makalah ipal thailand_fix

Download Makalah IPAL Thailand_fix

Post on 12-Nov-2015

57 views

Category:

Documents

14 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

A

TRANSCRIPT

BAB I

PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang

Secara global negara-negara di Asia terikat upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan, sebagaimana rekomendasi pada KTT Bumi di Johannesburg 2000, dimana salah satu sasarannya adalah bidang penyediaan air minum dan sanitasi. Sasaran tersebut diagendakan dalam Millenium Development Goals (MDGs) dengan menetapkan horizon pencapaian sasaran pada tahun 2015 dan sasaran kuantitatif; Mengurangi 50% proporsi jumlah penduduk yang kesulitan memperoleh akses terhadap air minum aman dan sanitasi yang memadai.

The Sanitation Drive to 2015 (Gerakan Sanitasi dalam Menyongsong 2015) mengimbau seluruh negara di dunia untuk meningkatkan investasi, seraya melakukan penargetan yang lebih baik dari pendanaan guna memenuhi target Millennium Development Goal (MDG) 7c untuk mengurangi hingga separuhnya proporsi penduduk tanpa akses berkelanjutan terhadap sanitasi dasar pada tahun 2015. Baik untuk pengembangan sosial maupun ekonomi, sanitasi merupakan investasi ekonomi yang sangat bagus, dengan pengembalian rata-rata sebesar US$5.50 untuk setiap dolar yang diinvestasikanMenurut Peter Warr (2003), disampaikan mengenai progress pencapaian target MDGs yang telah dicapai oleh Negara-negara di Asia Tenggara. Dua negara yang memiliki pencapaian terbaik adalah negara Malaysia dan Thailand. Dimana negara tersebut dapat mencapai target-target MDGs yang dapat ditetapkan dan berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Namun terdapat hal yang harus diperhatikan secara khusus oleh Thailand adalah dalam masalah lingkungan dan untuk Malaysia adalah masalah kasus HIV/AIDS.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh UNICEF terkait pencapaian target MDGs diketahui bahwa pada Tahun 2010, negara Thailand sebanyak 95.4% penduduknya telah memperoleh sanitasi yang layak dengan menempati peringkat pertama melebih Negara Malaysia. Berbeda halnya dengan Negara Indonesia yang hanya 53,57% penduduknya yang memperoleh sanitasi layak (UNICEF, 2012).

Saat ini negara Thailand dianggap sebagai salah satu Negara yang paling penting didunia untuk produksi pangannya. Thailand saat ini dianggap sebagai Negara industri ekonomi yang baru. Dimana, ekspor produk Thailand ke mancanegara sangat tinggi, dengan perhitungan ekspornya melebihi dua pertiga dari total produksi domestiknya. Jumlah penduduk Thailand pada tahun 2009 sekitar 66 juta jiwa, yang mana akan semakin meningkat pesat ditahun 2010 dan 2011. Rata-rata pertumbuhan penduduk sampai tahun 2010 adalah 0,65%.

Air limbah menjadi salah satu dari banyak masalah lingkungan yang serius di banyak Negara-negara industri dan berkembang, termasuk Negara Thailand. Pada tahun 2003, sekitar 14,5 juta m3/hari umumnya air limbah dihasilkan oleh penduduk di Thailand dan dibuang ke badan air penerima serta lingkungan sekitar (simachaya, 2009).

Untuk mengetahui bagaimana Thailand dapat mengelola limbahnya, maka diperlukan adanya studi literatur mengenai hal tersebut. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas mengenai pengelolaan air limbah di Kota Thailand dan permasalahan yang ada di negara Thailand.

1.2 Maksud dan Tujuan Makalah

Penyusunan makalah ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran dan informasi mengenai kondisi sanitasi di Thailand mengenai pengolahan air limbah di Thailand, dengan tujuan sebagai berikut:

1. Mengetahui jenis-jenis pengolahan air limbah di Thailand2. Mengetahui permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan air limbah di ThailandBAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1Pengertian Limbah

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001, air limbah adalah sisa dari hasil usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair. Selain itu, dalam Peraturan Menteri PU Nomor 16/PRT/M/2008 disebutkan bahwa air limbah adalah air buangan yang berasal dari rumah tangga, termasuk tinja manusia dari lingkungan permukiman. Air limbah dapat dikategorikan sebagai berikut, yaitu:1. Air limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga (air limbah domestik), terdiri dari yaitu:

a. Black Water dengan komponen utama adalah tinja manusia (faeces),

b. Yellow Water dengan komponen utama adalah urine manusia, dan

c. Grey Water yang merupakan air bekas cuci, mandi dan kegiatan lainnya yang dilakukan oleh manusia.

Kuantitas dari air limbah domestik adalah sekitar 80% dari total air yang dikonsumsi oleh manusia tiap harinya. Air limbah domestik mengandung bahan organik, sehingga memudahkan dalam pengelolaannya.

2. Air limbah yang berasal dari kegiatan industri, yaitu air buangan yang berasal dari berbagai jenis kegiatan industri. Air limbah ini mengandung zat-zat yang ckup berbahaya, seperti logam berat, amonia dan lainnya. Air limbah industri membutuhkan pengolahan yang lebih rumit untuk mencegah terjadinya polusi lingkungan.

3. Air limbah yang berasal dari kegiatan jasa, yaitu air buangan yang berasal dari fasilitas publik, seperti perdagangan, perkantoran dan sebagainya. Umumnya air limbah jenis ini memiliki kandungan zat serupa dengan air limbah rumah tangga.

