study kelayakan kereta api

Download Study Kelayakan Kereta API

Post on 22-Nov-2015

54 views

Category:

Documents

11 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Feasibility Kerata Api

TRANSCRIPT

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMBIAYAAN SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH (Studi Kasus Kuta Alam Banda Aceh)

STUDI REVITALISASI

JALUR KERETA API BANDA ACEH BATAS SUMATERA UTARAYusrizal, Sofyan M Saleh, Noer FadhlyJurusan Manajemen Prasarana Perkotaan, Magister Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala

Kopelma Darussalam, Banda Aceh 23111Email : yoeszrizal@yahoo.com

ABSTRAKPermasalahan yang akan dibahas dalam studi ini adalah faktor teknis jalur kereta api Banda Aceh batas Sumatera Utara, dan faktor sosial ekonomi dari pembangunan jalur kereta api Banda Aceh batas Sumatera Utara. Metode yang digunakan dalam studi adalah Analisis Korelasi berbasis Zona, Perbandingan BOK dengan time saving, kajian aspek sosial ekonomi, investasi dan kelayakan serta analisa sensitifitas. Hasil studi ini menunjukan bahwa atribut sosio-ekonomi yang paling dominan dalam memberikan kontribusi bangkitan dan tarikan pergerakan di Propinsi Aceh adalah Jumlah Penerimaan PBB, Luas Area Perikanan Umum dan Kepadatan Penduduk per km2. Hasil analisis finansial dengan tarif Rp 200.000/orang investasi jalan KA Banda Aceh-Medan ini layak (nilai FIRR 45%), karena umumnya investor menginginkan FIRR di atas 15%. Analisis ekonomi dengan menghitung nilai waktu Rp. 16.000,00/penumpang/jam proyek ini masih layak dengan nilai EIRR=30%.Kata kunci: Aspek Biaya, Sosio-ekonomi, SensitifitasI. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejarah perkeretaapian di Indonesia, khususnya di Aceh dibangun sejak tahun 1876 sampai tahun 1939 dan sempat mencapai masa keemasannya dengan pengoperasian rangkaian kereta dengan lalu lintas 8.500 penumpang dan 500 ton barang perhari. Hal ini menunjukkan moda transportasi kereta api memiliki peranan penting dalam berbagai jenis pengangkutan, baik angkutan barang maupun angkutan penumpang. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu dan sejalan dengan semakin berkurangnya regulasi dari pemerintah, keunggulan yang dimiliki kereta api semakin lama semakin mengalami kemerosotan dan terus melemah.Penciptaan sebuah sistem pengangkutan harus direncanakan secara baik dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang sangat mempengaruhi sistem tersebut, antara lain: karakteristik permintaan, tata guna lahan serta kondisi yang ada di suatu daerah. Faktor lain yang tidak kurang pentingnya adalah sistem transportasi yang akan diterapkan harus mampu dikembangkan untuk memenuhi permintaan akan jasa transportasi pada masa yang akan datang. Penerapan suatu sistem transportasi yang tidak sesuai dengan tata guna lahan, karakteristik permintaan, kondisi daerah setempat, serta tidak melalui suatu perencanaan yang baik sering menimbulkan masalah yang sulit ditanggulangi, terutama jika permintaan akan jasa transportasi sudah melampaui kapasitas sistem yang ada.Dalam studi ini lingkup tinjauan dan kajian dibatasi pada:

1. Mengkaji kebutuhan lalu lintas angkutan kereta api dengan permodelan bangkitan dan tarikan berbasis zona;

2. Mengkaji kelayakan sosial ekonomi ditinjau dari segi nilai investasi, tahun investasi dan suku bunga yang berlaku dan sensitifitasnya1.2 Tujuan StudiTujuan dari penelitian ini adalah mengkaji kebutuhan lalu lintas termasuk barang atas angkutan kereta api jalur Banda Aceh batas Sumatra Utara dan mengkaji kelayakan sosial ekonomi.

II. TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1 Perencanaan Transportasi

Morlok (1991) yang dikutip dari Sofyan (2009) menyatakan bahwa sistem transportasi adalah suatu cara memindahkan objek dari suatu tempat ke tempat lain. Objek yang dipindahkan dapat berupa benda mati seperti sumber daya alam, barang produksi pabrik, bahan makanan, atau makhluk hidup seperti manusia, hewan, ataupun tumbuhan.

Susantono (2004) yang dikutip dari Sofyan (2009) menyatakan bahwa transportasi secara definisi adalah pergerakan orang dan barang dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan berbagai maksud perjalanan dan menggunakan berbagai moda alat angkut yang memungkinkan. Definisi tersebut mengadung makna bahwa perjalanan dilakukan dengan maksud tertentu, dan sumber daya yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan dialokasikan untuk mendatangkan manfaat tersebut lebih besar dari sumber daya (terutama biaya) yang dikeluarkan.Papacostas & Prevedouros (2005) menyatakan bahwa waktu tempuh yang ditinjau adalah waktu perjalanan (Time Travel). Variabel kecepatan mempengaruhi BOK. Untuk dapat menghitung kecepatan rata-rata (km/jam) dipakai rumus jarak dibagi waktu tempuh. Biaya operasi kendaraan (Rp/km) dihitung dari biaya pemakaian bahan bakar, pemakaian minyak pelumas, pemakaian ban, perbaikan & pemeliharaan kendaraan, depresiasi kendaraan, bunga, asuransi, overhead, dan nilai waktu.

2.2 Analisis Bangkitan dan Tarikan

Tamin (2008) menyatakan dalam permodelan bangkitan pergerakan, hal yang perlu diperhatikan bukan saja pergerakan manusia, tetapi juga pergerakan barang.

