lp perioperatif umum

70
LAPORAN PPENDAHULUAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF PENDAHULUAN Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hampir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan membahayakan bagi pasien. Maka tak heran jika seringkali pasien dan keluarganya menunjukkan sikap yang agak berlebihan dengan kecemasan yang mereka alami. Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan. Perawat mempunyai peranan yang sangat penting dalam setiap tindakan pembedahan baik pada masa sebelum, selama maupun setelah operasi. Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk mempersiapkan klien baik secara fisik maupun psikis. Tingkat keberhasilan pembedahan sangat tergantung pada setiap tahapan yang dialami dan saling ketergantungan antara tim kesehatan yang terkait (dokter bedah, dokter anstesi dan perawat)di samping peranan pasien yang kooperatif selama proses perioperatif Ada 3 faktor penting yang terkait dalam pembedahan, yaitu penyakit pasien, jenis pembedahan yang dilakukan dan pasien sendiri. Dari ketiga faktor tersebut faktor pasien merupakan hal yang paling penting, karena bagi penyakit

Upload: dinna-wahyu-saputri

Post on 03-Feb-2016

311 views

Category:

Documents


5 download

DESCRIPTION

Lp Perioperatif Umum

TRANSCRIPT

Page 1: Lp Perioperatif Umum

LAPORAN PPENDAHULUAN

KEPERAWATAN PERIOPERATIF

PENDAHULUAN

Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi

hampir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan

membahayakan bagi pasien. Maka tak heran jika seringkali pasien dan keluarganya

menunjukkan sikap yang agak berlebihan dengan kecemasan yang mereka alami.

Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing

yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala

macam prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan. Perawat mempunyai peranan

yang sangat penting dalam setiap tindakan pembedahan baik pada masa sebelum, selama

maupun setelah operasi. Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk

mempersiapkan klien baik secara fisik maupun psikis. Tingkat keberhasilan pembedahan

sangat tergantung pada setiap tahapan yang dialami dan saling ketergantungan antara tim

kesehatan yang terkait (dokter bedah, dokter anstesi dan perawat)di samping peranan

pasien yang kooperatif selama proses perioperatif

Ada 3 faktor penting yang terkait dalam pembedahan, yaitu penyakit pasien, jenis

pembedahan yang dilakukan dan pasien sendiri. Dari ketiga faktor tersebut faktor pasien

merupakan hal yang paling penting, karena bagi penyakit tersebut tidakan pembedahan

adalahhal yang baik/benar. Tetapi bagi pasien sendiri pembedahan mungkin merupakan

hal yang paling mengerikan yang pernah mereka alami. Mengingat hal terebut diatas,

maka sangatlah pentig untuk melibatkan pasien dalam setiap langkah-langkah

perioperatif. Tindakan perawatan perioperatif yang berkesinambungan dan tepat akan

sangat berpengaruh terhadap suksesnya pembedahan dan kesembuhan pasien.

Page 2: Lp Perioperatif Umum

KONSEP DASAR KEPERAWATAN PERIOPERATIF

Tindakan operasi atau pembedahan, baik elektif maupun kedaruratan adalah

peristiwa kompleks yang menegangkan. Kebanyakan prosedur bedah dilakukan di kamar

operasi rumah sakit, meskipun beberapa prosedur yang lebih sederhana tidak

memerlukan hospitalisasi dan dilakukan di klinik-klinik bedah dan unit bedah ambulatori.

Individu dengan masalah kesehatan yang memerlukan intervensi pembedahan mencakup

pula pemberian anastesi atau pembiusan yang meliputi anastesi lokal, regional atau

umum.

Sejalan dengan perkembangan teknologi yang kian maju. Prosedur tindakan

pembedahan pun mengalami kemajuan yang sagat pesat. Dimana perkembangan

teknologi mutakhir telah mengarahkan kita pada penggunaan prosedur bedah yang lebih

kompleks dengan penggunaan teknik-teknik bedah mikro (micro surgery techniques) atau

penggunaan laser, peralatan by Pass yang lebih canggih dan peralatan monitoring yang

kebih sensitif. Kemajuan yang sama juga ditunjukkan dalam bidang farmasi terkait

dengan penggunaan obat-obatan anstesi kerja singkat, sehingga pemulihan pasien akan

berjalan lebih cepat.? Kemajuan dalam bidang teknik pembedahan dan teknik anastesi

tentunya harus diikuti oleh peningkatan kemampuan masing-masing personel (terkait

dengan teknik dan juga komunikasi psikologis) sehingga outcome yang diharapkan dari

pasien bisa tercapai.

Perubahan tidak hanya terkait dengan hal-hal tersebut diatas. Namun juga diikuti

oleh perubahan pada pelayanan. Untuk pasien-pasien dengan kasus-kasus tertentu,

misalnya : hernia. Pasien dapat mempersiapkan diri dengan menjalani pemeriksaan

dignostik dan persiapan praoperatif lain sebelum masuk rumah sakit. Kemudian jika

waktu pembedahannya telah tiba, maka pasien bisa langsung mendatangi rumah sakit

untuk dilakukan prosedur pembedahan. Sehingga akan mempersingkat waktu perawatan

pasien di rumah sakit.

Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk

menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman

pembedahan pasien. Istilah perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencakup

Page 3: Lp Perioperatif Umum

tiga fase pengalaman pembedahan, yaitu preoperative phase, intraoperative phase dan

post operative phase. Masing- masing fase di mulai pada waktu tertentu dan berakhir

pada waktu tertentu pula dengan urutan peristiwa yang membentuk pengalaman bedah

dan masing-masing mencakup rentang perilaku dan aktivitas keperawatan yang luas yan

dilakukan oleh perawat dengan menggunakan proses keperawatan dan standar praktik

keperawatan. Disamping perawat kegiatan perioperatif ini juga memerlukan dukungan

dari tim kesehatan lain yang berkompeten dalam perawatan pasien sehingga kepuasan

pasien dapat tercapai sebagai suatu bentuk pelayanan prima.

Fase pra operatif dimulai ketika ada keputusan untuk dilakukan intervensi bedah

dan diakhiri ketika pasien dikirim ke meja operasi. Lingkup aktivitas keperawatan selama

waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien di tatanan klinik

ataupun rumah, wawancara pra operatif dan menyiapkan pasien untuk anstesi yang

diberikan dan pembedahan.

Fase intra operatif dimulai ketika pasien masuk atau dipindah ke instalasi bedah

dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Pada fase ini lingkup aktivitas

keperawatan mencakup pemasangan IV cath, pemberian medikasi intaravena, melakukan

pemantauan kondisi fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga

keselamatan pasien. Contoh : memberikan dukungan psikologis selama induksi anstesi,

bertindak sebagai perawat scrub, atau membantu mengatur posisi pasien d atas meja

operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesimetrisan tubuh.

Fase pasca operatif dimulai dengan masuknya pasien ke ruang pemulihan (recovery

room) dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah.

Lingkup aktivitas keperawaan mecakup renatang aktivitas yang luas selama periode ini.

Pada fase ini fokus pengkajian meliputi efek agen anstesi dan memantau fungsi vital serta

mencegah komplikasi. Aktivitas keprawatan kemudian berfokus pada peningkatan

penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, perawatan tindak lanjut dan rujukan

yang penting untuk penyembuhan dan rehabilitasi serta pemulangan

Page 4: Lp Perioperatif Umum

FASE PRAOPERATIF FASE INTRAOPERATIF FASE POSTOPERATIF

Pengkajian:

Rumah/Klinik:

1. Melakukan pengkajian perioperatif awal

2.Merencanakan metode penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan pasien

3.Melibatkan keluarga dalam wawancara.

4.Memastikan kelngkapan pemeriksaan pra operatif

5.Mengkaji kebutuhan klien terhadap transportasi dan perawatan pasca operatif

Unit Bedah :

1. Melengkapi pengkajian praoperatif

2.Koordianasi penyuluhan terhadap pasien dengan staf keperawatan lain.

3.Menjelaskan fase-fase dalam periode perioperatif dan hal-hal yang diperkirakan terjadi.

4.Membuat rencana asuhan keperawatan

Ruang Operasi :

1.Mengkaji tingkat kesadaran klien.

2.Menelaah ulang lembar? observasi pasien (rekam medis)

3.Mengidentifikasi pasien

4.Memastikan daerah pembedahan

Perencanaan :

1.Menentukan rencana asuhan

2.Mengkoordinasi pelayanan dan sumber-sumber yang sesuai (contoh: Tim Operasi)

Dukungan Psikologis :

1. Memberitahukan pada klien apa yang terjadi

2.Menentukan status? psikologis

3.Memberikan isyarat sebelumnya tentang rangsangan yang merugikan, seperti : nyeri.

4.Mengkomunikasikan status emosional pasien pada anggota tim kesehatan yang lain

yang berkaitan. Safety Managenent :

1. Atur posisi klien :

a. Kesejajaran fungsional

b.Pemajanan area pembedahan

Page 5: Lp Perioperatif Umum

c. Mempertahankan posisi sepanjang prosedur operasi

2. Memasang alat grounding ke pasien

3. Memberikan dukungan fisik

4. Memastikan bahwa jumlah spongs, jarum da instrumen tepat.

Pemantauan Fisiologis :

1. Melakukan balance cairan

2. Memantau kondisi cardiopulmonal

3. Pemantauan terhdap perubahan vital sign

Dukungan Psikologis (sebelum induksi dan bila pasien sadar)

1. Memberikan dukungan emosional pada pasien

2. Berdiri di dekat klien dan memberikan sentuhan selama prosedur induksi

3. Mengkaji status emosional klien

4. Mengkomunikasikan status emosional klien ?kepada tim kesehatan.

Penatalaksanaan Keperawatan :

1. Melakukan prosedur? keselamatan bagi klien

2. Mempertahankan lingkugan aseptik dan terkontrol

3. Mengelola sumber daya manusia secara efektif. Komunikasi dari Informasi Intra

operatif :

1. Menyebutkan nama pasien

2. Menjelaskan jenis pembedahan yang dilakukan

3. Menggambarkan faktor-faktor intraoperatif, meliputi pemasangan drain atau kateter,

kekambuhan peristiwa-peristiwa yang tidak diperkirakan.

4. Menjelaskan pembatasan fisik dan keterbatasan fisik yang dialami pasien.

5. Menerangkan gangguan akibat pembedahan

6. Melaporkan tingkat kesadaran praoperatif klien

7. Mengkomunikasikan tentang peralatan yang diperlukan.

Pengkajian Pasca operatif di Rocovery Room :

1Menentukan respon segera pasien terhadap pembedahan

Unit Bedah :

1. Mengevaluasi efektivitas dari asuhan keperawatan di ruang operasi.

2. Menentukan tingkat kepuasan pasien

Page 6: Lp Perioperatif Umum

3. Mengevaluasi produk-produk yang digunakan pada pasien di ruang operasi.

4. Menetukan status psikologi pasien

5. Membantu dalam perencanaan pemulangan

Rumah/Klinik :

1. Kaji persepsi pasien tentang pembedahan dalam kaitannya dengan agen anastesi,

damapak pada citra tubuh, penyimpangan dan immobilisasi

2. Tentkan persepsi keluarga tentang pembedahan.

PEMBEDAHAN : INDIKASI DAN KLASIFIKASI

Tindakan pembedahan dilakukan dengan berbagai indikasi, diantaranya adalah :

1. Diagnostik : biopsi atau laparotomi eksplorasi

2. Kuratif : Eksisi tumor atau mengangakat apendiks yang mengalami inflamasi

3. Reparatif : Memperbaiki luka multipel

4. Rekonstruktif/Kosmetik : mammoplasty, atau bedah platik

5. Palliatif : seperti menghilangkan nyeri atau memperbaiki masalah, contoh :

pemasangan selang gastrostomi yang dipasang untuk mengkomponsasi terhadap

ketidakmampuan menelan makanan.

Menurut urgensi dilakukan tindakan pembedahan, maka tindakan pembedahan dapat

diklasifikasikan menjadi 5 tingkatan, yaitu :

1. Kedaruratan/Emergency

Pasien membutuhkan perhatian segera, gangguan mungkin mengancam jiwa. Indikasi

dilakukan pembedahan tanpa di tunda. Contoh : perdarahan hebat, obstruksi kandung

kemih atau usus, fraktur tulang tengkorak, luka tembak atau tusuk, luka bakar sanagat

luas.

