sasbel hipersensitivitas

Download sasbel hipersensitivitas

Post on 08-Mar-2016

233 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tugas mandiri

TRANSCRIPT

nama : Ika tri rahayuNPM : 1102014124

Sasaran belajar1. Memahami dan menjelaskan reaksi hipersensitivitas1.1 Definisi dan EtiologiHipersensitivitas adalah peningkatan reaktivitas atau sensitivitas terhadap antigen yang pernah dipajankan atau dikenal sebelumnya. (Baratawidjaja,2014)Respon imun yang berlebihan dan yang tidak diinginkan karena dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. (Buku IPD)

Etiologi Saat pertama kali masuknya allergen (ex. Telur) ke dalam tubuh seseorang yang mengkonsumsi makanan tetapi dia belum pernah terkena alergi. Namun ketika untuk kedua kalinya orang tersebut mengkonsumsi makanan yang sama barulah tampak gejala-gejala timbulnya alergi pada kulit orang tersebut. Setelah tanda-tanda itu muncul maka antigen akan mengenali allergen yang masuk yang akan memicu aktifnya sel T, dimana sel T tersebut yang akan merangsang sel B untuk mengaktifkan antibody (Ig E). Proses ini mengakibatkan melekatnya antibody pada sel mast yang dikeluarkan oleh basophil. Apabila seseorang mengalami paparan untuk kedua kalinya oleh allergen yang sama maka akan terjadi 2 hal yaitu ;1. Ketika mulai terjadinya produksi sitokin oleh sel T. Sitokin memberikan efek terhadap berbagai sel terutama dalam menarik sel-sel radang misalnya netrofil dan eosinophil, sehingga menimbulkan reaksi peradangan yang menyebabkan panas.2. Allergen tersebut akan langsung mengaktifkan antibody (IgE) yang merangsang sel mast kemudian melepaskan histamine dalam jumlah yang banyak, kemudian histamine tersebut beredar di dalam tubuh melalui pembuluh darah. Saat mereka mencapai kulit, allergen akan menyebabkan terjadinya gatal, prutitus, angioedema, urtikaria, kemerahan pada kulit dan dermatitis. Pada saat mereka mencapai paru-paru, allergen dapat mencetuskan terjadinya asmaa. Gejala alergi yang paling ditakutkan dikenal dengan nama anafilaktik syok. Gejala ini ditandai dengan tekanan darah yang menurun, kesadaran menurun, dan bila tidak ditangani segera dapat menyebabkan kematian.