1. Bangkitan pergerakan untuk manusia, faktor yang dipertimbangkan antara lain : pendapatan, pemilikan kenderaan, struktur rumah tangga, ukuran rumah tangga, nilai lahan, kepadatan daerah permukiman dan aksesibilitas.

2. Tarikan pergerakan untuk manusia, faktor yang paling sering digunakan adalah adalah luas lantai untuk kegiatan industry, komersial, perkantoran, pertokoan, dan pelayanan lainnya.

3. Bangkitan dan Tarikan pergerakan untuk barang merupakan bagian kecil dari seluruh pergerakan (20%) yang biasanya terjadi di Negara industri. Peubah penting yang mempengaruhi adalah jumlah lapangan kerja, jumlah pemasaran, luas atap industri tersebut, dan total seluruh daerah yang ada.

Dalam melakukan analisis bangkitan dan tarikan pergerakan dengan model analisis korelasi berbasis zona. Metode yang digunakan adalah stepwise1 dan stepwise2. Analisis Regresi Linear Berganda digunakan untuk mengukur pengaruh antara lebih dari satu variabel prediktor (variabel bebas) terhadap variabel terikat., lebih jelas dapat dilihat persamaan 2.1 berikut ini.

Y = a + b1X1+b2X2+...+bnXn ..............(2.1)

Y = variabel terikat

a = Konstanta

b1,b2 = Koefisien regresi

X1, X2 = Variabel bebas

2.3 Kelayakan EkonomiTarquin (2005) menyatakan bahwa analisis kelayakan secara ekonomi maupun finansial dilakukan dalam konteks untuk mengetahui seberapa besar manfaat yang diperoleh jika dalam jaringan transportasi. Pada prinsipnya hasil analisis kelayakan ini akan menentukan pengambilan keputusan layak atau tidaknya pembangunan dari suatu proyek.

Pada umumnya evaluasi dilakukan dalam kerangka efisiensi ekonomi, di mana alternatif terbaik yang dipilih adalah alternatif yang memberikan margin yang paling besar atas nilai uang dari manfaat yang diperoleh terhadap biaya yang dikeluarkan dalam berbagai sudut pandang. Namun tidak semua komponen biaya dan manfaat dari suatu rencana dapat diekspresikan dalam bentuk nilai uang dan dapat diukur dalam besaran yang sama. Shiftan (2007) juga menyatakan komponen manfaat dan komponen biaya tersebut selanjutnya dilakukan perhitungan parameter-parameter kelayakan ekonomi. Dengan demikian, proses analisis kelayakan dilakukan dalam 3 tahapan, yakni (1) proses estimasi biaya ekonomi, (2) melakukan estimasi manfaat ekonomi yang dihasilkan dari analisis dengan dan tanpa proyek selama waktu tinjauan (time horison), dan (3) dilakukan analisis kelayakan untuk mengeluarkan sejumlah indikator kelayakan.

Tarquin (2005) juga menyatakan bahwa dalam melakukan analisis kelayakan secara ekonomi dan finansial terdapat beberapa prinsip dasar yang membedakan kedua sudut padang evaluasi ini. Dengan asumsi bahwa jalan KA ini operasinya oleh swasta, maka rencana ini harus layak secara finansial. Sedangkan dari sisi pemerintah, maka pengembangan suatu jaringan KA baik itu dilakukan sendiri oleh pemerintah ataupun didelegasikan kepada swasta, harus tetap memberikan nilai manfaat kepada masyarakat, sehingga rencana ini juga harus layak dari sisi ekonomi.

Blank & Tarquin (2005) menyatakan sebagai berikut analisis ekonomi dilakukan untuk time horison selama 30 tahun, dengan membandingkan dua skenario, yaitu:

1. Kondisi tanpa proyek (do nothing)

2. Kondisi dengan proyek (do something)

Dari kedua skenario tersebut yang dibandingkan antara komponen biaya terhadap komponen manfaat. Parameter yang digunakan sebagai keluaran analisis ekonomi adalah Net Present Value (NPV) pada nilai diskonto 20%, 25% dan 30%, Benefit Cost Ratio (BCR) serta Economic Internal rate of Return (EIRR).

Parameter NPV dihitung dengan menggunakan beberapa tingkat bunga untuk memperkirakan selisih antara biaya dan manfaat yang ada saat ini dan masa mendatang. Dengan menggunakan parameter NPV dalam suatu analisis ekonomi, maka suatu proyek yang dapat diterima diharuskan memiliki nilai akhir yang lebih besar dari nol. Apabila parameter NPV diperoleh dengan mengurangkan komponen manfaat (benefit) dengan komponen biaya (cost), maka parameter BCR diperoleh dengan membagi komponen manfaat dengan komponen biaya. Oleh karena itu, dengan menggunakan parameter BCR ini proyek baru akan dinyatakan layak apabila nilai BCR > 1.

Parameter Internal Rate of Return digunakan untuk mengetahui tingkat pada kondisi NPV = 0, sehingga dengan mengetahui tingkat bunga saat ini dan juga kecenderungannya di masa mendatang maka dapat diambil keputusan untuk mengimplementasikan suatu kegiatan. Besarnya EIRR harus lebih besar dari tingkat bunga yang digunakan saat ini. Apabila EIRR lebih rendah maka dapat dikatakan bahwa biaya pelaksanaan akan lebih menguntungkan bila diinvestasikan di tempat lain untuk kegiatan yang lain.2.4 Analisa SensitifitasBlank & Tarquin (2005), menyatakan analisis sensitifitas digunakan untuk melihat seberapa besar sensitifitas perubahan suatu variabel terhadap suatu indikator kelayakan ekonomi. Dalam hal ini variabel yang akan dilihat tingkat sensitifitasnya adalah suku bunga. Analisis sensiti