ipal mojosongo

Download IPAL Mojosongo

Post on 16-Dec-2015

7 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

PJBL Mikrobiologi "Bioremidiasi"

TRANSCRIPT

yulviadwitya

BAB IVPEMBAHASAN Air merupakan hal yang penting bagi kehidupan manusia, air merupakan sumber kehidupan bagi manusia, tanpa air keberlangsungan hidup manusia tidak bisa seimbang dan berjalan dengan normal. Saat ini air yang ada di bumi mengalami pencemaran karena adanya berbagai polutan dan kontaminan mulai dari limbah lomgam berat, sampah rumah tangga, pupuk atau pestisida yang berlebihan, dll. Kota Surakarta mempunyai luas wilayah 44,4 km2 dengan jumlah penduduk mencapai 503.421 jiwa. Kota Surakarta dibagi menjadi 5 kecamatan dan 51 kelurahan. Kondisi sanitasi di Surakarta dinilai belum memenuhi standar kesehatan dan masih memprihatinkan. Berikut merupakan persentase dari kondisi sanitasi masyarakat Surakarta adalah 58% memiliki tangki septik, 16% memakai MCK dan 12% tidak memiliki sanitasi yang memadai, ini merupakan pemakaian sistem on site. Sisanya sekitar 14% memakai sistem off site. Produksi air limbah di Surakarta sebagian besar adalah dari limbah domestik yaitu sebanyak 89% dan sisanya sebanyak 11% dari limbah industri dan rumah sakit. Pengertian air limbah sendiri adalah air buangan yang berasal dari rumah tangga termasuk tinja manusia dari lingkungan permukiman serta air limbah industri rumah tangga yang tidak mengandung bahan beracun dan berbahaya.Kota Surakarta mempunyai 2 sistem pengelolaan limbah dosmetik, yaitu : Off Site System merupakan sistem pengolahan air limbah dengan menggunakan suatu jaringan perpipaan untuk menampung dan mengalirkan air limbah ke suatu tempat untuk selanjutnya diolah. Air limbah di dalam sistem off site ini berasal dari air limbah rumah tangga, kemudian sebagai media penyalurnya memakai sistem jaringan perpipaan yang disalurkan ke IPAL, IPAL melakukan sistem pengolahan kemudian disalurkan ke sungai dan saluran air sebagai tujuan akhir. Di surakarta memakai sistem ini sekitar 14 % dan On Site System merupakan sistem pengolahan air limbah setempat yang sebagai media pengolah setempatnya seperti septik tank, cubluk, jamban dan pit latrin, kemudian pengurasan dan pengangkutan dilakukan oleh truk tinja setelah itu di olah di Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) kemudian disalurkan ke sungai dan saluran air . Penggunaan sistem on site merupakan yang lebih banyak dipakai di masyarakat dengan presentase sebesar 86 %.

I. Dasar Hukum Pengelolaan Limbah Perkotaan Surakarta Surat Perintah Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Surakarta Nomor :800/646 tanggal : 10 Juni 1998. Keputusan Walikotamadya Kepada Daerah Tingkat II Surakarta Nomor : 002 Tahun 1999 Tanggal : 26 Juni 1998 tentang : SOT PDAM Kodya Dati II Surakarta. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Surakarta Nomor : 3 Tahun 1999 Tanggal 27 Mei 1999 tentang Pengelolaan Limbah Cair. Keputusan DPRD Kota Surakarta Nomor : 29/DPRD/XI/2002 Tanggal : 3 29 November 2002 tentang : Persetujuan Penetapan Tarif Pengelolaan Limbah dan Golongan Pelanggan. Keputusan DPRD Kota Surakarta Nomor : 10/DPRD/VI/2004 tentang Persetujuan Perubahan Atas Keputusan Walikota Surakarta Nomor 15 Tahun 2002 tentang Penetapan Tarif Pengelolaan Limbah dan Golongan Pelanggan Limbah. Keputusan Walikota Surakarta Nomor 5 Tahun 2004 tentang perubahan Atas Keputusan Walikota Surakarta Nomor 15 Tahun 2002 tentang Penetapan Tarif Pengelolaan Limbah dan Golongan Pelanggan.II. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)Sarana dan prasarana pengolahan air limbah merupakan semua peralatan dan bangunan penunjangnya yang berfungsi dalam pengolahan air limbah mulai dari sumber timbulan air limbah sampai pengolahan akhir. Salah satu sistem pengolahan air limbah adalah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). IPAL adalah perangkat peralatan teknik berserta perlengkapannya yang memproses atau mengolah cairan sisa proses produksi pabrik, sehingga cairan tersebut layak dibuang ke lingkungan. Tujuan IPAL yaitu menyaring dan membersihkan air yang sudah tercemar dari air limbah domestik maupun bahan kimia industri.Manfaat IPAL bagi masyarakat serta makhluk hidup lainnya, antara lain : Mengolah air limbah domestik atau industri, agar air tersebut dapat digunakan kembali sesuai kebutuhan masing-masing; Agar air limbah yang akan dialirkan kesungai tidak tercemar; dan Agar biota-biota yang ada di sungai tidak mati.Di Surakarta sendiri terdapat 4 IPAL diantaranya adalah IPAL Semanggi, IPAL Mojosongo, IPAL Laweyan dan IPAL PucangSawit.