2. Urgen

Pasien membutuhkan perhatian segera. Pembedahan dapat dilakukan dalam 24-30 jam.

Contoh : infeksi kandung kemih akut, batu ginjal atau batu pada uretra.

3. Diperlukan

Pasien harus menjalani pembedahan. Pembedahan dapat direncanakan dalam bebeapa

minggu atau bulan. Contoh : Hiperplasia prostat tanpa obstruksi kandung kemih.

Gangguan tyroid, katarak.

Page 7: Lp Perioperatif Umum

4. Elektif

Pasien harus dioperasi ketika diperlukan. Indikasi pembedahan, bila tidak dilakukan

pembedahan maka idak terlalu membahayakan. Contoh : perbaikan Scar, hernia

sederhana, perbaikan vaginal.

5. Pilihan

Keputusan tentang dilakukan pembedahan diserahkan sepenuhnya pada pasien. Indikasi

pembedahan merupakan pilihan pribadi dan biasanya terkait dengan estetika. Contoh :

bedah kosmetik.

Sedangkan menurut faktor resikonya, tindakan pembedahan di bagi menjadi :

1. Minor

Menimbulkan trauma fisik yang minimal dengan resiko kerusakan yang minim. Contoh :

incisi dan drainage kandung kemih, sirkumsisi

2. Mayor

Menimbulkan trauma fisik yang luas, resiko kematian sangat serius. Contoh : Total

abdominal histerektomi, reseksi colon, dll.

TAHAPAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF

Keperawatan perioperatif dibagi menjadi 3 tahapan, yaitu :

a. Keperawatan Pre Operatif

b. Keperawatan Intra Operatif

c. Keperawatan Post Operatif

KEPERAWATAN PRE OPERATIF

________________________________________________________________________

_____

A. PENDAHULAN

Keperawatan pre operatif merupakan tahapan awal dari keperawatan perioperatif.

Kesuksesan tindakan pembedahan secara keseluruhan sangat tergantung pada fase ini.

Hal ini disebabkan fase ini merupakan awalan yang menjadi landasan untuk kesuksesan

tahapan-tahapan berikutnya. Kesalahan yang dilakukan pada tahap ini akan berakibat

fatal pada tahap berikutnya. Pengakajian secara integral dari fungsi pasien meliputi fungsi

fisik biologis dan psikologis sangat diperlukan untuk keberhasilan dan kesuksesan suatu

operasi.

Page 8: Lp Perioperatif Umum

B. PERSIAPAN KLIEN DI UNIT PERAWATAN

I. PERSIAPAN FISIK

Persiapan fisik pre operasi yang dialami oleh pasien dibagi dalam 2 tahapan, yaitu :

a. Persiapan di unit perawatan

b. Persiapan di ruang operasi

Berbagai persiapan fisik yang harus dilakukan terhadap pasien sebelum operasi antara

lain :

a. Status kesehatan fisik secara umum

Sebelum dilakukan pembedahan, penting dilakukan pemeriksaan status kesehatan

secara umum, meliputi identitas klien, riwayat penyakit seperti kesehatan masa lalu,

riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik lengkap, antara lain status hemodinamika,

status kardiovaskuler, status pernafasan, fungsi ginjal dan hepatik, fungsi endokrin,

fungsi imunologi, dan lain-lain. ?Selain itu pasien harus istirahat yang cukup, karena

dengan istirahat dan tidur yang cukup pasien tidak akan mengalami stres fisik, tubuh

lebih rileks sehingga bagi pasien yang memiliki riwayat hipertensi, tekanan darahnya

dapat stabil dan bagi pasien wanita tidak akan memicu terjadinya haid lebih awal.

b. Status Nutrisi

Kebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan,

lipat kulit trisep, lingkar lengan atas, kadar protein darah (albumin dan globulin) dan

keseimbangan nitrogen. Segala bentuk defisiensi nutrisi harus di koreksi sebelum

pembedahan untuk memberikan protein yang cukup untuk perbaikan jaringan. Kondisi

gizi buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami berbagai komplikasi pasca operasi

dan mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dirawat di rumah sakit. Komplikasi yang

paling sering terjadi adalah infeksi pasca operasi, dehisiensi (terlepasnya jahitan sehingga

luka tidak bisa menyatu), demam dan penyembuhan luka yang lama. Pada kondisi yang

serius pasien dapat mengalami sepsis yang bisa mengakibatkan kematian.

c. Keseimbangan cairan dan elektrolit

Balance cairan perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan input dan output

cairan. Demikaian juga kadar elektrolit serum harus berada dalam rentang normal. Kadar

elektrolit yang biasanya dilakuakan pemeriksaan diantaranya dalah kadar natrium serum

(normal : 135 -145 mmol/l), kadar kalium serum (normal : 3,5 ? 5 mmol/l) dan kadar

Page 9: Lp Perioperatif Umum

kreatinin serum (0,70 ? 1,50 mg/dl). Keseimbangan cairan dan elektrolit terkait erat

dengan fungsi ginjal. Dimana ginjal berfungsi mengatur mekanisme asam basa dan

ekskresi metabolit obat-obatan anastesi. Jika fungsi ginjal baik maka operasi dapat

dilakukan dengan baik. Namun jika ginjal mengalami gangguan seperti oliguri/anuria,

insufisiensi renal akut, nefritis akut maka operasi harus ditunda menunggu perbaikan

fungsi ginjal. Kecuali pada kasus-kasus yang mengancam jiwa.

d. Kebersihan lambung dan kolon

Lambung dan kolon harus di bersihkan terlebih dahulu. Intervensi keperawatan

yang bisa diberikan diantaranya adalah pasien dipuasakan dan dilakukan tindakan

pengosongan lambung dan kolon dengan tindakan enema/lavement. Lamanya puasa

berkisar antara 7 sampai 8 jam (biasanya puasa dilakukan mulai pukul 24.00 WIB).

Tujuan dari pengosongan lambung dan kolon adalah untuk menghindari aspirasi

(masuknya cairan lambung ke paru-paru) dan menghindari kontaminasi feses ke area

pembedahan sehingga menghindarkan terjadinya infeksi pasca pembedahan. Khusus pada

pasien yang menbutuhkan operasi CITO (segera), seperti pada pasien kecelakaan lalu

lintas. Maka pengosongan lambung dapat dilakukan dengan cara pemasangan NGT (naso

gastric tube).

e. Pencukuran daerah operasi

Pencukuran pada daerah operasi ditujukan untuk menghindari terjadinya infeksi

pada daerah yang dilakukan pembedahan karena rambut yang tidak dicukur dapat

menjadi tempat bersembunyi kuman dan juga mengganggu/menghambat proses

penyembuhan dan perawatan luka. Meskipun demikian ada beberapa kondisi tertentu

yang tidak memerlukan pencukuran sebelum operasi, misalnya pada pasien luka incisi

pada lengan. Tindakan pencukuran (scheren) harus dilakukan dengan hati-hati jangan

sampai menimbulkan luka pada daerah yang dicukur. Sering kali pasien di berikan

kesempatan untuk mencukur sendiri agar pasien merasa lebih nyaman.

Daeran yang dilakukan pencukuran tergantung pada jenis operasi dan daerah yang akan

dioperasi. Biasanya daerah sekitar alat kelamin (pubis) dilakukan pencukuran jika yang

dilakukan operasi pada daerah sekitar perut dan paha. Misalnya : apendiktomi,

herniotomi, uretrolithiasis, operasi pemasangan plate pada fraktur femur,

hemmoroidektomi. Selain terkait daerah pembedahan, pencukuran pada lengan juga

Page 10: Lp Perioperatif Umum

dilakukan pada pemasangan infus sebelum pembedahan.

f. Personal Hygine

Kebersihan tubuh pasien sangat penting untuk persiapan operasi karena tubuh

yang kotor dapat merupakan sumber kuman dan dapat mengakibatkan infeksi pada

daerah yang dioperasi. Pada pasien yang kondisi fisiknya kuat diajurkan untuk mandi

sendiri dan membersihkan daerah operasi dengan lebih seksama. Sebaliknya jika pasien

tidak mampu memenuhi kebutuhan personal hygiene secara mandiri maka perawat akan

memeberikan bantuan pemenuhan kebutuhan personal hygiene.

g. Pengosongan kandung kemih

Pengosongan kandung kemih dilakukan dengan melakukan pemasangan kateter.

Selain untuk pengongan isi bladder tindakan kateterisasi juga diperluka untuk

mengobservasi balance cairan.

h. Latihan Pra Operasi

Berbagai latihan sangat diperlukan pada pasien sebelum operasi, hal ini sangat

penting sebagai persiapan pasien dalam menghadapi kondisi pasca operasi, seperti : nyeri

daerah operasi, batuk dan banyak lendir pada tenggorokan.

Latihan yang diberikan pada pasien sebelum operasi antara lain :

1. Latihan nafas dalam

2. Latiihan batuk efektif

3. latihan gerak sendi

1. Latihan Nafas Dalam

Latihan nafas dalam sangat bermanfaat bagi pasien untuk mengurangi nyeri setelah

operasi dan dapat membantu pasien relaksasi sehingga pasien lebih mampu beradaptasi

dengan nyeri dan dapat meningkatkan kualitas tidur. Selain itu teknik ini juga dapat

meningkatkan ventilasi paru dan oksigenasi darah setelah anastesi umum. Dengan

melakukan latihan tarik nafas dalam secara efektif dan benar maka pasien dapat segera

mempraktekkan hal ini segera setelah operasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan

pasien.

Latihan nafas dalam dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

-Pasien tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk (semifowler) dengan lutut ditekuk

dan perut tidak boleh tegang.

Page 11: Lp Perioperatif Umum

Letakkan tangan diatas perut

Hirup udara sebanyak-banyaknya dengan menggunakan hidung dalam kondisi mulut

tertutup rapat.

Tahan nafas beberapa saat (3-5 detik) kemudian secara perlahan-lahan, udara dikeluarkan

sedikit demi sedikit melalui mulut.

Lakukan hal ini berulang kali (?15 kali)

Lakukan latihan dua kali sehari praopeartif.

2. Latihan Batuk Efektif

Latihan batuk efektif juga sangat diperlukan bagi klien terutama klien yang

mengalami operasi dengan anstesi general. Karena pasien akan mengalami pemasangan

alat bantu nafas selama dalam kondisi teranstesi. Sehingga ketika sadar pasien akan

mengalami rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Dengan terasa banyak lendir kental di

tenggorokan. Latihan batuk efektif sangat bermanfaat bagi pasien setalah operasi untuk

mengeluarkan lendir atau sekret tersebut.

Pasien dapat dilatih melakukan teknik batuk efektif dengan cara :

Pasien condong ke depan dari posisi semifowler, jalinkan jari-jari tangan dan letakkan

melintang diatas incisi sebagai bebat ketika batuk.

Kemudian pasien nafas dalam seperti cara nafas dalam (3-5 kali)

Segera lakukan batuk spontan, pastikan rongga pernafasan terbuka dan tidak hanya

batuk dengan mengadalkan kekuatan tenggorokan saja karena bisa terjadi luka pada

tenggorokan.

Hal ini bisa menimbulkan ketidaknyamanan, namun tidak berbahaya terhadap incisi.

Ulangi lagi sesuai kebutuhan.

Jika selama batuk daerah operasi terasa nyeri, pasien bisa menambahkan dengan

menggunakan bantal kecil atau gulungan handuk yang lembut untuk menahan daerah

operasi dengan hati-hati sehingga dapat mengurangi guncangan tubuh saat batuk.

3. Latihan Gerak Sendi

Latihan gerak sendi merupakan hal sangat penting bagi pasien sehingga setelah

operasi, pasien dapat segera melakukan berbagai pergerakan yang diperlukan untuk

mempercepat proses penyembuhan.

