lp anemia

15
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANEMIA DI RUANG C 1 L 2 (ANAK) RSDK SEMARANG A. PENGERTIAN Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit lebih rendah dari normal. Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah Hb dalam 1mm 3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah. (Ngastiyah.1997). B. KLASIFIKASI MENURUT ETIOLOGI ANEMIA Anemia dapat dibedakan menurut mekanisme kelainan pembentukan, kerusakan atau kehilangan sel-sel darah merah serta penyebabnya: 1. Anemia pasca perdarahan : akibat perdarahan massif seperti kecelakaan, operasi dan persalinan dengan perdarahan atau perdarahan menahun:cacingan. 2. Anemia defisiensi: kekurangan bahan baku pembuat sel darah. Bisa karena intake kurang, absorbsi kurang, sintesis kurang, keperluan yang bertambah. 3. Anemia hemolitik: terjadi penghancuran eritrosit yang berlebihan. Karena faktor intrasel: talasemia, hemoglobinopatie, sferositisis

Upload: angel-ea-aggyl-part-ii

Post on 18-Jan-2016

13 views

Category:

Documents


0 download

DESCRIPTION

LP anemia

TRANSCRIPT

Page 1: LP ANEMIA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANEMIA

DI RUANG C1L2 (ANAK) RSDK SEMARANG

A. PENGERTIAN

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit

lebih rendah dari normal. Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta

jumlah Hb dalam 1mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan

(packed red cells volume) dalam 100 ml darah. (Ngastiyah.1997).

B. KLASIFIKASI MENURUT ETIOLOGI ANEMIA

Anemia dapat dibedakan menurut mekanisme kelainan pembentukan,

kerusakan atau kehilangan sel-sel darah merah serta penyebabnya:

1. Anemia pasca perdarahan : akibat perdarahan massif seperti

kecelakaan, operasi dan persalinan dengan perdarahan atau perdarahan

menahun:cacingan.

2. Anemia defisiensi: kekurangan bahan baku pembuat sel darah.

Bisa karena intake kurang, absorbsi kurang, sintesis kurang, keperluan yang

bertambah.

3. Anemia hemolitik: terjadi penghancuran eritrosit yang

berlebihan. Karena faktor intrasel: talasemia, hemoglobinopatie, sferositisis

kongenital, dsfisiensi enzim erotrosit dll. Sedang factor ekstrasel: intoksikasi,

infeksi –malaria, reaksi hemolitik transfusi darah.

4. Anemia aplastik disebabkan terhentinya pembuatan sel darah

oleh sumsum tulang (kerusakan sumsum tulang).

(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI, 1985)

C. PATOFISIOLOGI

Timbulnya amnemia mencerminkan adanya keggagalan sumsum atau

kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum

(misal.berkuranganya eritropoesis) dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi,

Page 2: LP ANEMIA

pejanantoksik, invasi tumor, atau kebnyakan penyebab yang tidak diketahui. Sel

darah merah dapat hilang melalui peradarahan atau hemolisis( destruksi). Pada

kasus yang disebut terakhir, masalahnya dapat akibat defek sel darah merah

yang tidak sesuai dengan ketahahan sel darah merah normal atau akibat

beberapa faktor diluar sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah

merah.

Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau

dalam sistem retikuloendotelia, terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil

samping proses ini bilirubin yang terbentuk dalam fagosit, akan memasuki aliran

darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah segera direfleksikan dengan

peningkatan bilirubin plasma ( konsentrasi normalanya 1 mg/ dl atau kurang ;

kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sklera)

Apabila sel darah merah mengalami pengancuran dalam sirkulasi, seperti

yang terjadi pada berbagai kelainan hemolitik, maka akan muncul dalam

plasma( hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasma melebihi kapasitas

haptoglobin plasma(protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat

semuanya (mis. Apabila jumlahnya lebih dari sekitar 100 mg/dl ) hemoglobin

kan terdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urin (hemoglobinuria). Jika

ada atau tidak adanya hemoglobinemia atau hemoglobinuria dapat memberikan

informasi mengenai lokasi penghancuran sel darah merah abnormal pada pasien

dengan hemolisi dan dapat merupakan petunjuk untuk mengetahui sifat proses

hemolitik tersebut. (Suddart and Brunner, 2001)

D. MANIFESTASI KLINIS

1. Tanda-tanda umum anemia:

1. pucat,

2. tacicardi,

3. bising sistolik anorganik,

4. bising karotis,

5. pembesaran jantung.

