Electronic Survey

Download Electronic Survey

Post on 25-Oct-2015

26 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tyfytfyfyufuyf

TRANSCRIPT

<p>3</p> <p>ELECTRONIC SURVEY</p> <p>OlehArif Kurniawan (3512100061)Arief Yusuf Efendi (352100024)Taufiq Rifai (3510100045)Eduardus Bill (3510100050)</p> <p>Teknik GeomatikaFakultas Teknik Sipil dan PerencanaanInstitut Teknologi Sepuluh November</p> <p>Surabaya2013BAB 1</p> <p>1. Latar BelakangSurveying adalah bagian dari ilmu geodesi yang mempelajari cara-cara pengukuran di permukaan bumi dan di bawah tanah untuk menentukan posisi relative atau absolute titik pada permukaan tanah, di atasnya atau di bawahnya, dalam memenuhi kebutuhan seperti pemetaan dan penentuan posisi relative suatu daerah. Untuk memperoleh dan mengetahui hal tersebut kegiatan yang dilakukan mulai dari orientasi medan, pengukuran, pengolahan data, serta produk hasil berupa peta.</p> <p>Surveying sekarang menjadi sangat penting untuk cara hidup yang modern. Kemajuan teknologi dan kebutuhan masyarakat akan produk-produk di bidang survey dan pemetaan semakin hari semakin meningkat, karena sangat penting dibutuhkan alat yang bisa memproses dan pengambilan data dengan cepat, maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut diciptakan alat seperti Total station, GPS, dll. Alat alat tersebut menggunakan komponen-komponen elektronik, oleh karena itu disebut elektronik surveying karena alat-alatnya menggunakan komponen elektronik.</p> <p>2. Perumusan Masalah Alat-alat apa saja yang digunakan dalam survey secara elektronik pada pemetaan teristris? Bagian-bagian apa saja yang terdapat dalam masing-masing alat survey elektronik? Apa saja kekurangan dan kelebihan dalam penggunaan masing-masing alat survey elektronik tersebut?</p> <p>3. Tujuan Mengetahui alat-alat yang digunakan dalam survey elektronik Dapat mengetahui bagan-bagian pada setiap alat agar tepat dalam penggunaannya Dapat mengetahui konsep survey elektronik </p> <p>BAB 2</p> <p>1. Tinjauan PustakaDasar-dasar dari survey elektronik sama dengan survey yang menngunakan alat konvensional (seperti Theodolit) diantaranya adalah pengukuran sudut dan jarak untuk menentukan posisi dari suatu titik. Jika dua sudut dan satu sisi dari sebuah segitiga diketahui, maka semua sudut dan jarak dari segitiga tersebut dapat ditentukan. Dengan demikian untuk mendapatkan koordinat suatu titik dapat dilakukan dengan cara mengukur sudut dan jarak dari titik yang sudah diketahui koordinatnya. Di dalam pemetaan, titik-titik di permukaan bumi dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok titik kerangka dasar dan kelompok titik-titik detail. (Soetomo,2002).</p> <p>Titik Kerangka DasarTitik kerangka dasar ada 2 yaitu kerangka control horizontal dan kerangka control vertical.</p> <p>a. Kerangka Kontrol HorizontalKerangka dasar horisontal merupakan kerangka dasar pemetaan yang memperlihatkan posisi satu titik terhadap titik lain pada posisi horisontal, merupakan posisi dua dimensi dari suatu objek di permukaan Bumi dan diproyeksikan pada bidang datar. Titik tersebut berupa koordinat pada bidang datar (X,Y), dalam sistem proyeksi tertentu, dan dalam satu sistem koordinat tertentu. Sistem koordinat yang dimaksud disini adalah sistem koordinat kartesian bidang datar. (Mansur,2004)</p> <p>Metode Poligon</p> <p>Poligon adalah serangkaian garis berurutan yang panjang dan arahnya telah ditentukan dari pengukuran lapangan. Pengukuran poligon merupakan pekerjaan menetapkan stasiun poligon dan membuat pengukuran yang perlu,adalah salah satu cara paling dasar dan paling banyak dilakukan untuk menentukan letak nisbi titik-titik.Sedangkan metode poligon adalah suatu cara penentuan posisi horizontal banyak titik dimana titik satu dan lainnya dihubungkan satu sama lain dengan pengukuran sudut dan jarak sehingga