1.2 KlasifikasiA. Menurut waktu timbulnya reaksi Reaksi CepatTerjadi dalam hitungan detik, menghilang dalam 2 jam. Ikatan silang antara allergen dan IgE pada permukaan sel mast menginduksi penglepasan mediator vasoaktif. Manifestasi reaksi cepat berupa anafilaksis sistemik dan anafilaksis berat. Reaksi IntermedietTerjadi setelah beberapa jam dan menghilang dalam 24jam. Reaksi intermediet diawali oleh IgG dan kerusakan jaringan penjamu yang disebabkan oleh sel neutrophil atau sel NK. Manifestasi reaksi intermediet berupa :a. Reaksi Transfusi darah (eritroblastosis, fetalis, dan anemia hemolitik autoimun)b. Reaksi Arthus local dan reaksi sistemik (serum sickness, vaskulitis nekrotis, glomerulonephritis, artritis rheumatoid dan LES) Reaksi LambatTerlihat sekitar 48jam setelah terjadi pajanan dengan antigen yang terjadi oleh aktivasi oleh sel Th. Pada DTH, sitokin yang dilepas sel T mengaktifkan sel efektor makrofag yang menimbulkan kerusakan jaringan. Contoh reaksi lambat adalah dermatitis kontak, rekasi M. Tuberculosis dan reaksi penolakan tandur.2. Memahami dan Menjelaskan Hypersensitivitas Type I2.1 Definisi dan EtiologiSuatu reaksi yang terjadi secara cepat atau reaksi anafilaksis alergi mengikuti kombinasi suatu antigen dengan antibody yang terlebih dahulu diikat pada permukaan sel basofilia (sel mast) dan basophil.2.2 MekanismeTerdapat beberapa fase, yaitu : Fase sensitasi : waktu yang dibutuhkan untuk membentuk IgE sampai diikat silang oleh reseptor spesifik pada permukaan sel mast/basophil Fase aktivasi : waktu yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen yang spesifik dan sel mast/basophil melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan reaksi. Hal ini terjadi oleh ikatan silang antara antigen dan IgE. Fase efektor : waktu terjadi respon yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek mediator-mediator yang dilepas sel mast/basophil dengan aktivasi farmakologik.Proses :Mekanisme reaksi hipersensitivitas tipe I, antigen (alergen) yang masuk ke dalam tubuh melalui membran mukosa diproses dan dipresentasikan oleh sel penyaji antigen (APC) pada sel T-helper. Sel T-helper2 mensekresi sitokin yang menginduksi poliferasi sel B dan mengarahkan ke dihasilkannya respons IgE spesifik alergen. IgE melalui reseptornya FcR1, berikatan dan mensensitisasi sel mast. Bila alergen bertemu dengan sel mast, maka 1. alergen akan membuat ikatan silang antar IgE pada permukaan sel mast2. menimbulkan influks ion kalsium ke intraseluler yang kemudian akan memicu degranulasi sel mast dan pelepasan mediator, seperti histamin dan golongan protease3. menginduksi pembentukan dan pelepasan mediator dari asam arakhidonat, seperti golongan leukotrien dan prostaglandin.

Mediator-mediator inilah yang akan menimbulkan gejala klinis alergi. Sitokin yang juga dilepaskan pada saat degranulasi sel mast akan memperberat respons radang dan IgE yang terjadi.

2.3 Manifestasia. Reaksi LokalReaksi hipersensitivitas tipe 1 lokal terbatas pada jaringan atau organ spesifik yang biasanya melibatkan permukaan epitel tempat allergen masuk. Kecendrungan untuk menunjukkan reaksi tipe 1 adalah diturunkan dan disebut atopi. Sedikitnya 20% populasi menunjukkan penyakit yang terjadi melalu IgE seperti rhinitis alergi, asma dan dermatitis atopi. IgE yang sudah ada pada permukaan sel mast akan menetap untuk beberapa minggu. Sensitasi dapat pula terjadi secara pasif bila serum (darah) orang yang slergi dimasukkan ke dalam kulit/sirkulasi orang normal. Reaksi alergi yang mengenai kulit, mata, hidung dan saluran nafas.b. Reaksi sistemik anafilaksisAnafilaksis adalah reaksi tipe 1 yang dapat fatal dan terjadi dalam beberapa menit saja. Anafilaksis adalah reaksi hipersensitifitas Gell dan Coombs tipe 1 atau reaksi alergi yang cepat, ditimbulkan IgE yang dapat mengancam nyawa. Sel mast dan basophil merupakan sel efektor yang melepas berbagai mediator. Reaksi dapat dipicu berbagai alergan seperti makanan (asal laut, kacang-kacangan), obat atau sengatan serangga dan juga lateks, latihan jasmani dan bahan anafilaksis, pemicu spesifiknya tidak dapat diidentifikasi.c. Reaksi Pseudoalergi atau anafilaktoidReaksi pseudoalergi adalah reaksi sistemik umum yang melibatkan penglepasan mediator oleh sel mast yang terjadi tidak melalui IgE. Mekanisme pseudoalergi merupakan mekanisme jalur efektor nonimun. Secara klinis reaksi ini menyerupai reaksi tipe 1 sperti syok, urtikaria, bronkospasme, anafilaksis, pruritis, tetapi tidak berdasarkan atas reaksi imun. Manifestasi klinisnya sering serupa, sehingga kulit dibedakan satu dari lainnya. Reaksi ini tidak memerlukan pajanan terdahulu untuk menimbulkan sensitasi. Reaksi anafilaktoid dapat ditimbulkan antimikroba, protein, kontras dengan yodium, AINS, etilenoksid, taksol, penisilin, dan pelemas otot.Jenis AlergiAlergen UmumGambaran