2.2Sistem Penyaluran Air Limbah di Negara Berkembang

Sistem penyaluran air limbah adalah suatu rangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi atau membuang air limbah dari suatu kawasan/lahan baik itu dari rumah tangga maupun kawasan industri. Sistem penyaluran biasanya menggunakan sistem saluran tertutup dengan menggunakan pipa yang berfungsi menyalurkan air limbah tersebut ke bak interceptor yang nantinya di salurkan ke saluran utama atau saluran drainase. Sistem penyaluran air limbah ini pada prinsipnya terdiri dari dua macam yaitu: sistem penyaluran terpisah dan sistem penyaluran campuran, dimana sistem penyaluran terpisah adalah sistem yang memisahkan aliran air buangan dengan limpasan air hujan, sedangkan sistem penyaluran tercampur menggabungkan aliran buangan dan limpasan air hujan

Air limbah domestik dikumpulkan dalam pipa bawah tanah yang disebut ' Selokan' . Aliran dalam saluran pembuangan biasanya dialirkan secara gravitasi , dengan pompa induk hanya yang digunakan saat tidak dapat dihindari. Desain sewerage konvensional (sistem saluran pembuangan yang digunakan dalam negara-negara industri dan di daerah pusat kota-kota dalam di negara berkembang) dijelaskan dalam beberapa teks (misalnya Metcalf dan Eddy , Inc , 1986) dan dalam kode sewerage nasional ( misalnya untuk India , Kementerian Perkotaan Pembangunan, 1993). Namun, hal ini sangat mahal . Sebuah biaya yang jauh lebih rendah alternatif, yang cocok untuk digunakan di kedua daerah miskin dan kaya sama, adalah pembuangan kotoran 'disederhanakan', kadang-kadang disebut 'condominial' pembuangan kotoran. Desain sewerage disederhanakan sepenuhnya rinci oleh Mara et al, 2001.

Di banyak negara berkembang, saluran air limbah pribadi maupun publik masih sangat kurang, malah cenderung tidak ada.Untuk mengurangi atau menghindari permasalahan lebih lanjut dari kondisi lingkungan di negara tersebut, maka air limbah yang dihasilkan harus diolah. Jika berbicara mengenai permasalahan kandungan organik yang ada dalam limbah domestik, fasilitas wisata, maka pendekatan dengan menggunakan saluran pengumpul limbah secara desentralisasi menjadi pendekatan yang paling memungkinkan dengan menerapkan teknologi sederhana yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Pemilihan teknologi yang sesuai sangat bergantung pada beberapa factor, diantaranya adalah komposisi dari air limbah, ketersediaan lahan, ketersediaan dana, dan keahlian untuk mengelolanya. Perbedaan dalam cara pengoperasian dan pemeliharaan harus menjadi pertimbangan dalam pemilihan teknologi agar menjamin keberlanjutan dari sistem yang akan dibangun dengan memperhitungkan ketersediaan sumber daya lokal dan sumber daya manusia yang ada di masing-masing tempat.

2.3Jenis- Jenis Pengolahan Air Limbah di Negara BerkembangSanitasi tepat guna dalam bidang pembuangan air limbah domestik terdiri 2 (dua) sistem, yaitu. 1. Sistem pembuangan setempat (on-site system) 2. Sistem pembuangan terpusat (off-site system) Sistem pembuangan setempat adalah fasilitas sanitasi yang berada di dalam daerah persil (batas tanah yang dimiliki). Sarana sistem pembuangan setempat dapat dibagi 2 (dua) yaitu: - Sistem individual: tangki septic, cubluk - Sistem komunal: MCK Sedangkan sistem pembuangan terpusat adalah fasilitas sanitasi yang berada di luar persil. Contoh sistem sanitasi ini adalah sistem penyaluran air limbah yang kemudian dibuang ke suatu tempat pembuangan (disposal site) yang aman dan sehat, dengan atau tanpa pengolahan sesuai dengan kriteria baku mutu dan besarnya limpahan.

Pembuangan air kotor dan air bekas secara setempat (on-site) di negara berkembang biasanya lebih murah daripada sistem terpusat (off-site). Namun ada hal-hal/keadaan tertentu, dimana kondisi tanah tidak memungkinkan untuk diterapkannya sistem setempat, sehingga dalam keadaan seperti ini maka penanganan air limbah dengan sistem terpusat mutlak diperlukan dengan pilihan teknologi yang lebih murah dibandingkan konvensional sewerage yaitu small bore sewer dan shallow sewer.

Shallow sewer merupakan sewerage kecil yang terpisah dan dipasang secara dangkal dengan kemiringan yang lebih landai dibandingkan sewerage konvensional dan bergantung pada pembilasan air limbah untuk mengangkut benda padat. Prinsip shallow sewer adalah sebagai berikut.

Mengalirkan air saja/campuran antara air dan padatan (tinja)

Menggunakan jaringan pipa berdiameter kecil (( 100-200 mm)

Jaringan saluran terdiri dari :

Pipa persil

Pipa servis

Pipa lateral

IPAL

Ditanam di tanah, dangkal dari permukaan tanah

Bahan Pipa dapat dari bahan tanah liat, PVC dll

Cocok digunakan untuk daerah kecil, misalnya tingkat RW, kelurahan, dll. Dengan kepadatan menengah sampai tinggi, 300-500