membentuk rangkaian titik-titik (poligon). Poligon terbagi menjadi tiga menurut bentuknya, antara lain :a. Poligon TerbukaPoligon terbuka adalah suatu poligon yang titik awal dan titik akhirnya merupakan titik yang berlainan artinya kedua titik itu tidak bertemu pada suatu tempat (Chatarina 2004).ACE</p> <p>BD</p> <p> FGambar 3.1 Poligon Terbuka</p> <p>b. Poligon TertutupPoligon tertutup adalah suatu poligon ang titik awal dan titik akhirnya bertemu pada suatu tempat (titik) yang sama. Pada poligon ini, walaupun tanpa ikatan sama sekali koreksi sudut dan koreksi koordinatnya, tetap dapat dilakukan mengingat titik awal dan titik akhir berada pada titik yang sama (Chatarina 2004).BCAED</p> <p>Gambar 3.2 Poligon Tertutup</p> <p>c. Poligon Bercabang</p> <p> Poligon ini adalah suatu poligon yang dapat mempunyai simpul satu atau lebih dari titik simpul, yaitu titik dimana cabang itu terjadi. Cabang ini biasanya terbuka, Tetapi bisa juga cabang ini tetutup pada cabang lain (Chatarina 2004). EGFJDCBAHI</p> <p>Gambar 3.3 Poligon Bercabang</p> <p>Berdasarkan titik ikatnya, poligon dibedakan sebagai berikut :a. Poligon Terikat SempurnaSuatu poligon yang terikat sempurna terjadi pada poligon tertutup ataupun poligon terbuka, suatu titik dikatakan sempurna jika diikatkan minimum 2 buah titik ikat yang diketahui koordinat dan sudut jurusan.b. Poligon Terikat Tidak SempurnaSuatu poligon yang tidak terikat sempurna dapat terjadi pada poligon tertutup atau poligon terbuka, dikatakan titik ikat tidak sempurna apabila titik ikat tersebut diketahui koordinatnya atau hanya jurusannya.c. Poligon Tidak Terikat/Bebas1. Poligon tertutup tanpa ikatan sama sekali (poligon lepas)2. Poligon terbuka tanpa ikatan sama sekali (poligon lepas), pengukuran seperti ini akan terjadi pada daerah daerah yang tidak ada titik tetapnya dan sulit melakukan pengukuran baik dengan cara astronomis maupun dengan satelit. Poligon semacam ini dihitung dengan orientasi lokal artinya koordinat azimuth awalnya dimisalkan sembarang. (Chatarina N, 2004).</p> <p> C. Pengukuran Beda Tinggi Cara Trigonometris</p> <p>Secara fisik alat ukur Total Station merupakan perpaduan antara alat ukur jarak dan sudut elektronik yang dilengkapi dengan sistem memori dan mikro komputer untuk melakukan hitungan-hitungan sederhana. Dengan menggunakan total station maka kesalahan terutama yang bersumber dari faktor manusia dapat diminimalkan bahkan dihilangkan seperti kesalahan penafsiran bacaan, pencatatan data, dan kesalahan hitungan. Disamping itu penggunaan alat total station membutuhkan waktu pengukuran yang lebih cepat dibanding dengan theodolit yang pada akhirnya dapat menghemat biaya pengukuran.Beberapa data ukuran yang bisa diperoleh dengan menggunakan total station diantaranya adalah jarak datar, jarak miring, beda tinggi, bahkan koordinat suatu titik. Beda tinggi yang diperoleh dengan pengukuran menggunakan total station menggunakan prinsip metode trigonometris yaitu salah satu metode penentuan beda tinggi yang didasarkan pada hasil ukuran sudut vertikal dan jarak antara dua titik yang akan ditentukan beda tingginya. Prinsip pengukuran beda tinggi dengan metode trigonometris dapat dilihat pada gambar berikut. (Basuki,S.,2006).</p> <p>Gambar 3.7 Prinsip Pengukuran Beda Tinggi Metode Trigonometris</p> <p>Gambar 3.8 Desain Jarak Untuk Pengukuran Dengan Total Station</p> <p> Pengukuran Detil/Situasi</p> <p>Pengukuran situasi adalah kegiatan pengumpulan data permukaan bumi dan segala sesuatu yang ada di atasnya baik alami maupun buatan manusia (sungai, bangunan, jembatan, saluran air, sawah dll).Pemetaan Situasi adalah penggambaran unsurunsur yang ada dipermukaan bumi diatas suatu bidang datar dengan skala tertentu yang disebut peta. Titik-titik detail adalah titiktitik yang ada dilapangan antara lain yaitu titik pojok bangunan, batasan tanah, titik sepanjang pinggiran jalan serta titik-titik lain yang letak dan kerapatannya ditentukan untuk menggambarkan bentuk permukaan tanah. beberapa metode dalam pengukuran titiktitik detail yang dapat dilakukan, diantaranya adalah : Metode Tachimetri, Metode Offset dan Metode Grafis. Data geometris yang diukur dapat dibagi dalam dua macam data, yaitu: Data planimetris yang dapat dibagi lagi menjadi jarak mendatar dan sudut mendatar Data tinggi (Umaryono U, 1986).