by ns.yoani aty.,s

Click here to load reader

Post on 02-Oct-2021

0 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

KEBUTUHAN OKSIGENASI dari luar yang mengandung Oksigen (O2)
kedalam tubuh serta menghembuskan
oksidasi.
ditentukan oleh sistem respirasi
(pernafasan), kardiovaskuler dan hematology.
Saluran pernapasan bagian atas
Saluran pernapasan bagian bawah
Bentuk pipa (saluran) , tersusun dari gabungan rawan dan serabut-serabut elastin dan otot polos. sifat: kaku tapi elastis
Fungsi :
Supaya udara yang masuk bisa berlangsung terus menerus
Fisioanatomi alveolus:
Tersisipi banyak makrofag, memindahkan materi asing dari dalam paru-paru yang belum tersaring di alat pernapasan sebelumnya
Alveoli berbentuk kantong sangat tipis, karena membrannya hanya terdiri dari satu lapisan sel
Susunan alveoli yang berlobus (memperluas permukaan difusi)
Sekelilingnya terdapat kapiler-kapiler
Jarak antara dinding kapiler dengan dinding alveoli hanya berkisar 0,1-1,2 mikron
Konsentrasi oksigen yang berada di alveoli lebih tinggi daripada yang berada di darah dalam pembuluh kapiler di sekitarnya
Konsentrasi karbondioksida di kapiler lebih tinggi dibandingkan yang ada di
dalam alveoli sehingga karbondioksida akan berdifusi dari kapiler menuju alveoli.
3. Transport O2 dan CO2 melalui darah ke sel
– sel jaringan
→ Meningkat saat aktifitas dan dalam keadaan sakit.
→ Selama inspirasi rusuk akan naik oleh karena aksi otot leher anterior dan kontraksi otot intercostal external.
→ Selama ekspirasi rusuk akan turun oleh karena aksi otot perut anterior.
→ Aktifitas otot tambahan dan usaha nafas bertambah pada klien dengan penyakit obstruksi saluran pernafasan.
Kecukupan O2 di Udara Luar Konsentrasi o2 pada tempat tinggi lebih rendah dari di laut. Kebersihan Jalan Nafas
Kembang kempis Paru Pengembangan semua bagian paru dan dada. Regulasi Respirasi Pengatur ventilasi paru ( PO2 dan PCO2 ) tetap konstan, Pusat pengendali pernafasan terletak di medulla oblongata dan pons.
Volume tidal ( TV ) : jumlah udara yang digunakan pada tiap siklus respirasi. 500 ml pada laki – laki dan 400 ml pada wanita.
Volume cadangan inspirasi / Inspiratory reserve volume ( IRV ) : jumlah udara yang didapat pada inhalasi maksimal, 3100 ml
Volume cadangan ekspirasi / Expiratory reserve volume ( ERV ) : jumlah udara yang dikeluarkan pada saat ekspirasi kuat, 1200 ml.
Volume residu ( RV ) : jumlah udara yang tersisa setelah ekspirasi, normalnya 1200 ml
• Kapasitas total paru ( TLC ) : jumlah udara maksimal dalam paru setelah inspirasi maksimal : TLC = TV + IRV + ERV + RV, 6000 ml
• Kapasitas vital ( VC ) : jumlah udara yang dapat diekspirasi setelah inspirasi kuat : VC = TV + IRV + ERV ( biasanya 80 % TLC ), 4800 ml
• Kapasitas inpirasi ( IC ) : jumlah udara maksimal yang didapat setelah ekspirasi normal, IC = TV + IRV , 3600 ml
• Kapasitas fungsional residu ( FRC ) : volume udara yang tertinggal dalam paru setelah ekspirasi normal volume tidal, FRC = ERV + RV, 2400 ml
Saat inspirasi, volume paru bertambah, dan
tekanan intrapulmoner menurun.
tekanan intrapulmonal meningkat.
• Difusi adalah pergerakan gas/partikel dari tempat bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah.