Pasien/keluarga pasien seringkali mempunyai pandangan yang keliru tentang pergerakan

Page 12: Lp Perioperatif Umum

pasien setalah operasi. Banyak pasien yang tidak berani menggerakkan tubuh karena

takut jahitan operasi sobek atau takut luka operasinya lama sembuh. Pandangan seperti

ini jelas keliru karena justru jika pasien selesai operasi dan segera bergerak maka pasien

akan lebih cepat merangsang usus (peristaltik usus) sehingga pasien akan lebih cepat

kentut/flatus. Keuntungan lain adalah menghindarkan penumpukan lendir pada saluran

pernafasan dan terhindar dari kontraktur sendi dan terjadinya dekubitus. Tujuan lainnya

adalah memperlancar sirkulasi untuk mencegah stasis vena dan menunjang fungsi

pernafasan optimal. Intervensi ditujukan pada perubahan posisi tubuh dan juga Range of

Motion (ROM). Latihan perpindahan posisi dan ROM ini pada awalnya dilakukan secara

pasif namun kemudian seiring dengan bertambahnya kekuatan tonus otot maka pasien

diminta melakukan secara mandiri.

Status kesehatn fisik merupakan faktor yang sangat penting bagi pasien yang akan

mengalami pembedahan, keadaan umum yang baik akan mendukungh dan

mempengaruhi proses penyembuhan. Sebaliknya, berbagai kondisi fisiologis dapat

mempengaruhi proses pembedahan. Demikian juga faktor usis/penuaan dapat

mengakibatkan komplikasi dan merupakan faktor resiko pembedahan. Oleh karena itu

sangatlah penting untuk mempersiapkan fisik pasien sebelum dilakukan

pembedahan/operasi.

Faktor resiko terhadap pembedahan antara lain :

1. Usia

Pasien dengan usia yang terlalu muda (bayi/anak-anak) dan usia lanjut

mempunyai resiko lebih besar. Hal ini diakibatkan cadangan fisiologis pada usia tua

sudah sangat menurun . sedangkan pada bayi dan anak-anak disebabkan oleh karena

belum matur-nya semua fungsi organ.

2. Nutrisi

Kondisi malnutris dan obesitas/kegemukan lebih beresiko terhadap pembedahan

dibandingakan dengan orang normal dengan gizi baik terutama pada fase penyembuhan.

Pada orang malnutisi maka orang tersebut mengalami defisiensi nutrisi yang sangat

diperlukan untuk proses penyembuhan luka. Nutrisi-nutrisi tersebut antara lain adalah

protein, kalori, air, vitamin C, vitamin B kompleks, vitamin A, Vitamin K, zat besi dan

seng (diperlukan untuk sintesis protein).

Page 13: Lp Perioperatif Umum

Pada pasien yang mengalami obesitas. Selama pembedahan jaringan lemak,

terutama sekali sangat rentan terhadap infeksi. Selain itu, obesitas meningkatkan

permasalahan teknik dan mekanik. Oleh karenanya dehisiensi dan infeksi luka, umum

terjadi. Pasien obes sering sulit dirawat karena tambahan beraat badan; pasien bernafas

tidak optimal saat berbaaring miring dan karenanya mudah mengalami hipoventilasi dan

komplikasi pulmonari pascaoperatif. Selain itu, distensi abdomen, flebitis dan

kardiovaskuler, endokrin, hepatik dan penyakit biliari terjadi lebih sering pada pasien

obes.

3. Penyakit Kronis

Pada pasien yang menderita penyakit kardiovaskuler, diabetes, PPOM, dan

insufisiensi ginjal menjadi lebih sukar terkait dengan pemakian energi kalori untuk

penyembuhan primer. Dan juga pada penyakit ini banyak masalah sistemik yang

mengganggu sehingga komplikasi pembedahan maupun pasca pembedahan sangat tinggi.

4. Ketidaksempurnaan respon neuroendokrin

Pada pasien yang mengalami gangguan fungsi endokrin, seperti dibetes mellitus

yang tidak terkontrol, bahaya utama yang mengancam hidup pasien saat dilakukan

pembedahan adalah terjadinya hipoglikemia yang mungkin terjadi selama pembiusan

akibat agen anstesi. Atau juga akibat masukan karbohidrat yang tidak adekuart pasca

operasi atau pemberian insulin yang berlebihan. Bahaya lain yang mengancam adalah

asidosis atau glukosuria. Pasien yang mendapat terapi kortikosteroid beresiko mengalami

insufisinsi adrenal. Pengguanaan oabat-obatan kortikosteroid harus sepengetahuan dokter

anastesi dan dokter bedahnya.

5. Merokok

Pasien dengan riwayat merokok biasanya akan mengalami gangguan vaskuler,

terutama terjadi arterosklerosis pembuluh darah, yang akan meningkatkan tekanan darah

sistemiknya.

6. Alkohol dan obat-obatan

Individu dengan riwayat alkoholic kronik seringkali menderita malnutrisi dan

masalah-masalah sistemik, sperti gangguan ginjal dan hepar yang akan meningkatkan

resiko pembedahan. Pada kasus kecelakaan lalu lintas yang seringkali dialami oleh

Page 14: Lp Perioperatif Umum

pemabuk. Maka sebelum dilakukan operasi darurat perlu dilakukan pengosongan

lambung untuk menghindari asprirasi dengan pemasangan NGT.

II. PERSIAPAN PENUNJANG

Persiapan penunjang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari tindakan

pembedahan. Tanpa adanya hasil pemeriksaan penunjang, maka dokter bedah tidak

meungkin bisa menentukan tindakan operasi yang harus dilakukan pada pasien.

Pemeriksaan penunjang yang dimaksud adalah berbagai pemeriksaan radiologi,

laboratorium maupun pemeriksaan lain seperti ECG, dan lain-lain.

Sebelum dokter mengambil keputusan untuk melakukan operasi pada pasien, dokter

melakukan berbagai pemeriksaan terkait dengan keluhan penyakit pasien sehingga dokter

bisa menyimpulkan penyakit yang diderita pasien. Setelah dokter bedah memutuskan

untuk dilakukan operasi maka dokter anstesi berperan untuk menentukan apakan kondisi

pasien layak menjalani operasi. Untuk itu dokter anastesi juga memerlukan berbagai

macam pemrikasaan laboratorium terutama pemeriksaan masa perdarahan (bledding

time) dan masa pembekuan (clotting time) darah pasien, elektrolit serum, Hemoglobin,

protein darah, dan hasil pemeriksaan radiologi berupa foto thoraks dan EKG.

Dibawah ini adalah berbagai jenis pemeriksaan penunjang yang sering dilakukan pada

pasien sebelum operasi (tidak semua jenis pemeriksaan dilakukan terhadap pasien,

namun tergantung pada jenis penyakit dan operasi yang dijalani oleh pasien).

Pemeriksaan penunjang antara lain :

a. Pemeriksaan Radiologi dan diagnostik, seperti : Foto thoraks, abdomen, foto tulang

(daerah fraktur), USG (Ultra Sono Grafi), CT scan (computerized Tomography Scan) ,

MRI (Magnrtic Resonance Imagine), BNO-IVP, Renogram, Cystoscopy, Mammografi,

CIL (Colon in Loop), EKG/ECG (Electro Cardio Grafi), ECHO, EEG (Electro

Enchephalo Grafi), dll.

b. Pemeriksaan Laboratorium, berupa pemeriksan darah : hemoglobin, angka leukosit,

limfosit, LED (laju enap darah), jumlah trombosit, protein total (albumin dan globulin),

elektrolit (kalium, natrium, dan chlorida), CT ?BT, ureum kretinin, BUN, dll.? Bisa juga

dilakukan pemeriksaan pada sumsun tulang jika penyakit terkaut dengan kelainan darah.

c. Biopsi, yaitu tindakan sebelum operasi berupa pengambilan bahan jaringan tubuh

untuk memastikan penyakit pasien sebelum operasi. Biopsi biasanya dilakukan untuk

Page 15: Lp Perioperatif Umum

memastikan apakah ada tumor ganas/jinak atau hanya berupa infeksi kronis saja.

d. Pemeriksaan Kadar Gula Darah (KGD)

Pemeriksaan KGD dilakukan untuk mengetahui apakah kadar gula darah pasien dalan

rentang normal atau tidak. Uji KGD biasanya dilakukan dengan puasa 10 jam (puasa jam

10 malam dan diambil darahnya jam 8 pagi)? dan juga dilakukan pemeriksaan KGD 2

jam PP (ppst prandial).

e. Dan lain-lain

PEMERIKSAAN STATUS ANASTESI

Pemeriksaaan status fisik untuk dilakukan pembiuasan dilakukan untuk

keselamatan selama pembedahan. Sebelum dilakukan anastesi demi kepentingan

pembedahan, pasien akan mengalami pemeriksaan status fisik yang diperlukan untuk

menilai sejauh mana resiko pembiusan terhadap diri pasien. Pemeriksaan yang biasa

digunakan adalah pemeriksaan dengan menggunakan metode ASA (American Society of

Anasthesiologist). Pemeriksaan ini dilakukan karena obat dan teknik anastesi pada

umumnya akan mengganggu fungsi pernafasan, peredaran darah dan sistem saraf. Berikut

adalah tabel pemeriksaan ASA.

ASA grade Status fisik Mortality (%)

I Tidak ada gangguan organik, biokimia dan psikiatri. Misal: penderita dengan herinia

ingunalis tanpa kelainan lain, orang tua sehat, bayi muda yang sehat 0,05

II Gangguan sistemik ringan sampai sedang yang bukan diseababkan oleh penyakit yang

akan dibedah. Misal: penderita dengan obesitas, penderita dengan bronkitis dan penderita

dengan diabetes mellitus ringan yang akan mengalami appendiktomi 0,4

III Penyakit sistemik berat; misalnya penderita diabetes mellitus dengan komplikasi

pembuluh darah dan datang dengan appendisitis akut. 4,5

IV Penyakit/gangguan sistemik berat yang menbahayakan jiwa yang tidak selalu dapat

diperbaiki dengan pembedahan, misalnya : insufisiensi koroner atau infark miokard 25

V Keadaan terminal dengan kemungkinan hidup kecil, pembedahan dilakukan sebagai

pilihan terakhir. Misal: penderita syok berat karena perdarahan akibat kehamilan di luar

rahim pecah. 50

INFORM CONSENT

Selain dilakukannya berbagai macam pemeriksaan penunjang terhadap pasien, hal

Page 16: Lp Perioperatif Umum

lain yang sangat penting terkait dengan aspek hukum dan tanggung jawab dan tanggung

gugat, yaitu Inform Consent. Baik pasien maupun keluarganya harus menyadari bahwa

tindakan medis, operasi sekecil apapun mempunyai resiko. Oleh karena itu setiap pasien

yang akan menjalani tindakan medis, wajib menuliskan surat pernyataan persetujuan

dilakukan tindakan medis (pembedahan dan anastesi).

Meskipun mengandung resiko tinggi tetapi seringkali tindakan operasi tidak dapat

dihindari dan merupakan satu-satunya pilihan bagi pasien. Dan dalam kondisi nyata,

tidak semua tindakan operasi mengakibatkan komplikasi yang berlebihan bagi klien.

Bahkan seringkali pasien dapat pulang kembali ke rumah dalam keadaan sehat tanpa

komplikasi atau resiko apapun segera setelah mengalami operasi. Tentunya hal ini terkait

dengan berbagai faktor seperti: kondisi nutrisi pasien yang baik, cukup istirahat,

kepatuhan terhadap pengobatan, kerjasama yang baik dengan perawat dan tim selama

dalam perawatan.

Inform Consent sebagai wujud dari upaya rumah sakit menjunjung tinggi aspek

etik hukum, maka pasien atau orang yang bertanggung jawab terhdap pasien wajib untuk

menandatangani surat pernyataan persetujuan operasi. Artinya apapun tindakan yang

dilakukan pada pasien terkait dengan pembedahan, keluarga mengetahui manfaat dan

tujuan serta segala resiko dan konsekuensinya. ?Pasien maupun keluarganya sebelum

menandatangani surat pernyataan tersut akan mendapatkan informasi yang detail terkait

dengan segala macam prosedur pemeriksaan, pembedahan serta pembiusan yang akan

dijalani. Jika petugas belum menjelaskan secara detail, maka pihak pasien/keluarganya

berhak untuk menanyakan kembali sampai betul-betul paham. Hal ini sangat penting

untuk dilakukan karena jika tidak meka penyesalan akan dialami oleh pasien/keluarga

setelah tindakan operasi yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan gambaran keluarga.

