bab 2 kerangka kerja logis.doc

Download Bab 2 Kerangka Kerja Logis.doc

Post on 24-Sep-2015

38 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB 2KERANGKA KERJA LOGIS PEMBANGUNAN SANITASI

2.1. UMUMKota Probolinggo merupakan salah satu daerah kota di wilayah bagian Utara Propinsi Jawa Timur yang terdiri dari 5 (lima) kecamatan yang membawahi 29 Kelurahan. Kelima kecamatan tersebut yaitu Kecamatan Mayangan, Kecamatan Kanigaran, Kecamatan Kademangan, Kecamatan Wonoasih dan Kecamatan Kedopok.Penduduk Kota Probolinggo pada tahun 2008 berjumlah 215.833 jiwa yang tersebar secara tidak merata dimana kepadatan tertinggi di Kecamatan Mayangan, dengan kepadatan 7.179 jiwa per Km2 dan kepadatan terendah di Kecamatan Kedopok dengan kepadatan 2.187 jiwa per Km2. Pertumbuhan penduduk 0,45 % per tahun.

Luas wilayah sebesar 56,67 km2 atau 5.667 ha yang meliputi lahan sawah dengan luas 1.962,50 ha atau 34,62 % dan lahan bukan sawah seluas 3.705 ha (65,38 %) dari luas keseluruhan Kota Probolinggo. Lahan bukan sawah terdiri atas lahan kering 3.606,48 ha (97,34 %) dan lahan lainnya 98,72 ha (2,66 %) dengan lahan pertanian paling luas berada di Kecamatan Kedopok sebesar 860,98 ha, kemudian berikutnya adalah Kecamatan Kademangan dengan luas lahan pertanian sebesar 667,21 ha dan Kecamatan Wonoasih dengan luas lahan pertanian sebesar 514,48 ha. Penggunaan lahan paling dominan berikutnya setelah lahan pertanian adalah lahan permukiman, yaitu sebesar 2.090,04 ha atau 36,88% dari luas Kota Probolinggo. Persebaran permukiman di Kota Probolinggo cukup merata di seluruh kecamatan, hal ini dapat dilihat berdasarkan selisih luas lahan permukiman pada setiap kecamatan yang tidak terlalu mencolok. Luas lahan permukiman paling besar berada di Kecamatan Kanigaran yaitu sebesar 474,29 ha, kemudian berikutnya adalah Kecamatan Wonoasih sebesar 412,24 Ha. Penggunaan tanah lainnya seperti fasilitas pendidikan, perkantoran, perdagangan maupun industri menjadi terlihat tidak signifikan jika dibandingkan dengan luas lahan pertanian ataupun permukiman. Luas fasilitas permukiman, perkantoran, perdagangan dan industri di Kota Probolinggo berturut-turut adalah sebesar 132,50 ha (2,34% luas wilayah Kota Probolinggo), 108,91 ha (1,92%), 20,64 ha (0,36%), dan 90,08 ha (1,59%).Sebagai salah satu kota tujuan investasi di Jawa Timur, Kota Probolinggo memiliki beberapa permasalahan. Salah satunya adalah permasalahan lingkungan serta sanitasi yang buruk. Permasalahan tersebut tidak lepas dari persoalan kemiskinan yang mempunyai kaitan erat dengan persoalan sanitasi. Kemiskinan bisa menjadi penyebab buruknya akses dan layanan sanitasi yang tidak memadai, dimana hal ini akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatanan dan lingkungan yang pada gilirannya akan berdampak pada tingkat produktifitas masyarakat. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota Probolinggo untuk membenahi sanitasi. Sanitasi sebagai salah satu aspek pembangunan memiliki fungsi penting dalam menunjang tingkat kesejahteraan masyarakat, karena berkaitan dengan kesehatan, pola hidup, kondisi lingkungan permukiman serta kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari. Sanitasi seringkali dianggap sebagai urusan belakang, sehingga sering termarjinalkan dari urusan-urusan yang lain, namun seiring dengan tuntutan peningkatan standart kualitas hidup masyarakat, semakin tingginya tingkat pencemaran lingkungan dan keterbatasan daya dukung lingkungan itu sendiri menjadikan sanitasi menjadi salah satu aspek pembangunan yang harus diperhatikan.

Salah satu aspek dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan yang sehat, perlu diperhatikan masalah drainase, persampahan dan air limbah serta Higiene. Masih sering dijumpai bahwa aspek-aspek pembangunan sanitasi, yaitu air limbah, persampahan, drainase, dan Higiene masih berjalan sendiri-sendiri. Masing-masing aspek tersebut ditangani secara terpisah, meskipun masuk dalam satu bidang pembangunan yaitu sanitasi, sehingga masih terdapat tumpang tindih kegiatan pembangunan bidang sanitasi oleh institusi yang berbeda-beda, yang kadang-kadang membingungkan masyarakat sebagai subyek dan obyek pembangunan.

