makalah individu mpk terintegrasi

Download Makalah Individu MPK Terintegrasi

Post on 09-Feb-2018

226 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 7/22/2019 Makalah Individu MPK Terintegrasi

    1/21

    Makalah Individu MPK Terintegrasi

    Menguak Kasus Multikulturalisme di Poso Melalui Pengkajian Analisis Filsafat, Etika, dan Logika

    Nama : Fauzana Fidyarizky

    NPM : 0906535473

    Program Studi Sastra Jepang

    Fakultas Ilmu pengetahuan Budaya

    Universitas Indonesia 2009

    ------------------------------------------------------------------------------------------------------

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Indonesia adalah negara yang majemuk, baik dalam suku, agama, keyakinan, dan cara berpikir.

    Perbedaan-perbedaan ini tidak jarang menjadi pemicu dari kesalahpahaman yang berujung menjadi

    konflik seperti yang terjadi di kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Dampak konflik tersebut terhadap

    masyarakat luas adalah perbedaan persepsi dalam menyikapi kasus tersebut, untuk itu sebagai sumber

    informasi, penulis perlu memaparkannya dalam berbagai sudut pandang, serta memberi analisa

    mengenai kasus terkait. Dan sebelum dapat menganalisa kasus tersebut, multikultur sendiri perlu

    ditelaah lebih dalam melalui beberapa pendakatan yaitu filsafat, logika, dan etika agar manambah

    pemahaman tentang multikulturalisme dan aspek-aspek terkait.

    1.2 Rumusan Masalah

  • 7/22/2019 Makalah Individu MPK Terintegrasi

    2/21

  • 7/22/2019 Makalah Individu MPK Terintegrasi

    3/21

    ----------------------------------------------------------------------------------------------------

    BAB II

    PEMBAHASAN

    2.1 Pemaparan kasus

    A. Kronologis

    Kronologis konflik Poso berawal pada hari jumat tanggal 25 Desember 1998, terjadi

    penganiayaan di Masjid Darusalam Kel. Sayo terhadap korban yang bernama Ridwan Ramboni, agama

    Islam, suku Bugis Palopo, yang dilakukan oleh Roy Runtu Bisalemba, agama Kristen Protestan, suku

    Pamona, akibat penganiayaan korban mengalami luka potong dibagian bahu kanan dan siku kanan,

    selanjutnya dirawat di RSU Poso, tak lama kemudian timbul reaksi dari pemuda-pemuda remaja masjid

    terhadap kasus yang dimaksud dan beredar isu bahwa pelaku penganiayaan (Roy Bisalemba)

    terpengaruh minuman keras, anak kandung pemilik toko lima (Akok) WNI keturunan Cina diisukan telah

    melontarkan kata-kata Umat Islam kalau buka puasa pake miras saja dan imam masjid di Sajo telah

    dibacok di dalam masjid hingga di opname I rumah sakit, sekelompok remaja Islam menetapkan sasaranperusakan diarahkan ke rumah tempat tinggal penduduk milik tersangka (Roy Bisalemba), masa

    merusak bangunan dan isi perabot rumah tangga dengan batu, kayu, dan senjata tajam lalu dilanjutkan

    dengan penghancuran tempat-tempat hiburan malam dan penjualan minuman keras.

  • 7/22/2019 Makalah Individu MPK Terintegrasi

    4/21

    Keesokan harinya inspeksi minuman keras terus dilaksanakan sehingga membuahkan hasil sitaan

    minuman keras sebanyak 14 truk. Dengan adanya kisruh tersebut maka diakanlah rapat dan

    musyawarah tokoh agama Kristen dan Islam serta tokoh pemudanya yang dipimpin oleh Bupati bersama

