askep hipersensitivitas

Download askep hipersensitivitas

Post on 31-Jan-2016

225 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

keperawatan

TRANSCRIPT

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HIPERSENSITIVITAS

D

I

S

U

S

U

N

Oleh:

Kelompok 3

1. Fitri Sepriani

2. Heny Laia

3. Herlina Tarigan

4. Imelda Siburian

5. Ika Sarma

6. Rut Marlia

7. Sanriwifa Sitinjak

8. Santa Santi

9. Sofia Lorain

10. Saril Simarmata

11. Sri Nasrani

12. Sri Waty

13. Srinta Decy

14. Stefani Priscilla

15. Sulistyowati Gulo

16. Timo Rauli

Dosen: Adventina Hutapea, S.Kep.,Ns

PROGRAM STUDI DI NERS TAHAP AKADEMIK

STIKes SANTA ELISABETH MEDAN

2015

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar belakangImunitas atau kekebalan adalah sistem pada organisme yang bekerjamelindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi danmembunuh patogen serta sel tumor, sehingga tubuh bebas patogen dan aktivitas dapatberlangsung dengan baik.Selain dapat menghindarkan tubuh diserang patogen, imunitas juga dapatmenyebabkan penyakit, diantaranya hipersensitivitas dan autoimun. Hipersensitivitasadalah respon imun yang merusak jaringan tubuh sendiri. Reaksi hipersensitivitasterbagi menjadi empat tipe berdasarkan mekanisme dan lama waktu reaksihipersensitif, yaitu reaksi hipersensitivitas tipe I, tipe II, tipe III, dan tipe IV.(Kowalak, 2011).

Autoimunitas adalah kegagalan dari suatu organisme untuk mengenali bagian-bagian penyusunnya sendiri sebagai diri, yang memungkinkan respon imun terhadap sel sendiri dan jaringan tubuh. Setiap penyakitdari hasilrespon imun yang menyimpang diistilahkan sebagai suatu penyakit autoimun . Autoimunitas sering disebabkan oleh kurangnya perkembangan kuman dari tubuh target dan dengan demikian tindakan respon kekebalan tubuh terhadap sel sendiri dan jaringan. Contoh penyakit auto imun yang paling seringa dalah menonjol termasuk penyakit seliak, diabetes melitus tipe 1 (IDDM), lupus eritematosus sistemik (SLE), sindrom Sjgren , Churg-Strauss Syndrome , tiroiditis Hashimoto , penyakit Graves , idiopatik thrombocytopenic purpura , rheumatoid arthritis (RA) dan alergi.

(Price, 2005).

Kesalahpahaman bahwa sistem kekebalan tubuh seseorang sama sekali tidak mampu mengenali antigen diri bukanlah hal baru. Paul Ehrlich , pada awal abad kedua puluh, mengajukan konsep autotoxicus horor, dimana normal tubuh tidak mount respon kekebalan terhadap yang sendiri jaringan. Dengan demikian, setiap respon autoimun dianggap menjadi abnormal dan dipostulasikan untuk dihubungkan dengan penyakit manusia.Sekarang, sudah diakui bahwa respon autoimun merupakan bagian integral dari sistem kekebalan tubuh vertebrata (kadang disebut autoimunitas alami), biasanya dicegah dari penyebab penyakit oleh fenomena toleransi imunologi diri antigen. Autoimunitas tidak harus bingung dengan alloimmunity .

(Smeltzer, 2001).

Sistem imun tubuh telah berkembang sedemikian rupa sehingga mampu mengenal setiap antigen asing dan membedakannya dengan struktur antigen diri (self antigen), tetapi dapat saja timbul gangguan terhadap kemampuan pengenalan tersebut sehingga terjadi respons imun terhadap antigen diri yang dianggap asing.

(Price, 2005).

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Agar mahasiswa mampu memahami Asuhan Keperawatan klien dengan Hipersentivitas.

1.2.2 Tujuan Khusus

1. Mahasiswa mampu memahami konsep dasar medis asuhan keperawatan hipersentivitas.

2. Mahasiswa mampu memahami konsep dasar keperawatan asuhan keperawatan hipersentivitas.

BAB IITINJAUAN TEORI2.1 Konsep Medis

2.2.1 Definisi Alergi atau hipersensitivitas adalah kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya nonimunogenik. Dengan kata lain, tubuh manusia bereaksi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing atau berbahaya. Bahan-bahan yang menyebabkan hipersensitivitas tersebut disebut allergen. Hipersensitivitas merupakan respon yang berlebihan atau respon yang tidak tepat dan terjadi pada pajanan antigen yang kedua kali.

(Kowalak, 2011).

2.2.2 Klasifikasi

Umumnya reaksi hipersensivitas diklasifikasikan menjadi 4 tipe, yaitu :

a. Tipe I : Reaksi Anafilaksi (yang diantarai oleh IgE).b. Tipe II : reaksi sitotoksik (spesifik jaringan)c. Tipe III : reaksi imun kompleks (yang diperantarai oleh kompleks imun)d. Tipe IV : Reaksi tipe lambat (yang diantarai oleh sel)(kowalak, 2011)2.2.3 Etiologi

Faktor yang berperan dalam alergi dibagi menjadi 2 yaitu :

a. Faktor Internal1. Imaturitas usus secara fungsional (misalnya dalam fungsi-fungsi : asam lambung, enzym-enzym usus, glycocalyx) maupun fungsi-fungsi imunologis (misalnya : IgA sekretorik) memudahkan penetrasi alergen makanan. Imaturitas juga mengurangi kemampuan usus mentoleransi makanan tertentu.

2. Genetik berperan dalam alergi makanan. Sensitisasi alergen dini mulai janin sampai masa bayi dan sensitisasi ini dipengaruhi oleh kebiasaan dan norma kehidupan setempat.

