responsi ket

Download responsi KET

Post on 10-Jul-2015

198 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Responsi KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

Oleh : Ariesia Dewi Ciptorini Khanifah Fitria Dewi Wiraditya Sandi Dwi P. Yudo Duswanto G 0007042 G 0007201 G 0007172 G 0007238

Pembimbing : dr. Darto, Sp.OG KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA 2011

ABSTRAK

Kehamilan ektopik adalah suatu komplikasi dalam kehamilan dimana ovum yang sudah dibuahi berimplantasi di jaringan lain selain dinding uterus. Implantasi dapat juga terjadi pada cervix, ovarium, dan abdomen. Angka kejadian kehamilan ektopik pada wanita usia 35 - 44 tahun tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita usia 15 24 tahun. Peningkatan insidensi dari kehamilan ektopik dihubungkan dengan kejadian PID, kontrasepsi, pembedahan pada tuba, dan sebagainya. Trias gejala kehamilan ektopik terganggu adalah berupa amenorrhea yang diikuti perdarahan abnormal dan nyeri abdomen. Penatalaksanaannya adalah dengan pembedahan yang sesuai dengan letak kehamilan ektopik tersebut. Sebuah kasus seorang G2 P1 A0, 32 tahun, dengan umur kehamilan 8 minggu. Penderita datang ke Rumah Sakit Umum Dr. Moewardi dengan keluhan perdarahan dari jalan lahir berupa flek-flek sejak 1 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan ginekologi dengan Vaginal Toucher didapatkan portio lunak, slinger pain (+), corpus uteri sebesar ayam kampung, darah (+),cavum douglasi menonjol. Pada pemeriksaan USG didapatkan kesan menyokong gambaran kehamilan ektopik. Kata kunci : kehamilan ektopik

BAB I PENDAHULUAN . Kehamilan ektopik adalah suatu komplikasi dalam kehamilan dimana ovum yang sudah dibuahi berimplantasi di jaringan lain selain dinding uterus. Kebanyakan kehamilan ektopik terjadi pada tuba falopii (sehingga disebut kehamilan tuba). Implantasi dapat juga terjadi pada cervix, ovarium, dan abdomen. 1,2,3 Lebih dari 30 tahun, insidensi kehamilan ektopik telah meningkat secara dramatis di negara negara industri. Insidensi yang dilaporkan bervariasi antara 100 175 per 100.000 wanita berusia 15 44 tahun. Yang terpenting, pada kasus kehamilan ektopik tercatat 10% kasus dari seluruh kasus kehamilan yang berhubungan dengan kematian. 3,4 Penyebab paling utama gangguan transportasi hasil konsepsi pada tuba adalah infeksi alat genitalia interna, desakan dari luar tuba, operasi pada tuba falopii, kelainan kongenital alat reproduksi interna, migrasi intraperitoneal spermatozoa ataupun ovum, dan kelambatan implantasi. 5 Trias gejala dan tanda dari kehamilan ektopik adalah riwayat keterlambatan haid atau amenorrhea yang diikuti perdarahan abnormal (60-80%), nyeri abdominal atau pelvik (95%).6 Operasi pada kehamilan ektopik terganggu segera dilakukan setelah diagnosis dapat dipastikan. Bila diagnosis cepat ditegakkan umumnya prognosis baik, terutama bila cukup penyediaan darah dan fasilitas operasi serta narkose. 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI Kehamilan ektopik adalah suatu komplikasi dalam kehamilan dimana ovum yang sudah dibuahi berimplantasi di jaringan lain selain dinding uterus. Pada konsepsi yang normal, ovum dibuahi oleh sperma pada tuba falopii kemudain ovum yang sudah dbuahi tersebut akan bergerak sepanjang tuba menuju uterus sekitar 3 4 hari kemudian. Kebanyakan kehamilan ektopik terjadi pada tuba falopii (sehingga disebut kehamilan tuba). Kehamilan tuba dapat terjadi dikarenakan tuba falopii terhalang atau rusak dan tidak dapat dilewati oleh embrio. Implantasi dapat juga terjadi pada cervix, ovarium, dan abdomen. Fetus memproduksi suatu enzim yang memungkinkannya untuk berimplantasi pada berbagai macam jaringan, dan apabila fetus berimplantasi di tempat lain selain uterus maka dapat mengakibatkan kerusakan jaringan karena usaha dari fetus itu sendiri untuk mendapatkan suplai darah yang cukup. 1, 2, 3 B. EPIDEMIOLOGI Lebih dari 30 tahun, insidensi kehamilan ektopik telah meningkat secara dramatis di negara negara industri. Insidensi yang dilaporkan bervariasi antara 100 175 per 100.000 wanita berusia 15 44 tahun. Di Inggris, insidensi kehamilan ektopik bertambah dari 9,6 kasus per 1000 kehamilan (1991 1993) menjadi 11 kasus per kasus 1000 kehamilan (2000 2002). Peningkatan insidensi kehamilan ektopik bisa jadi merupakan cerminan dari meningkatnya kasus pada populasi penduduk ataupun bisa juga karena adanya pengembangan dari tes diagnosa yang lebih sensitif. Angka kejadian kehamilan ektopik pada wanita usia

