma, 1988: 133).Perilaku terhadap suatu stimulus (rangsangan) tertentu pada suatu spesies, biarpun perilaku tersebut tidak didasari pengalaman lebih dahulu, dan perilaku ini bersifat menurun. Hal ini dapat diuji dengan menetaskan hewan ditempat terpencil, sehingga apapun yang dilakukan hewan-hewan tersebut berlangsung tanpa mengikuti contoh dari hewan-hewan yang lain. Tetapi hal tersebut tidak dapat terjadi pada hewan-hewan menyusui, karena pada hewan-hewan menyusui selalu ada kesempatan pada anaknya untuk belajar dari induknya. Contoh:Pada pembuatan sarang laba-laba diperlukan serangkaian aksi yang kompleks, tetapi bentuk akhir sarangnya seluruhnya bergantung pada nalurinya. Dan bentuk sarang ini adalah khas untuk setiap spesies, walaupun sebelumnya tidak pernah dihadapkan pada pola khusus tersebut (John Kimbal, 1983: 254).Filum Mollusca merupakan salah satu anggota hewan invetebrata. Anggota filum ini antara lain remis, tiram, cumi-cumi, octopus, dan siput. Berdasarkan kelimpahan spesiesnya Mollusca memiliki kelimpahan spesies terbesar di samping arthropoda. Ciri umum yang dimiliki Mollusca adalah, tubuhnya bersimetris bilateral, tidak bersegmen, kecuali Monoplacopora, memiliki kepala yang jelas dengan organ reseptor kepala yang bersifat khusus. Pada permukaan ventral dinding tubuh terdapat kaki berotot yang secara umum digunakan untuk begerak, dinding tubuh sebelah dorsal meluas menjadisatu pasang atau sepasang lipatan yaitu mantel atau pallium. Fungsi mantel adalah mensekresikan cangkang dan melingkupi rongga mantel yang di dalamnya berisi insang.

Lubang anus dan eksketori umumnya membuka ke dalam rongga mantel. Saluran pencernaan berkembang baik. Sebuah rongga bukal yang umumnya mengandung radula berbentuk seperti proboscis. Esophagus merupakan perkembangan dari stomodeum yang umumnya merupakan daerah khusus untuk menyimpan makanan dan fragmentasi. Pada daerah pertengahan saluran pencernaan terdapat ventrikulus (lambung) dan sepasang kelenjar pencernaan yaitu hati. Sedangkan daerah posterior saluran pencernaan terdiri atas usus panjang yang terakhir dengan anus. Memiliki sistem peredaran darah dan jantung. Jantung dibedakan atas aurikel dan ventrikel. Meskipun memiliki pembuluh darah namun darah biasanya mengalami srkulasi ruang terbuka. Darah mengandung homosianin, merupakan pigmen respirasi (Wardhana, Pman. 2008: 176).Mollusca memiliki rumah secara umum berbetuk spesial. Kaki untuk merayap. Bentuk kepala jelas, dengan tentakel dan mata. Dalam ruang bukal (pipi) terdapat radula (pita bergigi). Pernapasan dengan insang, paru-paru atau keduanya. Hidup di laut, air tawar, dan darat. Memiliki kelamin terpisah, atau hermafrodit, ovipar atau ovovivipar. Contoh : bekicot (Helix aspersa), siput laut (Fissurella sp) dan siput air tawar (Lymnaea j sp), Melania sp) Tidak semua hewan Mollusca memiliki cangkok. Anggota jelas Aplacophora tidak memiliki cangkok, sedangkan kelas Chepalopoda juga tidak memiliki cangkok atau jika ada mereduksi. Pada Mollusca lainnya cangkok terlihat nyata dan berfungsi penting yaitu penyokong tubuh Mollusca yang lunak dan menjaga dari serangan predator (Jasin, 1989: 51).Mollusca merupakan filum terbesar dari kingdom animalia. Molluska dibedakan menurut tipe kaki, posisi kaki, dan tipe cangkang, yaitu Gastropoda, Pelecypoda, dan Cephalopoda. Yang pertama yaitu, Gastropoda (dalam bahasa latin, gaster =perut, podos=kaki) adalah kelompok hewan yang menggunakan perut sebagai alat gerak atau kakinya. Misalnya, siput air (Lymnaea sp.), remis (Corbicula javanica), dan bekicot (Achatia fulica). Hewan ini memiliki ciri khas berkaki lebar dan pipih pada bagian ventrel tubuhnya. Gastropoda bergerak lambat menggunakan kakinya. Gastropoda darat terdiri dari sepasang tentakel panjang dan sepasang tentakel pendek. Pada ujung tentakel panjang terdapat mata yang berfungsi untuk mengetahui gelap dan terang. Sedangkan pada tentakel pendek berfungsi sebagai alat peraba dan pembau. Gastropoda akuatik bernapas dengan insang, sedangkan Gastropoda darat bernapas menggunakan rongga mantel (Jasin, 1989: 52). Mollusca hidup secara heterotrof dengan memakan ganggang, udang, ikan ataupun sisa-sisa organisme. Habitatnya di air tawar, di laut dan didarat.Beberapa juga ada yang hidup sebagai parasite (Wardhana, Pman. 2008: 143).

Bekicot (Achatina fulica) memiliki habitat hidup daratan yang lembab atau di habitat terrestrial insang mengalami kemunduran dan memodifikasi rongga mantel menjadi paru-paru bekicot termasuk dalam kelompok pulmonata, bekicot aktif pada malam hari untuk mencari makanan (Wardhana, Pman. 2008: 143).

Keberadaan hewan-hewan di muka bumi sangat beragam. Keberagaman inilah yang hendaknya dipelajari sebagai obyek yang diharapkan dapat diambil fungsi dan manfaatnya bagi kelangsungan hidup manusia. Salah satu hewan yang sering kita temui adalah kelas gastropoda. Bekicot (Achatina fulica) yang termasuk dalam kelas ini, tubuhnya tertutup oleh cangkang yang berbentuk spiral, mereka hidup di air tawar, di laut dan didarat. Beberapa juga ada yang hidup sebagai parasit. Tubuh bekicot ini tertutup cangkang yang merupakan hasil sekresi dari kollar, sudah memiliki system pencernaan yang lengkap terdiri dari mulut,usus,lambung, dan anus. (Wardhana, Pman. 2008: 144).Bekicot termasuk kedalam kingdom animalia, filum mollusca, kelas gastropoda, ordo pulmonata, famili achanidae, genus Achatina dan spesies Achatina fulica. Bekicot merupakan hewan yang termasuk dalam kelas Mollusca. Salah satu indikator lingkungan yang bisa menandakan bahwa lingkungan kita masih bagus atau sudah rusak adalah kehadiran Bekicot. Berarti hal ini mengindikasikan bahwa tempat yang asal dari bekicot (Klaten Tengah) masih dalam keadaan bagus atau belum rusak (belum tercemar oleh bahan-bahan kimia residu). Bekicot merupakan salah satu hewan dengan kelimpahan spesies yang cukup besar. Hewan ini merupakan salah satu siput darat yang memiliki cangkang. Di Indonesia dikenal dua macam jenis bekicot yaitu Achatina