Faktor yang berpengaruh pada difusi gas dari membran respirasi : 1. Ketebalan membran → ketebalan membran akan bertambah pada pasien dengan edema pulmoner atau penyakit pulmoner yang lain. → bertambahnya ketebalan membran menyebabkan penurunan difusi gas.
2. Area permukaan membran
3. Koefisien difusi gas Tergantung berat molekul dan kelarutan gas dalam membran. CO2 dapat berdifusi 20 kali lebih cepat dari O2.
4. Perbedaan tekanan pada semua sisi membran perbedaan tekann udara pada semua sisi membran respirasi berpengaruh pada proses difusi. Jika tekanan oksigen pada alveoli lebih besar dari darah, maka o2 berdifusi ke darah. Perbedaan normal dari PO2 antara alveoli dan darah adalah 40 mm Hg.
Oksigen ke jaringan – jaringan, dan
karbondioksida dari jaringan ke paru.
Normalnya 97 % O2 berikatan dengan
hemoglobin dalam sel darah merah secara
bebas, dan dibawa ke jaringan sebagai
oxyhemoglobin.
didifusikan ke jaringan – jaringan.
Cardiac Output : → 5 liter per menit.
Jumlah Erytrocit : laki – laki 5juta/mm³ dan wanita 4,5 juta /mm³.
Latihan Bertambahnya latihan → peningkatan transport O2 ( 20 x kondisi normal ), menigkatkan cardiac uotput dan penggunaan O2 oleh sel.
Hematokrit Darah Normalnya 40 % – 54 % pada laki – laki, dan 37 % – 47 % pada wanita. Meningkatnya hematokrit → peningkatan viskositas → bertambanya cardiac output → meningkatnya transport oksigen. Normalnya, dalam kondisi istirahat sekitar 4 ml CO2 per 100 ml darah ditransport dari jaringan ke paru – paru.
1. Lingkungan / Enviroment : Ketinggian, panas, dingin, dan polusi udara berpengaruh pada oksigenasi.
2. Latihan / Exercise : Aktifitas atau latihan fisik → meningkatkan respiratory dan heart rate , dan suplai O2 di dalam tubuh. 3. Emosi / Emotions 4. Gaya Hidup / Life Style Silicosis → pada seseorang pemecah batu ; Asbestosis → pada pekerja asbes Antracosis → pada penambang batu bara ; Petani → penyakit debu organic Rokok cigarret → faktor predisposisi pada penyakit paru 5. Status Kesehatan / Health Status 6. Narcotics : Menurunkan rata – rata dan kedalaman pernafasan oleh karena depresi pusat respirasi pada medulla.
HYPOXIA Merupakan kondisi ketidakcukupan oksigen dalam tubuh,
PERUBAHAN POLA NAFAS Tachypnea → nafas yang cepat ( penurunan O2 dalam darah ). Bradypnea → nafas yang lambat ( penyebab depresi respirasi ), asidosis metabolik, dan pasien dengan PTIK ( peningkatan tekanan intrakranial, → injuri otak ). Hyperventilasi → jumlah udara dalam paru berlebihan. Sebab udara dalam alveoli melebihi kebutuhan tubuh. Hypoventilasi → ketidakcukupan ventilasi alveoli ( ventilasi tidak mencukupi kebutuhan tubuh ), sehingga CO2 dipertahankan dalam aliran darah. Hypoventilasi dapat terjadi sebagai akibat dari kollaps alveoli, obstruksi jalan nafas, atau efek samping dari beberapa obat.
• Cheyne Stokes → bertambah dan berkurangnya ritme respirasi, dari perafasan yang sangat dalam, lambat dan akhirnya diikuti periode apnea, o.k gagal jantung kongestif, PTIK, dan overdosis obat.
• Kussmaul’s ( hyperventilasi ) → peningkatan kecepatan dan kedalaman nafas biasanya lebih dari 20 x per menit. Dijumpai pada asidosisi metabolik, dan gagal ginjal.
• Apneustic → henti nafas , pada gangguan sistem saraf pusat
• Biot”s → nafas dangkal, mungkin dijumpai pada orang sehat dan klien dengan gangguan sistem saraf pusat. Normalnya bernafas hanya membutuhkan sedikit usaha. Kesulitan bernafas disebut dyspnea.