Page 3: LP ANEMIA

2. Manifestasi khusus pada anemia:

a. Anemia aplastik: ptekie, ekimosis, epistaksis,

ulserasi oral, infeksi bakteri, demam, anemis, pucat, lelah, takikardi.

b. Anemia defisiensi: konjungtiva pucat (Hb 6-10

gr/dl), telapak tangan pucat (Hb < 8 gr/dl), iritabilitas, anoreksia, takikardi,

murmur sistolik, letargi, tidur meningkat, kehilangan minat bermain atau

aktivitas bermain. Anak tampak lemas, sering berdebar-debar, lekas lelah,

pucat, sakit kepala, anak tak tampak sakit, tampak pucat pada mukosa

bibir, farink,telapak tangan dan dasar kuku. Jantung agak membesar dan

terdengar bising sistolik yang fungsional.

c. Anemia aplastik : ikterus, hepatosplenomegali.

(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UI, 1985)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Kadar Hb.

Kadar Hb <10g/dl. Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata < 32% (normal:

32-37%), leukosit dan trombosit normal, serum iron merendah, iron binding

capacity meningkat.

2. Indeks eritrosit

3. jumlah leukosit dan trombosit

4. hitung retikulosit

5. sediaan apus darah

6. pameriksaan sumsum tulang

7. Kelainan laborat sederhana untuk masing-masing tipe anemia :

a. Anemia defisiensi asam folat :

makro/megalositosis

b. Anemia hemolitik : retikulosit meninggi,

bilirubin indirek dan total naik, urobilinuria.

Page 4: LP ANEMIA

c. Anemia aplastik : trombositopeni,

granulositopeni, pansitopenia, sel patologik darah tepi ditemukan pada

anemia aplastik karena keganasan.

(Petit, 1997)

F. KOMPLIKASI

1. Cardiomegaly

2. Congestive heart failure

3. Gastritis

4. Paralysis

5. Paranoia

6. Hallucination and delusion

7. Infeksi genoturia

(Hand Out Nurhidayah, 2004)

G. PENATALAKSANAAN

a. Anemia pasca perdarahan: transfusi darah. Pilihan kedua: plasma ekspander

atau plasma substitute. Pada keadaan darurat bisa diberikan infus IV apa saja.

b. Anemia defisiensi: makanan adekuat, diberikan SF 3x10mg/kg BB/hari.

Transfusi darah hanya diberikan pada Hb <5 gr/dl.

c. Anemia aplastik: prednison dan testosteron, transfusi darah, pengobatan

infeksi sekunder, makanan dan istirahat.

H. PENGKAJIAN

1. Sistem saraf pusat

Perlu dikaji adanya fatigue, weakness, paresthesia tangan dan kaki,

gangguan pergerakan jari manis, ganggguan koordinasi dan posisi, kehilangan

perasaan bergetar, ataksia, tanda babinski dan romberg, gangguan penglihatan,

perasa dan pendengaran. Gastrointestinal

Lidah beefy red, smooth, paintful, nausea dan muntah, anoreksia,

faltulence,diarhea, konstipasi dan kehilangan berat badan. Kardiovaskuler

Page 5: LP ANEMIA

Palpitasi, tachicardi, denyut nadi lemah, dyspnea, othopnea

2. Integument

3. Warna kulit seperti berlilin, pucat sampai kuning lemon terang.

4. Peningkatan kemungkinan infeksi

5. Raiwayat penyakit keluarga

6. Latar belakang etnik.

(Suddart and Brunner, 2001)

I. MASALAH KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL

1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya komparten

seluler yang penting untuk menghantarkan oksigen / zat nutrisi ke sel.

2. intoleransi aktifitas berhubungan dengan tidak seimbangnya kebutuhan

pemakaian dan suplai oksigen.

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan

kurangnya selera makan.

4. Potensial infeksi berhubungan dengan resiko meningkatnya susceptibilitas

sekunder terhadap penurunan WBC

5. Potensial injury berhubungan dengan resiko deficit sensori motor. (Hand Out

Nurhidayah, 2004)

J. TINDAKAN KEPERAWATAN

1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya komparten seluler

yang penting untuk menghantarkan oksigen / zat nutrisi ke sel.

Tujuan: Perfusi jaringan adekuat

- Memonitor tanda-tanda vital,

pengisian kapiler, wama kulit, membran mukosa.