</p> <p>Cara tachimetri</p> <p>Pengukuran cara ini merupakan cara yang paling banyak digunakan dalam praktek, terutama untuk pemetaan daerah yang luas dan untuk detail-detail yang bentuknya tidak beraturan. Dengan cara inipun bentuk permukaan tanah dapat dengan mudah dipetakan. Untuk dapat memetakan dengan cara ini diperlukan alat yang dapat mengukur arah dan sekaligus jarak. Oleh karena itu alat ukur utama yang digunakan adalah total station dan yalon. Pada alat-alat tersebut arah-arah garis di lapangan, jarak, sudut tegak, sudut horisontal, jarak mendatar dan jarak vertikal dapat dikur secara otomatis saat membidik titik, melalui refleksi prisma yang berada di atas yalon. Tergantung jaraknya, dengan cara ini, titik-titik detail dapat diukur dari titik kerangka dasar atau dari titik bantu yang diikatkan pada titik kerangka dasar. Besaran-besaran yang diukurnya adalah : azimuth (magnit), jarak (optis) dan sudut tegak. Dengan besaran-besarn tersebut posisi mendatar dan ketinggian titik-titik detail dapat dihitung. Untuk lebih jelasnya,perhatikan gambar dibawah ini. cdbaefghijmnklK1K3K5K2K4K6H5H4H3H2H1Gambar 3.9 Cara Tachimetri</p> <p>Titik detail 1 dan 2 diukur dari titik kerangka dasar A, besaran yang diukur adalah :azimuth 1 dan 2, jarak d1 dan d2, serta sudut tegak ke titik-titik detail. Dari besaran-besaran ukuran tersebut posisi mendatar dan ketinggian titik A telah diketahui. Titik-titik detail 3 dan 4 diukur dari titik bantu H yang diikatkan pada titik kerangka dasar B. Besaran-besaran yang diukur adalah B, dB, 3, d3, 4, d4 serta sudut-sudut tegaknya. Karena titik H diikatkan ke titik Kerangka dasar B, maka posisi dan ketinggian H dapat ditentukan. Selanjutnya dari titik H, posisi mendatar dan ketinggian titik-titik detail dapat ditentukan. Mengingat akan banyaknya titik-titik detail yang diukur , serta terbatasnya kemampuan jarak yang dapat diukur dengan alat-alat tesebut di atas, maka akan diperlukan banyak titik bantu. Mengingat pula jarak-jarak antara titik kerangka dasar umumnya panjang-panjang, maka dalam praktek, titik-titik bantu tersebut diukur sambung menyambung sehingga membentuk suatu polygon, yang disebut polygon kompas. Untuk mengontrol pengukurannya, polygon kompas perlu dimulai dari titik kerangka dasar dan berakhir pada titik kerangka dasar lagi (Umaryono, 1986).</p> <p>2. Alat-alat Survey elektronik Ada beberapa macam- macam survei elektronik diantaranya A.Total Station Peralatan yang mengkombinasikan 3 komponen dasar; EDM (Alat pengukur jarak), komponen pengukur sudut secara elektronik, dan sebuah komputer atau mikroprosesor menjadi satu kesatuan yang terintegrasi. Peralatan ini dapat secara otomatis mengukur sudut vertikal atau horizontal, dari data tersebut dapat menghitung secara instan jarak vertikal dan horisontal, ketinggian, dan koordinat point yang dibidik dan hasilnya ditampilkan pada layar LCD.</p> <p>Tata cara pengukuran kerangka horizontal menggunakan total stationAlat yang digunakan adalah satu buah TS dan dua buah reflektor. Pembidikan harus tepat menempatkan perpotongan benang yang terlihat pada lensa ke ujung segitiga prisma yang lancip yang terletak pada reflektor. Untuk memulai pengukuran pertama-tama salah satu reflektor ditempatkan di titik ikat, TS pada titik kerangka dasar disebelahnya dan reflektor yang satunya lagi pada titik kerangka dasar di sebelah TS. Untuk selanjutnya reflektor yang dipasang pada titik ikat dinamakan reflektor belakang dan reflektor yang ditempatkan pada titik kerangka dasar dinamakan reflektor muka.