OBSTRUKSI JALAN NAFAS
Disebabkan benda asing, sperti makanan,
lidah jatuh ke belakang ( pada pasien tidak
sadar ), penumpukan sekret pada jalan
nafas.
KONTROL SARAF ATAS RESPIRASI
Ventilasi dikontrol oleh pusat napas dibatang otak bagian bawah di daerah medula dan pons. Di medula, terdpt neuron2 inspirasi & ekspirasi yg lepaskan muatan pd waktu yg berbeda dlm suatu pola kecepatan & irama yg telah ditentukan sebelumnya.
Neuron2 respirasi menjalankan respirasi dgn rangs neuron motorik yg persarafi diafragma dan otot2 antar iga.
Neuron motorik yang menjalankan respirasi
Neuron motorik utama yg mengontrol pernapasan adlh saraf frenikus. Apabila diaktifkan oleh neuron2 inspirasi pusat, maka saraf frenikus menyebabkan dada mengembang & udara mulai mengalir dari atmosfir ke dlm paru. Hal ini disebut inspirasi. Seiring dgn berlanjut inspirasi, maka pelepasan oleh muatan neuron2 ekspirasi meningkat, sehingga aktivitas neuron motorik berhenti & terjadi relaksasi diafragma & otot2 antar iga. Dada kembali mengempis & udara mengalir keluar paru. Aliran udara yg keluar dari paru adlh ekspirasi.
Kemoreseptor sentral
Kemoreseptor perifer
medula dan pons terutama untuk meningkatkan
ventilasi sewaktu kadar O2 rendah.
Kemoreseptor ini kurang sensitif dari pada
kemoreseptor sentral.
Volume tidal ( volume udara keluar dan masuk pada pernapasan normal : 500 ml).
Volume cadangan inspirasi adl volume udara ekstra yang dapat diinspirasi setelah volume tidal =3000 ml.
Volume cadangan ekspirasi udara yang masih dapat dikeluarkan setelah ekspirasi biasa = 1000 ml .
kapasitas vital (volume udara maximum yang dapat dihirup dan dikeluarkan selama pernapasan yang dipaksakan: 3500 ml /wanita, dan 4500 ml / pria).
Kapasitas inspirasi adalah volume tidal + volume cadangan inspirasi = 3500 ml.
Volume residu (sisa udara dalam paru-paru ketika kita mengeluarkan sebanyak mungkin udara =1000 ml).
Kapasitas paru-paru total = kapasitas vital + volume residu =4500 ml/wanita dan 5500 ml/pria.
Kapasitas volume paru : Volume paru ditentukan oleh proses spirometrik yg ukur volume udara msk keluar paru.
Tidal volume : Jumlah udara yg diinspirasi & diekspirasi pd setiap tarikan napas. N ; 500 – 700 ml.
Volume cadangan inspirasi : volume udara diatas inspirasi tidal volume yg dpt dihirup pd setiap tarikan napas (300 ml).
Volume cadangan ekspirasi : Jumlah udara maksimum yg dpt dihembuskan melebihi ekspirasi normal (100 ml).
Volume residual : udara yg tetap berada di dlm paru setelah ekshalasi maksimum (1200 ml).
Kapasitas vital : Jumlah udara maksimum pd seseorg yg berpindah pd satu tarikan napas. Kapasitas ini mencakup volume cadangan inspirasi, tidal volume & volume cadangan ekspirasi.
Nilainya diukur dgn menyuruh individu inspirasi maks kemudian hembuskan sebanyak mungkin udara di dlm parunya ke alat pengukur (spirometri). Dlm keadaan normal paru dpt tampung udara 5 liter. Dlm keadaan normal jumlah pernapasan (RR) : Orang dewasa : 16 – 18 x/mnt, Anak2 : 24 x/mnt, Bayi : 30 x/mnt
KI = VT + VCI
KRF = VCE + VR.