3. Mukosa dinding saluran cerna belum matang yang menyebabkan penyerapan alergen bertambah.

b. Fakor EksternalFaktor pencetus : faktor fisik (dingin, panas, hujan), faktor psikis (sedih, stress) atau beban latihan (lari, olah raga).

Makanan seperti telur,kacang,susu,dll.

2.2.4 Patofisiologi

Tipe I : Di sini antigen atau alergen bebas akan bereaksi dengan antibodi, dalam hal ini IgE yang terikat pada selmastatau sel basofil dengan akibat terlepasnya histamin. Keadaan ini menimbulkan reaksi tipe cepat. Hipersensitifitas tipe I disebut juga sebagai hipersensitivitas langsung atau anafilaktik. Reaksi ini berhubungan dengan kulit, mata, nasofaring, jaringan bronkopulmonari, dan saluran gastrointestinal. Reaksi ini dapat mengakibatkan gejala yang beragam, mulai dari ketidaknyamanan kecil hingga kematian.Waktu reaksi berkisar antara 15-30 menit setelah terpapar antigen, namun terkadang juga dapat mengalami keterlambatan awal hingga 10-12 jam.Hipersensitivitas tipe I diperantarai olehimunoglobulin E(IgE).

Komponen seluler utama pada reaksi ini dalahmastositataubasofil.Reaksi ini diperkuat dan dipengaruhi olehkeping darah,neutrofil, daneosinofil.Uji diagnostik yang dapat digunakan untuk mendeteksi hipersensitivitas tipe I adalah tes kulit (tusukan dan intradermal) danELISAuntuk mengukur IgE total dan antibodi IgE spesifik untuk melawanalergen(antigen tertentu penyebab alergi) yang dicurigai. Peningkatan kadar IgE merupakan salah satu penanda terjadinya alergi akibat hipersensitivitas pada bagian yang tidak terpapar langsung oleh alergen).

Tipe II:hipersensiitivitas tipe II diakibatkan oleh antibodi berupaimunoglobulin G(IgG) danimunoglobulin E(IgE) untuk melawan antigen pada permukaan sel dan matriks ekstraseluler. Kerusakan akan terbatas atau spesifik pada sel atau jaringan yang langsung berhubungan dengan antigen tersebut. Pada umumnya, antibodi yang langsung berinteraksi dengan antigen permukaan sel akan bersifat patogenik dan menimbulkan kerusakan pada target sel.Hipersensitivitas dapat melibatkan reaksi komplemen (atau reaksi silang) yang berikatan dengan antibodi sel sehingga dapat pula menimbulkan kerusakan jaringan. Beberapa tipe dari hipersensitivitas tipe II adalah:

Pemfigus(IgG bereaksi dengan senyawa intraseluler di antara sel epidermal).

Anemia hemolitik autoimun (dipicu obat-obatan sepertipenisilinyang dapat menempel pada permukaansel darah merahdan berperan seperti hapten untuk produksi antibodi kemudian berikatan dengan permukaan sel darah merah dan menyebabkan lisis sel darah merah), dan

Sindrom Goodpasture (IgG bereaksi dengan membran permukaan glomerulus sehingga menyebabkan kerusakanginjal).

e. Tipe III : reaksi imun kompleksDi sini antibodi berikatan dengan antigen dan komplemen membentuk kompleks imun.Keadaan ini menimbulkanneurotrophichemotactic factoryang dapat menyebabkan terjadinya peradangan atau kerusakan lokal.Pada umumnya terjadi pada pembuluh darah kecil. Pengejawantahannya di kornea dapat berupa keratitis herpes simpleks, keratitis karena bakteri.(stafilokok, pseudomonas) dan jamur. Reaksi demikian juga terjadi pada keratitis Herpes simpleks.

Tipe IV : sedangkan pada tipe IV yang berperan adalah limfosit T atau dikenal sebagai imunitas seluler. Limfosit T peka (sensitized T lymphocyte) bereaksi dengan antigen, dan menyebabkan terlepasnya mediator (limfokin) yang jumpai pada reaksi penolakan pasca keratoplasti, keraton- jungtivitis flikten, keratitis Herpes simpleks dan keratitis diskiformis.

2.2.5 Pathway

2.2.6. Manifestasi klinisTanda dan gejala utama pada reaksi hipersensitivitas dapat digolongkan menjadi reaksi sistemik yang ringan, sedang dan berat.Ringan.Reaksi sistemik yang ringan terdiri dari rasa kesemutan serta hangat pada bagian perifer dan dapat disertai dengan perasaan penuh dalam mulut serta tenggorokan. Kongesti nasal, pembengkakan periorbital, pruritus, bersin-bersin dan mata berair dapat terjadi. Awitan gejala dimulai dalam waktu 2 jam pertama sesudah kontak.Sedang.Reaksi sistemik yang sedang dapat mencakup salah satu gejala diatas disamping gejala flushing, rasa hangat, cemas, dan gatal-gatal. Reaksi yang lebih serius berupa bronkospasme dan edema saluran pernafasan atau laring dengan dispnea, batuk serta mengi. Aawitan hgejala sama seperti reaksi yang ringan.Berat.Reaksi sistemik yang berat memiliki onset mendadak dengan tanda-tanda serta gejala yang sama seperti diuraikan di atas dan berjalan dengan cepat hingga terjadi bronkospasme, edema laring, dispnea berat serta sianosis. Disfagia (kesulitan menelan), kram abdomen, vomitus, diare, dan serangan kejang-kejang dapat terjadi. Kadang-kadang timbul henti jantung2.5.Komplikasi EritrodermaeksfoliativasekunderEritroderma ( dermatitis e