    Muspida dan ketua DPR Tingkat II Poso. Dalam musyawarah tersebut diputuskan bahwa semuanya

    sepakat dan menyatakan perdamaian. Keadaan itu di sosialisasikan dan dinyatakan aman. Namun suara

    masa sudah ribut dan hiruk-pikuk karena sudah terjadi bentrok tawuran. Keadaan semakin memanas,

    sehingga massa tidak bisa diterobos, terpaksa pasukan PPH Brimob dan polisi melepaskan tembakan

    peluru hampa dan peluru karet kemudian masa kembali. Lalu tokoh memberi nasehat dan berdoa

    bersama kemudian bubar, namun di lain pihak masa masih terjadi tauran diarah kelurahan Lawanga

    dengan Lombogia masih terjadi tawuran sporadis sampai pagi hari.

    Dua hari kemudian, merasa tidak puas dengan perdamaian tersebut, masa yang dipimpin oleh

    Herman Parimo yang berkumpul di sekitar perempatan Terminal Tentena (Lombagia) sampai Desa

    Tagolu Kec. Lage bergerak menyatu ke kota Poso dan mulai menyerang kelurahan Lawangga Kampong

    arah serta melempari dengan batu. Demikian Kelurahan Bonosompe telebih lagi kelurahan Gebangrejo

    masa tersebut yang berjumlah kurang lebih 5000 personil karena di Kelurahan Lawanga sudah mulai

    terjadi maka tokoh masyarakat Islam Yahya Magun diundang oleh tokoh masyarakat Lombogia untuk

    menenangkan keadaan, namun tokoh tersebut pada waktu tiba hanya mendapat serangan dan hampir

    kena bacok parang lalu menghindar dari kerusuhan tak bisa terelakan. Masa Herman Parimo yang

    seluruhnya beragama Kristen 5000 personil itu mulai menyerang melempar dan membakar rumah

    penduduk Islam Jl. P. Kalimantan kemudian massa Islam datang satu demi satu mengadakan

    perlawanan. Oleh tokoh masyarakat Islam yang punya karismatik maka terjadilah bentrokan, dari kedua

    bela pihak dan massa Muslim bergerak dari arah Gebangrejo, Kayamanya, Moengko, Lawangga, dan

    Bonosompe lebih 1000 personil melawan 5000 personil massa Kristen yang dipimpin oleh HermanParimo. Demikanlah bentrokan terjadi tanpa seorang pun aparat keamanan yang mampu

    mengendalikan bentrokan berlangsung pada pukul 06.00 pagi sampai dengan pukul 12.00 siang dan

    massa Kristiani yang dipimpin Herman Parimo mengundurkan diri serta lari ke arah gunung bukit

    pancaran TVRI yang lainnya menyerah minta ampun dan minta perlindungan dari massa umat Islam

    mereka pun semuanya dilindungi dan diamankan dalam ruang gereja tanpa ada ganguan sedikitpun.

    Lalu massa Islam bersama Risma menguasai kota secara keseluruhan. Kemudian massa dari desa

    Tokorondo kecamatan Poso pesisir, Parigi dan Ampana seluruhnya kurang lebih 500 orang personil

    datang membantu mengamankan kota karna diperkirakan pasukan Herman Parimo akan datang

    menyerang kembali namun pada sampai tanggal 29 Desember 1998, tidak ada penyerangan dan

    Herman Parimo malah dikejar dan melarikan diri ke Sulawesi Selatan daerah Palopo.

    B. Latar Belakang Terjadinya Konflik Poso

  • 7/22/2019 Makalah Individu MPK Terintegrasi

    5/21

    Latar belakang konflik Poso menurut sebagian besar pengamat merupakan konflik horizontal

    antar agama, meskipun sebenarnya konflik tersebut tidaklah sesederhana itu karena melibatkan juga

    persilangan antar etnik, baik lokal maupun pendatang dan kepentingan politik sipil maupun militer serta

    masuknya kekuatan luar.