Sakit dada
(PQRST)
perawat mengkaji, mengandung unsur PQRST
(Paliatif/Provokatif, Quality, Regio, Skala,
Bayi : 44 x/mnt; Anak : 20 - 25 x/mnt; Dewasa : 15
- 20 x/mnt; Dewasa tua : volume residu meningkat,
kapasitas vital menurun
mengalami masalah / penyakit yang sama.
• Riwayat sosial : merokok, pekerjaan, rekreasi,
keadaan lingkungan, faktor-faktor alergen dll.
• Riwayat psikologis : tanggapan pasien & keluarga
terhdp penyakit
a. Hidung dan sinus Inspeksi : cuping hidung, deviasi septum, perforasi, mukosa (warna, bengkak, eksudat, darah), kesimetrisan hidung. Palpasi : sinus frontalis, sinus maksilaris
b. Faring Inspeksi : warna, simetris, eksudat ulserasi, bengkak
c. Trakhea Palpasi : dengan cara berdiri dibelakang pasien, letakkan jari tengah pada bagian bawah trakhea dan raba trakhea ke atas, ke bawah dan ke samping sehingga kedudukan trakhea dapat diketahui.
d. Thoraks
menonjol ke depan), Funnel chest (sternum ke
dalam) ,Barrel chest, Kiposis atau bungkuk,
Lordosis atau membusung ke depan, Skoliosis :
ke salah satu sisi.
• Pola napas : kecepatan/frekuensi : eupnea
apnea (henti napas).
hipoventilasi ( pernapasan lambat).
• pernapasan dada yaitu pernapasan yang ditandai dengan pengembangan dada, ataukah pernapasan perut yaitu pernapasan yang ditandai dengan pengembangan perut.
• Ritme/irama pernapasan yaitu reguler atau irreguler, cheyne stokes yaitu pernapasan yang cepat kemudian menjadi lambat dan kadang diselingi apnea, atau pernapasan kusmaul yaitu pernapasan yang cepat dan dalam, atau pernapasan biot yaitu pernapasan yang ritme maupun amplitodunya tidak teratur dan diselingi periode apnea.
Bunyi napas : stridor/mendengkur yang terjadi karena adanya obstruksi jalan napas bagian atas, atau stridor (bunyi kering dan nyaring , didengar saat inspirasi), wheezing yaitu bunyi napas (seperti bersiul), rales (mendesak atau bergelembung dan didengar saat inspirasi), ronchi (bunyi napas kasar dan kering saat ekspirasi). Batuk produktif , batuk non produktif , hemoptue
Oksigenasi : anoxia , hipoxemia , hipoxia, cianosis
SUARA TAMBAHAN RALES: o akibat eksudat lengket saat saluran napas
mengembang (inspirasi)
o peradangan jaringan paru (pneumonia-TBC) Halus: “meritik” pada akhir inspirasi; pendek Sedang: lebih kasar di tengah-akhir inspirasi Kasar: lebih lama; pada seluruh fase inspirasi Rales tidak hilang saat pasien disuruh batuk
RONCHI: o akibat terkumpulnya cairan mukus dalam trakhea
/ bronkus besar (edema paru)
o hilang bila pasien disuruh batuk
…….lanjutan WHEEZING:
o akibat ada eksudat lengket tertiup aliran udara & bergetar nyaring (bronkitis akut)
o bunyi musikal….ngiiiiik…..
PLEURAL-FRICTION RUB:
o kering seperti gosokan amplas pada kayu
o Paling jelas oada posteri-lateral bawah dinding thoraks
Untuk mengkaji keadaan kulit pada dinding
dada, nyeri tekan, massa, peradangan,
kesimetrisan ekspansi dan taktil vremitus.