PERNYATAAN

PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIS/OPERASI NAMA PASIEN : (L/P)

No. RM :

UNIT RAWAT :

Saya yang bertnda tangan di bawah ini :

Nama : .................

Umur : .................. tahun

Page 17: Lp Perioperatif Umum

Jenis kelamin : ................

Alamat : .................

Suami/istri/ayah/ibu /keluarga dari pasien yang

bernama : ......................................................

1. Menyatakan SETUJU/TIDAK SETUJU bahwa pasien tersebut akan dilakukan

tindakan medis operasi dalam rangka penyembuhan pasien.

2. Saya mengerti dan memahami tujuan serta resiko/komplikasi yang mungkin terjadi

dari tindakan medis/operasi yang dilakukan terhadap pasien dan oleh karena itu bila

terjadi sesuatu diluar kemapuan dokter sebagai manusia dan dalam batas-batas etik

kedokteran sehingga terjadi kematian/kecacatan pada pasien maka saya tidak akan

menuntut siapapun baik dokter maupun Rumah Sakit.

3. Saya juga menyetujui dilakukannya tindakan pembiusan baik lokal maupun umum

dalam kaitannya dengan tindakan medis/operasi tersebut. Saya juga mengerti dan

memahami tujuan dan kemungkinan resiko akibat pembiusan yang dapat terjadi sehingga

bila terjadi sesuatu diluar kemampuan dokter sebagai manusia ddan dalam batas-batas

etik kedokteran sehingga terjadi kematian/kecacatan pada pasien maka saya tidak akan

menuntut siapapun baik dokter maupu Rumah sakit.

Yogyakarta, ........................2007

Mengetahui,

Saya yang menyatakan,

Dokter yang merawat, Suami/istri/ayah/ibu /keluarga

____________________________________________________

(tanda tangan dan nama lengkap) (tanda tangan dan nama lengkap)

Saksi dari Rumah Sakit, Saksi dari keluarga,

_____________________________________________________

(tanda tangan dan nama lengkap) (tanda tangan dan nama lengkap)

coret yang tidak perlu ٭

Page 18: Lp Perioperatif Umum

III. PERSIAPAN MENTAL/PSIKIS

Persiapan mental merupakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam proses

persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat berpengaruh

terhadap kondisi fisiknya.

Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial maupun aktual pada

integeritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stres fisiologis maupun

psikologis(Barbara C. Long)

Contoh perubahan fisiologis yang muncul akibat kecemasan/ketakutan antara lain:

1. Pasien dengan riwayat hipertensi jika mengalami kecemasan sebelum operasi dapat

mengakibatkan pasien sulit tidur dan tekanan darahnya akan meningkat sehingga operasi

bisa dibatalkan.

2. Pasien wanita yang terlalu cemas menghadapi operasi dapat mengalami menstruasi

lebih cepat dari biasanya, sehingga operasi terpaksa harus ditunda

Setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi pengalaman

operasi sehingga akan memberikan respon yang berbeda pula, akan tetapi sesungguhnya

perasaan takut dan cemas selalu dialami setiap orang dalam menghadapi pembedahan.

Berbagai alasan yang dapat menyebabkan ketakutan/kecemasan pasien dalam

menghadapi pembedahan antara lain :

a. Takut nyeri setelah pembedahan

b. Takut terjadi perubahan fisik, menjadi buruk rupa dan tidak berfungsi normal (body

image)

c. Takut keganasan (bila diagnosa yang ditegakkan belum pasti)

d. Takut/cemas mengalami kondisi yang dama dengan orang lan yang mempunyai

penyakit yang sama.

e. Takut/ngeri menghadapi ruang operasi, peralatan pembedahan dan petugas.

f. Takut mati saat dibius/tidak sadar lagi.

g. Takut operasi gagal.

Ketakutan dan kecemasan yang mungkin dialami pasien dapat dideteksi dengan

adanya perubahan-perubahan fisik seperti : meningkatnya frekuensi nadi dan pernafasan,

Page 19: Lp Perioperatif Umum

gerakan-gerakan tangan yang tidak terkontrol, telapak tangan yang lembab, gelisah,

menayakan pertanyaan yang sama berulang kali, sulit tidur, sering berkemih. Perawat

perlu mengkaji mekanisme koping yang biasa digunakan oleh pasien dalam menghadapi

stres. Disamping itu perawat perlu mengkaji hal-hal yang bisa digunakan untuk

membantu pasien dalam menghadapi masalah ketakutan dan kecemasan ini, seperti

adanya orang terdekat, tingkat perkembangan pasien, faktor pendukung/support system.

Untuk mengurangi dan mengatasi kecemasan pasien, perawat dapat menanyakan hal-hal

yang terkait dengan persiapan operasi, antara lain :

• Pengalaman operasi sebelumnya

• Pengertian pasien tentang tujuan/alasan tindakan operasi

• Pengetahuan pasien tentang persiapan operasi baik fisik maupun penunjang.

• Pengetahuan pasien tentang situasi/kondisi kamar operasi dan petugas kamar operasi.

• Pengetahuan pasien tentang prosedur (pre, intra, post operasi)

• Pengetahuan tentang latihan-latihan yang harus dilakukan sebelum operasi dan harus

dijalankan setalah operasi, seperti : latihan nafas dalam, batuk efektif, ROM, dll.

Persiapan mental yang kurang memadai dapat mempengaruhi pengambilan keputusan

pasien dan keluarganya. Sehingga tidak jarang pasien menolak operasi yang sebelumnya

telah disetujui dan biasanya pasien pulang tanpa operasi dan beberapa hari kemudian

datang lagi ke rumah sakit setalah merasa sudah siap dan hal ini berarti telah menunda

operasi yang mestinya sudah dilakukan beberapa hari/minggu yang lalu. Oleh karena itu

persiapan mental pasien menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan didukung oleh

keluarga/orang terdekat pasien.

Persiapan mental dapat dilakukan dengan bantuan keluarga dan perawat. Kehadiran dan

keterlibatan keluarga sangat mendukung persiapan mental pasien. Keluarga hanya perlu

mendampingi pasien sebelum operasi, memberikan doa dan dukungan pasien dengan

kata-kata yang menenangkan hati pasien dan meneguhkan keputusan pasien untuk

menjalani operasi.

Peranan perawat dalam memberikan dukungan mental dapat dilakukan dengan berbagai

cara:

1. Membantu pasien mengetahui tentang tindakan-tindakan yang dialami pasien sebelum

operasi, memberikan informasi pada pasien tentang waktu operasi, hal-hal yang akan

Page 20: Lp Perioperatif Umum

dialami oleh pasien selama proses operasi, menunjukkan tempat kamar operasi, dll.

Dengan mengetahui berbagai informasi selama operasi maka diharapkan pasien mejadi

lebih siap menghadapi operasi, meskipun demikian ada keluarga yang tidak menghendaki

pasien mengetahui tentang berbagai hal yang terkait dengan operasi yang akan dialami

pasien.

2. Memberikan penjelasan terlebih dahulu sebelum setiap tindakan persiapan operasi

sesuai dengan tingkat perkembangan. Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas.

Misalnya: jika pasien harus puasa, perawat akan menjelaskan kapan mulai puasa dan

samapai kapan, manfaatnya untuk apa, dan jika diambil darahnya, pasien perlu diberikan

penjelasan tujuan dari pemeriksaan darah yang dilakukan, dll. Diharapkan dengan

pemberian informasi yang lengkap, kecemasan yang dialami oleh pasien akan dapat

diturunkan dan mempersiapkan mental pasien dengan baik

3. Memberi kesempatan pada pasien dan keluarganya untuk menanyakan tentang segala

prosedur yang ada. Dan memberi kesempatan pada pasien dan keluarga untuk berdoa

bersama-sama sebelum pasien di antar ke kamar operasi.

4. Mengoreksi pengertian yang saah tentang tindakan pembedahan dan hal-hal lain

karena pengertian yang salah akan menimbulkan kecemasan pada pasien.

5. Kolaborasi dengan dokter terkait dengan pemberian obat pre medikasi, seperti valium

dan diazepam tablet sebelum pasien tidur untuk menurunkan kecemasan dan pasien dapat

tidur sehingga kebutuhan istirahatnya terpenuhi.

Pada saat pasien telah berada di ruang serah terima pasien di kamar operasi, petugas

kesehatan di situ akan memperkenalkan diri sehingga membuat pasien merasa lebih

tenang. Untuk memberikan ketenangan pada pasien, keluarga juga diberikan kesempatn

untuk mengantar pasien samapi ke batas kamar operasi dan diperkenankan untuk

menunggu di ruang tunggu yang terletak di depan kamar operasi.

OBAT-OBATAN PRE MEDIKASI

Sebelum operasi dilakukan pada esok harinya. Pasien akan diberikan obat-obatan

permedikasi untuk memberikan kesempatan pasien mendapatkan waktu istirahat yang

cukup. Obat-obatan premedikasi yang diberikan biasanya adalah valium atau diazepam.

Antibiotik profilaksis biasanya di berikan sebelum pasien di operasi. Antibiotik

profilaksis yang diberikan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya infeksi selama

Page 21: Lp Perioperatif Umum

tindakan operasi, antibiotika profilaksis biasanya di berikan 1-2 jam sebelum operasi

dimulai dan dilanjutkan pasca beda 2- 3 kali. Antibiotik yang dapat diberikan adalah

ceftriakson 1gram dan lain-lain sesuai indikasi pasien.

C. PERSIAPAN PASIEN DI KAMAR OPERASI

Persiapan operasi dilakukan terhadap pasien dimulai sejak pasien masuk ke ruang

perawatan sampai saat pasien berada di kamar operasi sebelum tindakan bedah dilakukan.

Persiapan di ruang serah terima diantaranya adalah prosedur administrasi, persiapan

anastesi dan kemudian prosedur drapping.

Di dalam kamar operasi persiapan yang harus dilakukan terhdap pasien yaitu

berupa tindakan drapping yaitu penutupan pasien dengan menggunakan peralatan alat

tenun (disebut : duk) steril dan hanya bagian yang akan di incisi saja yang dibiarkan

terbuka dengan memberikan zat desinfektan seperti povide iodine 10% dan alkohol 70%.

Prinsip tindakan drapping adalah:

• Seluruh anggota tim operasi harus bekerja sama dalam pelaksanaan prosedur drapping.

• Perawat yang bertindak sebagai instrumentator harus mengatahui dengan baik dan benar

prosedur dan prinsip-prinsip drapping.

• Sebelum tindakan drapping dilakukan, harus yakin bahwa sarung tangan tang

digunakan steril dan tidak bocor.

• Pada saat pelaksanaan tindakan drapping, perawat bertindak sebagai omloop harus

berdiri di belakang instrumentator untuk mencegah kontaminasi.

• Gunakan duk klem pada setiap keadaaan dimana alat tenun mudah bergeser.

• Drape yang terpasang tidak boleh dipindah-pindah sampai operasi selesai dan harus di

jaga kesterilannya.

• Jumlah lapisan penutup yang baik minimal 2 lapis, satu lapis menggunkan kertas water

prof atau plastik steril dan lapisan selanjutnya menggunakan alat tenun steril.

Teknik Drapping :

• Letakkan drape di tempat yang kering, lantai di sekitar meja operasi harus kering

• Jangan memasang drape dengan tergesa-gesa, harus teliti dan memepertahankan prinsip

steril

• Pertahankan jarak antara daerah steril dengan daerah non steril

Page 22: Lp Perioperatif Umum

• Pegang drape sedikit mungkin

• Jangan melintasi daerah meja operasi yang sudah terpasang drape/alat tenun steril tanpa

perlindungan gaun operasi.

• Jaga kesterilan bagian depan gaun operasi, berdiri membelakangi daerah yang tidak

steril.

• Jangan melempar drape terlalu tinggi saat memasang drape (hati-hati menyentuh lampu

operasi)

• Jika alat tenun yang akan dipasang terkontaminasi. Maka perawat omloop bertugas

menyingkirkan alat tenun tersebut.

• Hindari tangan yang sudah steril menyentuh daerah kulit pasien yang belum tertutup.

• Setelah semua lapisan alat tenun terbentang dari kaki sampai bagian kepala meja

operasi, jangan menyentuh hal-hal yang tidak perlu.

• Jika ragu-ragu terhdap kesterilan alat tenun, lebih baik alat tenun tersebut dianggap

terkontaminasi.