BAB IIGAMBARAN UMUMI. Gambaran UmumInstalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Mojosongo yang berlokasi di Kampung Sabrang Lor, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Surakarta. Mulai beroperasi pada tahun 1997. IPAL Mojosongo mempunyai kapasitas 24 Liter/Detik serta melayani dan mengolah air limbah rumah tangga pada kawasan utara Surakarta meliputi dari Perumnas Mojosongo, Kelurahan non perumnas Mojosongo, Kelurahan Kadipiro, Kelurahan Mojosongo dan Kelurahan Nusukan serta melayani pelanggan sekitar 4.557 SR.

Gambar 1.0. Peta Persebaran IPAL di SurakartaDibangun pada area seluas 1,2 Ha, yang meliputi bangunan instalasi dan kolam aerasi. Jaringan air limbah sistem Perumnas Mojosongo dibangun pada tahun 1980 panjang pipa 20,5 km, diameter 200-500. Karena kondisi lahan pada lokasi IPAL Mojosongo mengalami kontur tanah yang tidak seimbang maka tidak memungkinkan untuk dapat mengalirkan air limbah rumah tangga secara gravitasi, sehingga di bangun 3 stasiun pompa, yaitu :a. Stasiun pompa Sibela (2 unit);b. Stasiun pompa Dempo; danc. Stasiun pompa Malabar.Kapasitas pompa masing-masing 7 lt/dt. Ketiga stasiun pompa yang terletak di Sibela, Dempo dan Malabar akan dialirkan dan ditampung pada sump pump yang berlokasi dekat dengan Sungai Kalianyar.

Gambar 1.1. Instalasi Pengolahan Air Limbah MojosongoUntuk masyarakat yang ingin menjadi pelanggan IPAL akan dikenakan setiap bulannya retribusi, dan pihak IPAL sendiri akan memasang fasilitas IPAL secara gratis. Golongan Pelanggan Sambungan Rumah Air Limbah ada 3 golongan yaitu : 1) Rumah Tangga; 2) Komersial; 3) Niaga. Karena pelanggan IPAL merupakan golongan Rumah Tangga yaitu Rumah Tangga II yang terdiri dari : 1) Rumah Tangga dengan luas bangunan > 100 m2; 2) MCK; dan 3) Puskesmas.