Taktil vremitus adalah vibrasi yang dapat
dihantarkan melalui sistem bronkhopulmonal
selama seseorang berbicara. Normalnya
dinding dada kanan karena bronkhus kanan
lebih besar. Pada pria lebih mudah terasa
karena suara pria besar
Suara perkusi normal : SONOR ( dug-dug)
Tidak normal : redup. Pekak, Hipersonor,Timpani,
→ Specimen. untuk kultur dan sensitifitas → identifikasi mikroorganisme spesific dan sensitifitas terhadap obat. Untuk cytology → untuk mengidentifikasi sebab, struktur, fungsi dan patologi sel. Specimen untuk sitologi didapatkan dari pengumpulan sputum pada pagi hari ( selama 3 hari ) dan dites untuk mengetahui kanker pada paru. BTA ( Bacil Tahan Asam ) → dengan mengumpulkan sputum tiga hari berturut – turut, untuk mengindentifikasi presentase TB. → Spirometri → tes fungsi paru – paru. → BGA ( Blood Gas Analysa ) → PCO2 : 35 – 45 mm Hg PO2 : 80 – 100 mm Hg pH : 7,35 – 7,45 → Pemeriksaan darah : eritrosit, Hb, leukosit, dll → Pemeriksaan Visual : Rontgen, Bronchoscopy, Scaning, Flouroskopy.
1. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d. :
Produksi Sekresi yang kenta atau berlebihan
Imobilisasi
Berkurangnya mekanisme pembersihan silia atau respon
peradangan
Penyakit infeksi pada paru
Perubahan suplai oksigen
Obstruksi Saluran pernapasan
Atelekstasis,Bronkospasme,adanya edema paru
Tindakan pembedahan paru
Imobilisasi
Mempertahankan pola napas agar kembali efektif
Mempertahankan pertukaran gas
Memperbaiki perfusi jaringan
Mempertahankan jalan napas agar efektif 1. Awasi perubahan status jalan napas dengan monitor
jumlah, bunyi atau status kebersihannya
2. Berikan Humidifier ( pelembab )
4. Ajarkan Teknik batuk efektif
5. Pasang jalan napas buatan : oropharingeal/nasopharingeal airway,intubasi trakea, trakeostomy
Mempertahankan pola napas agar kembali efektif
1. Awasi perubahan status pola pernapasan
2. Atur posisi sesuai dengan kebutuhan (
semifowler )
Mempertahankan pertukaran gas
2. Atur posisi sesuai dengan kebutuhan
( semifowler )
5. Pertahankan berkembangnya paru dengan memasang
ventilasi mekanis, chest tube dan chest drainage
Memperbaiki perfusi jaringan
( Capillary Refill time )
3. Pertahankan asupan
menahan napas, batuk
6. Pertahankan perfusi dengan transfusi
Mempertahankan jalan napas agar efektif 1. Awasi perubahan status jalan napas dengan monitor
jumlah, bunyi atau status kebersihannya
2. Berikan Humidifier ( pelembab )
4. Ajarkan Teknik batuk efektif
5. Pasang jalan napas buatan : oropharingeal/nasopharingeal airway,intubasi trakea, trakeostomy
Mempertahankan pola napas agar kembali efektif
1. Awasi perubahan status pola pernapasan
2. Atur posisi sesuai dengan kebutuhan
( semifowler )
Mempertahankan pertukaran gas
2. Atur posisi sesuai dengan kebutuhan
( semifowler )
5. Pertahankan berkembangnya paru dengan memasang
ventilasi mekanis, chest tube dan chest drainage
Memperbaiki perfusi jaringan
( Capillary Refill time )
3. Pertahankan asupan
menahan napas, batuk
6. Pertahankan perfusi dengan transfusi
1. Mempertahankan terbukanya jalan napas
A. Pemasangan jalan napas buatan
Jalan napas buatan (artificial airway) adalah suatu alat pipa (tube) yang dimasukkan ke dalam mulut atau hidung sampai pada tingkat ke-2 dan ke-3 dari lingkaran trakhea untuk memfasilitasi ventilasi dan atau pembuangan sekresi Rute pemasangan : • Orotrakheal : mulut dan trakhea • Nasotrakheal : hidung dan trakhea • Trakheostomi : tube dimasukkan ke dalam trakhea melalui suatu insisi yang diciptakan pada lingkaran kartilago ke-2 atau ke-3 • Intubasi endotrakheal
B. Latihan napas dalam dan batuk efektif Biasanya dilakukan pada pasien yang bedrest atau post operasi Cara kerja : • Pasien dalam posisi duduk atau baring • Letakkan tangan di atas dada • Tarik napas perlahan melalui hidung sampai dada mengembang • Tahan napas untuk beberapa detik • Keluarkan napas secara perlahan melalui mulut dampai dada berkontraksi • Ulangi langkah ke-3 sampai ke-5 sebanyak 2-3 kali • Tarik napas dalam melalui hidung kemudian tahan untuk beberapa detik lalu keluarkan secara cepat disertai batuk yang bersuara • Ulangi sesuai kemampuan pasien • Pada pasien pot op. Perawat meletakkan telapak tangan atau bantal pada daerah bekas operasi dan menekannya secara perlahan ketika pasien batuk, untuk menghindari terbukanya luka insisi dan mengurangi nyeri
C. Posisi yang baik Posisi semi fowler atau high fowler, Orthopneic, memungkinkan pengembangan paru maksimal karena isi abdomen tidak menekan diafragma
D. Pengisapan lendir (suctioning) Melepaskan sekresi yang berlebihan pada jalan napas, suction dapat dilakukan pada oral, nasopharingeal, trakheal, endotrakheal atau trakheostomi tube.
