best practice mulyati isi final

Download Best practice mulyati isi final

Post on 19-Jul-2015

130 views

Category:

Education

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Pemerintah telah mencanangkan Kurikulum 2013 untuk menjawab tantangan

    internal maupun eksternal yang dihadapi bangsa Indonesia. Tantangan internal

    tersebut terkait dengan pertumbuhan penduduk usia produktif yang diperkirakan

    akan mencapai puncaknya pada 2020 2025 yang angkanya mencapai 70 %.

    Tantangan eksternal lainnya terkait arus globalisasi dan berbagai isu terkait

    masalah lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, kebangkitan industri

    kreatif dan budaya dan perkembangan pendidikan di tingkat internasional

    (Kemendikbud, 2013: 1- 2).

    Tujuan penerapan Kurikulum 2013 adalah mempersiapkan manusia

    Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga Negara

    yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi

    pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (Kemendikbud, 2013: 3).

    Hal ini disebabkan implementasi Kurikulum 2013 menuntut kebutuhan terhadap

    peningkatan sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai penjamin mutu

    (Kemendikbud, 2014: ii).

    Adanya perubahan kurikulum, capaian prestasi anak didik tidak hanya

    dilihat dari sisi akademisnya saja tetapi juga non akademis, yang mencakup tiga

    pilar penjamin mutu, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan (Kemendikbud,

    2014: ii). Kepala sekolah diharapkan mampu berperan dalam mengorganisasi dan

    mengoptimalkan seluruh potensi sekolah, termasuk merubah mind-set para guru

    untuk membawa mereka menuju ke arah kemajuan dan perubahan.

    Menyongsong penerapan Kurikulum 2013 di SMPN 11 Surakarta banyak

    tantangan dan hambatan baik segi prestasi (akademik dan non akademik), sarana

    prasarana dan lingkungan yang kurang mendukung proses pembelajaran. Hasil

    kajian awal banyak komponen belum memenuhi Standar Pelayanan Minimal

    (SPM) pendidikan sesuai Permendiknas No 15 Tahun 2010 (Permendikbud No 23

    Tahun 2013). Luas sekolah hanya 2.032 m2 dan terdapat 18 rombel dengan

    jumlah siswa 527 siswa (terkecil di antara 27 SMP negeri di Surakarta). Kondisi

  • 2

    sekolah sangat kotor dan tidak terawat. Sarana prasarana pendukung pembelajaran

    sangat minim. Wacana relokasi sekolah yang sudah berlangsung lama,

    menyebabkan program bantuan perbaikan sarpra jarang diperoleh sekolah ini.

    Gambar 1. Kondisi Lingkungan SMPN 11 Surakarta bulan Februari 2012

    Kedisiplinan siswa masih rendah dan kinerja guru belum memuaskan.

    Banyak guru mengajar dengan ceramah, tidak bisa mengoperasikan komputer, dan

    administrasi pembelajaran seadanya. Kegiatan pengembangan diri siswa dan guru

    tidak berkembang, karena alasan keterbatasan dana sehingga banyak bakat siswa

    tidak tersalurkan. Peran orangtua juga sangat rendah, terhadap program dan upaya

    peningkatan mutu pendidikan. Program pendidikan gratis makin membuat banyak

    orangtua makin apatis terhadap perkembangan sekolah.

    Kondisi ini makin terpuruk dengan program Sekolah PLUS oleh Pemerintah

    Kota (Pemkot) Surakarta pada tahun ajaran 2012/2013 dengan SK Walikota No

    420/56-c/1/2012 tanggal 1 Juni 2012 (Pemkot Surakarta, 2012). Sekolah PLUS

    adalah sekolah yang menyelenggarakan pendidikan bagi peserta didik dari

    keluarga kurang mampu (keluarga miskin) warga Kota Surakarta, di mana biaya

    penyelenggaraan pendidikan dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

    (APBD) Kota Surakarta dengan nama Bantuan Pendidikan Masyarakat Surakarta

    (BPMKS). Proses seleksi masuk sekolah Plus pada tahun pelajaran 2012/2013

    berdasarkan tingkat kemiskinan tanpa memperhatikan nilai akademik siswa.

    Dampaknya, banyak warga mampu akhirnya mencari surat keterangan tidak

    mampu agar bisa menyekolahkan sekolah di sekolah PLUS. Kondisi semacam ini

    semakin memperburuk citra SMPN 11 Surakarta sebagai sekolah pinggiran, siswa

    tidak disiplin, nakal, dan bodoh. Hasil Evaluasi Diri Sekolah (EDS) yang telah

    dilakukan sekolah pada tahun pelajaran 2012/2013 seluruh komponen Standar

  • 3

    Nasional Pendidikan (SNP) belum mencapai Standar Pelayanan Minimal (SPM),

    yang ditetapkan yang ditunjukkan dengan grafik pada lampiran

    Sebagai upaya mengatasi hambatan-hambatan di atas, penulis selaku kepala

    SMPN 11 Surakarta mengambil langkah perubahan manajemen dengan

    Manajemen Citra (MANTRA) untuk membangun citra positif (image building)

    sehingga mendongkrak prestasi sekolah. Bertolak dari pemikiran tersebut maka

    penulis mengangkat pengalaman terbaik (best practices) dalam makalah berjudul

    MANTRA: Mendongkrak Prestasi Sekolah GAKIN dalam Menyongsong

    Penerapan Kurikulum 2013.