Tindakan keperawatan pre operetif merupakan tindakan yang dilakukan oleh perawat

dalam rangka mempersiapkan pasien untuk dilakukan tindakan pembedahan dengan

tujuan untuk menjamin keselamatan pasien intraoperatif. Persiapan fisik maupun

pemeriksaan penunjang serta pemeriksaan mental sangat diperlukan karena kesuksesan

suatu tindakan pembedahan klien berawal dari kesuksesan persiapan yang dilakukan

selama tahap persiapan.

Kesalahan yang dilakukan pada saat tindakan preoperatif apapun bentuknya dapat

berdampak pada tahap-tahap selanjutnya, untuk itu diperlukan kerjasama yang baik

antara masing-masing komponen yang berkompeten untuk menghasilkan outcome yang

optimal, yaitu kesembuhan pasien secara paripurna.

KEPERAWATAN INTRA OPERATIF

________________________________________________________________________

_____

A. PENDAHULUAN

Keperawatan intra operatif merupakan bagian dari tahapan keperawatan

perioperatif. Aktivitas yang dilakukan pada tahap ini adalah segala macam aktivitas yang

Page 23: Lp Perioperatif Umum

dilakukan oleh perawat di ruang operasi. Aktivitas di ruang operasi oleh perawat

difokuskan pada pasien yang menjalani prosedur pembedahan untuk perbaikan, koreksi

atau menghilangkan masalah-masalah fisik yang mengganggu pasien. Tentunya pada saat

dilakukan pembedahan akan muncul permasalahan baik fisiologis maupun psikologis

pada diri pasien. Untuk itu keperawatan intra operatif tidak hanya berfokus pada masalah

fisiologis yang dihadapi oleh pasien selama operasi, namun juga harus berfokus pada

masalah psikologis yang dihadapi oleh pasien. Sehingga pada akhirnya akan

menghasilkan outcome berupa asuhan keperawatan yang terintegrasi.

Untuk menghasilkan hasil terbaik bagi diri pasien, tentunya diperlukan tenaga kesehatan

yang kompeten dan kerja sama yang sinergis antara masing-masing anggota tim. Secara

umum anggota tim dalam prosedur pembedahan ada tiga kelompok besar, meliputi

pertama, ahli anastesi dan perawat anastesi yang bertugas memberikan agen analgetik dan

membaringkan pasien dalam posisi yang tepat di meja operasi, kedua ahli bedah dan

asisten yang melakukan scrub dan pembedahan dan yang ketiga adalah perawat intra

operatif.

Perawat intra operatif bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan

(well being) pasien. Untuk itu perawat intra operatif perlu mengadakan koordinasi

petugas ruang operasi dan pelaksanaan perawat scrub dan pengaturan aktivitas selama

pembedahan. Peran lain perawat di ruang operasi adalah sebagai RNFA (Registered

Nurse First Assitant). Peran sebagai RNFA ini sudah berlangsung dengan baik di negara-

negara amerika utara dan eropa. Namun demikian praktiknya di indonesia masih belum

sepenuhnya tepat. Peran perawat sebagai RNFA diantaranya meliputi penanganan

jaringan, memberikan pemajanan pada daerah operasi, penggunaan instrumen, jahitan

bedah dan pemberian hemostatis.

Untuk menjamin perawatan pasien yang optimal selama pembedahan, informasi

mengenai pasien harus dijelaskan pada ahli anastesi dan perawat anastesi, serta perawat

bedah dan dokter bedahnya. Selain itu segala macam perkembangan yang berkaitan

dengan perawatan pasien di unit perawatan pasca anastesi (PACU) seperti perdarahan,

temuan yang tidak diperkirakan, permasalahan cairan dan elektrolit, syok, kesulitan

pernafasan harus dicatat, didokumentasikan dan dikomunikasikan dengan staff PACU.

B. PRINSIP-PRINSIP UMUM

Page 24: Lp Perioperatif Umum

a. Prinsip asepsis ruangan

Antisepsis dan asepsis adalah suatu usaha untuk agar dicapainya keadaan yang

memungkinkan terdapatnya kuman-kuman pathogen dapat dikurangi atau ditiadakan,

baik secara kimiawi, tindakan mekanis atau tindakan fisik. Termasuk dalam cakupan

tindakan antisepsis adalah selain alat-alat bedah, seluruh sarana kamar operasi, semua

implantat, alat-alat yang dipakai personel operasi (sandal, celana, baju, masker, topi dan

lain-lainnya) dan juga cara membersihkan/melakukan desinfeksi dari kulit/tangan

b. Prinsip asepsis personel

Teknik persiapan personel sebelum operasi meliputi 3 tahap, yaitu : Scrubbing

(cuci tangan steril), Gowning (teknik peggunaan gaun operasi), dan Gloving (teknik

pemakaian sarung tangan steril). Semua anggota tim operasi harus memahami konsep

tersebut diatas untuk dapat memberikan penatalaksanaan operasi secara asepsis dan

antisepsis sehingga menghilangkan atau? meminimalkan angka kuman. Hal ini

diperlukan untuk meghindarkan bahaya infeksi yang muncul akibat kontaminasi selama

prosedur pembedahan (infeksi nosokomial).

Disamping sebagai cara pencegahan terhadap infeksi nosokomial, teknik-teknik

tersebut juga digunakan untuk memberikan perlindungan bagi tenaga kesehatan terhadap

bahaya yang didapatkan akibat prosedur tindakan. Bahaya yang dapat muncul diantranya

penularan berbagai penyakit yang ditularkan melalui cairan tubuh pasien (darah, cairan

peritoneum, dll) seperti HIV/AIDS, Hepatitis dll.

c. Prinsip asepsis pasien

Pasien yang akan menjalani pembedahan harus diasepsiskan. Maksudnya adalah

dengan melakukan berbagai macam prosedur yang digunakan untuk membuat medan

operasi steril. Prosedur-prosedur itu antara lain adalah kebersihan pasien, desinfeksi

lapangan operasi dan tindakan drapping.

d. Prinsip asepsis instrumen

Instrumen bedah yang digunakan untuk pembedahan pasien harus benar-benar

berada dalam keadaan steril. Tindakan yang dapat dilakukan diantaranya adalah

perawatan dan sterilisasi alat, mempertahankan kesterilan alat pada saat pembedahan

dengan menggunakan teknik tanpa singgung dan menjaga agar tidak bersinggungan

dengan benda-benda non steril.

Page 25: Lp Perioperatif Umum

C. FUNGSI KEPERAWATAN INTRA OPERATIF

Selain sebagai kepala advokat pasien dalam kamar operasi yang menjamin

kelancaran jalannya operasi dan menjamin keselamatan pasien selama tindakan

pembedahan. Secara umum fungsi perawat di dalam kamar operasi seringkali dijelaskan

dalam hubungan aktivitas-aktivitas sirkulasi dan scrub (instrumentator).

Perawat sirkulasi berperan mengatur ruang operasi dan melindungi keselamatan dan

kebutuhan pasien dengan memantau aktivitas anggota tim bedah dan memeriksa kondisi

di dalam ruang operasi. Tanggung jawab utamanya meliputi memastikan kebersihan,

suhu yang sesuai, kelembapan, pencahayaan, menjaga peralatan tetap berfungsi dan

ketersediaan berbagai material yang dibutuhkan sebelum, selama dan sesudah operasi.

Perawat sirkuler juga memantau praktik asepsis untuk menghindari pelanggaran teknik

asepsis sambil mengkoordinasi perpindahan anggota tim yang berhubungan (tenaga

medis, rontgen dan petugas laboratorium). Perawat sirkuler juga memantau kondisi

pasien selama prosedur operasi untuk menjamin keselamatan pasien.

Aktivitas perawat sebagai scrub nurse ?termasuk melakukan desinfeksi lapangan

pembedahan dan drapping, mengatur meja steril, menyiapkan alat jahit, diatermi dan

peralatan khusus yang dibutuhkan untuk pembedahan. Selain itu perawat scrub juga

membantu dokter bedah selama prosedur pembedahan dengan melakukan tindakan-

tindakan yang diperlukan seperti mengantisipasi instrumen yang dibutuhkan, spon, kassa,

drainage dan peralatan lain serta terus mengawasi kondisi pasien ketika pasien dibawah

pengaruh anastesi. Saat luka ditutup perawat harus mengecek semua peralatan dan

material untuk memastikan bahwa semua jarum, kassa dan instrumen sudah dihitung

lengkap

Kedua fungsi tersebut membutuhkan pemahaman, pengetahuan dan ketrampilan

perawat tentang anatomi, perawatan jaringan dan prinsip asepsis, mengerti tentang tujuan

pembedahan, pemahaman dan kemampuan untuk mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan

dan untuk bekerja sebagai anggota tim yang terampil dan kemampuan untuk menangani

segala situasi kedaruratan di ruang operasi.

D. AKTIVITAS KEPERAWATAN SECARA UMUM

Aktivitas keperawatan yang dilakukan selama tahap intra operatif meliputi 4 hal, yaitu :

a. Safety Management

Page 26: Lp Perioperatif Umum

b. Monitoring Fisiologis

c. Monitoring Psikologis

d. Pengaturan dan koordinasi Nursing Care

Safety Management

Tindakan ini merupakan suatu bentuk jaminan keamanan bagi pasien selama prosedur

pembedahan. Tindakan yang dilakukan untuk jaminan keamanan diantaranya adalah :

1. Pengaturan posisi pasien

Pengaturan posisi pasien bertujuan untuk memberikan kenyamanan pada klien dan

memudahkan pembedahan. Perawat perioperatif mengerti bahwa berbagai posisi operasi

berkaitan dengan perubahan-perubahan fisiologis yang timbul bila pasien ditempatkan

pada posisi tertentu. Faktor penting yang harus diperhatikan ketika mengatur posisi di

ruang operasi adalah:

a. Daerah operasi

b. Usia

c. Berat badan pasien

d. Tipe anastesi

e. Nyeri : normalnya nyeri dialami oleh pasien yang mengalami gangguan pergerakan,

seperti artritis.

Posisi yang diberikan tidak boleh mengganggu sirkulasi, respirasi, tidak melakukan

penekanan yang berlebihan pada kulit dan tidak menutupi daerah atau medan operasi.

Hal-hal yang dilakukan oleh perawat terkait dengan pengaturan posisi pasien meliputi :

a. Kesejajaran fungsional

Maksudnya adalah memberikan posisi yang tepat selama operasi. Operasi yang berbeda

akan membutuhkan posisi yang berbeda pula. Contoh :

• Supine (dorsal recumbent) : hernia, laparotomy, laparotomy eksplorasi, appendiktomi,

mastectomy atau pun reseksi usus.

• Pronasi : operasi pada daerah punggung dan spinal. Misal : Lamninectomy

• Trendelenburg : dengan menempatkan bagian usus diatas abdomen, sering digunakan

untuk operasi pada daerah abdomen bawah atau pelvis.

• Lithotomy : posisi ini mengekspose area perineal dan rectal dan biasanya digunakan

untuk operasi vagina. Dilatasi dan kuretase dan pembedahan rectal seperti :

Page 27: Lp Perioperatif Umum

Hemmoiroidektomy

• Lateral : digunakan untuk operasi ginjal, dada dan pinggul. .

b. Pemajanan area pembedahan

-Pemajanan daerah bedah maksudnya adalah daerah mana yang akan dilakukan tindakan

pembedahan. Dengan pengetahuan tentang hal ini perawat dapat mempersiapkan daerah

operasi dengan teknik drapping

c. Mempertahankan posisi sepanjang prosedur operasi

Posisi pasien di meja operasi selama prosedur pembedahan harus dipertahankan

sedemikian rupa. Hal ini selain untuk mempermudah proses pembedahan juga sebagai

bentuk jaminan keselamatan pasien dengan memberikan posisi fisiologis dan mencegah

terjadinya injury.

2. Memasang alat grounding ke pasien

3. Memberikan dukungan fisik dan psikologis pada klien untuk menenagkan pasien

selama operasi sehingga pasien kooperatif.

4. Memastikan bahwa semua peralatan yang dibutuhkan telah siap seperti : cairan infus,

oksigen, jumlah spongs, jarum dan instrumen tepat.