Apabila kualitas lingkungan terjaga dengan baik, derajat kesehatan manusia akan meningkat pula. Oleh karena itu, Pemerintah maupun masyarakat bertanggungjawab untuk menjaga dan mengelola lingkungannya agar tidak membawa dampak buruk bagi penghuninya. Dampak tersebut notabene merupakan efek samping dari aktivitas manusia sehari-hari, sehingga permasalahan yang timbul biasanya adalah masalah sosial kesehatan masyarakat itu sendiri.Pembangunan sanitasi Kota Probolinggo diharapkan berkontribusi dalam pencapaian visi misi kota dan sanitasi yang telah disusun oleh Pemerintah Kota Probolinggo dan Tim Sanitasi Kota sebagai berikut:Visi Misi Kota ProbolinggoVisi Misi Sanitasi

Visi:

Terwujudnya kesejahteraan masyarakat kota probolinggo melalui Percepatan penanggulangan kemiskinan dan pengangguran berbasis investasi Produktif dan berkesinambunganMisi:

Mewujudkan masyarakat Kota Probolinggo yang berdaya, mandiri, berbudaya, demokratis dan agamis yang didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas dan berakhlak mulia. Mewujudkan kesejahteraan masyarakat seutuhnya melalui pertumbuhan ekonomi yang merata,berkeadilan dan berwawasan lingkungan. Mewujudkan iklim investasi yang prospektif dan kondusif yang didukung oleh sarana dan prasarana kota yang berkualitas serta pelayanan publik yang prima. Menegakkan supremasi hukum, ketentraman dan ketertiban umum yang disertai dengan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa berlandaskan prinsip - prinsip tata pemerintahan yang baik.Visi: Terwujudnya Sanitasi Kota Probolinggo yang berwawasan lingkungan melalui pemberdayaan masyarakat pada tahun 2014Misi: Meningkatkan kapasitas dan kinerja Pokja sanitasi daerah.

Menyediakan sarana dan prasarana sanitasi yang berwawasan lingkungan.

Mengembangkan teknologi sanitasi yang tepat guna dan berwawasan lingkungan.

Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sanitasi

Meningkatkan perubahan perilaku masyarakat terhadap pemanfaatan sarana dan prasarana sanitasi.

Meningkatnya PHBS bagi masyarakat Kota Probolinggo.

Strategi Pengembagan Kota Probolinggo yang merupakan ringkasan dari rencana kota, memuat potensi dan masalah serta rencana arah pengembangan kota. Adapun rencana kota yang ada antara lain : Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Probolinggo 2009-2028. Potensi dan Masalah pengembangan Kota Probolinggo meliputi potensi dan masalah terkait struktur ruang kota, pola ruang kota, kawasan strategis serta kawasan pesisir. Untuk menunjang kebijakan pusat Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) Probolinggo - Lumajang, maka kebijaksanaan spasial Kota Probolinggo dibagi menjadi 1 (satu) Pusat Pelayanan Kota dan 4 (empat) Sub Pusat Pelayanan Kota (SPPK) dengan masing-masing memiliki prioritas pembangunan. Adapun penentuan pusat dari masing-masing SPPK tersebut didasarkan atas potensi yang telah dimiliki oleh wilayah tersebut serta potensi yang nantinya memiliki kemungkinan yang cukup besar untuk dikembangkan. Potensi yang dimaksud disini terutama adalah adanya fasilitas-fasilitas pelayanan sosial yang cukup seperti misalnya sarana kesehatan, pendidikan, transportasi, dan sebagainya.2.2 . Sub-sektor Air Limbah

Secara umum dikenal dua (2) sistem pengelolaan air limbah domestik, yaitu:

Sistem pengelolaan air limbah terpusat (off site system); yaitu sistem penanganan air limbah domestik melalui jaringan pengumpul yang diteruskan ke Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL). Off site system dapat dimulai dari kawasan bisnis seperti kawasan perhotelan dan perkantoran, pertokoan dan pusat pasar.

Sistem pengelolaan air limbah setempat (on site system); yaitu sistem penanganan air limbah domestik yang dilakukan secara individual dan/atau komunal dengan fasilitas dan pelayanan dari satu atau beberapa bangunan yang pengolahannya diselesaikan secara setempat atau di lokasi sumber.

Limbah perkotaan berasal pada dua kegiatan pokok, yaitu limbah yang bersumber dari kegiatan industri dan limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga (limbah domestik). Penyelesaian permasalahan pengelolaan limbah rumah tangga di Kota hanya dapat diatasi dengan peningkatan kesadaran masyarakat tentang pembuangan air limbah rumah tangga yang benar. Di sinilah letak peran Pemerintah Kota, dimana pemerintah berkewajiban untuk menjadi fasilitator baik dalam proses sosialisasi demi meningkatkan kesadaran masyarakat maupun bertindak aktif dalam pembangunan MCK umum dan IPAL/septictank komunal untuk wilayah yang sangat memerlukan. Proses sosialisasi harus terus dilakukan terutama kepada masyarakat yang masih belum memiliki pengetahuan atau kesadaran yang cukup mengenai permasalahan air limbah rumah tangga.

Pada umumnya sistem pembuangan air limbah di Kota Probolinggo adalah sistem setempat (On Site System) dan langsung dibuang ke badan sungai. Masyarakat yang menggunakan sarana sanitasi, biasanya membuang air limbah dari kamar mandi dan dapur langsung ke saluran drainase. Sedangkan bagi masyarakat yang tidak memiliki sarana sanitasi, membuang langsung air limbah yang berasal dari WC dan kamar mandi serta dapur ke lingkungan sekitar.

Kota Probolinggo telah memiliki instalasi pengelolaan lanjutan untuk pengelolaan lumpur tinja dari tangki septicktank berupa IPLT dengan lokasi TPA. Kota Probolinggo memiliki truk tangki dengan kapasitas 3m3 dan 4 m3. Serta memiliki ponten umum 2 unit akan tetapi yang satu rusak.

Rencana program peningkatan pengolahan limbah cair di kota Probolinggo adalah memperbaiki sanitasi di wilayah kota Probolinggo khususnya di daerah pemukiman kumuh, setiap tahun secara bertahap akan dibangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpadu, pada tahun 2010 ini sudah dibangun 2 (dua) unit IPAL beserta jaringan perpipaan. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal yang dibangun di RT. 8 RW. 7 Kelurahan Sukabumi Kecamatan Mayangan cakupan KK yang terlayani sebanyak 21 KK. Sedangkan IPAL Komu