BAB IIISISTEM PENGOLAHAN IPAL MOJOSONGOI. Diagram AlirSistem pengaliran limbah di IPAL Mojosongo berasal dari limbah rumah tangga lalu disalurkan ke pipa lateral dan pipa sekunder setelah dari pipa lateral dan pipa sekunder masuk ke pompa, setelah itu masuk ke bak pengendap awal kemudian diolah, masuk ke bak aerasi I kemudian ke bak aerasi II dan bak aerasi III, setelah diolah di bak aerasi I,II dan III kemudian masuk ke bak sedimentasi. Pemompaan dilakukan karena kontur tanah menuju ke lokasi IPAL lebih tinggi dari daerah pelayanan. Hasil pengolahan dari IPAL Mojosonggo dialirkan ke kali Anyar dan Bermuara ke Sungai Bengawan Solo dengan pengaliran secara gravitasi. Proses akhir ini membuktikan bahwa proses pengolahan akhir sudah dinyatakan baku mutu air bagus. Sistem IPAL Mojosongo digunakan sistem kombinasi aerasi dan facultative untuk mengolah air limbah rumah tangga, dengan BOD 200-400 mg/lt menjadi air olahan dengan BOD (Biological Oxygen Demand) 20 mg/lt.

Gambar 1.2. Diagram Alir IPAL Mojosongo

II. Proses Pengolahan IPAL MojosongoProses pengolahan air limbah di IPAL Mojosongo meliputi beberapa tahap antaralain :1. Pengaliran Dari Bak PenampungAir limbah rumah tangga yang berasal dari Perumnas Mojosongo, Nusukan, Kadipiro dan Mojosongo non Perumnas akan ditampung terlebih dahulu di bak penampung dan dipompa ke pengolahan. Pemompaan dilakukan karena kontur tanah menuju ke IPAL lebih tinggi dari daerah pelayanan.2. Saringan (Bar Screen)Air limbah yang dialirkan melalui pipa kemudian disaring di bar screen untuk menahan sampah dan plastik agar tidak masuk ke pengolahan limbah. Sebelum masuk ke pengolahan air limbah akan dipompa menuju bak pengendap awal (pada sump pump yang dilengkapi 3 buah pompa submersible dengan debit 20 lt/dt.3. Bak Pengendap AwalAir buangan yang dipompa dari sump pump masuk ke bak pengendap awal dengan BOD masih tinggi yaitu 116 mg/lt, di sini air limbah bisa diukur debitnya melalui V notch, biasanya pada bak pengendap awal ini air limbah akan dipisahkan, pasir akan mengendap dan plastik maupun busa akan tertahan pada penyekat yang kemudian akan diambil secara manual dan dibuang ketempat sampah. Sedangkan pasir yang ikut terbawa aliran akan mengendap. Lumpur yang menendap pada bak pengendap awal perlu dikuras secara manual dan lumpurnya ditampung di bak pengering lumpur.

Gambar 1.3. Bak Pengendapan Awal4. Bak Aerasi Fakultatif I (Aerated Facultatif Lagoon I)Dari bak pengendap awal air buangan secara gravitasi akan mengalir menuju bak aerated facultatif lagoon I, pada bak ini aerator dihidupkan untuk menambah oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk menguraikan zat organik. Air limbah yang masuk pada bak aerasi I perlu dibiarkan selama 1 sampai dengan 2 minggu untuk dapat mengembangbiakkan mikroorganisme dan untuk percepatan perlu dilakukan seeding dengan cara memasukkan lumpur aktif dari tangki septik ke dalam bak aerasi.Dengan ukuran kolam sebagai berikut :Panjang : 36,60 mLebar : 21,00 mKedalaman : 3,50 m

Gambar 1.4. Bak Aerasi Fakultatif IBak aerasi I dilengkapi 3 buah aerator dengan daya 2,2 kg/jam per unitnya dan 1 kg/jam akan menghasilkan daya sebesar 1,345 kg/jam, bila pemberian oksigen kurang akan ditandai dengan timbulnya bau dimana akan terjadi proses anaerobic, untuk itu operator harus menjalankan atau mengoperasikan aerator tersebut.

Gambar 1.5. Mesin Aerator5. Bak Aerasi Fakultatif II (Aerated Facultatif Lagoon II)Dari bak aerasi I air akan mengalir secara gravitasi ke lagoon II dan di sini aerator juga harus dihidupkan untuk menambah oksigen. Kebutuhan penambahan oksigen pada lagoon I dan II sebanyak 26 kg oksigen perjam, kemudian lumpur yang mengendap di dua lagoon tersebut diproses dengan cara memompa lumpur tersebut ke bak pengering (sludge drying bed). Untuk itu perlu dila