35 - 44 tahun tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita usia 15 24 tahun. 8 Pada tahun 1992, di Amerika Serikat kejadian kehamilan ektopik sekitar 108.000, hampir 2% dari seluruh kehamilan. Yang terpenting, pada kasus kehamilan ektopik tercatat 10% kasus dari seluruh kasus kehamilan yang berhubungan dengan kematian. Insidensi kehamilan ektopik untuk wanita kulit berwarna lebih tinggi dalam setiap kategori umur dibandingkan dengan wanita berkulit putih. Sekitar 2 % dari kehamilan merupakan kehamilan ektopik. Kehamilan ektopik merupakan salah satu faktor penyebab kematian ibu, sekitar 9 % dan merupakan penyebab kematian terbanyak pada trimester pertama. 3,4 C. PEMBAGIAN KEHAMILAN EKTOPIK

Menurut lokasi : 1. Kehamilan abdominal (1,4 % - 15 %) a. Kehamilan abdominal primer (sangat jarang ditemukan) Terjadi apabila ovum dan spermatozoon bertemu dan bersatu di dalam satu tempat pada peritoneum dalam rongga perut dan juga kemudian berimplantasi di tempat tersebut, karena syarat syarat untuk implantasi kurang baik maka kehamilan berhenti dengan kematian mudigah disertai dengan perdarahan. b. Kehamilan abdominal sekunder Mudigah yang menjadi janin dapat meninggalkan tuba melalui ostium abdominalis atau melalui sobekan dinding tuba dan kemudian kantung janin melekat dalam rongga peritoneum, begitu juga plasenta berinsersi diluar tuba pada dinding belakang uterus, pada ligamentum latum, atau pada dinding panggul. Walaupun terjadi gangguan tetapi tidak menyebabkan meninggalnya mudigah dan vaskularisasi masih cukup untuk memungkinkan mudigah tumbuh terus. 2. 3. 4. Kehamilan ampula tuba (terbanyak sekitar 55 % - 80 %) Kehamilan isthmus tuba (12 % - 25 %) Kehamilan interstitial tuba Jarang terjadi hanya sekitar 1 2 % dari semua kehamilan tuba, ruptur terjadi pada kehamilan lebih tua bisa mencapai akhir bulan keempat (16 20 minggu), karena jaringan endometrium pada daerah ini lebih mampu untuk melebar. Karena ukuran yang meningkat dan implantasi endometrium parsial, kehamilan ektopik lanjut ini dapat salah didiagnosis sebagai kehamilan intrauterin karena perdarahan sangat banyak sehingga harus segera dioperasi jika tidak dapat menyebabkan kematian.

5.