- Meninggikan posisi kepala di tempat

tidur

- Memeriksa dan mendokumentasikan

adanya rasa nyeri.

Page 6: LP ANEMIA

- Observasi adanya keterlambatan

respon verbal, kebingungan, atau gelisah

- Mengobservasi dan

mendokumentasikan adanya rasa dingin.

- Mempertahankan suhu lingkungan

agar tetap hangat sesuai kebutuhan tubuh.

- Memberikan oksigen sesuai

kebutuhan.

2. intoleransi aktifitas berhubungan dengan tidak seimbangnya kebutuhan

pemakaian dan suplai oksigen.

Tujuan: Mendukung anak tetap toleran terhadap aktivitas

Page 7: LP ANEMIA

- Menilai kemampuan anak dalam melakukan aktivitas sesuai

dengan kondisi fisik dan tugas perkembangan anak.

- Memonitor tanda-tanda vital selama dan setelah melakukan

aktivitas, dan mencatat adanya respon fisiologis terhadap aktivitas

(peningkatan denyut jantung peningkatan tekanan darah, atau nafas cepat).

- Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga untuk

berhenti melakukan aktivitas jika teladi gejala-gejala peningkatan denyut

jantung, peningkatan tekanan darah, nafas cepat, pusing atau kelelahan).

- Berikan dukungan kepada anak untuk melakukan kegiatan

sehari hari sesuai dengan kemampuan anak.

- Mengajarkan kepada orang tua teknik memberikan reinforcement

terhadap partisipasi anak di rumah.

- Membuat jadual aktivitas bersama anak dan keluarga dengan

melibatkan tim kesehatan lain.

- Menjelaskan dan memberikan rekomendasi kepada sekolah

tentang kemampuan anak dalam melakukan aktivitas, memonitor kemam-

puan melakukan aktivitas secara berkala dan menjelaskan kepada orang

tua dan sekolah.

3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya

selera makan.

Tujuan: Memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat

- Mengijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat

ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat

selera makan anak meningkat.

- Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk

meningkatkan kualitas intake nutrisi.

- Mengijinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan

makanan

- Mengevaluasi berat badan anak setiap hari.

Page 8: LP ANEMIA

4. Potensial infeksi berhubungan dengan resiko meningkatnya susuceptibilitas

sekunder terhadap peneurunan WBC

Tujuan: pencegahan infeksi

- Kaji tanda infeksi

- Anjurkan pasien menghidari kontak dengan orang yang terinfeksi

- Instruksikan pasien untuk melakukan cuci tangan yang benar

- Ajarkan pasien untuk batuk dan napas dalam

- Anjurkan ambulasi sesegera mungkin

5. Potensial injury berhubungan dengan resiko deficit sensori motor

Tujuan : pencegahan injury

- Jaga keamanan lingkungan

- Sediakan pengaman yang dibutuhkan

- Pastikan tidak adanya deficit neurology sebelum ambulasi

- Ingatkan pasien untuk selalu memnggil perawat bila membutuhkan

bantuan

- Sisihkan barang-barang yang bisa menyebabkan injury ketika pasien mulai

ambulasi

- Pastikan pasien menggunakan alat bantu saat berjalan atau alat bantu lain

- Kaji integritas kulit

- Yakinkan air mandi dan air gosok gigi hangat tidak membakar

- Hindari penggunaan baju dan sepatu sempit.

DAFTAR PUSTAKA

Page 9: LP ANEMIA

1. Doengoes Merillynn. (1999) (Rencana Asuhan Keperawatan). Nursing care plans.

Guidelines for planing and documenting patient care. Alih bahasa : I Made

Kariasa, Ni Made Sumarwati. EGC. Jakarta.

2. FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Volume 1. Jakarta, FKUI.

3. Harlatt, Petit. (1997). Kapita Selekta Hematologi. Edisi 2. Jakarta, EGC.

4. Ngastiyah. (1997). Perawatan Anak Sakit. Cetakan I. Jakarta, EGC.

5. Nurhidayah, 2004. Hand Out Asuhan Keperawatn Hyperchromic Macrocytic

Anemia.

6. Smeltzer, Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &

Suddarth. Edisi 8. Jakarta, EGC.

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN ANEMIA

Page 10: LP ANEMIA

DI RUANG C1L2 (ANAK) RSDK SEMARANG

Disusun Oleh :

POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN SEMARANG

2007