case study analisis kelayakan asiri

Download Case study analisis kelayakan Asiri

Post on 19-Jun-2015

724 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

i hope this is help u

TRANSCRIPT

Tugas 4 : PPMA

PERANCANGAN PABRIK MINYAK ATSIRIKonsentrasi Teknologi Industri Kecil dan Menengah Magister Sistem Teknik, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, 2010

Dosen Pengampuh

Ir. Supranto, M.Sc. Ph.D

EVALUASI EKONOMIMINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH

Oleh MURLIADI PALHAMTIKM B

Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B

1|Hal

Tugas 4 : PPMA

1. PENDAHULUAN

Minyak atsiri, atau juga dikenal sebagai minyak eteris (aetheric oil), atau minyak esensial, minyak terbang, serta minyak aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang. Minyak atsiri merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok (untuk pengobatan) alami. Di dalam perdagangan, sulingan minyak atsiri dikenal sebagai bibit minyak wangi.. Minyak tersebut mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir (pungent tase), berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya, umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Para ahli biologi menganggap, minyak atsiri merupakan metabolit sekunder bagi tumbuhan yang biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh hewan (hama) ataupun sebagai agen untuk bersaing dengan tumbuhan lain (alelopati) dalam mempertahankan ruang hidup. Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah. Selain itu, susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi saraf manusia, terutama di hidung, sehingga seringkali memberikan efek psikologis tertentu (baunya kuat). Setiap senyawa penyusun memiliki efek tersendiri, dan campurannya dapat menghasilkan rasa yang berbeda.Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran yang rumit berbagai senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggung jawab atas suatu aroma tertentu. Sebagian besar minyak atsiri termasuk dalam golongan senyawa organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak/lipofil. Minyak atsiri yang dihasilkan dari tanaman aromatik merupakan komoditas ekspor non migas yang dibutuhkan diberbagai industri seperti dalam industri parfum, kosmetika, industri farmasi/obat-obatan, industri makanan dan minuman. Dalam dunia perdagangan, komoditas ini dipandang punya peran strategis dalam menghasilkan produk primer maupun sekunder, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor. Komoditas ini masih tetap eksis walaupun selalu terjadi fluktuasi harga, namun baik petani maupun produsen masih diuntungkan

Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B

2|Hal

Tugas 4 : PPMA

Di Indonesia penggunaan minyak atsiri ini sangat beragam antara lain; dapat digunakan melalui berbagai cara yaitu melalui mulut/dikonsumsi langsung berupa makanan dan minuman seperti jamu yang mengandung minyak atsiri, penyedap/fragrant makanan, flavour es krim, permen, pasta gigi dan lain-lain. Pemakaian luar seperti untuk pemijatan, lulur, lotion, balsam, sabun mandi, shampo, obat luka/memar, pewangi badan (parfum). Industri pengolahan minyak atsiri di Indonesia telah muncul sejak jaman penjajahan (Lutony, Rahmayati, 2000). Namun jika dilihat dari kualitas dan kuantitasnya tidak mengalami banyak perubahan. Ini disebabkan karena sebagian besar pengolahan minyak atsiri masih menggunakan teknologi sederhana/ tradisional dan umumnya memiliki kapasitas produksi yang terbatas. Industri ini biasanya terletak di daerah pedesaan. Ada beberapa daerah di Indonesia yang menjadi sentra industri minyak atsiri , misalnya Daerah Istimewa Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Potensi keanekaragaman tanaman aromatik penghasil minyak atsiri yang dimiliki Indonesia akan dapat dimanfaatkan apabila ditanam pada lingkungan yang sesuai. Indonesia mempunyai wilayah yang luas dengan ragam tanah dan iklim yang berbeda-beda. Hal ini memungkinkan untuk pengembangan suatu komoditas minyak atsiri yang cocok pada suatu daerah tertentu sehingga hasilnya maksimal. Selain minyak nilam (Patchouli oil) yang menjadi primadona ternyata ada juga minyak atsiri lainnya yang banyak dibutuhkan negara luar yaitu minyak cengkeh (clove oil). Tanaman cengkeh (Eugenia caryophillata) dapat digunakan untuk menghasilkan minyak cengkeh (clove oil), minyak tangkai cengkeh (clove stem oil), dan minyak daun cengkeh (clove leaf oil).

Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B

3|Hal

Tugas 4 : PPMA

2. PEMILIHAN JENIS DAN POLA USAHA

tugas ke-Empat ini, penulis mengambil topik Usaha Penyulingan Minyak Atsiri Daun Cengkeh. Alasan pemilihan jenisPada minyak daun cengkeh (clove leaf oil) adalah kemudahan operasi pengolahan dan modal yang rendah. Daun cengkeh menghasilkan minyak atsiri yang tidak terlalu keras dibandingkan tangkai bunga cengkeh sehingga ketel yang digunakan tidak cepat rusak dan dapat menggunakan hanya satu ketel saja (bahan baku dan air dalam satu ketel) sehingga harganya lebih murah. Berbeda dengan minyak nilam yang memerlukan dua ketel terpisah, yang berisi air dan daun nilam dalam ketel terpisah, untuk menghasilkan minyak nilam dengan kualitas yang diinginkan. Selain itu, alasan pemilihan jenis minyak daun cengkeh adalah karena bahan baku yaitu daun cengkeh merupakan hasil sampingan dari pohon cengkeh. Jenis minyak daun cengkeh juga dipilih karena persyaratan atau standar kualitas yang ditetapkan pembeli relatif longgar sehingga memudahkan pengusahaannya. Pengusaha kecil dengan teknologi sederhana dapat memprosesnya dengan mudah. Tidak diperlukan mesin-mesin dengan ketrampilan khusus untuk usaha ini.

