bab1-bab3 mpk fix

Download Bab1-Bab3 Mpk Fix

Post on 13-Feb-2016

225 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

proposal penelitian tentang komunikasi interpersonal

TRANSCRIPT

Pengaruh Komunikasi Interpersonal antara Orang Tua dengan Anak terhadap Motivasi Belajar Anak(Survei terhadap Siswa SD Pahoa Kelas 1)

Dibuat Oleh:Stephanie Octavia - 13140110178Irene Meichaella 13140110361Virginia Melati Puspita - 13140110059Donny Fernando - 13140110019Fakultas Ilmu KomunikasiUniversitas Multimedia Nusantara2015BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangHubungan antara orang tua dengan anak memberikan dampak yang cukup besar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Apabila orang tua sibuk bekerja, jarang berada di rumah, atau bahkan jarang berkomunikasi dengan anak, hal tersebut akan berpengaruh pada prestasi anak di sekolah. Keluarga merupakan lingkungan utama dalam membentuk kepribadian anak. Orang tua sangat berperan dalam menentukan pola sikap dan pola perilaku anak di masa mendatang. Lingkungan keluarga juga mempengaruhi keberhasilan belajar seorang anak. Dengan seiring berkembangnya zaman, banyak orang tua yang kurang dalam memberi perhatian dan semangat belajar kepada anak-anaknya. Mereka menyerahkan pendidikan anak-anaknya sepenuhnya kepada lembaga pendidikan formal, yaitu sekolah. Hal tersebut yang menyebabkan anak-anak kurang memiliki motivasi dalam belajar. Hal penting yang dibutuhkan dalam diri seseorang dalam meraih dan menggapai cita-cita adalah motivasi. Orang tua sangat berperan penting dalam mendorong munculnya motivasi dalam diri anak. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mendorong munculnya motivasi dalam diri anak adalah berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi yang baik, perhatian yang diberikan kepada anak, mendengarkan kebutuhan dan masalah yang dihadapi anak-anak, dan menjalin kedekatan dengan anak-anaknya akan berpengaruh terhadap motivasi belajar anak. Keterlibatan orang tua dalam menumbuhkan motivasi belajar wajib dilakukan, baik berupa perhatian, bimbingan kepada anak maupun dengan melakukan komunikasi interpersonal dengan anak. Apabila orang tua mampu mendidik anak dengan baik, mampu berkomunikasi dengan baik, penuh perhatian terhadap anak, mengetahui kebutuhan dan kesulitan yang dihadapi anak dan mampu menciptakan hubungan baik dengan anak-anaknya akan berpengaruh besar terhadap motivasi belajar anak. Kehadiran orang tua yang dapat memotivasi belajar seorang anak merupakan hal yang penting, terutama bagi anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Orang tua dapat memberikan saran, pendapat, nasihat kepada anak-anak saat mereka sedang menghadapi masalah, khususnya masalah dalam belajar. Orang tua berperan penting dalam keluarga, yaitu menjalin komunikasi interpersonal yang efektif dan harmonis. Bentuk komunikasi antarpribadi terjalin dalam sebuah keluarga yang melibatkan komunikasi antara orang tua dan anak. Seorang anak membutuhkan peran orang lain dalam perkembangannya dan orang tua lah yang sangat berperan besar dalam membentuk kepribadian anak. Sebagai orang tua, mereka harus melakukan sesuatu untuk mengembangkan diri anak-anak mereka ke arah yang positif. Komunikasi antarpribadi atau interpersonal communication adalah komunikasi yang berlangsung dalam situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi maupun pada kerumunan orang. Komunikasi interpersonal juga merupakan penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain atau sekelompok kecil orang, dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik segera (Effendy, 2003 : 30 ). Di dalam komunikasi interpersonal terdapat keunikan karena selalu dimulai dari proses hubungan yang bersifat psikologis dan proses psikologis selalu berdampak kepada keterpengaruhan. Komunikasi interpersonal juga merupakan jenis komunikasi yang paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku manusia berhubung perilakunya yang dialogis. Sebuah komunikasi interpersonal akan berjalan dengan baik jika antar personal yang terlibat di dalam proses komunikasi ini dapat saling terbuka satu sama lain, karena jika satu dengan yang lainnya saling menutup diri, maka komunikasi ini tidak akan berjalan dengan baik. Begitu juga proses komunikasi interpersonal antara orang tua dengan anak, jika orang tua tidak terbuka maka anak tidak akan merasa nyaman dengan komunikasi yang dilakukan, dan begitu juga sebaliknya.Membangkitkan motivasi belajar anak untuk mendapatkan prestasi belajar yang lebih baik merupakan tanggung jawab dari orang tua. Seorang anak membutuhkan lingkungan yang dapat mendukung untuk belajar dan menyukai apa yang mereka pelajari. Dalam hal ini, orang tua sangat berperan dalam menciptakan suasana di mana anak akan merasa senang belajar. Anak-anak yang masih berada di bangku pendidikan pasti memiliki motivasi untuk belajar, karena usia anak-anak adalah usia di mana mereka masih memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tetapi tidak dipungkiri bahwa motivasi belajar anak dapat berkurang ketika anak tersebut dalam kondisi yang jenuh dan situasi yang tidak mendukung. Beberapa hal yang menyebabkan motivasi belajar anak menurun adalah ancaman-ancaman orang tua yang mengharuskan anak-anaknya mendapatkan nilai yang sesuai dengan harapan mereka.Berdasarkan situs www.kidnesia.com memotivasi anak untuk belajar berbeda-beda menurut usianya. Di jenjang SD, usia ini dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu kelas rendah (kelas 1-3 SD) dan kelas atas (kelas 4-6 SD). Menurut Karmila Wardhana, S.Psi ., memiliki ciri khas yang berbeda.KELAS 1-3 SD anak-anak di kelas bawah masih menapaki masa transisi dari taman kanak-kanak yang aktivitas belajarnya dilakukan sambil bermain ke jenjang sekolah dasar yang formal. Maksudnya, mereka dituntut untuk banyak berada dalam dalam kelas dan duduk tenang memperhatikan penjelasan guru serta mengerjakan tugas-tugas.Tuntutan tersebut tentu saja menyulitkan karena sebenarnya murid-murid kelas rendah masih dalam usia bermain. Sayangnya, banyak orang tua, bahkan guru, melupakan ciri khas usia ini. Anak kelas 1-2 belum bisa diharapkan duduk lama karena rentang perhatiannya maksimal sekitar 15 menit. Jadi mereka bukan nakal kalau enggak bisa diam di kelas.Berkaitan dengan masa transisi ini pula, seperti dituturkan Mila, orang tua mesti peka dengan kemungkinan munculnya school phobia pada anak. Pahamilah bahwa perubahan-perubahan dari TK ke SD sering membuat murid kelas rendah ketakutan.Agar anak dapat melalui masa transisinya dengan mulus, orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi belajar yang pas menurut ciri khas anak usia kelas 1-3 SD atau kurang lebih 6-8 tahun.Motivasi adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi sehingga anak itu mau melakukan sesuatu. Selain itu motivasi juga merupakan proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Komunikasi antarpribadi antara orang tua dengan anak yang tidak intensif dan tidak efektif sangat mungkin terjadi di dalam dunia nyata dan hal ini dapat berdampak buruk terhadap motivasi belajar anak. Peneliti mengambil responden di SD Pahoa karena sekolah ini merupakan sekolah yang cukup terkenal dan favorit di wilayah Gading Serpong, dan mayoritas anak-anak SD Pahoa diasuh oleh suster. Orang tua siswa SD Pahoa juga kurang memiliki waktu untuk memperhatikan tumbuh kembang belajar anak di sekolah. Selain itu, SD Pahoa juga menerapkan kurikulum yang mengedepankan kemampuan trilingual (Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Mandarin) dan dimana yang menjadi fokus utamanya adalah penerapan Bahasa Mandarin dan tentu dengan kurikulum yang seperti disebutkan tadi siswa SD Pahoa perlu dibimbing dan diberikan motivasi belajar oleh orang tua dengan baik dan tepat.Kelas 1 SD merupakan masa transisi, dimana yang tadinya anak-anak pergi ke sekolah untuk belajar sambil bermain, tetapi pada saat SD anak-anak mulai mendapatkan materi pembelajaran yang cukup sulit. Oleh karena itu dibutuhkan motivasi belajar agar siswa SD kelas 1 dapat beradaptasi dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Dimulai dari ruang lingkup yang kecil, peneliti ingin secara tidak langsung mengajak orang tua yang ada untuk semakin menyadari bahwa komunikasi interpersonal antara orang tua dengan anak perlu dilakukan, terutama untuk motivasi belajar anak.