E. Pemberian obat bronkhodilator
obstruksi dan meningkatkan pertukaran
menyemprotkan obat ke dalam saluran
napas.
2. Mobilisasi sekresi paru
A. Hidrasi Pasien minum banyak - 2,5 liter perhari, tetapi dalam batas kemampuan/cadangan jantung.
B. Humidifikasi Pengisapan uap panas untuk membantu mengencerkan atau melarutkan lendir.
C. Postural drainage Gunakan kekuatan gravitasi untuk pelepasan sekresi bronkhial dari bronkhiolus supaya dapat membatukkan atau dihisap sekresinya. Biasanya dilakukan 2 - 4 kali sebelum makan dan sebelum tidur / istirahat. Tekniknya : • Sebelum postural drainage, lakukan : - Nebulisasi untuk mengalirkan sekret - Perkusi sekitar 1 - 2 menit - Vibrasi 4 - 5 kali dalam satu periode • Lakukan postural drainage, tergantung letak sekret dalam paru.
3. Mempertahankan dan meningkatkan pengembangan paru
A. Latihan napas Peningkatan efisiensi pernapasan yang bertujuan penghematan energi melalui pengontrolan pernapasan Jenis latihan napas : • Pernapasan diafragma • Pursed lips breathing • Pernapasan sisi iga bawah • Pernapasan iga dan lower back • Pernapasan segmental
B. Pemasangan ventilasi mekanik Adalah alat yang berfungsi sebagai pengganti tindakan pengaliran / penghembusan udara ke ruang thoraks dan diafragma. Alat ini dapat mempertahankan ventilasi secara otomatis dalam periode yang lama. Ada dua tipe yaitu ventilasi tekanan negatif dan ventilasi tekanan positif.
C. Pemasangan chest tube dan chest drainage Chest tube drainage / intra pleural drainage dibuat chest kateter dari rongga pleura dihubungkan ke sistem drainage.
Indikasinya pada trauma paru seperti : hemothoraks, pneumothoraks, open pneumothoraks, flail chest.
Tujuannya : • Untuk melepaskan larutan, benda padat, udara • Untuk mengembalikan ekspansi paru. Tipenya : a. The single bottle water seal system b. The two bottle water c. The three bottle water
4. Mengurangi / mengoreksi hipoksia dan
kompensasi tubuh akibat hipoksia
• Nasal canule
• Bronkhopharingeal khateter
• Simple mask
dapat menekan nervus 1)
• Upaya mengencerkan sekret • Teknik batuk dan postural drainage • Suctioning • Posisi fowler/semi fowler, significant other • Mengatur istirahat dan aktifitas, tingkatkan rasa nyaman, ROM • Mengurangi usaha bernapas pakaian tipis dan hangat, hindari makan berlebih dan banyak mengandung gas
• Mempertahankan nutrisi dan hidrasi • Mempertahankan eliminasi • Mencegah dan mengawasi potensial infeksi • Terapi O2 • Terapi ventilasi • Drainage dada
1. Latihan Napas
memperbaiki ventilasi alveoli atau memelihara
pertukaran gas, mencegah atelektasis,
stres.