    Konflik Poso yang muncul di permukaan lebih dilihat dari aspek SARA (suku, agama, ras dan antarkelompok). Sementara itu, kesenjangan sosial ekonomi diawali dengan masuknya pendatang ke Poso

    yang berasal dari Jawa, Bali, Sulawesi Selatan maupun Sulawesi Utara dan Gorontalo. Para pendatang

    yang masuk ke Poso umumnya beragama Protestan dan Muslim. Kelompok yang disebut pertama

    berasal dari wilayah Toraja yang masuk ke Poso dari arah Selatan dan dari Minahasa serta Sangir Talaud

    dari arah utara. Sedangkan pendatang Muslim umumnya berasal dari arah selatan, yaitu suku Bugis yang

    telah bermigrasi sejak masa pra-kolonial, maupun suku Gorontalo dari arah utara. Karena itu, wilayah

    Poso Pesisir dan Kota Poso serta Pamona Selatan cukup banyak desa-desa Kristen dan desa-desa Islam

    berselang-seling dan bertetangga di satu pihak sedangkan wilayah Pamona Utara sampai dengan

    wilayah yang berbatasan dengan wilayah Poso Pesisir dan Kota Poso serta ke barat dengan wilayah Lore

    Utara dan Lore Selatan yang sangat didominasi oleh mayoritas Kristen. Jadi secara geografis, umatKristen yang mendiami bagian tengah (dalam) dari wilayah Poso terjepit baik dari arah utara maupun

    selatan dimana proporsi umat Islam semakin besar mendekati proporsi umat Kristen.

    Pandatang umumnya lebih kuat, muda dan mempunyai daya juang untuk mampu bertahan di

    daerah baru. Kedatangan para pendatang ini juga menyebabkan terjadinya peralihan lahan dari yang

    dahulunya atas kepemilikan penduduk asli, kemudian beralih kepemilikannya kepada para pendatang.

    Proses peralihan kepemilikan tersebut terjadi melalui program pemerintah dalam bentuk transmigrasi

    maupun penjualaan lahan-lahan pada para migran. Arus migrasi masuk ini cukup deras terjadi semenjak

    dasawarsa 1970-an dan 1980-an dimana program transmigrasi dilakukan dan dibukanya jalur prasarana

    angkutan darat, Trans-Sulawesi. Dikembangkannya tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti kakao

    (coklat) dan kelapa (kopra) oleh para pendatang tentunya telah menghasilkan peningkatan

    kesejahteraan para pemiliknya. Walau penduduk asli mengikuti pola tanam yang sama dengan

    pendatang, akan tetapi penguasaan pemasaran hasil-hasilnya dikuasai oleh para pendatang. Penduduk

    asli merasa dirugikan dengan keadaan tersebut dilihat dari dua hal yaitu pertama, lahan pertaniannya

    sebagian telah beralih kepemilikannya kepada pendatang. Kedua, margin yang diperoleh dari hasil

    pertanian lebih besar dinikmati oleh para pendatang.

    Sementara menurut Gerry van Kliken dari Koninklijk Instituut voor Taal (KITLV) Leiden, Belanda

    dalam konferensi internasional tentang konflik Asia Pasifik yang diadakan oleh Lembaga Ilmu

    Pengetahuan Indonesia (LIPI), MOST, UNDP dan UNESCO di Jakarta 22 Oktober 2003 menyebutkan,

    didasarkan atas penelitiannya, bahwa konflik Poso yang terjadi tahun 1998 dan 2001 lebih didorong oleh

    eskalasi isu, baik melalui penyebaran informasi lewat jalur yang sudah terbentuk (difusi) maupun

    penyebaran antar komunitas yang sebelumnya tidak memiliki ikatan sosial (brokerage). Ikatan yang

  • 7/22/2019 Makalah Individu MPK Terintegrasi

    6/21

    kemudian muncul antar komunitas ini membuat konflik Poso yang bermula dari pertengkaran dua

    pemuda mabuk menjadi konflik antar agama yang