    B. Permasalahan

    Permasalahan yang perlu diatasi dirumuskan sebagai berikut:

    1. Bagaimanakah langkah-langkah menggali potensi untuk mendongkrak prestasi

    sekolah GAKIN melalui Manajemen Citra (MANTRA) di SMPN 11 Surakarta?

    2. Apakah Manajemen Citra (MANTRA) mampu mendongkrak prestasi SMP

    Negri 11 Surakarta.

    C. Tujuan

    Tujuan dari penulisan makalah best practice ini adalah:

    1. Menentukan langkah-langkah untuk mendongkrak prestasi sekolah GAKIN

    melalui Manajemen Citra (MANTRA) di SMPN 11 Surakarta.

    2. Menginventaris hasil dan dampak penerapan Manajemen Citra yang mampu

    mendongkrak prestasi SMPN 11 Surakarta.

    D. Manfaat

    1. Diperolehnya cara-cara menggali potensi dan sumberdaya sekolah melalui

    MANTRA untuk mendongkrak prestasi SMPN 11 Surakarta.

    2. Ditemukannya langkah-langkah penyelesaian masalah terbaik dan ekonomis

    untuk mengembangkan potensi dan sumber daya di SMPN 11 Surakarta pada

    khususnya dan penyelesaian masalah pendidikan pada umumnya.

  • 4

    BAB II

    PEMBAHASAN

    A. Telaah Konsep Manajemen Citra (MANTRA)

    1. Pengertian Manajemen Citra (MANTRA)

    Menurut Suharno (2014) Manajemen dan Citra merupakan dua kata

    yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Citra sering juga disebut image.

    Manajemen adalah aktivitas atau kegiatan mengelola sesuatu (personel atau

    organisasi) secara efisien dan efektif, guna meraih suatu tujuan yang

    dikehendaki. Manajemen Citra merupakan istilah yang sering dipakai dalam

    manajemen perusahan/organisasi (public relation/PR) dengan maksud

    membantu individu dan organisasi agar mau dan mampu membangun dan

    mengembangkan citra diri dan organisasinya menjadi lebih baik.

    Manajemen citra memegang peranan penting, karena menunjukkan siapa

    diri kita dan mau diposisikan bagaimana. Muktiyo (2010:5) menyatakan bahwa

    Manajemen Citra adalah konsep yang diartikan sebagai seni dan ilmu yang

    dipergunakan agar kita disukai dan dihormati oleh semua pihak yang

    berhubungan dengan kita. Sedangkan citra adalah kesan yang timbul karena

    pemahaman akan suatu kenyataan.

    Membangun citra (image building) dalam proses kehidupan, kita selalu

    mempunyai tujuan agar hal yang ingin kita raih dapat terwujud. Menurut Sutojo

    Siswanto yang dikutip Muktiyo (2014:44) keberhasilan membangun citra

    (image) dipengaruhi banyak faktor antara lain: 1) citra dibangun berdasarkan

    orientasi terhadap manfaat yang dibutuhkan dan diinginkan kelompok sasaran;

    2) manfaat yang ditonjolkan cukup realistis; 3) citra yang ditonjolkan sesuai

    dengan kemampuan perusahaan, 4) citra mudah dimengerti kelompok sasaran;

    dan 5) citra merupakan sarana, bukan tujuan usaha

    Citra bisa positif dan bisa pula negatif. Semua orang atau organisasi

    pasti ingin dicitrakan positif. Dengan citra yang positif, individu maupun

    organisasi, akan mampu bertahan di tengah-tengah kancah persaingan yang

    sangat kompetitif sekarang ini. Oleh karena itulah, mengelola citra diri atau

    citra organisasi merupakan sesuatu yang amat sangat penting, bagi individu

  • 5

    maupun organisasi. Namun sayang belum semua individu dan organisasi

    menyadarinya. Demikian juga instansi pendidikan. Banyak individu maupun

    organisasi yang hanya berfikir sesaat dan pragmatis. Mereka menganggap

    dirinya dan organisasinya, semuanya berjalan baik-baik saja, lancar-lancar saja,

    tidak ada masalah. Dalam dunia pendidikan juga banyak yang menganggap

    masalah manajemen citra ini tidak penting.

    Seperti halnya di perusahaan, di lembaga pendidikan pun seiring dengan

    tuntutan dan perubahan jaman, maka seorang pemimpin pendidikan (kepala

    sekolah) harus mampu menyusun tahapan perencanaan untuk mendapatkan

    citra yang diinginkan. Keinginan tersebut harus diorganisasikan dengan baik.

    agar citra yang diidam-idamkan tidak keluar dari harapan. Citra sekolah yang

    positif sangat berperan dalam mengembangkan sekolah di tengah perubahan

    yang sangat kompetitif, terutama era menyongsong Kurikulum 2013

    2. Peran Manajemen Citra dalam Menyongsong Kurikulum 2013

    Penerapan MANTRA di lembaga pendidikan (sekolah) harus diawali

    dari kepribadian pemimpinnya (kepala sekolah), karena citra sekolah akan

    nampak dari citra kepala sekolahnya. Keberhasilan sekolah banyak ditentukan

    oleh kepemimpinan kepala sekolahnya. Kepala sekolah yang ingin mendapat

    citra positif, harus siap menjadi panutan dan teladan setiap warga sekolah.,

    Setelah kepribadian terbentuk, maka akan mudah bagi kepala sekolah untuk

    menggarap potensi-potensi di lembaga sekolah yang dipimpinnya, sehingga

    mudah mempengaruhi dan menggerakkan warga sekolah untuk

    memberdayakan diri agar