3. Atur posisi( duduk atau tidur terlentang )
4. Anjurkan untuk mulai latihan dengan cara
napas melalui hidung dengan mulut tertutup.
5. Anjurkan untuk menahan napas selama 1-1,5
detik, kemudian disusul dengan
7. Cuci tangan
Latihan batuk untuk membersihkan laring,trakea, dan bronkiolus dari sekret atau benda asing di jalan napas
PROSEDUR KERJA : 1. Cuci tangan 2. Jelaskan prosedur 3. Atur posisi pasien dengan duduk di tepi
tempat membungkuk ke depan
4. Anjurkan menarik napas secara pelan dan dalam dengan menggunakan pernapasan diafragma
5. Setelah itu tahan napas kurang lebih 2 detik
6. Batukan 2 kali dengan mulut terbuka
7. Tarik napas dengan ringan
8. Istirahat
10. Cuci tangan
Memberikan oksigen ke dalam paru-paru melalui saluran pernapasan dengan menggunakan alat bantu oksigen: melalui kanul, nasal, masker untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan mencegah hipoksia.
Oksigen yang diberikan dengan konsentrasi yang rendah ( 24 – 40 % ) dengan kecepatan 2-4 liter/menit
1. Alat dan Bahan a. Tabung oksigen lengkap dengan flowmeter dan humidifer
b. Nasal kateter, kanula, masker
c. Vaselin/jeli.
d. Plester
b. Ucapkan salam teraupetik
c. Cuci tangan
d. Jelaskan prosedur kerja dan kaji gejala hipoksia dan sekret pada jalan napas
e. Cek Flowmeter dan Humidifier
f. Sambungkan kanul nasal ke selang oksigen dan ke sumber oksigen
g. Hidupkan tabung oksigen
h. Atur pasien pada posisi semifowler atau sesuai dengan kondisi pasien
i. Berikan oksigen melalui kanul
j. Pastikan aliran oksigen berfungsi dengan baik :
selang tidak tertekuk, terasa udara keluar melalui kanul
a. Catat pemberian dan lakukan observasi
b. Cuci tangan
Memberikan oksigen dengan konsentrasi dan kecepatan aliran 40-60 % pada kecepatan 5-8 liter/menit
Persiapan alat Fase mask, sesuai dengan kebutuhan dan ukuran pasien
Selang oksigen
1. Lakukan 1-5 seperti pada pemberian oksigen melalui kanul nasal
2. Sambungkan masker ke selang dan ke sumber oksigen
3. Atur pita elastik ke telinga sampai masker terasa pas dan nyaman
4. Berikan aliran oksigen sesuai dengan kecepatan aliran
5. Periksa masker,aliran oksigen setiap 2 jam atau lebih cepat tergantung kondisi dan keadaan umum
6. Pertahankan batas air pada botol humidifier setiap waktu
7. Periksa jumlah kecepatan aliran oksigen dan program terapi setiap 8 jam
8. Kaji iritasi pada membran mukosa
9. Cuci tangan
Postural drainage
2. Kertas Tisu
4. Satu bantal ( postural drainage )
Postural Drainage 1. Cuci tangan
2. Jelaskan prosedur
3. Miringkan tubuh pasien ke arah kiri ( untuk membersihkan paru bagian kanan )
4. Miringkan tubuh pasien ke arah kanan ( untuk membersihkan paru bagian kiri )
5. Miringkan tubuh pasien ke kiri dan tubuh bagian belakang kanan di sokong dengan satu bantal ( untuk membersihkan bagian lobus tengah )
6. Lakukan postual drainage ± 10-15 menit
7. Observasi TTV selama prosedur
8. Setelah pelaksanaan postural drainage lakukan Clapping, Vibrating, dan suction
9. Lakukan hingga lendir bersih
10. Cuci tangan
1. Cuci tangan
2. Jelaskan prosedur
3. Atur posisi pasien sesuai dengan kondisinya
4. Lakukan clapping dengan cara kedua tangan perawat menepuk punggung pasien secara bergantian untuk merangsang terjadinya batuk