Monitoring Fisiologis

Pemantauan fisiologis yang dilakukan meliputi :

1. Melakukan balance cairan

Penghitungan balance cairan dilakuan untuk memenuhi kebutuhan cairan pasien.

Pemenuhan balance cairan dilakukan dengan cara menghitung jumlah cairan yang masuk

dan yang keluar (cek pada kantong kateter urine) kemudian melakukan koreksi terhadap

imbalance cairan yang terjadi. Misalnya dengan pemberian cairan infus.

2. Memantau kondisi cardiopulmonal

Pemantaun kondisi kardio pulmonal harus dilakukan secara kontinu untuk melihat apakah

kondisi pasien normal atau tidak. Pemantauan yang dilakukan meliputi fungsi pernafasan,

nadi dan tekanan darah, saturasi oksigen, perdarahan dll.

3. Pemantauan terhadap perubahan vital sign

Pemantauan tanda-tanda vital penting dilakukan untuk memastikan kondisi klien masih

dalam batas normal. Jika terjadi gangguan harus dilakukan intervensi secepatnya.

Page 28: Lp Perioperatif Umum

Dukungan Psikologis (sebelum induksi dan bila pasien sadar)

Dukungan psikologis yang dilakukan antara lain :

1. Memberikan dukungan emosional pada pasien

2. Berdiri di dekat klien dan memberikan sentuhan selama prosedur induksi

3. Mengkaji status emosional klien

4. Mengkomunikasikan status emosional klien? kepada tim kesehatan (jika ada

perubahan)

Pengaturan dan Koordinasi Nursing Care

Tindakan yang dilakukan antara lain :

1. Memanage keamanan fisik pasien

2. Mempertahankan prinsip dan teknik asepsis

D. TIM OPERASI

Setelah kita tahu tentang aktivitas keperawatan yang dilakukan di kamar operasi,

maka sekarang kita akan membahas anggota tim yang terlibat dalam operasi. Anggota

tim operasi secara umum dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu anggota tim steril dan

anggota tim non steril. Berikut adalah bagan anggota tim operasi.

Steril :

a. Ahli bedah

b. Asisten bedah

c. Perawat Instrumentator (Scub nurse)

Non Steril :

a. Ahli anastesi

b. Perawat anastesi

c. Circulating nurse

d. Teknisi (operator alat, ahli patologi dll.)

Surgical Team

Perawat steril bertugas :

a. Mempersiapkan pengadaan alat dan bahan yang diperlukan untuk operasi

b. Membatu ahli bedah dan asisten saat prosedur bedah berlangsung

c. Membantu persiapan pelaksanaan alat yang dibutuhkan seperti jatrum, pisau bedah,

kassa dan instrumen yang dibutuhkan untuk operasi.

Page 29: Lp Perioperatif Umum

Perawat sirkuler bertugas :

a. Mengkaji, merencanakan, mengimplementasikan dan mengevaluasi aktivitas

keperawatan yang dapat memenuhi kebutuhan pasien.

b. Mempertahankan lingkungan yang aman dan nyaman

c. Menyiapkan bantuan kepada tiap anggota tim menurut kebutuhan.

d. Memelihara komunikasi antar anggota tim di ruang operasi.

e. Membantu mengatasi masalah yang terjadi.

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan pada tahap intra operatif yang biasanya muncul adalah:

Resiko infeksi b.d prosedur invasif (luka incisi)

-Resiko injury b,d kondisi lingkungan eksternal misal struktrur lingkungan, pemajanan

peralatan, instrumentasi dan penggunaan obat-obatan anastesi.

F. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Implementasi tindakan keperawatan yang bisa dilakukan antara lain :

1. Memberikan dukungan emosional

Kesejahteraan emosional pasien harus dijaga selama operasi. Sebelum dianastesi

perawat bertanggung jawab untuk membuat pasien nyaman dan tidak cemas. Bila pasien

sadar atau bangun selama prosedur pembedahan. Perawat bertugas menjelaskan prosedur

tindakan yang dilakukan, memberikan dukungan psikologis dan menyakinkan pasien.

Ketika pasien sadar dari pengaruh anastesi, penjelasan dan pendidikan kesehatan perlu

dilakukan. Hal ini dilakukan terhadap semua pasien, terutama pada operasi dengan sistem

anastesi lokal maupun regional. Pemantauan kondisi pasien akan mempengaruhi kondisi

fisik dan kerja sama pasien.

2. Mengatur posisi yang sesuai untuk pasien

Posisi yang sesuai diperlukan untuk memudahkan pembedahan dan juga untuk menjamin

keamanan fisiologis pasien. Posisi yang diberikan pada saat pembedahan disesuaikan

dengan kondisi pasien. Lihat keterangan di atas.

3. Mempertahankan keadaan asepsis selam pembedahan

Perawat bertanggung jawab untuk mempertahankan keadaan asepsis selama operasi

berlangsung. Perawat bertanggung jawab terhadap kesterilan alat dan bahan yang

Page 30: Lp Perioperatif Umum

diperlukan dan juga bertanggung jawab terhdap seluruh anggota tim operasi dalam

menerapkan prinsip steril. Jika ada sesuatu yang diangggap tidak steril menyentuh daerah

steril, maka instrumen yang terkontaminasi harus segera diganti.

4. Menjaga kestabilan temperatur pasien

Temperatur di kamar operasi dipertahankan pada suhu standar kamar operasi dan

kelembapannya diatur untuk mengahmabat pertumbuhan bakteri. Pasien biasanya merasa

kedinginan di kamar operasi jika tidak diberik selimut yang sesuai. Kehilangan panas

pada pasien berasal dari kulit dan daerah yang terbuka untuk dilakukan operasi. Ketika

jaringan tidak tertutup kulit akan terekspose oleh udara, sehingga terjadi kehiilangan

panas akan berlebihan. Pasien harus dijaga sehangat mungkin untuk meminimalkan

kehilangan panas tanpa menyebabkan vasodilatasi yang justru menyebabkan

bertambahnya perdarahan.

5. Memonitor terjadinya hipertermi malignan

Monitoring kejadian hipertermi maligan diperlukan untuk mencegah terjadinya

komplikasi berupa kerusakan sistem saraf pusat atau bahkan kematian. Monitoring secara

kontinu diperlukan untuk menentukan tindakan pencegahan dan penanganan sedini

mungkin sehingga tidak menimbulkan komplikasi yang dapat merugikan pasien.

6. Membantu penutupan luka operasi

Langkah terakhir dalam prosedur pembedahan adalah penutupan luka operasi. Penutupan

luka dilakukan lapis demi lapis dengan menggunakan benag yang sesuai dengan jenis

jaringan. Penutupan kulit menggunakan benang bedah untuk mendekatkan tepi luka

sampai dengan terjadi penyembuhan luka operasi. Luka yang terkontaminasi dapat

terbuka seluruhnya atau sebagian saja. Ahli bedah memilih metode dan tipe jahitan atau

penutupan luka beedasarkan daerah operasi, ukuran dan dalamnya luka operasi serta usia

dan kondisi pasien. Setelah luka operasi dijahit kemudian dibalut dengan kassa steril

untuk mencegah kontaminasi luka, mengabsorpsi drainage, dan membantu penutupan

incisi. Jika penyembuhan luka terjadi tanpa komplikasi, jahitan biasanya bisa dibuka

setelah 7 sampai dengan 10 hari tergantung letak lukanya.

7. Membantu drainage

Drain ditempatkan pada luka operasi untuk mengalirkan darah, serum,debris dari tempat

operasi yang bila tidak dikeluarkan dapat memperlambat penyembuhan luka dan

Page 31: Lp Perioperatif Umum

menyebabkan terjadinya infeksi. Ada beberapa tipe drain bedah yang dipilih berdasarkan

ukuran luka. Perawat bertanggung jawab mengkaji bahwa drain berfungsi dengan baik.

Darain bisaasanya dicabut bila produk drain sudah berkurang dalam jumlah yang

signifikan. Dan bentuk produk sudah serous, tidak dalam bentuk darah lagi.

8. Memindahkan pasien dari ruang opersai ke ruang pemulihan/ICU

Sesudah operasi, tim operasi akan memberikan pasien pakain yang bersih, kemudian

memindahkan pasien dari meja operasi ke barankard. Selama pembedahan ini tim operasi

meghindari membawa pasien pasien tanpa pakaian, karena disamping memalukan bagi

pasien juga merupakan salah satu predisposisi terrjadinya kehilangan panas, infeksi

respirasi dan shock, mencegah luka operasi terkontaminasi serta kenyamanan pasien.

Hindari juga memindahkan pasien dengan tiba-tiba dan perubahan posisi yang terlalu

sering yang merupakan predisposisi terjadinya hipotensi. Perubahan posisi pada pasien

harus dilakukan secara bertahap, misalnya dari litotomi ke posisi horizontal kemudian

kearah supinasi dan lateral. Saat memindahkan pasien post operasi harus dilakukan ekstra

hati-hati dan mendapatkan bantuan yang adekuat dari staff. Sesudah memindahkan pasien

ke barnkard, pasien ditutup dengan selimut dan dipasang sabuk pengaman. Pengaman

tempat tidur (side rail) harus selalu dipasang untuk keamanan pasien, karena pasien

biasanya akan mengalami periode gelisah saat dipindahkan dari ruang operasi.

H. KOMPLIKASI

Komplikasi selama operasi bisa muncul sewaktu-waktu selama tindakan

pembedahan. Komplikasi yang paling sering muncul adalah hipotensi, hipotermi dan

hipertermi malignan.

Hipotensi yeng terjadi selama pembedahan, biasanya dilakukan dengan

pemberian obat-obatan tertentu (hipotensi di induksi). Hipotensi ini memang diinginkan

untuk menurunkan tekanan darah pasien dengan tujuan untuk menurunkan jumlah

perdarahan pada bagian yang dioperasi, sehingga menungkinkan operasi lebih cepat

dilakukan dengan jumlah perdarahan yang sedikit. Hipotensi yang disengaja ini biasanya

dilakukan melalui inhalasi atu suntikan medikasi yang mempengaruhi sistem saraf

simpatis dan otot polos perifer. Agen anastetik inhalasi yang biasa digunakan adalah

halotan. Oleh karena adanya hipotensi diinduksi ini, maka perlu kewaspadaan perawat

untuk selalu memantau kondisi fisiologis pasien, terutama fungsi kardiovaskulernya agar

Page 32: Lp Perioperatif Umum

hipotensi yang tidak diinginkan tidak muncul, dan bila muncul hipotensi yang sifatnya

malhipotensi bisa segera ditangani dengan penanganan yang adekuat.

Hipotermia adalah keadaan suhu tubuh dibawah 36,6 oC (normotermi : 36,6 -

37,5 oC). Hipotermi yang tidak diinginkan mungkin saja dialami pasien sebagai akibat

suhu rendah di kamar operasi (25 ? 26,6 oC), infus dengan cairan yang dingin, inhalasi

gas-gas dingin, kavitas atau luka terbuka pada tubuh, aktivitas otot yang menurun, usia

lanjut atau obat-obatan yang digunakan (vasodilator, anastetik umum, dan lain-lain).

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari hipotermi yang tidak diinginkan

adalah atur suhu ruangan kamar operasi pada suhu ideal? (25 ? 26,6 oC) jangan lebih

rendah dari suhu tersebut, caiaran intravena dan irigasi dibuat pada suhu 37 oC, gaun

operasi pasien dan selimut yang basah harus segera diganti dengan gaun dan selimut yang

kering. Penggunaann topi operasi juga dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya

hipotermi. Penatalaksanaan pencegahan hipotermi ini dilakukan tidak hanya pada saat

periode intra operatif saja, namun juga sampai saat pasca operatif.

Hipertermi Malignan

Hipertermi malignan sering kali terjadi pada pasien yang dioperasi. Angka

mortalitasnya sangat tinggi lebih dari 50%. Sehingga diperlukan penatalaksanaan yang

adekuat. Hipertermi malignan terjadi akibat gangguan otot yang disebabkan oleh agen

anastetik. Selama anastesi, agen anastesi inhalasi (halotan, enfluran) dan relaksan otot

(suksinilkolin) dapat memicu terjadinya hipertermi malignan. Ketika diinduksi agen

anastetik, kalsium di dalam kantong sarkoplasma akan dilepaskan ke membran luar yang

akan menyebabkan terjadinya kontraksi.? Secara normal, tubuh akan melakukan

mekanisme pemompaan untuk mengembalikan kalsium ke dalam kantong sarkoplasma.