1.2 Rumusan Masalah:Adakah pengaruh komunikasi interpersonal antara orangtua dengan anak terhadap motivasi belajar siswa kelas 1 SD Pahoa?Seberapa kuat pengaruh komunikasi interpersonal orangtua dengan anak terhadap motivasi belajar siswa kelas 1 SD Pahoa?

1.3 Tujuan Penelitian:Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:1.3.1 Untuk mengetahui pengaruh komunikasi interpersonal terhadap motivasi belajar siswa kelas 1 SD Pahoa.1.3.2 Seberapa kuat pengaruh komunikasi interpersonal orangtua terhadap motivasi belajar siswa kelas 1 SD Pahoa.

1.4 Kegunaan Penelitian:1.4.1 Kegunaan Penelitian AkademisPenelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademis dalam pengembangan ilmu komunikasi khususnya tentang komunikasi interpersonal dalam keluarga dan penelitian ini dapat menjadi acuan bagi peneliti selanjutnya yang akan meneliti mengenai Komunikasi interpersonal dan motivasi belajar.

1.4.2 Kegunaan Penelitian PraktisPenelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi keluarga, khususnya orangtua supaya mereka dapat berkomunikasi interpersonal dengan baik agar anak memiliki motivasi belajar yang tinggi.

1.5 Ruang Lingkup PenelitianPembatasan terhadap penelitian menjadi yang penting karena peneliti memiliki keterbatasan kemampuan, waktu, dan biaya. Untuk itu, agar pembaca tidak salah mengartikan luasnya cakupan penelitian ini, maka peneliti membuat ruang lingkup penelitian.Dalam Penelitian ini akan difokuskan pada komunikasi interpersonal orangtua dengan siswa SD Pahoa kelas 1

BAB IIKERANGKA PENELITIAN

2.1 Penelitian TerdahuluNoPenelitiJudulPermasalahanTeoriMetode PenelitianHasil

1.Wahyuniati, Ninik(2012)Pengaruh komunikasi interpersonal orang tua terhadap motivasi belajar anak di kampung Go

Recommended

View more >