5. Bila pasien sudah batuk, berhenti sebentar dan anjurkan menampung sputum pada pot sputum
6. Lakukan hingga lendir bersih
7. Catat respon yang terjadi
8. Cuci tangan
1. Cuci tangan
3. Atur posisi pasien sesuai dengan kondisi
4. Lakukan vibrating dengan anjurkan pasien untuk menarik napas dalam dan mengeluarkan secara perlahan. Kedua tangan perawat diletakan di bagian atas samping depan cekungan iga,kemudian getarkan secara perlahan dan lakukan berkali-kali hingga pasien batuk
5. Bila pasien sudah batuk berhenti sebentar dan anjurkan untuk menampungnya pada pot sputum
6. Lakukan hingga lendir bersih
7. Catat respon yang terjadi
8. Cuci tangan
Dilakukan saat pasien tidak mampu mengeluarkan sekret sendiri untuk membersihkan jalan napas dan memenuhi kebutuhan oksigen
Alat dan bahan : Alat pengisap lendir dengan botol berisi
larutan desinfektan Kateter pengisap lendir Pinset steril Sarung tangan steril Dua buah kom berisi larutan aquades atau
NaCl 0.9% dan larutan desinfektan Kasa steril Kertas Tissue
1. Cuci tangan
3. Atur pasien pada posisi terlentang dengan kepala miring
ke arah perawat
6. Hidupkan mesin pengisap
pengisap ke dalam kom berisi aquades atau NaCl 0,9 %
untuk mencegah trauma mukosa
9. Tarik dengan memutar kateter pengisap kurang dari 3-5
detik
11. Lakukan hingga lendir bersih
12. Catat respon yang terjadi
13. Cuci tangan
pus) dari rongga pleura, rongga thoraks, dan
mediastinum dengan menggunakan pipa
dalam rongga pleura
keluar dari rongga pleura
Mencegah udara masuk kembali ke rongga pleura
yang dapat menyebabkan pneumotoraks
pada intra pleura.
tekanan yang tinggi ke tekanan yang rendah.
Tekanan positif : Udara dan cairan dalam
kavum pleura ( + 763 mmHg atau lebih ).
Akhir pipa WSD menghasilkan tekanan WSD
sedikit ( + 761 mmHg )
Satu botol Sistem ini terdiri dari satu botol dengan penutup segel.
Penutup mempunyai dua lobang, satu untuk ventilasi udara dan lainnya memungkinkan selang masuk hampir ke dasar botol. Keuntungannya adalah :
Penyusunannya sederhana
Kerugiannya adalah :
Saat drainase dada mengisi botol lebih banyak kekuatan yang diperlukan
Untuk terjadinya aliran tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan botol
Campuran darah dan drainase menimbulkan busa dalam botol yang membatasi garis pengukuran drainase
Dua botol
Pada sistem dua botol, botol pertama adalah sebagai botol penampung dan
yang kedua bekerja sebagai water seal. Pada sistem dua botol, penghisapan
dapat dilakukan pada segel botol dalam air dengan menghubungkannya ke
ventilasi udara.
Memungkinkan observasi dan pengukuran drainage yang lebih baik
Kerugian :
Menambah areal mati pada sistem drainage yang potensial untuk masuk ke
dalam area pleura.
Untuk terjadinya aliran, tekanan pleura harus lebih tinggi dari tekanan
botol.
Tiga botol
Pada sistem tiga botol, botol kontrol penghisap ditambahkan ke sistem dua botol.
Botol ketiga disusun mirip dengan botol segel dalam air
Keuntungan :
Kerugian :
Sulit dan kaku untuk bergerak / ambulansi
Bagian apeks paru ( apikal ) Anterolateral
interkosta ke 1 - 2 untuk mengeluarkan udara
bagian basal
mengeluarkan cairan ( darah, pus ).