</p> <p>Download hasil pengukuranDownload hasil pengukuran diatas dari alat TS tersebut ke software pengolah data lanjutan sampai dengan pembentukan gambar digital. Biasanya tiap merk ETS mempunyai software sendiri, seperti : LISCAD - Leica CIVILCAD - TOPCON SDRMAP - SOKIA DRLINK + - NIKON, dllPengolahan Data Total StationMetoda yang akan digunakan untuk pengolahan data poligon yaitu dengan menggunakan metoda Bowditch, dimana kesalahan penutup sudut akan dibagi secara merata kesetiap titik yang diukur, sedangkan kesalahan penutup jarak akan dikoreksikan ke setiap absis dan ordinat</p> <p>Bagian-bagian dari total station</p> <p> Teropong / teleskop mempunyai retikel dengan benang pada lensanya yang dilengkapi dengan kolimator Kolimator berfungsi sebagai alat bidik secara kasar Nivo tabung dan nivo kotak berfungsi untuk menandakan total station sudah dalam posisi center Skrup gerak vertikal untuk menngerakkan teropong kearah vertikal Skrup gerak horizontal untuk menggerakkan bagian tubuh total station kearah horizontal. Display window digunakan untuk menampilkan data-data hasil bidikan ke yalon Tiga sekrup penyetel digunakan untuk levelling, mengunci base, dan sentering Sentering optis digunakan untuk melihat apakah titik di patok sudah tepat ditengah atau belum</p> <p>Kesalahan yang bersumber dari pengukur Terjadi karena kurang hati-hati, kurang pengetahuan, kurang pengalaman, dan kurang perhatian. Sumber daya manusia yang tidak dapat menggunakan penggunaan alatKesalahan yang bersumber dari alamKesalahan yang bersumber dari alat</p> <p>B. GPS (global positioning system)Pada dasarnya konsep dasar penentuan posisi dengan GPS adalah reaksi ( pengikatan ke belakang) dengan jarak, yaitu dengan pengukuran jarak secara simultan ke beberapa satelit GPS yang koordinatnya telah diketahui. Pada pengamatan dengan GPS, yang bisa diukur hanyalah jarak antara pengamat dan satelit dan bukan vector nya. Penentuan posisi pengamat di lakukan dengan melakukan pengamatan terhadap beberapa satelit sekaligus secara simultan, dan tidak hanya terhadap satu satelit.Posisi yang diberikan oleh GPS adalah posisi tiga dimensi yang dinyatakan dalam datum WGS (World Geodetic System) 1984. Dengan GPS, titik yang akan ditentukan posisinya dapat diam (static positioning) ataupun bergerak (kinematic positioning). Suatu posisi tidak dapat ditentukan dengan menggunakan satu receiver GPS terhadap pusat bumi dengan menggunakan metode penentuan posisi absolut, ataupun terhadap titik lainnya yang telah diketahui koordinatnya (stasiun referensi) dengan menggunakan metode differensial (relatif) yang menggunakan minimal dua receiver GPS.Disamping itu, GPS dapat memberikan posisi secara instan (real-time) ataupun sesudah pengamatan setelah data pengamatannya diproses secara lebih ekstensif (post processing) yang biasanya dilakukan untuk mendapat ketelitian yang lebih baik.Dari beragam suatu metode penentuan posisi tersebut, metode survey GPS secara umum dapat didefinisikan sebagai proses penentuan koordinat dari sejumlah titik terhadap beberapa buah titik yang telah diketahui koordinatnya, dengan menggunakan metode penentuan posisi differensial serta data pengamatan fase dari sinyal GPS. Pada survey GPS, pengolahan data umumnya dilakukan setelah pengamatan selesai (post-processing); meskipun dengan brkembangnya system RTK (Real Time Kinematic), survey GPS secara rel-time juga mulai dapat terealisasi.</p> <p>Tata cara penggunaan GPS (Global Positioning System)ABC12332Arah perpindahan GPS1,2,3Baseline yang diukur</p> <p> Pada pengukuran baseline 1 (AC), tim I melakukan pengamatan di titik C, dan tim II di titik...</p>