Gambar 1. Daun cengkeh dan minyak cengkeh Usaha minyak daun cengkeh tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Sisa daun yang telah disuling dapat dikeringkan dan digunakan sebagai bahan bakar dan abunya dapat digunakan sebagai pupuk. Sisa air limbah yang sudah dipisahkan secara sempurna dengan minyak daun cengkeh tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Sampai saat ini, polusi udara berupa asap yang ditimbulkan pada saatOleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B4|Hal

Tugas 4 : PPMA

proses penyulingan sama sekali tidak dikeluhkan oleh warga sekitar lokasi penyulingan. Dalam perdagangan internasional, minyak cengkeh dibagi menjadi 3 bagian berdasarkan sumbernya, yaitu minyak daun cengkeh (clove leaf oil), minyak tangkai cengkeh (clove stem oil), minyak bunga cengkeh (clove bud oil). Minyak daun cengkeh merupakan salah satu minyak atsiri yang cukup banyak dihasilkan di Indonesia dengan cara penyulingan air dan uap. Minyak daun cengkeh berupa cairan berwarna bening sampai kekuning-kuningan, mempunyai rasa yang pedas, keras, dan berbau aroma cengkeh. Warnanya akan berubah menjadi coklat atau berwarna ungu jika terjadi kontak dengan besi atau akibat penyimpanan. Komponen utama dalam minyak cengkeh adalah senyawa eugenol, eugenol asetat dan caryophylene dengan kandungan total mencapai 70-80%. Komponen lain yang terdapat dalam minyak cengkeh adalah methyl n-hepthyl alcohol, benzyl alcohol, methyl salicylate, methyl n-amyl carbinol. Minyak daun cengkeh mulai dikembangkan pada tahun 1960 yang digunakan untuk bahan baku obat, pewangi sabun dan deterjen. Minyak daun cengkeh juga digunakan di industri wewangian dengan ketetapan standar mutu tertentu yang lebih ketat.Tabel 1. Standar mutu minyak daun cengkeh menurut SNI 1991No 1 2 3 4 5 6 Parameter Berat jenis pada 15oC/15oC Putaran Optik (alfa-d) Indeks Refraksi pada 20oC (nd20) Eugenol (%) Minyak pelikan, lemak Kelarutan dalam Alkhol 70% Nilai 1,03 - 1,06 -1o35 1,52 - 1,54 78 - 93% Negatif 1:2 Jernih,seterusnya jernih

Sumber : http://www.atsiri-indonesia.com

Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B

5|Hal

Tugas 4 : PPMA

3. ASPEK PRODUKSIA. LOKASI USAHA DAN KAPASITAS PRODUKSI

Minyak atsiri dapat diproduksi dengan berberapa cara, seperti penyulingan, ekstraksi dengan menggunakan pelarut dan metode pengempaan. Cara yang umum digunakan pengusaha kecil adalah dengan proses penyulingan atau hidrodestilasi yang relatif lebih murah dan menggunakan peralatan yang sederhana. Penentuan lokasi usaha sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup suatu usaha. Semakin dekat lokasi usaha dengan sumber bahan baku atau inputinput lainnya, maka usaha tersebut memiliki peluang yang lebih besar untuk hidup dan memperoleh profit yang lebih besar karena biaya transportasi dapat ditekan serendah mungkin. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh usaha pengolahan minyak daun cengkeh agar dapat berkelanjutan.Pertama, lokasi usaha yang berdekatan dengan lokasi sumber bahan

baku. Dekat dalam hal ini berarti mudah untuk memperoleh bahan baku dengan harga yang normal (tidak terlalu mahal karena biaya transportasi yang tinggi).Kedua, dekat dengan sumber air. Air merupakan bahan input yang

dibutuhkan dalam jumlah besar untuk usaha pengolahan minyak daun cengkeh. Air tersebut berfungsi sebagai pendingin pada proses kondensasi dari uap menjadi cair yang terdiri dari minyak daun cengkeh dan air.Ketiga, kemudahan memperoleh bahan bakar. Ketersediaan bahan

bakar harus cukup. Dalam penyulingan minyak daun cengkeh secara umum pembakaran (pemanasan) harus terus menerus dan tetap agar mutu hasil terjaga. Minyak daun cengkeh juga memiliki keuntungan yang dapat menghemat biaya bahan bakar. Proses pengolahan dapat menggunakan bahan bakar berupa limbah daun yang telah disuling sebelumnya dengan dikeringkan terlebih dahulu. Berdasarkan persyaratan dan kriteria tersebut di atas, maka penulis mengambil dan menentukan lokasi usaha yaitu di Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kapasitas produksi yang direncanakan yairu sebesar 60 liter per hari.

Oleh : Murliadi Palham, S.T. : TIKM-B

6|Hal

Tugas 4 : PPMA

Kabupaten Bulukumba merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Propinsi Sulawesi Selatan. Di sebelah Utara daerah ini berbatasan dengan Kabupaten Sinjai