Kehamilan ovarial (0,2 % - 0,5%) Terjadi apabila spermatozoon memasuki folikel de graaf yang baru saja pecah dan menyatukan diri dengan ovum yang masih tinggal dalam folikel. Nasib kehamilan ini ialah ovum yang dibuahi mati atau terjadi ruptur. Diagnosis ditegakkan atas dasar 4 kriteria dari Spiegelberg i. Tuba pada sisi kehamilan harus normal ii. Kantung janin harus terletak dalam ovarium iii. Kantung janin dihubungkan dengan uterus oleh ligamentum ovarii proprium iv. Jaringan ovarium yang nyata harus ditemukan dalam dinding kantung janin

6. 7. 8. 9. i. plasenta ii. iii. iv.

Kehamilan intraligamen Kehamilan cornu ( 2%) Kehamilan fimbriae (5% - 17%) Kehamilan servik (sangat jarang terjadi sekitar 0,03% - 0,2%) Kriteria Rubin (1911) untuk kehamilan servikal : Kelenjar serviks harus ditemukan di seberang tempat implantasi Tempat implantasi plasenta harus berada di bawah arteri uterina atau peritoneum viserale uterus Janin tidak boleh terdapat di daerah korpus uterus Implantasi plasenta di serviks harus kuat Kriteria Rubin sulit diterapkan secara klinis karena memerlukan histerektomi total untuk memastikannya. Kriteria klinis dari Paalman & McElin (1959) untuk kehamilan servikal, lebih dapat diterapkan secara klinis : i. ii. iii. Ostium uteri internum tertutup Ostium uteri eksternum terbuka sebagian Hasil konsepsi terletak di dalam endoserviks

iv. v. glass uterus)

Perdarahan uterus setelah fase amenorhea, tanpa disertai nyeri Serviks lunak, membesar, dapat lebih besar daripada fundus (hourKehamilan ektopik terbanyak dijumpai adalah kehamilan di tuba falopii (90% -97%) D. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO Fungsi tuba falopii pada alat reproduksi wanita sangat penting, yaitu: 1. Proses ovum pick up mechanism 2. Transportasi spermatozoa menuju ampula tuba sebagai tempat yang paling besar untuk terjadinya konsepsi. 3. Alat transportasi ovum menuju ampula tuba sehingga dapat terjadi konsepsi. 4. Tempat tumbuh kembangnya hasil konsepsi, dari bentuk zygot sampai blastula sehingga siap untuk melakukan implantasi. 5. Alat tempat transportasi hasil konsepsi menuju uterus sebagai tempat akhir implantasi dan tumbuh kembang sampai menjadi aterm. 5 Peningkatan insidensi dari kehamilan ektopik dihubungkan dengan 1. Meningkatnya kejadian PID (Pelvic Inflammatory Disease) dan kemajuan dalam penanganan penyakit ini 2. Penggunaan kontrasepsi misalnya IUD, ataupun kontrasepsi yang mengandung progesteron 3. Bertambahnya prosedur pembedahan untuk menangani penyakit pada tuba falopii, misalnya ligasi tuba, reanastomosis tuba 4. Bertambahnya penggunaan sterilisasi elektif 5. Berkembangnya teknik diagnosa 6. Paparan dietilstilbestrol 7. Riwayat Salpingitis, misalnya oleh karena infeksi Chlamydia 8. Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya

9. Penggunaan Agen induksi ovulasi 10. Adhesi peritubal yang terjadi setelah adanya abortus, infeksi puerperal, endometriosis 11. Riwayat infertilitas 12. Meningkatnya usia ibu hamil anak pertama 13. Inseminasi buatan 14. Hubungan sexual diusia muda dan berganti ganti pasangan 15. Merokok 16. Latihan fisik yang berat 3,8 Penyebab paling utama gangguan transportasi hasil konsepsi pada tuba adalah: 1. Infeksi alat genitalia interna, khususnya tuba falopii a. Infeksi STD akibat makin meningkatnya hubungan sexual pranikah. b. Infeksi asendens akibat penggunaan IUD.