AnafilaksisObat, serum, kacang-kacanganEdema dengan peningkatan permeabilitas kapiler, okulasi trakea , koleps sirkulasi yang dapat menyebabkan kematian

Urtikaris akutSengatan seranggaBentol, merah

Rinitis alergiPolen, tungau debu rumahEdema dan iritasi mukosa nasal

AsmaPolen, tungau debu rumahKonstriksi bronkial, peningkatan produksi mukus, inflamasi saluran nafas

MakananKerang, susu, telur, ikan, bahan asal gandumUrtikaria yang gatal dan potensial menjadi anafilaksis

Ekzem atopiPolen, tungau debu runah, beberapa makananInflamasi pada kulit yang terasa gatal, biasanya merah dan ada kalanya vesikular

2.4 PenangananPenanganan gangguan alergiberlandaskan pada empat dasar :1) Menghindari allergen2) Terapi Farmakologis Adrenergic Yang termasuk obat-obat adrenergic dalah katelokamin (epinefrin, isoetarin, isoproterenol, bitolterol) dan nonkatelokamin (efedrin, albuterol, metaproterenol, salmeterol, terbutalin, pributerol, prokaterol, dan fenoterol). Inhalasi dosis tunggal salmeterol dapat menimbulkan bronkodilatasi sedikitnya 12 jam, menghambat reaksi fase cepat maupun lambat terhadap allergen inhalen, dan menghambat hiperesponsivitas bronkial akibat allergen selama 34 jam. Antihistamin Obat dari berbagai struktur kimia yang bersaing dengan histamine pada reseptor di berbagai jaringan. Karena antihistamin berperan sebagai antagonis kompetitif mereka lebih efektif dalam mencegah daripada melawan kerja histamine Kromolin SodiumAdalah garam disodium 1,3-bis-2-hidroksipropan. Zat ini merupakan analog kimia obat khellin yang mempunyai sifat merelaksasikan otot polos. Obat ini tidak mempunyai sifat bronkodilator karenanya obat ini tidak efektif untuk pengobatan mucus, permeabilitas vaskuler, dan IgE mukosa. Kortikosteroid Adalah obat paling kuat yang tersedia untuk pengobatan alergi. Beberapa pengaruh prednisone nyata dalam 2 jam sesudah pemberian peroral atau intravena yaitu penurunan eosinophil serta limfosit primer. Steroid topical mempunyai pengaruh local langsung yang meliputi pengurangan radang, edema, produksi mucus, permeabilitas vaskuler, dan kadar IgE mukosa.

3) ImunoterapiImunoterapi diindikasikan pada penderita rhinitis alergika, asma yang diperantarai IgE atau alergi terhadap serangga. Imunoterapi dapat menghambat pelepasan histamine dari basophil pada tantangan dengan antigen E ragweed in vitro. Leukosit individu yang diobati memerlukan pemaparan terhadap jumlah antigen E yang lebih banyak dalam3. Memahami dan Menjelaskan Hypersensitivitas Type IIReaksi hipersensitivitas tipe II disebut juga reaksi sitotoksik atau sitolitik. Terjadi karena dibentuk antibody jenis IgG/IgM terhadap antigen yang merupakan bagian dari penjamu. Antibody bereaksi dengan determinan antigen pada permukaan sel yang menimbulkan kerusakan sel/kematian melalui lisi dengan bantuan komplemen / ADCC (Antibodi Dependent Cell (mediated) Cytotocity)3.1 EtiologiHipersensitivitas sitotoksik terjadi kalau system kekebalan secara keliru mengenali konstituen tubuh yang normal sebagai benda asing. Reaksi ini mungkin merupakan akibat dari antibody yang melakukan reaksi silang dan pada ak