Sehingga otot-otot akan kembali relaksasi. Namun pada orang dengan hipertermi

malignan, mekanisme ini tidak terjadi sehingga otot akan terus berkontraksi dan tubuh

akan mengalami hipermetabolisme. Akibatnya akan terjadi hipertermi malignan dan

kerusakan sistem saraf pusat. Untuk menghindari mortalitas, maka segera diberikan

oksigen 100%, natrium dantrolen, natrium bikarbonat dan agen relaksan otot. lakukan

juga monitoring terhadap kondisi pasien meliputi tanda-tanda vital, EKG, elektrolit dan

analisa gas darah.

KEPERAWATAN POST OPERATIF

Page 33: Lp Perioperatif Umum

________________________________________________________________________

_____

A. PENDAHULUAN

Keperawatan post operatif adalah periode akhir dari keperawatan perioperatif.

Selama periode ini proses keperawatan diarahkan pada menstabilkan kondisi pasien pada

keadaan equlibrium fisiologis pasien, menghilangkan nyeri dan pencegahan komplikasi.

Pengkajian yang cermat dan intervensi segera membantu pasien kembali pada fungsi

optimalnya dengan cepat, aman dan nyaman.

Upaya yang dapat dilakukan diarahkan untuk mengantisipasi dan mencegah masalah

yang kemungkinan mucul pada tahap ini. Pengkajian dan penanganan yang cepat dan

akurat sangat dibutuhkan untuk mencegah komplikasi yang memperlama perawatan di

rumah sakit atau membayakan diri pasien. Memperhatikan hal ini, asuhan keperawatan

post operatif sama pentingnya dengan prosedur pembedahan itu sendiri.

B. TAHAPAN ?KEPERAWATAN POST OPERATIF

Perawatan post operatif meliputi beberapa tahapan, diantaranya adalah :

1. Pemindahan pasien dari kamar operasi ke unit perawatan pasca anastesi (recovery

room)

2. Perawatan post anastesi di ruang pemulihan (recovery room)

3. Transportasi pasien ke ruang rawat

4. Perawatan di ruang rawat

1. PEMINDAHAN PASIEN DARI KAMAR OPERASI KE RUANG PEMULIHAN

Pemindahan pasien dari kamar operasi ke ruang pemulihan atau unit perawatan

pasca anastesi (PACU: post anasthesia care unit) memerlukan pertimbangan-

pertimbangan khusus. Pertimbangan itu diantaranya adalah letak incisi bedah, perubahan

vaskuler dan pemajanan. Letak incisi bedah harus selalu dipertimbangkan setiap kali

pasien pasca operatif dipidahkan. Banyak luka ditutup dengan tegangan yang cukup

tinggi, dan setiap upaya dilakukan untuk mencegah regangan sutura lebih lanjut. Selain

itu pasien diposisikan sehingga ia tidak berbaring pada posisi yang menyumbat drain dan

selang drainase.

Hipotensi arteri yang serius dapat terjadi ketika pasien digerakkan dari satu posisi

ke posisi lainnya. Seperti posisi litotomi ke posisi horizontal atau dari posisi lateral ke

Page 34: Lp Perioperatif Umum

posisi terlentang. Bahkan memindahkan pasien yang telah dianastesi ke brankard dapat

menimbulkan masalah gangguan vaskuler juga. Untuk itu pasien harus dipindahkan

secara perlahan dan cermat. Segera setelah pasien dipindahkan ke barankard atau tempat

tidur, gaun pasin yang basah (karena darah atau cairan lainnnya) harus segera diganti

dengan gaun yang kering untuk menghindari kontaminasi. Selama perjalanan transportasi

tersebut pasien diselimuti dan diberikan pengikatan diatas lutut dan siku serta side rail

harus dipasang untuk mencegah terjadi resiko injury.

Selain hal tersebut diatas untuk mempertahankan keamanan dan kenyamanan pasien.

Selang dan peralatan drainase harus ditangani dengan cermat agar dapat berfungsi dengan

optimal.

ke ruang pemulihan

Proses transportasi ini merupakan tanggung jawab perawat sirkuler dan perawat

anastesi dengan koordinasi dari dokter anastesi yang bertanggung jawab.

2. PERAWATAN POST ANASTESI DI RUANG PEMULIHAN (RECOVERY ROOM)

Setelah selesai tindakan pembedahan, paseien harus dirawat sementara di ruang

pulih sadar (recovery room : RR) sampai kondisi pasien stabil, tidak mengalami

komplikasi operasi dan memenuhi syarat untuk dipindahkan ke ruang perawatan (bangsal

perawatan). PACU atau RR biasanya terletak berdekatan dengan ruang operasi. Hal ini

disebabkan untuk mempermudah akses bagi pasien untuk (1) perawat yang disiapkan

dalam merawat pasca operatif (perawat anastesi) (2) ahli anastesi dan ahli bedah (3) alat

monitoring dan peralatan khusus penunjang lainnya. Alat monitoring yang terdapat di

ruang ini digunakan untuk memberikan penilaian terhadap kondisi pasien. Jenis peralatan

yang ada diantaranya adalah alat bantu pernafasan : oksigen, laringoskop, set

trakheostomi, peralatan bronkhial, kateter nasal, ventilator mekanik dan peralatan

suction. Selain itu di ruang ini juga harus terdapat alat yang digunakan untuk memantau

status hemodinamika dan alat-alat untuk mengatasi permasalahan hemodinamika,

seperti : apparatus tekanan darah, peralatan parenteral, plasma ekspander, set intravena,

set pembuka jahitan, defibrilator, kateter vena, torniquet. Bahan-bahan balutan bedah,

narkotika dan medikasi kegawatdaruratan, set kateterisasi dan peralatan drainase.

Page 35: Lp Perioperatif Umum

Selain alat-alat tersebut diatas, pasien post operasi juga harus ditempatkan pada tempat

tidur khusus yang nyaman dan aman serta memudahkan akses bagi pasien, seperti :

pemindahan darurat. Dan dilengkapi dengan kelengkapan yang digunakan untuk

mempermudah perawatan. Seperti tiang infus, side rail, tempat tidur beroda, dan rak

penyimpanan catatan medis dan perawatan. Pasien tetap berada dalam PACU sampai

pulih sepenuhnya dari pegaruh anastesi, yaitu tekanan darah stabil, fungsi pernafasan

adekuat, saturasi oksigen minimal 95% dan tingkat kesadaran yang baik. Kriteria

penilaian yang digunakan untuk menentukan kesiapan pasien untuk dikeluarkan dari

PACU adalah :

- Fungsi pulmonal yang tidak terganggu

- Hasil oksimetri nadi menunjukkan saturasi oksigen yang adekuat

- Tanda-tanda vital stabil, termasuk tekanan darah

- Orientasi pasien terhadap tempat, waktu dan orang

- Haluaran urine tidak kurang dari 30 ml/jam

- Mual dan muntah dalam kontrol

- Nyeri minimal

Berikut di bawah adalah form pengkajian post anasteshia

RUANG PEMULIHAN POST ANASTESI

PENILAIAN

Nama : Nilai Akhir :

Ruangan : Ahli bedah/Anasteshia :

Tanggal : Perawat R.R :

Area pengkajian Score Saat penerimaan Setelah

1 jam 2 jam 3 jam

Respirasi : 2

Kemampuan nafas dalam dan batuk 1

Upaya bernafas terbatas (dsipneu)

Tidak adan upaya nafas spontan 0

Page 36: Lp Perioperatif Umum

Sirkulasi (tekanan sisteolik) 2

80 % dari pre anastesi 1

50 % dari pre anastesi 0

< 50 % dari pre anastesi

Tingkat Kesadaran : 2

Orientasi baik dan respon verbal positif 1

Terbangun ketika dipanggil namanya 0

Tidak ada respon

Warna kulit : 2

Warna dan penampilan kulit normal 1

Pucat, agak kehitaman, keputihan. Ikterik 0

Sianosis

Aktivitas : 2

Mampu menggerakkan semua ekstrimitas 1

Mampu menggerakkan hanya 2 ekstrimitas 0

Tak mampu mengontrol ektrimitas

Total

Keterangan :

Pasien bisa dipindahkan ke ruang perawatan dari ruang PACU/RR jika nilai pengkajian

post anastesi > 7-8.

TUJUAN PERAWATAN PASIEN DI PACU adalah :

1. Mempertahankan jalan nafas

Dengan mengatur posisi, memasang suction dan pemasangan mayo/gudel.

Page 37: Lp Perioperatif Umum

2. Mempertahankan ventilasi/oksigenasi

Ventilasi dan oksigenasi dapat dipertahankan dengan pemberian bantuan nafas melalui

ventilaot mekanik atau nasal kanul

3. Mempertahakan sirkulasi darah

Mempertahankan sirukais darah dapat dilakukan dengan pemberian caiaran plasma

ekspander

4. Observasi keadaan umum, observasi vomitus dan drainase

Keadaan umum dari pasien harus diobservasi untuk mengetahui keadaan pasien, seperti

kesadaran dan sebagainya. Vomitus atau muntahan mungkin saja terjadi akibat penagaruh

anastesi sehingga perlu dipantau kondisi vomitusnya. Selain itu drainase sangat penting

untuk dilakukan obeservasi terkait dengan kondisi perdarahan yang dialami pasien.

5. Balance cairan

Harus diperhatikan untuk mengetahui input dan output caiaran klien. Cairan harus

balance untuk mencegah komplikasi lanjutan, seperti dehidrasi akibat perdarahan atau

justru kelebihan cairan yang justru menjadi beban bagi jantung dan juga mungkin terkait

dengan fungsi eleminasi pasien.

6. Mempertahanakn kenyamanan dan mencegah resiko injury

Pasien post anastesi biasanya akan mengalami kecemasan, disorientasi dan beresiko besar

untuk jatuh. Tempatkan pasien pada tempat tidur yang nyaman dan pasang side railnya.

Nyeri biasanya sangat dirasakan pasien, diperlukan intervensi keperawatan yang tepat

juga kolaborasi dengan medi terkait dengan agen pemblok nyerinya.

Hal-hal yang harus diketahui oleh perawat anastesi di ruang PACU adalah :

1. Jenis pembedahan

Jenis pembedahan yang berbeda tentunya akan berakibat pada jenis perawatan post

anastesi yang berbeda pula. Hal ini sangat terkait dengan jenis posisi yang akan diberikan

pada pasien.?

2. Jenis anastesi

Perlu diperhatikan tentang jenis anastesi yang diberikan, karena hal ini penting untuk

pemberian posisi kepada pasien post operasi. Pada pasien dengan anastesi spinal maka

posisi kepala harus agak ditinggikan untuk mencegah depresi otot-otot pernafasan oleh

obat-obatan anastesi, sedangkan untuk pasien dengan anastesi umum, maka pasien

Page 38: Lp Perioperatif Umum

diposisika supine dengan posisi kepala sejajar dengan tubuh.

3. Kondisi patologis klien

Kondisi patologis klien sebelum operasi harus diperhatikan dengan baik untuk

memberikan informasi awal terkait dengan perawatan post anastesi. Misalnya : pasien

mempunyai riwayat hipertensi, maka jika pasca operasi tekanan darahnya tinggi, tidak

masalah jika pasien dipindahkan ke ruang perawatan asalkan kondisinya stabil. Tidak

perlu menunggu terlalu lama.

4. Jumlah perdarahan intra operatif

Penting bagi perawata RR untuk mengetahui apa yang terjadi selama operasi (dengan

melihat laporan operasi) terutama jumlah perdarahan yang terjadi. Karena dengan

mengetahui jumlah perdarahan akan menentukan transfusi yang diberikan.

5. Pemberian tranfusi selama operasi

Apakah selama operasi pasien telah diberikan transfusi atau belum, jumlahnya berapa dan

sebagainya. Hal ini diperlukan untuk menentukan apakah pasien masih layak untuk

diberikan transfusi ulangan atau tidak.

6. Jumlah dan jenis terapi cairan selama operasi

Jumlah dan jenis cairan operasi harus diperhatikan dan dihitung dibandingkan dengan

keluarannya. Keluaran urine yang terbatas < 30 ml/jam kemungkinan menunjukkan

gangguan pada fungsi ginjalnya.?

7. Komplikasi selama pembedahan

Komplikasi yang paling sering muncul adalah hipotensi, hipotermi dan hipertermi

malignan. Apakah ada faktor penyulit dan sebagainya.

3. TRANSPORTASI PASIEN KE RUANG RAWAT

Transportasi pasien bertujuan untuk mentransfer pasien menuju ruang rawat dengan

mempertahankan kondisi tetap stabil. Jika anda dapat tugas mentransfer pasien, pastikan

score post anastesi 7 atau 8 yang menunjukkan kondisi pasien sudah cukup stabil.

Waspadai hal-hal berikut : henti nafas, vomitus, aspirasi selama transportasi.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan pada saat transportasi klien :

a. Perencanaan

Pemindahan klien merupakan prosedur yang dipersiapkan semuanya dari sumber daya

manusia sampai dengan peralatannya.

Page 39: Lp Perioperatif Umum

b. Sumber daya manusia (ketenagaan)

bukan sembarang orang yang bisa melakukan prosedur ini. Orang yang boleh melakukan

proses transfer pasien adalah orang yang bisa menangani keadaan kegawatdaruratan yang

mungkin terjadi sselama transportasi. Perhatikan juga perbandingan ukuran tubuh pasien

dan perawat. Harus seimbang.

c. Eguipment (peralatan)

Peralatan yang dipersipkan untuk keadaan darurat, misal : tabung oksigen, sampai

selimut tambahan untuk mencegah hipotermi harus dipersiapkan dengan lengkap dan

dalam kondisi siap pakai.

d. Prosedur

Untuk beberapa pasien setelah operasi harus ke bagian radiologi dulu dan sebagainya.

Sehingga hendaknya sekali jalan saja. Prosedur-prosedur pemindahan pasien dan

posisioning pasien harus benar-benar diperhatikan demi keamanan dan kenyamanan

pasien.

e. Passage (jalur lintasan)

Hendaknya memilih jalan yang aman, nyaman dan yang paling singkat. Ekstra waspada

terhadap kejadian lift yang macet dan sebagainya.

4. PERAWATAN DI RUANG RAWAT

Ketika pasien sudah mencapai bangsal, maka hal yang harus kita lakukan, yaitu :

a. Monitor tanda-tanda vital dan keadaan umum pasien, drainage, tube/selang, dan

komplikasi. Begitu pasien tiba di bangsal langsung monitor kondisinya. Pemerikasaan ini

merupakan pemmeriksaan pertama yang dilakukan di bangsal setelah post operasi.

b. Manajemen Luka

Amati kondisi luka operasi dan jahitannya, pastikan luka tidak mengalami perdarahan

abnormal. Observasi discharge untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Manajemen luka

meliputi perawatan luka sampai dengan pengangkatan jahitan.

c. Mobilisasi dini

Mobilisasi dini yang dapat dilakukan meliputi ROM, nafas dalam dan juga batuk efektif

yang penting untuk mengaktifkan kembali fungsi neuromuskuler dan mengeluarkan

sekret dan lendir.

d. Rehabilitasi

Page 40: Lp Perioperatif Umum

Rehabilitasi diperlukan oleh pasien untuk memulihkan kondisi pasien kembali.

Rehabilitasi dapat berupa berbagai macam latihan spesifik yang diperlukan untuk

memaksimalkan kondisi pasien seperti sedia kala.

e. Discharge Planning

Merencanakan kepulangan pasien dan memberikan informasi kepada klien dan

keluarganya tentang hal-hal yang perlu dihindari dan dilakukan sehubungan dengan

kondis/penyakitnya post operasi.

Ada 2 macam discharge planning :

a. Untuk perawat : berisi point-point discahrge planing yang diberikan kepada klien

(sebagai dokumentasi)

b. Untuk pasien : dengan bahasa yang bisa dimengerti pasien dan lebih detail.

Contoh nota discharge planning pada pasien post tracheostomy :

1. Untuk perawat : pecegahan infeksi pada area stoma

2. Untuk klien : tutup lubang operasi di leher dengan kassa steril (sudah disiapkan)

Dalam merencanakan kepulangan pasien, kita harus mempertimbangkan 4 hal berikut:

1. Home care preparation

Memodifikasi lingkungan rumah sehingga tidak mengganggu kondisi klien. Contoh :

klien harus diatas kursi roda/pakai alat bantu jalan, buat agar lantai rumah tidak licin.

Kita harus juga memastikan ada yang merawat klien di rumah.

2. Client/family education

Berikan edukasi tentang kondisi klien. Cara merawat luka dan hal-hal yang harus

dilakukan atau dihindari kepada keluarga klien, terutama orang yang merawat klien.

3. Psychososial preparation

Tujuan dari persiapan ini adalah untuk memastikan hubungan interpersonal sosial dan

aspek psikososial klien tetap terjaga.

4. Health care resources

Pastikan bahwa klien atau keluarga mengetahui adanya pusat layanan kesehatan yang

terdekat dari rumah klien, seperti rumah sakit, puskesmas dan lain-lain. Jadi jika dalam

keadaan darurat bisa segera ada pertolongan.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Page 41: Lp Perioperatif Umum

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul? pada saat pasca operasi

a. Impaired gas exchange r.t residual effect of anasthesia

b. Ineffective airway clearance r.t increased secretion

c. Pain r.t surgical incision and positioning during surgery

d. Impaired skin integerity r.t surgical woud, drains abd wound infection

e. Potensial injury r.t effect of anasthesia, sedation and immobility

f. Fluid volume deficit r.t fuid loss during surgery

g. Altered patterns of urinary elimation (decreased) r.t anasthesia agent and immobility

h. Activity intolerance r.t surgery and prolonged bed rest

i. Selfcare deficit r.t surgical wound, pain adn treatment regimen

j. Knowledge deficit r.t lack of information about treatment regimen

Masalah kolaboratif :

a. Perubahan perfusi jaringan sekunder terhadap hipovolemia dan vasikontriksi

b. Hipovolemia

c. PK : infeksi

d. Dan lain-lain

D. INTERVENSI KEPERWATAN

Secara umum intervensi keperawatan yang diberikan kepada pasien psot operasi meliputi

hal-hal sebagai berikut :

1. Memastikan fungsi pernafasan yang optimal

2. Meningkatkan ekspansi paru

3. Menghilangkan ketidaknyamanan pasca operatif : nyeri

4. Menghilangkan kegelisahan

5.menghilangkan mual dan muntah

6. Menghilangakn distensi abdomen

7. Menghilangkan cegukan

8. Mempertahankan suhu tubuh normal

9. Menghindari cedera

10. Mempertahankan status nutrisi yang normal

11. Meningkantkan fungsi urinarious yang normal

12. Meningkatkan eliminasi usus

Page 42: Lp Perioperatif Umum

13.Pengaturan posisi

14. Ambulasi

15.Latihan di tempat tidur

E. KOMPLIKASI POST OPERASI

1. Syok

Syok yang terjadi pada pasien bedah biasanya berupa syok hipovolemik, syok nerogenik

jarang terjadi. Tanda-tanda syok secara klasik adalah sebagai berikut :

Pucat

Kulit dingin, basah

Pernafasan cepat

Sianosis pada bibir, gusi dan lidah

Nadi cepat, lemah dan bergetar

Penurunan tekanan darah

Urine pekat

Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah kolaborasi dengan dokter terkait

dengan pengobatan yang dilakukan seperti terapi obat, penggantian cairan per IV dan

juga terapi pernafasan. Terapi obat yang diberikan meliputi obat-obatan kardiotonik

(natrium sitroprusid), diuretik, vasodilator dan steroid. Cairan yang digunakan adalah

cairan kristaloid sperti ringer laktat dan koloid seperti terapi komponen darah, albumin,

plasma. Terapi pernafasan dilakukan dengan memantau gas darah arteri, fungsi pulmonal

dan juga pemberian oksigen melalui intubasi atau nasal kanul.

Intervensi mandiri keperawatan meliputi :

Dukungan psikologis,

Pembatasan penggunaan energi,

Pemantauan reaksi pasien terhadap pengobatan

Peningkatan periode istirahat.

Pencegahan hipotermi dengan menjaga tubuh pasien agar tetap hangat karena hipotermi

mngurangi oksigenasi jaringan

Melakukan perubahan posisi pasien tiap 2 jam dan mendorong pasien untuk melakukan

nafas dalam untuk meningkatkan fungsi optimal paru

Pencegahan komplikasi dengan memonitor pasien secara ketat selama 24 jam. Seperti

Page 43: Lp Perioperatif Umum

edema perifer dan edema pulmonal.

2. Perdarahan

Penatalaksanaan perdarahan seperti halnya pada pasien syok. Pasien diberikan posisi

terlentang dengan posisi tungkai kaki membentuk sudut 20 derajat dari tempat tidur

sementara lutut harus dijag tetap lurus.

Penyebab perdarahan harus dikaji dan diatasi. Luka bedah harus selalu diinspeksi

terhadap perdarahan. Jika perdarahan terjadi, kassa steril dan balutan yang kuat

dipasangkan dan tempat perdarahan ditinggikan pada posisi ketinggian jantung.

Pergantian cairan koloid disesuaikan dengan kondisi pasien.

3. Trombosis vena profunda

Trombosis vena profunda adalah trombosis yang terjadi pada pembuluh darah vena

bagian dalam. Komplikasi serius yang bisa ditimbulkan adalah embolisme pulmonari dan

sindrom pasca flebitis.

4. Retensi urin

Retensi urine paling sering terjadi pada kasus-kasus pembedahan rektum, anus dan

vagina. Atau juga setelah herniofari dan pembedahan pada daerah abdomen bawah.

Penyebabnya adalah adanya spasme spinkter kandung kemih.

Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah pemasangan kateter untuk membatu

mengeluarkan urine dari kandung kemih.

5. Infeksi luka operasi (dehisiensi, evicerasi, fistula, nekrose, abses)

Infeksi luka psot operasi seperti dehiseinsi dan sebaginya dapat terjadi karena adanya

kontaminasi luka operasi pada saat operasi maupun pada saat perawatan di ruang

perawatan. Pencegahan infeksi penting dilakukan dengan pemberian antibiotik sesuai

indikasi dan juga perawatan luka dengan prinsip steril.

6. Sepsis

Sepsis merupakan komplikasi serius akibat infeksi dimana kuman berkembang biak.

Sepsis dapat menyebabkan kematian bagi pasien karena dapat menyebabkan kegagalan

multi organ.

7. Embolisme Pulmonal

Embolsime dapat terjadi karena benda asing (bekuan darah, udara dan lemak) yang

terlepas dari tempat asalnya terbawa di sepanjang aliran darah. Embolus ini bisa

Page 44: Lp Perioperatif Umum

menyumbat arteri pulmonal yang akan mengakibatkan pasien merasa nyeri seperti

ditusuk-tusuk dan sesak nafas, cemas dan sianosis. Intervensi keperawatan seperti

ambulatori pasca operatif dini dapat mengurangi resiko embolus pulmonal.

8. Komplikasi Gastrointestinal

Komplikasi pada gastrointestinal paling sering terjadi pada pasien yang mengalami

pembedahan abdomen dan pelvis. Komplikasinya meliputi obstruksi intestinal, nyeri dan

juga distensi abdomen.

Page 45: Lp Perioperatif Umum

DAFTAR PUSTAKA

Effendy, Christantie, 2002, Handout Kuliah Keperawatan Medikal Bedah : Preoperatif

Nursing, Tidak dipublikasikan, Yogyakarta.

Effendy, Christantie dan Ag. Sri Oktri Hastuti, 2005, Kiat Sukses menghadapi Operasi,

Sahabat Setia, Yogyakarta.

Shodiq, Abror, 2004, Operating Room, Instalasi Bedah Sentral RS dr. Sardjito

Yogyakarta, Tidak dipublikasikan, Yogyakarta.

Sjamsulhidayat, R. dan Wim de Jong, 1998, Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi, EGC,

Jakarta

Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal

Bedah:? Brunner Suddarth, Vol. 1, EGC, Jakarta

Wibowo, Soetamto, dkk, 2001, Pedoman Teknik Operasi OPTEK, Airlangga University

Press, Surabaya.